volume I

PLURALISME AGAMA DAN MAZHAB

Oleh: Mukhtar Luthfi

Sejarah dan Makna Pluralisme Agama

Istilah pluralisme agama pertama kali muncul di Barat pada abad ke-12 dimasa Yohanes Damasyki. Akan tetapi, pada saat itu, istilah pluralisme ini belum popular. Hingga akhirnya pada tahun 1854 pusat gereja Katolik mengeluarkan statement resmi bahwa selain agama Kristen, hanya Islam (agama di luar Kristen) yang tidak meyakini ketuhanan Isa al-Masih dinyatakan memiliki muatan kebenaran. Sedangkan yang lainnya tidak. Keputusan ini mendapat protes keras dari John Hick dengan membuat pernyataan mengapa hanya satu agama saja? Bukankah agama yang lain pun memiliki hak yang sama? Bukankah setiap pengikut agama jika mengikuti suara tulus hati nurani (fitrah) mereka tidak termasuk kategori pendosa? Sebab itu, John Hick memandang perlu adanya pengakuan gereja atas agama-agama semuanya, tanpa terkecuali. Kritik John Hick atas pandangan gereja inilah yang membidani lahirnmya pemikiran baru tentang konsep pluralisme  agama yang kemudian

dalam istilah teologi dikenal dengan revolusi copernicus.

Plural dari sisi bahasa berarti beragam. Istilah ini— sebagaimana banyak istilah lain dalam ranah sosial, politik, filsafat dan teologi—di produksi Barat. Pengadopsian terhadap istilah dan pemikiran ini terjadi melalui interaksi antara Barat dengan pemikir dan intelektual negara-negara dunia ketiga.

Dalam filsafat agama, secara terminologis pluralisme diartikan sebagai keyakinan akan kebenaran semua agama yang ada. Selain dalam hal agama, pluralisme juga memasuki wilayah sosial, pluralisme budaya, dan pluralisme etika.

Pluralisme sosial diartikan sebagai penyesuaian terhadap berbagai pandangan dan keyakinan lain secara normal dengan mengedepankan jiwa toleransi. Pluralisme budaya berarti pengakuan akan kebenaran semua budaya yang ada dan penafian dominasi budaya tertentu. Sedangkan pluralisme etika merupakan paham akan relatifitas norma-norma etika dan penafian atas tolok ukur yang bersifat konstan dalam menentukan norma-norma etika yang ada. Meskipun terdapat perbedaan jika ditinjau dari sisi fungsinya, namun terdapat kesamaan antara semua bentuk pluralisme, yakni keyakinan akan relativitas epistemologis. Dari sini muncullah konsekuensi keyakinan bahwa segala bentuk parameter, rujukan dan penafsiran yang tetap dan tunggal mesti dinafikan.

Menurut Bapak pluralisme agama, John Hick, keyakinan keagamaan masyarakat dalam kaitannya dengan hubungan antar penganut agama lain (atau mazhab) terbagi atas tiga kelompok. Pertama, ekslusivisme yang meyakini bahwa hanya terdapat satu agama yang memiliki muatan kebenaran. Dengan meyakini agama yang satu tersebutlah manusia akan mendapat kebahagiaan dan keselamatan sejati. Karl Barth, Emil Brunner dan Hendrik Kraemer, diantara para teolog protestan yang mewakili pemikiran ini. Mereka menyatakan hanya pada al-Masih, Tuhan mempunyai penjelmaan utuh. Oleh karenanya hanya melalui Kristiani manusia akan mendapat penjelmaan mutlak Tuhan.

Kedua, pluralisme, yang secara umum mengandung makna pengakuan kebenaran atas semua agama, dimana setiap agama dapat menghantarkan pengikutnya menuju kepada kebahagiaan dan keselamatan sejati. Ketiga, inklusivisme yang seakan menjadi gabungan antara eksklusivisme dan pluralisme. Mereka meyakini hanya ada satu agama yang memiliki kapasitas kebenaran dan dapat menjamin para pengikutnya untuk mendapatkan kebahagiaan abadi, akan tetapi perlu pula disadari bahwa kasih saying dan pertolongan Tuhan mencakup semua pengikut agama-agama yang ada meskipun ajaran agama yang benar belum mereka dapatkan atau bahkan sama sekali belum mereka dengar. Diantara penggagasnya adalah Karl Rahner (teolog Katolik) tentang teori Anonymous Christians bagi yang berbuat kebaikan tetapi tidak memeluk agama Kristen.

