ISRAEL NEGARA PARA PERAMPOK

Oleh : Kardinal Syah

IMG_20171226_085124

Jahudi adalah sebuah agama bukan sebuah Bangsa, orang Jahudi memang ditakdirkan hidup tanpa negara sampai Sang Mesias “ Juru Selamat “ datang.” (Neturai Karta)

Ada persamaan antara Donald Duck dan Donald Trump. Pertama, mereka sama-sama produk Amerika. Kedua, mereka sama-sama dikuasai oleh orang-orang Jahudi. Holywood tempat diproduksinya film Donald Duck dikusai oleh orang Jahudi demikian juga White House dikusai oleh orang Jahudi. Ketiga, Donald Duck tokoh kartun dengan suara khasnya selalu mengeluarkan suara-suara aneh yang terkadang membuat kita tersenyum geli karena kelucuannya, demikian juga yang dilakukan oleh Donald Trump suara dan celotehannya terdengar aneh dan menyebalkan sehingga kita bisa tersenyum geli atau marah sampai-sampai ubun-ubun kita mengepulkan asap.

Pernyataan sepihak Donald Trump bahwa Amerika akan membuka kantor Duta Besar Amerika di Yerusalem melahirkan gelombang demonstrasi diberbagai belahan dunia. Reaksi negara-negara timur tengah juga beragam, ada yang pura-pura marah dan ada yang benar-benar marah. Yang pura-pura marah adalah negara-negara yang selama ini telah mengakui kedaulatan negara Israel atau negara-negara yang selama ini telah menjalin hubungan dengan Israel secara diam-diam melalui negara ketiga. Untuk timur tengah mungkin hanya Libanon, Syiria dan Iran yang benar-benar marah karena hanya ketiga negara ini yang belum mengakui kedaulatan negara Israel.

Mengakui kedaulatan negara Israel sama saja dengan mengakui sahnya suatu tindakan perampokan dan penjarahan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap harta dan milik orang lain. Sebelum tahun 1948 orang-orang Jahudi hidup berpencar diberbagai belahan dunia, benar apa yang dikatakan oleh Neturai Karta sebuah lembaga Jahudi Internasional yang menolak pendirian negara Israel, bahwa Jahudi adalah sebuah Agama bukan sebuah bangsa atau Nation.

Gerakan anti Jahudi atau lebih dikenal dengan gerakan antisemitisme telah menyatukan seluruh kaum Jahudi diseluruh dunia, satu-satunya cara untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menciptakan satu tanah air bagi orang Jahudi. Pada tahun 1897 dalan Kongres I Zionis Internasional yang dilaksanakan di Bassel atau Bersley, Swiss. Dr. Theodore Herzl yang dianggap sebagai Bapak Zionis menyampaikan pemikiran dan gagasannya tentang tanah air dan bangsa bagi orang-orang Jahudi dihadapan 200 utusan Kongres dari berbagai belahan dunia. Dalam Kongres tersebut juga dibentuk panitia kecil yang bertugas menyusun program perjuangan Jahudi. Panitia kecil merupakan secret meeting yang anggotanya diberi tugas rahasia untuk menyusun program rahasia Jahudi pada tahun 1901-1903.

Inggris menawarkan Argentina, India dan Uganda sebagai tanah air dan negara orang Jahudi, tentu saja usulan ini ditolak oleh Herzl. Dr. Theodore Herzl memilih Palestina sebagai tanah air orang Jahudi. Alasan pemilihan Palestina adalah latar belakang historis disinilah bukit Zion berada merupakan puncak kejayaan Jahudi dan disini juga berdirinya Haikal Sulaiman. Mulailah Herzl melakukan propoganda dan berkampanya melalui tulisannya Der Yuden Stat. Pada tahun 1915 lahirlah kesepakatan Sykes Picot yang secara rahasia menempatkan Palestina dibawah kekuasaan Inggris. Sementara itu Palestina masih berada atau merupakan vazal (Protektorat) Turki Usmani.

Sultan Abdul Hamid mengatakan “Seandainya kalian membayar dengan seluruh isi bumi ini, aku tidak akan menerima tawaran itu“. Maka lahirlah gerakan Turki Muda yang dipimpin oleh Kemal Attaurk sebagai bentuk dari Konspirasi Jahudi Internasional dan selanjutnya runtuhlah kekhalifahan Turki Usmani.

