MENTARI KHURASAN

Oleh : Candiki Repantu

IMG-20171119-WA0015

Di Iran, makam suci Imam Ridha as ini menjadi axis Mundi, pusat spiritualitas, tangga penghubung bumi dan langit, lintasan bagi hilir mudiknya malaikat, tempat curahan berkah ilahi, dan pintu gerbang untuk menggapai hakikat kebenaran.

Orang suci yang dimakamkan di tempat ini merupakan wasilah (perantara) bagi terhubungnya ikatan antara yang natural dengan yang supranatural, antara yang profan dengan yang sakral, antara yang imanen dengan yang transenden, atau antara manusia umumnya dengan Sang Pencipta.

Untuk memasuki kawasan makam suci Imam Ridha as, peziarah bisa melalui empat jalan masuk sesuai arah mata angin, yaitu : Utara, Selatan, Barat dan Timur yang semuanya terhubung dengan jalan raya. Di setiap arah ini, terdapat pintu-pintu gerbang raksasa dan beranda-beranda yang megah untuk menyambut kedatangan jutaan peziarah. Bahkan di tiga arahnya yaitu Utara, Barat dan Timur, terdapat beranda-beranda yang bertiang tinggi dan megah. Beranda-beranda dan pintu gerbang tinggi nan megah ini dirancang untuk memberi kesan penyambutan yang memberikan penghormatan timbal balik antara peziarah dan yang diziarahi.

Berbagai arah dan banyaknya pintu masuk serta halaman-halaman yang luas memberikan pesan kepada para peziarah bahwa terbentang jalan luas dari berbagai arah untuk menuju satu titik pusat ilahiah. Hal ini juga mengingatkan kita pada pesan Nabi Ya’qub as kepada para putranya agar masuk dari berbagai arah dan pintu. Seolah ingin mengatakan “banyak jalan menuju Tuhan”.

Salah satu halaman untuk menampung para peziarah Imam Ridha as adalah Sahne Jami Razavi yang luas dan indah. Sahne Jami’ Razavi ini merupakan halaman terbesar di kompleks Makam Imam Ridha as. Untuk memasuki halaman ini bisa melalui dua pintu gerbang raksasa yaitu Bab al- Ridha (Pintu Gerbang Ridha) yang bersambung ke jalan raya Imam Ridha dan Bab al-Jawab (Pintu Gerbang Jawad) yang bersambung ke jalan raya Khosrovi atau Syahid Andarezgu.

Halaman luas ini memiliki lantai yang terdiri dari campuran batu berwarna dan granit. Di bawah halaman terdapat tempat parkir bawah tanah yang untuk mencapainya di buat dua terowongan penghubung. Di sisi atas kedua terowongan ini dihiasi dengan berbagai ornamen yang dibentuk dengan bentuk matahari.

Lukisan dan susunan ubin dalam bentuk matahari atau segi delapan banyak tersebar di setiap ruangan, dinding, dan halaman. Bentuk matahari yang disebut syamse ini adalah simbol bagi negeri Khurasan. Bukan hanya dinding yang dilukis dengan tetapi terdapat juga menara yang dibangun dalam bentuk delapan sudut dan kalau dilihat dari atas seperti bentuk matahari.

Simbol delapan sudut yang membentuk matahari tersebut dibuat karena Imam Ridha as merupakan Imam kedelapan dari dua belas Imam Mazhab Syiah. Nama Khurasan sendiri menurut Dr. Ghulam Ridha, terdiri dari dua suku kata, yaitu “Khur” dan “Ashan” yang berarti bumi tempat bersinarnya matahari. Dan imam Ridha as selain pemimpin agama disebut juga sebagai Syamse Khurasan, “Mataharinya Khurasan” atau Syamse Thus, “Mataharinya Thus”.

Iringan para peziarah berjalan dengan khusyu dan penuh penghormatan dari halaman luas ini menuju pusara suci, melalui banyak pintu masuk yang bersambung ke beberapa ruangan di dalam komplek Makam Imam as. Di antaranya, pintu yang bersambung ke ruangan Imam Khumaini, pintu masuk ke Sahne Quds, dan pintu masuk yang bersambung ke makam Syaikh Baha’i. Dari ruangan-ruangan inilah, peziarah berjalan perlahan dengan lisan dipenuhi zikir, doa dan solawat, menuju ke zarih suci Imam Ridha as yang terletak di bawah kubah emas Raudhah al-Munawwarah (Taman yang Bercahaya), tempat dan pusat utama spiritualitas ziarah.

Zarih adalah rumah bagi pusara suci yang berbentuk empat segi yang dibuat dari lapisan perak dan emas. Di dalam zarih inilah terletak pusara suci Imam Ridha as. Zarih di makam suci ini pertama kali dipasang pada masa Dinasti Syafawi. Sejak saat itu hingga sekarang ini telah lima kali terjadi pergantian zarih diikuti dengan penggantian batu pusaranya. Zarih yang saat ini digunakan adalah zarih kelima yang disebut Zarih Aftab atau Zarih Mentari.

Zarih Mentari ini memiliki desain yang sangat rumit yang dibuat oleh seniman dan perancang ternama Iran, Mahmud Farsyiciyan. Butuh waktu sekitar delapan tahun untuk membuatnya dengan kualitas dan komposisi yang tepat yang terdiri dari bingkai besi, baja, dan kayu serta dilapisi dengan perak dan emas dengan berat 12 ton. Zarih ini dihiasi dengan beragam ornamen artistik yang sesuai dengan prinsip dan dimensi seni yang berkembang pada era mutakhir masa kini dipadukan dengan simbol-simbol seni arsitektur dan bangunan klasik Makam Suci.

