HARI AL-QUDS INTERNASIONAL

Screenshot_2020-05-16-01-08-40-472_com.whatsapp

Bismillahirrahmanirrahim

Saya selama beberapa tahun telah memperingatkan kepada umat Islam terkait ancaman Rezim Zionis Israel. Kini Israel dengan buas menyerang saudara-saudara kita di Palestina serta Libanon Selatan. Untuk memberantas pejuang Palestina, Israel tak segan-segan membombardir rumah-rumah warga.

Saya meminta seluruh umat Islam dunia untuk menjadikan hari Jumat terakhir bulan Ramadhan – yang termasuk malam-malam Lailatul Qadar dan juga dapat menjadi penentu nasib bangsa Palestina – sebagai Hari Quds dan mengumumkan solidaritas internasional umat Islam dalam mendukung hak-hak legal bangsa Palestina. Saya berdoa semoga kaum Muslimin mencapai kemenangan atas orang kafir.

Wassalam

Demikianlah Imam Khumaini qs pada 13 Ramadhan 1399 H mengumumkan bahwa setiap hari Jum’at terakhir di bulan ramadhan dijadikan sebagai Hari al-Quds Internasional, yakni hari solidaritas kepada bangsa Palestina agar seluruh umat Islam di dunia menyuarakan pembebasan Palestina dari cengkeraman Zionis Israel. Tapi dalam konteks yang lebih umum, Hari al-Quds Internasional menjadi simbol perlawanan kaum mutadh’afin (tertindas) atas kaum mustakbirin (penindas) di manapun berada. Setiap tahun gelombang lautan manusia turun ke jalanan pada hari ini dan meneriakkan perlawanan pada arogansi dunia. Inilah demonstrasi terbesar di dunia yang dilakukan secara serempak pada hari yang sama oleh sekitar 80 Negara di dunia dalam satu suara yang menggema sambung menyambung meneriakkan “al-maut lil Israil, mampus Israel”. (CR14)

 

WASIAT DI PENGHUJUNG MALAM

Oleh : Candiki Repantu

IMG-20200513-WA0010

Malam ke-21 ramadhan, tahun 40 Hijrah. Di sebuah rumah sederhana, berkumpullah manusia menanti dengan hati merana, kesedihan menghujam jiwa, kedukaan tampak jelas di raut-raut wajah para yatim dan janda-janda tua, air mata mengalir diiringi tangisan yang menggema. Sungguh tak terbayangkan, sang jawara perang itu kini terbaring lemah, wajah dan kulitnya memucat kuning akibat racun yang menebar di seluruh jasadnya, di atas ubun-ubunnya ada luka panjang merah kehitaman menganga, membelah tengkorak kepalanya, ditutupi dengan perban seadanya. Telah berlalu dua hari ketika kepala suci Imam Ali di tebas pada 19 ramadhan dini hari.

Melihat keadaan ayahnya yang sedemikian rupa, Ummi Kultsum mengutuk Ibnu Muljam dan menyampaikan harapan untuk kesembuhan ayahnya. Ibnu Muljam menjawabnya, “Tidak ada harapan selamat bagi ayahmu, karena aku membeli pedang itu dengan harga 1000 dinar, dan membayar 1000 dinar lagi agar diolesi dengan racun yang mematikan. Racun yang ganas yang kalau saja seluruh penduduk Kufah ditebas dengan pedang itu, semua akan mati karenanya.”

Seorang thabib bernama Assad bin Amir as-Sukuni di datangkan untuk melihat kondisi Imam Ali as. Ia memeriksa keadaan Imam dengan seksama, dan dengan kesedihan menghujam jiwa ia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, aku tidak mampu berbuat apa-apa lagi untukmu, karena racun telah merasuk ke setiap bagian tubuhmu, hendaklah engkau menyampaikan wasiat terakhirmu”.

Maka Imam pun mulai berwasiat :

Wahai putra-putri Abdul Muthalib, setelah kematianku janganlah kalian pergi ke tengah-tengah masyarakat dan mengatakan peristiwa yang menimpa kepadaku seraya menuduh orang-orang membunuhku. Tidak, pembunuhku hanya satu orang. Dialah Ibnu Muljam.”

“Berilah dia makanan dan minuman, perlakukanlah dia dengan baik sebagai tawanan; jika aku hidup, akulah wali atas darahku, terserah padaku, apakah akan memaafkannya atau membalas perbuatanya. Namun, jika aku mati dan kamu membunuhnya sebagai hukuman, maka janganlah kamu memotog-motong tubuhnya.”

“Wahai Hasan putraku, orang ini menyerangku dengan satu tebasan pedang. Jika aku wafat, terserah padamu, apakah memaafkannya atau menghukumnya. Apabila engkau menghukumnya, maka pukullah ia dengan satu tebasan pedang pula, jangan lebih, baik tebasan itu mematikan dirinya ataupun tidak.”

Kemudian dia mengarahkan pandangan kepada para sahabatnya sembari Imam as berkata :

Demi Allah! Kematian dan kesyahidan di jalan Allah ini adalah suatu yang sudah lama aku dambakan sepanjang hidupku. Dan kini aku menjemputnya ketika dalam ibadah kepada Allah SWT. Ini sungguh kebaikan dan kebahagiaan. Aku laksana seorang pecinta yang telah menemukan kekasihnya, atau bagaikan orang yang mencari benda berharga yang hilang, kemudian bergembira karena menemukannya.”

Setelah itu Imam Ali mengalami pingsan beberapa kali hingga akhirnya beliau menembuskan nafas terakhirnya, di penghujung malam, 21 ramadhan. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Sho’shoah bin Sauhan ketika selesai penguburan jenazah sang Imam, dengan terluka jiwanya, tertekan batinnya, kesedihan meliputi hatinya, beliau berkata :

Wahai Amirul Mukminin. Alangkah bahagianya engkau hidup dan alangkah bahagianya engkau mati. Kelahiranmu di rumah Allah (Ka’bah) dan syahidmu pun di rumah Allah (Mesjid Kufah).”

“Wahai Ali belahan jiwaku! Betapa besar dan agungnya dirimu dan betapa kecil dan hinanya rakyatmu. Demi Allah, jika mereka benar-benar melaksanakan apa yang engkau perintahkan dan mematuhimu dengan sungguh-sungguh, niscaya mereka akan dilimpahi kenikmatan dari atas dan bawah kaki mereka. Namun sungguh sayang, mereka tidak mengenal siapa dirimu sebenarnya.”

“Mereka sama sekali tidak menghargai keberadaanmu. Jangankan mentaati dan mematuhimu, mereka justru menumpahkan darahmu. Dan akhirnya, kini mereka mengirim jasadmu ke liang kubur dalam keadaan kepala sucimu terbelah oleh pedang kejahilan dan kebencian.”

أَلسَّلامُ عَلَيْكَ ياأَمِيْنَ الله فِي أَرْضِهِ،
وَحُجَّتَهُ عَلى عِبادِهِ،
أَلسَّلامُ عَلَيْكَ ياأَمِيْرَ الْمُؤْمِنِيْنَ،
أَشْهَدُ أَنَّكَ جَاهَدْتَ فِي الله حَقَّ جِهَادِهِ،
وَعَمِلْتَ بِكِتَبِهِ،
وَاتَّبَعْتَ سُنَنَ نَبِيِّهِ،
حَتَّى دَعَاكَ اللهُ إِلَى جِوَارِهِ،
فَقَبَضَكَ إِلَيْهِ بِاخْتِيَارِهِ،
وَأَلْزَمَ أَعْدَائَكَ الْحُجَّةَ
مَعَ مَا لَكَ مِنَ الْحُجَجِ الْبَالِغَةِ،
عَلى جَمِيْعِ خَلْقِهِ

Penghujung malam,
21 ramadhan. (CR14)

MENYAMBUT KEMATIAN

Oleh : Candiki Repantu

IMG-20200513-WA0019

Murtadha Muthhahari berkata, “Salah satu tanda kesempurnaan manusia terlihat dari sikap dan sambutanya terhadap kematian…orang-orang besar (yang memiliki kesempurnaan) adalah mereka yang bukan hanya tidak takut pada kematian, bahkan menyambutnya dengan senang hati dan senyum penuh kerelaan. Jika maut menjemput pada saat ia melaksanakan tanggung jawabnya, baginya itu adalah suatu keberuntungan dan kebahagiaan”.

Di antara manusia sempurna yang dikenal Islam adalah Ali bin Abi Thalib as. Mari kita lihat bagaimana Sang Imam menyambut kematiannya. Simaklah dua peristiwa berikut ini.

Peristiwa pertama, adalah malam ketika Nabi saw berhijrah, beliau bersabda: “Wahai Ali!, Kaum musyrikin hendak membunuhku pada malam ini, apakah engkau bersedia tidur di pembaringanku sehingga aku akan pergi ke gua Tsur?” Imam Ali as berkata: “Jika aku lakukan hal itu, apakah Anda akan selamat wahai Rasululullah?” Nabi saw bersabda: “Iya.” Ali pun tersenyum dan sujud syukur, ketika bangun dari sujudnya, Ali as berkata: “Lakukanlah apa yang seharusnya engkau lakukan wahai Rasulullah! Sesungguhnya mata, telinga dan jiwaku kukorbankan untukmu. Apapun yang engkau perintahkan, akan aku lakukan, aku akan menolongmu, aku akan melakukan sebagaimana apa-apa yang engkau lakukan, keberhasilanku hanya karena pertolongan Allah swt.”  Kemudian Nabi Muhammad saw memeluk Ali as dan keduanya pun menangis kemudian berpisah.

Lalu Imam Ali as dengan berbajukan jubah Nabi dan berselimutkan selimut Nabi saw beliau berbaring di pembaringan Rasulullah saw dengan resiko dibunuh dan dibantai oleh kaum kafir Quraisy yang mengepung rumah Nabi saw di malam tersebut.

Peristiwa kedua, ketika Rasulullah Saw menyampaikan khutbah menyambut bulan  Ramadhan, Imam Ali as bertanya, “Wahai Rasulullah Saw, apa perbuatan terbaik di bulan ini ?”. Rasulullah saw menjawab. “Bertakwa kepada Allah dan bersikap wara”.

Kemudian Rasul Saw memandang wajah Imam Ali as dan mendadak beliau menangis hingga air mata tertumpah membasahi wajahnya yang mulia.  Ketika ditanya mengapa beliau menangis, Rasulullah saw bersabda, “Wahai Ali! aku menangis karena kezaliman yang akan menimpa dirimu pada bulan ramadhan. Seolah aku menyaksikan engkau sedang menunaikan shalat, seorang manusia terlaknat di dunia dan di akhirat, menebaskan pedangnya mengenai kepalamu hingga wajah dan janggutmu bersimbah darah serta mihrabmu memerah darah.”

Mendengar kabar itu, Imam Ali as bertanya, “Apakah itu dalam keselamatan agamaku?” Rasulullah Saw bersabda, “Ya, itu dalam keselamatan agamamu.” Maka Imam Ali as menyambut kabar dibunuhnya dirinya di bulan ramadhan dengan penuh kerinduan. Dalam salah satu potongan khutbahnya Imam Ali as berkata : “Demi Allah, putra Abu Thalib lebih akrab dengan kematian daripada seorang bayi dengan dada ibunya.” (Nahjul Balaghah, khutbah ke-5). Dan dalam ucapan lainnya beliau menegaskan, : “Tidak ada keraguan, sesungguhnya yang paling aku cintai adalah kematian” (Nahjul Balagah, khutbah : 179). Atau dalam ungkapan lain beliau berkata, “Demi Allah, Bagi Putra Abu Thalib, tidak ada bedanya, apakah dia menjemput kematian, atau kematian menjemput dirinya“. (Al-Amali Syaikh Shaduq, hadis no. 8, hal. 97).

Begitulah sikap menyambut kematian dari sang putra Ka’bah. Malam ke-19 ramadhan tahun 40 Hijrah, ketika berada di mihrab Mesjid Kufah, di waktu subuh yang indah, saat sujud mendekatkan dirinya kepada Allah, Abdurrahman bin Muljam alaihil laknah, menebaskan pedang beracun ke kepalanya yang penuh berkah, kepala itupun terbelah, tubuhnya jatuh rebah, wajahnya bersimbah darah, janggutnya memerah, tangisan menggema dari berbagai arah, ia justru berucap bahagia, “fuztu wa rabbil ka’bah“, Demi Tuhan Ka’bah, sunggguh aku telah memperoleh kemenangan. (CR14)