Padatanggal 2 November 1917 Arthur James Balfour mengirimkan surat kepada pemimpin komunitas Jahudi di Inggris yang bernama Lord Rotshchild yang isinya menyetujui pendirian negara Israel di Wilayah Palestina. Surat ini sendiri sebagai bentuk balas jasa dan balasan surat dari Chaim Weizmann seorang Jahudi Inggris kelahiran Rusia, Weizmann adalah seorang ahli kimia penemu aseton sejenis senyawa kimia yang penting bagi senjata api dan penemuan Weizmann digunakan dalam perang oleh Inggris. Chaim Weizmann adalah Presiden I Israel.

Maka dapatlah disimpulkan berdirinya negara Israel merupakan hasil Konspirasi Jahudi Internasional dengan dukungan Negara-negara sekutu, negara ini didirikan diatas suatu negara yang berdaulat yaitu Palestina. Masyarakat Internasional sudah seharusnya menolak Israel sebagai suatu negara dan mendukung Kemerdekaan Negara Palestina. Tidak semua warga negara Palestina beragama Islam, mereka ada yang beragama Kristen, Jahudi bahkan ada juga yang Atheis. Jelas bahwa masalah Palestina bukanlah masalah antara Islam dan Kristen bukan juga masalah antara Islam dan Jahudi. Ini adalah masalah hak untuk merdeka dan berdaulat.

Di Indonesia pernyataan Donald Trump dikait-kaitkan dengan Presiden Jokowi, beredar issue yang mengatakan bahwa Donald Trump sudah melakukan pembicaraan rahasia dengan Presiden Jokowi terkait pemindahan ibukota Israel ke Yerusalem. Lebih baik pelihara kambing ketimbang memelihara prasangka buruk, kebijakan negara dan pemerintah Indonesia sudah jelas yaitu mendukung perjuangan rakyat Palestina untuk Merdeka. (ATN)

*Sumber : FB Kardinalsyah.

Iklan

KELAHIRAN PUTRA MARYAM

IMG-20171224-WA0009

Seorang wanita hamil diusir dari kampung halamannya, karena dituduh mengandung anak dari hasil perzinahan. Dengan susah payah ia menuju suatu kebun kurma. Sambil bersandar pada sebatang pohon kurma, ia merenungi nasibnya. Ia mengeluh sedih, “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan.”

Tiba-tiba si wanita terperanjat, karena di hadapanya muncul sosok memikat. “Siapa engkau”? tanya wanita itu. “Aku adalah malaikat yang diutus Tuhan untuk menghiburmu. Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan kalau engkau lapar, maka goyanglah pohon kurma itu, maka pohon kurma itu akan menggugurkan buahnya yang masak kepadamu”, jawab sosok tersebut.

Malaikat itu melanjutkan kata-katanya, “Dengan adanya sungai dan pohon kurma ini, maka makan dan minumlah serta bersenang hatilah kamu. jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah kepada mereka: “Sesungguhnya Aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah, maka Aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”.

Mendengar itu, senanglah hati wanita tersebut.Dia pun mengandung anaknya dengan sukacita hingga melahirkan seorang bayi laki-laki yang menawan hati. Setelah melahirkan ia kembali ke kampung halamanya.Kaumnya berkumpul mengejeknya. Karena ia puasa bicara, maka ia pun menunjuk pada anaknya.

Mengejutkan semua orang, anak bayi yg masih dalam buaian itupun berbicara :

Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku al-Kitab dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati dimana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku salat dan zakat selama aku hidup. Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yg sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali. Itulah dia Isa putra Maryam. Perkataan yang benar, yang hal ihwal itu telah mereka perselisihkan.” (Lihat Q.S. Maryam : 23-34)

Mari kita jauhkan perselisihan di antara kita, bina persaudaraan dan ciptakan kedamaian bersama di Bumi Nusantara. Ini pesan natal tahun ini sebagaimana Yesus telah menyampaikan :

Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan pertama. Dan hukum yang kedua yang sama dengan itu ialah, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para Nabi.” (Matius 22 : 37-40).

