MENERIAKKAN KEMBALI SUARA GAIB AYATULLAH NIMR

Oleh : Candiki Repantu

FB_IMG_1515064175918

Kita jalani kehidupan di muka bumi sebagai orang yang merdeka, atau kita mati terkubur di perut bumi, sebagai orang yang mulia”. (Ayatullah Nimr)

 

02 Januari 2016, tanah Arab menjadi saksi sejarah yang abadi, bahwa di tanahnya yang suci telah tertumpah darah hamba yang mulia, Ayatullah Nimr Bagir an-Nimr, seorang ulama syiah yang di eksekusi oleh Rezim Saudi sebagai konsekuensi dari tuntutannya pada keadilan dan gugatannya atas tirani raja-raja Saudi.

Eksekusi Ayatullah Nimr dan 46 teroris al-Qaida adalah agenda politik Saudi dalam rangka mengukuhkan koalisi anti terorisme yang baru saja dibentuknya. Tapi Saudi tidak sadar bahwa apa yang dilakukannya terhadap Ayatullah Nimr adalah kekeliruan fatal, karena semakin membuka kedoknya sendiri. Kalau Saudi hanya mengeksekusi gembong-gembong al-Qaida maka itu strategi yang jitu untuk menaikkan pamornya di dunia Islam, sebab al-Qaida dengan gerakan kekerasannya memang telah memiliki stempel teroris di seluruh dunia.

Namun, Ayatullah Nimr sebagai seorang ulama yang mengedepankan kritik sosial dan tuntutan keadilan sesuai dengan nalar agama dan demokrasi tentu memberikan stigma negatif atas posisi Saudi. Sebab Ayatullah Nimr hanya memainkan peran intelektualnya. Tidak masuk akal bagi seorang ulama untuk mendiamkan kezaliman yang ada di depan matanya. Ayatullah Nimr merasa memiliki tanggungjawab, berdasarkan kedudukannya, untuk membimbing masyarakatnya dan membangkitkan kehormatan mereka. Dan ia rela serta sadar bahwa apa yang dilakukannya mempunyai resiko pengorbanan darahnya. Seperti Imam Husian panutannya, kematian bagi Ayatullah Nimr adalah suatu keindahan dan panggilan ilahi, dalam perjuangan meraih tujuan yang lebih tinggi.

Dulu, 10 Muharram 61 H, suara gaib Imam Husain menggema dari Sahara Karbala,

Kuserahkan segenap jiwa dan raga
Dalam perang suci membela agama
Lebih baik mati daripada hidup terhina
Jika masih hidup aku tak kecewa
Dan jika mati aku tak akan tercela”

Dan suara gaib Imam Husain ini disambut oleh Ayatullah Nimr di sahara Arabia,

Kita jalani kehidupan di muka bumi
Sebagai orang yang merdeka
Atau kita mati terkubur di perut bumi,
Sebagai orang yang mulia”

Maka, tragedi eksekusi dirinya, membuat suara gaib Ayatullah Nimr semakin kuat membangkitkan masyarakat dari tidur nyenyaknya, yang akan memobilisasi perubahan dan dapat menjadi titik awal revolusi menggulingkan tirani Saudi. Tidak berlebihan kalau orang-orang menjadikan suara gaib Ayatullah Nimr sebagai pelanjut suara gaib al-Husain untuk menyingkap kebobrokan penguasa zamannya yang kematiannya menjadi titik tolak perlawanan yang menggulingkan para penindas berkedok agama.

Unsur kesyahidan dalam tragedi ini jelas memiliki daya tarik kuat bagi kawasan Arab dan gerakan Islam (khususnya syiah) yang menentang tatanan mapan kezaliman. Tragedi eksekusi Ayatullah Nimr menjadi suntikan semangat dalam ideologi perlawanan (muqawwamah).

Lihatlah, pasca syahidnya Ayatullah Nimr, suara gaibnya membuat pergolakan besar di mana-mana, baik secara sembunyi maupun terbuka, di dunia nyata maupun di dunia maya, yang ingin menggulingkan penguasa Arabia. Gerakan Islam revolusioner di Timur Tengah semakin menemukan momentumnya serta memberikan inspirasi besar bagi aktivitas politik di manapun berada. Arab Saudi dalam setahun ini mengalami berbagai krisis dan berbagai rancangannya porak-poranda.

Max Weber pernah mengajukan tesisnya, adakalanya ideologi dan kepemimpinan kharismatik menempatkan suatu zaman tertentu sebagai titik tolak kriteria untuk menilai dan melakukan perubahan. Pemimpin yang kharismatik bertipe begini memandang dirinya bukan saja sebagai orang yang merombak tradisi yang ada, tapi untuk menghidupkan kembali tradisi lama yang pernah ada. Sederhananya, peristiwa syahadah yang terjadi pada waktu tertentu, di tempat tertentu, dapat dijadikan sebagai acuan dalam gerakan kapanpun dan di manapun.

Melalui pergerakan dan misi sucinya, suara gaib dari darah Ayatullah Nimr, melintasi sahara panas Arabia menebar ke seantero jagat raya, senantiasa hidup di setiap aliran darah dan denyut nadi para pejuang keadilan dan disambut oleh umat dengan keteguhan hati dan kesucian iman, siap hadir menghirup aroma wangi darah syuhada ini.

Jelasnya, perjuangan keadilan Ayatullah Nimr tidak bisa hanya dilihat dari sisi lahiriahnya saja, tetapi juga harus dilihat sebagai misi ilahiah, yang memiliki dimensi spiritual dan mistis dalam setiap langkahnya. Memang suara gaib Ayatullah Nimr telah membangkitkan konservatisme Arab sebab Ayatullah Nimr adalah “syiah-Arab”, dari keluarga yang berpengaruh di Arab. Namun, perjuangan Ayatullah Nimr bukan merupakan perjuangan yang memiliki batas-batas geografis di Saudi saja. Bukan pula sebagai perjuangan terbatas dalam sekat-sekat mazhab, bahkan bukan pula dalam sekat-sekat keagamaan, namun ini adalah perjuangan seluruh dimensi kemanusiaan dalam ruh ketuhanan.

Sebagai seorang pejuang keadilan, suara gaib Ayatullah Nimr dari tubuhnya yang berlumuran darah akan mampu membangkitkan emosi yang paling dalam, senantiasa di kenang dan hidup sepanjang zaman dalam setiap aliran darah dan tarikan nafas para insan revolusioner, sehingga semangat jiwa yang menyala-nyala menjadikan perasaan sakit, bahaya dan kematian menyusut menjadi perkara kecil yang tak perlu ditakutkan.

Suara gaib Ayatullah Nimr ini, menjadi momen bangkitnya heroisme Islam, yang mana bila timbul situasi yang menuntut pengorbanan, setiap orang akan berperasaan sebagai syahid yang dengan sukarela akan mengikuti teladannya yang heroik. Kepribadian luhur dan kematian heroik Ayatullah Nimr telah membangkitkan emosi terdalam jutaan umat Islam. Seluruh dunia dibangkitkan kembali. Bila umat Islam tanpa terkecuali (baik syiah maupun sunni) meneriakkan kembali suara gaib ini, dan para ulama menyampaikan dan memanfaatkan luapan emosi yang sangat besar ini untuk membawa ruh manusia melangkah seirama dengan ruh Ayatullah Nimr maka kita akan melihat wajah Saudi yang berbeda dari hari ini. Labbaika ya Nimr. (CR14)

Iklan

ADA APA DENGAN IRAN?

Oleh : Dina Sulaeman

IMG_20180101_092640

Selamat tahun baru, teman-teman. Sebenarnya, tahun baru ini ingin istirahat dulu, tidak banyak menulis di medsos karena sedang banyak kerjaan di ‘dunia nyata’.

Tapi melihat ZSM hore-hore mengomentari demo di Iran, saya merasa perlu nulis juga deh. Apalagi banyak yang bertanya-tanya juga, apa yang sebenarnya terjadi? Yang saya tulis ini, infonya dari media-media Iran. Kenapa kok bukan BBC atau CNN? Lha kalau itu kan Anda sudah baca? Biasanya orang membaca tulisan saya karena ingin mendapatkan versi anti-mainstream kan?

Langsung saja. Begini, setiap tanggal 30 Desember (dalam kalender Iran, ‘9 Dey’) warga Iran di berbagai kota berdemo untuk mengenang peristiwa 30 Desember 2009. Istilahnya, “Demo 9 Dey”.

Pada tanggal itu, pemerintah Iran resmi menyatakan bahwa upaya kudeta yang dilakukan kelompok Mir Mousavi sejak Juni 2009 sudah gagal total. Mir Mousavi adalah kandidat presiden, lawan dari Ahmadinejad. Gaya kampanyenya mirip-mirip kelompok tertentu di Indonesia, “Kalau saya sampai kalah, artinya ada kecurangan!”

Eh, ternyata dia benar-benar kalah. Dengan segera, ia menuduh ada kecurangan. Pemerintah AS pun –anehnya (atau “pantas saja”) langsung bersuara seragam dengan Mousavi, “Kami tidak mengakui hasil pilpres Iran!” Pengakuan atau penolakan AS jelas tidak berefek apapun. Ahmadinejad tetap jadi Presiden Iran untuk periode kedua.

Mir Mousavi lalu menggalang aksi-aksi demo yang anarkis, sampai membakar sebuah TK, masjid, dan akibatnya korban jiwa berjatuhan. Media massa dunia saat itu pun heboh sekali, seperti sekarang ini.

Prof James Petras dari AS menulis, “Media Barat berpegang pada reporternya yang meliput langsung demonstrasi kaum oposan di Iran, namun mereka mengabaikan demosntrasi balasan yang lebih besar lagi, yang dilakukan oleh pendukung Ahmadinejad. Lebih buruk lagi, media Barat mengabaikan komposisi sosial para pelaku demonstrasi. Mereka mengabaikan fakta bahwa Ahmadinejad meraih dukungan dari kaum pekerja miskin, petani, tukang, dan pekerja publik, yang jumlahnya jauh lebih banyak dari kaum oposan yang datang dari kalangan mahasiswa kelas (ekonomi) menengah ke atas, kaum bisnismen, dan kaum professional.”[1]

Tapi akhirnya, gerakan yang meniru-niru “Revolusi Berwarna” ala Balkan (di Iran, mereka menggunakan simbol warna hijau) ini bisa ditaklukkan secara resmi pada 30 Desember 2009.

Nah, tanggal 30 Desember 2017, demo memperingati “kemenangan sistem” kembali digelar. Persiapan dan sosialisasinya sudah berlangsung jauh-jauh hari, sehingga warga memang sudah siap demo.

