Pernikahan Suci Putri Sang Nabi

Oleh : Candiki Repantu
ali-fathimah2
Madinah al-Munawwarah semakin bercahaya
Dengan tumbuh dan mekarnya “bunga surga”
Penyejuk mata Nabi mulia, Fatimah Zahra ummu abiha.
Nasab mulia dimilikinya, baik dari jalur ayah atau ibunya,
Cahaya kecantikannya tak perlu diragukan
Keagungan akhlaknya patut dibanggakan
Membuat setiap lelaki di zamannya
Tak peduli dengan usia dan kedudukan mereka,
Semua saling berlomba
Untuk merebut hati Sang Nabi dan perhatian Sang Putri.
Abu Bakar yang usianya sepadan dengan Rasulullah
Datang untuk meminang Fatimah.
“Wahai Rasulullah, Anda telah mengetahui kesetiaan
dan pengabdianku terhadap Islam,
aku menginginkan agar Anda menikahkan diriku dengan Fatimah”, minta Abu Bakar.
Nabi Saw tertegun mendengarnya, tanpa sepatah katapun keluar dari lisannya.
Abu Bakar memahami Nabi tidak menerimanya.
Maka ia pun pergi meninggalkan rumah Nabi yang mulia.
Di perjalanan ia bertemu Umar sahabatnya
Menyampaikan bahwa Nabi mengabaikan lamarannya.
Dengan ditolaknya Abu Bakar, Umar merasa memiliki kesempatan
Tak menunggu waktu, ia langsung bergegas memburu
Seperti Abu Bakar, ia berhajat meminang Fatimah
untuk menjadi pendamping hidupnya
Namun, ia bernasib sama
Nabi tak meresponnya dan hanya berkata Beliau sedang menunggu pesan ilahi
menyangkut jodoh sang putri
Dua sahabat senior ini
Gugur dalam sayembara suci merebut pujaan hati.
Sahabat-sahabat lainnya tak mau rugi
Mereka berusaha menampilkan diri
dengan segala yang mereka miliki
untuk dapat mempersunting putri terkasih Nabi.
Dua pengusaha besar saling berebutan,
Abdurrahman bin Auf dan Usman bin Affan
Keduanya datang ke rumah Nabi secara bersamaan
Untuk menyampaikan lamaran kepada Fatimah wanita idaman.
Abdurrahamn bin Auf memulai pembicaraan,
“Wahai Nabi, nikahkanlah putrimu denganku,
maka aku akan memberinya mahar seratus unta hitam bermata biru
yang berasal dari Mesir di lembah sungai Nil
yang semuanya dalam keadaan hamil.
Tidak hanya itu, aku juga akan menambahkan
sepuluh ribu dinar sebagai hantaran.”
Mendengar itu, Usman bin Affan tak mau ketinggalan,
Ia menyambut pembicaraan Abdurrahman,
“Wahai Nabi, seperti halnya Abdurrahman,
Aku pun siap memberikan mahar yang sama jika Fatimah berkenan
Lagian, aku masuk Islam lebih duluan.”
Usman mengemukakan kelebihan
Agar Nabi lebih condong menentukan pilihan.
Rasul tersenyum memandang kedua sahabatnya ini.
Untuk menenangkan hati sabdapun disampaikan Nabi,
Amraha inda rabbiha”, urusannya ada di sisi Tuhannya.
Nabi tak menginginkan harta karena memang keluarganya senang hidup sederhana.
Nabi hanya menegaskan bahwa jodoh Fatimah ada dalam ketetapan Tuhannya.
Syuaib bin Saab menggambarkan kisah ini dengan indah,
“Ketika matahari kecantikannya bersinar di langit kerasulan
dan menjadi purnama di cakrawala kenaikan bulan kesempurnaannya,
awal pikiran menjangkau ke arahnya
dan tatapan orang-orang terpilih rindu mengamati kecantikannya;
maka, para pemimpin kaum Muhajirin dan Anshar meminangnya,
namun orang yang dikarunia ridha Allah (Nabi Muhammad Saw) menolak mereka
dan berkata, ‘Aku sedang menanti ketetapan Tuhan atasnya’.”
Apakah sebenarnya yang dinantikan Nabi?
Bukankah telah datang kepadanya sahabat-sahabat besar yang mengikat janji?
Bukankah telah ditawarkan limpahan harta sebagai mahar tanda kasih sejati?
Namun mengapa nabi menolak dan mengembalikannya pada pesan ilahi?
Semua orang merasa bahwa Fatimah bukanlah “wanita biasa”
Nabi pun mencari suami yang bukan “lelaki biasa”
Siapa gerangan lelaki itu adanya?
Para sahabat sudah bisa menduga.
Lelaki itu sahabat setia sekaligus kerabatnya.
Ia orang yang paling dekat dengannya, paling dicintainya,
Ia pembela gigih agama, berjuang sepenuh jiwa,
dan pengabdi yang tak diragukan kesetiaannya,
itulah Ali bin Abi Thalib, Haidar Sang Singa
Nabi menantikan kedatangannya,
Namun, sepertinya Ali hilang keberaniannya
untuk mengikuti sayembara cinta melamar Fatimah
Ia sadar siapa dirinya
Bayangkan, sejak kecil hingga dewasa ia diasuh di rumah Khadijah,
diberi makan, diberi pakaian, dididik dengan sebaik-baik pendidikan
Belum lagi membalas semua itu, kini berani-beranian meminta lagi
Anak Nabi untuk dijadikan isteri
“Sungguh tidak tahu terima kasih”,
Begitu kata hati yang menghantui batinnya Ali.
Lagian, apa yang bisa ditawarkan untuk bekal pinangan.
Ali adalah pemuda miskin yang tak punya rumah idaman,
biaya hidup pas-pasan, pas ada biaya maka bisa membeli makanan,
pas tidak ada maka ibadah puasa jadi pegangan,
pakaian pun hanya apa yang ada di badan.
Sungguh tak layak pikir Ali, untuk melangkahkan kaki,
melamar putri suci, cahaya mata sang Nabi.
Namun, cerita sudah beredar bahwa semua orang ditolak Nabi dengan sabar
Hanya Ali saja yang belum datang melamar.
Para sahabat memotivasi Ali agar dirinya tak gentar
untuk menyampaikan isi hati yang kian membakar
dalam api cinta suci yang terus berkobar.
Namun itulah Ali sang Haidar,
pemuda yang tegar di medan pertempuran yang besar,
kini tubuhnya bergetar, lidah kelu tak mampu berujar,
kepalanya tertunduk seperti ditindih batu besar,
Menghadap Nabi untuk melamar al-Kautsar.
Rasulullah saw mengerti gelagat Ali
Yang menyimpan keinginan di dalam hati.
Ia pun bertanya, “Apa gerangan yang membawamu kemari?”.
Jantung Ali berdetak lebih laju, rona wajahnya semakin memerah malu,
mulutnya semakin terkunci membisu,
Namun pikirannya ingin menyampaikan sesuatu.
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Rahman, Ali memulai pembicaraan,
Menyampaikan keinginan untuk memiliki pasangan,
Yang mendampinginya mengarungi suka dukanya kehidupan,
Dan itu adalah Fatimah Zahra, wanita mulia sepanjang zaman.
Wajah Nabi menunjukkan kegembiraan,
Yang dinantikan kini datang menghadap sopan,
Inilah akhir janji Tuhan,
Agar menikahkan Fatimah dengan orang yang sepadan,
“Kalau tidak ada Ali, tidak ada yang layak menikahi Fatimah”
begitu kira-kira janji yang telah ditetapkan-Nya.
Namun, Nabi tahu aturan,
Dibutuhkan persetujuan untuk menikahkan anak perempuan.
Nabi pun bersabda, “Wahai Ali, sebelummu, sudah banyak laki-laki datang melamar Fatimah,
tapi ia menolak mereka semua.
Aku akan sampaikan hajatmu kepadanya,
tunggulah sampai jawaban terlontar dari lisannya.”
Nabi bergegas menemui putrinya,
Dan Ali menanti jawaban az-Zahra dengan hati gundah gulana.
“Fatimah!, panggil Nabi dengan suara lembutnya.
Engkau tahu hubungan Ali dengan kita,
Engkau juga tahu pengabdian dan kesetiaannya
Aku meminta kepada Allah agar menikahkanmu dengannya
Dengan manusia terbaik dari semua makluk-Nya,
yang mencintai dan dicintai-Nya;
dan kini Ali datang melamarmu,
bagaimana pendapatmu?”
Fatimah tak memberikan jawaban,
Hanya pancaran wajah dan sorot matanya telah menampakkan isi hatinya.
Nabi saw berdiri mengumandangkan takbir,
Allahu Akbar, diammu menunjukkan persetujuanmu”
Nabi menyampaikan kabar gembira itu kepada Ali,
Ali pun merasa lega di hati,
tapi tunggu dulu, ada hal lain yang perlu diketahui,
yaitu mahar apa yang dapat diberikannya sebagai suami.
“Apa yang bisa kau berikan sebagai mahar pernikahan?” tanya Nabi kepada Ali.
Inilah yang dikhawatirkan Haidar,
tak mungkin ia mampu memberikan mahar untuk menyaingi Abu Bakar dan Umar,
apalagi Abdurrahman bin Auf dan Usman bin Affan yang dulu datang melamar.
Jangankan seratus ekor unta bermata biru,
membeli satu untapun dirinya tak mungkin mampu.
Tapi lamaran sudah terlanjur disetujui, tak mungkin ditarik kembali.
Dengan memberanikan diri, berkatalah Ali,
“Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu wahai Nabi
Tentang kehidupanku engkau sangat mengetahui
Aku hanya memiliki tiga buah benda : sebilah pedang, seekor unta, dan sebuah baju besi.”
Rasulullah tersenyum, ia tahu betul keadaan sepupunya,
tak ada yang tersembunyi darinya, kecuali apa yang diutarakannya.
Rasul pun berkata, “Pedang kau gunakan untuk berjuang,
unta kau pakai untuk mengangkut air kebutuhan harian.
Tak mungkin kau menyerahkan sebagai mahar pernikahan.
Karenanya, juallah baju besi dan bawa hasilnya kemari”,
Itulah pesan Sang Nabi.
Imam Ali melaksanakan titah ilahi,
Untuk menjual baju besi sebagai mahar mengikat tali kasih
dalam suatu perjanjian suci.
Hasilnya tak seberapa, hanya 500 dirham saja.
Inilah maharnya Fatimah,
Kelak jumlahnya dijadikan oleh keturunan sucinya
Para imam yang mulia sebagai batas mahar pernikahan mereka.
Tak pernah ada yang berani
memberikan mahar melebihi maharnya Fatimah dan Ali.
Adakah wanita yang merasa lebih mulia dan solehah
Merasa lebih berhak menerima mahar melebihi Fatimah?
Adakah lelaki yang merasa lebih sejati
dengan memberi mahar melebihi pemberian Ali?
Perkawinan suci pun dilangsungkan
dengan Nabi bertindak sebagai wali pernikahan.
Jamuan sederhana dibagikan, doa-doa dipanjatkan,
dan wajah kegembiraan menebar di seantero alam.
Namun ketika aroma kegembiraan itu meliputi semua hati,
mendadak masalah terjadi,
Fatimah menuntut mahar lebih dari apa yang diberikan Ali.
Ia menggugat Nabi, “Bukankah setiap wanita berhak menentukan maharnya?
Lalu mengapa aku tak diberi kesempatan untuk meminta maharku?
Aku tak ingin mahar 500 dirham itu, aku menginginkan sendiri maharku.”
Nabi tertegun memandang Fatimah seolah tak percaya.
Apakah ada keputusannya yang salah? Mengapa Fatimah berubah?
Tapi memang itu ajaran agama, bahwa wanita juga berhak menentukan maharnya.
Nabi pun hanya bisa pasrah mempersilahkan Fatimah meminta maharnya,
sambil bersabda mengingatkannya,
“Wahai Fatimah, ini Ali yang engkau pasti mengenal kehidupannya,
lantas mahar apakah yang akan engkau minta darinya?”
Dengan sungguh-sungguh Fatimah berkata, meminta mahar yang tidak terkira,
“Aku memohon kepada Allah, dihari pernikahanku,
agar Allah menjadikan syafaatku sebagai mahar pernikahanku”.
Semua memandang seolah tak percaya
sebab Fatimah meminta mahar termahal di dunia.
Siapa yang mampu mengabulkannya kecuali Tuhan pemilik jagat raya.
Tuhan pun menjawab permintaan az-Zahra,
Jibril pun diperintahkan turun dari sisi Tuhan
Untuk menyampaikan salam persetujuan
Mahar syafaat menjadi syarat pernikahan.
Selembar kain yang bertuliskan perjanjian Tuhan
Dibawa Jibril untuk Fatimah wanita penghulu alam
memberi syafaat kepada manusia kelak di alam kebangkitan.
“Allah telah setuju menjadikan syafaat Fatimah
bagi umat ayahnya sebagai mahar nikahnya”,
begitu teks perjanjiannya.
Kelak, ketika menjelang ajalnya,
Fatimah berwasiat kepada Ali suaminya
untuk meletakkan surat perjanjian itu dalam kain kafannya,
Letakkan surat ini di kain kafanku,
sebab kelak dihari kiamat, dengan memegang suratku,
aku akan memberikan syafaatku kepada orang-orang yang berdosa dari umat ayahku.”
Hari itu, 1 Dzulhijjah 14 abad yang silam,
Menjadi saksi penting ikatan kasih sayang
Dalam perjanjian yang teguh, mitsaqan ghalizhan
Antara dua insan suci yang dibalut keagungan,
Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra, .
Ikatan kasih mereka abadi
Hingga bertemu Ilahi Rabbi.
Ketika mengenang Fatimah, Imam Ali pernah bercerita,
“Aku menikah dengan Fatimah.
Kami tak memiliki alas tidur kecuali selembar kulit domba.
Malam harinya kami gunakan untuk alas tidur,
dan siang harinya kami jemur.
Kami tak memiliki pembantu,
pekerjaan rumah dikerjakan Fatimah tanpa mengeluh.
Ketika kami pindah, Rasulullah membekali kami dengan sebuah selimut,
bantal kulit yang diisi serabut,
dua gilingan tepung, satu gelas, dan sekantong susu.
Begitu seringnya Fatimah menggiling tepung,
sampai berbekas kasar pada tangannya.
Begitu seringnya Fatimah memanggul air,
sampai berbekas hitam di punggungnya.
Begitu seringnya Fatimah membersihkan rumah,
sehingga pakaiannya dipenuhi debu.
Dan begitu seringnya Fatimah menyalakan tungku api,
sampai-sampai pakaiannya menghitam dipenuhi arang.”
Ya Fatimah, Ya Ali,
jalinan cinta kalian ternyata menjadi rahmat bagi seluruh bumi,
meliputi kami yang hidup saat ini,
hingga manusia nanti sampai kiamat terjadi.
Ikatan kasih kalian, menebar ke seluruh alam
yang terungkap dalam bantuan syafaat yang sangat kami butuhkan
ketika berdiri di pengadilan Tuhan.
Ya Fatimah, kami sampaikan doa dengan wasilah,
“Ya wajihatan ‘indallah, isfa’i lana ‘indallah”,
“Wahai yang mulia di sisi Allah, syafaatilah kami di sisi Allah”.
Kepada semua pecinta Fatimah,
Kami sampaikan “Selamat Hari Mahabbah
Semoga Allah mengekalkan cinta kita semua
kepada keluarga suci Nabi-Nya,
yang menebar hingga anak –cucu dan keturunan kita.”
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad!

PERSEMBAHAN UNTUK JASAD TANPA KEPALA

PERSEMBAHAN UNTUK JASAD TANPA KEPALA
Oleh : Candiki Repantu

Konrad Theodor Preusz berpendapat bahwa pusat dari sistem religi adalah ritus (ritual), dan ritus terpenting adalah ritus kematian. Kemudian, ritus kematian tidak hanya terbatas sampai penguburannya saja, tetapi juga pasca penguburannya, yang mana orang orang yang masih hidup senantiasa menyambungkan diri mereka dengan orang yang sudah meninggal melalui tradisi berkunjung secara periodik ke kuburannya. Inilah yang disebut ziarah kubur.

Berziarah dalam hal ini berarti menyucikan diri melalui hubungan baik dengan dunia gaib. Karena itu, ziarah ke makam suci haruslah dilakukan dalam rentang waktu tertentu (hari-hari suci tertentu). Ziarah menjadi ritual keagamaan (ritus), menjadi sesuatu yang suci/sakral (kudus), dan menampilkan komunitas pemujaan (kultus). Yang mana, kepercayaan pada yang kudus menuntutnya untuk diperlakukan secara khusus, baik tempat maupun waktunya.

Pada tempat dan waktu tertentu itulah, dilakukanlah aneka ritual untuk membangun hubungan antara alam dunia dengan alam gaib, antara yang profan dengan yang sakral. Sehingga ziarah kubur menjadi ritual yang diorganisir dalam waktu dan tempat khusus melalui sistem kepercayaan masyarakat. Pada kondisi ini, ziarah menemukan momentum pentingnya sebagai ritus suci dan kuburan menjadi tempat suci karena dihuni oleh manusia suci.

Henri Chambert Loir menghubungkan antara kultus orang suci dengan makam dan ritualnya. Menurutnya, kultus orang suci bagi kaum Muslimin merupakan kultus pada kuburan suci. Orang suci adalah individu yang karena kelahiran, bakat, atau melalui latihan rohani diberkati dengan kekuatan supernatural. Kekuatan supernatural ini dikonsentrasikan keberadaannya dan sekarang terletak di kuburannya. Itulah sebabnya, kultus orang suci dilaksanakan di kuburannya. Orang tidak berdoa bagi orang suci di rumah atau tempat lain, tetapi harus mengadakan perjalanan ke kuburan, demi sungguh hadirnya orang suci tersebut.

Kesadaran inilah yang ada di benak orang-orang yang berjalan jauh untuk berziarah ke kuburan Imam Husain as di Karbala pada yaumul arbain (hari ke empat puluh pasca wafatnya). Imam Husain adalah salah satu dari manusia suci dalam Islam khususnya mazhab syiah.

Mazhab syiah, dibandingkan dengan mazhab lainnya di dalam Islam, sangat terkenal mengkultuskan orang suci sebagai pemimpinnya. Imam-imam suci ini bagi masyarakat syiah bukan hanya pemimpin di dunia ini, tetapi juga di alam gaib. Mereka adalah perantara manusia untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Tidak ada beda antara hidup dan matinya. Sekalipun sudah meninggal, mereka tetap berkomunikasi dengan alam dunia dan menyaksikan perbuatan- perbuatan manusia. Karena itu tempat orang suci dikuburkan menjadi tempat yang diberkati. Oleh sebab itu, berziarah ke kuburan orang suci adalah tujuan penting. Dan salah satu pusat ziarah terpenting orang suci syiah adalah Karbala, Irak. Di sini dikuburkan Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib pasca mengalami pembantaian sadis oleh penguasa di zamannya.

