Pernikahan Suci Putri Sang Nabi

Oleh : Candiki Repantu
ali-fathimah2
Madinah al-Munawwarah semakin bercahaya
Dengan tumbuh dan mekarnya “bunga surga”
Penyejuk mata Nabi mulia, Fatimah Zahra ummu abiha.
Nasab mulia dimilikinya, baik dari jalur ayah atau ibunya,
Cahaya kecantikannya tak perlu diragukan
Keagungan akhlaknya patut dibanggakan
Membuat setiap lelaki di zamannya
Tak peduli dengan usia dan kedudukan mereka,
Semua saling berlomba
Untuk merebut hati Sang Nabi dan perhatian Sang Putri.
Abu Bakar yang usianya sepadan dengan Rasulullah
Datang untuk meminang Fatimah.
“Wahai Rasulullah, Anda telah mengetahui kesetiaan
dan pengabdianku terhadap Islam,
aku menginginkan agar Anda menikahkan diriku dengan Fatimah”, minta Abu Bakar.
Nabi Saw tertegun mendengarnya, tanpa sepatah katapun keluar dari lisannya.
Abu Bakar memahami Nabi tidak menerimanya.
Maka ia pun pergi meninggalkan rumah Nabi yang mulia.
Di perjalanan ia bertemu Umar sahabatnya
Menyampaikan bahwa Nabi mengabaikan lamarannya.
Dengan ditolaknya Abu Bakar, Umar merasa memiliki kesempatan
Tak menunggu waktu, ia langsung bergegas memburu
Seperti Abu Bakar, ia berhajat meminang Fatimah
untuk menjadi pendamping hidupnya
Namun, ia bernasib sama
Nabi tak meresponnya dan hanya berkata Beliau sedang menunggu pesan ilahi
menyangkut jodoh sang putri
Dua sahabat senior ini
Gugur dalam sayembara suci merebut pujaan hati.
Sahabat-sahabat lainnya tak mau rugi
Mereka berusaha menampilkan diri
dengan segala yang mereka miliki
untuk dapat mempersunting putri terkasih Nabi.
Dua pengusaha besar saling berebutan,
Abdurrahman bin Auf dan Usman bin Affan
Keduanya datang ke rumah Nabi secara bersamaan
Untuk menyampaikan lamaran kepada Fatimah wanita idaman.
Abdurrahamn bin Auf memulai pembicaraan,
“Wahai Nabi, nikahkanlah putrimu denganku,
maka aku akan memberinya mahar seratus unta hitam bermata biru
yang berasal dari Mesir di lembah sungai Nil
yang semuanya dalam keadaan hamil.
Tidak hanya itu, aku juga akan menambahkan
sepuluh ribu dinar sebagai hantaran.”
Mendengar itu, Usman bin Affan tak mau ketinggalan,
Ia menyambut pembicaraan Abdurrahman,
“Wahai Nabi, seperti halnya Abdurrahman,
Aku pun siap memberikan mahar yang sama jika Fatimah berkenan
Lagian, aku masuk Islam lebih duluan.”
Usman mengemukakan kelebihan
Agar Nabi lebih condong menentukan pilihan.
Rasul tersenyum memandang kedua sahabatnya ini.
Untuk menenangkan hati sabdapun disampaikan Nabi,
Amraha inda rabbiha”, urusannya ada di sisi Tuhannya.
Nabi tak menginginkan harta karena memang keluarganya senang hidup sederhana.
Nabi hanya menegaskan bahwa jodoh Fatimah ada dalam ketetapan Tuhannya.
Syuaib bin Saab menggambarkan kisah ini dengan indah,
“Ketika matahari kecantikannya bersinar di langit kerasulan
dan menjadi purnama di cakrawala kenaikan bulan kesempurnaannya,
awal pikiran menjangkau ke arahnya
dan tatapan orang-orang terpilih rindu mengamati kecantikannya;
maka, para pemimpin kaum Muhajirin dan Anshar meminangnya,
namun orang yang dikarunia ridha Allah (Nabi Muhammad Saw) menolak mereka
dan berkata, ‘Aku sedang menanti ketetapan Tuhan atasnya’.”
Apakah sebenarnya yang dinantikan Nabi?
Bukankah telah datang kepadanya sahabat-sahabat besar yang mengikat janji?
Bukankah telah ditawarkan limpahan harta sebagai mahar tanda kasih sejati?
Namun mengapa nabi menolak dan mengembalikannya pada pesan ilahi?
Semua orang merasa bahwa Fatimah bukanlah “wanita biasa”
Nabi pun mencari suami yang bukan “lelaki biasa”
Siapa gerangan lelaki itu adanya?
Para sahabat sudah bisa menduga.
Lelaki itu sahabat setia sekaligus kerabatnya.
Ia orang yang paling dekat dengannya, paling dicintainya,
Ia pembela gigih agama, berjuang sepenuh jiwa,
dan pengabdi yang tak diragukan kesetiaannya,
itulah Ali bin Abi Thalib, Haidar Sang Singa
Nabi menantikan kedatangannya,
Namun, sepertinya Ali hilang keberaniannya
untuk mengikuti sayembara cinta melamar Fatimah
Ia sadar siapa dirinya
Bayangkan, sejak kecil hingga dewasa ia diasuh di rumah Khadijah,
diberi makan, diberi pakaian, dididik dengan sebaik-baik pendidikan
Belum lagi membalas semua itu, kini berani-beranian meminta lagi
Anak Nabi untuk dijadikan isteri
“Sungguh tidak tahu terima kasih”,
Begitu kata hati yang menghantui batinnya Ali.
Lagian, apa yang bisa ditawarkan untuk bekal pinangan.
Ali adalah pemuda miskin yang tak punya rumah idaman,
biaya hidup pas-pasan, pas ada biaya maka bisa membeli makanan,
pas tidak ada maka ibadah puasa jadi pegangan,
pakaian pun hanya apa yang ada di badan.
Sungguh tak layak pikir Ali, untuk melangkahkan kaki,
melamar putri suci, cahaya mata sang Nabi.
Namun, cerita sudah beredar bahwa semua orang ditolak Nabi dengan sabar
Hanya Ali saja yang belum datang melamar.
Para sahabat memotivasi Ali agar dirinya tak gentar
untuk menyampaikan isi hati yang kian membakar
dalam api cinta suci yang terus berkobar.
Namun itulah Ali sang Haidar,
pemuda yang tegar di medan pertempuran yang besar,
kini tubuhnya bergetar, lidah kelu tak mampu berujar,
kepalanya tertunduk seperti ditindih batu besar,
Menghadap Nabi untuk melamar al-Kautsar.
Rasulullah saw mengerti gelagat Ali
Yang menyimpan keinginan di dalam hati.
Ia pun bertanya, “Apa gerangan yang membawamu kemari?”.
Jantung Ali berdetak lebih laju, rona wajahnya semakin memerah malu,
mulutnya semakin terkunci membisu,
Namun pikirannya ingin menyampaikan sesuatu.
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Rahman, Ali memulai pembicaraan,
Menyampaikan keinginan untuk memiliki pasangan,
Yang mendampinginya mengarungi suka dukanya kehidupan,
Dan itu adalah Fatimah Zahra, wanita mulia sepanjang zaman.
Wajah Nabi menunjukkan kegembiraan,
Yang dinantikan kini datang menghadap sopan,
Inilah akhir janji Tuhan,
Agar menikahkan Fatimah dengan orang yang sepadan,
“Kalau tidak ada Ali, tidak ada yang layak menikahi Fatimah”
begitu kira-kira janji yang telah ditetapkan-Nya.
Namun, Nabi tahu aturan,
Dibutuhkan persetujuan untuk menikahkan anak perempuan.
Nabi pun bersabda, “Wahai Ali, sebelummu, sudah banyak laki-laki datang melamar Fatimah,
tapi ia menolak mereka semua.
Aku akan sampaikan hajatmu kepadanya,
tunggulah sampai jawaban terlontar dari lisannya.”
Nabi bergegas menemui putrinya,
Dan Ali menanti jawaban az-Zahra dengan hati gundah gulana.
“Fatimah!, panggil Nabi dengan suara lembutnya.
Engkau tahu hubungan Ali dengan kita,
Engkau juga tahu pengabdian dan kesetiaannya
Aku meminta kepada Allah agar menikahkanmu dengannya
Dengan manusia terbaik dari semua makluk-Nya,
yang mencintai dan dicintai-Nya;
dan kini Ali datang melamarmu,
bagaimana pendapatmu?”
Fatimah tak memberikan jawaban,
Hanya pancaran wajah dan sorot matanya telah menampakkan isi hatinya.
Nabi saw berdiri mengumandangkan takbir,
Allahu Akbar, diammu menunjukkan persetujuanmu”
Nabi menyampaikan kabar gembira itu kepada Ali,
Ali pun merasa lega di hati,
tapi tunggu dulu, ada hal lain yang perlu diketahui,
yaitu mahar apa yang dapat diberikannya sebagai suami.
“Apa yang bisa kau berikan sebagai mahar pernikahan?” tanya Nabi kepada Ali.
Inilah yang dikhawatirkan Haidar,
tak mungkin ia mampu memberikan mahar untuk menyaingi Abu Bakar dan Umar,
apalagi Abdurrahman bin Auf dan Usman bin Affan yang dulu datang melamar.
Jangankan seratus ekor unta bermata biru,
membeli satu untapun dirinya tak mungkin mampu.
Tapi lamaran sudah terlanjur disetujui, tak mungkin ditarik kembali.
Dengan memberanikan diri, berkatalah Ali,
“Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu wahai Nabi
Tentang kehidupanku engkau sangat mengetahui
Aku hanya memiliki tiga buah benda : sebilah pedang, seekor unta, dan sebuah baju besi.”
Rasulullah tersenyum, ia tahu betul keadaan sepupunya,
tak ada yang tersembunyi darinya, kecuali apa yang diutarakannya.
Rasul pun berkata, “Pedang kau gunakan untuk berjuang,
unta kau pakai untuk mengangkut air kebutuhan harian.
Tak mungkin kau menyerahkan sebagai mahar pernikahan.
Karenanya, juallah baju besi dan bawa hasilnya kemari”,
Itulah pesan Sang Nabi.
Imam Ali melaksanakan titah ilahi,
Untuk menjual baju besi sebagai mahar mengikat tali kasih
dalam suatu perjanjian suci.
Hasilnya tak seberapa, hanya 500 dirham saja.
Inilah maharnya Fatimah,
Kelak jumlahnya dijadikan oleh keturunan sucinya