Tapi, tanggal 28 Desember (Kamis) tiba-tiba muncul demo di kota Mashad (disusul di beberapa kota lain). Sebagian peserta demo adalah orang-orang yang mengira ini rangkaian demo “9 Dey”. Tapi sebagian yang lain memang berdemo untuk memprotes kondisi ekonomi yang semakin sulit.

Perlu diketahui, akibat embargo luar biasa dari AS, Iran kesulitan memajukan perekonomiannya. Selain itu, Presiden Rouhani (dia ini presiden dari kubu ‘reformis’ yang lebih disukai Barat dan memang punya kecenderungan untuk berbaik-baik dengan Barat) memang payah kinerja ekonominya. Harga-harga pangan di Iran semakin naik, berbagai subsidi dikurangi, dan nilai tukar ke dollar juga terus jatuh.

Sama sekali tidak aneh bila warga berdemo memprotes pemerintah, menuntut perbaikan ekonomi. Di negara-negara lain demo seperti ini dianggap biasa kan?

Cuma, yang aneh adalah ketika Trump pada Januari 2017 mengambil kebijakan rasis, melarang orang Iran masuk ke AS; tapi di Desember 2017 tiba-tiba ia berkata, “AS berdiri bersama rakyat Iran.”

Yang aneh adalah ketika ditemukan demonstran bersenjata, serta provokator-provokator yang ternyata berpaspor ganda. Ada sekitar 50 orang ditahan oleh polisi Iran karena kasus ini.

Yang aneh adalah ketika BBC dan CNN mengambil posisi “terdepan mengabarkan” [atau mengaburkan?]. Kedua media ini yang paling masif mengulang-ulang narasi ‘rakyat Iran berdemo menginginkan pergantian rezim’. Meski tetap berusaha sok ‘cover both side’ dengan mencantumkan kalimat “Sebagian besar informasi tentang apa yang sedang terjadi bertebaran di media sosial, sehingga sulit untuk mengkonfirmasinya”, namun kalimat ini tenggelam di tengah banjir disinformasi yang mereka lakukan. [2]

Yang mengikuti konflik Suriah, akan sangat-sangat familiar dengan gaya reportase ala BBC dan CNN ini.

Selain itu, persis seperti Suriah, tweet-tweet yang ‘memberitakan’ sikon di dalam negeri justru lebih banyak berbahasa Inggris, dikirim dari luar negeri.

Dan terakhir, perlu dicatat: tanggal 30 Desember 2017, “Demo 9 Dey” tetap berlangsung, jauh lebih masif, diadakan di 1200 titik di seluruh penjuru Iran. Foto-foto yang dirilis media Iran memperlihatkan lautan manusia membanjiri jalanan. Dan spanduk yang mereka bawa bertuliskan: Marg Bar Amrika, Marg Bar Inggilis, Marg Bar Fitnegar (matilah Amerika, matilah Inggris, matilah para pembuat konspirasi). [lihat foto di kolom komen paling atas]

Apakah demo masif pro-sistem ini diberitakan dengan proporsional oleh BBC dan CNN (dan kawan-kawannya, termasuk media-media Indonesia yang selama ini memang hanya copas-terjemah dari media Barat?). Tentu tidak.


[1]https://dinasulaeman.wordpress.com/2009/06/23/kebohongan-kecurangan-pemilu-oleh-prof-james-petras/

[2] https://www.tempo.co/bbc/629/iran-dilanda-demo-anti-pemerintah-aksi-kekerasan-mulai-terjadi

NB: Karena sistem pemerintahan Iran unik, perlu saya jelaskan: saat saya menulis demo memprotes ‘pemerintah’, maka yang dimaksud adalah ‘eksekutif’, yaitu Presiden dan timnya. Seperti saya bilang, Rouhani memang payah kinerja ekonominya, jauh beda dengan era Ahmadinejad. Tapi, ketika saya sebut ‘demo pro-sistem”, artinya demo mendukung sistem Pemerintahan Islam [tidak peduli siapa presidennya]. Sebaliknya, ketika media Barat menyebut “rakyat Iran menghendaki perubahan rezim”, yang mereka maksud adalah “perubahan sistem” [dari pemerintahan Islam ke pemerintahan liberal].

Untuk memahami struktur pemerintahan Iran, baca tulisan saya: “Sistem Demokrasi Ala Iran” https://dinasulaeman.wordpress.com/2013/11/01/sistem-demokrasi-ala-iran-demokrasi-tangan-tuhan/
==========================

*Sumber: Fanpage Dina Sulaeman https://www.facebook.com/DinaY.Sulaeman/posts/382487412177520?comment_id=382492132177048&notif_id=1514770663537436&notif_t=feed_comment.

Taliban dan Berpikir Sistemik*

Oleh : Dina Y. Sulaeman

taliban-flag1Taliban dengan darah dingin membantai 132 anak-anak sekolah di Pakistan. Menarik mengamati tanggapan publik atas kasus ini. Sebagian mengecam keras, mengapa Islam dan Allah dijadikan alasan untuk membunuh anak-anak. Sebagian lagi, terutama media-media takfiri (dan simpatisannya) yang selama ini memang dikenal sebagai pendukung Taliban (termasuk petinggi partai you-know-who yang pernah menulis puisi memuja Osama Bin Laden), tentu saja bungkam atau berupaya menjustifikasi (dan mengalihkan isu dengan memblow-up penyanderaan di Sidney yang dilakukan oleh penjahat buronan pemerintah Iran -dan diberi suaka oleh Australia.) Lalu bagaimana dengan ribuan warga Pakistan yang sejak 2004 dibantai bak tikus oleh drone (pesawat tanpa awak) AS? Lalu, bagaimana dengan tewasnya anak-anak muda di Paniai, Papua, baru-baru ini? Mengapa tidak banyak komentar dari bangsa ini? (Untuk pembantaian di Pakistan, presiden kita dengan sigap menulis komen di facebooknya).

Saya ingin mengajak Anda untuk berpikir sistemik: holistik, memandang konflik dalam sebuah peta besar; tidak fokus pada konflik tertentu saja. Taliban, ya, memang sadis dan sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin. Tapi, faktanya, mereka muslim dan mengaku (mengira) sedang memperjuangkan Islam. Dan, banyak simpatisan Taliban merasa sedang berjihad karena mengira yang sedang dilawan oleh Taliban adalah AS. Dan, memang faktanya, pemerintah AS adalah pelaku kejahatan kemanusiaan terbesar di dunia sepanjang sejarah (silahkan baca buku William Blum, orang AS, betapa pemerintah AS telah melakukan sangat-sangat banyak pembunuhan di muka bumi ini di balik kedok demokrasi. Judul bukunya “Demokrasi, Ekspor AS yang Paling Mematikan”).

Jadi, tidak bisa melepaskan fenomena Taliban dengan keberadaan AS. Sebagian (terutama yang tidak suka bila sebuah konflik dikaitkan dengan AS) akan buru-buru menyebut ini teori konspirasi. Tidak. Teori konspirasi adalah mengait-ngaitkan sejumlah fenomena satu sama lain dengan dilandasi khayalan (contoh: melihat simbol mirip Bintang Daud di sebuah masjid, langsung menuduh DKM-nya Zionis, padahal siapa tahu si desainer sekedar tulalit, tak paham simbol Bintang Daud). Tapi, jika kita mengungkapkan adanya konspirasi antara aktor-aktor politik, lengkap dengan bukti-bukti valid, itu bukan teori konspirasi.

brezenskiMisalnya, baca wawancara Counterpunch dengan Zbigniew Brzezinski, penasehat presiden Carter (dan presiden-presiden AS berikutnya, termasuk Obama) mengakui bahwa CIA mendanai Mujahidin Afghanistan. Versi Inggris ada di sini, versi kutipan-terjemahan saya copas dari sini:

Jurnalis:Mantan Direktur CIA, Robert Gates, menyatakan dalam memoarnya “From the Shadows”, bahwa CIA mulai memberikan bantuan kepada Mujahadin di Afghanistan 6 bulan sebelum Soviet menginvasi Afghanistan. Pada masa itu, Anda adalah penasehat keamanan Presiden Carter. Karena itu Anda memainkan peran dalam urusan itu. Benarkah demikian?

Brzezinski: Ya. Berdasarkan catatan resmi sejarah, bantuan CIA kepada Mujahidin dimulai pada 1980, setelah tentara Soviet menginvasi Afghanistan, 24 Desember 1979. Tetapi sebenarnya, secara rahasia, yang terjadi adalah sebaliknya. Sebenarnya pada 3 Juli 1979 Presiden Carter menandatangani perintah pertama pemberian bantuan rahasia kepada pihak oposisi pemerintah Kabul [pemerintah Kabul saat itu pro-Soviet]. Dan pada hari yang sama, saya menulis memo untuk presiden, yang di dalamnya saya jelaskan pemikiran saya, bahwa pemberian bantuan ini akan memicu intervensi militer Soviet.

Jurnalis:Meskipun ada resiko tersebut, Anda menjadi penasehat dari aksi rahasia ini. Mungkin Anda sendiri memang menginginkan masuknya Soviet ke perang ini dan ingin memprovokasinya?

Brzezinski:Tidak demikian. Kami tidak mendorong Rusian untuk intervensi, tetapi kami mengetahui ada kemungkinan demikian.

Jurnalis:Dan Anda juga tidak menyesal telah mendukung para jihadis, memberi senjata dan pembinaan kepada mereka yang kemudian menjadi teroris?

Brzezinski: Mana yang paling penting bagi sejarah dunia? Taliban atau runtuhnya Imperium Soviet? Segelintir Muslim yang ‘kacau’ atau liberalisasi Eropa Tengah dan berhentinya Perang Dingin?

Tahun 2011, saya menulis artikel ‘Pendidikan Jihad ala AS‘, di situ saya ceritakan bahwa Taliban justru dibentuk, didanai, dilatih oleh CIA, ISI (Dinas Rahasia Pakistan), dan Arab Saudi. Datanya valid, bersumber dari tulisan-tulisan orang AS sendiri. Ini foto tokoh-tokoh mujahidin diundang ke Gedung Putih, bertemu Reagan:

Kini, saya temukan bukti-bukti lainnya, yang mendukung artikel tsb. Saya copas dari sini:

Buku-buku pendidikan ‘jihad’ yang disebarkan di Afghanistan ternyata dibuat AS. Washington Post, 23 Maret 2002 menulis antara lain bahwa USAID menghabiskan 51 juta dollar untuk membiayai ‘program pendidikan di Afghanistan 1984-1994’ yang dilakukan oleh Universitas Nebraska. Buku-buku itu ditulis dalam bahasa utama Afghan, Dari dan Pashtun, dibuat pada tahun 1980-an dengan dana dari USAID yang dihibahkan kepada Pusat Studi Afghanistan di Universitas Nebraska.

