Pernikahan Suci Putri Sang Nabi

Oleh : Candiki Repantu
ali-fathimah2
Madinah al-Munawwarah semakin bercahaya
Dengan tumbuh dan mekarnya “bunga surga”
Penyejuk mata Nabi mulia, Fatimah Zahra ummu abiha.
Nasab mulia dimilikinya, baik dari jalur ayah atau ibunya,
Cahaya kecantikannya tak perlu diragukan
Keagungan akhlaknya patut dibanggakan
Membuat setiap lelaki di zamannya
Tak peduli dengan usia dan kedudukan mereka,
Semua saling berlomba
Untuk merebut hati Sang Nabi dan perhatian Sang Putri.
Abu Bakar yang usianya sepadan dengan Rasulullah
Datang untuk meminang Fatimah.
“Wahai Rasulullah, Anda telah mengetahui kesetiaan
dan pengabdianku terhadap Islam,
aku menginginkan agar Anda menikahkan diriku dengan Fatimah”, minta Abu Bakar.
Nabi Saw tertegun mendengarnya, tanpa sepatah katapun keluar dari lisannya.
Abu Bakar memahami Nabi tidak menerimanya.
Maka ia pun pergi meninggalkan rumah Nabi yang mulia.
Di perjalanan ia bertemu Umar sahabatnya
Menyampaikan bahwa Nabi mengabaikan lamarannya.
Dengan ditolaknya Abu Bakar, Umar merasa memiliki kesempatan
Tak menunggu waktu, ia langsung bergegas memburu
Seperti Abu Bakar, ia berhajat meminang Fatimah
untuk menjadi pendamping hidupnya
Namun, ia bernasib sama
Nabi tak meresponnya dan hanya berkata Beliau sedang menunggu pesan ilahi
menyangkut jodoh sang putri
Dua sahabat senior ini
Gugur dalam sayembara suci merebut pujaan hati.
Sahabat-sahabat lainnya tak mau rugi
Mereka berusaha menampilkan diri
dengan segala yang mereka miliki
untuk dapat mempersunting putri terkasih Nabi.
Dua pengusaha besar saling berebutan,
Abdurrahman bin Auf dan Usman bin Affan
Keduanya datang ke rumah Nabi secara bersamaan
Untuk menyampaikan lamaran kepada Fatimah wanita idaman.
Abdurrahamn bin Auf memulai pembicaraan,
“Wahai Nabi, nikahkanlah putrimu denganku,
maka aku akan memberinya mahar seratus unta hitam bermata biru
yang berasal dari Mesir di lembah sungai Nil
yang semuanya dalam keadaan hamil.
Tidak hanya itu, aku juga akan menambahkan
sepuluh ribu dinar sebagai hantaran.”
Mendengar itu, Usman bin Affan tak mau ketinggalan,
Ia menyambut pembicaraan Abdurrahman,
“Wahai Nabi, seperti halnya Abdurrahman,
Aku pun siap memberikan mahar yang sama jika Fatimah berkenan
Lagian, aku masuk Islam lebih duluan.”
Usman mengemukakan kelebihan
Agar Nabi lebih condong menentukan pilihan.
Rasul tersenyum memandang kedua sahabatnya ini.
Untuk menenangkan hati sabdapun disampaikan Nabi,
Amraha inda rabbiha”, urusannya ada di sisi Tuhannya.
Nabi tak menginginkan harta karena memang keluarganya senang hidup sederhana.
Nabi hanya menegaskan bahwa jodoh Fatimah ada dalam ketetapan Tuhannya.
Syuaib bin Saab menggambarkan kisah ini dengan indah,
“Ketika matahari kecantikannya bersinar di langit kerasulan
dan menjadi purnama di cakrawala kenaikan bulan kesempurnaannya,
awal pikiran menjangkau ke arahnya
dan tatapan orang-orang terpilih rindu mengamati kecantikannya;
maka, para pemimpin kaum Muhajirin dan Anshar meminangnya,
namun orang yang dikarunia ridha Allah (Nabi Muhammad Saw) menolak mereka
dan berkata, ‘Aku sedang menanti ketetapan Tuhan atasnya’.”
Apakah sebenarnya yang dinantikan Nabi?
Bukankah telah datang kepadanya sahabat-sahabat besar yang mengikat janji?
Bukankah telah ditawarkan limpahan harta sebagai mahar tanda kasih sejati?
Namun mengapa nabi menolak dan mengembalikannya pada pesan ilahi?
Semua orang merasa bahwa Fatimah bukanlah “wanita biasa”
Nabi pun mencari suami yang bukan “lelaki biasa”
Siapa gerangan lelaki itu adanya?
Para sahabat sudah bisa menduga.
Lelaki itu sahabat setia sekaligus kerabatnya.
Ia orang yang paling dekat dengannya, paling dicintainya,
Ia pembela gigih agama, berjuang sepenuh jiwa,
dan pengabdi yang tak diragukan kesetiaannya,
itulah Ali bin Abi Thalib, Haidar Sang Singa
Nabi menantikan kedatangannya,
Namun, sepertinya Ali hilang keberaniannya
untuk mengikuti sayembara cinta melamar Fatimah
Ia sadar siapa dirinya
Bayangkan, sejak kecil hingga dewasa ia diasuh di rumah Khadijah,
diberi makan, diberi pakaian, dididik dengan sebaik-baik pendidikan
Belum lagi membalas semua itu, kini berani-beranian meminta lagi
Anak Nabi untuk dijadikan isteri
“Sungguh tidak tahu terima kasih”,
Begitu kata hati yang menghantui batinnya Ali.
Lagian, apa yang bisa ditawarkan untuk bekal pinangan.
Ali adalah pemuda miskin yang tak punya rumah idaman,
biaya hidup pas-pasan, pas ada biaya maka bisa membeli makanan,
pas tidak ada maka ibadah puasa jadi pegangan,
pakaian pun hanya apa yang ada di badan.
Sungguh tak layak pikir Ali, untuk melangkahkan kaki,
melamar putri suci, cahaya mata sang Nabi.
Namun, cerita sudah beredar bahwa semua orang ditolak Nabi dengan sabar
Hanya Ali saja yang belum datang melamar.
Para sahabat memotivasi Ali agar dirinya tak gentar
untuk menyampaikan isi hati yang kian membakar
dalam api cinta suci yang terus berkobar.
Namun itulah Ali sang Haidar,
pemuda yang tegar di medan pertempuran yang besar,
kini tubuhnya bergetar, lidah kelu tak mampu berujar,
kepalanya tertunduk seperti ditindih batu besar,
Menghadap Nabi untuk melamar al-Kautsar.
Rasulullah saw mengerti gelagat Ali
Yang menyimpan keinginan di dalam hati.
Ia pun bertanya, “Apa gerangan yang membawamu kemari?”.
Jantung Ali berdetak lebih laju, rona wajahnya semakin memerah malu,
mulutnya semakin terkunci membisu,
Namun pikirannya ingin menyampaikan sesuatu.
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Rahman, Ali memulai pembicaraan,
Menyampaikan keinginan untuk memiliki pasangan,
Yang mendampinginya mengarungi suka dukanya kehidupan,
Dan itu adalah Fatimah Zahra, wanita mulia sepanjang zaman.
Wajah Nabi menunjukkan kegembiraan,
Yang dinantikan kini datang menghadap sopan,
Inilah akhir janji Tuhan,
Agar menikahkan Fatimah dengan orang yang sepadan,
“Kalau tidak ada Ali, tidak ada yang layak menikahi Fatimah”
begitu kira-kira janji yang telah ditetapkan-Nya.
Namun, Nabi tahu aturan,
Dibutuhkan persetujuan untuk menikahkan anak perempuan.
Nabi pun bersabda, “Wahai Ali, sebelummu, sudah banyak laki-laki datang melamar Fatimah,
tapi ia menolak mereka semua.
Aku akan sampaikan hajatmu kepadanya,
tunggulah sampai jawaban terlontar dari lisannya.”
Nabi bergegas menemui putrinya,
Dan Ali menanti jawaban az-Zahra dengan hati gundah gulana.
“Fatimah!, panggil Nabi dengan suara lembutnya.
Engkau tahu hubungan Ali dengan kita,
Engkau juga tahu pengabdian dan kesetiaannya
Aku meminta kepada Allah agar menikahkanmu dengannya
Dengan manusia terbaik dari semua makluk-Nya,
yang mencintai dan dicintai-Nya;
dan kini Ali datang melamarmu,
bagaimana pendapatmu?”
Fatimah tak memberikan jawaban,
Hanya pancaran wajah dan sorot matanya telah menampakkan isi hatinya.
Nabi saw berdiri mengumandangkan takbir,
Allahu Akbar, diammu menunjukkan persetujuanmu”
Nabi menyampaikan kabar gembira itu kepada Ali,
Ali pun merasa lega di hati,
tapi tunggu dulu, ada hal lain yang perlu diketahui,
yaitu mahar apa yang dapat diberikannya sebagai suami.
“Apa yang bisa kau berikan sebagai mahar pernikahan?” tanya Nabi kepada Ali.
Inilah yang dikhawatirkan Haidar,
tak mungkin ia mampu memberikan mahar untuk menyaingi Abu Bakar dan Umar,
apalagi Abdurrahman bin Auf dan Usman bin Affan yang dulu datang melamar.
Jangankan seratus ekor unta bermata biru,
membeli satu untapun dirinya tak mungkin mampu.
Tapi lamaran sudah terlanjur disetujui, tak mungkin ditarik kembali.
Dengan memberanikan diri, berkatalah Ali,
“Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu wahai Nabi
Tentang kehidupanku engkau sangat mengetahui
Aku hanya memiliki tiga buah benda : sebilah pedang, seekor unta, dan sebuah baju besi.”
Rasulullah tersenyum, ia tahu betul keadaan sepupunya,
tak ada yang tersembunyi darinya, kecuali apa yang diutarakannya.
Rasul pun berkata, “Pedang kau gunakan untuk berjuang,
unta kau pakai untuk mengangkut air kebutuhan harian.
Tak mungkin kau menyerahkan sebagai mahar pernikahan.
Karenanya, juallah baju besi dan bawa hasilnya kemari”,
Itulah pesan Sang Nabi.
Imam Ali melaksanakan titah ilahi,
Untuk menjual baju besi sebagai mahar mengikat tali kasih
dalam suatu perjanjian suci.
Hasilnya tak seberapa, hanya 500 dirham saja.
Inilah maharnya Fatimah,
Kelak jumlahnya dijadikan oleh keturunan sucinya
Para imam yang mulia sebagai batas mahar pernikahan mereka.
Tak pernah ada yang berani
memberikan mahar melebihi maharnya Fatimah dan Ali.
Adakah wanita yang merasa lebih mulia dan solehah
Merasa lebih berhak menerima mahar melebihi Fatimah?
Adakah lelaki yang merasa lebih sejati
dengan memberi mahar melebihi pemberian Ali?
Perkawinan suci pun dilangsungkan
dengan Nabi bertindak sebagai wali pernikahan.
Jamuan sederhana dibagikan, doa-doa dipanjatkan,
dan wajah kegembiraan menebar di seantero alam.
Namun ketika aroma kegembiraan itu meliputi semua hati,
mendadak masalah terjadi,
Fatimah menuntut mahar lebih dari apa yang diberikan Ali.
Ia menggugat Nabi, “Bukankah setiap wanita berhak menentukan maharnya?
Lalu mengapa aku tak diberi kesempatan untuk meminta maharku?
Aku tak ingin mahar 500 dirham itu, aku menginginkan sendiri maharku.”
Nabi tertegun memandang Fatimah seolah tak percaya.
Apakah ada keputusannya yang salah? Mengapa Fatimah berubah?
Tapi memang itu ajaran agama, bahwa wanita juga berhak menentukan maharnya.
Nabi pun hanya bisa pasrah mempersilahkan Fatimah meminta maharnya,
sambil bersabda mengingatkannya,
“Wahai Fatimah, ini Ali yang engkau pasti mengenal kehidupannya,
lantas mahar apakah yang akan engkau minta darinya?”
Dengan sungguh-sungguh Fatimah berkata, meminta mahar yang tidak terkira,
“Aku memohon kepada Allah, dihari pernikahanku,
agar Allah menjadikan syafaatku sebagai mahar pernikahanku”.
Semua memandang seolah tak percaya
sebab Fatimah meminta mahar termahal di dunia.
Siapa yang mampu mengabulkannya kecuali Tuhan pemilik jagat raya.
Tuhan pun menjawab permintaan az-Zahra,
Jibril pun diperintahkan turun dari sisi Tuhan
Untuk menyampaikan salam persetujuan
Mahar syafaat menjadi syarat pernikahan.
Selembar kain yang bertuliskan perjanjian Tuhan
Dibawa Jibril untuk Fatimah wanita penghulu alam
memberi syafaat kepada manusia kelak di alam kebangkitan.
“Allah telah setuju menjadikan syafaat Fatimah
bagi umat ayahnya sebagai mahar nikahnya”,
begitu teks perjanjiannya.
Kelak, ketika menjelang ajalnya,
Fatimah berwasiat kepada Ali suaminya
untuk meletakkan surat perjanjian itu dalam kain kafannya,
Letakkan surat ini di kain kafanku,
sebab kelak dihari kiamat, dengan memegang suratku,
aku akan memberikan syafaatku kepada orang-orang yang berdosa dari umat ayahku.”
Hari itu, 1 Dzulhijjah 14 abad yang silam,
Menjadi saksi penting ikatan kasih sayang
Dalam perjanjian yang teguh, mitsaqan ghalizhan
Antara dua insan suci yang dibalut keagungan,
Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra, .
Ikatan kasih mereka abadi
Hingga bertemu Ilahi Rabbi.
Ketika mengenang Fatimah, Imam Ali pernah bercerita,
“Aku menikah dengan Fatimah.
Kami tak memiliki alas tidur kecuali selembar kulit domba.
Malam harinya kami gunakan untuk alas tidur,
dan siang harinya kami jemur.
Kami tak memiliki pembantu,
pekerjaan rumah dikerjakan Fatimah tanpa mengeluh.
Ketika kami pindah, Rasulullah membekali kami dengan sebuah selimut,
bantal kulit yang diisi serabut,
dua gilingan tepung, satu gelas, dan sekantong susu.
Begitu seringnya Fatimah menggiling tepung,
sampai berbekas kasar pada tangannya.
Begitu seringnya Fatimah memanggul air,
sampai berbekas hitam di punggungnya.
Begitu seringnya Fatimah membersihkan rumah,
sehingga pakaiannya dipenuhi debu.
Dan begitu seringnya Fatimah menyalakan tungku api,
sampai-sampai pakaiannya menghitam dipenuhi arang.”
Ya Fatimah, Ya Ali,
jalinan cinta kalian ternyata menjadi rahmat bagi seluruh bumi,
meliputi kami yang hidup saat ini,
hingga manusia nanti sampai kiamat terjadi.
Ikatan kasih kalian, menebar ke seluruh alam
yang terungkap dalam bantuan syafaat yang sangat kami butuhkan
ketika berdiri di pengadilan Tuhan.
Ya Fatimah, kami sampaikan doa dengan wasilah,
“Ya wajihatan ‘indallah, isfa’i lana ‘indallah”,
“Wahai yang mulia di sisi Allah, syafaatilah kami di sisi Allah”.
Kepada semua pecinta Fatimah,
Kami sampaikan “Selamat Hari Mahabbah
Semoga Allah mengekalkan cinta kita semua
kepada keluarga suci Nabi-Nya,
yang menebar hingga anak –cucu dan keturunan kita.”
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad!

CARA MELAWAN ORANG JAHIL DI MEDSOS

CARA MELAWAN ORANG JAHIL DI MEDSOS

IMG-20170205-WA0005.jpg

Masukkan keterangan

Ketika Yayasan Islam Abu Thalib Medan, mendapat kehormatan di kunjungi oleh Sayid Sami Khadra beserta istrinya, utusan Sayid Hasan Nasrullah dari Hizbullah Libanon, dan diadakan dialog dgn jamaah, terutama tentang perlawanan Hizbullah terhadap Israel, maka ada seorg jamaah yg bertanya, “Wahai Sayid, dlm perang melawan Israel kita melihat kawasan libanon selatan tempat Hizbullah bergerilya hancur porak poranda, banyak orang yang tewas, tetapi mengapa dikatakan hizbullah menang dan israel kalah?”

Dengan senyum lembutnya Sayid Sami Khadra menjawab, “Wahai saudaraku, ketahuilah bhwa bukan kita yg menyerang dan memulai perang dengan Israel, tetapi merekalah yg menyerang kita dan ingin menjajah kita, maka kita pun berjuang dgn segala kemampuan yg ada untuk mengusir mereka dari tanah libanon, dan akhirnya mereka dapat kita usir dan menggagalkan rencana mereka untuk menjajah kembali Libanon. Dengan demikian tujuan Israel untuk menguasai Libanon tidak tercapai dan tujuan kita mengusir dan mempermalukan mereka yang tercapai. Dengan ukuran ini maka kita adalah pemenangnya, sekalipun wilayah kita porak poranda. Lain kiranya kalau kita yang menyerang mereka maka kita akan buat wilayah mereka yg hancur lebur.”

Jawaban Sayid Sami adalah jawaban yg sangat jitu dan menukik pd substansi makna kalah dan menang. Kalah bukan diukur dari babak belur, tapi diukur dari tujuan dan target. Karena itu bagi kita yg sedang berjuang dalam membangun persatuan maka harus mengetahui target dan tujuan musuh-musuh kita, sehingga kita bisa menghambat dan menggagalkannya.

Kalau kita perhatikan tujuan musuh-musuh Islam adalah memecah belah barisan persatuan sehingga dengan mudah musuh-musuh akan menguasai kita. Dalam hal ini Nabi saw pernah bersabda, “Tidaklah suatu umat berselisih sepeninggal nabinya melainkan orang-orang jahat akan dengan mudah mengalahkan orang benar di antara mereka.” Ketika Belanda menjajah Indonesia mereka punya politik adu domba yang di sekolah-sekolah dikenal sbg politik “devide et impera”, pecah belah baru kuasai. Hasilnya Indonesia terjajah cukup lama.

Dan biasanya perpecahan itu dimulai dari perselisihan, dan perselisihan itu terjadi disebabkan orang-orang bodoh banyak komentarnya. Imam Ali as berkata, “Seandainya orang-orang jahil itu diam, niscaya manusia tdk akan berselisih.” Dan kelihatannya dengan adanya medsos, orang-orang jahil lebih mendapat peluang untuk ngomong di sana sini. Karenanya berhati-hatilah. Dan Alquran sudah memberikan wanti-wanti dan nasehat jika org jahil mengomentari status anda maka lakukanlah empat hal berikut ini :

1). Ucapkanlah “salam”.

“Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan mengejek), mereka mengucapkan, “salam,” (Al-Furqan 63)

2). Bersabar dan tinggalkan

“Dan bersabarlah (Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik.” (Al-Muzzamil 10)

3). Maafkan dan jangan pedulikan

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang jahil.” (Al-A’raf 199)

4). Jangan lagi bergaul dengan mereka

“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang buruk, mereka berpaling darinya dan berkata, “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amal kamu, salam bagimu, kami tidak ingin (bergaul) dengan orang-orang jahil.” (Al-Qashas 55)

Itulah empat strategi menghadapi orang jahil yang diajarkan Alquran kepada kita semua. Strategi yang top markotop. Semoga kita bisa mengamalkannya ketika berkecimpung di alam Maya media sosial atau di alam nyata ketika bersosial sehingga persatuan kaum muslimin tetap terjaga. (CR14)

SEUNTAI DOA MENYAMBUT DATANGNYA SANG RAJA

SEUNTAI DOA MENYAMBUT DATANGNYA SANG RAJA

Oleh : Candiki Repantu

1bb6efc4-8d46-482d-8bec-b81ffea38dafPro kontra kedatangan Raja Salman sebagai tokoh dibalik konflik Timur Tengah dan penyulut api peperangan menjadi perbincangan setiap saat di media sosial. Saya tak ingin terlibat pro kontra tersebut dalam analisis yang rumit dengan data-data yang valid. Biarlah itu jadi bagian teman-teman saya yang lebih ahli dalam urusan timur tengah seperti Mbak Dina Sulaeman. Saya hanya ingin mengajak Anda berdoa untuk keselamatan diri dan negara kita dari agenda lahir dan batin kunjungan tersebut. Sebuah Doa yang lahir dari hati suci dan lisan jernih ahlil bait Nabi saw.

Raja Salman yang merupakan pemimpin tertinggi di Kerajaan Saudi Arabia, penguasa dua tanah suci umat Islam (Mekah dan Madinah) dikabarkan akan rihlah (berkunjung) ke Indonesia yang merupakan negara dengan penganut Islam terbesar dan Nusantara dengan pemilik raja terbanyak. Kabarnya kedatangan ‘King of ‘King” ini dipusatkan untuk mengunjungi Jakarta dan Bali. Jakarta adalah pusat pemerintahan Indonesia dan Bali adalah pusat wisata Indonesia yang populer di dunia.