Begitu pula Sang Pewaris tahta Isa as, yaitu Imam Ali as juga menyampaikan pesannya, “Kalau seseorang bukan saudaramu dalam satu agama, maka dia saudaramu sebagai sesama manusia”.

Untuk keselamatan dan kedamaian kita semua, saya sampaikan salam penghormatan atas kelahiran Putra Maryam :

السَّلاَمُ عَلَى نَّبِيِّنَا عِيْسَى رُوْحِ اللهِ

Salam sejahtera atas junjungan kami, Nabi Isa ruh Allah

السَّلاَمُ عَلَى اَلسَيِّدَةِ مَرِیَمَ اَلْمُقَدَّثَة

Salam sejahtera atas junjungan kami, Sayyidah Maryam yang suci

السَّلاَمُ عَلى سَيِّدِنَا عِمْرَانَ صَفْوَةِ اللهِ

Salam sejahtera atas junjungan kami, Sayyidina Imran pilihan Allah,

السَّلاَمُ عَلَى اَلسَيِّدَةِ حَنَّة بِنْتِ فَاقُوذاخِيَرَةِ الله

Salam sejahtera atas junjungan kami, Sayyidah Hanna binti Faqudz (Ibunda Maryam) pilihan Allah,

السَّلاَمُ عَلَى نَّبِيِّنَا زَكَرِيَّا أَمِيْنِ اللهِ

Salam sejahtera atas junjungan kami, Nabi Zakaria kepercayaan Allah

السَّلاَمُ عَلَى الْحَوَارِيِّيْنَ وَ الْأَتْبَاعِ

Salam sejahtera atas Hawariyyun (12 Imam Pewaris Isa) dan pengikutnya

السَّلاَمُ عَلَى نَّبِيِّنَا عِيْسَى شَرِيْكِ الْمَهْدِيِ الْمُنْتَظَرِ

Salam sejahtera atas junjungan kami, Nabi Isa Mitranya Imam Mahdi afs.

Assalamu Alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2018. Semoga damai meliputi kita dan NKRI tercinta. (ATN)

Salam cinta untuk semua
Salam Bhineka Tunggal Ika
🙏🌷

SEUNTAI DOA UNTUK IBU

Oleh : Candiki Repantu

IMG_20171222_124041

Adapun hak ibumu, ketahuilah bahwa dialah yang mengandungmu ketika tidak ada yang mampu mengandungmu selain dia. Dan memberi segalanya kepadamu, disaat tidak ada yang dapat memberimu sedemikian rupa selainnya. Dia mempersiapkan diri dengan pendengaran, penglihatan, tangan, kaki, rambut, kulit dan seluruh anggota tubuhnya untuk memberikan yang terbaik kepadamu. Dia melakukan semua itu dengan perasaan gembira dan senang.”

“Dia memikul segala kesulitan, rasa sakit, rasa berat dan kegelisahan sampai diberi kekuatan oleh Allah untuk melahirkanmu ke dunia ini. Dia rela untuk lapar asalkan kamu kenyang. Dia rela tidak memiliki pakaian, asal kamu memilikinya. Dia rela tercekik dahaga, asalkan kamu tidak haus lagi. Dia rela tersengat sinar matahari, asal kamu terlindungi. Dia siap menderita yang penting dirimu mendapat kenikmatan. Dia siap untuk begadang malam, asal kamu dapat tidur nyenyak. Jika kau ingin mensyukuri nikmat ibu, ingatlah semua kenikmatan ini. Dan kamu tidak akan bisa mensyukurinya kecuali dengan taufik dan bimbingan Allah swt.

Demikianlah Imam Ali Zainal Abidin  as menjelaskan peran Ibu dalam kitabnya Risalah al Huquq, semua yang disampaikan oleh Imam Sajjad ini benar-benar terlihat di dunia nyata. Seorang ibu rela terhina bekerja sana sini untuk memberi makan anaknya.

Ummul Mukminin Siti Aisyah ra berkisah, “suatu hari seorang perempuan datang membawa dua anak perempuan menemuinya, ia bermaksud meminta makanan, saat itu Aisyah hanya memiliki dua butir kurma, yang kemudian dia serahkan kepada wanita tersebut, wanita itu menerima kedua butir kurma itu, dan memberikan setiap satu butirnya kepada masing-masing anaknya, dan wanita itupun tidak memakan apa-apa, ia sudah senang melihat anaknya bisa memakannya.”