Para imam yang mulia sebagai batas mahar pernikahan mereka.
Tak pernah ada yang berani
memberikan mahar melebihi maharnya Fatimah dan Ali.
Adakah wanita yang merasa lebih mulia dan solehah
Merasa lebih berhak menerima mahar melebihi Fatimah?
Adakah lelaki yang merasa lebih sejati
dengan memberi mahar melebihi pemberian Ali?
Perkawinan suci pun dilangsungkan
dengan Nabi bertindak sebagai wali pernikahan.
Jamuan sederhana dibagikan, doa-doa dipanjatkan,
dan wajah kegembiraan menebar di seantero alam.
Namun ketika aroma kegembiraan itu meliputi semua hati,
mendadak masalah terjadi,
Fatimah menuntut mahar lebih dari apa yang diberikan Ali.
Ia menggugat Nabi, “Bukankah setiap wanita berhak menentukan maharnya?
Lalu mengapa aku tak diberi kesempatan untuk meminta maharku?
Aku tak ingin mahar 500 dirham itu, aku menginginkan sendiri maharku.”
Nabi tertegun memandang Fatimah seolah tak percaya.
Apakah ada keputusannya yang salah? Mengapa Fatimah berubah?
Tapi memang itu ajaran agama, bahwa wanita juga berhak menentukan maharnya.
Nabi pun hanya bisa pasrah mempersilahkan Fatimah meminta maharnya,
sambil bersabda mengingatkannya,
“Wahai Fatimah, ini Ali yang engkau pasti mengenal kehidupannya,
lantas mahar apakah yang akan engkau minta darinya?”
Dengan sungguh-sungguh Fatimah berkata, meminta mahar yang tidak terkira,
“Aku memohon kepada Allah, dihari pernikahanku,
agar Allah menjadikan syafaatku sebagai mahar pernikahanku”.
Semua memandang seolah tak percaya
sebab Fatimah meminta mahar termahal di dunia.
Siapa yang mampu mengabulkannya kecuali Tuhan pemilik jagat raya.
Tuhan pun menjawab permintaan az-Zahra,
Jibril pun diperintahkan turun dari sisi Tuhan
Untuk menyampaikan salam persetujuan
Mahar syafaat menjadi syarat pernikahan.
Selembar kain yang bertuliskan perjanjian Tuhan
Dibawa Jibril untuk Fatimah wanita penghulu alam
memberi syafaat kepada manusia kelak di alam kebangkitan.
“Allah telah setuju menjadikan syafaat Fatimah
bagi umat ayahnya sebagai mahar nikahnya”,
begitu teks perjanjiannya.
Kelak, ketika menjelang ajalnya,
Fatimah berwasiat kepada Ali suaminya
untuk meletakkan surat perjanjian itu dalam kain kafannya,
Letakkan surat ini di kain kafanku,
sebab kelak dihari kiamat, dengan memegang suratku,
aku akan memberikan syafaatku kepada orang-orang yang berdosa dari umat ayahku.”
Hari itu, 1 Dzulhijjah 14 abad yang silam,
Menjadi saksi penting ikatan kasih sayang
Dalam perjanjian yang teguh, mitsaqan ghalizhan
Antara dua insan suci yang dibalut keagungan,
Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra, .
Ikatan kasih mereka abadi
Hingga bertemu Ilahi Rabbi.
Ketika mengenang Fatimah, Imam Ali pernah bercerita,
“Aku menikah dengan Fatimah.
Kami tak memiliki alas tidur kecuali selembar kulit domba.
Malam harinya kami gunakan untuk alas tidur,
dan siang harinya kami jemur.
Kami tak memiliki pembantu,
pekerjaan rumah dikerjakan Fatimah tanpa mengeluh.
Ketika kami pindah, Rasulullah membekali kami dengan sebuah selimut,
bantal kulit yang diisi serabut,
dua gilingan tepung, satu gelas, dan sekantong susu.
Begitu seringnya Fatimah menggiling tepung,
sampai berbekas kasar pada tangannya.
Begitu seringnya Fatimah memanggul air,
sampai berbekas hitam di punggungnya.
Begitu seringnya Fatimah membersihkan rumah,
sehingga pakaiannya dipenuhi debu.
Dan begitu seringnya Fatimah menyalakan tungku api,
sampai-sampai pakaiannya menghitam dipenuhi arang.”
Ya Fatimah, Ya Ali,
jalinan cinta kalian ternyata menjadi rahmat bagi seluruh bumi,
meliputi kami yang hidup saat ini,
hingga manusia nanti sampai kiamat terjadi.
Ikatan kasih kalian, menebar ke seluruh alam
yang terungkap dalam bantuan syafaat yang sangat kami butuhkan
ketika berdiri di pengadilan Tuhan.
Ya Fatimah, kami sampaikan doa dengan wasilah,
“Ya wajihatan ‘indallah, isfa’i lana ‘indallah”,
“Wahai yang mulia di sisi Allah, syafaatilah kami di sisi Allah”.
Kepada semua pecinta Fatimah,
Kami sampaikan “Selamat Hari Mahabbah
Semoga Allah mengekalkan cinta kita semua
kepada keluarga suci Nabi-Nya,
yang menebar hingga anak –cucu dan keturunan kita.”
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad!

SALAM IDUL FITRI

hussain-font

Assalamualikum wr. wb
Bismillah…Allahumma Shalli ala Muhammad wa aali Muhammad

Saya sekeluarga dan Semua Keluarga Besar Yayasan Islam Abu Thalib Medan mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H. Semoga amal ibadah kita semua diterima oleh Allah swt. Mohon maaf lahir dan batin.

Songsong lebaran di idul fitri
Lebarkan hati beri maaf setiap diri
Tak ada dendam, tak simpan benci
Semua damai dihari suci
Dengan berkah dan rahmat ilahi
Salam persatuan syiah dan sunni
Demi majunya peradaban di bumi pertiwi

Wassalam
Candiki Repantu
Yayasan Islam Abu Thalib Medan

FREEDOM FOR PALESTINE

13511032_612806722216386_8166556493608140730_n

(Solidaritas Untuk Rakyat Palestina)

Dengan Pekikan ALLAHUAKBAR Rakyat Palestina Tua, muda, Anak-anak bahkan wanita menantang Pasukan Zionis Israel dengan hanya membawa Batu dan Kayu tetapi mereka tidak akan mundur sedikitpun meski mereka harus menghadapi pasukan dengan senjata lengkap dan tentu  nyawa menjadi Taruhan tapi aksi menentang kekejaman Zionis Israel tak akan pernah berhenti.

Kondisi objektif membuktikan bahwa aksi pendudukan Israel terhadap Tanah Palestina mendapat dukungan penuh Amerika Serikat (USA) sehingga Israel dengan semena-mena menganeksasi Tanah Palestina dan membentuk negara Ilegal dan mereka ngotot meski dunia Internasional jelas-jelas menolak aksi sepihak Israel, dan perilaku keras kepala Israel seringkali menyebabkan pelanggaran HAM BERAT sayangnya Amerika dan Israel selalu saja luput dari pengadilan HAM Internasional.

13590524_612806838883041_6172066765652122212_n

Indonesia semenjak periode Presiden Sukarno selalu konsisten membela Hak-Hak rakyat Palestina dan menolak keberadaan Negara Israel dan pernah menggagas dukungan kemerdekaan Palestina dalam KAA 1955. Dan sebagai elemen masyarakat yang peduli dengan Nasib Palestina maka Kami mendukung perjuangan Palestina dan mendorong Pemerintah RI agar lebih aktif lagi di berbagai forum untuk memperjuangkan Hak-Hak rakyat Palestina dan dengan ini Kami menyatakan sikap “Mendukung perjuangan Bangsa Palestina”

Maka Dari itu Kami menyatakan sikap sebagai berikut :

  1. Mengutuk dengan keras aksi-aksi Israel terhadap Tanah palestina seperti Penutupan Masjidil Aqsa, pembangunan Pemukiman di Tanah Palestina, dan pembagunan tembok raksasa.
  2. Mengutuk Amerika Serikat (USA) yang selalu membelaa Israel dengan mengabaikan rasa kemanusiaan sebab Israel selalu membunuh Rakyat palestina dan jelas-jelas melanggar HAM.
  3. Mendukung penuh Setiap perjuangan rakyat palestina dalam membentuk Negara Palestina yang merdeka Penuh tanpa intimidasi Israel.
  4. Mendorong kepada Pemerintah RI agar lebih aktif menuntut PBB agar mengadili Israel di Makamah Internasional atas semua pelanggaran HAM berat atas kekerasan terhadap Rakyat Palestina.

Komite Reforma Agraria (KRA),  Yayasan Islam Abu Thalib Sumut (YIATSU), Partai Rakyat Demokratik (PRD), Forum Bersama Keluarga (FBK) 65, Persatuan Pedagang Buku Lapangan Merdeka (P2BLM), Serikat Mahasiswa Demokrasi (SMAD), GARDA ASURA, DaUN Indonesia, PBHI, Pergerakan Indonesia (PI)

LAILATUL QADAR MAJELIS AZ-ZAHRA

13552665_10205612488186460_1498751469_n

Memperingati Malaam lailatur Qadar (malam ke 23 Ramadhan) selain di adakan di Majelis Yayasan Abu Thalib Sumatera Utara (YIATSU), majelis juga di laksanakan di Majelis Az-Zahra Kota Langsa yang di pimpin langsung Oleh Ketua Yayasan Islam Abu Thalib Ust. Candiki Repantu yang mengambil tema tausiah keutamaan-keutamaan malam-malam Qadar.

Majelis yang di hadiri oleh Jama’ah Kota langsa, Sungai Raya dan Aceh Tamiang Provinsi Aceh, dengan penuh Khidmat jamaah membaca doa-doa malam Ramadhan, serta doa Jausan Kabir meski memakan waktu berjam-jam akan tetapi tidak ada Jamaah yang beranjak dari tempat duduk semua asik dalam pergulatan cinta, sebab malam Qadar adalah moment yang langka dan hanya ada pada bulan Ramadhan dan tidak ada di bulan-bulan lain.

13565539_10205612487986455_20388055_n

Dalam tausiahnya Ust Candiki Repantu menyampaikan bahwa Malam Lailatu Qadar adalah malam terpilih untuk manusia agar lebih bisa mendekatkan diri kepada Allah dan malam terpiilih untuk turunnya Al-qur’an, sehingga malam Qadar benilai lebih dari 1000 bulan hal tersebut bukan tanpa Alasan melainkan Rahmat yang turun pada Malam Qadar adalah Rahmat turunnya Al-Qur’an sebagai pedoman Hidup bagi umat Islam di dunia.

Selain itu Ust. Candiki Repantu juga menyampaikan sekelumit kisah Imam Ali Bin Abi Thalib yang wafat juga di waktu yang di pilihkan Allah yaitu pada malam Qadar sehingga Imam Ali AS wafat pada malam turunnya Rahmat, lalu siapa gerangan pecinta yang tidak mengiginkan syahid di Malam Qadar sayang di perlukan kebersihan hati dan kebesaran jiwa menjadi Insan sempurna untuk meraih Syahadah di malam 1000 Bulan.

13553325_10205612488306463_462383012_n

MALAM QADAR KETIGA (Habis)

 

13535970_1146218095436143_589096697_n

Majelis Malam Qadar ketiga (malam 23 Ramadhan) di Yayasan Abu Thalib Sumatera Utara (YIATSU) yang berada di Jl. Gurila No.82 Medan di adakan pada tanggal 27 Juni 2016 di isi oleh Tausiah Ust. Muhammad Rusdi yang mengambil tema keutamaan-keutamaan Imam Ali Bin Abi Thalib sebagai bagian dari majelis mengenang sahidnya Imam Ali Bin Abi Thalib AS, sedangkan Doa-doa di  pimpin oleh Ust. Abdul Azis yang dimulai pada pukul 22.00 WIB sampai pukul 03.30 WIB tanggal 28 Juni 2016.

Dalam Tausiahnya Ust. Muhammad Rusdi menyampaikan tentang keutamaan Imam Ali AS diantaranya beliau lahir di Ka’bah yang tidak ada seorangpun di muka bumi ini yang lahir di Ka’bah bahkan Nabi sekalipun tidak ada yang lahir di Ka’bah dan beliau syahid di mihrab sehingga julukan sebagai manusia yang lahir di ka’bah dan syahid di mihrab di sematkan pada Imam Ali Bin Abi Thalib AS sebagai penghormatan atas kemulyaan Imam Ali Bin Abi Thalib.

Selain keutaman tersebut Imam Ali bin Abi Thalib secara kwalitas keperkasan adalah pengawal Rasulullah yang selalu setia baik di masa Damai maupun dimasa perang dan Imam Ali AS tidak pernah lari dari peperangan manapun bahkan di perang Uhud saat pasukan Muslimin kocar-kacir Imam Ali tetap kokoh melindungi Nabi SAW maka tidak heran jika Rasulullah mengatakan “Tiada Pemuda kecuali Ali dan Tiada pedang Kecuali Zulfikar” hal ini menunjukkan keistimewaan luar biasa Dari Imam Ali AS.

Dari sisi keilmuan Imam Ali tak memiliki tandingan yang sepadan karena sebagai penafsir Al-Qur’an imam Ali memiliki Ilmu yang luas yang tak mungkin kita tandingi , bahkan kumpulan Khutbah dan Surat menyurat Imam  Ali AS yang terkumpul dalam Nagjul Balaghah menjadi kitab yang tidak pernah bisa kering untuk di kaji sepanjang jaman dan hal tersebut cukup  untuk menunjukkan  kwalitas sang Imam. Maka berwilayah kepada Imam Ali AS adalah sebuah keharusan agar kita benar-benar  mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW sebab Imam Ali AS adalah sosok terbaik diantara yang terbaik.

13553362_1144832508908035_477616078_n

Seperti malam yang sudah-sudah Majelis di Isi dengan membaca Al-qur’an dan doa-Doa malam Ramadhan terutama Doa Jausan Kabir dan Tawsul Al-Qur’an, dan terakhir adalah acara sahur bareng sebelum Jama’ah kembali kerumah Masing-masing. (N. Silabuhan)

MALAM QADAR KE-2

13438793_10205590560958293_4612853045963230972_n

Wajah suci semakin pucat luka kepala masih menganga darah terus menetes menembus celah perban penutup luka menganga, Deraan racun pedang sang durjana menjalar hingga ujung  kaki membuat tubuh Al-Murtadha berubaah pucat membiru, luka hatii tak mampu menahan  airmata sang pemuda syurga tanpa sadar jatuh mengenai wajah panglima pemberani hingga memaksa sang Singa Allah membuka mata dan berkata lirih

 “wahai Anakku Hasan… apakah engkau menangis aku merasakan air hangat menerpa wajahku”  senyum yang tak pernah lepas dari hati meski bibirnya  tak mampu lagi menampug sungging,

dengan terisak sang pemuda syurga menjawab “iya wahai Ayahku .. aku menangis…” jawab Imam Hasan menjawab dengan deru gemuruh yang mampu mengeringkan sungai efrat.

“bersabarlah wahai anakku…” hanya itu kata yang  mewakili ketegaraan yang Washi kemudian sebelumnya larut dalam pingsaannya untuk seberapa saat.

Sementara tangan-tangan dekil fakir miskin Kufah berdatangan kerumah sang pemimpin dengan wajah sayu membawa wadah-wadah  usang berisi susu hasil mengumpulkan dari beberapa tetes, ditemani wajah-wajah polos pilu sang anak  yatim mereka menyampaikan susu untuk menawarkan racun pedang sang durjaana “Ibnu  Muljam”, dalam sayatan pilu hati mustadafin kufah ”Wahai Imam kami jangan tinggalkan Kami” masih terbayang oleh mereka pemimpin yang senantiasa memberi makan mereka saat mereka di hujami Rasa lapar  yang sangat…..

Detik waktu terasa cepat wajah suci semain pucat kain pembalut semakin berwarna pekat hingga tak memiliki arti, luka itu terlalu dalam kata Sang Tabib cemas, sayatan itu terlalu menghujam hingga akhir menjelang syahid tak ada yang bisa membedakan antara wajah dan pembalut luka semua berwarna sama, warna kuning pucat darah terserang racun, aduhai pilu semesta tak terkira saat mata imam berpamitan kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya untuk segera bertemu dengan Al-Musthafa

“aduhai Singa Allah perkasa kini ragamu lelah, menopang  jasadmu yang  telah rebah derai tangis pilu seisi semesta pecah, air mata fakir miskin, anak  yatim dan janda tua tumpah, Almusthafa telah menyambutmu bersama Penghulu perempuan semesta Fatimah, nafas tenang iringi syahadah, imamku telah usai tunaikan Hujjah”

imageuis

—####—–

Petikan singkat kisah tragis yang menimpa Imam Ali Bin Abi Thalib di malam ke 21 Ramadhan 1400 tahun silam setelah bertahan dari deraan racun pedang Ibnu Muljam setelah 2 Hari berjibaku dengan luka dan racun, Akhirnya sang Putera Ka’bah tersebut harus mengehembuskan nafas terakhir sebagai tanda bahwa sang Imam telah selesai menunaikan tugasnya sebagai Washi, Khalifah Pengganti Nabi.

Masih dalam rangkaian majelis malam qadar di  Yayasan Islam Abu Thalib Sumatera Utara (YIATSU) pada malam 21 Ramadhan 1437 H tepatnya tanggal 25 Juni 2016 kali ini di isi dengan Tausiah yang mengangkat tema “bekal sambut lailatul Qadar” juga rangkain pembacaan doa-doa terutama doa Jausan Kabir yang di  Pimpin oleh Ust. Zefri Ansari S.Hi M.Hi,  Ust. Abdul Azis Baeha SE dan Ust. Muhammad Rusdi S.Hi.

