SAHABATKU, JAGALAH LISANMU…!! (BAG 6)

SAHABATKU, JAGALAH LISANMU..!! (Bag 6)

(Tangapan Untuk Buletin Dakwah Aswaja Sumut, No. 17, Agustus  2013)

Oleh : Candiki Repantu

Tentang Kitab Rujukan dan Perubahan Alquran

  • Ø  Team Aswaja Menulis :

ISLAM : Kitab-kitab hadits yang dipergunakan sandaran dan rujukan utama adalah Kutubussittah : Bukhari, Muslim, Abu Daud, Turmudzi, Ibnu Majah, An-Nasa`i. Kitab-kitab tersebut beredar di mana-mana dan dibaca oleh kaum muslimin seluruh dunia.

SYI`AH : Kitab-kitab rujukan Syiah ada empat : Al Kaafi, Al Istibshar, Man Laa Yahdhuruhu Al Faqih, At-Tahdziib. Kitab-kitab tersebut tidak beredar, sebab banyak berisi kebohongan, yang takut diketahui oleh pengikut-pengikut Syiah.

 Tanggapan :

 # CR : Yang namanya beda mazhab ya beda rujukan. Jangankan kitab, persoalan khalifah saja sudah menunjukkan beda rujukannya, yaitu syiah mengutamakan merujuk kepada alul bait Nabi saaw, sedangkan sunni merujuk kepada semua sahabat tanpa seleksi apapun. Bahkan yang rujukannya samapun bisa beda mazhabnya, misalnya  sama-sama merujuk pada Alquran tetapi beda memahaminya. Sama-sama merujuk pada hadis yang sama, tetapi bisa berbeda memahaminya. Kemudian, saya juga heran mengapa Tim Aswaja mempersoalkan perbedaan kitab rujukan. Sebab penulisan kitab itu dapat berkembang kapan saja. Saya ambil contoh sederhana, apakah Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafii dan Imam Hambali merujuk pad kitab2 hadits yang anda sebutkan? Apakah keempat imam mazhab sunni ini merujuk pada kitab Bukhari, Muslim, Abu daud, Turmudzi, Ibnu Majah dan an-Nasai…?? Apakah para Imam sunni ini dikatakan tidak Islam karena tidak merujuk pd kitab2 tersebut..?? Tentu saja pada dasarnya tidak ada persoalan dengan susunan kitab siapa yang digunakan, tetapi yang terpenting adalah kepada siapa rujukan itu berakhir.

Soal kitab2 syiah, Team aswaja, jangan melampaui kemampuannya dengan menyatakan bahwa kitab tersebut berisi kebohongan yang takut diketahui oleh pengikut-pengikut syiah. Datang saja anda ke Iran,  maka dengan mudah anda menemukan kitab-kitab itu diperjual belikan di toko-toko buku di sepanjang jalan di Iran yang penduduknya mayoritas syiah. Mereka tidak takut kalau orang syiah di Iran akan membacanya. Bahkan, saya saja di Medan punya keempat kitab tersebut. Terlebih lagi sudah beredar ke seluruh penjuru semesta melalui dunia maya. Jadi, anda berdusta menyatakan kitab itu tidak beredar..? Buktinya lagi, saat menyatakan syiah meyakini tahrif al-Quran anda mengutip dari kitab al-kafi. Ini saya tuliskan pernyataan Tim Aswaja di dalam buletin tersebut : “Seperti yang tertera pada Al-Kafi, juz 2, hal 634, no 27: Dari Ali bin Alhakam, dari Hisyam bin Salim, dari Abu Abdillah AS berkata : Sesungguhnya Alquran yang dibawa oleh Jibril kepada Nabi Muhammad SAW itu berjumlah 17.000 ayat.”

Perhatikanlah..! Tim Aswaja Sumut menyatakan mengutip dari kitab Al-Kafi juz 2 hal.634, no.27. Pertanyaanya :

  • Benarkah Tim Aswaja mengutipnya dari kitab Al-Kafi..?? Jika memang benar, maka berarti kitab itu ada pd Tim Aswaja dan beredar. Ini berarti Tim Aswaja “berdusta” menyatakan kitabnya tidak beredar..??
  • Sebaliknya pula, jika Tim Aswaja tidak mengutipnya dari kitab al-Kafi, tetapi menyatakannya dari al-Kafi, maka Tim Aswaja juga telah “berdusta” pula..?

Jadi, Tim Aswaja menuduh kitab2 tersebut penuh kebohongan, sedangkan Tim Aswaja sendiri sedang melakukan “kebohongan” dalam tulisannya. Dalam pepatah ada istilah “maling teriak maling”, “lempar batu sembunyi tangan”.

Kalau anda beralasan karena tidak ada di toko-toko di Medan atau lainnya, maka itu hal wajar, karena penerbit dan toko buku memiliki orientasi konsumen, yang mana tidak layak menjual buku yang tidak dikonsumsi oleh konsumen yang memadai. Jangankan kitab-kitab syiah, kitab2 standar sunni saja tidak terlalu menjadi perhatian konsumen publik Indonesia utk membelinya, apalagi dgn harga yang tinggi dan berjilid-jilid. Kita semua tahu budaya baca bangsa kita..!!!

————————————————

Tentang Alquran

  • Ø  Team Aswaja Menulis :

ISLAM : Al-Quran 30 juz diyakini tetap orisinil, dan keautentikannya selalu dijaga oleh Allah sampai akhir jaman.

SYI`AH : Al-Quran yang ada sekarang ini menurut pengakuan ulama Syiah, sudah tidak orisinil. Sudah dirubah oleh para sahabat (dikurangi dan ditambah). Seperti yang tertera pada Al-Kafi, juz 2, hal 634, no 27: Dari Ali bin Alhakam, dari Hisyam bin Salim, dari Abu Abdillah AS berkata : Sesungguhnya Alquran yang dibawa oleh Jibril kepada Nabi Muhammad SAW itu berjumlah 17.000 ayat.

Tanggapan :

# CR : Dalam hal ini saya bagi pada dua pembahasan, yaitu (1). Pandangan syiah tentang kemurnian Alquran; dan (2) Beberapa riwayat atau buku yg seolah-olah menisbatkan pada tahrif Alquran.

1.       Kemurnian Alquran menurut syiah

Imam Ja’far ash Shadiq as. berkata:

هو قول اللّه .. وهو الكتاب العزيز الذي لا يأتيه الباطل من بين يديه ولا من خلفه تنزيلٌ من حكيم حميد.

Artinya : “Dia (Alquran) adalah firman Allah… dia adalah Kitab al-Aziz yang kebatilan tidak akan datang kepadanya baik dari depan maupun dari belakang, yang diturunkan oleh Allah Yang Maha Bijak dan Maha Terpuji.” (Syaikh Shaduq, al-Amali: 326)

Tentang kemurnian Alquran juga telah ditegaskan oleh banyak ulama syiah dari sejak klasik dulu sampai saat ini. Di antaranya, pernyataan Syaikh shaduq (w. 381 H) tentang Alquran dalam kitab al-I’tiqadat bab 32 “I’tiqad tentang Alquran” menyatakan bahwa :

اعتقادنا في القرآن أنه كلام الله، ووحيه، وتنزيله، وقوله، وكتابه.وأنه لا يأتيه الباطل من بين يديه ولا من خلفه.

اعتقادنا أن القرآن الذي أنزله الله تعالى على نبيه محمد صلى الله عليه وآله وسلم هو ما بين الدفتين، وهو ما في أيدي الناس، ليس بأكثر من ذلك، ومبلغ سوره عند الناس مائة وأربع عشرة سورة....ومن نسب إلينا أنا نقول إنه أكثر من ذلك فهو كاذب. 

Akidah kami tentang Alquran sesungguhnya dia adalah Kalam Allah, wahyu-Nya, tanzil-Nya, firman-Nya, dan kitab-Nya. Dan sesunguhnya, dia tidak didatangi kebatilan dari depan maupun dari belakang…. akidah kami, sesungguhnya Alquran yang diturunkan Allah ta’ala kepada nabi-Nya Muhammad saaaw adalah yang ada pada dua sampul, dan dia ada di antara manusia, tidaklah lebih banyak dari itu. Dan sampai surat di sisi manusia adalah 114 surat… dan siapa yang menisbatkan kepada kami lebih dari itu, maka dia berdusta.”

Syeikh Mufid (w.413 H) dalam Awail al-Maqalat : 55 juga dengan tegas menyatakan bahwa :

وَ قَدْ قال جماعَةٌ مِنْ أهل الإمامة: إنَّه لم ينقص من كلمة، ولا آية ، ولا سورة

Jamaah imamiyah berpendapat Alquran tidak berkurang walaupun satu kalimat, satau ayat atau satu surah.” 

Syaikh al-Tusi (w. 460H) dalam pembukaan tafsirnya al-Tibyan jilid 1 hal. 3, menegaskan bahwa pendapat yang menyatakan bahwa Alquran itu bertambah atau berkurang adalah tidak layak dan batil. (al-Tibyan fi Tafsir al-Quran, I, hlm.3).