Begitulah kasih seorang ibu, tidak ada yang lebih membahagiakan dirinya, selain kebahagiaan anak-anaknya sendiri. Ibu siap menderita demi kebahagiaan anak-anaknya, sebab para Ibu adalah para pengasih sejati terhadap anak-anaknya, dan siap berkorban demi yang dikasihi tanpa mengharap balasan. Dia rela mendapat seluruh rasa sakit asalkan putranya terbebas dari semua itu. Saat Ibu sakit-sakitan, terkadang sakit keras menimpanya, anaknya datang menjenguk dan menangis, sang Ibu masih bisa tersenyum sambil berkata, “kok kamu tidak kerja? jangan menangis, Ibu tidak apa apa.”

Begitulah, tidak peduli seberapa tinggi sekolah kita, seberapa banyak harta kita, setinggi apa jabatan kita, seberapa dewasanya kita, seorang Ibu akan selalu menganggap kita sebagai “anak kecilnya”, selalu mengkhawatirkan diri kita, tapi tidak pernah membiarkan kita mengkhawatirkan dirinya. Untuk Ibu, Iwan Fals menyanyikan lagunya

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah
Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas . . .
Ibu . . . ibu . . .

Ingin kudekap dan menangis dipangkuanmu
Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas . . .
Ibu . . . ibu . . .

Ada ungkapan populer di tengah-tengah kita, “al-baiti jannati”, rumahku adalah surgaku, dan nabi Saw bersabda, “Surga di bawah telapak kaki ibu”. Karenanya, rumah akan bisa menjadi surga, tergantung pada ibu dalam mengelolanya. Begitu pula, anak-anak akan menjadi pemuda-pemudi surga, sangat ditentukan oleh peran seorang ibu. Ahhh, jadi teringat dulu setiap pagi ibu membuat teh manis dan sarapan untukku sebelum pergi menuntut ilmu. Pelukan hangat dan bisikan nasehatmu Ibu senantiasa terukir kuat, bak aroma surga yang menembus relung-relung hatiku. Tak mungkin semua itu bisa di balas, hanya seuntai doa yang mampu kupanjatkan :

Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ala Muhammad wa aali Muhammad

Ya Allah!
Berilah keistimewaan pada ibuku dengan kemuliaan di sisi-Mu dan kesejahteraan dalam rahmat-Mu.

Ya Allah!
Jadikanlah ketaatan dan baktiku kepadanya lebih indah di mataku, daripada tidur di kala mengantuk, dan lebih sejuk di dadaku, daripada meneguk air dikala dahagaku.

Ya Allah!
Jadikanlah, keinginannya lebih kudahulukan dari keinginanku, keridhaannya lebih kuutamakan dari keridhaanku, penuhilah hatiku dengan rasa kasih, dan berilah aku waktu selama mungkin untuk tetap menemaninya dalam pelukan cinta dan kerinduan sepenuh kalbu. 

“Semoga ibu bahagia selalu, di dunia maupun di alam kuburmu! Selamat Hari Ibu dari putra kecilmu Candiki Repantu”.!! 

MENELADANI SANG PEMBEBAS

Oleh : Prof. Dr. Syahrin Harahap, MA

IMG_20171118_151602

Yâ Nabî salâm ‘alaika.

Ya Rasul salam alaika

Ya Habib salam alaika

Shalawatullahi alaika

Salam hormat dan ta’zim kami untukmu wahai junjungan, karena Allah meletakkan pada dirimu segala keagungan dan kemuliaan.

Kehadiran Junjungan alam tak sekedar menyampaikan syi’ar tetapi juga membebaskan. Beliau hadir untuk merubah arah jarum jam sejarah dan peradaban. Sebab ada akar tunggal sejarah alam yang menghunjam ke bumi, menyangga pancang tauhid yang membubung ke ufuk, membebaskan dunia.

Junjungan hadir untuk menunjuk haluan yang sesungguhnya, agar perjalanan sejarah tidak ngawur dan nyasar, fokus pada nuktah rasionalitas yaitu tauhid. Dan tauhid adalah puncak rasionalitas serta akhlak.