Buku-buku yang penuh dengan gambar-gambar kekerasan dan ajaran Islam militan itu disuplai ke anak-anak sekolah di Afghan, sebagai bagian dari operasi rahasia untuk menumbuhkan perlawanan terhadap penjajahan Soviet.

Buku-buku utama, yang dipenuhi pembicaraan tentang jihad dan berisi gambar-gambar senjata, peluru, tentara, dan ranjau, telah dipakai dalam kurikulum sekolah di Afghanistan. Bahkan Taliban menggunakan buku produksi Amerika ini.

Gedung Putih membela konten ‘relijius’ itu dengan mengatakan bahwa prinsip-prinsip Islam mempengaruhi kebudayaan Afghan dan bahwa buku-buku itu “sepenuhnya sesuai dengan hukum dan kebijakan AS.” Ahli hukum mempertanyakan apakah buku-buku ini tidak melanggar konstitusi AS yang melarang penggunaan uang pajak untuk mempromosikan agama.

Pejabat USAID (United States Agency for International Development) pun berusaha membela diri dengan mengatakan bahwa mereka membiarkan konten ‘Islami’ itu karena mereka khawatir para guru di Afghan akan menolak buku itu bila tidak mengandung pemikiran muslim dalam ‘dosis yang kuat’. USAID menghapus logo lembaga tersebut dari buku-buku agama itu; kata Jubir USAID, Kathryn Stratos.

Contoh isi buku matematika produk AS:

-* Jika ada 10 atheis, 5 dibunuh oleh 1 Muslim, maka sisanya = 5
-* 5 pistol + 5 pistol = 10 pistol
-* 15 peluru– 10 peluru= 5 peluru.

sumber:

http://www.informationclearinghouse.info/article39942.htm#.VDu_8CZE1eY.facebook

http://newsrescue.com/genesis-of-islamic-radicalism-the-us-textbook-project-that-taught-afghan-children-terror/#axzz3EhfTfeDI

Ini penampakan salah satu buku yang dimaksud:

textbook-jihad

Kemudian, saya pernah menulis paper, mengemukakan konsep ‘politics of fear‘, apa tujuan dan keuntungan AS dalam membacking terorisme muslim; dan ada fakta ironis yang saya temukan: jumlah muslim yang tewas akibat terorisme atas nama Islam justru jauh lebih banyak dibanding non muslim. Silahkan baca atau unduh di sini.

Jangan lewatkan juga membaca ini, untuk mengetahui kekejian AS di Pakistan (sumber datanya hasil penelitian orang akademisi AS sendiri): Drone, Lebah Jantan Pembunuh Brutal

Nah, berpikir sistemik-nya itu dimana? Ya di sini: dengan melihat konflik secara utuh, bukan parsial. Intinya begini:

Pertama, terorisme digunakan untuk politik menakut-nakuti (politics of fear). Herman and O’Sullivan (1984) menulis, terorisme telah memberikan kesempatan bagi para pemimpin di Barat untuk menciptakan ketakutan dan irasionalitas di tengah masyarakat sehingga mereka memberikan kebebasan kepada para pemimpin itu untuk melakukan apa saja. Ketakutan terhadap terorisme efektif untuk memobilisasi massa agar mendukung aksi-aksi militer, dan ini memberikan keuntungan besar bagi industrialis perang. Selanjutnya, ketika suatu negara hancur lebur akibat perang, proyek-proyek rekonstruksi dan eksplorasi minyak pun akan mengisi pundi-pundi para kapitalis Barat itu.

Kalau teori ini diaplikasikan di Indonesia, agaknya cocok juga. Mengapa pemerintah seolah tenang saja melihat fenomena Al Qaida-ISIS sedemikian merajalela? Baiat-baiat ISIS dibiarkan, bahkan di kampus-kampus. Media-media takfiri pendukung ISIS dan sejenisnya, tidak ditindak. Setelah AS berkoar-koar akan memerangi ISIS di Suriah (dan ironisnya, yang dibom oleh AS di Suriah justru fasilitas-fasilitas yang merugikan pemerintah Suriah, bukan benar-benar memburu ISIS), baru pemerintah Indonesia terlihat bergerak, meski tidak terlalu kelihatan apa hasilnya. Buktinya, media-media pro perang atas nama Islam dan kelompok-kelompok Islam radikal masih bebas bersuara. Mana itu kesadaran NKRI yang sering disebut-sebut pejabat, militer, dan polisi? Analisis saya, keberadaan kelompok-kelompok Islam radikal memang sengaja dibiarkan agar ada musuh abadi, yang sewaktu-waktu bisa dimanfaatkan untuk pengalihan isu, militerisasi, dan sejenisnya.

Kedua, catatan untuk kaum muslimin sendiri. Tak bisa lagi dipungkiri, bahwa Taliban-Al Qaida-ISIS memang ada dan melakukan teror. Memang bila ditelusuri lagi, backing di belakang Al Qaida (bahkan, yang pertama kali membentuknya dan melatihnya) adalah CIA; kasus Libya dan Syria juga semakin membuka tabir siapa sebenarnya ‘sutradara’ di balik Al Qaida. Namun, siapa yang benar-benar terjun ke lapangan? Siapa yang angkat senjata atau melakukan berbagai aksi bom bunuh diri dan pengeboman jarak jauh? Tentu saja, jelas bukan bule-bule CIA, melainkan muslim yang merasa sedang berjihad. Artinya, kaum muslimin perlu mawas diri. Perhatikan lagi, berapa banyak yang tewas, dan siapa yang lebih banyak tewas gara-gara ada sekelompok muslim yang bergabung dengan Al Qaida (dan afiliasinya), atau menyebarluaskan narasi yang pro-Al Qaida, menshare berita-berita fitnah dan kebencian dari media-media takfiri.

Dengan berpikir sistemik begini, setiap orang, (termasuk para ibu rumah tangga muslimah yang sering saya dapati dengan ‘gagah berani’ dan merasa paling ngislam dengan menyebarluaskan kebencian, mengkafir-kafirkan orang lain, melalu media sosial), semoga bisa sadar, bahwa dunia ini sudah sedemikian mengglobal. Kebencian yang terucap di Indonesia -aneh tapi nyata- bisa menjadi bahan bakar peperangan di negara-negara lain. Bahan bakar dari Taliban, Al Qaeda, ISIS, dan sejenisnya itu adalah kebencian. Bagaimana mungkin mereka bisa membantai sesadis dan sebrutal itu bila tidak ada kebencian yang sedemikian menyala-nyala dalam hati mereka? (baca analisis mengapa sedemikian banyak simpatisan kelompok Islam pro-kekerasan di sini)

Para ‘pejuang’ ISIS, Taliban, dll itu dulunya adalah anak-anak, yang tumbuh besar menjadi pembantai. Bahkan di facebook dan grup WA pun, anak-anak Indonesia (terutama dari kalangan takfiri) dengan entengnya bicara soal pemenggalan kepala ala ISIS (baca: Anak-Anak yang Dibesarkan dalam Kebencian). Jadi, bila Anda benar-benar ingin mengalahkan imperium kapitalis global yang menindas kaum muslimin, berhentilah menyebarkan kebencian terhadap sesama manusia.

UPDATE: Ada yang bertanya, apa beda Taliban-Al Qaida-ISIS-Al Nusra dll? (perhatikan juga, ormas Islam mana di Indonesia yang menjadi simpatisan berbagai organisasi teror tsb)

Perbedaan hanyalah di struktur organisasi, tetapi mereka semua memiliki ideologi yang sama, yaitu Wahabisme (yang antara lain berpaham takfirisme-semua yang berbeda dianggap kafir dan layak dibunuh). Mereka saling dukung, namun juga saling berseteru. Taliban memfokuskan ‘perjuangan’-nya di wilayah Afghan-Pakistan, sementara Al Qaida di seluruh dunia. Taliban secara terbuka menyatakan mendukung agenda Al Qaeda (dan Al Qaeda yang kaya raya, menyuplai dana untuk Taliban). Kelompok-kelompok pemberontak Libya dan Suriah adalah ‘cabang’ Al Qaida. Di Suriah, mereka berseteru, satu pihak (Al Nusra) berbaiat pada Ayman Al Zawahiri, pihak lain (ISIS) berbaiat pada Al Baghaday. Meski sama-sama mengaku mujahidin, mereka saling bantai secara brutal di Suriah (dan juga membantai pihak lain, Sunni, Syiah, Kristen, Kurdi, Druze). Jadi, jangan dibingungkan oleh nama, lihat saja ideologi dan cara kerjanya. Di Indonesia, sebagian besar simpatisan jihad ala Taliban dkk masih berusaha menampilkan diri sebagai kelompok modernis dan mengaku anti kekerasan, tapi sikap mereka terhadap konflik Suriah memunculkan watak asli mereka.

*Sumber : www. https://dinasulaeman.wordpress.com

MENGENAL DAN MEWASPADAI PENYMPANGAN BUKU PANDUAN MUI TENTANG SYIAH (BAG 6)

MENGENAL DAN MEWASPADAI

PENYIMPANGAN BUKU PANDUAN TENTANG SYIAH (BAG 6)

(Bedah Buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia”)

Oleh : Candiki Repantu 

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad

2. Allamah al-Majlisi

Ulama kedua yang dinyatakan meyakini tahrif Alquran oleh Buku Panduan tersebut adalah Syaikh Muhammad Baqir al-Majlisi pengarang buku Miratul Uqul. Buku Panduan ini menyebutkan :

  • Al-Majlisi mengatakan dalam kitab Mir’atul Uqul Syarh al-Kafi, menyatakan bahwa Alquran telah mengalami pengurangan dan perubahan.” (hal. 25).

Anggapan tersebut dinisbatkan berdasarkan pada pernyataan Allamah Al-Majlisi dalam Kitab Mir’atul Uqul fi Syarh Akhbar Aali al-Rasul juz 12/525. Perlu diketahui kitab ini adalah adalah kitab yang mengomentari kitab Al-Kafi karya Syaikh al-Kulaini. Dan pada bagian yang disebutkan ini beliau sedang mensyarah hadis al-kafi yang menyebutkan tentang diturunkan Alquran dari Jibril sebanyak 17.000 ayat.

Di sini, ternyata Buku Panduan ini mengarahkan perhatiannya hanya pada bagian awal tulisan Al-Majlisi dan memotong paragraf berikutnya. Berikut paragraf pertama dari tulisan Al-Majlisi :

الحديث الثامن و العشرون : موثق. و في بعض النسخ عن هشام بن سالم موضع هارون بن مسلم، فالخبر صحيح و لا يخفى أن هذا الخبر و كثير من الأخبار الصحيحة صريحة في نقص القرآن و تغييره، و عندي أن الأخبار في هذا الباب متواترة معنى

“Hadis ke 28. “hadis muwatsaq”. Disebagian salinan, Hisyam bin Salim, ditulis Harun bin Muslim. Riwayat shahih, dan tidaklah tersembunyi bahwa riwayat ini dan banyak riwayat-riwayat yang sahih lagi jelas tentang pengurangan Alquran dan perubahannya. Menurutku, riwayat-riwayat dalam bab ini bersifat mutawatir makna…”

Berdasarkan pernyataan inilah, Buku Panduan tersebut mengklain bahwa Al-Majlisi percaya tahrif. Namun bagaimana sebenarnya sikap Al-Majlisi terhadap riwayat-riwayat tersebut? Menurut Al-Majlisi hal itu tidak bisa dijadikan dalil meyakini tahrif Alquran. Beliau menegaskan hal itu pada paragraf berikutnya :

 لأنه إذا ثبت تحريفه ففي كل آية يحتمل ذلك و تجويزهم عليهم السلام على قراءة هذا القرآن و العمل به متواتر معلوم إذ لم ينقل من أحد من الأصحاب أن أحدا من أئمتنا أعطاه قرانا أو علمه قراءة، و هذا ظاهر لمن تتبع الأخبار، و لعمري كيف يجترئون على التكلفات الركيكة في تلك الأخبار

Perhatikan bagaimana Al-Majlisi menegaskan bahwa : “…KARENA, JIKA KITA MENETAPKAN TAHRIF ALQURAN, MAKA HAL ITU BISA TERJADI PADA SELURUH AYATNYA, SEMENTARA SECARA MUTAWATIR PARA IMAM AHLUL BAIT MEMBOLEHKAN MEMBACA ALQURAN INI DAN BERAMAL DENGANNYA. DAN TIDAK SEORANGPUN YANG MENUKIL BAHWASANYA SALAH SEORANG IMAM MEMBERIKAN ALQURAN ATAU MENGAJARKAN BACAAN YANG BERBEDA, INILAH YANG NYATA BAGI ORANG YANG MENGKUTI RIWAYAT-RIWAYAT TERSEBUT. DAN DEMI HIDUPKU, BAGAIMANA MEREKA BERANI MEMBERLAKUKAN PERKARA INI PADA RIWAYAT-RIWAYAT TERSEBUT…” (Mir’atul Uqul juz 12/525).

Jadi, Buku Paduan MUI merekayasa data dengan mengutip sepotong tulisan al-Majlisi dan membuang lainnya.

3. Alqummi

Buku Panduan ini juga menyebutkan Alqummi sebagai salah seorang ulama yang meyakini tahrif Alquran sebagai berikut :

  • Al-Qummi, tokoh mufassir syiah, menegaskan dalam muqaddimah tafsirnya bahwa ayat-ayat Alquran ada yang diubah sehingga tidak sesuai dengan ayat aslinya seperti ketika diturunkan oleh Allah. (hal. 26)

Pernyataan Buku Panduan ini berdasarkan pada Muqaddimah Tafsir Alqummi juz 1 hal. 5-11. Perlu diketahui, sebelumnya (pada catatan bedah buku bagian-5) sudah saya jelaskan bahwa menurut ulama syiah, nuzul Alquran (turunnya Alquran) terdiri dari dua hal, yakni teks dan makna Alquran yang disertai tafsir, takwil, hukum, rahasia, dan ilmu-ilmu lainnya. Karenanya, Nabi saaw adalah penafsir pertama Alquran yang menyampaikan teks sekaligus maknanya. Inilah hakikat nuzul Alquran yang mana Allah swt yang menurunkannya, membacakannya, mengumpulkannya, dan menjelaskan maksudnya (Q.S. al-Qiyamah: 16-19). Jadi, Muqaddimah Tafsir Al-Qummi juga sedang menjelaskan hal-hal tersebut. Berikut ini pernyataan Alqummi dalam tafsirnya tersebut—{saya tidak menuliskan semuanya karena terlalu panjang, tetapi dipilih sesuai maksud yang dituju oleh Buku Panduan tersebut}—sebagai berikut :

فالقرآن منه ناسخ، ومنه منسوخ، ومنه محكم، ومنه متشابه، ومنه عام،  ومنه خاص، ومنه تقديم، ومنه تأخير، ومنه منقطع، ومنه معطوف، ومنه حرف مكان حرف، ومنه على خلاف ما انزل الله ، ومنه ما لفظه عام ومعناه خاص،  ومنه ما لفظه خاص ومعناه عام، ومنه آيات بعضها في سورة وتمامها في سورة اخرى ومنه ما تأويله في تنزيله ومنه ما تاويله مع تنزيله، ومنه ما تأويله قبل تنزيله، ومنه تأويله بعد تنزيله

واما ما هو كان على خلاف ما انزل الله فهو قوله ” كنتم خير امة اخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون بالله ” فقال ابوعبدالله (عليه السلام) لقاري هذه الآية ” خير امة ” يقتلون امير المؤمنين والحسن والحسين بن علي

فقيل له وكيف نزلت يابن رسول الله؟ فقال انما نزلت ” كنتم خير ائمة اخرجت للناس ” الا ترى مدح الله لهم في آخر الآية ” تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون بالله “

“Alquran di dalamnya ada nasikh, mansukh, muhkam, mutasyabih, am, khas, taqdim, takhir, munqati’, ma’thuf, huruf diposisi huruf, dan sebagiannya berbeda dengan apa yang diturunkan Allah swt. Di dalamnya juga terdapat lafadz umum tetapi bermakna khusus, dan lafadz khusus bermakna umum, ayat-ayat yang sebagiannya di satu surat dan penyempurnaanya ada pada surah yang lain, terdapat ta’wilnya pada turunnya, bersamaan dengan turunnya, sebelum turunnya, dan sesudah turunnya…(Tafsir Alqummi, hal. 5)

Adapun tentang “sebagiannya berbeda dengan apa yang diturunkan Allah swt”, adalah seperti firman-Nya, “Kamu adalah sebaik-baik ummat yang dikeluarkan untuk manusia, yang memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar dan beriman kepada Allah” (Kuntum khairu ummah ukhrijat linnasi takmuruna bil ma’ruf wa tanhauna ‘anil munkar wa tu’minuna billah)” (Q.S. Ali Imran: 110). Maka berkata Abu Abdillah as kepada yang membaca ayat ini : “khairu ummah” (sebaik-baik ummat)apakah mereka juga yang membunuh Amirul Mukminin Ali, Hasan dan Husain? Maka ditanyakan, bagaimana ayat ini diturunkan wahai putra Rasulullah? Imam as menjawab,SESUNGGUHNYA IA DITURUNKAN ‘KUNTUM KHAIRU AIMMAH UKHRIJAT LINNASI” (kamu adalah sebaik-baik imam yang dikeluarkan untuk manusia).” PERHATIKANLAH BAGAIMANA ALLAH SWT MEMUJI MEREKA PADA BAGIAN AKHIR AYATNYA “..YANG MEMERINTAHKAN KEPADA YANG MA’RUF DAN MENCEGAH YANG MUNGKAR DAN BERIMAN KEPADA ALLAH.” (Tafsir Alqummi, hal. 10) 

Jadi, yang dimaksud dengan perkataan Imam Ja’far “diturunkan ayat ini” yaitu hakikat turunnya yang disertai takwil atau penjelasannya. Jadi itu bukan teks Alquran tetapi penjelasan maksud Alquran tersebut agar orang tidak salah memahaminya sebagaimana ditunjukkan dengan kritik Imam kepada pemaknaan umumnya, yaitu “Apakah mereka juga termasuk mengaku sebagai umat terbaik, padahal mereka membunuh Ali, Hasan dan Husain”?

Dengan demikian, yang dimaksud oleh Al-Qummi dengan pernytaan “tidak sesuai dengan apa yang diturunkan Allah” adalah hakikat turunnya yang disertai takwil dan rahasianya kepada Rasul saaw. Itulah yang dijelaskanya pada Muqaddimah Tafsir al-Qummi tersebut…(bersambung)

MENGENAL DAN MEWASPADAI PENYIMPANGAN BUKU PANDUAN TENTANG SYIAH (BAG 5)

MENGENAL DAN MEWASPADAI

PENYIMPANGAN BUKU PANDUAN TENTANG SYIAH (BAG 5)

(Bedah Buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia”)

Oleh : Candiki Repantu 

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad

BAB III : PENYIMPANGAN AJARAN SYIAH

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (QS. Al Hujurât [49];12)”

Kita telah membedan dua bab dari isi Buku Panduan ini, dan anda sudah menyaksikan bagaimana penyimpangannya. Maka kini masuklah kita pada inti buku ini, yaitu Bab III, tentang Penyimpangan Ajaran Syiah. Dalam bab ini ada lima penyimpangan yang diajukan oleh Buku Panduan terebut terhadap syiah yaitu :

  1. Penyimpangan Paham tentang Orisinalitas Alquran
  2. Penyimpangan Paham tentang Ahlul Bait Rasul saw dan Meengafirkan Sahabat Nabi
  3. Penyimpangan Paham Syiah Mengafirkan Umat Islam
  4. Penyimpangan Paham tentang Kedudukan Imam Syiah
  5. Penyimpangan Paham tentang Hukum Nikah Mut’ah

Kelima hal di atas diajukan Buku Panduan ini untuk menyesatkan syiah—atau mungkin mengkafirkannya. Sekarang marilah kita telusuri “Penyimpangan Buku Panduan ini Ketika Membahas Penyimpangan Syiah”. Pembahasan ini tidak lain untuk memperkuat kokohnya Ukhuwah Islamiyah Syiah-Sunni, agar tidak terjadi salah pemahaman dikarenakan isu-isu yang keliru dipahami atau terselewengkan.