(وأما الكلام في زيادته ونقصانه فمما لايليق به ايضا، لان الزيادة فيه مجمع على بطلانها والنقصان منه)

Begitu pula At-Tabarsyi dalam tafsirnya Majma’ al-Bayan jilid 1 pada muqaddimah bagian kelima menjelaskan persoalan tahrif Alquran dengan megutip pendapat Syarif al-Murtadha serta menyimpulkan bahwa Alquran tetap terjaga, tersusun dengan rapi dan tidak mungkin terjadi penambahan  ataupun pengurangan. Dan riwayat-riwayat yang menyatakan adanya pengurangan adalah batil dan tidak dapat dibenarkan.

Begitu pula Syarafudin al-Musawi (w. 1377 H/ 1957 M) pengarang Buku Dialog Sunnah-Syiah yang terkenal itu, di dalam kitabnya yang lain, al-Fushul al-Muhimmah fi Ta’lif al-Ummah yang diterjemahkan ke Indonesia dengan judul “Ikhtilaf Sunnah Syiah”, 1989, hal.192, mengatakan : “al-Quran al-Hakim yang tiada tersenuth oleh kebatilan dari depan maupun dari belakangnya ialah seperti yang tercantum dalam mushaf yang sekarang beredar dan dimiliki oleh kaum muslimin, tidak lebih satu huruf dan tidak pula kurang satu huruf. Tidak ada pergantian atau perubahan kata dengan kata lainnya, atau huruf dengan huruf lainnya. Setiap huruf diantara huruf-hurufnya sampai kepada kita secara mutawatir pada setiap generasi, secara pasti dan qat’iy, terus menerus secara bersinambungan, dari masa wahyu dan nubuwah sampai masa kita sekarang.”

Demikian juga para penafsir dan ulama kotemporer syiah, seperti al-Allamah Tabataba’i dalam Tafsir al-Mizan dan Sayid al-Khu’i dalam Tafsir al-Quran al-‘Azim, Syaikh Nasir Makarim Sirazi dalam Tafsir al-Amsal, Baqir Hakim dalam Ulumul Quran, Ayatullah Hadi Ma’rifat dalam sejarah Alquran, dan lain-lainnya menegaskan bahwa al-Quran adalah murni dan tidak ada penyelewengan di dalamnya.

2. Beberapa riwayat atau buku yg seolah-olah menisbatkan pada tahrif Alquran.

Adapun tentang hadits 17.000 ayat yang anda bawakan, maka perlu anda ketahui Syaikh al-Kulaini memasukkan hadits di atas (no. 28 bukan no. 27) dalam bab an-Nawadir, yang berarti hadits-hadits yang janggal dan perlu penakwilan. Karena itu, Syaikh Shaduq dalam menjelaskan hadits ini menyebutkan bahwa :

بل نقول: إنه قد نزل الوحي الذي ليس بقرآن، ما لو جمع إلى القرآن لكان  

 مبلغه مقدار سبعة عشر ألف آية

Kami katakan, sesungguhnya diturunkan wahyu yang bukan Alquran, yang seandainya dikumpulkan mencapai 17.000 ayat lebih”.

Jadi 17 ribu ayat yang diturunkan itu bukanlah semuanya ayat Alquran, tetapi disertai takwilnya. Sederhananya ulama syiah tdk meyakini tahrif al-quran yaitu pengurangan atau penambahan pd ayat2 al-quran. Kalau ada waktu dan merasa perlu, Tim Aswaja bisa datangi aja rumah org syiah, cek alqurannya, beda atau sama dgn al-quran anda. Atau  datangi qari-qari Medan yg menginternasional dan pernah ke Iran tanya sama mereka ttg qari Iran dan para hafidz Iran yang syiah, beda gak ayat alqurannya..! Bahkan Sayid Thabathabai yang beberapa waktu lalu sempat menggemparkan dunia karena telah hapal Alquran sejak usia 5 tahun serta bisa menggunakan bahasa isyarat, diuji hapalan Alqurannya di negara-negara sunni dan oleh ulama-ulama sunni yg akhirnya mendapatkan gelar Doktor termuda di dunia.

Adapun di riwayat-riwayat sunni juga sangat banyak menunjukkan “perubahan Alquran”. Misalnya As-Syuyuthi di dalam ad-Dur al-Mansur menyebutkan riwayat dari Umar bin Khattab menyatakan bahwa Rasul berabda Alquran terdiri dari satu juta dua puluh tujuh ribu (1.027.000) huruf.

القرْآنُ أَلْفُ أَلْفِ حَرْفٍ وَ سَبْعَةٌ و عِشْرُونَ ألفِ حَرْفٍ،

“Al Qur’an itu adalah terdiri dari sejuta dua puluh tujuh ribu huruf…”

Perhatikan riwayat tersebut menyebutkan Alquran lebih dari sejuta huruf. Padahal Alquran yang ada sekarang ini hanya berjumlah sekitar tiga ratus ribu huruf lebih. Tapi hal itu tidak bisa dijadikan bukti utk menuduh sunni mempercayai tahrif Alquran. Apapun penjelasan ulama sunni ttg hal itu kita hanya terima dengan tanpa masalah. Yang ingin saya katakan bahwa, baik sunni maupun syiah memiliki sederetan riwayat-riwayat yang seolah-olah mengindikasikan perubahan Alquran, tetapi hal itu tidak bisa dituduhkan bahwa itulah keyakinan sunni maupun syiah. Sebab keduanya sepakat Alquran terjaga sampai kiamat. Disini lagi2 terdapat titik temu dan persamaan antara sunni dan syiah.

——————-

  • Team Aswaja Menulis : Padahal umat Islam seluruh dunia meyakini bahwa Kitab Suci Alquran milik umat Islam yang beredar sejak jaman para shahabat Nabi hingga saat ini, menurut pendapat termasyhur adalah berjumlah 6.666 ayat. Berarti Alquran Versi Syiah itu tiga kali lipat dari Alquran kitab suci umat Islam. Keyakinan mereka terhadap tahriiful Quran ini juga dibukukan pada kitab Syiah berjudul Fashlul khithaab fii tahriifi kitaabi rabbil arbaab.

Tanggapan :

# CR : Bolehkah Saya meminta Team Aswaja untuk menunjukkan cetakan Alquran anda yang ayatnya berjumlah 6666 ayat. Atau, sebutkan saja identitas Alqurannya, cetakan mana, tahun berapa, penerbitnya siapa, dimana diterbitkan, dll. Biar saya cari Alquran tersebut, dan kita buktikan apakah jumlah ayat Alquran yang dicetak itu mencapai 6666 ayat atau tidak…?? Jika tidak seperti itu jumlahnya, apakah anda mau saya tuduh telah memalsukan Alquran dan mengakui tahrifnya…??? Saya juga mau tahu, siapa ulama yang menghitung jumlah ayat Alquran itu 6666 ayat..?? Apakah ulama lain yang berbeda jumlah hitungannya berarti ia mengakui tahrif..???

Saya pribadi, sampai detik ini, memiliki beberapa versi cetakan Alquran dalam maupun luar negeri dan menghitungnya, belum menemukan jumlah ayatnya yang 6666 ayat…?? Tapi saya tidak ingin menuduh macam-macam terhadap para pencetak Alquran. Karena itu agar Team Aswaja Sumut tidak tertuduh pula sebagai orang yang memalsukan Alquran, silahkan hadirkan cetakan Alquran yang berisi 6666 ayat milik Aswaja Sumut.

Untuk kitab Fashlul Khitab, Agha Buzurk Tehrani yang merupakan murid dari penulis kitab tersebut yakni Mirza Husain Nuri, telah menjelaskan bahwa kitab itu bukan untuk menunjukkan tahrif Alquran, tetapi sebaliknya untuk menunjukkan keasliannya. Karena itu di dalam kitab tersebut di bahas riwayat-riwayat dari sunni maupun dari syiah yang menggambarkan seolah-olah terjadinya tahrif Alquran. Agha Buzurk Tehrani menceriatkan bahwa Mirza Husein Nuri berkata :

“Saya telah keliru dalam memberikan judul kitab tersebut. seharausnya kitab tersebut saya beri judl “Fashlul Khitab fi Adami Tahrif al-Kitab”, sebab dalam kitab tersebut saya telah membuktikan bahwa kitab suci Islam yaitu Alquran al-Karim, yang ada di antara dua sisi, yang telah tersebar di seluruh dunia adalah wahyu ilahi dengan semua surat, ayat dan kalimatnya. Tidak ada perubahan, penambahan atau pengurangan yang terjadi padanya sejak dia dikumpulkan hingga sekarang. Sedangkan kumpulan pertama Alquran sampai kepada kita dengan tingkat kemutawatiran yang sangat meyakinkan. Demikian pula saya telah melalaikan penjelasan yang tegas di banyak tempat dalam kitab tersebut sehingga banyak kritikan dan celaan yang ditujukan kepada saya. Bahkan saya, karena kelalaian, telah menegaskan yang sebaliknya. Saya memberikan isyarat kepada tujuan saya yang sebenarnya pada halaman 22. Sebab yang penting ialah timbulnya keyakinan bahwa tidak ada (ayat atau Alquran) yang lain selain yang terkumpul di antara dua sisi ini. Sebagaimana kami menukil permasalahan ini dari syaikh Mufid pada halaman 36. Keyakinan tidak ada yang lain ini tergantung pada penghapusan kemungkinan-kemungkinan aqliy yang enam. Kemudian masih ada satu lagi kemungkinan tersebut yang saya tinggalkan bagi siapa saja yang bersedia untuk meneliti dengan lebih mendalam dengan tanda-tanda dan dalil-dalil yang saya bawakan.”