Dengan kesadaran pentingnya ziarah, maka pembangunan fisik dan spiritualitas kompleks pekuburan orang suci menjadi urgen agar bisa menjadikan makam sebagai pusat kebudayaan yang tidak hanya memberikan nuansa mistis tetapi juga suasana ilmiah, politik, ekonomi, pendidikan dan tentu saja aroma cinta, sehingga akan terlihat hubungan antara manusia yang hidup dengan yang mati, di mana yang hidup dan yang sudah mati masih dapat “berdampingan” secara alami dan harmoni.

Satu hal yang menarik, dalam ziarah Arbain, ketika jutaan orang bergerak ke satu arah secara bersamaan dengan berjalan kaki sepanjang sekitar 80 km, banyak pula orang-orang yang melayani para peziarah dengan menyediakan makanan dan minuman. Orang yang ingin melayani peziarah terdiri dari berbagai kalangan tanpa memperhatikan lagi status sosial dan usianya. Mereka mempersiapkan minuman sepanjang jalan yang dilalui oleh para peziarah dan meminta setiap peziarah singgah untuk sekedar mencicipi air segar. Mereka yakin cicipan air para peziarah membawa berkah bagi kehidupan mereka. Mengapa air menjadi salah satu benda ritual penting dalam ziarah Arbain?

Ini bukan hanya soal bahwa peziarah yang berjalan kaki cukup jauh itu kehausan dan butuh minuman, tetapi air punya nilai historis dan teologis dalam ritual ziarah Arbain. Sebab, dulu Imam Husain as dan rombongannya membutuhkan air tetapi tidak ada yang menyediakannya. Kisah tragis pembantaian Abul Fadhl Abbas juga terjadi ketika ia berjuang mengambil air untuk keluarga Nabi saw. Begitu pula ketika Sayidah Zainab dan putri-putri Imam Husain melakukan ziarah Arbain pertama, dalam keadaan di tawan dan kekurangan air. Karena itu hari ini semua orang ingin menyediakan air untuk para peziarah Imam Husain as.

Jadi, air itu mengenangkan para peziarah pada duka Imam Husain yang kehausan di padang Karbala. Bahkan dalam salah satu pesan penting Imam Husain kepada semua pecinta sejatinya, yaitu “setiap kamu minum, ingatlah musibahku”.

Dikisahkan, sore hari pada 10 Muharram 61 H, Padang Karbala telah memerah karena tumpahan darah para syuhada Nainawa. Jasad Ali Akbar membujur kaku tersungkur dengan dada terbelah. Kedua tangan Abul Fadl Abbas tergeletak menjauh dari jenazahnya yang di sisinya ada gerabah air yang tertumpah. Tak ada lagi suara tangisan Ali Asghar yang kehausan karena sebatang anak panah telah menancap di tenggorokannya. al-Husain, Sang pemuda surga tersungkur karena tusukan tombak, panah dan pedang. Kepala sucinya sudah terpisah dari jasadnya dan ditancapkan di atas tombak manusia durjana. Beginilah nasib al Husain, putra Nabi yang mulia dan pusaka pengawal Alquran, dihinakan dan dibantai dengan kejam.

Ketika jasad-jasad mereka bergelimpangan tak dipedulikan, ruh mereka terbang menuju alam barzakh untuk bertemu Rasulullah saw, Imam Ali, dan Sayidah Zahra untuk melepas rindu sekaligus mengadu pilu. Hanya suara tangisan Zainab, Ruqayah, Atikah, Umum Kultsum, Fatimah, dan wanita-wanita para janda yang terdengar gemanya di antara hembusan angin sahara. Mereka keluar dari kemah untuk melihat apa yang terjadi pada jasad Al Husain cucu kesayangan Nabi saw. Sorot mata Zainab menatap tajam jasad-jasad syuhada Karbala, dan terpaku kaku ketika menyaksikan jasad Al Husain yang tanpa kepala tercabik-cabik dengan luka ada di sekujur tubuhnya. Zainab tertegun sesaat. Lalu ia menatap ke langit dan berkata dengan lirih :

Ya Allah, terimalah persembahan kurban kami semua.
Ya Muhammad, inilah Husain yang tersungkur di Karbala
Tubuhnya berlumur darah dan tercabik-cabik diinjak kuda.
Sementara para putri-putrinya tertawan dengan hina”

Bak kesurupan setan, pasukan Umar bin Saad, para durjana pecinta dunia ini menjarah harta keluarga nabi tanpa belas kasih. Mereka menarik dan merampas hijab para wanita suci Ahlulbait Nabi. Anting Fatimah dan Ummu Kulsum ditarik dengan kasarnya hingga robek telinganya. Perih yang tiada terkira. Tangisan sahut menyahut membuat semuanya larut dalam irama duka nestapa yang tak terkatakan pedihnya. Putri-putri Rasulullah saw dipaksa keluar tenda sambil menjerit histeris penuh ketakutan. Lalu tenda tempat berlindung mereka di bakar oleh tentara Umar. Para wanita ditawan dan digiring untuk dipersembahkan kepada penguasa durhaka di zamannya.

Sebelum arak-arakan tawanan ini berjalan, mendadak Sukainah berlari menuju jasad ayahnya. Ia peluk jasad Al Husain sambil menangis sedih menyayat hati. Dalam kesedihan yang mendalam , Sukainah pingsan tak sadarkan diri. Mendadak di telinganya terdengar suara ayahnya berbisik mengirimkan pesan kepada para pecintanya :

Syia’ti main syaribtum azbin fadzkuruni
aw sami’tum bigharabin aw syahidin fandubuni

“Wahai syiahku, saat kalian minum, ingatlah aku!
Atau jika kalian mendengar keterasingan atau kesyahidanku, ratapilah aku”

Sukainah selanjutnya juga mendengar rintihan-rintihan Imam Husain as sebagai berikut :

Aku adalah cucu Nabi
yang dibunuh tanpa ada dosaku
Dengan kuda mereka menginjak-injak diriku
Sekiranya kamu hadir dihari asyura dan melihatku
Bagaimana aku meminta air untuk putra kecilku
Tapi mereka tidak mengasihaniku
Bahkan, melontarkan anak panah menembus leher putraku
Sebagai ganti air segar untuk minumanku

Tragedi ini begitu memilukan
Sehingga berguncanglah kaki gunung Mekah yang berkilauan
Kecelakaan bagi mereka yang melukai hati rasul dan kemanusiaan
Wahai syiahku, laknatlah mereka pada setiap kesempatan.

Begitulah Imam Husain berpesan kepada kita orang orang mengaku sebagai syiah dan pecintanya melalui telinga Sukainah, Sang dewi Nainawa. Karena itu, ketika meneguk minuman yang segar, ingatlah bibir pecah Imam Husain yang menahan dahaga. Imam Ja’far Shadiq berkata, “Aku tidak pernah meminum air dingin kecuali aku mengingat Husain bin Ali”. Dalam riwayat lainnya Imam berkata, “Tidaklah seorang hamba ketika meminum air kemudian mengingat Imam Husain as lalu melaknat pembunuhnya kecuali dituliskan baginya seribu kebaikan dan dihapuskan darinya seribu keburukan”.

Mari minumlah air kita masing masing, mau air mineral, kopi, susu atau teh, tapi jangan lupa sambil mengenang derita al Husain dan ucapkan :

Allahummal’an qatalata al-Husain.
Fa la’anallahu man qatalak, wala’anallahu man dzalamak, wala’anallahu ummatan syami’at bidzalika faradhiyat bihi”

“Ya Allah laknatlah pembunuh al-Husain.
Semoga Allah melaknat pembunuh-pembunuhmu. Semoga Allah melaknat orang-orang yang menzalimimu. Semoga Allah melaknat orang yang mendengar (tragedi Karbala) lalu diam dan meridhainya”

Assalamu alal Husain
Wa ala Ali ibnil Husain
Wa ala auladil Husain
Wa ala ashabil Husain

☕☕
😭😭🌹🌹
Arbain 20/11/2016

ALQURAN DAN PARA “PECINTA” AHOK

ALQURAN DAN PARA “PECINTA” AHOK

Oleh : Candiki Repantu

Berhati-hatilah!! Perayu ulung dan pecinta sejati itu sama-sama mengucapkan kata-kata indah penuh cinta sehingga orang terlena dibuatnya, yang membedakan adalah motivasi dan tujuannya, karena itu Imam Ali pernah mengingatkan “Kalimat yang mengandung kebenaran tetapi bisa ditujukan untuk maksud kebatilan” (CR14)

—————-

Dengan sangat terpaksa saya harus menulis ini, karena ada pesan masuk untuk saya mendukung Ahok dan ada pula yang mengajak untuk mendemo Ahok. Saya juga tak ingin berdebat dgn bung Denny Siregar, karena perbedaan pilihan di antara kami. Beliau lebih bergairah dengan pahitnya kopi sedangkan saya lebih terpesona dgn manisnya teh. Juga sudah saya katakan bahwa saya tak akan memilih Ahok seperti dirinya. Untuk mendemo Ahok saya juga tak tertarik sama sekali, apalagi sambil pakai sorban dan jubah. Kenapa? Ini sudut pandang sosial-keagamaan saya.

Ketika terjadi perang Shiffin antara Imam Ali yg menjabat sbg khalifah yang sah dengan Muawiyah yang ingin merebut kekhalifahan, mendadak Muawiyah menampilkan Alquran di tengah-tengah medan pertempuran dan menuntut diadakannya arbitrase (tahkim). Imam Ali menegaskan bahwa penggunaan Alquran hanyalah akal bulusnya Muawiyah yg sudah nyaris mengalami kekalahan, karena itu Imam Ali menghimbau utk melanjutkan perang.

Namun, sebagian kelompok yg berada di  barisan Imam Ali meminta agar perang dihentikan, dan biarlah Alquran menjadi hakim di antara kedua belah pihak. Imam Ali mengingatkan bahwa Alquran yang dibawa Muawiyah adalah kertas bisu, sedangkan dirinya Alquran yg berbicara. Dalam hal ini Imam Ali ingin menegaskan bahwa Alquran bisu itu bisa saja ditafsirkan sesuka hati, dan tidak bisa membela diri.

Singkat cerita karena desakan yang kuat dari kelompok khawarij, maka arbitrase pun dilakukan. Tapi hasilnya merugikan Imam Ali karena terjadi manipulasi. Maka kaum Khawarij pun merasa bahwa arbitrase itu tidak sesuai dgn Alquran dan mereka berbalik memusuhi Imam Ali, dengan meneriakkan yel-yel  “Laa hukma illa lillah” (tidak ada hukum selain hukum Allah)

Tidak hanya sampai disitu, mereka juga memandang bahwa orang orang yang terlibat dalam peristiwa tersebut telah menodai agama dan hukum Allah swt, shg kelompok khawarij ini pun mencap kafir semua orang yang terlibat dalam arbitrase tsb karena tidak berhukum dgn hukum Allah sebagaimana ditegaskan Alquran, “Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka dia adalah kafir”. Menyikapi hal ini Imam Ali pun berkomentar “Kalimat yang mereka katakan mengandung kebenaran tetapi ditujukan untuk maksud kebatilan“.

Imam Ali ingin mengatakan bahwa ayat itu benar tapi digunakan utk maksud yang batil. Untuk menipu umat, utk mengaburkan fakta, dan lain lain. Dalam hal ini, Imam Ali as mengajarkan kpd kita suatu prinsip penting yang belakangan banyak dibahas oleh pakar-pakar komunikasi, bahwa dalam komunikasi kita tidak hanya memperhatikan ucapan atau perbuatan seseorang, tetapi penting juga memahami maksud atau tujuan si pelaku. Jangan menilainya  dari teksnya saja, tetapi harus menilainya dari motivasi atau tujuan penyampainya.

Clifford Geertz, dalam Interpretative of Culture pernah menyampaikan bagaimana suatu perkataan atau perbuatan bisa ditafsirkan sedemikian rupa tergantung pemahaman budayanya. Jika ada seorang pria mengedipkan sebelah matanya kepada seorang wanita, apa yang anda pikirkan?  Anda berpikir orang itu sakit mata,  atau anda akan menafsirkan bahwa orang itu ingin menggoda wanita. Itulah maksud pelaku mengedipkan matanya.

Misalnya lagi, Ketika sepasang kekasih  berduaan di malam hari yang dingin, dan si wanita berbisik lembut, “Abang, dingin kali malam ini terasa”. Tentu anda akan tertawa, jika si pria itu mengeluarkan alat pengukur suhu kemudian mengatakan “Iya, adik benar! malam ini memang dingin karena suhunya di bawah 10 derajat celcius”. Sebab, anda membayangkan si pria semestinya menangkap maksud dibalik perkataan si wanita itu bahwa ia sebenarnya perlu dihangatkan, dengan memberikan jaket misalnya atau buatkan teh hangat, atau menghangatkan dgn cara lainnya. Silahkan anda imajinasikan sendiri..!

Mari kita lihat contoh yang melibatkan Alquran. Dalam Alquran ada ayat yang berbunyi “Laa taqrabu hadzihis sajarah”, “Jangan dekati pohon ini” dan Ustadz Quraish Shihab menyampaikannya dalam program Tafsir al-Misbah di Metro TV. Tentu tidak ada masalah. Tapi bayangkan jika seorang juru kampanye di atas mimbar sambil menunjuk pada lambang Partai Golkar yg kebetulan bergambar pohon, kemudian berkata Allah berfirman “Laa taqrabu hadzihis sajarah”, “Jangan dekati pohon ini”. Apakah sama maksud dan tujuan Ustadz Quraish Shihab dgn Ustadz jurkam tsb? Apakah Ustadz jurkam itu bermaksud membacakan kisah Nabi Adam as menurut Alquran? atau bermaksud agar orang tidak memilih partai Golkar dgn menggunakan ayat Alquran? Silahkan jawab sendiri, kura-kura dalam perahu, tulisan jelek jangan dicaci.

Sekarang, dalam suasana pilkada DKI ada orang membacakan ayat “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin…(Q.S. Al-Maidah: 51)”. Apa kira kira maksudnya? Apakah orang tersebut sedang mengajak anda belajar tafsir Alquran? atau sedang menyerukan jangan pilih Ahok dgn menggunakan ayat Alquran?

Sebab kalau memang orang orang yang mengaku penjaga agama itu ingin menegaskan ajaran Islam yang  melarang mengangkat non muslim sbg pemimpin, maka para pendemo yg menolak Ahok tentu juga harus membacakan ayat itu di Papua, Bali, Maluku, Nusa Tenggara, Nias, Tobasa, Simalungun, Tapanuli Utara dan lainnya di wilayah Indonesia yang pemimpinnya atau kandidatnya banyak non muslim. Demo lah di Papua dan katakan anda tak menerima Gubernur Kristen. Demo lah di Bali dan katakan kami tak menerima di pimpin Gubernur Hindu. Atau berdemolah di Nias, Tobasa, Simalungun, Tarutung, dan tempat lainnya dan katakan kami menolak dipimpin Bupati Kristen. Kami tak ingin mematuhinya. Apakah anda punya nyali?

Begitu pula, ketika saya membaca tulisan para pendemo yg menyebutnya sebagai “Aksi Bela Islam”, ini perkataan yang benar tapi apakah memang perkataan itu dimaksudkan demikian? Apakah maksudnya ingin membela Islam? Atau maksudnya ingin menggagalkan Ahok jadi Gubernur?? Entahlah, anda jawab aja sendiri ya! yg penting kura kura dalam perahu, tulisan jelek jangan di caci.

Faktanya mereka berdemo karena ada omongan Ahok yang tidak mereka sukai yg dipandang menghina Islam dan Alquran. Emangnya Ahok ngomong apa? Terpaksa deh saya mendengarkan ocehan Ahok di kepulauan seribu itu. Nih dia ocehan Ahok sbb :

Jadi gak usah pikirin nanti kalau gak kepilih pasti Ahok programnya bubar. Gak! Saya sampai oktober 2017. Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa aja di hati kecil bapak ibu gak bisa milih saya, dibohongi pake surat al-Maidah 51 dan macem macem gitu”. 

Bagaimana kita memaknai ocehan Ahok tsb? Apakah kita akan melihat teksnya saja bahwa dalam ocehannya Ahok mengatakan “dibohongi pake surat al-Maidah 51” atau kita lebih memperhatikan konteksnya, motivasinya dan tujuan Ahok mengatakan demikian?

Saya lebih memilih memahami tujuan atau motivasi Ahok dari pada teks kalimatnya. Saya yakin  Ahok mengatakan itu bukan dengan maksud menghina Alquran atau menghina Islam, tetapi Ahok bermaksud mengajak orang orang untuk tetap memilih dirinya sbg gubernur DKI dan jangan percaya dengan  orang yang membawa Al-Maidah 51 yang pada dasarnya bertujuan menjegal dirinya utk jadi Gubernur, bukan sedang mengajarkan agama atau tafsir Alquran.

Jadi maksud Ahok adalah bahwa “bapak ibu semestinya memilih saya dengan semua program yang sudah saya kerjakan dan bapak ibu rasakan, dan jangan termakan isu agama sekalipun mereka bawa-bawa Alquran”. Artinya ketika ada orang menggunakan penafsiran Alquran dgn maksud menjegal Ahok jadi Gubernur, maka Ahok pun berusaha menolak tafsir Alquran yang diarahkan untuk mengganjal dirinya.

Singkatnya, dengan memperhatikan suasana pilkada DKI, yang terjadi saat ini adalah politisasi agama. Demo yang dilakukan pada dasarnya bukanlah soal membela Islam atau membela Alquran, tapi soal mengusung dan menggusur kandidat yang ada, yaitu soal siapa yang diinginkan utk memimpin Jakarta: Ahok-Agus-atau Anis.

Sekali lagi ingat pesan Imam Ali as “Kalimat yang dikatakan mengandung kebenaran tetapi ditujukan untuk maksud kebatilan”….Prinsip yang di ajarkan Imam Ali ini penting agar kita tidak terjebak dalam permainan teks dan melupakan konteksnya.

Lantas siapa yang punya maksud kebatilan dalam hal ini?? Apakah Ahok atau para pendemo dan orang yang mengaku penjaga agama?? Entahlah, saya tak tahu, boleh jadi tulisan ini pula yg mengandung maksud kebatilan, yang penting saya ingatkan anda “Kura kura dalam perahu, tulisan jelek jangan di caci”

Salam damai Indonesia!

CR14

SABAR YA!

SABAR YA!

Seorang penjual daging datang kepada Imam Ali as. Dengan semangat dia menawarkan daging dengan kualitas super. Imam menjawabnya, “Aku tidak memiliki uang”. Si penjual berkata, “Aku akan bersabar menantinya.” Dia memberi kesempatan kepada imam untuk berhutang dan boleh membayar kapan saja. Namun Imam Ali berkata, “Aku pun akan bersabar untuk tidak memakan daging.”

Kisah singkat ini memberikan pelajaran betapa keluarga Rasulullah selalu mengalahkan keinginannya dengan kesabaran. Tidak pernah memaksa diri untuk memenuhi keinginan saat tidak mampu membelinya. Padahal beliau mampu untuk berhutang. Jadi Imam Ali as menasehati dirinya sendiri dengan menegaskan “Sabar ya wahai diri dari nikmatnya daging itu!”

Berapa banyak manusia yang dikejar-kejar karena tak mampu membayar hutang? Berapa banyak keluarga yang hancur karena pasangan yang selalu memaksa diri untuk mendapatkan sesuatu yang tak mampu dibeli? Apalagi dengan maraknya barang-barang yang serba kredit. Hanya dengan uang kecil mampu membeli barang yang mahal. Kemudian dia akan kebingungan di setiap bulannya.

Kita harus mendidik keluarga untuk belajar bersabar. Belajar untuk tidak memaksa diri memenuhi semua keinginan. Belajar untuk tidak iri kepada orang lain. Belajar untuk hidup sesuai dengan kemampuannya. Karena tanpa kesabaran, masalah akan semakin bertumpuk tanpa ada solusi. Karena itu kalau lagi jalan-jalan terutama di pusat perbelanjaan sering-seringlah mengucap dalam hati “Sabar ya, barang itu belum kita butuhkan!”.

Suatu hari ada seorang ibu yang menangis karena putranya meninggal. Imam membiarkan dia menangis karena wajar seorang ibu menangis saat ditinggal orang yang dia cintai. Namun tangisan itu semakin menjadi-jadi disertai umpatan yang buruk. Seakan dia tidak terima dengan ketentuan Allah ini.

Akhirnya imam menasehatinya dengan berkata, “Jika kamu bersabar maka anakmu tetap akan meninggal dan engkau mendapatkan pahala. Namun jika kamu gelisah dengan berbagai umpatanmu itu, anakmu tetaplah tidak bisa hidup dan kamu akan berdosa.” Jadi mana yang lebih baik sabar dan berpahala atau mengumpat dan berdosa yang hasilnya sama : anaknya tetap meninggal dunia.

Artinya, saat kita mendapat musibah lalu berteriak menyalahkan sana sini, bukan berarti musibah itu akan berubah. Teriakan dan umpatan itu tidak akan merubah apapun. Namun jika kita bersabar, itu sudah membuka pintu jalan keluar. Setelah hati mulai tenang, barulah kita mulai mencari jalan keluar karena Allah selalu bersama orang yang sabar. “Tetapi jika kamu bersabar, itu lebih baik bagimu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (An-Nisa’ 25). Karena itu jangan bosan menasehati orang-orang dengan kalimat singkat yang sakti itu: “Sabar ya!” karena Tuhan mencintai orang orang yang sabar. (CR14, liputanislam.com)

SALAM IDUL FITRI

hussain-font

Assalamualikum wr. wb
Bismillah…Allahumma Shalli ala Muhammad wa aali Muhammad

Saya sekeluarga dan Semua Keluarga Besar Yayasan Islam Abu Thalib Medan mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H. Semoga amal ibadah kita semua diterima oleh Allah swt. Mohon maaf lahir dan batin.

Songsong lebaran di idul fitri
Lebarkan hati beri maaf setiap diri
Tak ada dendam, tak simpan benci
Semua damai dihari suci
Dengan berkah dan rahmat ilahi
Salam persatuan syiah dan sunni
Demi majunya peradaban di bumi pertiwi

Wassalam
Candiki Repantu
Yayasan Islam Abu Thalib Medan

FREEDOM FOR PALESTINE

13511032_612806722216386_8166556493608140730_n

(Solidaritas Untuk Rakyat Palestina)

Dengan Pekikan ALLAHUAKBAR Rakyat Palestina Tua, muda, Anak-anak bahkan wanita menantang Pasukan Zionis Israel dengan hanya membawa Batu dan Kayu tetapi mereka tidak akan mundur sedikitpun meski mereka harus menghadapi pasukan dengan senjata lengkap dan tentu  nyawa menjadi Taruhan tapi aksi menentang kekejaman Zionis Israel tak akan pernah berhenti.

Kondisi objektif membuktikan bahwa aksi pendudukan Israel terhadap Tanah Palestina mendapat dukungan penuh Amerika Serikat (USA) sehingga Israel dengan semena-mena menganeksasi Tanah Palestina dan membentuk negara Ilegal dan mereka ngotot meski dunia Internasional jelas-jelas menolak aksi sepihak Israel, dan perilaku keras kepala Israel seringkali menyebabkan pelanggaran HAM BERAT sayangnya Amerika dan Israel selalu saja luput dari pengadilan HAM Internasional.

13590524_612806838883041_6172066765652122212_n

Indonesia semenjak periode Presiden Sukarno selalu konsisten membela Hak-Hak rakyat Palestina dan menolak keberadaan Negara Israel dan pernah menggagas dukungan kemerdekaan Palestina dalam KAA 1955. Dan sebagai elemen masyarakat yang peduli dengan Nasib Palestina maka Kami mendukung perjuangan Palestina dan mendorong Pemerintah RI agar lebih aktif lagi di berbagai forum untuk memperjuangkan Hak-Hak rakyat Palestina dan dengan ini Kami menyatakan sikap “Mendukung perjuangan Bangsa Palestina”

Maka Dari itu Kami menyatakan sikap sebagai berikut :

  1. Mengutuk dengan keras aksi-aksi Israel terhadap Tanah palestina seperti Penutupan Masjidil Aqsa, pembangunan Pemukiman di Tanah Palestina, dan pembagunan tembok raksasa.
  2. Mengutuk Amerika Serikat (USA) yang selalu membelaa Israel dengan mengabaikan rasa kemanusiaan sebab Israel selalu membunuh Rakyat palestina dan jelas-jelas melanggar HAM.
  3. Mendukung penuh Setiap perjuangan rakyat palestina dalam membentuk Negara Palestina yang merdeka Penuh tanpa intimidasi Israel.
  4. Mendorong kepada Pemerintah RI agar lebih aktif menuntut PBB agar mengadili Israel di Makamah Internasional atas semua pelanggaran HAM berat atas kekerasan terhadap Rakyat Palestina.

Komite Reforma Agraria (KRA),  Yayasan Islam Abu Thalib Sumut (YIATSU), Partai Rakyat Demokratik (PRD), Forum Bersama Keluarga (FBK) 65, Persatuan Pedagang Buku Lapangan Merdeka (P2BLM), Serikat Mahasiswa Demokrasi (SMAD), GARDA ASURA, DaUN Indonesia, PBHI, Pergerakan Indonesia (PI)

LAILATUL QADAR MAJELIS AZ-ZAHRA

13552665_10205612488186460_1498751469_n

Memperingati Malaam lailatur Qadar (malam ke 23 Ramadhan) selain di adakan di Majelis Yayasan Abu Thalib Sumatera Utara (YIATSU), majelis juga di laksanakan di Majelis Az-Zahra Kota Langsa yang di pimpin langsung Oleh Ketua Yayasan Islam Abu Thalib Ust. Candiki Repantu yang mengambil tema tausiah keutamaan-keutamaan malam-malam Qadar.

Majelis yang di hadiri oleh Jama’ah Kota langsa, Sungai Raya dan Aceh Tamiang Provinsi Aceh, dengan penuh Khidmat jamaah membaca doa-doa malam Ramadhan, serta doa Jausan Kabir meski memakan waktu berjam-jam akan tetapi tidak ada Jamaah yang beranjak dari tempat duduk semua asik dalam pergulatan cinta, sebab malam Qadar adalah moment yang langka dan hanya ada pada bulan Ramadhan dan tidak ada di bulan-bulan lain.

13565539_10205612487986455_20388055_n

Dalam tausiahnya Ust Candiki Repantu menyampaikan bahwa Malam Lailatu Qadar adalah malam terpilih untuk manusia agar lebih bisa mendekatkan diri kepada Allah dan malam terpiilih untuk turunnya Al-qur’an, sehingga malam Qadar benilai lebih dari 1000 bulan hal tersebut bukan tanpa Alasan melainkan Rahmat yang turun pada Malam Qadar adalah Rahmat turunnya Al-Qur’an sebagai pedoman Hidup bagi umat Islam di dunia.

Selain itu Ust. Candiki Repantu juga menyampaikan sekelumit kisah Imam Ali Bin Abi Thalib yang wafat juga di waktu yang di pilihkan Allah yaitu pada malam Qadar sehingga Imam Ali AS wafat pada malam turunnya Rahmat, lalu siapa gerangan pecinta yang tidak mengiginkan syahid di Malam Qadar sayang di perlukan kebersihan hati dan kebesaran jiwa menjadi Insan sempurna untuk meraih Syahadah di malam 1000 Bulan.

13553325_10205612488306463_462383012_n

MALAM QADAR KETIGA (Habis)

 

13535970_1146218095436143_589096697_n

Majelis Malam Qadar ketiga (malam 23 Ramadhan) di Yayasan Abu Thalib Sumatera Utara (YIATSU) yang berada di Jl. Gurila No.82 Medan di adakan pada tanggal 27 Juni 2016 di isi oleh Tausiah Ust. Muhammad Rusdi yang mengambil tema keutamaan-keutamaan Imam Ali Bin Abi Thalib sebagai bagian dari majelis mengenang sahidnya Imam Ali Bin Abi Thalib AS, sedangkan Doa-doa di  pimpin oleh Ust. Abdul Azis yang dimulai pada pukul 22.00 WIB sampai pukul 03.30 WIB tanggal 28 Juni 2016.

Dalam Tausiahnya Ust. Muhammad Rusdi menyampaikan tentang keutamaan Imam Ali AS diantaranya beliau lahir di Ka’bah yang tidak ada seorangpun di muka bumi ini yang lahir di Ka’bah bahkan Nabi sekalipun tidak ada yang lahir di Ka’bah dan beliau syahid di mihrab sehingga julukan sebagai manusia yang lahir di ka’bah dan syahid di mihrab di sematkan pada Imam Ali Bin Abi Thalib AS sebagai penghormatan atas kemulyaan Imam Ali Bin Abi Thalib.

Selain keutaman tersebut Imam Ali bin Abi Thalib secara kwalitas keperkasan adalah pengawal Rasulullah yang selalu setia baik di masa Damai maupun dimasa perang dan Imam Ali AS tidak pernah lari dari peperangan manapun bahkan di perang Uhud saat pasukan Muslimin kocar-kacir Imam Ali tetap kokoh melindungi Nabi SAW maka tidak heran jika Rasulullah mengatakan “Tiada Pemuda kecuali Ali dan Tiada pedang Kecuali Zulfikar” hal ini menunjukkan keistimewaan luar biasa Dari Imam Ali AS.

Dari sisi keilmuan Imam Ali tak memiliki tandingan yang sepadan karena sebagai penafsir Al-Qur’an imam Ali memiliki Ilmu yang luas yang tak mungkin kita tandingi , bahkan kumpulan Khutbah dan Surat menyurat Imam  Ali AS yang terkumpul dalam Nagjul Balaghah menjadi kitab yang tidak pernah bisa kering untuk di kaji sepanjang jaman dan hal tersebut cukup  untuk menunjukkan  kwalitas sang Imam. Maka berwilayah kepada Imam Ali AS adalah sebuah keharusan agar kita benar-benar  mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW sebab Imam Ali AS adalah sosok terbaik diantara yang terbaik.

13553362_1144832508908035_477616078_n

Seperti malam yang sudah-sudah Majelis di Isi dengan membaca Al-qur’an dan doa-Doa malam Ramadhan terutama Doa Jausan Kabir dan Tawsul Al-Qur’an, dan terakhir adalah acara sahur bareng sebelum Jama’ah kembali kerumah Masing-masing. (N. Silabuhan)