Muhammad Arkoun memformulasi hakekat risalah yang dibawa Junjungan sebagai akhlak dan siyâsah (al-Islâm: Akhlâq wa al-siyâsah). Mengapa akhlak? Karena akhlak tertinggi adalah pencapaian tauhid sebagai puncak rasionalitas (berfikir lurus hingga menemukan keesaan Allah). Sebab, jika manusia tak menemukan tauhid maka filsafat, faham, dan logika hidupnya akan melingkar-lingkar pada irrasionalitas (tak lurus).

Itulah sebabnya Muhammad ‘Abed al-Jabiri menyebutkan bahwa hidup ini pada hakekatnya adalah pertarungan antara rasionalitas (ketauhidan) dengan irrasionalitas (kesyirikan).

Mengapa siyasah? Karena dimensi ini adalah perjuangan. Untuk itu diperlukan daya tarung dan semangat pembebas. Tangan Ibrahim sendirilah yang menebas berhala-berhala pada zamannya, yang menghalangi umat menemukan rasionalitas (tauhid), dan untuk patung terbesar dia letakkan kampak dibahunya, sebagai bukti bahwa yang kalian sembah tak lebih mulia dari sebilah kampak, benda mati yang tak berdaya dan bergerak.

Tak Ada Kompromi Untuk Urusan Ini.

Untuk urusan ini, Junjungan Alam tak pernah main-main, sehingga beliau yang memimpin perang, mengangkat senjata, sebagai Jenderal perang yang melakukan pembebasan dari ancaman peradaban, prinsip irrasionalitas yang menyebabkan fokus ketuhanan menjadi terpencar, penuh kesyirikan.

Dari sini dapat dipahami bahwa dakwah Islam adalah siyâsah, menundukkan dirrasionalitas (kesyirikan) dibawah rasionalitas (ketauhidan). Untuk itu dimensi ini tidak bisa dikompromikan.

Islam bukan salah satu dari tonggak ketuhanan di samping tonggak-tonggak lain. Tetapi Islam adalah akar tunggal yang menyokong keyakinan seluruh umat manusia sehingga kepadanya semua harus dikembalikan.

Terang saja, kepada benih penyimpangan dari tonggak itu (kesyirikan kecil) Alqur’ân menyerukan agar kembali ke akar tunggal ketuhanan yang dijunjung tinggi semua pembawa agama (ta’âlaw ilâ kalimatin sawâ’in baynanâ wa baynakum).

Akan tetapi kepada kesalahan (kesyirikan besar), irrasionalitas yang menserikatkan Tuhan, al-Qur’ân meng-ultimatum, pilihanmu hanya dua: beriman atau tetap dalam kesyirikanmu. Bila engkau memilih yang kedua, berarti “untukmu agamu dan untukku agamaku (lakum dînukum wa liya dîn).

Sang Pembebas Adalah Rahmat

Sang pembebas adalah rahmat (rahmatan lil’âlamîn), bukan mensejajarkan Islam dengan filsafat irrasionalitas dan kesyirikan, sebagaimana yang dilakoni mereka yang sedang pubertas dalam memahami hubungan antaragama.

Rahmatan lil’âlamîn adalah gerakan pembebasan, membebaskan manusia dari kepenganutan irrasionalitas, menjadi perwakilan Tuhan (khalîfah) untuk menghadirkan cara pandang yang fokus pada akar tunggal yang menyangga tonggak ketuhanan yang tunggal, yaitu tauhid, yang dijunjung tinggi oleh semua rasul dan merupakan titik temu semua pembawa agama.r

Karena rahmat adalah titik temu, maka Junjungan membentuk sistem kemasyarakatan di Madinah, sehingga W. Montgmery Watt menempatkan junjungan sebagai nabi dan negarawan, Muhammad Prophet and Stateman.
Di sini Islam telah menjadi pelipur lara bagi manusia, membawa tentram dan kebebasan (salâm) karena semua ta’abbud dan sesembahan telah tertuju pada Yang Esa, tak lagi tertuju pada banyak sehingga tak tahu mana yang menyenangkan dan mana yang membawa kemurkaan.

Nabi Yang Ummi Sebagai Rujukan

Sang pembebas adalah ‘ummî’, sebagaimana dituturkan setiap muslim mengakhiri do’a mereka: wa shallallâhu ‘alâ ( sayyidinâ) Muhamnadin nabiyy al-ummî, salam ta’zim kami untukmu wahai Nabi yang ummi.
Sayang sekali banyak ulama yang mengartikan ummi sebagai tidak pandai membaca dan menulis. Padahal, tentu tidak terlalu sulit bagi seorang Junjungan untuk menginternalisasi cara membaca dan menulis. Rasulullah sendirilah qalam dan kecerdasan serta dirinya pula gudang ilmu sebagiman pernah disampaikan: “Sayalah gudang ilnu dan Ali sebagai pintunya” (anâ madînatul ‘ilmi wa ‘âli bâbuhâ).

Nabi yang ummi bukanlah nabi yang tak pandai membaca dan menulis. Tetapi Nabi yang menjadi rujukan kehidupan serta rujukan segala sistem ketuhanan dan keberagamaan (ummi), yang tak menggunakan tradisi baca-tulis.

Risalah bersifat vertikal; dari Allah ke Hati Nabi dan kemudian ke hati manusia. Bukan horizontal sebagaimana pada tradisi tulis; dari Allah ke kertas kemudian ke hati Nabi. Selanjutnya dari Nabi ke kertas dan seterusnya ke hati manusia.

Sesuatu yang prosesnya bersifat horizontal biasanya mendayu-dayu, berliku, jika bukannya jig jag, sehingga tak pernah terhunjam dengan kuat.
Inilah yang kita alami, banyak ahli tapi keadaan tak berubah. Banyak yang berilmu tapi rakyat semakin hampir makan tanah.

Dari situ kita semakin sadar bahwa peringatan Maulid Nabi harus mengarah pada reorientasi, bukan kelahiran manusia pilihan yang kelak menjadi rasul, tetapi kelahiran Sang Pembebas dan menjadi rujukan bagi pera pelanjut perjuangan.

Wahai Nabiku, bersamamu akan kutemukan puncak rasionalitas, tauhid, dan menjadi nilai dasar pembebasan, hingga seluruh alam memperoleh rahmat dan keselamatan universal. Wa Allâhu A’lamu bi al-Shawâb.

*Sumber : FB Syahrin Harahap.

CINTA PEMBAWA BERKAH

Oleh Candiki Repantu

IMG_20171118_151409

Pemuda itu begitu gagah. Kemuliaan nasabnya, ketampanan wajahnya yang bercahaya, lembut tutur katanya, dan kebaikan akhlaknya menunjukkan kepribadian sempurna. Itulah Abdullah, pemuda gagah yang terkenal di seantero Mekah. Ia menjadi kumbang yang diharapkan singgah oleh banyak kembang yang merekah. Namun semua kembang itu hanya punya harapan, sebab pria tampan dan baik itu, menyerahkan pada ayahnya, siapa jodoh yang dipilihkan untuknya.

Tanpa sepengetahuan Abdullah, ada seorang putri Mekah yang menyimpan kenangan padanya. Aminah namanya. Sudah banyak pria yang melamarnya, tetapi tidak satupun yang menarik hatinya. Sebab, dalam bayangnya wajah Abdullah selalu menghampirinya. Ia terkenang ketika mereka bersama di depan Ka’bah, bersenda gurau dan tertawa ria. Mereka memang dekat sebagai satu kabilah yang sama, tapi mereka juga dekat sebagai sahabat setia. Di dalam hati, ia ingin bersama lagi dengan Abdullah berada di sisi ka’bah, tapi tidak lagi sekedar bermain dan tertawa ria, melainkan mengikat janji, sebagai sepasang kekasih yang sejati. Tetapi sayang, Abdullah tak pernah mampir ke rumahnya, memintanya menjadi pasangan sejatinya. Apakah ada wanita lain yang menarik hati Abdullah?. Ahh, sungguh bahagianya wanita itu jika disunting oleh Abdullah, bisik hati Aminah.