Silahkan Tim Aswaja, jika rajin baca kembali kitab Fashlul Khitab tersebut dan poin-poin yang dibahas beliau dengan teliti. Selamat mengkaji..!! (bersambung)

SAHABATKU, JAGALAH LISANMU…!! (BAG 5)

SAHABATKU, JAGALAH LISANMU..!! (Bag 5)

(Tanggapan Untuk Buletin Dakwah Aswaja Sumut, No. 17 Agustus 2013)

 Oleh : Candiki Repantu

Tentang Sahabat dan Isteri-Isteri Nabi Saaw

  • Ø  Team Aswaja menulis :

ISLAM : Dilarang keras mencaci-maki para sahabat Nabi SAW.

SYI`AH : Mencaci-maki para sahabat tidak apa-apa bahkan Syiah berkeyakinan, bahwa para sahabat setelah Rasulullah SAW wafat, mereka menjadi murtad, kecuali tiga orang saja. Alasannya karena para sahabat itu membai`at Sayyidina Abu Bakar sebagai Khalifah. Tuduhan Syiah terhadap kemurtadan para shahabat tertera dalam kitab Al-Kafi juz 8, hal 245, no 341: Dari Hannan, dari ayahnya, dari Abu Jakfar AS berkata : Konon orang-orang (seluruh Shahabat Nabi) itu menjadi murtad setelah Nabi wafat, kecuali tiga orang saja yang selamat. Maka ditanyakanlah: Siapa tiga orang yang selamat itu ? Abu Jakfar menjawab : Almiqdad bin Al-aswad, Abu Dzar Alghifari, dan Salman Alfarisi RA.

Tanggapan :

#CR : Islam melarang keras mencaci maki siapapun kaum muslimin, bukan hanya para sahabat..? Apakah menurut Aswaja, boleh mencaci maki kaum muslimin selain sahabat..? jadi pembatasan anda kepada sahabat, tidak pada tempatnya dlm ajaran Islam. Bukankah Alquran mengatakan yang kira-kira maknanya janganlah kamu memanggil org lain dengan panggilan buruk, karena boleh jadi mereka lebih baik dari kamu. Masih banyak ayat-ayat dan hadits-hadits Nabi saaw, yang melarang mencaci maki kaum muslimin seluruhnya, bukan hanya sahabat. Dan inilah yang diajarkan di dalam syiah.

Persoalan sahabat, syiah tidak mencaci maki mereka. Yang ada adalah bahwa kaum syiah berbeda dengan kaum sunni dalam menyikapi persoalan “keadilan sahabat”. Jika kaum sunni memberikan predikat adil bagi seluruh sahabat (kulluhum udul), maka syiah sesuai dgn apa yang mereka kaji dari dalil-dalil yg ada, tidak sependapat dengan sunni tsb. Bagi syiah tidak seluruh sahabat bisa dipredikati adil. Seperti halnya umat Islam lainnya, di kalangan sahabat juga terdapat orang-orang yg tidak adil. Karena terbukti di kalangan sahabat itu juga terjadi hal-hal yang merusak keadilan. Misalnya terjadi pembunuhan tanpa hak di kalangan sahabat, ada sahabat yang berdusta, munafik, dan lainnya.

Ayat-ayat dan riwayat-riwayat cukup banyak yang menceritakannya. Sebagai misal di dalam Alquran ada kisah Mesjid org2 munafik, bahkan di awal2 dalm surat Albaqarah disebutkan, “Di antara manusia ada yg berkata, kami beriman kepada Allah dan hari akhir, padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman”. (Q.S. al-Baqarah : 8), lanjutan ayat itu mengkisahkan org2 munafik. Atau juga cukup jelas Q.S. at-taubah : 101  yg menyatakan “Dan diantara org2 arab badui yg ada disekitarmu itu ada orang-orang munafik. Dan diantara ahli Madinah sangat keterlaluan kemunafikannya. Engkau tidak mengetahui mereka , tetapi Kami mengetahuinya. Nanti mereka Kami siksa dua kali, kemudian mereka akan dikembalikan kpd azab yang besar.” Itu di antara pernyataan Alquran bahkan ada surat alquran dengan nama surat a-Munafikun.

Kemudian, Rasul saaw sendiri dalam  riwayatnya menyebutkan bahwa diantara sahabatnya ada yg munafik sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim berikut ini..

قال النبي صلى الله عليه و سلم في أصحابي اثنا عشر منافقا فيهم ثمانية لا يدخلون الجنة حتى يلج الجمل في سم الخياط 

Nabi SAW yang bersabda “Di antara para sahabatku (fi Ashabi) terdapat dua belas orang munafik. Delapan diantaranya tidak akan masuk surga sampai unta masuk ke lubang jarum… (H.R. Muslim juz 4 no 2779)

Perhatikan hadits di atas Nabi menggunakan kalimat FI ASHABI (sahabatku) dan dikatakan munafik, dan tidak mungkin orang munafik dihukumi adil. Hanya saja, siapa saja sahabat yg munafik itu..?? orang syiah tidak menyebutkan siapa-siapa saja yang termasuk munafik tersebut. Tetapi, sesuai nas itu bahwa terdapat sahabat yg munafik dan ada yg tidak adil. Org munafik sudah pasti tidak dihukumi adil, tetapi org yang tidak adil belum tentu dihukumi munafik.

Kemudian soal kemurtadan sahabat yg disebutkan dalam beberapa riwayat syiah, itu ditafsirkan para ulama syiah bukanlah dalam makna keluar dari agama Islam. Tetapi, hadits2 tersebut dimaknai oleh ulama syiah bahwa mayoritas para sahabat, tidak menjadikan Imam Ali as sebagai pemimpin yang telah ditunjuk oleh Rasul saaw, dan mengangkat orang lain. Dalam hal ini, mereka dipandang membantah/berbalik ke belakang (murtad) setelah Rasul saaw wafat. Jadi, bukan para sahabat kembali menjadi kafir, karena tidak ada dalil bahwa para sahabat keluar dari agama Islam. Bahkan mereka salat dan mengerjakan ibadah2 Islam lainnya, dan Imam Ali juga salat bersama mereka. Selain itu membatasi pada tiga sahabat itu juga tidak bisa dibenarkan, karena masih banyak riwayat-riwayat lainnya yang menunjukkan ratusan sahabat-sahabat setia Imam Ali as dan mendukungnya seperti Ammar bin Yasir, Abbas paman Nabi, Ibnu Abbas, Jabir bin Abdillah al-Anshari, Hujur bin Adi, dll, yang disebutkan di dalam kitab2 syiah.

——————

  • Team Aswaja menulis

ISLAM : Siti Aisyah RA istri Rasulullah sangat dihormati dan dicintai. Beliau adalah Ummul Mu`minin.

SYI`AH : Siti Aisyah dicaci-maki, difitnah bahkan dikafirkan.

 

Tanggapan :

# CR : Untuk lebih jelas tentang hal ini, saya tuliskan fatwa Imam Khamenei, seorang marja’ besar syiah, sbb :Diharamkan menghina simbol-simbol (yang diagungkan) saudara-saudara seagama kita, Ahussunnah, berupa tuduhan terhadap istri Nabi Saw dengan hal-hal yang mencederai kehormatannya, bahkan tindakan ini diharamkan terhadap istri- istri para Nabi terutama penghulunya, yaitu Rasul termulia saw.”

Adapun kalau syiah mengkritisi isteri-isteri Nabi, itu bagian tradisi ilmiyah yang mana syiah tidak sependapat dgn apa yg dilakukan Aisyah seperti misalnya memerangi Imam Ali as, yang ada tercatat di dalam kitab2 sejarah, bukan ingin mencaci maki atau mengkafirkannya…(bersambung)

SAHABATKU, JAGALAH LISAMU…!! (BAG 4)

SAHABATKU, JAGALAH LISANMU..!! (Bag 4)

(Tanggapan Untuk Buletin Dakwah Aswaja Sumut, No. 17, Agustus 2013)

Oleh : Candiki Repantu

TENTANG KEPEMIMPINAN

  • Ø  Team Aswaja Menulis :

ISLAM : Percaya kepada para imam madzhab dan para ulama, tidak termasuk rukun iman. Adapun jumlah imam-imam di kalangan umat Islam tidak terbatas. Selalu timbul imam-imam dari kalangan para ulama pada setiap jaman, demikian akan bermunculan sampai hari kiamat. Karenanya membatasi imam-imam hanya dua belas (12) orang atau jumlah tertentu, tidak dibenarkan.