Di sekeliling zarih di hiasi oleh kaligrafi Alquran sepeti surat Yasin dan Surat al-Insan yang ditulis dengan khat tsulus dengan sepuhan emas dan perak. Pada keempat dinding zarih ini terdapat empat belas jendela atau lubang yang menyimbolkan empat belas orang suci dalam Mazhab Syiah. Selain itu juga dihiasi dengan ornamen lima kelopak bunga dengan delapan lembar seratnya. Jumlah ini memiliki makna tertentu. Lima kelopak bunga merupakan simbol lima orang ahlul kisa’ yang suci yaitu Nabi Saw, Imam Ali as, Syaidah Fatimah as, Imam Hasan as, dan Imam Husain as. Sedangkan delapan serat merupakan simbol delapan orang manusia suci lainnya yang telah wafat. Atau dimaknai juga sebagai simbol Imam Ridha as yang merupakan imam kedelapan.

Selain itu, terdapat juga ornamen bentuk-bentuk bunga matahari yang memancarkan sinarnya di seputar zarih yang merupakan simbol keagungan dan gelar Syams as-Syumus (Mataharinya Mentari) yang dinisbatkan pada kedudukan Imam Ridha sebagai Syamse Khurasan. Selanjutnya pada interior atap dan dinding bagian dalam zarih diperindah dan dibubuhi dengan aneka hiasan dan tulisan nama-nama Allah SWT (Asmaul Husna) yang dipahat dengan cermat.

Di depan zarih inilah, setelah melalui berbagai jalan, pintu gerbang, ruangan, dan lorong-lorong indah, seorang peziarah dengan penuh pengharapan, kerinduan dan cinta yang mendalam untuk menyatukan ruhnya dengan ruh suci sang Imam. Salawat kepada Nabi dan keluarganya senantiasa terdengar dari lisan para peziarah sampai hingga mencapai pusara suci Imam Ridha as. Cukup sulit untuk sampai persis di depan zarih karena ramainya manusia yang berdesak-desakan. Namun semua itu tak menyurutkan semangat. Suara gemuruh doa dan gelombang gerakan manusia dari segala arah berhimpitan menuju satu titik tujuan, pusara suci Sang Imam. Sesampainya di depan zarih pusara suci, semua usaha dan perjalanan melelahkan sirna begitu saja berganti dengan suasana haru, luapan kasih dan tangisan kerinduan. Di situlah kita menyampaikan salam kerinduan.

Assalamu alaika ya waritsa Muhammad Rasulillah
Assalamu alaika ya waritsa Amiril mukminin Aliyy ibn Abi Thalib
Assalamu alaika ya waritsa Fatimah az-Zahra
Assalamu alaika ya waritsa Al-Hasan wa al-Husain Sayyida syababi ahlil jannah
Assalamu alaika ya Abal Hasan wa rahmatullahi wa barakatuh

Ya Abal Hasan ya Ali ibn Musa
Ayyuhar Ridha ya ibn Rasulullah
Ya hujjatallah ‘ala khalqih
Ya sayyidina wa Maulana
Inna tawajjahna wa asy-tasfa’na
Wa tawassalna bika ilallah
Wa qaddamnaka baina yadai hajatina
Ya Wajihan insyallah, isyfa’lana ‘indallah.

Mengenang Syahidnya Imam Ridha as
30 Shafar 1439 H
🙏🌷
CR14

Iklan

DETIK-DETIK YANG MENENTUKAN

Oleh : Candiki Repantu

IMG_20171118_151602

Wajah agung itu kini pucat pasi, menahan sakit di sekujur tubuhnya yang nyeri. Suhu panas yang melanda tubuhnya pun semakin meningkat, sampai selimutnya pun terasa panas menyengat, namun tubuh itu menggigil seperti dilanda dingin yang sangat. Isteri-isterinya datang silih berganti, menjenguk suami yang mereka cintai, berusaha menghibur hati sang Nabi. “Sungguh racun yang mengendap di dalam tubuhku, kini mulai memutus urat-urat nadiku, mengacaukan peredaran darahku” keluh Nabi Saw memberitahu.

Tak ketinggalan pula putrinya tercinta, Sayidah Fatimah Ummu abiha, setiap saat datang menjenguk ayahnya. Inilah Fatimah, cahaya mata pelipur lara, yang sejak kecil sudah mengasuh ayahnya, dalam suka maupum duka. Kini pada detik-detik terakhir yang menentukan, Fatimah semakin sering menjenguk ayahnya tanpa bosan, bahkan jika belum datang, Nabi akan meminta untuk segera dipanggilkan.

Abu Dzar pernah berkisah, “Ketika detik-detik penyakit Nabi Saw semakin parah, kami datang menjenguk. Nabi bersabda, “Panggilan putriku Fatimah untuk datang kemari.” Kemudian aku berdiri lalu pergi menemui Sayidah Zahra dan menyampaikan pesan sang Nabi, “Wahai wanita yang paling mulia, ayahmu memanggilmu segera.” Fatimah pun bergegas keluar mengunjunginya.

Saat melihat ayahnya di pembaringan, air matanya pun jatuh berlinangan, tak mampu Fatimah menahan tangisan. Inilah Fatimah belahan jiwa, tempat Nabi menumpahkan seluruh kasih sayangnya. Setiap melihatnya seolah semua derita hilang begitu saja, kerutan kening Sang Nabi ketika menahan sakitnya, berubah menjadi senyum bahagia, di saat melihat sang putri tercinta.

Ada satu tradisi ayahnya yang tak pernah dilupakan Az-Zahra. Yaitu sambutan Nabi Saw dalam setiap kedatangannya. Fatimah pernah mengenangnya, “Setiap aku datang menemui ayahku, beliau berdiri menyambutku dan mengulurkan wajahnya untuk menciumku”.

Tapi kini, ketika Fatimah datang, Nabi terbaring lemah di pembaringan, Nabi berusaha bangkit memberikan sambutan, tapi tubuh yang lemah tak mengijinkan, hanya seuntai senyum yang mampu disampaikan.

Wajah haru dan tatapan rindu, melihat Fatimah telah berdiri di balik pintu, Nabi berusaha mengumpulkan tenaganya, untuk berdiri memeluk Az-Zahra, tapi tulangnya seolah terasa linu, darahnya seakan beku, dan ototnya seperti kaku, sehingga dudukpun Nabi tiada mampu. Fatimah menyadari hal itu, maka ia pun bergegas datang memburu, agar Nabi bisa menumpahkan segala rindu.

Seperti biasanya, Nabi pun ingin mencium putrinya, tapi lagi-lagi tak mampu bangkit dari pembaringannya. Fatimah melihat harapan di mata ayahnya, maka ia pun tak ingin membuatnya kecewa. Fatimah mendekatkan wajahnya untuk menerima kecupan cinta sang ayah, dan tak lupa pula ia hadiahkan sebuah kecupan lembut di kening ayahnya dengan deraian air mata.

Lalu Nabi Saw meminta agar Ali dipanggil menghadapnya, ” Panggilkan Ali saudaraku untuk segera kemari menemuiku”. Tak menunggu lama, Ali pun datang menghadap junjungannya, duduk di sisi Nabi dengan seluruh kesedihannya. Nabi berusaha bangkit dari tempat tidurnya. Ali bergegas menyambutnya dan menyandarkan beliau ke dadanya. Hembusan nafas suci Nabi menyentuh dada Imam Ali menembus relung-relung hati sang washi dalam senandung duka di akhir hidup Al Mustafa. Nabi saw pun menyampaikan kepada Imam Ali rahasia ilmu-ilmu ilahi. Ada sejuta bab ilmu yang disampaikan Nabi saw kepada Ali as sesaat sebelum hembusan nafas terakhirnya. Inilah rahasia mengapa Nabi bersabda, “Aku kota ilmu dan Ali adalah pintunya”.

Setelah itu, Jibril as dan Izrail as turun menemui Nabi. Mereka memberikan pilihan kepada Nabi, apakah mau disembuhkan dari sakitnya atau wafat saat itu juga. Nabi saw memilih untuk bertemu ilahi Rabbi. Karena keinginannya untuk segara bertemu Kekasih Pujaan sudah tak lagi tertahankan. Izrail pun melakukan tugasnya, dengan penuh hormat ia meminta izin kepada Nabi untuk mengambil ruhnya yang suci. Sesungguhnya Allah merindukannya, dan dia merindukan Tuhannya. Inna lillahi wa Inna ilaihi raji’un.

Dalam kenangan jiwanya, Imam Ali as mengisahkan pada dunia : “Ketika Nabi Saw wafat, kepala beliau bersandar di dadaku, sementara hembusan nafas terakhirnya menyentuh kedua telapak tanganku. aku pun mengusapkannya ke seluruh wajahku. Kemudian aku memandikan beliau dengan bantuan para malaikat.” (Nahjul Balaghah, khutbah 197).

Dengan wajah penuh duka nestapa, Imam Ali turun untuk menguburkan jasad Nabi dengan deraian air mata. Tak kuasa Sayidah Fatimah, melihat butiran-butiran tanah yang menimbun jasad sang ayah. Suara tangisnya tak henti, air matanya terus berurai, bahkan duka itu terus meliputi hari-hari sang putri. Dalam dukanya, Fatimah mengambil tanah pusara ayahnya, ia taburkan ke kepalanya dan mengusapkan ke wajahnya, sembari ia sampaikan seuntai syair penuh makna :

Kusampaikan kepada sosok yang tertimbun tanah ini
Dengarkanlah suara dan panggilanku ini
Sungguh, musibah demi musibah datang berubi-tubi
Yang andaikan musibah itu melanda di siang hari
Niscaya siang akan berubah menjadi malam yang sunyi.

Saat Muhammad melindungiku
Tak ada kezaliman yang menakutkanku
Tapi kini, aku dipaksa tunduk pada orang-orang itu
Dengan kezaliman mereka menakuti dan memaksaku
Sementara penolong dan pelindungku hanyalah sepotong baju

Di langit bintang gemintang memenuhi malam dengan ratapan
Di pagi hari, Aku larut dalam tangisan
Kesedihan setelah pergumulan adalah ketenangan
Deraian air mata untukmu kusandang bagai selendang.
(Syaikh Abbas Al-Qummi, Mafatih Jinan, juz 2)

IMG_20171118_150633

Hari ini, 28 Shafar adalah akhir perjalanan hidup junjungan alam. Seluruh makhluk hanyut dalam irama duka dan senandung kesedihan.

YaRasulullah, demi ayah dan ibu kami, demi isteri/suami dan anak-anak kami, demi jiwa dan darah kami, demi harta dan raga kami, kami persembahkan sebagai tebusan, terimalah salam dari kami budakmu yang hina dina ini :

Assalamu alaika ya Rasulullah
Assalamu alaika ya Nabiyallah
Assalamu alaika ya Khalilallah
Assalamu alaika ya Shafiyallah
Assalamu alaika ya Rahmatullah
Assalamu alaika ya Khiratallah
Assalamu alaika ya Habiballah
Assalamu alaika ya Najib Allah
Assalamu alaika ya Muhammad ibn Abdillah warahmatullahi wa barakatuh.
Ya Wajihan ‘indallah, isyfa’lana ‘indallah.

😭😭🌷🌷

Yayasan Islam Abu Thalib
Medan, 28 Shafar 1439 H
(CR14).

DALIL ISLAMNYA ABU THALIB PAMAN NABI SAW

Oleh : Khoiron Mustafid

SEBENARNYA, keluarga Nabi SAW. tidak perlu dibela-bela, kerena Allah SWT. yang akan membela mereka. Mungkin kalimat yang pas untuk mengungkapkannya begini, “Walaupun seluruh dunia mengkafirkan keluarga Nabi SAW., jika memang kenyatannya mereka memang muslim, ya muslim saja.” Tetapi, sebagai pencinta Nabi SAW. saya merasa terpanggil menuliskan bukti-bukti keislaman Abu Thalib. Dengan bukti ini, seharusnya kita semua sudah teryakinkan bahwa Abu Thalib adalah seorang Muslim.

Berikut adalaha 5 dalil yang membuktikan bahwa Abu Thalib adalah seorang Muslim.