Kang Jalal (Jalaluddin Rahmat, 1995) pernah memetakan enam teknik pengalihan atau manipulasi data para penulis tentang syiah yang diduga beliau karena alasan politis, yaitu sbb :

  1. Membuang sebagian isi hadits dan menggantinya dengan kata-kata yang kabur. Contoh: Tarikh al-Thabari meriwayatkan ucapan Nabi tentang Ali, “Inilah washiku dan khalifahku untuk kamu”. Kata-kata ini dalam tafsir al-Thabari dan Ibnu Katsir diganti dengan “wa kadza wa kadza (demikianlah-demikianlah)”. Tentu kata ‘washi’ dan ‘khalifah’ sangat jelas, sedangkan” wa kadza”  tidak jelas.
  2. Membuang seluruh beritanya dengan petunjuk adanya pembuangan cerita. Contohnya: Dalam buku ‘Shiffin’ karya Nashr bin Mazahim (w. 212 H) dan Muruj al-Dzahab karya al-Masudi (w. 246 H) diceritakan bahwa Muhammad bin Abu Bakar menulis surat kepada Muawiyah menjelaskan keutamaan Imam Ali sebagai ‘washi’nabi, dan muawiyah mengakuinya. Namun, al-Thabari yang juga menceritakan kisah tersebut dengan merujuk pada buku-buku di atas sebagai sumber, membuang semua isi surat itu dengan alasan “supaya orang banyak tidak resah mendengarnya”. Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah, juga menghilangkan isi surat itu dengan alasan yang sama.
  3. Memberikan makna lain (takwil) pada riwayat. Contohnya : al-Thabrani dalam Majma al-Zawaid meriwayatkan ucapan Nabi kepada Salman al-Farisi bahwa Ali adalah washi-nya. Al-Thabrani memberikan komentar, “Nabi menjadikannya washi untuk keluarganya, bukan untuk khalifah”. Begitu pula banyak yang menakwilkan kata “maula” dalam hadis ghadir khum bukan untuk kepemimpinan.
  4. Membuang sebagian riwayat tanpa menyebutkan petunjuk atau alasan. Contohnya: Ibnu Hisyam mendasarkan  kitabnya, Tarikh Ibnu Hisyam pada Tarikh Ibnu Ishaq. Akan tetapi Ibnu Hisyam dalam kata pengantarnya berkata bahwa ia meninggalkan beberapa bagian riwayat Ibnu Ishaq yang jelek bila disebut orang. Diantara yang ditinggalkannya itu adalah kisah “wa andzir ashiratakal aqrabin”, yang dalam Sirah Ibnu Ishaq di riwayatkan Nabi mengatakan “Inilah (Ali) saudaraku, washiku, dan khalifahku untuk kamu”. Ini juga terjadi pada buku Hayat Muhammad karya Husain Haikal. Pada cetakan pertama, ia mengutip ucapan Nabi, “siapa yang akan membantuku dalam urusan ini akan menjadi saudaraku, washiku, dan khalifahku untuk kamu”. Pada cetakan kedua (tahun 1354 H) ucapan Nabi ini dibuang dari bukunya.
  5. Melarang penulisan hadits-hadits Nabi saw, dari masa sahabat sampai masa thabiin, sehingga kemungkinan hadits banyak yang hilang.
  6. Mendhaifkan hadits-hadits yang mengurangi kehormatan orang yang kita dukung (penguasa) atau yang menunjukkan keutamaan lawan. Contohnya: Ibnu Katsir mendhaifkan hadits-hadits tentang keutamaan Imam Ali sebagai washi dan khalifahNabi. Ia menganggap riwayat ini sebagai dusta yang dibuat-buat orang syiah atau orang-orang bodoh dalam ilmu hadits. Padahal hadits itu diriwayatkan dari banyak sahabat oleh Imam Ahmad, al-Thabari, al-Thabrani, Abu Nuaim al-Isbahani, Ibnu Asakir, dan lainya.

Terlepas dari sepakat atau tidak dengan pemetaan di atas, maka kita akan mencoba membedah Buku Panduan ini saat mengulas penyimpangan syiah. Apakah terjebak atau tidak dengan teknik pengalihan fakta di atas.

1.    TENTANG ORISINALITAS ALQURAN  

Perlu ditegaskan bahwa yang muktabar bagi syiah imamiyah itsna asyariyah yang pengikutnya mayoritas di dunia dan di Indonesia adalah menolak terjadinya tahrif pada Alquran, baik itu penambahan maupun pengurangan pada Alquran. Hal ini banyak ditegaskan para ulama syiah dari masa lalu hingga kini. Karenanya, untuk mendudukan persoalan tersebut, dan sebelum mengulas tentang tahrif Alquran, perlu diketahui, menurut para ulama syiah, Al-Quran diturunkan dalam dua tahap. Pertama, sabil al-ijmal (marhalah al-ihkam), yaitu diturunkan secara keseluruhan dalam bentuk global. Kedua, sabil at-tafshil (marhalah at-tafshil), yaitu diturunkan secara berangsur-angsur sejak Rasul saaw di utus hingga akhir hayatnya (lihat Baqir al-Hakim, Ulum al-Quran, hal. 27-28)   

Ayatullah Baqir al-Hakim menjelaskan yang dimaksud diturunkannya wahyu itu secara global yaitu turunnya ilmu-ilmu Allah swt, termasuk Alquran dan rahasia-rahasia besar yang terkandung di dalamnya ke dalam hati Rasulullah saaw agar hatinya dipenuhi dengan cahaya pengetahuan al-Quran (Ulum al-Quran, hal. 27). Jadi, nuzul al-Quran (turunnya Alquran) itu terdiri dari dua hal, yakni teks Alquran dan makna Alquran (tafsir, takwil, hukum, rahasia-rahasianya, dan lainnya). Karena itulah, maka Rasulullah saaw adalah orang pertama yang menguasai maksud dan makna teks-teks Alquran itu, beliaulah penafsir pertama Alquran. Karena itu adakalanya Rasul saaw menyampaikan teks sekaligus makna yang terkandung di dalamnya. Inilah yang disebut hakikat nuzul Alquran yang mana Allah swt yang menurunkannya, membacakanya, mengumpulkannya di dalam dada Nabi saaw, dan menjelaskan maksudnya. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Alquran sendiri : “Janganlah engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk mebaca Alquran) karena hendak cepat-cepat menguasainya. Sesungguhnya KAMI YANG AKAN MENGUMPULKANNYA (di dadamu) dan MEMBACAKANNYA. APABILA KAMI TELAH SELESAI MEMBACAKANNYA, MAKA IKUTILAH BACAANNYA ITU. KEMUDIAN, SESUNGGUHNYA KAMI YANG AKAN MENJELASKANNYA.” (Q.S. al-Qiyamah : 16-19)

Setelah mengetahui dua jenis penurunan wahyu, mari kita bisa menganalisis tentang tahrifal-Quran yang menjadi polemik sunni dan syiah. Dan agar tidak terjadi kerancuan pembahasan perlu ditetapkan dulu tahrif Alquran yang bagaimana yang dituduhkan kepada syiah?

Buku Panduan MUI ini menyebutkan bahwa ulama-ulama syiah meyakini terjadinya tahrifAlquran yang bermakna penambahan dan pengurangan Alquran. Hal ini dapat dilihat pada pernyataan di buku panduan tersebut pada hal. 25-26 sebagai berikut :

  •  “Menurut seorang ulama Syiah, al-Mufid, dalam kitab Awail al-Maqalat, menyatakan bahwa Alquran yang ada saat ini tidak orisinal. Alquran sekarang sudah mengalami distorsi, penambahan dan pengurangan. Tokoh syiah lain mengatakan dalam kitab Mir’atul Uqul Syarh al-Kafi, menyatakan bahwa Alquran telah mengalami pengurangan dan perubahan. Al-Qummi, tokoh mufassir syiah, menegaskan dalam muqaddimah tafsirnya bahwa ayat-ayat Alquran ada yang diubah sehingga tidak sesuai dengan ayat aslinya seperti ketika diturunkan oleh Allah. Abu Manshur Ahmad bin Ali al-Thabarshi, seorang tokokh syiah abad ke-6 H menegaskan dalam kitab al-Ihtijaj, bahwa Alquran yang ada sekarang adalah palsu, tidak asli, dan telah terjadi pengurangan. Ni’matullah al-Jazairi menyatakan dalam kitabnya al-Anwar an-Nu’maniyah, semua imam syiah menyatakan adanya tahrif (perubahan) Alquran, kecuali pendapat Al-Murtadha, as-Shaduq, dan al-Thabarshi yang berpendapat tidak ada tahrif. Dalam keterangan selanjutnya ia menjelaskan bahwa ulama yang menyatakan tidak ada tahrif pada Alquran itu sedang bertaqiyah” (hal. 25-26). 

Jadi, Buku Panduan ini menyebutkan lima ulama syiah yang menyatakan tahrif Alquran, yaitu : Syaikh Mufid, Allamah Al-Majlisi, Al-Qummi, Ahmad bin Ali at-Thabarshi, dan Ni’matullah al-Jazairi. Dari kelima tokoh di atas, hanya Syaikh Mufid yang dituduh mengakui tahrif dalam makna penambahan dan pengurangan Alquran. Sedangkan keempat lainnya, yaitu Allamah al-Majlisi, Al-Qummi, Ahmad bin Ali at-Thabarshi, dan Ni’matullah al-Jazairi kelihatannya lebih pada pernyataan terjadinya pengurangan pada Alquran bukan penambahan.

Sekarang mari kita bandingkan pernyataan Buku Panduan tersebut dengan pernyataan ulama syiah, Al-Fadhl ib al-Hasan Abu Ali At-Thabarsyi dalam kitabnya tafsirnya Majma’ al-Bayan sebagai berikut : Adapun tentang adanya penambahan pada al-Quran maka hal tersebut disepakati sebagai sesuatu yang batil. Sedangkan adanya pengurangan dari al-Quran maka beberapa dari kalangan kami (imamiyah) dan juga dari kalangan ahlussunnah, ada riwayat bahwa di dalam al-Quran terjadi perubahan dan pengurangan. Akan tetapi yang benar menurut mazhab kami dan mazhab mereka ialah kebalikan dari itu. Dan pendapat yang demikian itulah yang didukung oleh al-Murtadha, semoga Allah mensucikan ruh beliau.” (At-Thabarsi, Tafsir Majma’ al-Bayan jilid 1, h. 15)

Dari pernyataan at-Thabarsyi di atas maka kita bisa mengambil kesimpulan :

  1. Tentang penambahan Alquran disepakati kebatilannya dan tertolak.
  2. Tentang pengurangan Alquran, maka terdapat ulama imamiyah dan  ulama Ahlussunnah yang meriwayatkan terjadinya hal tersebut.
  3. Para ulama syiah dan sunni, membahas pendapat tentang pengurangan Alquran ini dan menolak terjadinya hal tesebut dengan argumentasi-argumentasi yang tak terbantahkan.Karenanya, menisbatkan kepada Syiah atau kepada Sunni keyakinan terjadinya tahrif Alquran dalam makna pengurangan Alquran juga tidak bisa diterima.

Dari pernyataan di atas, maka pembicaraan tahrif Alquran dibatasi pada persoalan pengurangan Alquran tersebut. Apakah kelima ulama syiah yang disebutkan oleh Buku Panduan tersebut meyakini terjadinya pengurangan Alquran? Berikut ini satu persatu ulama yang disebutkan di atas akan kita diskusikan.