 

SYI`AH : Percaya kepada dua belas imam-Imam mereka itu termasuk rukun iman. Karena itu orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas imam mereka, dianggap kafir dan akan masuk neraka.


Tanggapan :

 # CR : Kerancuan pertama team Aswaja adalah tidak membedakan antara imam (khalifah, pemimpin) dengan ulama. Saya tdk ingin mengulasnya disini secara detil menurut konsepsi teologis syiah atau sunni. Agar mudah saya ingin berikan contoh saja. Ulama bisa saja banyak tetapi Imam/khalifah/pemimpin atau istilah yg sejenisnya itu satu secara aktual dlm setiap masa. Kalau sunni di tanya siapa pemimpin/khalifah/imam/amir setelah rasul wafat..? maka tentu dijawab adalah Abu Bakar pemimpinnya. Lalu klu ditanya siapa ulamanya di zaman itu..? maka tentu akan dijawab sangat banyak, mungkin seluruh atau sebagian besar sahabat adalah ulama2 ahli agama. Mungkin contoh itu mempermudah anda membedakan antara pemimpin/imam/khalifah dan ulama.

Silahkan sunni tidak memasukkan masalah kepemimpinan sebagai rukun iman, walaupun  meyakini kewajibannya. Bahkan, mungkin saja bagi sunni begitu pentingnya sehingga wajar bila Abu Bakar, Umar dan sahabat lainnya, medahulukan urusan memilih pemimpin daripada mengurusi jenazah Rasul saaw. Tapi di sini Team Aswaja kembali rancu, sebab kalau itu bukan rukun iman, lantas mengapa anda menyesatkan  org syiah yang tidak mempercayai kepemimpinan Abu Bakar, Umar, Usman, dan lainnya?? Ini berarti bagi Aswaja, kepemimpinan Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali, Muawiyah, dll adalah sangat penting, shg yg tdk mempercayainya dihukumi bukan Islam. Saya mau tahu menurut Aswaja Sumut, Kafirkah org yg tidak percaya pd kepemimpinan Khalifah Abu Bakar, Umar, dan Usman…?

Kemudian, apakah imam dan ulama itu akan ada sampai kiamat..? jawabnya, Ya, akan senantiasa ada sampai kiamat. Apakah jumlah terbatas..? Menurut Team Aswaja, keduanya tidak terbatas sampai kiamat. Its ok…. Tapi bagi kaum syiah keduanya berbeda, mereka membatasi keimamahan, tetapi tidak membatasi keulamaan. Bagi syiah, imam sebagai pemimpin mutlak pengganti Rasul saaw hanya berjumlah 12 orang sampai kiamat yaitu Imam Ali as sampai Imam Mahdi afs (Imam Mahdi afs adalah imam syiah pd saat ini, bukan Imam Khamenei), sedangkan keulamaan tidak terbatas jumlahnya sampai kiamat. Jadi, selain dari 12 imam tsb adalah ulama-ulama, misalnya Imam Khomeini atau Imam Khamenei saat ini, dan banyak lagi ulama syiah yg muktabar lainnya.

Mengapa hanya di batasi 12 pemimpin saja? Jawabnya, karena begitulah yang disabdakan oleh Rasulullah saaw. Terdapat puluhan hadits di kitab-kitab sunni (dan tentu saja kitab2 syiah) yang menyebutkan ttg jumlah pemimpin pasca rasul saaw adalah 12 orang. Silahkan cek kitab Bukhari, Muslim, Abu Daud, Imam Ahmad, dan lainnya utk mendapatkan informasinya. Tentu ustadz team Ustadz Aswaja sangat mengetahui hadits2 tersebut di dalam kitab2 sunni tersebut. Kalau team Aswaja tidak membenarkan jumlah  12 ini, maka yang pertama harus anda salahkan adalah Rasulullah saaw yang membatasi dan membuat jumlah 12 tersebut. Bukhari dan Muslim misalnya meriwayatkan dari Jabir yang berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Akan ada 12 pemimpin dan khalifah.’ Kemudian beliau mengatakan sesuatu yang tidak kudengar. Ayahku menyampaikan bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Semuanya dari golongan Quraysi’.” Apakah Tim Aswaja Sumut tdk percaya dgn hadits2 12 pemimpin ini..??

Karenanya, yang harus ditanyakan adalah sebaliknya, apa dalilnya team Aswaja mengatakan bahwa jumlah Imam atau khalifah (bukan ulama ya) tidak terbatas, sementara Rasul saaw, dengan jelas meyebutkan jumlahnya hanya 12 orang?

Lantas bagaimana hukumnya org yang tidak percaya pd keimamahan ke-12 imam tersebut..?? Sesuai dgn fatwa seluruh marja’ syiah yang saya ketahui, bahwa ahlussunnah adalah kaum Muslimin. Jadi, tuduhan anda di atas tdk berlaku bagi kaum syiah itu sendiri. Coba anda cek org syiah di Indonesia, saya yakin sebagian mereka masih memiliki org tua yg sunni, isteri yang sunni, saudara kandung yang sunni, dan paman atau bibi yg sunni. Tanyakan mereka apakah mereka menganggap org tuanya, isterinya, saudara, paman dan bibinya sebagai org2 kafir dan memberlakukan hukum kafir serta menyatakan masuk neraka…?? Naudzubillah

=========

 

  • Ø  Team Aswaja menulis :

ISLAM : Al-Khulafaurrasyidun setelah Nabi SAW wafat yang diakui sah adalah: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali.

 

SYI`AH : Ketiga Khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman) tidak diakui oleh Syiah. Karena dianggap telah merampas kekhalifahan Ali bin Abi thalib (padahal imam Ali sendiri membai`at dan mengakui kekhalifahan mereka bertiga).


Tanggapan

# CR : Sekarang saya ingin bertanya kpd team Aswaja, apa dalilnya bahwa Khulafa al-Rasyidin yang sah pasca Rasul saaw hanya dibatasi empat orang tersebut saja…?? Coba anda bawakan nas-nya.

Soal tidak mengakui Abu Bakar, Umar, Usman sebagai Khalifah sudah dikatakan di atas sbg masalah furu’ dan tidak menyebabkan kekafiran. Kalau anda menyatakan bahwa yang tidak mengakui ketiga khalifah itu sbg sesat dan kafir, maka yang pertama harus anda sesatkan adalah Sayidah Fatimah Zahra as. Karena seumur hidupnya tidak pernah membaiat Abu Bakar. Apakah menurut anda Sayidah Fatimah as sesat dan kafir..??? Begitu pula dengan Saad bin Ubadah yang merupakan salah seorang pemimpin Anshar, tidak membaiat Abu Bakar sampai wafatnya..?? Sesat dan kafirkah Saad bin Ubadah…??? Adapun tentang baiat Imam Ali as, hal itu telah dijelaskan beliau dalam Nahjul Balagah,khutbah ke-3 yang dikenal dengan khutbah Syiqsiqiyah, bahwa hal itu adalah keterpaksaan, demi menjaga keutuhan Islam dan persatuan kaum Muslimin.

Kita katakanlah bahwa Imam Ali as benar membaiat Abu Bakar, itupun setelah wafatnya Sayidah Fatimah as yang sekitar enam bulan pasca wafatnya Rasul saaw. Lalu apa hukum dan kedudukan Imam Ali selama enam bulan tidak berbaiat kpd Abu Bakar..??? Sesat dan kafirkah Imam Ali selama enam bulan tersebut..??

==========

  • Ø  Team Aswaja menulis :

ISLAM : Khalifah (Imam) adalah manusia biasa, yang tidak mempunyai sifat Ma`shum. Berarti mereka dapat berbuat salah/ dosa/ lupa. Karena sifat Ma`shum, hanya dimiliki oleh para Nabi.

 

SYI`AH : Para imam yang jumlahnya dua belas tersebut mempunyai sifat Ma`shum, seperti para Nabi, yaitu tidak pernah berbuat salah.

 Tanggapan :

# CR : Kalau khalifah anda tidak maksum dan dapat berbuat salah/dosa/lupa, bisa tolong anda sebutkan masing-masing 3 hal saja kesalahan/kemaksiatan khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, dan Khalifah Usman..??? Bisakah anda sebutkan masing2 tiga hal saja ketidaktahuan khalifah Abu Bakar, Umar dan Usman ttg hukum2 Islam..?? Kemudian anda menyatakan bahwa hanya Nabi yang maksum. Apa dalilnya bahwa kemaksuman hanya milik para Nabi, dan selain Nabi tidak bisa maksum…?

