PELAJARAN 2 : JENIS-JENIS DAN HUKUM AIR

IMG_20180116_085043

A. JENIS-JENIS AIR

➡ Air adalah alat utama untuk menyucikan diri baik dari najis maupun hadas. Selagi masih ada air dan tidak ada halangan menggunakannya, maka tidak boleh bersuci dengan alat lain.

➡ Namun tidak semua air dapat digunakan untuk menyucikan diri atau benda dari najis dan hadas. Hanya air-air tertentu dengan syarat-syarat tertentu yang dapat digunakan sebagai alat bersuci.

➡ Secara umum air dibagi menjadi dua jenis yaitu :

1. Air Mutlak yang dibagi pada tiga jenis yaitu :
a. Air Hujan (yang tercurah dari langit)

b. Air Mengalir (yang terpancar dari bumi) seperti air sumur, sungai, laut, air PAM.

c. Air tergenang (yang ditampung dalam suatu wadah). Air tergenang ini dibagi dua lagi yaitu : Air banyak dan air Sedikit

2. Air Mudhaf yaitu
– Air buah-buahan sepeti air kelapa
– Air yang dicampur benda lain sepeti teh, kopi, dll.

Kedua jenis air ini memiliki aturan hukum sendiri yang berbeda.

B. HUKUM AIR MUTLAK

➡ Air mutlak adalah air yang tetap pada keasliannya tanpa ada campuran benda lain dan bukan hasil dari perasan buah-buahan atau sejenisnya, sehingga orang hanya menyebutnya air saja tanpa tambahan sesuatu yang lain.

➡ Air Mutlak ini dibagi pada tiga jenis yaitu :
1. Air Hujan (tercurah dari langit)
2. Air Mengalir (terpancar dari bumi)
3. Air tergenang (terkumpul dalam wadah)

➡ Ketiga jenis air mutlak di atas, secara umum dihukumi suci dan dapat digunakan untuk menyucikan sesuatu yang terkena najis atau menyucikan hadas, baik hadats kecil maupun hadats besar.

➡ Air yang sebelumnya diketahui sebagai air mutlak dan tidak diketahui apakah telah menjadi air Mudhaf (air campuran) atau tidak, maka dihukumi air mutlak, dan bisa digunakan untuk bersuci dari hadas dan najis.

➡ Tolok ukur untuk pemberlakuan air mutlak adalah opini masyarakat umum (urf). Karenanya, jika suatu air memiliki kekentalan tertentu dikarenakan memiliki kandungan garam, maka tetap dihukumi air mutlak.

➡ Air yang tidak diketahui sebagai air suci atau air najis, maka dihukumi suci.

➡ Air yang awalnya diketahui sebagai air suci, kemudian diragukan kenajisannya, maka dihukumi air suci.

➡ Tapi air yang awalnya diketahui sebagai air yang bernajis, kemudian diragukan kesuciannya, maka dihukumi air najis.

➡ Air musta’mal (air sisa yang sudah terpakai) untuk bersuci dari hadas kecil maupun besar (dipakai wudhu atau mandi wajib), dihukumi suci dan bisa dipakai untuk bersuci.

C. HUKUM AIR MUDHAF

➡ Air Mudhaf adalah air yang tidak bisa lagi disebut air karena telah bertambah sifat lainnya, sehingga kita tidak bisa lagi menyebutnya air saja, tetapi harus disebut pula sesuatu yang menjadi tambahannya tersebut.

➡ Air Mudhaf ini bisa bisa di bagi pada dua jenis :

1. Air yang dihasilkan oleh perasan buah atau sejenisnya, seperti air semangka, air jeruk, air kelapa.

2. Air yang asalnya air mutlak tapi kemudian bercampur dengan sesuatu yang lain seperti air gula, air garam, air kopi, air teh, dan lainnya.

➡ Air Mudhaf hukumnya suci tetapi tidak dapat digunakan untuk bersuci dari najis dan hadas (suci tapi tidak menyucikan). Ini berarti air Mudhaf bisa diminum tetapi tidak bisa misalnya digunakan untuk istinja’, wudhu, mandi.

➡ Membersihkan suatu benda yang terkena najis dengan air Mudhaf tidak sah dan batal baik dengan disiramkan atau di benamkan ke dalamnya.

➡ Air yang sebelumnya diketahui air mudhaf dan tidak diketahui (diragukan) apakah telah menjadi mutlak atau tidak, maka air tersebut tetap dihukumi air Mudhaf.

➡ Air Mudhaf meskipun jumlahnya banyak, yaitu mencapai satu kurr (384 liter) atau lebih, jika terkena najis sekecil apapun najisnya maka akan menjadi air yang bernajis, meskipun tidak berubah rasa, bau dan warnanya. (CR14)

Iklan

HADIS MAKSUMIN : ENAM AMALAN PENDATANG BERKAH

IMG_20180116_080926

. قَالَ اْلاِمَامُ اَمِيْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلِىٌّ (ع): جَاءَ رَجُلٌ اِلَى النَّبِىِّ صَلىَ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ: فَقَالَ عَلِّمْنِى عَمَلاً يُحِبُّنِىْ اللهُ تَعَالَىْ عَلَيْهِ وَيُحِبُّنِىْ الْمَخْلُوقُونَ، وَيُثْرِىَ اللهُ مَالِى وَيُصِحًّ بَدَنِى وَيُطِيْلُ عُمْرِى وَيَحْشُرُنِىْ مَعَكَ، قَالَ: هَذِهِ سِتُّ خِصَالِ تَحْتَاجُ اِلَى سِتِّ خِصَالٍ: اِذَا أَرَدْتَ أَنْ يُحِبَّكَ اللهُ فَخِفْهُ وَاتَّقِهِ، وَاِذَا اَرَدْتَ اَنْ يُحِبَّكَ الْمَخْلُوقُوْنَ فَاَحْسِنْ إِلَيْهِمْ وَارْفِضْ مَافِىْ اَيْدِيْهِمْ، وَاِذَا أَرَدْتَ أَنْ يُثْرِىَ اللهُ مَالَكَ فَزَكِّهِ، وَاِذَا اَرَدْتَ أَنْ يُصِحَّ اللهُ بَدَنَكَ فَاَكْثِرْ مِنَ الصَّدَقَةِ، وَاِذَا اَرَدْتَ اَنْ يُطِيْلَ اللهُ عُمْرَكَ فَصِلْ ذَوِى أَرْحَامِكَ، وَاِذاَ أَرَدْتَ أَنْ يَحْشُرَكَ اللهُ مَعِى فَاطِلِ السُّجُوْدَ بَيْنَ يَدَىِ اللهُ الْوَاحِدِ الْقَهَارِ. {سفينة البحار/1/599}.

“Imam Ali as berkata, “Seorang lelaki datang kepada Rasulullah saw dan berkata: ‘Ajarilah aku suatu amalan yang membuat aku dicintai oleh Allah dan para makhluk, Allah memperkaya aku, menyehatkan badanku, memperpanjang umurku dan mengumpulkan aku di padang mahsyar bersamamu’.

Rasulullah saw kemudian bersabda : “Permintaanmu terhadap enam perkara memerlukan kepada enam perkara pula :

Bila engkau ingin dicintai Allah, takutlah kepada-Nya dan bertaqwalah.

Bila engkau ingin dicintai para makhluk, berbuat baiklah kepada mereka, dan berputus asalah dari harta mereka.

Bila engkau ingin diperkaya dalam harta, maka zakatilah harta bendamu.

Bila engkau ingin disehatkan badanmu, maka perbanyaklah sodaqoh.

Bila engkau ingin diperpanjang umur, maka bersilaturrahmi kepada keluargamu.

Bila engkau ingin dikumpulkan bersamaku di padang mahsyar maka perpanjanglah sujudmu kepada Allah yang Maha esa dan Maha Perkasa.”

(Safinah Al-Bihar 1/ 599).

 

PELAJARAN 1 : THAHARAH

Screenshot_2018-01-12-10-35-48-037_com.opera.mini.native

Kata thaharah berasal dari bahasa Arab yang artinya bersih dan suci. Thaharah ini adalah salah satu perintah Allah SWT baik bersifat zahir (material) maupun batin (spiritual).

Bersuci secara zahir berarti menyucikan tubuh atau jasad kita atau benda-benda lainnya dari berbagai kotoran yang disebut khabats (najis) ataupun bersuci dari hadas. Sedangkan bersuci secara batin berarti mensucikan diri kita dari sifat-sifat tercela, akhlak yang rendah maupun dosa-dosa. Kedua kesucian ini memiliki keterkaitan erat untuk mengantarkan manusia pada kesempurnaan dirinya.