1. Syaikh Mufid. Buku panduan ini menyatakan bahwa “Syaikh Mufid dalam kitab Awail al-Maqalat, menyatakan bahwa Alquran yang ada saat ini tidak orisinal. Alquran sekarang sudah mengalami distorsi, penambahan dan pengurangan”. (hal. 25). Dalam footnote-nya disebutkan dikutip dari kitab Awail al-Maqalat, hal. 80-81 . Sekarang mari kita lihat isi kitabAwail al-Maqalat pada halaman 80-81 bab “Pendapat tentang Penyusunan Alquran, Penambahan dan Pengurannya” sebagai berikut :

القول في تأليف القرآن وما ذكر قوم من الزيادة فيه والنقصان

 

أقول: إن الأخبار قد جاءت مستفيضة عن أئمة الهدى من آل محمد (ص)، باختلاف القرآن وما أحدثه بعض الظالمين فيه من

الحذف والنقصان، فأما القول في التأليف فالموجود يقضي فيه بتقديم المتأخر وتأخير المتقدم ومن عرف الناسخ والمنسوخ والمكي والمدني لم يرتب بما ذكرناه وأما النقصان فإن العقول لا تحيله ولا تمنع من وقوعه، وقد امتحنت مقالة من ادعاه، وكلمت عليه المعتزلة وغيرهم طويلا فلم اظفر منهم بحجة اعتمدها في فساده

وقد قال جماعة من أهل الإمامة إنه لم ينقص من كلمة ولا من آية ولا من سورة ولكن حذف ما كان مثبتا في مصحف أمير المؤمنين (ع) من تأويله وتفسير معانيه على حقيقة تنزيله وذلك كان ثابتا منزلا وإن لم يكن من جملة كلام الله تعالى الذي هو القرآن المعجز، وقد يسمى تأويل القرآن قرآنا قال الله تعالى: (ولا تعجل بالقرآن من قبل أن يقضى إليك وحيه وقل رب زدني علما) فسمى تأويل القرآن قرآنا، وهذا ما ليس فيه بين أهل التفسير اختلاف

وعندي أن هذا القول أشبه من مقال من ادعى نقصان كلم من نفس القرآن على الحقيقة دون التأويل، وإليه أميل والله أسأل توفيقه للصواب

 “Sesungguhnya riwayat-riwayat yang diperoleh dari imam-imam pemberi petunjuk dari keluarga Muhammad saaw, terdapat pernyataan tentang perbedaan Alquran, dan juga yang menceritakan tentang sebagian orang-orang zalim yang membuang dan mengurangi Alquran. Yaitu terjadi pada saat penyusunan (Alquran) dengan memerintahkan mendahulukan yang akhir dan mengakhirkan yang terdahulu, mengenalkan nasakh dan mansukh, makkiyah dan madaniyyah, tidaklah teratur sebagaimana disebutkannya. Adapun tentang pernyataan pengurangan (Alquran) yang secara akal tidaklah mustahil dan tidak terlarang terjadinya, maka setelah aku mencermati dari para penyerunya dan pernyataan dari Muktazilah dan selain mereka, maka tidaklah dapat diambil dan bersandar pada hujjah mereka yg rusak tersebut.

DAN TELAH BERAKATA JAMAAH AHLI IMAMAH (KELOMPOK SYIAH), SESUNGGUHNYA ALQURAN TIDAK BERKURANG WALUPUN HANYA SATU KATA, SATU AYAT, ATAU SATU SURAT. Akan tetapi (yang) dihapus (adalah) apa-apa yang ada dalam mushaf Amirul Mukminin as yang merupakan ta’wil dan tafsir makna-maknanya sesuai dengan hakikat turunnya. YANG DEMIKIAN ITU (ta’wil dan tafsir) SEKALIPUN TELAH DITURUNKAN ALLAH TETAPI ITU BUKAN BAGIAN DARI FIRMAN ALLAH ALQURAN YANG MUKJIZAT. Dan MENURUT SAYA PENDAPAT INI LEBIH TEPAT DARIPADA PENDAPAT ORANG YANG MENGANGGAP ADANYA PENGURANGAN FIRMAN DARI ALQURAN ITU SENDIRI YANG BUKAN TA’WILNYADAN SAYA MEMILIH PENDAPAT INI. Hanya kepada Allah lah saya memohon tawfiq untuk kebenaran.” (Awail al-Maqalat hal. 80-81)….{Setelah menolak pengurangan Alquran, kemudian Syaikh Mufid menjelaskan penolakanya terhadap penambahan Alquran, maaf saya tidak tuliskan lagi}.

Jadi, sungguh aneh bin ajaib, Buku Panduan ini menuduh Syaikh Mufid mengakui tahrifAlquran. Kesimpulan kita sementara ini, penyimpangan Buku Panduan ini karena mengarahkan pandangannya pada judul bab dan ungkapan awal Syaikh Mufid dan meninggalkan bagian akhirya (mungkin ini bukan kesengajaan). Tetapi ini kesalahan fatal. Dari enam teknik manipulasi data yang disebutkan Kang Jalal, termasuk bagian manakah manipulasi ini?, silahkan anda pilih sendiri…. (bersambung)

MENGENAL DAN MEWASPADAI PENYIMPANGAN BUKU PANDUAN MUI TENTANG SYIAH (BAG 4)

MENGENAL DAN MEWASPADAI

PENYIMPANGAN BUKU PANDUAN MUI TENTANG SYIAH (BAG 4)

(Bedah Buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia”)

Oleh : Candiki Repantu 

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad

TENTANG SYIAH DAN RAFIDHAH

Alhamdulillah, Hari ini telah hadir ditengah-tengah kita, seorang narasumber yang sudah tidak asing bagi kita, seorang intelektual dan cendekiawan muda, yang cukup valid untuk membincangkan tema seminar kita hari ini. Dan perlu juga diketahui oleh para audiens, Pak Candiki Repantu ini adalah seorang tokoh syiah di Medan dan Sumatera Utara.” Begitulah kira-kira saat beberapa waktu yang lalau saya diundang untuk menjadi narasumber dalam suatu seminar tentang “Teror atas Nama Tuhan”. Ada yang menarik kali ini, karena dari berbagai undangan seminar yang saya hadiri, baru kali ini saya diperkenalkan oleh panitia kepada audiens, dengan menyematkan atau melabelkan sesuatu yang lain. Jika saya diperkenalkan hanya dengan label intelektual atau “cendekiawan” muda—(ini perasaan panitia saja, karena terpengaruh nama saya “Candiki” yang memang diambil dari kata Cendekiawan)—, sekarang labelnya ditambah lagi karena panitia memperkenalkan saya sebagai “tokoh syiah di Medan”. Saya tidak tahu maksud memperkenalkan saya dengan label tambahan tersebut.

Hanya saja, saat itu saya teringat teori “labeling” atau teori “tanda” (sign) dari Ferdinand de Saussure, yang menyatakan ada hungungan erat yang tak terpisahkan antara label dan konsep. “Tanda” yang terdiri dari label dan konsep ini, mempengaruhi cara orang mempersepsi sekitarnya, karena telah diisi dengan makna yang bisa dihubungkan dengan tanda lainnya. Ambillah contohnya, saya dilabelkan “cendekiawan” yang konsep dan maknanya adalah keceradasan, maka orang akan mempersepsi saya sebagai orang cerdas. Tetapi, bagaimana jika saya disebut “orang syiah”, kira-kira persepsi apa yang mucul…? tergantung konsepnya. Kalau baru saja mendengar berita “Orang Syiah di sampang diusir” atau membaca buku “Panduan Penyimpangan Syiah di Indonesia”, maka muncullah dalam persepsinya “narasumber hari ini adalah orang yang menyimpang, sesat dan menyesatkan, dan layak diusir”—(untung saya tidak di usir, karena saya dengar di Jakarta seorang Ustadz Syiah diusir saat mau menghadiri seminar). wallahu a’lam.

Dengan contoh di atas anda bisa memahami bahwa karena kita punya sejarah, budaya, dan bahasa yang terkait dengan kelompok tertentu maka masing-masing kita memiliki identitas, dan identitas ini selalu digunakan untuk memberikan label pada diri kita. Dan seseorang atau kelompok tertentu bisa punya lebih dari satu label, dan label ini ada yang digunakan sendiri oleh orangnya/kelompok tersebut dan ada yang dilekatkan secara semena-mena pada orang/kelompok tertentu. Dan label itu ada yang berdaya positif, tetapi ada yang mengandung stereotif negatif (perhatikan kembali kasus saya di atas). Misalnya juga, “orang melayu” sekaligus ditandai sebagai “orang Islam”, sehingga saat keluar dari Islam, maka tidak diakui lagi sebagai orang melayu (ini tanda dari dalam). Tetapi “orang melayu” disebut “orang pemalas” bisa jadi ditandai secara negatif oleh kelompok lainnya (tanda dari orang luar).

Dengan memahami sedikit teori tanda di atas, mari kita bedah isi buku ini saat membicarakan tentang “Syiah dan Rafidhah”. Perhatikan rentetan kalimat-kalimat berikut ini yang kita kutip dari buku panduan tersebut :

  • “Rafidhah adalah kelompok syiah yang berdusta mendukung Ahlul Bait, dengan menolak Abu Bakar, Umar dan sebagian besar sahabat Nabi saw, disertai sikap mengafirkan dan mencaci mereka (hal.14).…”Abul Qasim al-Isfahani yang berjuluk qiwamus sunnah, al-Razi, as-Syahrastani, dan Ibnu Taymiyah menguatkan asal mula istilah rafidhah untuk syiah imamiyah itsna asyariyah adalah karena penolakan mereka terhadap Zaid bin Ali Zainal Abidin bin Husain ra yang memuliakan Abu Bakar dan Umar ra….istilah ‘rafidhah’ bagi kelompok syiah yang menolak Abu Bakar dan Umar dan mencaci keduanya. Adapun Imam Abul Hasan al-Asy’ari berpendapat syiah imamiyah dinamakan rafidhah karena penolakan mereka terhadap kepemimpinan Abu Bakar dan Umar ra.” (hal. 15)

 

Tanggapan :

#CR : Dari ungkapan-ungkapan Buku Panduan di atas, maka terlihat bagaimana para penulisnya mencoba memberi tanda dengan stereotif negatif kepada syiah. Untuk menanamkan visinya, buku ini menggiring pembaca dari istilah syiah ke istilah rafidhah, tatapi dengan menyimpangkan makna rafidhah dan mengisinya dengan makna atau konsep yang negatif. Karena rafidhah memang bermakna “pemberontak/penolak” yang berkesan negatif. Perlu diketahui, awalnya, istilah rafidhah ini digunakan untuk orang yang memberontak apapun mazhabnya, bukan hanya syiah. Ini dibuktikan dengan merujuk ke Kitab Waqaah as-Shiffin, hal. 34, karya Nasr bin Muzahim (W. 212 H) yang menyebutkan bahwa Muawiyah menulis surat kepada Amr bin ‘Ash yang sedang berada di Palestina yang isinya mengatakan :

أما بعد فإنه كان من أمر علي وطلحة والزبير ما قد بلغك . وقد سقط إلينا مروان بن الحكم في رافضة أهل البصرة  

Amma’ ba’du, Kamu telah mengetahui perkara tentang Ali, Thalhah dan Zubair, tetapi (ketahuilah) Marwan bin Hakam telah bergabung bersama para rafidhah/pemberontak dari penduduk Bashrah.