Kalau syiah meyakini kemaksuman imam dengan dalil2 yang ada pada mereka, mengapa anda keberatan. Bukankah hal ini hanya beda dalam penafsiran dan hal itu biasa dalam tradisi khazanah Islam. Kaum syiah misalnya menyatakan bahwa kedudukan Imamah/khalifah itu begitu tinggi sehingga dibutuhkan manusia sempurna yg secara ilmu dan amal tidak akan melakukan kesalahan. Sebab, fungsi imam itu melanjutkan fungsi kenabian yaitu menjelaskan, menafsirkan, mengamalkan, dan juga menjaga agama dari kesalahan. Lantas, bagaimana mungkin org yg bisa salah, melakukan tugas seperti itu.?? Bagaimana kita bisa percaya kepada org yg bisa salah, bahwa agama yg dijelaskan, ditafsirkan dan diamalkannya itu benar dan tidak mungkin salah…?? Itulah kenapa ayat “Atiullah, wa atiurrasul, wa ulil amri minkum” itu bersifat mutlak. Ketaatan kpd Allah, ketaatan kpd Nabi dan Ulil amri (pemimpin) bersifat mutlak. Dan bagi syiah kemutlakan ketaatan hanya boleh pd orang yang maksum, sebab org yg tidak maksum, kewajiban kpdnya tdk mungkin bersifat mutlak. Perhatikanlah bagaimana Allah mensejajarkan ketaatan kpd Nabi dgn ketaatan kpd ulil amri tanpa diselingi apapun. Saya rasa tak perlu diajukan dalil2 syiah baik secara nash maupun rasional ttg persoalan ini. Saya rasa sudah cukup banyak tulisan yg bisa anda baca utk mengetahuinya. Kalau Tim Aswaja berbeda dlm penafsiran, ya gak masalah. Semua berjalan sesuai dgn keyakinan masing2 dan saling menghormati. Itulah keindahan perbedaan dlm Islam… (bersambung)

SAHABATKU, JAGALAH LISANMU…(BAG 3)

SAHABATKU, JAGALAH LISANMU..!! (Bag 3)

 (Tanggapan Untuk Buletin Dakwah Aswaja Sumut, No. 17 Agustus 2013)

 Oleh : Candiki Repantu

TENTANG RUKUN IMAN DAN SYAHADAT

  • Team Aswaja menulis : Perbedaan aqidah/keyakinan umat islam dengan ajaran Syiah Imamiyah bisa kita lihat sebagai berikut : Rukun Iman bagi Umat Islam ada 6 yaitu : (1). Beriman kepada Allah; (2) Beriman kepada para malaikat; (3). Beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan kepada para rasul; (4). Beriman kepada para rasul; (5). Beriman kepada hari qiyamat; (6). Beriman kepada qadha` dan qadar, baik-buruknya dari Allah. Rukun Iman versi Syiah ada 5 : (1). Attauhid (keesaan Allah); (2). Annubuwwah (kenabian); (3). Al-imamah (pengganti Nabi Muhammad adalah 12 imam Syiah); (4). Al-adl (keadilan Allah); (5). Al-ma`ad (hari qiyamat).

Tanggapan :

# CR : Saya rasa tidak masalah dengan rukun Iman masing-masing mazhab. Walaupun mungkin kurang tepat disebut rukun iman dalam versi syiah, mereka lebih menyebutnya sebagai ushuluddin—dasar beragama yang dengan meyakininya agama akan diamalkan. Perlu diketahui pd dasarnya penyusunan rukun iman (ushuluddin) ini bersifat ijtihad, sehingga terdapat perbedaan di kalangan kaum muslimin. Benar bahwa ada nas-nas yang menyebutkannya, tetapi hal itu adalah konfirmasi akal dan wahyu yang kemudian di susun ulama sesuai dengan tingkat prioritasnya. Adakah yang salah dengan rukun iman syiah tersebut? Apakah kaum syiah yang meyakini lima rukun itu menyebabkannya menjadi “kafir”? Coba anda sebutkan diantara kelima rukun itu yg membuat syiah sesat dan kafir?

Mari kita  skemakan agar bisa dipahami dengan mudah. Dari komposisi di atas, maka terdapat tiga kesamaan rukun imannya secara lahir yaitu : Iman Kepada Allah, Imam kepada Kenabian, dan Iman Kepada Hari Kebangkitan. Inilah ushul Islam (dasar agama Islam) yang fundamental. Kemudian sunni menambahkan tiga lagi, yaitu iman kepada Malaikat, Kitab dan qadha-qadar. Apakah syiah tidak meyakini ketiga hal tersebut? Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan tanpa memahaminya dengan baik. Syiah meyakini keimanan pd malaikat dan kitab, hanya saja kedua hal itu dimasukkan dalam bab “Kenabian (Nubuwah)”. Karena kenabian itu menerima wahyu melalui malaikat. Jadi meskipun tidak disebutkan secara urutan, tetapi bukan berarti syiah menolaknya.

Kemudian tentang qada-qadar, syiah memasukkannnya pada bab keadilan, karena bagi syiah keadilanlah (al-Adl) yang menjadi dasar qadha dan qadar, bukan sebaliknya. Begitu pula sunni pada dasarnya percaya pada konsep keadilan, dan juga mengulasnya pada pembahasan qada-qadar dan ketauhidan. Jadi tinggal persoalan imamah, dan inilah yang membedakan secara signifikan antara sunni dan syiah. Karena itu imamah adalah ushulul mazhab (dasar kemazhaban) yang mana bagi yang tidak mempercayainya maka dia bukan mazhab syiah, tetapi dia tetap Islam. Itulah mengapa ulama syiah yang muktabar tidak pernah mengkafirkan orang sunni.

=======

  • Team Aswaja menulis Syiah tidak meyakini ketaatan para malaikat, karena mereka yakin bahwa malaikat Jibril itu salah/berkhianat saat menyampaikan wahyu, mereka meyakini semestinya wahyu Allah diturunkan kepada Sayidina Ali bin Abi Thalib, tapi malaikat Jibril justru diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.”

Tanggapan :

# CR : Ini adalah salah satu tuduhan yang senantiasa diulang-ulang oleh sekelompok orang yang boleh jadi karena ketidaktahuan atau pula karena kebencian. Kalau karena ketidaktahuan, maka bisa dimaklumi, dan sebaiknya bagi yang tidak tahu adalah bertanya. Namun jika kebencian hati, Allah berfirman, “Janganlah kebencianmu kepada suatu kaum membuat kamu berlaku tidak adil”.

Sebagai tanggapan, saya meminta kepada team Aswaja untuk menunjukkan siapa ulama dan kitab syiah yang muktabar yang menyebutkan bahwa Jibril berkhianat saat menyampaikan wahyu? Jika tidak menemukannya di kitab syiah maka sebaiknya team Aswaja meminta maaf kepada kaum syiah karena telah menfitnah mereka. Seandainya pun ada, team Aswaja juga tidak berhak menisbatkannya kepada syiah, karena ribuan ulama syiah dari masa lalu dan masa kini tidak mengakui hal tersebut.

Kemudian hal ini juga menunjukkan kontradiktifnya pemikiran Team Aswaja Sumut. Bukankah, team Aswaja Sumut menyebutkan bahwa syahdat orang syiah itu tiga kali, yaitu bersyahadat  bahwa tiada Tuhan selain Allah, kemudian bersyahadat bahwa Nabi Muhammad adalah Rasulullah, dan bersaksi bahwa Ali  adalah wali Allah. Bukankah ini kontradiksi, disatu sisi team Aswaja menuduh syiah tidak percaya pada Nabi Muhammad saaw, karena kesalahan Jibril, tapi ditempat lain team Aswaja menyatakan bahwa orang syiah itu bersyahadat akan kenabian Muhammad saaw.

Begitu pula di atas, di antara lima rukun iman syiah yg dilansir oleh team Aswaja, jelas-jelas tercatat an-Nubuwah (kenabian) yang didalamnya tentu saja kenabian Muhammad saaw. Coba periksa buku teologi syiah yang besar maupun yg kecil, bagaimana para ulama syiah menyebutkan kedudukan Rasulullah saaw. Lantas kok tiba2 menuduh syiah tidak percaya pd kenabian Nabi Muhammad saaw.

Yang lebih mengherankan lagi, bukankah team Aswaja mendefenisikan syiah dgn mengutip Syahrastani (ulama Sunni) yang mengatakan: “Syiah adalah kelompok pendukung ‘Ali bin Abi Thalib. Mereka berpendapat bahwa ‘Ali bin Abi Thalib adalah imam dan khalifah yang ditetapkan melalui wahyu dan wasiat dari Rasulullah SAW…” dan kemudian Mengutip Syaikh Mufid (Ulama syiah) yg menulis bahwa “Syiah adalah pengikut Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib), atas dasar mencintai dan meyakini kepemimpinan-nya (imamah) sesudah RASUL SAAW tanpa terputus…” ;  Lalu kok tiba2 melompat menuduh syiah tidak percaya kepada kenabian Muhammad saaw, padahal diantara dalil kepemimpinan Imam Ali as berasal dari sabda Rasul saaw. Bukankah ini kontradiktif… makanya pertimbangkanlah sebelum menulis. Jangan hanya berdasarkan selera pasar atau selera pemesan…!

Untuk lebih tahu, silahkan team Aswaja mendatangi majelis-majelis orang-orang syiah, maka anda akan mendengar  terus menerus salawat kepada rasul saaw dan ahlul baitnya menghiasi majelis tersebut.

=============

  • Team Aswaja menulis : Syahadat Umat Islam : Dua kalimat syahadat. Syahadat versi Syiah : Tiga kalimat syahadat, disamping Asyhadu an Laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasululullah, masih ditambah menyebut nama-nama dua belas imam mereka.

Tanggapan

# CR : Agar tidak memperpanjang pembahasan saya sarankan kepada Team Aswaja mempelajari tata cara salat syiah, yang salah satu kewajiban di dlm salat adalah tasyahud dan membaca syahadat, maka anda akan jumpai bacaan syahadat org syiah dlm salat tersebut adalah sbb : “Asyhadu an laa ilaaha illallah wahdahu laa syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh”, tanpa ada tambahan apapun. Mengapa syahadat di dalam salat itu menjadi penting ukurannya? karena salat merupakan puncak penghambaan dan amalan utama Islam, yang tanpa syahadat itu maka salat menjadi batal. Tentu saja org syiah tdk mau salatnya batal jika meninggalkan syahadat ketiga yg anda katakan..! Tapi ternyata syahadat  ketiga itu tak pernah ada diajarkan di dalam salat-salat mazhab syiah. (Bersambung ke Bag 4)

SAHABATKU, JAGALAH LISANMU…!! (BAG 2)

SAHABATKU, JAGALAH LISANMU..!! (Bag 2)

(Tanggapan Untuk Buletin Dakwah Aswaja Sumut, No. 17, Agustus 2013)

Oleh : Candiki Repantu

PERBEDAAN SUNNI DAN SYIAH : AKIDAH USHULIYAH ATAU FURUIYYAH

Team Aswaja menulis : Menurut asy-Syahrastani dalam karyanya AL-MILAL WAN NIHAL :“Syiah adalah kelompok pendukung ‘Ali bin Abi Thalib. Mereka berpendapat bahwa ‘Ali bin Abi Thalib adalah imam dan khalifah yang ditetapkan melalui wahyu dan wasiat dari Rasulullah SAW, baik secara terang (eksplisit) atau implisit. Mereka beranggapan bahwa Imamah (kepemimpinan) tidak boleh keluar dari jalan keturunan ‘Ali bin Abi Thalib. Imamah adalah masalah akidah yang menjadi tiang agama”. (Al-milal wan Nihal, hal 146, Darul Fikr).

Sedangkan menurut tokoh syiah sendiri, Syekh Mufid yang hidup diabad ke 5 H (wafat 413 H / 1022 M) mendefinisikan Syiah sebagai : “Syiah adalah pengikut Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) shalawatullah ‘alaih, atas dasar mencintai dan meyakini kepemimpinan-nya (imamah) sesudah Rasul SAW tanpa terputus (oleh orang lain seperti Abu Bakar dan lainnya). Tidak mengakui ke-imamahan imamah orang sebelumnya (Ali) sebagai pewaris kedudukan khalifah dan hanya meyakini Ali sebagai pemimpin, bukan mengikuti salah satu dari orang-orang sebelumnya (Abu Bakar, Umar dan Utsman)”. (Almufid, Awa’il al-Maqalat, hal 2-4).

Defenisi Almufid diatas secara tegas menunjukkan bahwa dia tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar, Umar, Utsman secara utuh dan tertib urutannya.

Tanggapan :

# CR :  Tidak ada masalah dengan defenisi dan pemaknaan Syahrastani maupun Syaikh Mufid tentang syiah di atas. Syiah dengan tegas memang mengakui bahwa pasca Rasulullah saaw yang berhak menjadi imam/khalifah adalah Imam Ali as dan keturunannya. Jika syiah tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar, Umar dan Usman tidaklah menjadikannya kafir. Atau team Aswaja berpendapat bahwa siapa yg tidak mengakui Abu Bakar, Umar dan Usman sebagai khalifah maka dikhukumi kafir??? Maka yg pertama harus dikafirkan oleh Team Aswaja adalah keluarga Rasulullah saaw sendiri, yakni Sayidah Fatimah Zahra as, karena beliau tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar.

Selain itu ini termasuk hal yg kontradiktif dalam pikiran Team Aswaja,  karena menurut Team Aswaja khilafah bukan merupakan bagian dari akidah yg harus diyakini—Ingatlah rukun Iman yang enam, tidak ada iman kepada kehalifahan Abu Bakar, Umar, dan Usman. Lantas mengapa “mengkafirkan” syiah karena tidak meyakininya. Apakah untuk menjadi Islam seseorang harus bersyahadat dengan “Bersaksi bahwasanya Abu Bakr, Umar, Usman, Ali adalah khalifah Rasulullah”. Yang jika tidak bersaksi sedemikian rupa, maka ia belum masuk Islam???—Maaf saya tidak menuduh Team Aswaja ingin menambah syahadat, jangan disalah artikan.

Memang persoalan siapa yg berhak menjadi imam/khalifah pasca Nabi saaw adalah perbedaan antara sunni dan syiah, tetapi hal itu tidak menyebakan seseorang keluar dari jalur keislaman. Syiah meyakini yg berhak adalah Imam Ali as dan keturunannya, sedangkan sunni menyatakan Abu Bakar, Umar, Usman, Muawiyah, Yazid, dan lain-lainnya berhak juga atas kekhalifahan. Jika Team Aswaja Sumut mempertanyakan syiah mengapa Imam Ali as dan keturnanya yg berhak menjadi khalifah? Maka kaum syiah juga layak bertanya, siapa yang menyatakan bhw Abu Bakar, Umar, Usman, dan lannya tersebut berhak memangku khalifah? Jika Team Aswaja menyatakan punya dalil utk kekhalifahan mereka, maka kaum syiah juga punya segudang dalil utk kekhalifahan Imam Ali as dan keturunannya [].

=========

  • Team Aswaja kemudian Menulis : “Kesepakatan ulama Islam mengatakan bahwa perbedaan Islam dan syiah adalah perbedaan aqidah/keyakinan, bukan perbedaan khilafiyah furu’iyah. Sehingga tidak dapat dikatakan syiah sebagai mazhab yang berkonotasi dengan mazhab khilafiyah. Dan ini dikabarkan oleh kelompok syiah sebagai mazhab ahlul bait. Pada sejak timbul keyakinan dan ajaran ini, tidak dikenal sebagai mazhab ahlul bait. Ini salah satu propaganda mereka (di’ayah).”

 

Tanggapan :

# CR : Pertama, Team Aswaja kembali mengklaim ijmak, kesepakatan ulama Islam. Saya tidak tahu yang dimaksudnya ijmak ulama tersebut. Padahal, Risalah Amman tahun 2005 yang ditanda tangani ulama sedunia yang mayoritasnya adalah ahlussunnah wal jamaah, termasuk dari Indonesia, mensahkan dua mazhab syiah (yakni Ja’fari dan Zaidiyah) sebagai mazhab resmi dalam Islam dan terlarang mengkafirkannya. Jadi syiah Ja’fari yakni nama lain bagi syiah imamiyah itsna asyariyah yang meyakini pasca Rasulullah saaw terdapat 12 imam yang menjadi pengganti Rasul saaw memimpin umat yang dimulai dari Imam Ali as dan diakhiri dengan Imam Mahdi afs, adalah salah satu mazhab Islam yang sah diakui oleh Risalah Amman tersebut. Meskipun boleh jadi terdapat orang yang tidak sepakat dengan risalah Amman tersebut, tetapi hal itu tidak dapat digunakan untuk menolak risalah tersebut, apalagi dengan klaim ijmak ulama. Saya tuliskan salah satu isi dari risalah Amman berikut ini :

  • Poin (2) : “Ada jauh lebih banyak kesamaan dalam mazhab-mazhab Islam dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan di antara mereka. Para pengikut/penganut kedelapan mazhab Islam yang telah disebutkan di atas semuanya sepakat dalam prinsip-prinsip utama Islam (ushuluddin).  Semua mazhab yang disebut di atas percaya pada satu Allah yang Maha Esa dan Maha Kuasa; percaya pada Alquran sebagai wahyu Allah; dan bahwa Baginda Muhammad saaw adalah Nabi dan Rasul untuk seluruh manusia. Semua sepakat pada lima rukun Islam; dua kalimat syahadat, kewajiban salat, zakat, puasa di bulan ramadhan, dan haji ke baitullah di Mekah. Semua percaya pada dasar-dasar akidah Islam; kepercayaan pada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruk dari sisi Allah. Perbedaan di antara ulama kedelapan mazhab Islam tersebut hanya menyangkut masalah-masalah cabang agama (furu’) dan tidak menyangkut prinsip-prinsip dasar Islam (ushul). Perbedaan pada masalah-masalah cabang agama tersebut adalah rahmat ilahi. Sejak dahulu dikatakan bahwa keragaman pendapat di antara ulama adalah hal yang baik.”