Menyucikan diri secara zahir adalah dengan menggunakan air atau benda lain yang dibenarkan dengan cara tertentu seperti istinja’, membersihkan najis, wudhu, mandi, dan tayamum. Penyucian ini disebut dengan thaharah di dalam ilmu fikih.

Sedangkan menyucikan batin tentu saja dengan mengamalkan yang diperintahkan Allah dan menjauhi larangan-Nya, berakhlak mulia, membersihkan hati dari sifat-sifat tercela. Penyucian batin ini umumnya disebut dengan istilah tazkiyah an-nafs yang banyak diulas dalam ilmu Irfan/tasauf atau ilmu akhlak.

Pada kesempatan ini kita hanya membahas thaharah dalam perspektif Fikih Ahlul Bait (Mazhab Syiah) sebagaimana tersimpul di dalam berbagai kajian ilmu fikih dan fatwa para ulama Syiah (hanya saja dalam pembahasan di sini akan disesuaikan dengan fatwa-fatwa Sayid Ali Khamenei).

Dalam Alquran maupun hadis banyak perintah untuk bersuci. Misalnya, Allah berfirman :

Dan Dia menurunkan kepada kalian air dari langit untuk menyucikan kalian dengannya” (Q.S. al-Anfal : 9).

“Dia lah Allah yang mengirimkan angin sebagai kabar gembira akan rahmat-Nya dan Kami turunkan dari langit air yang suci” (Q.S. al-Furqan : 48).

Begitu pula Rasulullah Saw bersabda, “Bersuci adalah bagian dari keimanan”. Beliau juga bersabda, “Tidak akan diterima salat tanpa bersuci”.

Imam Ali as berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan air itu suci dan tidak menjadikannya najis”.

Imam Ja’far as berkata, “Sesungguhnya semua air itu suci kecuali yang engkau ketahui bernajis”.

Dari ayat dan riwayat di atas kita bisa pahami bahwa bersuci pada dasarnya menggunakan air. Karena itu perlu diketahui hukum-hukum air yang digunakan dalam bersuci. (ATN)

KAJIAN FIKIH IBADAH MAZHAB SYIAH

IMG_20180112_100803

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma shalli ala Muhammad wa aali Muhammad

Salam kepada pembaca setia http://www.abuthalib.wordpress.com.

Untuk memenuhi beberapa kebutuhan dan permintaan akan pengetahuan tentang praktek ibadah yang detil dalam Mazhab AB, maka pada kesempatan ini, admin akan menurunkan serangkaian tulisan berseri tentang “Kajian Fikih Ibadah : Perspektif Mazhab Ahlul Bait”.

Kajian fikih ibadah ini akan disesuaikan dengan Fatwa Sayid Ali Khamenei hf, dan disampaikan secara bertahap. Semoga bermanfaat. Mohon doa dan dukungannya selalu.

Silahkan ikuti terus berbagai tulisan di dalam website ini untuk menambah wawasan dan meningkatkan kesadaran beragama dalam perbedaan dan menjaga persatuan. (ATN)

Ttd

Abu Thalib

MENERIAKKAN KEMBALI SUARA GAIB AYATULLAH NIMR

Oleh : Candiki Repantu

FB_IMG_1515064175918

Kita jalani kehidupan di muka bumi sebagai orang yang merdeka, atau kita mati terkubur di perut bumi, sebagai orang yang mulia”. (Ayatullah Nimr)

 

02 Januari 2016, tanah Arab menjadi saksi sejarah yang abadi, bahwa di tanahnya yang suci telah tertumpah darah hamba yang mulia, Ayatullah Nimr Bagir an-Nimr, seorang ulama syiah yang di eksekusi oleh Rezim Saudi sebagai konsekuensi dari tuntutannya pada keadilan dan gugatannya atas tirani raja-raja Saudi.

Eksekusi Ayatullah Nimr dan 46 teroris al-Qaida adalah agenda politik Saudi dalam rangka mengukuhkan koalisi anti terorisme yang baru saja dibentuknya. Tapi Saudi tidak sadar bahwa apa yang dilakukannya terhadap Ayatullah Nimr adalah kekeliruan fatal, karena semakin membuka kedoknya sendiri. Kalau Saudi hanya mengeksekusi gembong-gembong al-Qaida maka itu strategi yang jitu untuk menaikkan pamornya di dunia Islam, sebab al-Qaida dengan gerakan kekerasannya memang telah memiliki stempel teroris di seluruh dunia.

Namun, Ayatullah Nimr sebagai seorang ulama yang mengedepankan kritik sosial dan tuntutan keadilan sesuai dengan nalar agama dan demokrasi tentu memberikan stigma negatif atas posisi Saudi. Sebab Ayatullah Nimr hanya memainkan peran intelektualnya. Tidak masuk akal bagi seorang ulama untuk mendiamkan kezaliman yang ada di depan matanya. Ayatullah Nimr merasa memiliki tanggungjawab, berdasarkan kedudukannya, untuk membimbing masyarakatnya dan membangkitkan kehormatan mereka. Dan ia rela serta sadar bahwa apa yang dilakukannya mempunyai resiko pengorbanan darahnya. Seperti Imam Husian panutannya, kematian bagi Ayatullah Nimr adalah suatu keindahan dan panggilan ilahi, dalam perjuangan meraih tujuan yang lebih tinggi.

Dulu, 10 Muharram 61 H, suara gaib Imam Husain menggema dari Sahara Karbala,

Kuserahkan segenap jiwa dan raga
Dalam perang suci membela agama
Lebih baik mati daripada hidup terhina
Jika masih hidup aku tak kecewa
Dan jika mati aku tak akan tercela”

Dan suara gaib Imam Husain ini disambut oleh Ayatullah Nimr di sahara Arabia,

Kita jalani kehidupan di muka bumi
Sebagai orang yang merdeka
Atau kita mati terkubur di perut bumi,
Sebagai orang yang mulia”

Maka, tragedi eksekusi dirinya, membuat suara gaib Ayatullah Nimr semakin kuat membangkitkan masyarakat dari tidur nyenyaknya, yang akan memobilisasi perubahan dan dapat menjadi titik awal revolusi menggulingkan tirani Saudi. Tidak berlebihan kalau orang-orang menjadikan suara gaib Ayatullah Nimr sebagai pelanjut suara gaib al-Husain untuk menyingkap kebobrokan penguasa zamannya yang kematiannya menjadi titik tolak perlawanan yang menggulingkan para penindas berkedok agama.

Unsur kesyahidan dalam tragedi ini jelas memiliki daya tarik kuat bagi kawasan Arab dan gerakan Islam (khususnya syiah) yang menentang tatanan mapan kezaliman. Tragedi eksekusi Ayatullah Nimr menjadi suntikan semangat dalam ideologi perlawanan (muqawwamah).

Lihatlah, pasca syahidnya Ayatullah Nimr, suara gaibnya membuat pergolakan besar di mana-mana, baik secara sembunyi maupun terbuka, di dunia nyata maupun di dunia maya, yang ingin menggulingkan penguasa Arabia. Gerakan Islam revolusioner di Timur Tengah semakin menemukan momentumnya serta memberikan inspirasi besar bagi aktivitas politik di manapun berada. Arab Saudi dalam setahun ini mengalami berbagai krisis dan berbagai rancangannya porak-poranda.

Max Weber pernah mengajukan tesisnya, adakalanya ideologi dan kepemimpinan kharismatik menempatkan suatu zaman tertentu sebagai titik tolak kriteria untuk menilai dan melakukan perubahan. Pemimpin yang kharismatik bertipe begini memandang dirinya bukan saja sebagai orang yang merombak tradisi yang ada, tapi untuk menghidupkan kembali tradisi lama yang pernah ada. Sederhananya, peristiwa syahadah yang terjadi pada waktu tertentu, di tempat tertentu, dapat dijadikan sebagai acuan dalam gerakan kapanpun dan di manapun.

Melalui pergerakan dan misi sucinya, suara gaib dari darah Ayatullah Nimr, melintasi sahara panas Arabia menebar ke seantero jagat raya, senantiasa hidup di setiap aliran darah dan denyut nadi para pejuang keadilan dan disambut oleh umat dengan keteguhan hati dan kesucian iman, siap hadir menghirup aroma wangi darah syuhada ini.

Jelasnya, perjuangan keadilan Ayatullah Nimr tidak bisa hanya dilihat dari sisi lahiriahnya saja, tetapi juga harus dilihat sebagai misi ilahiah, yang memiliki dimensi spiritual dan mistis dalam setiap langkahnya. Memang suara gaib Ayatullah Nimr telah membangkitkan konservatisme Arab sebab Ayatullah Nimr adalah “syiah-Arab”, dari keluarga yang berpengaruh di Arab. Namun, perjuangan Ayatullah Nimr bukan merupakan perjuangan yang memiliki batas-batas geografis di Saudi saja. Bukan pula sebagai perjuangan terbatas dalam sekat-sekat mazhab, bahkan bukan pula dalam sekat-sekat keagamaan, namun ini adalah perjuangan seluruh dimensi kemanusiaan dalam ruh ketuhanan.

Sebagai seorang pejuang keadilan, suara gaib Ayatullah Nimr dari tubuhnya yang berlumuran darah akan mampu membangkitkan emosi yang paling dalam, senantiasa di kenang dan hidup sepanjang zaman dalam setiap aliran darah dan tarikan nafas para insan revolusioner, sehingga semangat jiwa yang menyala-nyala menjadikan perasaan sakit, bahaya dan kematian menyusut menjadi perkara kecil yang tak perlu ditakutkan.

Suara gaib Ayatullah Nimr ini, menjadi momen bangkitnya heroisme Islam, yang mana bila timbul situasi yang menuntut pengorbanan, setiap orang akan berperasaan sebagai syahid yang dengan sukarela akan mengikuti teladannya yang heroik. Kepribadian luhur dan kematian heroik Ayatullah Nimr telah membangkitkan emosi terdalam jutaan umat Islam. Seluruh dunia dibangkitkan kembali. Bila umat Islam tanpa terkecuali (baik syiah maupun sunni) meneriakkan kembali suara gaib ini, dan para ulama menyampaikan dan memanfaatkan luapan emosi yang sangat besar ini untuk membawa ruh manusia melangkah seirama dengan ruh Ayatullah Nimr maka kita akan melihat wajah Saudi yang berbeda dari hari ini. Labbaika ya Nimr. (CR14)

MENJEMPUT KHADIJAH-KHADIJAH “ZAMAN NOW”

Oleh : Dr. Salamuddin Elsalamy, MA.

FB_IMG_1508725990372

Siapa yang tidak kenal dengan ummul mukminin Khadijah. Ia merupakan istri dari seorang Nabi, ibu rumah tangga dan pengusaha muslimah sukses di zamannya. Khadijah dinikahi Muhammad Saw dengan usia terpaut 15 tahun. Karakternya luar biasa, inner beauty-nya memancar, auranya hidup, mandiri, tangguh dan memesona setiap lelaki di seantero jazirah Arabia.

Namun sepertinya, sebagai seorang wanita cerdas dan matang secara emosional, ia memiliki kriteria tersendiri dalam menentukan pasangan hidup. Baginya, hal itu bukan hanya soal biologis, tetapi terkait ideologis. Fisik hanya salah satunya, yang terpenting dari itu adalah psikis. Itu ada pada Muhammad saw. Karyawannya itu, selain sempurna secara fisik, juga berkarakter paripurna, berpandangan futuris, ulet, tangguh, jujur dan cerdas, dan kelak jadi Nabi dan Rasul.

Tidak mudah dan bukan kualitas orang biasa yang bisa mencuri perhatian makhluk Tuhan paling sempurna di alam semesta. Nabi dan Rasul terakhir dan dinobatkan sebagai pemegang panji ‘rahmat bagi sekalian alam’. Disini berlaku teori kepantasan (kufu) dalam tradisi Islam. Dituntut upgrade personal tingkat tinggi sehingga frekuensinya bersambung dengan subjek, dimensinya bisa ditembus, sinyalnya connect, dan akhirnya menyatu dalam sebuah hubungan paling sakral, pernikahan. Khadijah mampu melakukan itu, dan menjadikan dirinya pantas untuk dicintai, disayangi dan dipersunting oleh Muhammad saw, tokoh yang paling berpengaruh di dunia menurut Michael Hart.