Karenanya, tidak tepat mengatakan istilah rafidhah muncul dari Zaid bin Ali seperti yang diteorikan oleh al-Isfahani, Al-Razi, Syahrastani, Ibnu Taymiyah, dan Abul Hasan al-Asyari. Sebab, ternyata istiah itu telah ada sebelum zaman Zaid dan digunakan oleh Muawiyah untuk menyebut kelompok pemberontak. Dan orang Basrah juga bukanlah syiah, karena mereka tidak percaya pada kepemimpinan Ali. Tetapi kemudian, makna rafidhah ini diarahkan kepada syiah, karena syiah selalu menjadi oposisi penguasa, dan diperlebar pada penolakan terhadap Abu Bakar dan Umar, seperti diindikasikan Al-Isfahani, al-Razi, Syahrasatani dan Abul Hasan al-Asy’ari di atas.

Adapun Ibnu Hajar menyebut rafidhah sebagai syiah ekstrem yang lebih mengutamakan Ali di atas Abu Bakar, Umar dan seluruh sahabat, tetapi tidak mencela mereka. Berikut ungkapan Ibnu Hajar dalam kitabnya Hady as-Sari, 1/459 :

والتشيع محبة على وتقديمه على الصحابة فمن قدمه على أبي بكر وعمر فهو غال في تشيعه ويطلق عليه رافضي وإلا فشيعي

“Tasyayyu adalah mencintai Ali dan mengutamakannya atas semua sahabat {selain Abu Bakar dan Umar}, dan jika mengutamakannya diatas Abu Bakar dan Umar maka dia tasyayyu’ ekstrem yang disebut Rafidhah dan jika tidak maka disebut Syiah.”

Namun, merasa kurang mantap, Tim Penulis Buku Panduan yang antipati terhadap syiah, mengembangkannya lagi maknanya dengan mengatakan :

  • Rafidhah adalah kelompok syiah yang berdusta mendukung Ahlul Bait, menolak Abu Bakar, Umar dan sebagian besar sahabat Nabi saw, disertai sikap mengafirkan dan mencaci mereka (hal.14)….

Setelah memberi muatan negatif, kemudian Tim Penulis ini mengarahkan sasarannya bahwa yang dimaksud rafidhah adalah syiah imamiyah itsna asyariyah (dan juga syiah ismailiyah), yang disepakati kesesatanya. Perhatikan kalimat Buku Panduan berikut ini :

  • “Syiah rafidhah yang mengklaim adanya nash/teks wasiat penunjukan Ali sebagai khalifah dan berlepas diri dari bahkan mencaci dan mengafirkan, para khalifah sebelum Ali dan mayoritas sahabat Nabi. Kelompok ini telah meneguhkan dirinya ke dalam sekte Imamiyah itsna asyariyah dan ismailiyah. Golongan ini disepakati kesesatannya oleh para ulama, tetapi secara umum tidak mengafirkan mereka.” (hal. 16-17)

Kalau kita perhatikan teori Saussure di atas, maka kita paham bahwa label dan konsep rafidhah ini dilabelkan oleh Buku Panduan ini kepada syiah imamiyah untuk mendeskreditkan kelompok tersebut dan mengarahkan pada stereotif negatif. Maka tepatlah apa yang dikatakan Muhsin Amin dalam A’yan as-Syiah seperti dikutip juga oleh Buku Panduan itu bahwa istilah “rafidhah adalah julukan buruk untuk orang yang mendahulukan Ali dalam soal khilafah dan kebanyakan digunakan untuk mendeskredikan dan membenci mereka. Visi Buku Panduan ini untuk mencipakan kesan negatif dengan mengubah “tanda”, semakin terbukti dengan kalimat mereka berikut ini :

  • Kita mesti membedakan istilah syiah secara umum dan rafidhah secara khusus. Setiap rafidhah adalah syiah ekstrem yang telah mencaci, bahkan mengafirkan Abu bakar dan Umar ra…” (hal. 17-18)

Inilah di antara yang perlu diwasapadai dan penyimpangan tulisan tentang syiah yang dilakukan Buku Panduang ini. Perhatikan defenisi Ibnu Hajar di atas tentang rafidhah, sangat jauh dari gambaran Tim Penulis MUI tersebut. Ibnu Hajar hanya mengatakan ““Rafidhah adalah syiah ekstrim yang mengutamkan Imam Ali di atas Abu Bakar dan Umar…”, sedangkan Buku Panduan ini menyatakan : “…Rafidhah adalah syiah ekstrem yang telah mencaci, bahkan mengafirkan Abu bakar dan Umar ra.”

Tidak hanya sampai disitu, Buku Panduan ini kemudian mencari dukungan pernyataan dengan membawa label “ulama salaf”, dan menyatakan bahwa tidak ada generasi sahabat dan tabiin yang memandang Ali lebih utama dari Abu Bakar dan Umar :

  • “…Tidak ada syiah rafidhah yang dianggap moderat oleh para ulama salaf. Syiah moderat adalah syiah pada generasi sahabat dan thabiin yang berjuang bersama Ali dimana mereka tidak pernah bersikap ekstrim dalam memandang kedudukan Ali dan tidak pula mengutamakan Ali atas Abu Bakar dan Umar RA.” (hal. 17-18).

Mari kita bandingkan pernyataan Buku Panduan ini dengan pernyataan Muhammad ibn Aqil Al-Alawi al-Hadrami dalam Al-‘Atbu al-Jamil ala Ahli Jarh wa Ta’dil, hal. 30 yang juga mengutip defenisi Ibnu Hajar dan kemudian berkomentar :

“…Jelaslah, makna perkataannya (Ibnu Hajar) ini bahwa sesungguhnya semua orang yang mencintai Ali dan mengutamakannya atas Syaikhain (Abu Bakar dan Umar) disebut Rawafidh (jamak dari rafidah), …Banyak dari kalangan sahabat mulia seperti Miqdad, Zaid bin Arqam, Salman, Abu Dzar, Khabbab, Jabir, Abu Said al-Khudri, Ammar, Ubai bin Ka’ab, Hudzaifah, Buraidah, Abu Ayyub, Sahal bin Hunaif, Utsman bin Hunaif, Abu Haitsam bin Tayyahaan, Khuzaimah ibn Tsabit, Qais ibn Sa’d, Abu Thufail Amir ibn Watsilah, Al-Abbas bin Abdul Muththalib dan seluruh putranya, seluruh Bani Hasyim dan Bani Al-Muththalib serta banyak lagi selain mereka… mereka semua adalah RAWAFIDH karena mereka mengutamakan Ali atas Abu Bakar dan Umar karena kecintaan mereka kepada Ali. Dan juga banyak tabi’in dan tabi’it tabi’in, para ulama besar, dan ini umat yang tidak terhitung jumlahnya, dan mereka juga para pendamping Alqur’an. Dan mencacat keadilan mereka—demi Allah— akan mematahkan punggung (merusak agama)

Perhatikan bagaimana Sayid Muhammad bin Aqil yang dengan tegas mengidentifikasi di antara sahabat dan tabiin, serta tabiit tabiin banyak yang rafidhah (ayiah eksterim). Dengan demikian, Tim Penulis MUI keliru dan menyimpang, saat menyatakan bahwa tidak ada rafidhah (syiah ekstrim) di masa sahabat dan tabiin.

Bagaimana? Apakah Tim Penulis MUI mau menfatwakan bahwa Miqdad, Zaid bin Arqam, Salman, Abu Dzar, Khabbab, Jabir, Abu Said al-Khudri, dan seterusnya nama-nama di atas, sebagai orang yang menyimpang, sesat menyesatkan dan tidak diterima hadisnya, karena mereka rafidhah alias syiah ekstrim?………..(bersambung)

MENGENAL DAN MEWASPADAI PENYIMPANGAN BUKU PANDUAN TENTANG SYIAH (BAG 3)

MENGENAL DAN MEWASPADAI

PENYIMPANGAN BUKU PANDUAN TENTANG SYIAH (BAG 3)

(Bedah Buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” Bag. 3) 

Oleh : Candiki Repantu

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad

TENTANG SEJARAH SYIAH

Dalam penggunaan bahasa, ada yang disebut implikatur, yaitu cara di mana pendengar (pembaca) bisa memahami sendiri asumsi-asumsi di balik sebuah informasi tanpa harus mengungkapkannya secara eksplisit. Dengan kata lain, implikatur adalah informasi tambahan yang bisa dideduksi dari sebuah informasi tertentu. Salah satu tujuan penggunaan implikatur adalah membujuk pendengar (pembaca) untuk percaya pada validitas klaim-klaim pembicara (penulis). Jadi, Implikatur ini bisa digunakan untuk membuat orang secara tidak sadar menerima begitu saja pendapat-pendapat yang sebenarnya masih bisa diperdebatkan. Kalau anda sering mendengar politisi berkata, “Seorang presiden harus bertindak atas kepentingan negara bukan partainya”, ini adalah implikatur yang mengisyaratkan bahwa selama ini presiden selalu bertindak atas kepentingan partainya. Kita bisa menggunakan implikatur ini, baik untuk tujuan positif maupun negatif. Namun, implikatur biasanya lebih sering oleh digunakan oleh para politisi.

Implikatur ini juga digunakan Tim Penulis buku panduan ini agar pembaca mengembangkan maknanya sendiri. Misalnya TPBP ini menyebutkan :

  • Istilah syiah pada era kekhalifahan Ali hanyalah bermakna pembelaan dan dukungan politik. Syiah Ali muncul pertama kali pada era kekhalifahan Ali bin Abi Thalib ra, bisa disebut sebagai pengikut setia khalifah yang sah pada saat itu melawan pihak Muawiyah, dan hanya bersifat kultural, bukan bercorak akidah seperti yang dikenal pada masa sesudahnya hingga sekarang. Sebab kelompok setia syiah Ali yang terdiri dari sebagian sahabat Rasulullah dan sebagian besar tabi’in pada saat itu tidak ada yang berkeyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib ra lebih utama dan lebih berhak atas kekhalifahan setelah rasul daripada Abu Bakar ra dan Umar bin Khattab ra. Bahkan Ali bin Abi Thalib ra sendiri, saat menjadi khalifah, menegaskan dari atas mimbar Masjid Kufah ketika berkhutbah bahwa, “sebaik-baik umat Islam setelah Nabi Muhammad saaw adalah Abu Bakar dan Umar ra.” Demikianlah pula jawaban beliau ketika ditanya oleh putranya, yaitu Muhammad ibn al-Hanafiyah, seperti yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam sahihnya hadis no. 3671.” (hal. 6-7) 

Kalimat-kalimat di atas memuat implikatur tersembunyi. Dengan menggunakan implikatur, buku ini mengajak pembacanya mengembangkan asumsinya sendiri tentang “kesesatan” syiah secara bertahap—meskipun nantinya buku ini secara jelas ingin menyesatkan syiah. Secara perlahan, pembaca diajak untuk mengatakan syiah sekarang berbeda dengan syiah yang dulu (tahap membedakan). Syiah yang dulu itu benar tetapi syiah sekarang tidak. Syiah yang benar adalah syiah yang hanya gerakan politik dan kultural, bukan gerakan akidah. Syiah dulu meyakini Abu Bakar dan Umar lebih baik dari Ali bin Abi Thalib, sedangkan syiah sekarang meyakini Ali lebih utama dari Abu bakar dan Umar (tahap menyalahkan). Lihatlah Ali bin Abi Thalib saja mengatakan yang terbaik adalah Abu Bakar dan Umar. Jadi, jika orang syiah mengakui mengikuti Ali, maka semestinya ia mengutamakan Abu Bakar dan Umar. Karenanya, yang benar adalah menganggap Abu Bakar dan Umar lebih mulia dari Ali, maka yang menganggap Ali lebih mulia dari Abu Bakar dan Umar adalah menyimpang (tahap menyimpangkan). Dan syiah sekarang berarti menyimpang.

Dan kemudian dihalaman-halaman berikutnya, pembaca di ajak dari menyatakan “syiah menyimpang” menjadi menyatakan “syiah sesat menyesatkan”. Untuk sampai pada tujuan itu, buku tersebut mengembangkan asumsinya pula dengan mengganti istilah syiah menjadi rafidhah, yaitu “syiah sekarang bukan lagi mengutamakan Ali, tetapi kelompok rafidhah yang berdusta pada ahlul bait dan mencaci serta mengkafirkan Abu Bakar dan Umar serta sahabat lainnya” (lihat hal. 14, 16, 18). Berdusta atas ahlul bait, mencaci dan mengafirkan Abu Bakar, Umar dan sahabat lainnya tentunya adalah kesesatan (tahap menyesatkan). Begitulah kira rangakaian deduksi yang muncul dari teknik implikatur buku ini. Padahal, asumsi-asumsi ini masih dalam ajang perdebatan.

Salah satu yang paling sering disebutkan para penulis tentang syiah adalah mengecilkannya menjadi sekedar urusan politik ansich. Penilaian ini muncul karena yang diperebutkan adalah soal kepemimpinan, dan itu tentu saja masuk bab politik. Tetapi para penulis ini lupa, bahwa konsepsi dasar Islam menegaskan akidah merupakan pondasi seluruh ajaran Islam termasuk politik (siyasah). Nabi saaw juga pemimpin agama sekaligus politik. Para ulama juga menyatakan bahwa Islam pada dasarnya tak pernah memisahkan antara urusan agama/akidah dan politik. Memisahkan urusan agama dan politik adalah paradigma sekularisme yang difatwakan haram oleh MUI itu sendiri. Apakah Tim Penulis buku ini berpendapat bahwa para sahabat seperi Imam Ali, Siti Aisyah, Thalhah, Zubair, Muawiyah, dan para pendukungnya masing-masing berperang dan saling berbunuhan karena pragmatisme politik kekuasaan tanpa memperdulikan urusan agama/akidah?  

Kemudian, menurut buku panduan ini, bukti bahwa syiah awal hanya gerakan politik dan kultural saja dan bukan persoalan akidah dengan alasan : “tidak ada sahabat dan tabiin yang berkeyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib ra lebih utama dan lebih berhak atas kekhalifahan setelah Rasul dari pada Abu Bakar ra dan Umar bin Khattab ra.”

Dengan begitu, buku ini ingin mengatakan bahwa syiah sekarang itu telah menyimpang dari syiah dulu. Sekarang mari kita buktikan apakah benar tidak ada generasi sahabat Nabi saaw dan tabiin yang mengutamakan Imam Ali as daripada Khalifah Abu Bakar dan Umar?? Ini berarti jika terbukti ada sahabat yang meyakini keutamaan Imam Ali dibandingkan Khalifah Abu Bakar dan Umar, maka asumsi para penulis buku ini gugur, dan berarti sejak awal syiah memang mazhab akidah dan itu terjaga terus hingga hari ini. Karenanya tidak ada penyimpangan keyakinan syiah dari dulu hingga sekarang.

Perhatikan keterangan berikut ini. Ibnu Hibban (Ats-Tsiqat jilid 9 no. 16440) saat menyebutkan tentang Yusuf bin Isa al-Marwzi meriwayatkan :

حدثنا إبراهيم بن نصر العنبري ثنا يوسف بن عيسى ثنا الفضل بن موسى عن شريك عن عثمان بن أبى زرعة عن سالم بن أبى الجعد قال سئل جابر بن عبد الله عن على فقال ذاك خير البشر من شك فيه فقد كفر 

Menceritakan kepada kami Ibrahim bin Nashr al-Anbari yang berkata, telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Isa, yang berkata telah menceritakan kepada kami Fadhl bin Musa, dari Syarik dari Utsman bin Abi Zur’ah, dari Salim bin Abil Ja’d, yang berkata: ‘aku bertanya kepada Jabir bin Abdullah tentang Ali’, maka Beliau menjawab : ‘Dia adalah manusia terbaik, siapa yang meragukannya sungguh telah kufur’. 

Lihatlah dengan tegas Jabir bin Abdillah berpendapat bahwa Imam Ali as adalah manusia terbaik dan yang meragukannya adalah “kufur/ingkar”. Apakah pernyataan Jabir bin Abdillah ini bukan bukti ia mengutamakan Ali?

Selain itu, Ibnu Abdil Barr (al-Isti’ab jilid 3/1090), juga menegaskan tentang sahabat-sahabat yang mengutamakan Imam Ali di atas siapapun :

وروى عن سلمان وأبى ذر والمقداد وخباب وجابر وأبى سعيد الخدرى وزيد بن الأرقم أن على بن ابى طالب رضى الله عنه أول من أسلم وفضله هؤلاء على غيره 

 

“Diriwayatkan dari Salman, Abu Dzar, Miqdad, Khabbab, Jabir, Abu Said Al Khudri dan Zaid bin Al Arqam bahwa Ali bin Abi Thalib RA adalah orang yang pertama masuk islam dan mereka mengutamakan Ali dibanding sahabat yang lain.

Lagi pula, jika mendukung Ali sebagai khalifah adalah perkara politik saja, lantas bagaimana dengan kekhalifahan Abu Bakar dan Umar? Kalau urusan politk juga dan bukan akidah, maka syiah tidaklah menyimpang jika tidak percaya pada kekhalifahan mereka. Kalau, syiah menyimpang karena tidak mengakuinya, maka berarti buku panduan ini memasukkan urusan khalifah sebagai urusan akidah. Lalu kenapa syiah dikatakan menyimpang memasukkan imamah sebagai urusan agama/akidah?

Mungkin makna dukungan politik dinisbatkan sebagai bentuk lahir perebutan kekuasaan, tetapi kita tidak bisa hanya melihat bentuk lahirnya saja, karena setiap perilaku memiliki motif. Motif inilah yang menjadi ukuran apakah itu hanya politik ansich atau punya motif keagamaan. Apakah Salman, Ammar, Miqdad, Jabir bin Abdillah, Abu Dzar, Habib bin Mazhahir, Hujur bin Adi, Hasan, Husain, dan lainnya yang mendukung Imam Ali as (Syiah Ali) hanya karena pragmatisme politik saja tanpa motif agama? Beginikah cara Tim Penulis buku ini menilai Syiah Ali generasi awal.

Adapun tentang munculnya syiah buku panduan ini menyebutkan sebagai berikut :

  • TP menulis : Ada yang menganggap syiah lahir pada masa akhir kekhalifahan Utsman bin Affan ra atau pada masa awal kepemimpinan Ali bin Abi Thalib ra…tampaknya pendapat yang paling populer adalah bahwa syiah lahir setelah gagalnya perundingan antara pihat Khlifah Ali dengan pihak Muawiyah bin Abu Sufyan ra di Shiffin yang lazim disebut sebagai peristiwa tahkim (arbitrasi)…sebagian besar orang yang tetap setia kepada khalifah Ali disebut syiah Ali (pengikut Ali).” (hal.5-6)

Tanggapan :

 

#CR : Para ahli memang berbeda pendapat tentang munculnya syiah. Sebagian mengatakan sesaat setelah Nabi saaw wafat, yaitu ketika perdebatan di Saqifah. Yang lainnya menyatakan syiah lahir pada masa akhir Khalifah Usman, awal kepemimpinan Ali bin Abi Thalib (35 H). Pendapat lain menyatakan bersamaan dengan Khawarij, yakni pasca perang shiffin (Ensiklopedi Tematis Dunia Islam jilid III, 2002: 34). Ada juga pendapat, syiah muncul setelah peristiwa Karbala syahidnya Imam Husain as (Hitti, History of the Arab, 2003: 237).

Namun, terdapat pula penegasan bahwa syiah telah ada sejak masa Rasul saaw. Baqir Sadr menegaskan bahwa syiah telah hadir di tengah-tengah masyarakat Islam sejak masa hidup Rasul yang terdiri dari orang-orang yang meyakini ketetapan Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin pasca Rasul saaw. Kelompok ini muncul memprotes dan menolak kepemimpinan Abu Bakar. Di antara mereka adalah Ammar bin Yasir, Miqdad, Abu Zar, Salman, Jabir  bin Abdillah, dan lainnya. Merekalah pelopor gerakan syiah awal. (Baqir sadr, 1990 : 62). Hal ini didukung dengan hadits-hadits Rasul saaw yang menggunakan istilah syiah Ali, seperti, “Syiah Ali adalah orang-orang yang beroleh kemenangan. Ketika turun ayat ‘Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk’ (Q.S. al-Bayyinah : 7), Rasulullah Saw bersabda, “Wahai Ali, itu adalah engkau dan syiahmu.” (Darwisy, Syiah Ali fi Ahadis Ahl as-Sunnah, 2006: 10). Silahkan setiap orang mau mengikuti teori yang mana..! (maaf kalau kepanjangan….bersambung)

——————–