Cukuplah risalah itu sebagai bantahan untuk team Aswaja yang mengklaim adanya “Kesepakatan ulama Islam mengatakan bahwa perbedaan Islam dan syiah adalah perbedaan aqidah/keyakinan, bukan perbedaan khilafiyah furu’iyah.Ternyata perwakilan ulama Islam sedunia menganggap “perbedaan antara syiah dan sunni bersifat furuiyyah. Saya tidak tahu apakah team Aswaja sudah mengumpulkan ulama sedunia untuk membahas syiah dan sunni sehingga mengklaim adanya “kesepakatan”?

Kedua, adalah tentang afiliasi syiah sebagai mazhab ahlul bait. Apa yang menjadi keberatan team Aswaja kalau syiah mengklaim sebagai mazhab ahlul bait? Padahal syiah tidak mempermasalahkan team Aswaja sebagai mengaku penganut ahlussunnah—seolah hanya mereka saja pengikut sunnah.

Saya tidak ingin membahasnya dengan spesifik karena tanggapan disesuaikan dengan kondisi buletin. Sebagai gambaran singkat, sebuah penamaan mazhab itu adakalanya muncul karena peristiwa historis atau keterkaitannya dengan sumber yang diikuti (rujukan). Jika team Aswaja mengaku ahlussunnah dan mengklaim sebagai pengikut sunnah Nabi dan para sahabat sehingga dinamai Ahlussunnah wal jamaah; maka mengapa team Aswaja alergi jika syiah mengklaim sebagai penganut mazhab ahlul bait karena mereka merujukkan seluruh konsepsi ajarannya kepada Nabi saaw dan ahlul baitnya (keluarga suci Rasul). Jadi propaganda syiah bahwa mereka penganut mazhab ahlul bait terbukti dalam seluruh konsepsi ajaran yang mereka yakini sebagai bersumber dari Nabi saaw dan ahlul baitnya, baik akidah maupun ibadah. Silahkan pelajari mazhab syiah dengan seksama, dengan akal yang jernih dan hati yang bersih.

Begitu pula, syiah secara masyhur berpegang teguh pada hadits shahih yang menyebutkan bahwa Rasulullah saaw bersabda, “Aku tinggalkan bagi kamu dua hal yang berat, yang jika kamu berpegang teguh pada keduanya maka kamu tidak akan tersesat selama-salamanya, yaitu kitabullah dan ahlul baitku”. Dengan demikian, karena mazhab syiah konsisten berpegang teguh pada ahlul bait maka sewajarnya mereka menamakan mazhabnya sebagai mazhab ahlul bait[]. (bersambung)

SAHABATKU, JAGALAH LISANMU…!! (BAG 1)

SAHABATKU, JAGALAH LISANMU..!! (Bag 1)

(Tanggapan Untuk Buletin Dakwah Aswaja Sumut, No. 17, Agustus 2013)

Oleh : Candiki Repantu

Imam Ali as berkata, al-lisan mizan al-insan”, lisan merupakan nilai kemanusiaan. Maka seseorang sebaiknya menjaga lisannya agar selamat di dunia dan di akhirat. Tentu kita akan menilai buruk terhadap orang yang berkata-kata buruk, dan memuliakan orang yang berkata-kata mulia. Ada pepatah juga “diam adalah emas”, bagi orang yang tidak memperhatikan kebaikan perkataannya.

Pada hari jum’at  “Buletin Dakwah Aswaja Sumut”  nO. 17 Agustus 2013 menurunkan sebuah tulisan dengan judul “Anakku Jaga Akidahmu” (untuk versi FB lihat https://www.facebook.com/notes/ahlussunnah-waljamaah/anak-ku-jaga-aqidah-mu/165647613625086). Sebuah judul yang baik, dan saya berharap juga ditulis dengan niat yang baik. Karena tulisan itu menyebar secara tercetak dan disebarkan di Mesjid-Mesjid maupun Mushalla di Kota Medan, maka sebagai niat baik pula saya menanggapi tulisan dengan tulisan sebagai wujud pembelajaran dan melanjutkan tradisi munazharah keilmuwan Islam.

Mulanya saya berpikir bahwa buletin itu akan mengulas tema aqidah Islam yang valid dengan argumentasi yang memadai, tetapi begitu membacanya saya tak menemukan kaedah tersebut. Mungkin tulisan itu sebagai nasehat saja, yang lebih mempertimbangkan rasa daripada nalar, emosi daripada argumentasi. Karena itu mulanya saya tidak ingin memberikan tanggapan tertulis, karena tema yang diangkat tidak lebih sekedar dipaksakan dan mungkin “kopipaste” dari berbagai tulisan yang “miring” tentang syiah. Begitu pula, tulisan itu tidak memuat siapa penulisnya, tetapi bersifat team, dengan nama  Team Aswaja. Dan setelah melihat nama-namanya, saya mengenal sebagian asatidz yang terlibat di dalamnya, dan bahkan selama ini berhubungan baik dengan mereka. Sebut saja Ustad Syafii Umar Lubis yang menjadi pemimpin umumnya. Karena itu, saya membuat tanggapan ini, agar tidak ada saling salah pengertian antara saya para asatidz itu, karena boleh jadi akan ketemu di jalan atau di majelis pengajian. Jadi, Tanggapan ini saya lakukan sebagai wujud cinta saya kepada sahabat-sahabat saya dari ahlussunnah waljamaah, baik sahabat dalam mazhab, dalam organisasi maupun sahabat sebagai pribadi. Karena selain saya mengenal mazhab ahlussunnah, saya juga mengenal mereka para asatidz kota Medan. Semoga mereka masih ingat diskusi-diskusi yang mencerahkan dan penuh persahabatan di Yayasan Islam Abu Thalib Medan.

Sebelum saya menyikapai poin-poin yang ditulis oleh buletin tersebut, saya menemukan bahwa tulisan di buletin tersebut jauh dari sikap ahlussunnah wal jamaah dan ulama-ulamanya. Karena yang menulisnya adalah team aswaja, maka sayapun melayangkan tanggapan bukan kepada pribadi-pribadinya, tetapi kepada team tersebut. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk melihat struktur tulisan team Aswaja Sumut tsb.

Pertama, team aswaja memonopoli Islam, karena menulis perbandingan Islam dan Syiah. Pola itu membuat team Aswaja melebihi kapasitasnya dengan “mengangkat” dirinya begitu tinggi dengan menyebut sebagai wakil Islam bukan wakil ahlussunnah wal jamaah atau sekedar wakil organisasinya. Padahal siapa saja yang mengkaji sedikit saja persoalan teologi Islam, tentu tahu beragam perbedaan dalam Islam—termasuk di dalam ahlussunnah itu sendiri, sehingga tidak layak untuk memonopoli Islam hanya milik team aswaja. Karena team aswaja membandingkan Islam dengan syiah, maka dalam hal ini muncul sudut pandang mereka tentang syiah yaitu, syiah dipandang bukan umat Islam (kafir)?

Kedua, team aswaja menggunakan kajian yang jauh dari ilmiah dan saya bisa memakluminya, mungkin dikarenakan sifat tulisan buletin jum’at. Namun alangkah bagusnya, jika buletin yang dibaca secara umum oleh khalayak yang tidak semuanya mengetahui perbedaan mazhab, ditulis dengan mengenalkan perbedaan untuk saling menghormati bukan saling mengkafirkan. Saya mengenal beberapa Ustadz team Aswaja ini sebagai orang yang anti jamaah takfiri (takfiri adalah sekelompok jamaah yang suka menuduh kafir, musyrik, sesat, kepada kelompok lain yang tidak sependapat dengan mereka yang belakangan ini marak di tengah-tengah umat Islam), bahkan mendedikasikan dirinya untuk menghambat perkembangan jamaah takfiri ini, namun saya heran mengapa pada buletin ini, terlihat model yang mirip propaganda jamaah takfiri. Apakah hal ini luput dari perhatian mereka?

Ketiga, judul tulisannya adalah “Anakku, Jaga Aqidahmu”, ini berarti tulisan tersebut ingin fokus pada pembahasan akidah, tetapi ternyata tidak demikian, karena tulisan ini juga memasukkan masalah literatur hadits, persoalan sahabat Nabi dan persoalan fikih. Padahal di awal pengantarnya, team aswaja mengarahkan pembaca pada persoalan tauhid yang merupakan kunci persoalan akidah. Alangkah baiknya bila team aswaja mengulas persoalan tauhid itu lebih spesifik untuk menunjukkan perbedaan antara syiah dan sunni dalam pembahasan tauhid. Namun, alih-alih mengulas tauhid, Team Aswaja melebarkan pembahasan kepada hal-hal lainnya.