Pernikahan sejatinya dalam Islam adalah menyatunya perasaan (sama rasa), pikiran (visi dan misi), gerak dan langkah, dan lain-lain sehingga menghasilkan keluarga yang sakinah (rukun), mawaddah (bertabur cinta) dan rahmah (menyemai kasih sayang).

Pada keluarga yang seperti ini lah visi dan misi besar bisa diwujudkan. Agenda-agenda agung dapat disusun. Rencana-rencana strategis bisa dijalankan. Terbukti bahwa Khadijah dapat memainkan perannya dengan baik. Ia menjadi istri, teman, sahabat, bahkan “ibu” bagi Nabi Muhammad Saw.

Khadijah sebagai istri ideal tercermin pada pujian Rasulullah Saw kepadanya dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, ‘Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkariku, dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, dia mengorbankan hartanya untukku ketika orang-orang memboikotku, dia melahirkan anak-anak untukku, ketika aku diharamkan mendapatkan anak dari yang lain’.

Loyalitas adalah kata kunci dari keagungan khadijah sebagai wanita muslimah. Mendukung penuh apa pun yang diinginkan dan dilakukan Nabi Saw. Memahami visi dan misinya dengan baik dan menerapkan serta memperjuangkannya. Mengorbankan segalanya tanpa berhitung dan takut miskin, dan memberikan kado terbaik demi kebahagiaan suaminya, yaitu anak-anak yang saleh dan saleha.

Sejarah menjelaskan, bahwa sebelum menikah dengan Nabi, Khadijah adalah salah seorang yang terkaya di jazirah Arabia. Bisnisnya di semua bidang, ia importir dan eksportir handal, dan propertinya ada di mana-mana. Wajar, saat menikah dengan Nabi, maharnya saja 100 ekor unta, dan belum termasuk pesta dan lain-lainnya.

Akan tetapi, semua kekayaan yang dimikinya ludes dan habis membantu perjuangan Nabi, hingga akhirnya tidak memiliki apa-apa dan hidup dengan sangat sederhana. Suatu waktu Nabi bersandar di pangkuannya dan tertidur. Sambil menatap dan membelai jenggot yang mulai beruban, air mata Khadijah menetes tepat ke mata Nabi.

Sontak, Nabi terbangun dan bertanya, “Wahai kekasihku, kenapa bersedih? Apakah karena tak tahan dengan perjuangan ini? Apakah karena kita sudah tidak memiliki apa-apa lagi? Atau apakah saya telah membebani jalan hidupmu?”

Lalu, Khadijah menjawab, “Tidak ya Rasulullah, tangisku tidak lebih karena sayang dan cintaku kepadamu, percayalah, dalam perjuangan ini semuanya akan saya korbankan. Hingga seandainya dirimu akan menyeberangi sebuah sungai dan tidak ada jembatannya, maka aku siap dan rela menjadi jembatannya, demi perjuangan ini sayang.”

Potret loyalitas yang beradab tercermin pada apa yang ditampilkan Khadijah. Sesuai fitrah penciptaan manusia, pria dan wanita adalah pasangan, bukan saingan. Pasangan perlu bekerjasama dengan loyal sehingga tujuan yang diinginkan tercapai. Sisi rasional dan emosional berpadu dan melahirkan loyalitas dalam ikatan cinta yang dibangun Khadijah dan Muhammad sehingga melahirkan kekuatan dahsyat yang pada saatnya menaklukkan dunia.

Sisi lainnya adalah, bahwa bersama pria hebat selalu ada wanita hebat. Bersama Adam as ada Hawa, bersama Sulaiman as ada Balqis, dan bersama Muhammad Saw ada Khadijah. Mungkin itulah maksud ungkapan yang menyatakan, bahwa wanita adalah tiang negara, baik dan tidaknya wanita menentukan nasib negara.

Keluarga yang terdiri dari pria dan wanita adalah satuan terkecil dari himpunan sebuah negara. Potretnya mempengaruhi dan menentukan nasib suatu bangsa. Dengan demikian, jika ingin melihat kemajuan atau kemunduran sebuah negara maka cukup dengan melihat bagaimana potret dari keluarga-keluarga yang ada di negara tersebut.

Wajar jika Allah dan malaikat Jibril berkirim salam kepada Khadijah. Wanita terbaik sepanjang masa ini telah memainkan peran dan kiprahnya dengan sempurna. Bahkan Aisyah sebagai istri termuda sangat cemburu ketika Nabi sering memuji-mujinya walau telah tiada. “Wanita terbaik sepanjang sejarah adalah Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, dan Asyiah istri Fir’aun,” begitu sabda Nabi Saw.

Dengan demikian, wanita-wanita masa kini perlu banyak belajar kepada Khadijah. Sehingga perjuangan Islam menemukan kekuatannya, dan generasi-generasi bangsa ini tumbuh dengan cerdas dan berakhlak karena dibelai dan dididik oleh tangan-tangan terampil seperti Khadijah. Fa’tabiru!

ADA APA DENGAN IRAN?

Oleh : Dina Sulaeman

IMG_20180101_092640

Selamat tahun baru, teman-teman. Sebenarnya, tahun baru ini ingin istirahat dulu, tidak banyak menulis di medsos karena sedang banyak kerjaan di ‘dunia nyata’.

Tapi melihat ZSM hore-hore mengomentari demo di Iran, saya merasa perlu nulis juga deh. Apalagi banyak yang bertanya-tanya juga, apa yang sebenarnya terjadi? Yang saya tulis ini, infonya dari media-media Iran. Kenapa kok bukan BBC atau CNN? Lha kalau itu kan Anda sudah baca? Biasanya orang membaca tulisan saya karena ingin mendapatkan versi anti-mainstream kan?

Langsung saja. Begini, setiap tanggal 30 Desember (dalam kalender Iran, ‘9 Dey’) warga Iran di berbagai kota berdemo untuk mengenang peristiwa 30 Desember 2009. Istilahnya, “Demo 9 Dey”.

Pada tanggal itu, pemerintah Iran resmi menyatakan bahwa upaya kudeta yang dilakukan kelompok Mir Mousavi sejak Juni 2009 sudah gagal total. Mir Mousavi adalah kandidat presiden, lawan dari Ahmadinejad. Gaya kampanyenya mirip-mirip kelompok tertentu di Indonesia, “Kalau saya sampai kalah, artinya ada kecurangan!”

Eh, ternyata dia benar-benar kalah. Dengan segera, ia menuduh ada kecurangan. Pemerintah AS pun –anehnya (atau “pantas saja”) langsung bersuara seragam dengan Mousavi, “Kami tidak mengakui hasil pilpres Iran!” Pengakuan atau penolakan AS jelas tidak berefek apapun. Ahmadinejad tetap jadi Presiden Iran untuk periode kedua.

Mir Mousavi lalu menggalang aksi-aksi demo yang anarkis, sampai membakar sebuah TK, masjid, dan akibatnya korban jiwa berjatuhan. Media massa dunia saat itu pun heboh sekali, seperti sekarang ini.

Prof James Petras dari AS menulis, “Media Barat berpegang pada reporternya yang meliput langsung demonstrasi kaum oposan di Iran, namun mereka mengabaikan demosntrasi balasan yang lebih besar lagi, yang dilakukan oleh pendukung Ahmadinejad. Lebih buruk lagi, media Barat mengabaikan komposisi sosial para pelaku demonstrasi. Mereka mengabaikan fakta bahwa Ahmadinejad meraih dukungan dari kaum pekerja miskin, petani, tukang, dan pekerja publik, yang jumlahnya jauh lebih banyak dari kaum oposan yang datang dari kalangan mahasiswa kelas (ekonomi) menengah ke atas, kaum bisnismen, dan kaum professional.”[1]

Tapi akhirnya, gerakan yang meniru-niru “Revolusi Berwarna” ala Balkan (di Iran, mereka menggunakan simbol warna hijau) ini bisa ditaklukkan secara resmi pada 30 Desember 2009.

Nah, tanggal 30 Desember 2017, demo memperingati “kemenangan sistem” kembali digelar. Persiapan dan sosialisasinya sudah berlangsung jauh-jauh hari, sehingga warga memang sudah siap demo.

Tapi, tanggal 28 Desember (Kamis) tiba-tiba muncul demo di kota Mashad (disusul di beberapa kota lain). Sebagian peserta demo adalah orang-orang yang mengira ini rangkaian demo “9 Dey”. Tapi sebagian yang lain memang berdemo untuk memprotes kondisi ekonomi yang semakin sulit.

Perlu diketahui, akibat embargo luar biasa dari AS, Iran kesulitan memajukan perekonomiannya. Selain itu, Presiden Rouhani (dia ini presiden dari kubu ‘reformis’ yang lebih disukai Barat dan memang punya kecenderungan untuk berbaik-baik dengan Barat) memang payah kinerja ekonominya. Harga-harga pangan di Iran semakin naik, berbagai subsidi dikurangi, dan nilai tukar ke dollar juga terus jatuh.

Sama sekali tidak aneh bila warga berdemo memprotes pemerintah, menuntut perbaikan ekonomi. Di negara-negara lain demo seperti ini dianggap biasa kan?

Cuma, yang aneh adalah ketika Trump pada Januari 2017 mengambil kebijakan rasis, melarang orang Iran masuk ke AS; tapi di Desember 2017 tiba-tiba ia berkata, “AS berdiri bersama rakyat Iran.”

Yang aneh adalah ketika ditemukan demonstran bersenjata, serta provokator-provokator yang ternyata berpaspor ganda. Ada sekitar 50 orang ditahan oleh polisi Iran karena kasus ini.

Yang aneh adalah ketika BBC dan CNN mengambil posisi “terdepan mengabarkan” [atau mengaburkan?]. Kedua media ini yang paling masif mengulang-ulang narasi ‘rakyat Iran berdemo menginginkan pergantian rezim’. Meski tetap berusaha sok ‘cover both side’ dengan mencantumkan kalimat “Sebagian besar informasi tentang apa yang sedang terjadi bertebaran di media sosial, sehingga sulit untuk mengkonfirmasinya”, namun kalimat ini tenggelam di tengah banjir disinformasi yang mereka lakukan. [2]

Yang mengikuti konflik Suriah, akan sangat-sangat familiar dengan gaya reportase ala BBC dan CNN ini.

Selain itu, persis seperti Suriah, tweet-tweet yang ‘memberitakan’ sikon di dalam negeri justru lebih banyak berbahasa Inggris, dikirim dari luar negeri.

Dan terakhir, perlu dicatat: tanggal 30 Desember 2017, “Demo 9 Dey” tetap berlangsung, jauh lebih masif, diadakan di 1200 titik di seluruh penjuru Iran. Foto-foto yang dirilis media Iran memperlihatkan lautan manusia membanjiri jalanan. Dan spanduk yang mereka bawa bertuliskan: Marg Bar Amrika, Marg Bar Inggilis, Marg Bar Fitnegar (matilah Amerika, matilah Inggris, matilah para pembuat konspirasi). [lihat foto di kolom komen paling atas]

Apakah demo masif pro-sistem ini diberitakan dengan proporsional oleh BBC dan CNN (dan kawan-kawannya, termasuk media-media Indonesia yang selama ini memang hanya copas-terjemah dari media Barat?). Tentu tidak.


[1]https://dinasulaeman.wordpress.com/2009/06/23/kebohongan-kecurangan-pemilu-oleh-prof-james-petras/

[2] https://www.tempo.co/bbc/629/iran-dilanda-demo-anti-pemerintah-aksi-kekerasan-mulai-terjadi

NB: Karena sistem pemerintahan Iran unik, perlu saya jelaskan: saat saya menulis demo memprotes ‘pemerintah’, maka yang dimaksud adalah ‘eksekutif’, yaitu Presiden dan timnya. Seperti saya bilang, Rouhani memang payah kinerja ekonominya, jauh beda dengan era Ahmadinejad. Tapi, ketika saya sebut ‘demo pro-sistem”, artinya demo mendukung sistem Pemerintahan Islam [tidak peduli siapa presidennya]. Sebaliknya, ketika media Barat menyebut “rakyat Iran menghendaki perubahan rezim”, yang mereka maksud adalah “perubahan sistem” [dari pemerintahan Islam ke pemerintahan liberal].

Untuk memahami struktur pemerintahan Iran, baca tulisan saya: “Sistem Demokrasi Ala Iran” https://dinasulaeman.wordpress.com/2013/11/01/sistem-demokrasi-ala-iran-demokrasi-tangan-tuhan/
==========================

*Sumber: Fanpage Dina Sulaeman https://www.facebook.com/DinaY.Sulaeman/posts/382487412177520?comment_id=382492132177048&notif_id=1514770663537436&notif_t=feed_comment.