Pemikiran eksklusivisme dianggap sebagai kendala yang menghalangi terwujudnya ketentraman dan perdamaian antar umat beragama. Ya, walaupun inklusivisme dalam beberapa hal sama seperti apa yang diyakini ekslusivisme, namun keyakinan akan cakupan kasih Tuhan itulah yang menyebabkan mereka masih dapat hidup tentram dan damai bersama para penganut ajaran agama/mazhab lain. John Hick sebagai dedengkot pluralisme menolak dengan tegas kedua pemikiran tersebut (eksklusivisme dan inklusivisme). Dia menyatakan, ”berpikiran inklusivisme saja tidak cukup, harus ada pengakuan akan kebenaran agama-agama lain”.

Telaah Terhadap Pluralisme

Jika dilihat realita kehidupan masyarakat, keberadaan agama dan mazhab dengan berbagai bentuknya merupakan fenomena yang tidak dapat dipungkiri. Berangkat dari sini, para intelektual agama diharuskan memberikan pandanganya atas keberadaan berbagai agama dan mazhab tadi, sehingga jelas reaksi apa yang bakal dilakukan oleh penganut agama yang bersangkutan atas penganut agama lain. Di sisi lain, dapat dilihat bahwa pengetahuan dan pemahaman para intelektual agama (rohaniawan) dalam memahami konteks agama sangat beragam, yang akhirnya muncul berbagai pertanyaan yang menjurus pada relativitas pemahaman dan bermuara pada relativitas kebenaran.

Jika ditelusuri, sebenarnya ada dua bentuk pluralisme, yaitu pluralisme eksternal agama dan pluralisme internal agama. Pluralisme eksternal agama ialah keyakinan akan kebenaran semua agama, baik dalam kapasitas yang sama maupun berbeda. Sedangkan pluralisme internal agama adalah keyakinan akan kebenaran semua sekte/mazhab dalam satu agama tertentu, dimana letak perbedaan antar sekte/mazhab adalah disebabkan oleh perbedaan penafsiran (hermeneutika) terhadap teks dan konteks agama. Pluralisme internal agama muncul akibat keyakinan akan kebenaran semua bentuk penafsiran, walaupun satu sama lain secara zhahir saling bertentangan. Hal itu, untuk menghindari terjadinya pertikaian antar pengikut sekte/mazhab dalam kehidupan bermasyarakat.

Kedua bentuk pluralisme di atas (internal dan eksternal) memiliki beberapa kemungkinan pengertian yang berbeda. Pertama, pluralisme diartikan sebagai pandangan atas agama/mazhab sebagai satu hakikat namun dengan berbagai rupa dan bentuk. Kedua, pluralisme diartikan sebagai esensi hakikat memiliki berbagai bentuk yang terjelma dalam berbagai agama/mazhab. Ketiga, Pluralisme diartikan bahwa hakikat terdiri dari berbagai unsure yang masing-masing dari unsure yang ada tersimpan dalam sebuah agama/mazhab. Keempat, pluralisme diartikan sebagai saling menghormati antar pengikut umat beragama/ bermazhab, toleransi social antar umat beragama/bermazhab.

Tentu saja, antara konsep dan praktek memiliki hubungan yang sangat erat. Masing-masing arti dari empat alternative pemahaman di atas sangat berpengaruh pada sikap pribadi pemilik konsep. Singkat kata, setiap arti apapun yang dipilih pada empat pengertian di atas masing-masing memiliki konsekuensi logis yang berpengaruh pada prilaku manusia. Kesalahan dalam memahami konsep pluralisme agama akan menyebabkan kesalahan dalam bertindak. Jika pluralisme diartikan sebagai pengakuan akan kebenaran setiap agama, atau tercecernya kebenaran, ataupun adanya gradasi kebenaran, maka hal itu akan memunculkan berbagai paradoks dalam logika seseorang. Akal sehat manusia tidak akan bisa menerima bahwa dua hal yang saling bertentangan sama-sama benar. Ketika dijumpai dua ajaran yang saling kontradiksi, mustahil keduanya dihukumi benar. Wallahu a’lamu bi al-shawab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: