volume XII

MENYONGSONG HARI ESOK DENGAN CITA DAN MAKNA

Oleh : Muhammad Nazwir Hrp

Islam telah mengukir lukisan yang indah tentang apa yang mesti dilakukan oleh seorang muslim dalam berinteraksi dengan Allah, dengan Nabi saw, dengan orang lain dan bahkan dengan dirinya sendiri.

Islam adalah satu-satunya agama yang telah menggariskan metode kehidupan secara utuh. Di dalamnya diatur segala urusan dan aspek kehidupan. Ia bukan metode bikinan manusia yang mengandung unsur benar dan salah, akan tetapi metode Ilahi yang dapat mengantarkan orang yang mengikutinya kepada kebahagiaan, ketenangan dan ketentraman jiwa di dunia, serta sukses meraih surga dan menggapai kenikmatan abadi pada hari kiamat.

Kehidupan duniawi tidaklah sepi dari berbagai problema, himpitan, serta tekanan. Manusia harus tahu bahwa tujuan yang mendasar baginya tidak bisa dibatasi dalam lingkaran kehidupan duniawi, karena itu bukanlah akhir dari perjalanan manusia itu sendiri. Siapa saja yang mencampuradukkan realitas, dan menyangka bahwa kehidupan duniawi itu adalah tujuan, maka ialah yang paling banyak menerima bencana, tekanan, dan himpitan.

Ketika seseorang hidup dengan harapan akan kenyamanan, kenikmatan, serta ketenangan hati dan pikiran, kemudian tiba-tiba ia dihadapkan pada masalah-masalah, maka secara alamiah ia akan merasakan benturan psikologis dalam dirinya. Adapun jika ia telah memiliki persiapan-persiapan untuk menanggulangi masalah-masalah dan benturan-benturan psikologisnya, maka ia akan memandang hal-hal tersebut sebagai perkara yang lumrah dan biasa bagi dirinya, dan ia akan menjadi orang yang mampu menanggulangi masalah-masalah tersebut. Tidak seperti mereka, orang-orang yang menganggap bahwa kehidupan duniawi ini sebagai tempat ketenangan, kenikmatan, dan kenyamanan. Mereka adalah orang-orang yang rapuh, mudah tertekan hanya karena masalah-masalah sepele yang menghadang mereka. Itu semua dikarenakan mereka menjalani kehidupan duniawi ini sambil menganggap bahwa dunia adalah tujuan yang sejati. Mereka juga tidak menggunakan pendengaran mereka untuk menerima nasihat, serta melalaikan pesan-pesan Ilahi dan peringatan dari para Nabi dan Rasul a.s.

Menggapai Makna Kehidupan

Sesungguhnya seorang muslim sejati itu adalah orang yang senantiasa mengembalikan segala urusannya kepada hukum Allah dan Rasul-Nya, baik yang menyangkut perkataan maupun perbuatan. Jika halal, ia lakukan tanpa mempertimbangkan perkataan siapa pun, dan jika haram, ia tinggalkan tanpa menghiraukan ancaman atau celaan siapapun. Seperti dinyatakan dalam firman-Nya :

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman, ‘sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”.(Q.S. al ‘Ankabut : 2-3 )

Dalam sebuah manuskrip disebutkan, manusia menjelang esok hari dengan tiga klasifikasi. Yaitu; mencari harta, mencari dosa, dan mencari jalan. Mereka yang menjelang pagi sebagai pencari harta, dia tidak akan makan melebihi apa yang telah di anugerahkan oleh Allah swt, meskipun mempunyai banyak harta. Bagi mereka yang  pencari dosa akan bertemu dengan kehinaan. Sementara bagi mereka yang mencari jalan akan diberi oleh Allah swt akan rezeki dan jalan. Untuk itu Allah jadikan bumi ini serta mudah dan dihamparkan sebagai suatu nikmat yang harus diingat dan disyukuri. Firman Allah swt dalam Al-Qur’an Surah Nuh :19-20.

“Allah menjadikan bumi ini untuk kamu dengan terhampar supaya kamu menjalani jalan-jalan besarnya”.

Seorang bijak berkata : “Di pagi hari, seorang manusia mesti mempunyai dua hal, yaitu percaya dan takut. Percaya akan jaminan Allah swt, sampai dia dapat menyelesaikan masalahnya dan takut akan azab Allah swt bila berbuat kema’siatan dan keburukan. Jika dia dapat melakukan kedua hal ini, maka Allah swt akan memuliakannya dengan dua aspek, yaitu Pertama, merasa puas akan apa yang telah di berikan kepadanya. Kedua, rasa manis akan taat kepada Allah swt”.

Dalam kesempatan ini Allah swt, berfirman :

“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kamu kepada Allah swt. Dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang”.

Ayat-ayat tersebut diatas mengatur umat manusia supaya mengembalikan segala urusannya kepada Allah swt dan Rasul-Nya. Dan menunaikan tugas dan kewajibannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya pada esok hari.

Ketika mereka diuji dengan kemiskinan, mereka akan “melihat” Allah bersama mereka sehingga hati mereka tetap merasa tenang dan jiwa mereka tenteram. Mereka berzikir, memuji, bertasbih, dan bersyukur kepada Allah swt ketika mendapatkan karunia kenikmatan dari-Nya. Di saat mereka tertimpa musibah kematian salah seorang teman dekat atau anggota keluarga, mereka bergantung kepada Allah swt.

Sesungguhnya orang yang kenyang setelah laparnya, ia akan bersyukur kepada Allah swt. Adapun seseorang yang tidak pernah merasakan lapar dalam hidupnya walau hanya sekali, ia tidak akan merasakan (mengetahui) bahwa di dunia ini ada orang yang lapar. Kemudian ia akan berlaku zalim dan sombong dalam penghambaan kepada Allah. Oleh karena itu, orang yang tidak bersyukur kepada Tuhannya biasanya adalah orang yang diberikan kenikmatan besar atau lebih oleh Tuhannya.

Ketika menjelang esok hari, seyogyanya meniatkan empat hal yaitu : Pertama, menunaikan apa yang telah di wajibkan oleh Allah swt. Kedua, menjauhi apa yang dilarang oleh Allah swt. Ketiga, bersikap bijaksana terhadap orang yang mempunyai ikatan kerja dengan dirinya. Keempat, berdamai dengan orang yang bersengketa.

Said bin Masyruq, berkata : “Ketika ditanya tentang bagaimana menjelang esok hari, Rabi’ bin Khatsaim menjawab : “Kami jelang pagi sebagai orang-orang yang lemah, yang penuh dengan dosa, kami makan rezeki kami dan menanti ajal kami”.

Nabi Isa a.s pernah berkata : “Aku jelang pagi, sementara aku tidak dapat memiliki apa yang aku harapkan, dan aku tidak mampu menghindarkan diri dari apa yang aku takuti. Aku jelang pagi sebagai orang yang menggadaikan amal dan kebaikan-ku kepada selain diriku. Tak ada orang yang lebih miskin ketimbang diriku.

Untuk menjalani kehidupan sehari-hari kita harus mengetahui dan menunaikan apa yang telah diwajibkan oleh Allah swt, dan menjauhi apa yang dilarangnya. Dan juga menjalani hidup ini dengan sabar dan tawakkal kepada-Nya.

Allah swt tidak menyukai orang-orang yang perusak, baik perusak harta, perusak kehidupan, perusak masyarakat, maupun perusak bumi lingkungan hidup manusia, karena hal itu menyalahi tugas utama manusia sebagai hamba Allah swt.

Menjelang esok hari kita mesti mengenal empat hal pokok ini : Pertama, mengenal Allah swt adalah untuk mengetahui bahwa sesungguhnya Allah swt tidak akan mau menerima amal kecuali apa yang di lakukan secara tulus untuk untuk diri-Nya swt. Kedua, mengenal dirinya sendiri berarti mengenal kelemahannya dimana kita tidak akan mampu menolak sesuatu yang telah ditetapkan Allah swt dan ridha dengan apa yang telah dibagikan Allah swt atas dirinya. Ketiga, mengenal musuh Allah swt, dan musuh dirinya. Mengenal keburukannya sehingga dia dapat menjauhi dan menghancurkannya.

Dengan kata lain bahwa dari empat hal tersebut, kita harus mengenal sesuatu sebelum kita menjalani kehidupan esok hari agar kita terbiasa beraktifitas seperti hari-hari sebelumnya. Perjalanan hidup tergantung amal yang kita peroleh di bumi, hasil usaha kerja yang berupa harta dan kehidupan hendaknya di pergunakan untuk berbuat kemaslahatan kepada orang lain, karena hal itu berakibat baik pula kepada nasibnya sendiri, baik mengenai kehidupannya di dunia maupun di akhirat kelak.

Penutup

Berkat rahmat kasih sayang-Nya. Allah swt telah menciptakan bumi untuk tempat hidup di dunia dan menyediakan seluruh isi bumi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena itu, maka bumi dan isinya ini pada dasarnya merupakan hak milik bersama seluruh manusia, tapi untuk pemanfaatannya diperlukan adanya aturan-aturan yang dapat menjamin keselamatan dan kesenangan hidup manusia sendiri baik secara perseorangan maupun kemasyarakatan.

Dengan demikian, hidup manusia meliputi tujuan sementara dan tujuan akhir ; tujuan sementara untuk memperoleh kesenangan hidup di dunia dan tujuan akhir untuk menyiapkan dan memperoleh kebahagiaan hidup di akhirat. Maka dari itu tujuan utama hidup manusia ialah tercapainya kebahagiaan hidup di akhirat, sedangkan kesenangan hidup di dunia akan terpenuhi dengan amal perbuatan yang diniatkan untuk kehidupan akhirat, asalkan di lakukan sesuai dengan ketentuan syari’at Islam yang pasti baik untuk kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat tanpa mengorbankan kepentingan hidup di dunia sedikitpun. Wallahu a’lamu bi al-shawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: