IKRAR SUCI KEPEMIMPINAN IMAM ALI

IKRAR SUCI KEPEMIMPINAN IMAM ALI

Oleh : Candiki Repantu

13438793_10205590560958293_4612853045963230972_n

Ketika mentari mencapai puncak tertingginya, disaat kafilah haji Sang Nabi menyusuri sahara yang panasnya tiada tara, mendadak perintah ilahi turun agar kafilah itu berhenti dan berkumpul dengan rapi. Ada suatu pesan yang harus disampaikan dan tak bisa ditangguhkan, “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Apabila tidak kau lakukan itu, berarti sama dengan engkau tidak menyampaikan seluruh risalah-Nya, dan Allah (akan) memeliharamu dari (gangguan) manusia.” (Q.S. Al-Maidah: 67).

Para sahabat saling bertatap, beragam duga muncul dalam dada. Sepertinya Nabi saw mendapat perintah maha dahsyat dari Tuhan alam semesta, sehinga tak bisa menunggu waktu untuk sampai di Madinah, kota Nabi tercinta.

Mimbarpun disiapkan, agar nabi saw terlihat oleh semua orang. Wajah-wajah lelah itu menunjukkan rasa ingin tahu, pesan apakah yang akan disampaikan Nabi ditengah terik matahari siang itu. Dengan suara lantang bergetar, Nabi saw memuji Tuhan yang Maha Akbar, sebelum menyampaikan berita besar, tentang kepemimpinan Ali bin Abi Thalib as, sang pemilik Zulfiqar. Mari kita resapi setiap kata yang terlontar dari lisan suci Nabi al-Mukhtar :

Wahai manusia! Aku tak pernah salah, lalai dan lupa dalam menyampaikan titah yang diturunkan Tuhan kepadaku…

(Hari ini), malaikat Jibril as datang tiga kali kepadaku menyampaikan salam dari Tuhanku, dan memerintahkan aku untuk berdiri ditempat ini agar menyampaikan kepada semua orang yang berkulit putih atau hitam bahwa Ali bin Abi Thalib as adalah saudaraku, pengemban wasiatku, khalifahku, dan Imam setelah ku, yang kedudukannya di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa as, hanya saja tidak ada nabi setelah ku.

Dia adalah wali (pemimpin) setelah Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana telah ditegaskan Allah dalam wahyunya kepadaku ‘Sesungguhnya wali kamu adalah Allah, Rasul Nya, dan orang yang beriman yang mendirikan salat, dan menunaikan zakat sementara mereka dalam keadaan ruku’ (Q.S.Al-Maidah: 55). Ali adalah orang yang mendirikan salat dan menunaikan zakat dalam keadaan ruku.

Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah menetapkan Ali sebagai pemimpin (wali) dan Imam bagi kalian.

Mematuhinya adalah wajib bagi kalangan muhajirin maupun anshar dan orang-orang yg datang setelah mereka, baik yg ada di desa atau kota, orang Arab atau bukan, orang yang merdeka atau hamba sahaya, anak kecil maupun orang dewasa, bangsa hitam maupun putih, dan setiap orang yang menyatakan tauhid kepada Allah swt.

Keputusan hukumnya sah, pembicaraannya wajib didengar, dan perintahnya wajib ditaati. Terkutuklah orang yg menetangnya, dirahmatilah orang yang mengikutinya, dan berimanlah orang yang membenarkannya. Sungguh Allah mengampuninya dan mengampuni orang-orang yang mendengar dan mematuhinya.”

Setelah Nabi saw menyampaikan titah ilahi tentang kepemimpinan Ali, maka ikrar pun diberi, untuk mengikat janji suci :

Wahai manusia! Jumlah kalian demikian banyaknya sehingga tidak mungkin kalian bisa mengulurkan tangan untuk berbai’at satu persatu. Namun demikian, Allah Azza wa Jalla telah memerintahkan aku untuk mengambil ikrar dari lisan kalian tentang pengangkatan Ali sebagai pemimpin kaum beriman, dan para imam dari keturunanku dan keturunannya yang datang setelahnya, seperti yang pernah kusampaikan pada kalian bahwa keturunanku berasal dari sulbi Ali. Untuk itu, hendaklah kamu ikrarkan secara bersama-sama :

Kami telah mendengar, kami akan patuh, rela, dan ikut secara penuh atas apa yang telah engkau sampaikan dari Tuhan kami dan Tuhanmu berkenaan tentang kepemimpinan Ali dan putra-putranya. Untuk itu kami berbai’at dengan sepenuh hati, jiwa, lisan, dan tangan kami. Dengan nya kami hidup, dengannya kami mati, dan dengannya kami dibangkitkan, tanpa kami mengubah, mengganti, ragu, mencabut janji atau membatalkan ikrar dan pernyataan kami. Kami berjanji mematuhi Allah dan rasul Nya, serta mematuhi Ali sebagai pemimpin kaum beriman. Demikian pula, kami mematuhi para imam dari putra dan keturunannya. Segala puji bagi Allah yang telah membimbing kami ke jalan ini. Sungguh, kami tidak akan memperoleh bimbingan tanpa bimbingan dari Allah”

Demikianlah ikrar janji yang dituntut oleh Rasulullah saw ketika mengumpulkan manusia di Ghadir Khum, sepulangnya dari haji wada’, pd tgl 18 Dzulhijjah, 14 abad yang lalu, agar mereka mematuhi kepemimpinan Imam Ali pasca Nabi saw. Ikrar itu menggaung ke seantero dunia dari masa ke masa karena Nabi berpesan agar yang hadir menyampaikan ikrar itu kepada yang tidak hadir.

Dan saat ini, 18 Dzulhijjah juga, Nabi saw menuntut ikrar ilahi ini dari lisan-lisan kita yang tak sempat bertemu dengan Nabi saw. Hari ini ratusan juta para pecinta Imam Ali as di seluruh dunia, bersama mengangkat tangan dan merapatkan lima jari, kembali mengikrarkan janji suci kepemimpinan Imam Ali as :

Bismilahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajjil farajahum.”

“Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul Nya.

Ya Rasulullah, Aku telah mendengar, dan aku akan patuh, rela, dan ikut secara penuh atas apa yang telah engkau sampaikan dari Tuhanku dan Tuhanmu berkenaan tentang kepemimpinan Ali dan putra-putranya.

Untuk itu aku berbai’at dengan sepenuh hati, jiwa, lisan, dan tanganku. Dengannya aku hidup, dengannya aku mati, dan dengannya aku dibangkitkan, tanpa aku mengubah, mengganti, ragu, mencabut janji atau membatalkan ikrar dan pernyataanku.

Aku berjanji mematuhi Allah dan rasul Nya, serta mematuhi Ali sebagai pemimpin kaum beriman. Demikian pula, Aku mematuhi para imam dari putra dan keturunannya. ‘Segala puji bagi Allah yang telah membimbing kami ke jalan ini. Sungguh, kami tidak akan memperoleh bimbingan tanpa bimbingan dari Allah’.”

Allahumma shalli ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajjil farajahum.

Saudaraku, silahkan jika ada yang bersedia mengucapkan ikrar ini dengan ketulusan. Dan yang tidak bersedia tidak ada paksaan dan tidak perlu membuat keributan, karena ini hanya sekedar menyampaikan salam persaudaraan di Idul Ghadir yang pernuh keberkatan. Selamat Idul Ghadir, Berkah untuk semua.

Medan, 18 Dzulhijjah .

โœ‹๐ŸŒท

CR14

Iklan

Doa Rasul Ketika di Padang Arafah

“Diriwayatkan dari Muโ€™awiyyah Bin Ammar dari Abi Abdillah as : โ€Rasulullah Saww bersabda kepada Amirul Mu’minin Ali as, ‘Apakah kau ingin aku ajari doa Hari Arofah? Doa ini adalah doa para Nabi sebelumku.

Amirul Mu’minin Ali as menjawab, aku ingin Wahai Rasulullah Saww. Beliauย Saww bersabda bacalah :

,ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ู†ู ุงู„ุฑู‘ูŽุญููŠู’ู…ูุŒ
ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุตูŽู„ูู‘ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ูˆูŽุขู„ู ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏ ู„ุงูŽุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุญู’ุฏูŽู‡ู ู„ุงูŽุดูŽุฑููŠูƒูŽ ู„ูŽู‡ู ู„ูŽู‡ู ุงู„ู’ู…ูู„ู’ูƒ ูˆูŽู„ูŽู‡ู ุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ูŠูุญู’ูŠููŠ ูˆูŽูŠูู…ููŠุชู ูˆูŽูŠูู…ููŠุชู ูˆูŽูŠูุญู’ูŠููŠ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุญูŽูŠู‘ูŒ ู„ุงูŽูŠูŽู…ููˆุชู ุจููŠูŽุฏูู‡ู ุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุฑู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูู„ูู‘ ุดูŽูŠู’โ€ุกู ู‚ูŽุฏููŠุฑูŒุŒ ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ู„ูŽูƒูŽ ุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ุฃูŽู†ู’ุชูŽ ูƒูŽู…ูŽุงุชูŽู‚ููˆู„ ูˆูŽุฎูŽูŠู’ุฑู ู…ูŽุงูŠูŽู‚ููˆู„ู ุงู„ู’ู‚ูŽุงุฆูู„ููˆู†ูŽุŒุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ู„ูŽูƒูŽ ุตูŽู„ุงูŽุชููŠ ูˆูŽุฏููŠู†ููŠ ูˆูŽู…ูŽุญู’ูŠูŽุงูŠูŽ ูˆูŽู…ูŽู…ูŽุงุชููŠ ูˆูŽู„ูŽูƒูŽ ุชูุฑูŽุงุซููŠ ูˆูŽุจููƒูŽ ุญูŽูˆู’ู„ููŠ ูˆูŽู…ูู†ู’ูƒูŽ ู‚ููˆู‘ูŽุชููŠ ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฅูู†ูู‘ูŠ ุฃูŽุนููˆุฐูุจููƒูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ููŽู‚ู’ุฑู ูˆูŽู…ูู†ู’ ูˆูŽุณู’ูˆูŽุงุณู ุงู„ุตู‘ูŽุฏู’ุฑู ูˆูŽู…ูู†ู’ ุดูŽุชูŽุงุชู ุงู’ู„ุฃูŽู…ู’ุฑู ูˆูŽู…ูู†ู’ ุนูŽุฐูŽุงุจู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู ูˆูŽู…ูู†ู’ ุนูŽุฐูŽุงุจู ุงู„ู’ู‚ูŽุจู’ุฑุŒู ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฅูู†ูู‘ูŠ ุฃูŽุณู’ุฃูŽู„ููƒูŽ ู…ูู†ู’ ุฎูŽูŠู’ุฑู ู…ูŽุงุชูŽุฃู’ุชููŠ ุจูู‡ู ุงู„ุฑูู‘ูŠูŽุงุญู ูˆูŽุฃูŽุนููˆุฐูุจููƒูŽ ู…ูู†ู’ ุดูŽุฑูู‘ ู…ูŽุงุชูŽุฃู’ุชููŠ ุจูู‡ู ุงู„ุฑูู‘ูŠูŽุงุญู ูˆูŽุฃูŽุณู’ุฃูŽู„ููƒูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ู ูˆูŽุฎูŽูŠู’ุฑูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽู‡ูŽุงุฑู ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุฌู’ุนูŽู„ู’ ูููŠ ู‚ูŽู„ู’ุจููŠ ู†ููˆุฑุงู‹ ูˆูŽูููŠ ุณูŽู…ู’ุนููŠ ู†ููˆุฑุงู‹ ูˆูŽูููŠ ุจูŽุตูŽุฑููŠ ู†ููˆุฑุงู‹ ูˆูŽูููŠ ู„ูŽุญู’ู…ููŠ ูˆูŽุฏูŽู…ููŠ ูˆูŽุนูุธูŽุงู…ููŠ ูˆูŽุนูุฑููˆู‚ููŠ ูˆูŽู…ูŽููŽุงุตูู„ููŠ ูˆูŽู…ูŽู‚ู’ุนูŽุฏููŠ ูˆูŽู…ูŽู‚ูŽุงู…ููŠ ูˆูŽู…ูŽุฏู’ุฎูŽู„ููŠ ูˆูŽู…ูŽุฎู’ุฑูŽุฌููŠ ู†ููˆุฑุงู‹ ูˆูŽุฃูŽุนู’ุธูู…ู’ ู„ููŠ ู†ููˆุฑุงู‹ ูŠูŽุงุฑูŽุจูู‘ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุฃูŽู„ู’ู‚ูŽุงูƒูŽ ุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูู„ูู‘ ุดูŽูŠู’โ€ุกู ู‚ูŽุฏููŠุฑูŒ .

Bismillรขhir rohmรขnir rohรฎm, Allรขhumma sholli โ€˜alรข Muhammadin wa รขli Muhammad, Lรข ilaha ilallรขh wahdahu lรข syarรฎkalahu lahul mulku walahul hamdu yuhyรฎ wa yumรฎtu wayumรฎtu wa yuhyรฎ wahuwa hayyun lรข yamรปtu biyadihil khoiru wahuwa โ€˜alรข kulli syai-in qodรฎr, Allahumma lakal hamdu anta kamรข taqรปlu wa khoiro mรข yaqรปlul qรด-ilรปna, Allahuma laka sholรขti wa dรฎnรฎ wa mahyรข wa mamรขtรฎ walaka turotsรฎ wa bika hawlรฎ waminka quwwwatรฎ, Allahum ma innรฎ aโ€™รปdzubika minal faqri wamin waswรขsi shodrรฎ wa min syatatil amri wa min adzรขbinnรขri wamin adzรขbil qobri, Allahum ma innรฎ asโ€™aluka min khoiri mรข taโ€™ti bihirriyรขhu, wa as-aluka khoirol layli wa khoiron nahรขri. Allahumajโ€™al fรฎ qolbรฎ nรปron wa fรฎ samโ€™รฎ nรปron wa fรฎ bashorรฎ nรปron wa fรฎ lahmรฎ nรปron wa damรฎ wa โ€˜izhomรฎ wa โ€˜urรปqรฎ wa mafรขshilรฎ wa maqโ€™adรฎ wa maqรดmรฎ wa madkholรฎ wa makhrojรฎ nรปron wa aโ€™zhimlรฎ nรปron ya Robbรฎ yaumal alqรดka innaka โ€˜alรข kulli syai-in qodรฎr.”

Artinya :

Dengan asma Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad.

Tidak ada tuhan kecuali Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, Dialah Pencipta, Dialah Maha Terpuji, Dia Menghidupkan dan Mematikan, Memati kan dan Menghidupkan, dan Dia Maha Hidup tidak akan pernah mati.

Ditangan-Nya semua kebaikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Segala puji bagi-Mu, Ya Allah, Engkau sebagimana yang Kau sebutkan dan sebaik-baiknya dari apa yang disebutkan tentang-Mu.

Ya Allah hanya untuk-Mu daku sholat, daku beragama, daku hidup dan daku mati. Hanyaย dari-Mu warisanku, dari-Mu daya dan kekuatanku.

Ya Allah daku berlindung dari kefakiran, dari keraguan yang ada di dalam dada, dari kebimbangan dalam menjalankan perintah, dari adzab api neraka, dari azab kubur.

Ya Allah daku menginginkan kebaikan dari manapun arah datangnya yang dibawa oleh angin dan daku memohon agar dilindungi dari kejelekan dari arah manapun yang dibawa oleh angin. Dakuย memohonkan dari kebaikan siang dan kebaikan malam.

Dalam riwayat lain ada tambahan :

Ya Allah jadikan di hatiku cahaya, di pendengaranku cahaya, di penglihatanku cahaya, di dagingku cahaya, di darahku cahaya, di tulangku cahaya, di uratku cahaya, semua persendian, semua duduk dan berdiriku, masuk dan keluarku cahaya. Agungkanย daku dengan cahaya, Duhai Pemilik Hari Perjumpaan (Akhirat).ย Sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu.ย 

*Sumber :ย ย Kitab Man lรข Yahdhuruhul Faqรฎh, juz 2, hal. 543

UCAPAN BELA SUNGKAWA

IMG_20180624_093539

Innalilahi wa Inna ilaihi Raji’un.

Yayasan Islam Abu Thalib mengucapkan duka yang mendalam kepada para Imam as, ulama dan seluruh pecinta AB atas wafatnya yang mulia Ustadzย Drs Ali Sibramalisi, MA CD Bin Karaeng Muhammad Yahya Sumbul al-Hasni.

Semoga Allah SWT mengampuni dosa dan kesalahan beliau serta melipatgandakan setiap kebajikan beliau serta menempatkan beliau pada tempat yang tinggi di sisi-Nya dengan berkah Nabi Saw dan Ahlul Baitnya.

Kepada keluarga semoga diberikan ketabahan dan pahala yang besar atas duka yang mendalam ini.

ุฅูู†ู‘ูŽุง ู„ูู„ู‘ู‡ู ูˆูŽ ุฅูู†ู‘ูŽุง ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฑูŽุงุฌูุนููˆู’ู†ูŽ..

ุฃุนุธู… ุงู„ู„ู‘ูฐู‡ ุฃุฌุฑูƒู… ูˆ ุฃุญุณู† ุนุฒุงูƒู…

ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุบู’ููุฑู’ ู„ูŽู‡ ูˆูŽุงุฑู’ุญูŽู…ู’ู‡ ูˆูŽุนูŽุงููู‡ ูˆูŽุงุนู’ูู ุนูŽู†ู’ู‡ุŒ ูˆูŽุฃูŽูƒู’ุฑูู…ู’ ู†ูุฒููˆู’ู„ูŽู‡ุŒ ูˆูŽูˆูŽุณู‘ูุนู’ ู…ูŽุฏู’ุฎูŽู„ูŽู‡ุŒ ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูŽูู’ุชูู†ู‘ุง ุจูŽุนู’ุฏูŽู‡ ูˆูŽุงุบู’ููุฑู’ู„ูŽู†ูŽุง ูˆูŽู„ูŽู‡ู

DOA HARIAN BULAN RAMADHAN

Doa Hari Keenam Belas

IMG-20180601-WA0003

KAJIAN RAMADHAN (15) : MAKNA KAFIR

Oleh : Ustadz M. Iqbal Al-Fadani

Screenshot_2018-06-14-10-37-25-546_com.opera.mini.native

ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูƒูŽููŽุฑููˆุง ุณูŽูˆูŽุงุกูŒ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุฃูŽุฃูŽู†ู’ุฐูŽุฑู’ุชูŽู‡ูู…ู’ ุฃูŽู…ู’ ู„ูŽู…ู’ ุชูู†ู’ุฐูุฑู’ู‡ูู…ู’ ู„ูŽุง ูŠูุคู’ู…ูู†ููˆู†ูŽ

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.” (Q.S. Al-Baqarah : 6)

Di dalam ayat ini dijelaskan bahwa orang kafir adalah orang-orang yang tidak dapat menerima hidayah, bahkan jika nabi sekalipun yang memberikan peringatan kepada mereka.

Sepintas, ayat ini memberikan pemahaman bahwa orang di luar Islam sama sekali tidak akan menemukan hidayah. Oleh karena itu mengajak orang di luar Islam untuk mengikuti ajaran Islam merupakan kesia-siaan.

Namun uniknya adalah Nabi Muhammad Saww justru sangat aktif dalam mendakwahi mereka, dan lebih uniknya lagi tidak sedikit yang kemudian memilih islam. Lantas apakah ayat di atas salah atau pemahaman kita yang mesti diperbaiki? Dengan begitu ayat di atas benar dan pemahaman kita juga tepat. Dan pada gilirannya dakwah terhadap non muslim menemukan artinya. Untuk itu di sini kita perlu menjelaskan makna “kafir” menurut Al-Quran.

Apakah makna kafir di dalam ayat di atas adalah non muslim atau orang di luar Islam secara umum sehingga makna ayat tersebut seolah-olah bertentangan dengan realita yang ada? Atau kata “kafir” memiliki makna yang lebih sempit dari itu?

Kata “kafir” menurut istilah Alquran bukan bermakna orang di luar Islam atau non muslim secara umum, akan tetapi, yang dimaksud justru makna yang lebih sempit dari itu.

Maksudnya, orang kafir adalah orang yang tidak memilih Islam setelah melihat bahwa kebenaran secara nyata berada di pihak Islam. Oleh karena itu orang yang belum memahami kebenaran Islam atau belum menyadari kesalahan agamanya bukanlah disebut kafir.

Lebih jelasnya lagi, muslim dan kafir atau munafik adalah istilah yang muncul setelah adanya dakwah kenabian yang sudah sampai pada tahap jelasnya kebenaran dan kebatilan. Sebelumnya tidak ada muslim, kafir maupun munafik, yang ada hanyalah manusia tanpa identitas.

Namun setelah nabi datang membawa syari’at yang sempurna, kemudian kebenaran dan kebatilan dapat dibedakan dengan gamblang, maka manusia akan terbagi kepada beberapa kelompok.

Pertama, Muslim, yaitu orang-orang yang melihat kebenaran dan memilih kebenaran tersebut.

Kedua, mereka yang memahami kebenaran tapi tidak mau menerimanya, bahkan menolak dan memeranginya.

Ketiga, mereka yang memahami kebenaran tapi tidak menjadikannya sebagai pilihan, sebagai mana kelompok kedua, namun untuk menjaga kepentingannya, secara lahiriah mereka hidup seperti orang Islam.

Dalam hal ini alangkah baiknya kita mengutip tulisan Murthadha Muthhari yang mengatakan:

Dalam istilah Al-Quran kebanyakan kata “kafir” jika tidak kita katakan semuanya, bukan bermakna setiap orang yang bukan Islam. Akan tetapi makna “kafir” adalah orang yang menentang dan mengingkari dakwah nabi setelah kebenaran dan hakikat menjadi jelas. Maksudnya, sebelum disampaikanya dakwah kenabian masyarakat belum terbagi menjadi mukmin, kafir dan munafik. Mereka masih merupakan manusia tanpa identitas.”ย (Murthadha Muthhari, Asynai ba Quran, Intesyarat e Shandra, Qom, hal. 76-77).

Setelah memahami bahwa makna kafir adalah orang-orang yang mengenal kebenaran dengan baik, pun begitu tetap menolak dan memusuhinya, maka makna ayat di atas akan jelas.

Dengan penjelasan tadi, ayat di atas juga akan menemukan maknanya, yaitu manusia yang mampu melihat kebenaran sebagai suatu kebenaran dan kebatilan sebagai kebatilan, lalu dengan pilihannya sendiri dan dengan kerelaannya memilih kebatilan maka tidak akan bisa ditunjuki. Sebab dari awal dia sudah menentukan pilihannya.

Jadi makna ayat di atas adalah sesungguhnya orang-orang kafir (yang melihat kebenaran dan kebatilan dengan jelas lalu memilih kebatilan dan memerangi kebenaran) tidak akan beriman baik kamu beri peringatan maupun tidak kamu beri peringatan.”
Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam. (CR14)

DOA HARIAN BULAN RAMADHAN

Doa Hari Kelima Belas

IMG-20180531-WA0008

KUNJUNGAN PRESIDEN ICCORA IRAN KE YAYASAN ISLAM ABU THALIB

IMG_20180528_152826

Yayasan Islam Abu Thalib Sumatera Utara (YIAT SU) dalam bulan Ramadhan ini kedatangan Tamu Istimewa Yaitu Presiden International Cultural Center of Rahmatun Lil Alamin (ICCORA) Dr. Qasem Muhammadi. Ketua Yayasan Islam Abu Thalib, Ustadz Candiki Repantu menjelaskan bahwa ini adalah kali pertama kunjungan Presiden ICCORA di Medan yang mana lawatannya kali ini memiliki beberapa agenda penting di Kota Medan. Selain ikut serta dalam rangkaian agenda Safari Ramadhan di Yayasan Islam Abu Thalib Sumatera Utara, kehadiran beliau juga dalam rangka membangun hubungan dengan berbagai lembaga pendidikan dan kajian yang ada di SUMUT. Untuk itu beliau akan cukup lama berada di Medan, sekitar 12 hari (tanggal 29 Mei s.d 10 Juni 2018).

Dalam wawancara dengan abuthalibnews, Dr. Qasem Muhammadi menyampaikan bahwa ICCORA adalah sebuah lembaga kebudayaan dan keagamaan yang bermarkas di Qum, Iran yang konsen pada isu-isu perdamaian dunia dan multikkulturalisme. Kunjungannya ke Medan ini dalam usaha memberikan informasi-informasi dari lembaga yang berbasis di Iran tersebut dalam membangun kesatuan umat yang damai dan ramah dengan mengusung tema rahmatan Lil alamin, terutama isu-isu seputar Sunni dan Syiah yang sering disalah pahami oleh banyak kalangan.

IMG_20180530_234420

Foto : Candiki Repantu (Ketua YIAT SU) dan Dr. Qasem Muhammadi (Presiden ICCORA, Iran).

Dengan semangat mengusung Visi yang sama maka YIAT SU dan ICCORA mengadakan kegiatan bersama dalam rangkaian Kunjungan Presiden ICCORA, Syekh Qasim Muhammadi tersebut, di antaranya adalah :

1. Acara Peringatan Milad Imam Hasan al-Mujtaba as

2. Dialog Internasional dalam rangka hari lahirnya Pancasila

3. Peringatan Haul Syahidnya Imam Ali as.

4. Acara Peringatan Nuzul Alquran dan Lailatul Qadar

5. Seminar Internasional “Perempuan dalam Peradaban Islam”

6. Dialog Perbandinganย  Multikulturalisme Iran dan Indonesia.

Alhamdulillah semua agenda yang direncanakan berjalan denganย  baik dan mendapatkan respon yang positif dari berbagai kalangan. (Zar)