Kunjungan kenegaraan adalah hal yang biasa bagi suatu negara berdaulat seperti Indonesia. Dan Indonesia biasa pula dikunjungi oleh para pemimpin dunia. Tapi, kunjungan King Salman ke Indonesia cukup menyita perhatian publik dan media. Hal ini bukan saja karena ini kedatangan pertama pemimpin tertinggi penguasa dua tanah suci umat Islam (Mekah dan Madinah) setelah hampir setengah abad tak pernah mendatangi Indonesia, tetapi juga kedatangannya yang super ramai dan super mewah. Kabarnya Sang Raja akan datang dengan pesawat super mewah dikawal oleh 10 menteri, 25 pangeran, dan 1500 rombongan. Menginap di hotel super mahal yang konon harganya 73 juta/hari nya. Saya tidak pandai menghitung berapa biaya yang dihabiskan untuk kunjungannya. Apakah lebih mahal dari ganti rugi, para korban crane dalam ibadah haji yang katanya belum di bayar hingga kini. Ntahlahh.

Memang, kehidupan super mewah dan glamor para raja dan pangeran Arab Saudi bukan rahasia lagi. Mereka biasa tampil dengan menunjukkan kekayaan yang melimpah ruah dan pesta penikmat dunia. Mereka juga sering dipandang sebagai pengemas filantropi (kedermawanan) seiring dengan keganasan doktrin takfiri. Inilah wajah mereka yang mendunia. Adapun yang sangat rahasia sehingga nyaris tak diketahui publik dari para raja dan pangeran dua tanah suci ini adalah tentang keulamaannya atau karya intelektualnya. Dalam tradisi filsafat dikenal kaedah “Faqid as-syai’ la yu’thi”, yang tak punya takkan bisa memberi.

Dengan membandingkan dua fakta di atas silahkan anda simpulkan sendiri. Seorang teman berkomentar Raja Salman menjadi simbol kemuliaan “Islam pewaris dunia” yang terhormat. Artinya Islam tidak identik dengan kemiskinan. Tapi, pernyataan langsung disanggah oleh teman yang lain, bahwa dia adalah simbol “Pemimpin Islam pecinta dunia” yang terlaknat. Saya hanya diam menikmati mereka yang sedang berdebat. Hanya saja sebagai pengingat saya tuliskan sedikit ayat dan riwayat dari Ahlil Bait yang terhormat bagaimana bersikap dan berdoa ketika melihat para pemilik dunia menampakkan wajahnya.

Allah berfirman : “Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak menginginkan, kecuali kehidupan duniawi” (Q.S. an-Najm: 29)

Rasulullah saw bersabda :
“Barangsiapa mengagungkan ahli dunia dan mencintainya karena menginginkan dunianya, maka Allah murka kepadanya”

“Allah melaknat orang yang memuliakan orang kaya karena kekayaanya”. (Raysyahri, ad-Dunya wa al-Akhirah fi al-Kitab wa al-Sunnah, No. 789-790)

Imam Ali as berkata, “Aku peringatkan kalian akan dunia karena dunia bukan tempat kenikmatan. Ia telah berdandan dengan tipuan-tipuannya dan menipu dengan perhiasannya terhadap orang-orang yang memandangnya. Oleh karena itu, kenalilah ia dengan sebenar-benarnya.” (Raysyahri, ad-Dunya wa al-Akhirah fi al-Kitab wa al-Sunnah, No. 296)

Imam Ali as berkata, “Jangan merendahkan orang yang dimuliakan karena ketakwaannya, dan jangan mengagungkan orang yang dimuliakan karena keduniaannya” (Raysyahri, No. 793)

Imam Musa Kazhim as berkata, “Waspadalah terhadap dunia ini dan waspadalah terhadap ahli dunia”.(Raysyahri, No. 799)

Begitulah peringatan dari Allah, Nabi dan ahlilbait nya atas para pemilik dan pecinta dunia. Selain peringatan tersebut ada pula doa untuk menyambut para pemilik dunia jika kita melihatnya, mendatanginya atau didatanginya. Doa mulia ini diwariskan oleh Imam Ali Zainal Abidin As-Sajjad dalam kitabnya “Shahifah Sajjadiyah” dgn Nama Doa Ridha atas ketetapan Tuhan. Muhammad Raysyahri memasukkannya dalam “Doa Ketika Melihat Pemilik Dunia”.

Diriwayatkan, ketika melihat para pemilik keduniawian Imam Ali Zainal Abidin as memanjatkan doa sbb :

“Segala puji bagi Allah sebagai tanda keridhaan terhadap hukum Allah
Aku bersaksi bahwa Allah telah membagi kehidupan kepada hamba-hamba-Nya dengan adil
Dan menganugerahkan karunia-Nya kepada seluruh makhluk-Nya.

Ya Allah!
Limpahkan salawat kepada Muhammad dan keluarganya
Jangan Engkau uji diriku dengan apa yang Engkau berikan kepada mereka
Dan jangan Engkau uji mereka dengan apa yang tidak Engkau berikan kepadaku
Sehingga aku menjadi iri hati kepada makhluk-Mu dan menyesali ketentuan hukum-Mu.

Ya Allah!
Limpahkan salawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya
Tenangkan jiwaku dengan ketentuan-Mu
Luaskan dadaku dengan tonggak hukum-Mu
Kokohkan keyakinanku untuk mengakui
bahwa ketentuan-Mu tidak terjadi kecuali demi kebaikan
Jadikan syukurku kepada-Mu
Atas apa yang telah Engkau ambil dari diriku
Melebihi syukurku atas apa yang telah Engkau berikan kepadaku

Peliharalah aku dari berprasangka buruk kepada orang miskin
Dan menganggap mulia orang kaya
Karena sesungguhnya orang yang mulia
Adalah orang yang taat kepada-Mu
Dan orang yang agung
adalah orang yang rajin beribadah kepada-Mu

Maka limpahkan salawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya
Anugerahi kami dengan nikmatnya kekayaaan yang tidak pernah sirna
Kokohkan kami dengan kemuliaan yang tidak pernah punah
Dan bebaskan kami memasuki kerajaan yang abadi
Sesungguhnya Engkau Maha Esa, Maha Tunggal, dan tempat meminta
Yang tidak beranak dan tidak diperanakkan
Dan tidak ada satupun sekutu bagi-Mu.
(Raysyahri, ad-Dunya wa al-Akhirah fi al-Kitab wa al-Sunnah, No. 800; Imam Ali Zainal Abidin, Shahifah Sajjadiyah, doa ke-35)

Saat ini kita bisa melihat Raja Salman dengan parade kemewahannya sebagai pemilik dunia, karena itu alangkah baiknya jika kita baca doa ini untuk menyambut kedatangan Raja Salman as-Suudi. Yang tidak mau berdoa, cukup mengucapkan “amiin” saja…dan saya mohon maaf jika ada yg tersinggung hatinya.🙏🙏😉😀

PERSEMBAHAN UNTUK JASAD TANPA KEPALA

PERSEMBAHAN UNTUK JASAD TANPA KEPALA
Oleh : Candiki Repantu

Konrad Theodor Preusz berpendapat bahwa pusat dari sistem religi adalah ritus (ritual), dan ritus terpenting adalah ritus kematian. Kemudian, ritus kematian tidak hanya terbatas sampai penguburannya saja, tetapi juga pasca penguburannya, yang mana orang orang yang masih hidup senantiasa menyambungkan diri mereka dengan orang yang sudah meninggal melalui tradisi berkunjung secara periodik ke kuburannya. Inilah yang disebut ziarah kubur.

