PELAJARAN 2 : JENIS-JENIS DAN HUKUM AIR

IMG_20180116_085043

A. JENIS-JENIS AIR

➡ Air adalah alat utama untuk menyucikan diri baik dari najis maupun hadas. Selagi masih ada air dan tidak ada halangan menggunakannya, maka tidak boleh bersuci dengan alat lain.

➡ Namun tidak semua air dapat digunakan untuk menyucikan diri atau benda dari najis dan hadas. Hanya air-air tertentu dengan syarat-syarat tertentu yang dapat digunakan sebagai alat bersuci.

➡ Secara umum air dibagi menjadi dua jenis yaitu :

1. Air Mutlak yang dibagi pada tiga jenis yaitu :
a. Air Hujan (yang tercurah dari langit)

b. Air Mengalir (yang terpancar dari bumi) seperti air sumur, sungai, laut, air PAM.

c. Air tergenang (yang ditampung dalam suatu wadah). Air tergenang ini dibagi dua lagi yaitu : Air banyak dan air Sedikit

2. Air Mudhaf yaitu
– Air buah-buahan sepeti air kelapa
– Air yang dicampur benda lain sepeti teh, kopi, dll.

Kedua jenis air ini memiliki aturan hukum sendiri yang berbeda.

B. HUKUM AIR MUTLAK

➡ Air mutlak adalah air yang tetap pada keasliannya tanpa ada campuran benda lain dan bukan hasil dari perasan buah-buahan atau sejenisnya, sehingga orang hanya menyebutnya air saja tanpa tambahan sesuatu yang lain.

➡ Air Mutlak ini dibagi pada tiga jenis yaitu :
1. Air Hujan (tercurah dari langit)
2. Air Mengalir (terpancar dari bumi)
3. Air tergenang (terkumpul dalam wadah)

➡ Ketiga jenis air mutlak di atas, secara umum dihukumi suci dan dapat digunakan untuk menyucikan sesuatu yang terkena najis atau menyucikan hadas, baik hadats kecil maupun hadats besar.

➡ Air yang sebelumnya diketahui sebagai air mutlak dan tidak diketahui apakah telah menjadi air Mudhaf (air campuran) atau tidak, maka dihukumi air mutlak, dan bisa digunakan untuk bersuci dari hadas dan najis.

➡ Tolok ukur untuk pemberlakuan air mutlak adalah opini masyarakat umum (urf). Karenanya, jika suatu air memiliki kekentalan tertentu dikarenakan memiliki kandungan garam, maka tetap dihukumi air mutlak.

➡ Air yang tidak diketahui sebagai air suci atau air najis, maka dihukumi suci.

➡ Air yang awalnya diketahui sebagai air suci, kemudian diragukan kenajisannya, maka dihukumi air suci.

➡ Tapi air yang awalnya diketahui sebagai air yang bernajis, kemudian diragukan kesuciannya, maka dihukumi air najis.

➡ Air musta’mal (air sisa yang sudah terpakai) untuk bersuci dari hadas kecil maupun besar (dipakai wudhu atau mandi wajib), dihukumi suci dan bisa dipakai untuk bersuci.

C. HUKUM AIR MUDHAF

➡ Air Mudhaf adalah air yang tidak bisa lagi disebut air karena telah bertambah sifat lainnya, sehingga kita tidak bisa lagi menyebutnya air saja, tetapi harus disebut pula sesuatu yang menjadi tambahannya tersebut.

➡ Air Mudhaf ini bisa bisa di bagi pada dua jenis :

1. Air yang dihasilkan oleh perasan buah atau sejenisnya, seperti air semangka, air jeruk, air kelapa.

2. Air yang asalnya air mutlak tapi kemudian bercampur dengan sesuatu yang lain seperti air gula, air garam, air kopi, air teh, dan lainnya.

➡ Air Mudhaf hukumnya suci tetapi tidak dapat digunakan untuk bersuci dari najis dan hadas (suci tapi tidak menyucikan). Ini berarti air Mudhaf bisa diminum tetapi tidak bisa misalnya digunakan untuk istinja’, wudhu, mandi.

➡ Membersihkan suatu benda yang terkena najis dengan air Mudhaf tidak sah dan batal baik dengan disiramkan atau di benamkan ke dalamnya.

➡ Air yang sebelumnya diketahui air mudhaf dan tidak diketahui (diragukan) apakah telah menjadi mutlak atau tidak, maka air tersebut tetap dihukumi air Mudhaf.

➡ Air Mudhaf meskipun jumlahnya banyak, yaitu mencapai satu kurr (384 liter) atau lebih, jika terkena najis sekecil apapun najisnya maka akan menjadi air yang bernajis, meskipun tidak berubah rasa, bau dan warnanya. (CR14)