Dalil Pertama:

Tidak Dipisahkannya Fatimah binti Asad dengan Abu Thalib

Firman Allah SWT:

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman.” (Qs. al-Baqarah 221)

Al-Haitsami dalam Majma’ al-Zawaaid wa Manba’ al-Fawaaid dalam bab Keutamaan Zainab binti Rasulullah SAW. Juz 9 hal. 213

عن ابن إسحاق ، قال : …. وكان الاسلام قد فرق بين زينب بنت رسول الله (ص) وبين أبى العاص بن الربيع ، الا أن رسول الله (ص) كان لا يقدر على أن يفرق بينهما ، فأقامت معه على اسلامها وهو على شركه حتى هاجر رسول الله (ص) إلى المدينة وهي مقيمة معه بمكة

15233—Dari Ibnu Ishaq, berkata, “….. Islam memisahkan antara Zainab binti Rasulillah SAW. dengan Abi al-Ash bin al-Rabi’. Rasulullah SAW. tidak kuasa memisahkan antara keduanya. Zainab telah memeluk agama Islam, sedangkan Abu al-Ash masih dalam keadaan syirk, hingga Rasulullah SAW. berhijrah ke Madinah, sedangkan Zainab masih bersama Abu al-Ash di Makkah….”

Pembahasan:

1. Kenapa Nabi SAW. berusaha memisahkan antara puteri kesayangannya Zainab (yang muslimah) dengan Abu al-Ash (yang kafir), tapi membiarkan Fatimah binti Asad (muslimah) dengan Abu Thalib (yang kafir)? Padahal Fatimah binti Asad termasuk orang-orang yang awal masuk Islam. Bukankah ini adalah bukti bahwa Abu Thalib adalah seorang muslim? Jika tidak, maka berarti Nabi SAW. telah melanggar perintah Allah SWT.

2. Kenapa tidak disebutkan dalam sejarah bahwa Fatimah binti Asad (yang muslimah) meminta dipisahkan dengan Abu Thalib (yang kafir), padahal Fatimah binti Asad adalah seorang Muslimah pintar yang mengerti syariah?

3. Kenapa tidak ada disebut dalam sejarah bahwa Nabi sendiri juga berusaha memisahkan antara Fatimah binti Asad (yang muslimah) dengan Abu Thalib (yang kafir), seperti Nabi juga memisahkan antara Zainab (puterinya yang muslimah) dengan Abu al-Ash (yang kafir)?

Dalil Kedua:

Hadis al-Bukhari

‏حدثنا ‏: ‏إسحاق بن إبراهيم ،‏ ‏حدثنا :‏ ‏عبد الرزاق ،‏ ‏أخبرنا :‏ ‏معمر ،‏ ‏عن ‏ ‏الزهري ،‏ ‏عن ‏ ‏سعيد بن المسيب‏، ‏عن ‏ ‏أبيه ‏، ‏قال :‏ ‏لما حضرت ‏ ‏أبا طالب ‏ ‏الوفاة دخل عليه النبي ‏ ‏(ص) ‏ ‏وعنده ‏ ‏أبو جهل ‏ ‏وعبد الله بن أبي أمية ‏ ‏فقال النبي ‏ ‏(ص) ‏ ‏أي عم قل : لا إله إلا الله أحاج لك بها عند الله ، فقال ‏ ‏أبو جهل ‏ ‏وعبد الله بن أبي أمية :‏ ‏يا ‏ ‏أبا طالب ‏ ‏أترغب عن ملة ‏ ‏عبد المطلب ‏، ‏فقال النبي ‏ ‏(ص) ‏: ‏لأستغفرن لك ما لم أنه عنك فنزلت :‏ ‏ما كان للنبي والذين آمنوا أن يستغفروا للمشركين ولو كانوا أولي ‏ ‏قربى من بعد ماتبين لهم أنهم أصحاب الجحيم

Menjelang wafatnya Abu Thalib, Rasulullah SAW. mendatanginya. Ketika itu di sisinya sudah ada Abu Jahal serta Abdullah bin Abi Umayyah bin Al-Mughirah. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada pamannya, “Wahai paman, katakan Laa ilaaha Illallah, kalimat yang dengan itu aku dapat membelamu di sisi Allah.” Lalu Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayah berkata, “Wahai Abu Thalib, apakah kamu akan membenci agama Abdul-Muthalib.” Rasulullah SAW. bersabda, “Demi Allah, aku akan memohonkan ampunan untukmu selama aku tidak dilarang tentang hal itu kepadamu.” Maka Allah Azza wa Jalla menurunkan (wahyu),

ما كان للنبي والذين آمنوا أن يستغفروا للمشركين ولو كانوا أولي ‏ ‏قربى من بعد ما تبين لهم أنهم أصحاب الجحيم

“Tidaklah sepatutnya bagi nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At-Taubah: 113)

Pembahasan:

Hadis ini menunjukkan kelemahan matan riwayat al-Bukhari. Surat al-Taubah turun di Madinah, yaitu pada tahun ke-9 Hijrah. Hal ini adalah pendapat seluruh ulama, lihatlah Al-Durar al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma’tsur (Imam al-Suyuthi), Fathul Qadir (Muhammad bin Ali bin Muhammad al-Syawkaani), Abu Syaikh meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Surat al-Bara’ah (al-Taubah) diturunkan setelah Fathu Makkah (Madaniyah), Ibnu Mardawayh dari Ibnu Abbas bahwa Surat al-Taubah diturunkan di Madinah, Ibnu Mardawayh meriwayatkan dari Abdullah bin al-Zubayr bahwa Surat al-Taubah diturunkan di Madinah, Ibnu Mundzir meriwayatkan dari Qatadah, bahwa Surat al-Taubah diturunkan di Madinah, Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakr Al-Anshari al-Qurthubi dalam Tafsir al-Qurthubi menyatakan bahwa Surah al-Taubah adalah surath Madaniyah.

Bagaimana mungkin surat yang turunnya tahun kesembilan Hijrah sedangkan sebab turunnya (asbabunnuzulnya) terjadi jauh sebelum peristiwa Hijrah? Abu Thalib wafat pada tahun kesepuluh kenabian, sedangkan Surat al-Taubah turun 12 tahun setelah kematiannya. Tanpa mengurangi rasa hormat, menurut saya, mengenai ini al-Bukhari tidak valid dalam memberikan informasi.

Hadis ke2:

Shahih Bukhari—Kitab Tafsir al-Quran—Surah al-Nisa’— يستفتونك قل الله يفتيكم في الكلالة

 ‏‏حدثنا ‏: ‏سليمان بن حرب ‏، ‏حدثنا :‏ ‏شعبة ،‏ ‏عن ‏ ‏أبي إسحاق ‏: ‏سمعت ‏ ‏البراء ‏ (ر) ‏، ‏قال :‏‏آخر سورة نزلت ‏ ‏براءة ،‏ ‏وآخر آية نزلت :‏ ‏يستفتونك قل الله يفتيكم في ‏ ‏الكلالة

“Surat yang paling akhir diturunkan adalah Surat al-Bara’ah (al-Taubah), dan ayat yang paling akhir diturunkan adalah:يستفتونك قل الله يفتيكم في الكلالة.”

Pembahasan:

Hadis ini juga menjelaskan bahwa informasi dari Imam al-Bukhari, mengenai hal ini, tidak valid . Hadis ini jelas menerangkan bahwa Surat al-Taubah turun di Madinah. Tetapi pada saat dia menjelaskan bahwa turunnya QS. al-Taubah 113 adalah karena kematian Abu Thalib yang kafir, dia mengatakan bahwa Surat al-Taubah adalah surat Makkiyyah. Inkonsistensi ini membuat informasi al-Bukhari dalam masalah Abu Thalib ini tidak valid untuk dijadikan rujukan keimanan (i’tiqādiyyah).

Dalil ketiga:

Shahih Bukhari—Kitab Manaqib al-Anshar—Bab Kisah Abu Thalib

‏3670 – ‏حدثنا ‏ : ‏مسدد ‏ ، ‏حدثنا ‏: ‏يحيى ،‏ ‏عن ‏ ‏سفيان ،‏ ‏حدثنا :‏ ‏عبد الملك ،‏ ‏حدثنا ‏: ‏عبد الله بن الحارث ،‏ ‏حدثنا :‏ ‏العباس بن عبد المطلب ‏ (ر) ‏، ‏قال للنبي ‏ ‏(ص) ‏: ‏ما أغنيت عن ‏ ‏عمك ‏ ‏فانه كان يحوطك ويغضب لك ، قال :‏ ‏هو في ‏ ‏ضحضاح ‏ ‏من نار ولولا أنا لكان في الدرك الأسفل من النار

“Apa yang kau perbuat untuk pamanmu Abu Thalib? Dahulu ia melindungimu, dan marah demi membelamu. Maka Rasul SAW. bersabda, “Dia di permukaan api neraka, kalau bukan karena aku, niscaya ia di dasar neraka yang terdalam.” (Shahih Bukhari Bab Manaqib pasal : Qisshah Abu Thalib hadits No.3670); (Shahih Muslim Bab Iman, pasal : syafaat Nabi saw Li Abi Thalib wattakhfiif hadits No. 308)

Pembahasan:

Seperti yang pernah saya ceritakan pada status Kritik Hadis Ooh Gitu, dimana hadis menangisi mayat akan menyiksa mayat tak lolos uji karena bertentangan dengan ayat al-Quran “Tidaklah seseorang menanggung dosa orang lain…” (Qs. al-An-am 164), maka hadis Duo Shahih Bukhari-Muslim ini pun tak lolos audisi karena bertentangan dengan ayat-ayat al-Quran. Dan semua yang bertentangan dengan al-Quran pasti salah adanya, tak peduli siapa yang meriwayatkannya. Inilah ayat-ayat yang bertentangan itu:

1. “Mereka (orang kafir) kekal di dalam laknat itu; tidak akan diringankan azab dari mereka dan tidak (pula) mereka diberi tangguh.” (Qs. al-Baqarah 162)

2. “Dan apabila orang-orang zalim telah menyaksikan azab, maka tidaklah diringankan azab bagi mereka dan tidak puIa mereka diberi tangguh.” (Qs. al-Nahl 85)

3. Dan orang-orang yang kafir, bagi mereka neraka Jahannam. Mereka tidak dibinasakan hingga mereka mati, dan tidak diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir. (Qs. Faathir 36)

4. “Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat, yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa`at yang diterima syafa`atnya.” (Qs. Ghaafir 18)

5. “Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya, kecuali golongan kanan,berada di dalam surga, mereka saling menanyakan, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, “Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) Saqar?” Mereka menjawab, “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat, dan kami (juga) tidak memberi makan orang miskin, bahkan kami biasa berbincang untuk tujuan yang batil, bersama orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan, sampai datang kepada kami kematian.” Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat (pertolongan) dari orang-orang yang memberikan syafaat.” (Qs. al-Muddatstsir 38-48)

Jadi, dari sini, sudah kita ketahui bahwa riwayat hadis Bukhari-Muslim ini sekali lagi tidak lolos audisi. Bagaimana mungkin Nabi menyatakan dapat memperingan Abu Thalib yang kafir padahal al-Quran menyatakannya tidak bisa? Kecuali bahwa hadis ini tidaklah benar.

Dalil kelima:

Perlaku Nabi Kepada Mayit Abu Thalib Adalah Perlakuan Kepada Mayit Muslim

Al-Nasa-i—Kekhususan Ali bin Abi Thalib—Halaman 38

– …. أخرجه ابن سعد في طبقاته ، عن عبيد الله بن أبي رافع ، عن علي ، قال :أخبرت رسول الله (ص) بموت أبي طالب فبكى ، ثم قال : اذهب فاغسله وكفنه وواره غفر الله له ورحمه ، فقال البرزنجي كما في أسني المطالب : 35 ، أخرجه أبو داود وابن الجارود وابن خزيمة : وإنما ترك النبي (ص) المشي في جنازته اتقاء من شر سفهاء قريش ، وعدم صلاته لعدم مشروعية صلاة الجنازة يومئذ.

Sumber yang lain adalah: Asna al-Mathaalib, al-Barzanji, dan Tadzkirah al-Khawash, Ibnu Jauzi.

Ibnu Sa’d dalam Thabaqatnya, dari Abdillah bin Abi Rafi’, dari Ali, berkata, “Aku kabarkah kepada Rasulullah SAW. kematian Abu Thalib. Menangislah Nabi SAW. Lalu beliau berkata, “Pergilah, mandikan dan kafanilah dia.” Dan diriwayatkan lagi, “Semoga Allah mengampuninya dan memberinya rahmat.” Dan al-Barzanji berkata di Asna al-Mathaalib 35 yang ditakhir oleh Abu Dawud dan Ibnu al-Jaaruud dan Ibnu Khuzaimah, “Nabi meninggalkan jenazah Abu Thalib untuk menjaga perbuatan jahat dari orang-orang Quraysh. Sedangkan tidak dishalatkannya jenazah Abu Thalib, karena saat itu memang belum turun Syariah tentang Shalat Sunnah Jenazah.

Dari muamalah Rasulullah SAW. kepada mayitnya Abu Thalib ini, sudah bisa diketahui bahwa Abu Thalib adalah seorang Muslim. Sekarang Anda tinggal memilih, menjadi pembenci keluarga Nabi walaupun dalil-dalil keislamannya sudah jelas, atau sebaliknya, menjadi pencintanya.

Sumber :
Disalin dari http://khoiron-mustafit.blogspot.co.id/2017/10/dalil-islamnya-abu-thalib.html?m=1

DUA JENIS HIDAYAH DALAM ALQURAN

Oleh : Muhammad Iqbal Al-Fadani

FB_IMG_1498900393447

Jika kita telusuri ayat-ayat Alquran, maka kita dapati dua jenis hidayah yang diterima manusia yaitu :

Pertama, hidayah sebagai penunjuk jalan. Yaitu hidayah yang bersifat penjelasan terhadap aturan dan rambu-rambu yang mesti diikuti oleh seorang hamba, sehingga dengan aturan tersebut seorang hamba akan sampai pada tujuan penciptaannya.

Hidayah bentuk pertama ini bersifat umum dan menyeluruh artinya diberikan kepada semua manusia sehingga semua manusia diberikan kebebasan untuk mengikuti atau mengabaikannya. Dalam hal ini Al-Quran menjelaskan :

ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﺛَﻤُﻮﺩُ ﻓَﻬَﺪَﻳْﻨَﺎﻫُﻢْ ﻓَﺎﺳْﺘَﺤَﺒُّﻮﺍ ﺍﻟْﻌَﻤَﻰٰ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻬُﺪَﻯٰ ﻓَﺄَﺧَﺬَﺗْﻬُﻢْ ﺻَﺎﻋِﻘَﺔُ ﺍﻟْﻌَﺬَﺍﺏِ ﺍﻟْﻬُﻮﻥِ ﺑِﻤَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳَﻜْﺴِﺒُﻮﻥَ

Artinya : “Dan adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri hidayah/petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan” (Q.S. Fushilat : 17)

Kedua, hidayat yang mengantarkan hamba pada tujuan. Hidayah bentuk kedua ini adalah hidayah yang bersifat pasti, dalam artian jika Allah SWT memberikan hidayah tersebut kepada seseorang maka secara otomatis dia akan terhidayahi, sebab Allah SWT sendiri yang menggiringnya menuju tujuan yang telah ditentukan. Jadi Allah SWT tidak hanya memberikan aturan dan rambu-rambu, tapi sekaligus Allah SWT jugalah yang mengantarkan hamba tadi sampai pada tujuannya. Hidayah jenis kedua ini tidak setiap manusia memperolehnya. Tapi hanya manusia-manusia khusus aza.

Perlu dipahami bahwa hidayah jenis kedua ini adalah hasil dari mengikuti dan mengamalkan hidayah bentuk pertama. Al-Quran menyatakan,

ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺍﻫْﺘَﺪَﻭْﺍ ﺯَﺍﺩَﻫُﻢْ ﻫُﺪًﻯ ﻭَﺁﺗَﺎﻫُﻢْ ﺗَﻘْﻮَﺍﻫُﻢْ

Artinya : “Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketakwaannya“. (Q.S. Muhammad : 17)

KEBAIKAN YANG UTAMA

150758414151507226

Imam Ali Zainal Abidin as berkata, “Di hari kiamat nanti, Allah akan kumpulkan orang-orang terdahulu dan kemudian dalam satu lokasi. Kemudian seseorang terdengar menyeru, ‘Dimanakah para pemilik keutamaan?’

Maka berdirilah sekelompok orang dan para malaikat pun menemui mereka sembari bertanya, ‘Apa keutamaan kalian?’

Mereka pun menjawab, ‘Kami selalu menyambungkan silaturrahmi kepada orang yang memutuskannya, memberi sesuatu kepada orang yang tidak mau memberi kami, dan memaafkan orang yang berbuat zalim kepada kami,’

Maka dikatakanlah kepada mereka, ‘Kalian benar, masuklah ke dalam surga’.” (al-Kulaini, Al-Kafi juz 2, hal. 107)

RAHASIA MENANGIS DAN MERATAP UNTUK IMAM HUSAIN AS

FB_IMG_1507796458941

Beberapa waktu yang lalu, para penganut Mazhab Syiah dan  para pecinta keluarga  Nabi Saw di seluruh dunia mengadakan peringatan Yaumul Asyura, yaitu hari syahidnya Imam Husain as, keluarga dan para sahabatnya di sebuah tempat  yang bernama Padang Karbala, Irak.

Syahidnya Imam Husain as dengan cara yang tragis yakni di bantai oleh ribuan pasukan dengan disembelih kepalanya  sehingga terpisah dengan jasadnya. Peristiwa ini menjadi peristiwa sejarah kelam dalam Islam karena para pembantainya adalah orang-orang yang juga beragama Islam atas perintah Khalifah pada masa itu yakni Yazid bin Muawiyah bin Abu Sufyan.

Dalam peringatan Yaumul Asyura tersebut, para pecinta Imam Husain as ini larut dalam kesedihan dan duka yang mendalam. Berbagai ekspresi dilakukan mulai dari menangis, menceritakan peristiwa terbunuhnya Imam Husain as, menyenandungkan syair-syair duka, hingga memukul-mukul dada. Hal ini biasanya disebut dengan meratapi kematian oleh masyarakat kita.

Bukankah menangis, bersedih, dan meratap untuk orang yang sudah wafat adalah terlarang dalam agama? Bukankah peristiwa ini sudah berlalu, tapi mengapa masih terus di ingat-ingat dan dilakukan berbagai kegiatan untuk mengenangnya? Apa sih manfaat dan rahasia di balik ratapan dan tangisan di Hari Asyura ini?

Untuk menjawab berbagai pertanyaan tersebut dan mengetahui rahasia Hari Asyura, maka redaksi Abu Thalib News (ATN) menemui ketua Yayasan Islam Abu Thalib Medan, Ustadz Candiki Repantu agar pendapatan penjelasan yang detil tentang masalah ini.

Berikut ini ATN menuliskan poin-poin penting yang disampaikan oleh Ustadz Candiki Repantu tentang rahasia tangisan dan ratapan di Hari Asyura. Semoga bermanfaat.

1). Manusia pada dasarnya memiliki berbagai macam ekspresi. Diantaranya ada ekspresi senang, ada ekspresi bingung, ada ekspresi lupa, ada ekspresi marah, ada ekspresi benci, dan ada juga ekspresi kesedihan.

2). Ekspresi emosional tesebut memiliki bentuknya masing-masing baik dengan ekspresi mata atau wajah, ucapan, atau bahkan gerakan tubuh. Misalnya, dalam keadaan senang atau lucu, maka muncullah ekspresi wajah yg ceria, ucapan tertawa atau teriakan kesenangan, gerakan tepuk-tepuk tangan atau lompat-lompat, dan sebagainya.

Kalau lagi marah misalnya, maka ekspresi wajah kita cemberut misalnya, mata melotot, ucapannya kasar atau nasehat, tangan memukul, dsb.

Kalau lupa, ekspresi mata akan menyipit, kening berkerut, lidah akan berucap “alamak lupa”, tangan akan memukul dahi.

Ada ekspresi cinta, benci dan lainnya yang ekspresi itu terlihat melalui mimik wajah, mata, bibir, ucapan tertentu, gerakan tangan dan tubuh, serta lainnya.

3). Maka begitu pula kalau bersedih, akan lahir ekspresinya juga. Wajah akan murung, Mata akan menangis, lidah akan meratap, tangan akan memukul dada, dan sebagainya yang sesuai dengan situasinya.

Jadi, menangis dan meratap adalah salah satu ekspresi dari berbagai ekspresi yang ada pada diri manusia.

4). Tentu ekspresi ini memiliki batas2-batas kebolehan dan larangan dalam agama Islam. Maka kita pun akan menangis dan meratap dalam batas-batas yang dibolehkan tersebut. Misalnya para ulama Syiah seperti Sayid Ali Khamenei menegaskan tidak boleh bersedih kepada Imam Husain sampai melakukan perbuatan yang melukai diri.

5). Pada prinsipnya, sesuatu itu bisa bernilai mulia atau hina jika dikaitkan dengan sesuatu yang lain yang punya kedudukan mulia atau hina. Begitulah air mata dan ucapan atau ratapan adalah hal biasa bagi kita. Tapi air mata dan ratapan itu punya nilai agung dan mulia ketika dihubungkan dengan wujud yang agung dan mulia. Karena Imam Husain as punya kedudukan agung dan mulia di sisi Allah SWT, maka tangisan dan ratapan kepadanya adalah bernilai agung dan mulia pula. Begitu pula berduka untuk Rasulullah Saw, Imam Ali, dan Sayidah Fatimah adalah duka yang dimuliakan.

6). Kemudian juga, suatu tangisan dan ratapan itu timbul berakar dari kecintaan. Kita bahagia kalau orang yang kita cintai sedang bahagia, dan kita tentu sedih kalau orang yang kita cintai bersedih. Kita berduka kalau orang yang kita cintai berduka. Maka ketika Imam Husain, Imam Ali, Sayidah Fatimah, dan Rasulullah Saw berduka dan bersedih maka kita yang mengaku mencintai mereka tentu juga ikut larut dalam duka dan kesedihan tersebut.

Alquran memerintahkan kita untuk mencintai keluarga Nabi Saw dan cinta itu sebagai upah kepada Nabi saw. Maka mencintai al-Husain as adalah bagian dari agama dan termasuk mengamalkan perintah Allah SWT dan Rasul-Nya. Dengan begitu, tangisan dan ratapan yang kita persembahkan kepada Al-Husain as adalah berakar dari cinta yang diperintahkan Allah SWT dan Rasul-Nya.

7). Dalam banyak riwayat disampaikan kepada kita bahwa tangisan dan ratapan kepada Imam Husain adalah tradisi para nabi dan keluarga nabi sepanjang sejarah manusia. Imam Husain as adalah satu-satunya manusia yang dirinya dipenuhi dengan derai air mata. Dia lah yang sebelum lahir ditangisi, ketika lahir ditangisi, ketika hidup ditangisi dan setelah wafatnya juga ditangisi. Tangisan dan ratapan untuk Al-Husain as telah dilakukan Nabi Adam as hingga Nabi Muhammad Saw, dan dilakukan juga Imam Ali as, Sayidah Fatimah as, Imam Hasan, dan lain-lain hingga Imam Mahdi afs.

Dengan demikian, ketika kita menangis untuk Al-Husain, maka kita sedang menggabungkan diri kita dengan seluruh manusia suci dari sejak para nabi dahulu hingga imam yang suci di masa kini. Dan bergabung bersama para manusia suci tentu adalah keagungan dan kemuliaan.

8). Menangis dan meratap utk Imam Husain as dilakukan berulang-ulang juga untuk menjaga sunnah para Nabi tersebut, memelihara kecintaan kita pd mereka, mengingatkan manusia akan peristiwa sejarah yang kelam sehingga bisa dijadikan pelajaran bagi kita semuanyq, seperti misalnya untuk membangkitkan semangat perjuangan, mengenal kesetiaan, keberanian, pengorbanan suci, dan lainnya, disamping juga mengajarkan untuk membenci pengkhianatan, kebodohan, kedengkian, ketamakan pd dunia, dan kezaliman para penguasa.

Karena itu menangis dan meratap utk Imam Husain adalah berasal dari fitrah, kecintaan, mengambil pelajaran dan i’tibar dari peristiwa sejarah, dan mengikuti serta memelihara sunnah para nabi dan keluarga nabi Saw.

Demikian secara singkat penjelasannya. Semoga bermanfaat. (ATN)

PROF. ULI KOZOK : SISINGAMANGARAJA DIPASTIKAN BUKAN BERAGAMA KRISTEN, TAPI JUGA TIDAK BISA DIPASTIKAN BERAGAMA ISLAM.

IMG_20171018_100258

Rabu, 18 Oktober 2017, bertempat di Aula Program Pasca Sarjana UIN SU diadakan seminar mengulas tentang “Hubungan Bendera Sisingamangaraja XII dengan Kerajaan Aceh dan Turki” yang dihadiri oleh Prof. Uli Kozok, dari University of Hawai, Amerika. Beliau adalah peneliti dan ahli kebudayaan Batak.

Dalam seminar tersebut, Prof. Uli Kozok menegaskan bahwa Singamangaraja dipastikan bukan beragama Kristen. Beliau membuktikan bahwa Nommensen, seorang penginjil dari Jerman, bermusuhan dengan Singamangaraja XII. Hal itu terlihat dalam surat-surat yang ditulis Nomensen dan permintaan bantuan Nomensen kepada Belanda untuk memerangi Sisingamangaraja XII. Dari surat-surat Nomensen tersebut jelas bahwa Singamangaraja bukanlah Kristen.

Tapi apakah itu berarti Sisingamangaraja XII adalah seorang Muslim? “Tidak juga”, kata Uli Kozok. Menurutnya tidak cukup bukti untuk mengatakan Singamangaraja masuk Islam, walaupun diakuinya kalau Singamangaraja memiliki ikatan atau hubungan yg kuat dengan kerajaan Islam terutama Aceh.

Misalnya benderanya yang sangat dipengaruhi oleh Kerajaan Aceh. Sebab, Bendera Sisingamangaraja XII yang dilihat Prof. Uli di Museum Aan De Stroom, Belgia, yang di atasnya ada percikan darah Sisingamangaraja, disekeliling bendera itu terdapat tulisan yang menggunakan bahasa Aceh yang ditulis dengan huruf Arab Jawi (Arab Melayu). Di dalamnya juga ada ayat-ayat Alquran. (Prof. Uli belum bisa membacakan semua isi tulisan di dalam bendera Singamangaraja karena masih dalam proses penelitian dan penerjemahan). Bendera tersebut adalah peninggalan dari Kapten Hans Christoffel, prajurit yang membunuh Singamangaraja.

Bendera Singamangaraja XII tersebut terdiri dari Matahari atau bintang, bulan dan pedang berkepala ganda.

Simbol matahari dan bulan menurut Prof. Uli, jika ditelusuri simbol seperri ini ditemukan telah ada sejak masa pra Islam yaitu masa Kekaisaran Byzantium. Jadi, ada kemungkinan simbol ini di adopsi dari Byzantium. Sedangkan pedang berkepala ganda itu kata Prof. Uli, konon adalah milik Ali bin Abi Thalib yg diberikan oleh Nabi Muhammad, yg diberi nama Zulfikar. Karena perang yang begitu dahsyat dilakukan Ali, hingga pedang itu terbelah dua.

Gambar pedang ini banyak digunakan sebagai bendera di seluruh Dunia Islam bahkan dalam hiasan lainnya. Biasanya ada juga tulisan Arab yang menyertainya yaitu “Laa fata Illa Ali wa laa sayf Illa Dzulfikar”, Tiada pemuda seberani Ali dan tiada pedang sebagus Zulfikar. Gembar ini jelas pengaruh Islam.

IMG_20171018_142835

Gbr. Dua Bendera Sisingamangaraja XII yang ada di Museum Aan De Stroom, Belgia.

 

Lalu, Bagaimana bisa sampai ke tanah Batak dan menjadi bendera Sisingamaraja XII?

Jawabnya, lewat Kerajaam Turki Usmani. Yang mana Turki Usmani membuat bendera dengan lambang tersebut. Dan kemudian Kerajaan Aceh yang ketika itu membangun hubungan dengan Kerajaan Turki mengambil simbol bendera tersebut. Dan akhirnya Sisingamangaraja XII menerima bendera Aceh itu sebagai bendera bagi kerajaannya.

Lantas kenapa Singamangaraja tidak masuk Islam padahal dia sudah punya hubungan yg sangat erat dengan kerajaan Islam Aceh, bahkan mengunakan bendera, cap dan simbol-simbol Islam lainnya?

Menurut Uli Kozok, Singamangaraja tidak masuk Islam adalah demi mempertahankan basis massanya. Yang mana kalau ia masuk Islam maka ia akan kehilangan kepercayaan masyarakatnya. Jadi dengan demikian ia tetap beragama dengan agama tradisional Batak, atau agama nenek moyang. (CR14)