13552677_1144832218908064_716089178_n

Dalam tausiah di malam ke 21 ini Ust. Candiki Repantu menyampaikan pesan bahwa saling memaafkan di antara manusia adalah bekal Utama dalam menyambut malam Qadar dan malam qadar menjadi tidak berarti jika kita menyambutnya dengan  menyimpan dendam dan kebencian terhadap saudara meski sebesar biji zarah sekalipun, ketidak sempurnaan itu di karenakan rahmat tidak akan turun pada orang yang masih memiliki dendam terhadap saudara muslimnya oleh sebab itu sebaiknya dalam menyaambut malam Qadar sebaiknya kita saling meminta dan memberi maaf agar kita semua memperoleh rahmatnya Allah  SWT dan mencerap madu laylatul Qadar. (N. Silabuhan)

13553157_1144833215574631_1786769572_n.jpg

KENANGAN BERSAMA DR. KASHEZADEH

10

bersama Ketua Yayasan Islam Abu Thalib Sumatera Utara

11

mengisi Tausiah

12

menghadiri Acara di Babusalam Simalungun

13

Bukan Rahasia

14

bersama Jama’ah Tarikat Naqsabandiyah Simalungun

15

bersama Sekjend GARDA ASURA

16

SUNI & SYIAH Shalat bareng (Kenapa tidak)

17

mengisi Tausiah Ramadhan di mesjid Agung Kota Langsa

18

Ziarah ke Monumen Asia Tenggara Kota Peureulak Provinsi Aceh

13413847_10205508088496533_1030210858_n

Buka Bersama di Majelis Fadl Abas Bangun Purba Deli Serdang

13459756_10205523059670803_1742309999_n

Buka puasa bersama di Majelis Az-Zahra Tanjung Morawa

LAILATUL QADAR YAYASAN ABU THALIB

13511459_1143545929036693_735039817_n

 

Al-Qur’an bersama Ali

Ali Bersama Al-Qur’an

Ucapan Ust. Cadiki Repantu Mengawali tausianya dalam majelis Lailatur Qadar sekaligus memperingati peristiwa tertebasnya Singa Allah di tangan sang durjana  Ibnu Muljam saat Imam Ali bin Abi Thalib melaksanakan Shalat subuh dan tebasan tersebut melukai kepala Suci pewaris Ilmu Nabi,  sejarah kemudian mencatat bahwa tebasan pedang beracun tersebut mengakhiri hidup Imam Ali Bin Abi Thalib AS. Sebuah tragedy memilukan bagaimana tidak manusia suci yang sejak kecil makan dan minum dan mencerap manisnya madu ilmu di rumah kenabian harus berakhir oleh tebasan pedang durjana yang telak mengenai kepala sang Imam dan darahpun mengucur hingga membasahi janggut beiau.

Selain mengenang kembali peristiwa Tragis yang menimpa Imam Ali bin Abu Thalib dalam tausianya Ust. Candiki juga menyampaikan bahwa Al-Qura’an di turunkaan oleh Allah SWt lengkap tanpa kurang termasuk syarat adanya Insan Sempurna untuk mengawalnya agar Al-Quran tidak di tafsirkan sembarangan oleh orang-orang yang hanya ingin mencari dalil atas kepentingan pribadi.

Tugas mengawal Al-Qu’an tidak bisa di berikan kepada sembaranng orang dan orang tersebut  harus Maksum sebab sesuatu yang suci harus pula di kawal oleh Manusia Suci dan pada saat Nabi Muhammad SAWA masih hidup maka Rasulullah yang mengawal dan menjaga tapi setelah Rasulullah wafat maka tugas tersebut di berikan kepada Imam-Imam Ahlul bait yang maksum dan saat ini tugas itu di emban oleh Al-Qaim Imam zaman sebagai hujjah Allah, maka tidak heran jika Al-Qur’an masih terjaga kesuciannya hingga saat ini dengan kata lain teks suci harus di jaga oleh orang suci.

Tausiah di atas adalah salah satu rangkaian kegiatan majelis Lailatul Qadar yayasan Islam Abu Thalib Sumatera Utara (YIATSU) yang di adakan pada malam ke 19 Ramadhan tepatnya tanggal 23 Juni 2016 pukul 21.00 dan berakhir pada saat makan sahur 24 Juni 2016. Dalam majelis kali ini di mulai dengan membaca Doa Kumayl di teruskan membaca Doa Ramadhan dan terakhir membaca secara bersama-sama Doa Jausan kabir.

Majelis akan di laksanakan pada malam-malam lailatul qadar yaitu malam ke 19, 21 dan 23 yang di ikuti oleh Jama’ah Yaayasan Islam Abu Thalib yang berdomisili di Medan, Binjai dan sekitar dan acara di akhiri dengan Makan Sahur bersama-sama. (N. Silabuhan)