Sesuai kapasitas tulisan di buletin, maka saya juga akan menanggapinya dengan kapasitas tersebut, tetapi mudah-mudahan dapat menambah wawasan team aswaja secara khusus dan masyarakat secara umum untuk lebih berhati-hati membuat tulisan. Sebab semua itu akan dipertanggungjaawabkan secara ilmiah dan secara amaliah dihadapan manusia dan dihadapan Allah swt, di dunia dan di akhirat. Saya berdoa semoga kita semua diampuni oleh Allah swt. (dalam format tulisan ini, tanggapan saya ditandai dengan  # CR, dan tulisan ini dibuat bersambung agar tidak terlalu panjang membacanya)

TERMINOLOGI AHLUSSUNNAH DAN SYIAH SERTA KLAIM KEBENARAN VERSI TEAM ASWAJA.

 

Team Aswaja menulis : “Pemahaman yang benar ialah bersumber dari Alquran (wahyu), dan diterangkan oleh Sunnah Rasul SAW, serta tidak melanggar ijmak ummah. Itulah ahlussunnah wal jamaah. Rasulullah SAW bersabda, “Orang Yahudi telah berpecah belah menjadi 71 golongan, dan orang nasrani 72 golongan. Akan terpecah umatku menjadi 73 golongan, semuanya masuk neraka, kecuali satu.” Sahabat bertanya “Siapakah golongan yang selamat itu?” Beliau SAW menjawab, “Golongan yang (dalam aqidah dan amaliyahnya) ada aku dan para sahabatku.” Jadi aqidah dan syariah yang benar, berdasarkan hadits Rasul SAW adalah ahlussunnah wal jamaah.”

Tanggapan :

# CR : Pertama, Team Aswaja mendefenisikan syiah tetapi tidak  mendefenisikan ahlussunnah. Dalam metodologi studi komparatif, jika kita ingin membandingkan sesuatu maka keduanya harus dimaknai secara relevan, agar tidak terjadi pengelabuan dan kesalahan yang disebut semantic fallacies. Mungkin team Aswaja kesulitan mendefenisikan ahlussunah sebagaiman dikatakan K.H. Said Agil Siradj bahwa pernyataan Aswaja (ahlussunnah wal jamaah) dalam berbagai pendapat hanyalah ‘klaim’ saja, karena sampai saat ini—diakui ataupun tidak—belum ada defenisi terminologis yang baku tentang ahlussunnah wal jamaah, meskipun hal ini disampaikan kepada orang yang mengaku/mengklaim dirinya sunni. Begitu pula istilah ahlussunnah wal jamaah tidak terdapat di dalam teks-teks Islam, baik Alquran maupun sunnah bahkan tidak terdapat di dalam referensi awal (maraji’ awwaliyah). Istilah ini dipopulerkan belakangan oleh ashab al-Asy’ari atau asy’ariyah seperti Baqillani, Juwaini, al-Ghazali atau Syarastani dan lebih nyata pada al-Zabidi.

Kedua, Team aswaja melakukan ‘jumping’ dengan membuat kriteria yang kurang valid sebab tanpa menjelaskan apa yang dimaksud dengan ijmak ummah?  Tentang Alquran dan sunnah tidak perlu dipermasalahkan lagi, tetapi bagaimana dengan ijmak ummah? Apakah ijma’ mencakup keseluruhan umat atau segelintir umat, apakah keseluruhan sahabat atau segelintir sahabat, apakah seluruh ulama atau segelintir ulama? Tidak ada batasan jelas atas ijmak ini. Bukan hanya di dalam sunni, di dalam mazhab syiah juga dikenal istilah ijmak, yang pemaknaannya berbeda dengan ulama-ulama sunni. Bahkan di ulama sunni sendiri terjadi perbedaan tentang ijmak tersebut. Saya yakin para ustadz team Aswaja mengetahui perbedaan pendapat tersebut.

Ketiga, Tidak hanya sampai disitu, team Aswaja berusaha berdalil dengan hadits firqah an-najiyah bahwa satu-satunya yang selamat adalah ahlussunnah wal jamaah. Padahal tidak ada sama sekali kalimat di dalam hadits tersebut bahwa yang selamat adalah “ahlussunnah wal jamaah”. Kalau kalimat Rasul SAW yang menyatakan “golongan yang ada aku dan para sahabatku”, maka tentu saja kalimat itu bukanlah monopoli hak team Aswaja. Apakah team Aswaja merasa bahwa hanya merekalah yang mengikuti Rasul saaw dan sahabatnya? Apakah menurut team Aswaja orang syiah yang mengikuti Rasulullah SAAW, Imam Ali, Imam Hasan, Imam Husain, sayidah Fatimah Zahra, as tidak termasuk kelompok yang selamat? Apakah team Aswaja tidak mengetahui bahwa di antara para sahabat juga terjadi perbedaan dan pertentangan bahkan konflik hingga saling berbunuhan? Lantas sahabat mana yang harus diikuti jika terjadi perbedaan, pertentangan, bahkan konflik dan saling bunuh? Bukankah perbedaan yang kita warisi pada dasarnya adalah perbedaan yang dimulai sejak zaman para sahabat Rasulullah saaw tersebut?

Jadi, tulisan team Aswaja di atas yang menyatakan , “Aqidah dan syariah yang benar, berdasarkan hadits Rasul SAW adalah ahlussunnah wal jamaah,” adalah klaim yang tidak memiliki relevansi valid dengan hadits tersebut.

Sebagai pengingat selayaknya saya kutipkan tulisan K.H. Said Agil Siradj dalam bukunya “Ahlussunnah wal Jamaah dalam Lintas Sejarah” (1997: 6) sebagai berikut :

“Ahlussnnah wal jamaah, disingkat Aswaja, sering dinamakan pula dengan sunni. Terminologi ini, sesungguhnya sederhana, singkat dan sudah tidak asing lagi ditelinga kita,–diakui ataupun tidak—masih banyak mengundang salah persepsi. Sebagian memahami Aswaja identik dengan ‘Islam’. Sebagian yang lain melihat Aswaja hanya sebagai ‘mazhab’. Ada pula yang mengartikan Aswaja sebagai karakteristik komunitas kaum muslimin yang mengamalkan aktivitas tertentu, seperti ‘tahlilan’, selamatan, ‘berjanjenan’ (baca : maulid Nabi Muhammad SAW), baca doa qunut, dan sebagainya. Bahkan ada juga yang memakai term Aswaja sebagai langkah ‘purifikasi’ ajaran Islam (al-ishlah al-dini).

“Mengidentikkan Aswaja dengan ‘al-Islam’ berarti menganggap selainnya sebagai non-Islam, kuffar (begitu kira-kira). Sikap eksklusif dan fanatisme buta nampak sekali pada sakhsiyah (kepribadian) mereka. Disamping provokasi politik yang saling menghantam satu faksi dengan lainnya. Dengan demikian, pemahaman semacam ini secara tidak langsung menyeret Aswaja sebagai suatu alfirqah (partai politik). Secara historis, pemikiran tersebut sangat tepat diaplikasikan pada saat ketegangan antar faksi dalam Islam menajam, terutama antara sunni dan syii. Hal ini, terlihat pada pernyataan al-Syahrastani dalam al-Milal wa al-Mihal atau al-Isfirayini dalam al-Farqu baina al-Firaq. Sementara, pendahulunya seperti Imam Al-Asy’ari, Imam Al-Maturidi, Al-Baqillani, Al-Juwaini dan sebaginya, justru tidak menampakkan visi tersebut. Karenanya, relevankah identiknya Aswaja dengan al-Islam dalam era saat ini? Atau salahkah jika Aswaja tidak dipahami sebagai al-Islam, sebagaimana ulama sebelumnya? Semua ini akan bisa terjawab, jikalau kita paham lintasan sejarah umat Islam secara utuh, tidak sepotong-sepotong.

“Sementara, jika dipahami sebagai sebuah mazhab, eksistensi Aswaja semakin mengkristal menjadi suatu institusi. Jelas, pandangan ini paradoks dengan fakta sejarah kelahiran Aswaja. Begitu pula pengedepanan ta’rif bi al-mitsal bagi Aswaja. Ringkasnya, kedua performance di atas, menunjukkan pola berpikir yang sathi’ setengah-setengah atau ‘dangkal’. Sedangkan pola ‘purifikasi’ (al-ishlah al-dini) yang mengaku-aku sebagai penerus golongan salaf dan menamakan diri sebagai ahlussunnah wal jamaah, sungguh disayangkan justru kemudian bersikap ekstrim, men-takfir (mengkafirkan) sesama muslim dan sangat eksklusif. Mungkin karakter tersebut jika diperhatikan secara seksama, tidak berlebihan jika ada yang menyebut khawarij gaya baru (neo khawarij).”

Tulisan K.H, Said Agil Siradj di atas mudah-mudahan menjadi nasehat dan ingatan bagi kita semua secara umum dan kelompok “Aswaja” secara khusus untuk lebih proporsional dalam menilai perbedaan pendapat di antara kelompok-kelompok Islam. Jadi, Team Aswaja sumut sebaiknya memperlakukan dirinya sebagai salah satu kelompok Islam yang memiliki pemahaman yang boleh jadi berbeda dengan “Aswaja” itu sendiri, daripada mengklaim diri sebagai perwakilan absolut Islam… (Bersambung)