HADIS MAKSUMIN : ENAM AMALAN PENDATANG BERKAH

IMG_20180116_080926

. قَالَ اْلاِمَامُ اَمِيْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلِىٌّ (ع): جَاءَ رَجُلٌ اِلَى النَّبِىِّ صَلىَ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ: فَقَالَ عَلِّمْنِى عَمَلاً يُحِبُّنِىْ اللهُ تَعَالَىْ عَلَيْهِ وَيُحِبُّنِىْ الْمَخْلُوقُونَ، وَيُثْرِىَ اللهُ مَالِى وَيُصِحًّ بَدَنِى وَيُطِيْلُ عُمْرِى وَيَحْشُرُنِىْ مَعَكَ، قَالَ: هَذِهِ سِتُّ خِصَالِ تَحْتَاجُ اِلَى سِتِّ خِصَالٍ: اِذَا أَرَدْتَ أَنْ يُحِبَّكَ اللهُ فَخِفْهُ وَاتَّقِهِ، وَاِذَا اَرَدْتَ اَنْ يُحِبَّكَ الْمَخْلُوقُوْنَ فَاَحْسِنْ إِلَيْهِمْ وَارْفِضْ مَافِىْ اَيْدِيْهِمْ، وَاِذَا أَرَدْتَ أَنْ يُثْرِىَ اللهُ مَالَكَ فَزَكِّهِ، وَاِذَا اَرَدْتَ أَنْ يُصِحَّ اللهُ بَدَنَكَ فَاَكْثِرْ مِنَ الصَّدَقَةِ، وَاِذَا اَرَدْتَ اَنْ يُطِيْلَ اللهُ عُمْرَكَ فَصِلْ ذَوِى أَرْحَامِكَ، وَاِذاَ أَرَدْتَ أَنْ يَحْشُرَكَ اللهُ مَعِى فَاطِلِ السُّجُوْدَ بَيْنَ يَدَىِ اللهُ الْوَاحِدِ الْقَهَارِ. {سفينة البحار/1/599}.

“Imam Ali as berkata, “Seorang lelaki datang kepada Rasulullah saw dan berkata: ‘Ajarilah aku suatu amalan yang membuat aku dicintai oleh Allah dan para makhluk, Allah memperkaya aku, menyehatkan badanku, memperpanjang umurku dan mengumpulkan aku di padang mahsyar bersamamu’.

Rasulullah saw kemudian bersabda : “Permintaanmu terhadap enam perkara memerlukan kepada enam perkara pula :

Bila engkau ingin dicintai Allah, takutlah kepada-Nya dan bertaqwalah.

Bila engkau ingin dicintai para makhluk, berbuat baiklah kepada mereka, dan berputus asalah dari harta mereka.

Bila engkau ingin diperkaya dalam harta, maka zakatilah harta bendamu.

Bila engkau ingin disehatkan badanmu, maka perbanyaklah sodaqoh.

Bila engkau ingin diperpanjang umur, maka bersilaturrahmi kepada keluargamu.

Bila engkau ingin dikumpulkan bersamaku di padang mahsyar maka perpanjanglah sujudmu kepada Allah yang Maha esa dan Maha Perkasa.”

(Safinah Al-Bihar 1/ 599).

 

PELAJARAN 1 : THAHARAH

Screenshot_2018-01-12-10-35-48-037_com.opera.mini.native

Kata thaharah berasal dari bahasa Arab yang artinya bersih dan suci. Thaharah ini adalah salah satu perintah Allah SWT baik bersifat zahir (material) maupun batin (spiritual).

Bersuci secara zahir berarti menyucikan tubuh atau jasad kita atau benda-benda lainnya dari berbagai kotoran yang disebut khabats (najis) ataupun bersuci dari hadas. Sedangkan bersuci secara batin berarti mensucikan diri kita dari sifat-sifat tercela, akhlak yang rendah maupun dosa-dosa. Kedua kesucian ini memiliki keterkaitan erat untuk mengantarkan manusia pada kesempurnaan dirinya.

Menyucikan diri secara zahir adalah dengan menggunakan air atau benda lain yang dibenarkan dengan cara tertentu seperti istinja’, membersihkan najis, wudhu, mandi, dan tayamum. Penyucian ini disebut dengan thaharah di dalam ilmu fikih.

Sedangkan menyucikan batin tentu saja dengan mengamalkan yang diperintahkan Allah dan menjauhi larangan-Nya, berakhlak mulia, membersihkan hati dari sifat-sifat tercela. Penyucian batin ini umumnya disebut dengan istilah tazkiyah an-nafs yang banyak diulas dalam ilmu Irfan/tasauf atau ilmu akhlak.

Pada kesempatan ini kita hanya membahas thaharah dalam perspektif Fikih Ahlul Bait (Mazhab Syiah) sebagaimana tersimpul di dalam berbagai kajian ilmu fikih dan fatwa para ulama Syiah (hanya saja dalam pembahasan di sini akan disesuaikan dengan fatwa-fatwa Sayid Ali Khamenei).

Dalam Alquran maupun hadis banyak perintah untuk bersuci. Misalnya, Allah berfirman :

Dan Dia menurunkan kepada kalian air dari langit untuk menyucikan kalian dengannya” (Q.S. al-Anfal : 9).

“Dia lah Allah yang mengirimkan angin sebagai kabar gembira akan rahmat-Nya dan Kami turunkan dari langit air yang suci” (Q.S. al-Furqan : 48).

Begitu pula Rasulullah Saw bersabda, “Bersuci adalah bagian dari keimanan”. Beliau juga bersabda, “Tidak akan diterima salat tanpa bersuci”.

Imam Ali as berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan air itu suci dan tidak menjadikannya najis”.

Imam Ja’far as berkata, “Sesungguhnya semua air itu suci kecuali yang engkau ketahui bernajis”.

Dari ayat dan riwayat di atas kita bisa pahami bahwa bersuci pada dasarnya menggunakan air. Karena itu perlu diketahui hukum-hukum air yang digunakan dalam bersuci. (ATN)