Berziarah dalam hal ini berarti menyucikan diri melalui hubungan baik dengan dunia gaib. Karena itu, ziarah ke makam suci haruslah dilakukan dalam rentang waktu tertentu (hari-hari suci tertentu). Ziarah menjadi ritual keagamaan (ritus), menjadi sesuatu yang suci/sakral (kudus), dan menampilkan komunitas pemujaan (kultus). Yang mana, kepercayaan pada yang kudus menuntutnya untuk diperlakukan secara khusus, baik tempat maupun waktunya.

Pada tempat dan waktu tertentu itulah, dilakukanlah aneka ritual untuk membangun hubungan antara alam dunia dengan alam gaib, antara yang profan dengan yang sakral. Sehingga ziarah kubur menjadi ritual yang diorganisir dalam waktu dan tempat khusus melalui sistem kepercayaan masyarakat. Pada kondisi ini, ziarah menemukan momentum pentingnya sebagai ritus suci dan kuburan menjadi tempat suci karena dihuni oleh manusia suci.

Henri Chambert Loir menghubungkan antara kultus orang suci dengan makam dan ritualnya. Menurutnya, kultus orang suci bagi kaum Muslimin merupakan kultus pada kuburan suci. Orang suci adalah individu yang karena kelahiran, bakat, atau melalui latihan rohani diberkati dengan kekuatan supernatural. Kekuatan supernatural ini dikonsentrasikan keberadaannya dan sekarang terletak di kuburannya. Itulah sebabnya, kultus orang suci dilaksanakan di kuburannya. Orang tidak berdoa bagi orang suci di rumah atau tempat lain, tetapi harus mengadakan perjalanan ke kuburan, demi sungguh hadirnya orang suci tersebut.

Kesadaran inilah yang ada di benak orang-orang yang berjalan jauh untuk berziarah ke kuburan Imam Husain as di Karbala pada yaumul arbain (hari ke empat puluh pasca wafatnya). Imam Husain adalah salah satu dari manusia suci dalam Islam khususnya mazhab syiah.

Mazhab syiah, dibandingkan dengan mazhab lainnya di dalam Islam, sangat terkenal mengkultuskan orang suci sebagai pemimpinnya. Imam-imam suci ini bagi masyarakat syiah bukan hanya pemimpin di dunia ini, tetapi juga di alam gaib. Mereka adalah perantara manusia untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Tidak ada beda antara hidup dan matinya. Sekalipun sudah meninggal, mereka tetap berkomunikasi dengan alam dunia dan menyaksikan perbuatan- perbuatan manusia. Karena itu tempat orang suci dikuburkan menjadi tempat yang diberkati. Oleh sebab itu, berziarah ke kuburan orang suci adalah tujuan penting. Dan salah satu pusat ziarah terpenting orang suci syiah adalah Karbala, Irak. Di sini dikuburkan Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib pasca mengalami pembantaian sadis oleh penguasa di zamannya.

Dengan kesadaran pentingnya ziarah, maka pembangunan fisik dan spiritualitas kompleks pekuburan orang suci menjadi urgen agar bisa menjadikan makam sebagai pusat kebudayaan yang tidak hanya memberikan nuansa mistis tetapi juga suasana ilmiah, politik, ekonomi, pendidikan dan tentu saja aroma cinta, sehingga akan terlihat hubungan antara manusia yang hidup dengan yang mati, di mana yang hidup dan yang sudah mati masih dapat “berdampingan” secara alami dan harmoni.

Satu hal yang menarik, dalam ziarah Arbain, ketika jutaan orang bergerak ke satu arah secara bersamaan dengan berjalan kaki sepanjang sekitar 80 km, banyak pula orang-orang yang melayani para peziarah dengan menyediakan makanan dan minuman. Orang yang ingin melayani peziarah terdiri dari berbagai kalangan tanpa memperhatikan lagi status sosial dan usianya. Mereka mempersiapkan minuman sepanjang jalan yang dilalui oleh para peziarah dan meminta setiap peziarah singgah untuk sekedar mencicipi air segar. Mereka yakin cicipan air para peziarah membawa berkah bagi kehidupan mereka. Mengapa air menjadi salah satu benda ritual penting dalam ziarah Arbain?

Ini bukan hanya soal bahwa peziarah yang berjalan kaki cukup jauh itu kehausan dan butuh minuman, tetapi air punya nilai historis dan teologis dalam ritual ziarah Arbain. Sebab, dulu Imam Husain as dan rombongannya membutuhkan air tetapi tidak ada yang menyediakannya. Kisah tragis pembantaian Abul Fadhl Abbas juga terjadi ketika ia berjuang mengambil air untuk keluarga Nabi saw. Begitu pula ketika Sayidah Zainab dan putri-putri Imam Husain melakukan ziarah Arbain pertama, dalam keadaan di tawan dan kekurangan air. Karena itu hari ini semua orang ingin menyediakan air untuk para peziarah Imam Husain as.

Jadi, air itu mengenangkan para peziarah pada duka Imam Husain yang kehausan di padang Karbala. Bahkan dalam salah satu pesan penting Imam Husain kepada semua pecinta sejatinya, yaitu “setiap kamu minum, ingatlah musibahku”.

Dikisahkan, sore hari pada 10 Muharram 61 H, Padang Karbala telah memerah karena tumpahan darah para syuhada Nainawa. Jasad Ali Akbar membujur kaku tersungkur dengan dada terbelah. Kedua tangan Abul Fadl Abbas tergeletak menjauh dari jenazahnya yang di sisinya ada gerabah air yang tertumpah. Tak ada lagi suara tangisan Ali Asghar yang kehausan karena sebatang anak panah telah menancap di tenggorokannya. al-Husain, Sang pemuda surga tersungkur karena tusukan tombak, panah dan pedang. Kepala sucinya sudah terpisah dari jasadnya dan ditancapkan di atas tombak manusia durjana. Beginilah nasib al Husain, putra Nabi yang mulia dan pusaka pengawal Alquran, dihinakan dan dibantai dengan kejam.

Ketika jasad-jasad mereka bergelimpangan tak dipedulikan, ruh mereka terbang menuju alam barzakh untuk bertemu Rasulullah saw, Imam Ali, dan Sayidah Zahra untuk melepas rindu sekaligus mengadu pilu. Hanya suara tangisan Zainab, Ruqayah, Atikah, Umum Kultsum, Fatimah, dan wanita-wanita para janda yang terdengar gemanya di antara hembusan angin sahara. Mereka keluar dari kemah untuk melihat apa yang terjadi pada jasad Al Husain cucu kesayangan Nabi saw. Sorot mata Zainab menatap tajam jasad-jasad syuhada Karbala, dan terpaku kaku ketika menyaksikan jasad Al Husain yang tanpa kepala tercabik-cabik dengan luka ada di sekujur tubuhnya. Zainab tertegun sesaat. Lalu ia menatap ke langit dan berkata dengan lirih :

Ya Allah, terimalah persembahan kurban kami semua.
Ya Muhammad, inilah Husain yang tersungkur di Karbala
Tubuhnya berlumur darah dan tercabik-cabik diinjak kuda.
Sementara para putri-putrinya tertawan dengan hina”

Bak kesurupan setan, pasukan Umar bin Saad, para durjana pecinta dunia ini menjarah harta keluarga nabi tanpa belas kasih. Mereka menarik dan merampas hijab para wanita suci Ahlulbait Nabi. Anting Fatimah dan Ummu Kulsum ditarik dengan kasarnya hingga robek telinganya. Perih yang tiada terkira. Tangisan sahut menyahut membuat semuanya larut dalam irama duka nestapa yang tak terkatakan pedihnya. Putri-putri Rasulullah saw dipaksa keluar tenda sambil menjerit histeris penuh ketakutan. Lalu tenda tempat berlindung mereka di bakar oleh tentara Umar. Para wanita ditawan dan digiring untuk dipersembahkan kepada penguasa durhaka di zamannya.

Sebelum arak-arakan tawanan ini berjalan, mendadak Sukainah berlari menuju jasad ayahnya. Ia peluk jasad Al Husain sambil menangis sedih menyayat hati. Dalam kesedihan yang mendalam , Sukainah pingsan tak sadarkan diri. Mendadak di telinganya terdengar suara ayahnya berbisik mengirimkan pesan kepada para pecintanya :

Syia’ti main syaribtum azbin fadzkuruni
aw sami’tum bigharabin aw syahidin fandubuni

“Wahai syiahku, saat kalian minum, ingatlah aku!
Atau jika kalian mendengar keterasingan atau kesyahidanku, ratapilah aku”

Sukainah selanjutnya juga mendengar rintihan-rintihan Imam Husain as sebagai berikut :

Aku adalah cucu Nabi
yang dibunuh tanpa ada dosaku
Dengan kuda mereka menginjak-injak diriku
Sekiranya kamu hadir dihari asyura dan melihatku
Bagaimana aku meminta air untuk putra kecilku
Tapi mereka tidak mengasihaniku
Bahkan, melontarkan anak panah menembus leher putraku
Sebagai ganti air segar untuk minumanku

Tragedi ini begitu memilukan
Sehingga berguncanglah kaki gunung Mekah yang berkilauan
Kecelakaan bagi mereka yang melukai hati rasul dan kemanusiaan
Wahai syiahku, laknatlah mereka pada setiap kesempatan.

Begitulah Imam Husain berpesan kepada kita orang orang mengaku sebagai syiah dan pecintanya melalui telinga Sukainah, Sang dewi Nainawa. Karena itu, ketika meneguk minuman yang segar, ingatlah bibir pecah Imam Husain yang menahan dahaga. Imam Ja’far Shadiq berkata, “Aku tidak pernah meminum air dingin kecuali aku mengingat Husain bin Ali”. Dalam riwayat lainnya Imam berkata, “Tidaklah seorang hamba ketika meminum air kemudian mengingat Imam Husain as lalu melaknat pembunuhnya kecuali dituliskan baginya seribu kebaikan dan dihapuskan darinya seribu keburukan”.

Mari minumlah air kita masing masing, mau air mineral, kopi, susu atau teh, tapi jangan lupa sambil mengenang derita al Husain dan ucapkan :

Allahummal’an qatalata al-Husain.
Fa la’anallahu man qatalak, wala’anallahu man dzalamak, wala’anallahu ummatan syami’at bidzalika faradhiyat bihi”

“Ya Allah laknatlah pembunuh al-Husain.
Semoga Allah melaknat pembunuh-pembunuhmu. Semoga Allah melaknat orang-orang yang menzalimimu. Semoga Allah melaknat orang yang mendengar (tragedi Karbala) lalu diam dan meridhainya”

Assalamu alal Husain
Wa ala Ali ibnil Husain
Wa ala auladil Husain
Wa ala ashabil Husain

☕☕
😭😭🌹🌹
Arbain 20/11/2016

ALQURAN DAN PARA “PECINTA” AHOK

ALQURAN DAN PARA “PECINTA” AHOK

Oleh : Candiki Repantu

Berhati-hatilah!! Perayu ulung dan pecinta sejati itu sama-sama mengucapkan kata-kata indah penuh cinta sehingga orang terlena dibuatnya, yang membedakan adalah motivasi dan tujuannya, karena itu Imam Ali pernah mengingatkan “Kalimat yang mengandung kebenaran tetapi bisa ditujukan untuk maksud kebatilan” (CR14)

—————-

Dengan sangat terpaksa saya harus menulis ini, karena ada pesan masuk untuk saya mendukung Ahok dan ada pula yang mengajak untuk mendemo Ahok. Saya juga tak ingin berdebat dgn bung Denny Siregar, karena perbedaan pilihan di antara kami. Beliau lebih bergairah dengan pahitnya kopi sedangkan saya lebih terpesona dgn manisnya teh. Juga sudah saya katakan bahwa saya tak akan memilih Ahok seperti dirinya. Untuk mendemo Ahok saya juga tak tertarik sama sekali, apalagi sambil pakai sorban dan jubah. Kenapa? Ini sudut pandang sosial-keagamaan saya.

Ketika terjadi perang Shiffin antara Imam Ali yg menjabat sbg khalifah yang sah dengan Muawiyah yang ingin merebut kekhalifahan, mendadak Muawiyah menampilkan Alquran di tengah-tengah medan pertempuran dan menuntut diadakannya arbitrase (tahkim). Imam Ali menegaskan bahwa penggunaan Alquran hanyalah akal bulusnya Muawiyah yg sudah nyaris mengalami kekalahan, karena itu Imam Ali menghimbau utk melanjutkan perang.

Namun, sebagian kelompok yg berada di  barisan Imam Ali meminta agar perang dihentikan, dan biarlah Alquran menjadi hakim di antara kedua belah pihak. Imam Ali mengingatkan bahwa Alquran yang dibawa Muawiyah adalah kertas bisu, sedangkan dirinya Alquran yg berbicara. Dalam hal ini Imam Ali ingin menegaskan bahwa Alquran bisu itu bisa saja ditafsirkan sesuka hati, dan tidak bisa membela diri.

Singkat cerita karena desakan yang kuat dari kelompok khawarij, maka arbitrase pun dilakukan. Tapi hasilnya merugikan Imam Ali karena terjadi manipulasi. Maka kaum Khawarij pun merasa bahwa arbitrase itu tidak sesuai dgn Alquran dan mereka berbalik memusuhi Imam Ali, dengan meneriakkan yel-yel  “Laa hukma illa lillah” (tidak ada hukum selain hukum Allah)

Tidak hanya sampai disitu, mereka juga memandang bahwa orang orang yang terlibat dalam peristiwa tersebut telah menodai agama dan hukum Allah swt, shg kelompok khawarij ini pun mencap kafir semua orang yang terlibat dalam arbitrase tsb karena tidak berhukum dgn hukum Allah sebagaimana ditegaskan Alquran, “Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka dia adalah kafir”. Menyikapi hal ini Imam Ali pun berkomentar “Kalimat yang mereka katakan mengandung kebenaran tetapi ditujukan untuk maksud kebatilan“.

Imam Ali ingin mengatakan bahwa ayat itu benar tapi digunakan utk maksud yang batil. Untuk menipu umat, utk mengaburkan fakta, dan lain lain. Dalam hal ini, Imam Ali as mengajarkan kpd kita suatu prinsip penting yang belakangan banyak dibahas oleh pakar-pakar komunikasi, bahwa dalam komunikasi kita tidak hanya memperhatikan ucapan atau perbuatan seseorang, tetapi penting juga memahami maksud atau tujuan si pelaku. Jangan menilainya  dari teksnya saja, tetapi harus menilainya dari motivasi atau tujuan penyampainya.

Clifford Geertz, dalam Interpretative of Culture pernah menyampaikan bagaimana suatu perkataan atau perbuatan bisa ditafsirkan sedemikian rupa tergantung pemahaman budayanya. Jika ada seorang pria mengedipkan sebelah matanya kepada seorang wanita, apa yang anda pikirkan?  Anda berpikir orang itu sakit mata,  atau anda akan menafsirkan bahwa orang itu ingin menggoda wanita. Itulah maksud pelaku mengedipkan matanya.

Misalnya lagi, Ketika sepasang kekasih  berduaan di malam hari yang dingin, dan si wanita berbisik lembut, “Abang, dingin kali malam ini terasa”. Tentu anda akan tertawa, jika si pria itu mengeluarkan alat pengukur suhu kemudian mengatakan “Iya, adik benar! malam ini memang dingin karena suhunya di bawah 10 derajat celcius”. Sebab, anda membayangkan si pria semestinya menangkap maksud dibalik perkataan si wanita itu bahwa ia sebenarnya perlu dihangatkan, dengan memberikan jaket misalnya atau buatkan teh hangat, atau menghangatkan dgn cara lainnya. Silahkan anda imajinasikan sendiri..!

Mari kita lihat contoh yang melibatkan Alquran. Dalam Alquran ada ayat yang berbunyi “Laa taqrabu hadzihis sajarah”, “Jangan dekati pohon ini” dan Ustadz Quraish Shihab menyampaikannya dalam program Tafsir al-Misbah di Metro TV. Tentu tidak ada masalah. Tapi bayangkan jika seorang juru kampanye di atas mimbar sambil menunjuk pada lambang Partai Golkar yg kebetulan bergambar pohon, kemudian berkata Allah berfirman “Laa taqrabu hadzihis sajarah”, “Jangan dekati pohon ini”. Apakah sama maksud dan tujuan Ustadz Quraish Shihab dgn Ustadz jurkam tsb? Apakah Ustadz jurkam itu bermaksud membacakan kisah Nabi Adam as menurut Alquran? atau bermaksud agar orang tidak memilih partai Golkar dgn menggunakan ayat Alquran? Silahkan jawab sendiri, kura-kura dalam perahu, tulisan jelek jangan dicaci.

Sekarang, dalam suasana pilkada DKI ada orang membacakan ayat “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin…(Q.S. Al-Maidah: 51)”. Apa kira kira maksudnya? Apakah orang tersebut sedang mengajak anda belajar tafsir Alquran? atau sedang menyerukan jangan pilih Ahok dgn menggunakan ayat Alquran?

Sebab kalau memang orang orang yang mengaku penjaga agama itu ingin menegaskan ajaran Islam yang  melarang mengangkat non muslim sbg pemimpin, maka para pendemo yg menolak Ahok tentu juga harus membacakan ayat itu di Papua, Bali, Maluku, Nusa Tenggara, Nias, Tobasa, Simalungun, Tapanuli Utara dan lainnya di wilayah Indonesia yang pemimpinnya atau kandidatnya banyak non muslim. Demo lah di Papua dan katakan anda tak menerima Gubernur Kristen. Demo lah di Bali dan katakan kami tak menerima di pimpin Gubernur Hindu. Atau berdemolah di Nias, Tobasa, Simalungun, Tarutung, dan tempat lainnya dan katakan kami menolak dipimpin Bupati Kristen. Kami tak ingin mematuhinya. Apakah anda punya nyali?

Begitu pula, ketika saya membaca tulisan para pendemo yg menyebutnya sebagai “Aksi Bela Islam”, ini perkataan yang benar tapi apakah memang perkataan itu dimaksudkan demikian? Apakah maksudnya ingin membela Islam? Atau maksudnya ingin menggagalkan Ahok jadi Gubernur?? Entahlah, anda jawab aja sendiri ya! yg penting kura kura dalam perahu, tulisan jelek jangan di caci.

Faktanya mereka berdemo karena ada omongan Ahok yang tidak mereka sukai yg dipandang menghina Islam dan Alquran. Emangnya Ahok ngomong apa? Terpaksa deh saya mendengarkan ocehan Ahok di kepulauan seribu itu. Nih dia ocehan Ahok sbb :

Jadi gak usah pikirin nanti kalau gak kepilih pasti Ahok programnya bubar. Gak! Saya sampai oktober 2017. Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa aja di hati kecil bapak ibu gak bisa milih saya, dibohongi pake surat al-Maidah 51 dan macem macem gitu”. 

Bagaimana kita memaknai ocehan Ahok tsb? Apakah kita akan melihat teksnya saja bahwa dalam ocehannya Ahok mengatakan “dibohongi pake surat al-Maidah 51” atau kita lebih memperhatikan konteksnya, motivasinya dan tujuan Ahok mengatakan demikian?

Saya lebih memilih memahami tujuan atau motivasi Ahok dari pada teks kalimatnya. Saya yakin  Ahok mengatakan itu bukan dengan maksud menghina Alquran atau menghina Islam, tetapi Ahok bermaksud mengajak orang orang untuk tetap memilih dirinya sbg gubernur DKI dan jangan percaya dengan  orang yang membawa Al-Maidah 51 yang pada dasarnya bertujuan menjegal dirinya utk jadi Gubernur, bukan sedang mengajarkan agama atau tafsir Alquran.

Jadi maksud Ahok adalah bahwa “bapak ibu semestinya memilih saya dengan semua program yang sudah saya kerjakan dan bapak ibu rasakan, dan jangan termakan isu agama sekalipun mereka bawa-bawa Alquran”. Artinya ketika ada orang menggunakan penafsiran Alquran dgn maksud menjegal Ahok jadi Gubernur, maka Ahok pun berusaha menolak tafsir Alquran yang diarahkan untuk mengganjal dirinya.

Singkatnya, dengan memperhatikan suasana pilkada DKI, yang terjadi saat ini adalah politisasi agama. Demo yang dilakukan pada dasarnya bukanlah soal membela Islam atau membela Alquran, tapi soal mengusung dan menggusur kandidat yang ada, yaitu soal siapa yang diinginkan utk memimpin Jakarta: Ahok-Agus-atau Anis.

Sekali lagi ingat pesan Imam Ali as “Kalimat yang dikatakan mengandung kebenaran tetapi ditujukan untuk maksud kebatilan”….Prinsip yang di ajarkan Imam Ali ini penting agar kita tidak terjebak dalam permainan teks dan melupakan konteksnya.

Lantas siapa yang punya maksud kebatilan dalam hal ini?? Apakah Ahok atau para pendemo dan orang yang mengaku penjaga agama?? Entahlah, saya tak tahu, boleh jadi tulisan ini pula yg mengandung maksud kebatilan, yang penting saya ingatkan anda “Kura kura dalam perahu, tulisan jelek jangan di caci”

Salam damai Indonesia!

CR14

SABAR YA!

SABAR YA!

Seorang penjual daging datang kepada Imam Ali as. Dengan semangat dia menawarkan daging dengan kualitas super. Imam menjawabnya, “Aku tidak memiliki uang”. Si penjual berkata, “Aku akan bersabar menantinya.” Dia memberi kesempatan kepada imam untuk berhutang dan boleh membayar kapan saja. Namun Imam Ali berkata, “Aku pun akan bersabar untuk tidak memakan daging.”

Kisah singkat ini memberikan pelajaran betapa keluarga Rasulullah selalu mengalahkan keinginannya dengan kesabaran. Tidak pernah memaksa diri untuk memenuhi keinginan saat tidak mampu membelinya. Padahal beliau mampu untuk berhutang. Jadi Imam Ali as menasehati dirinya sendiri dengan menegaskan “Sabar ya wahai diri dari nikmatnya daging itu!”

Berapa banyak manusia yang dikejar-kejar karena tak mampu membayar hutang? Berapa banyak keluarga yang hancur karena pasangan yang selalu memaksa diri untuk mendapatkan sesuatu yang tak mampu dibeli? Apalagi dengan maraknya barang-barang yang serba kredit. Hanya dengan uang kecil mampu membeli barang yang mahal. Kemudian dia akan kebingungan di setiap bulannya.

Kita harus mendidik keluarga untuk belajar bersabar. Belajar untuk tidak memaksa diri memenuhi semua keinginan. Belajar untuk tidak iri kepada orang lain. Belajar untuk hidup sesuai dengan kemampuannya. Karena tanpa kesabaran, masalah akan semakin bertumpuk tanpa ada solusi. Karena itu kalau lagi jalan-jalan terutama di pusat perbelanjaan sering-seringlah mengucap dalam hati “Sabar ya, barang itu belum kita butuhkan!”.

Suatu hari ada seorang ibu yang menangis karena putranya meninggal. Imam membiarkan dia menangis karena wajar seorang ibu menangis saat ditinggal orang yang dia cintai. Namun tangisan itu semakin menjadi-jadi disertai umpatan yang buruk. Seakan dia tidak terima dengan ketentuan Allah ini.

Akhirnya imam menasehatinya dengan berkata, “Jika kamu bersabar maka anakmu tetap akan meninggal dan engkau mendapatkan pahala. Namun jika kamu gelisah dengan berbagai umpatanmu itu, anakmu tetaplah tidak bisa hidup dan kamu akan berdosa.” Jadi mana yang lebih baik sabar dan berpahala atau mengumpat dan berdosa yang hasilnya sama : anaknya tetap meninggal dunia.

Artinya, saat kita mendapat musibah lalu berteriak menyalahkan sana sini, bukan berarti musibah itu akan berubah. Teriakan dan umpatan itu tidak akan merubah apapun. Namun jika kita bersabar, itu sudah membuka pintu jalan keluar. Setelah hati mulai tenang, barulah kita mulai mencari jalan keluar karena Allah selalu bersama orang yang sabar. “Tetapi jika kamu bersabar, itu lebih baik bagimu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (An-Nisa’ 25). Karena itu jangan bosan menasehati orang-orang dengan kalimat singkat yang sakti itu: “Sabar ya!” karena Tuhan mencintai orang orang yang sabar. (CR14, liputanislam.com)

SALAM IDUL FITRI

hussain-font

Assalamualikum wr. wb
Bismillah…Allahumma Shalli ala Muhammad wa aali Muhammad

Saya sekeluarga dan Semua Keluarga Besar Yayasan Islam Abu Thalib Medan mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H. Semoga amal ibadah kita semua diterima oleh Allah swt. Mohon maaf lahir dan batin.

Songsong lebaran di idul fitri
Lebarkan hati beri maaf setiap diri
Tak ada dendam, tak simpan benci
Semua damai dihari suci
Dengan berkah dan rahmat ilahi
Salam persatuan syiah dan sunni
Demi majunya peradaban di bumi pertiwi

Wassalam
Candiki Repantu
Yayasan Islam Abu Thalib Medan

FREEDOM FOR PALESTINE

13511032_612806722216386_8166556493608140730_n

(Solidaritas Untuk Rakyat Palestina)

Dengan Pekikan ALLAHUAKBAR Rakyat Palestina Tua, muda, Anak-anak bahkan wanita menantang Pasukan Zionis Israel dengan hanya membawa Batu dan Kayu tetapi mereka tidak akan mundur sedikitpun meski mereka harus menghadapi pasukan dengan senjata lengkap dan tentu  nyawa menjadi Taruhan tapi aksi menentang kekejaman Zionis Israel tak akan pernah berhenti.

Kondisi objektif membuktikan bahwa aksi pendudukan Israel terhadap Tanah Palestina mendapat dukungan penuh Amerika Serikat (USA) sehingga Israel dengan semena-mena menganeksasi Tanah Palestina dan membentuk negara Ilegal dan mereka ngotot meski dunia Internasional jelas-jelas menolak aksi sepihak Israel, dan perilaku keras kepala Israel seringkali menyebabkan pelanggaran HAM BERAT sayangnya Amerika dan Israel selalu saja luput dari pengadilan HAM Internasional.

13590524_612806838883041_6172066765652122212_n

Indonesia semenjak periode Presiden Sukarno selalu konsisten membela Hak-Hak rakyat Palestina dan menolak keberadaan Negara Israel dan pernah menggagas dukungan kemerdekaan Palestina dalam KAA 1955. Dan sebagai elemen masyarakat yang peduli dengan Nasib Palestina maka Kami mendukung perjuangan Palestina dan mendorong Pemerintah RI agar lebih aktif lagi di berbagai forum untuk memperjuangkan Hak-Hak rakyat Palestina dan dengan ini Kami menyatakan sikap “Mendukung perjuangan Bangsa Palestina”

Maka Dari itu Kami menyatakan sikap sebagai berikut :

  1. Mengutuk dengan keras aksi-aksi Israel terhadap Tanah palestina seperti Penutupan Masjidil Aqsa, pembangunan Pemukiman di Tanah Palestina, dan pembagunan tembok raksasa.
  2. Mengutuk Amerika Serikat (USA) yang selalu membelaa Israel dengan mengabaikan rasa kemanusiaan sebab Israel selalu membunuh Rakyat palestina dan jelas-jelas melanggar HAM.
  3. Mendukung penuh Setiap perjuangan rakyat palestina dalam membentuk Negara Palestina yang merdeka Penuh tanpa intimidasi Israel.
  4. Mendorong kepada Pemerintah RI agar lebih aktif menuntut PBB agar mengadili Israel di Makamah Internasional atas semua pelanggaran HAM berat atas kekerasan terhadap Rakyat Palestina.

Komite Reforma Agraria (KRA),  Yayasan Islam Abu Thalib Sumut (YIATSU), Partai Rakyat Demokratik (PRD), Forum Bersama Keluarga (FBK) 65, Persatuan Pedagang Buku Lapangan Merdeka (P2BLM), Serikat Mahasiswa Demokrasi (SMAD), GARDA ASURA, DaUN Indonesia, PBHI, Pergerakan Indonesia (PI)