Setiap ada rasa pasti ada resah. Mengenang Abdullah membuatnya gelisah, hati dilanda rindu memburu, hasrat bertemu begitu menggebu, tapi semua kalah dengan besarnya rasa malu, ia lebih memilih memendam semua itu. Namun, sesekali ia berdiri dibalik jendela dan mengintip dibalik pintu rumahnya. Berharap, Abdullah tak sengaja melewatinya. Tapi, semua hanya harapan. Yang terlihat hanya dinding batu diiringi hembusan semilir angin sahara, yang tak mampu mengusir gundah yang melanda hati dan jiwanya. Demikianlah, Aminah melalui hari-harinya dengan sejuta tanya, sejuta rindu, dan sejuta harapan, pada satu pria idaman.

Di saat semua kenangan datang dalam ingatan, ketika rindu datang menggebu, ketika harapan semakin membesar, mendadak berita duka sampai ke telinganya, Abdullah akan dikorbankan untuk memenuhi nazar ayahnya. Mendengar itu, jantungnya Aminah berdegub keras, sekujur tubuhnya menggigil, aliran darahnya seolah beku, lidahnya menjadi kelu. Tak mampu ia membayangkan ketika pedang menebas leher Abdullah dan mengalirkan darahnya, hanya derai air mata mulai membasahi pipinya, kesedihan tiada tara menghantam jiwanya. Hanya doa yang terbetik, “Semoga Allah menyelamatkan Abdullah seperti Allah menyelamatkan Ismail kakeknya”. Ia berharap keajaiban akan datang.

Kalau menuruti kemauannya, ia ingin hadir si sisi Ka’bah, melihat langsung pengorbanan Abdullah. Namun, ia sadar tak mampu menanggung derita itu. Dengan menekan perasaan, ia menyabarkan diri menunggu apa yang terjadi. Di rumah, ia hanya berjalan mondar mandir, kadang berdiri bingung, kadang duduk termangu, kadang berbaring membisu. Kerongkongan kering tak terasa dahaga dan perut kosong tak terasa laparnya, seluruh pikiran hanya tertuju pada Abdullah. “Ya Allah, selamatkanlah dia, selamatkanlah dia, dia milik-Mu bukan milik Abdul Muthalib”, doanya lirih terlontar. Suara lirih itu memang pelan terdengar di bumi, tetapi nyaring di langit, naik menuju alam malakuti, menggetarkan Arsy Ilahi.

Imam Ali Ridha as mengisahkan, “ketika semua orang berkumpul sedih menyaksikan pengorbanan Abdullah, mendadak Atikah putri Abdul Muthalib berkata, “Wahai ayah! Mintalah pada Allah untuk memaafkanmu dari mengorbankan putramu”. Abdul Muthalib menjawab, “Wahai putriku! Apa yang harus kulakukan?”. “Gantilah dengan untamu hingga Tuhan menjadi rela”, jawab Atikah. Maka unta-unta dibawa ke sisi ka’bah. Abdul Muthalib mengundi nama Abdullah dengan sepuluh ekor unta, tapi undian tetap mengarah pada Abdullah. Abdul Muthalib menambahkan sepuluh ekor unta lagi, tapi nama Abdullah tetap keluar untuk dikorbankan.

Abdul Muthalib tak peduli harus mengorbankan berapa unta sebagai ganti Abdullah. Ia terus menambahkan sepuluh ekor unta, hingga jumlahnya menjadi seratus ekor. Undian pun dilakukan lagi, kini mata Abdul Muthalib berbinar riang, nama unta keluar dalam undian. Abdul Muthalib mengulang undian hingga tiga kali, hingga ia yakin sepenuh hati, Tuhan ridha ia mengorbankan seratus ekor unta, sebagai ganti Abdullah. Takbir pun bergema dengan gegap gempita. Semua bersyukur atas selamatnya Abdullah. Terutama bagi Aminah, kembang semerbak kota Mekah.

Tak berselang lama, sebagai rasa syukurnya, pada hari itu juga, Abdul Muthalib bermaksud memilih jodoh untuk putranya. Para wanita Mekah berlomba agar Abdul Muthalib memilih mereka. Bahkan sebagiannya menawarkan diri, rela mengorbankan seratus ekor unta lagi demi menjadikan Abdullah pasangan sejati. Namun, Abdul Muthalib punya pilihan sendiri, ia menggandeng tangan Abdullah berjalan menuju ke suatu  rumah. Rumah yang dituju adalah rumah Aminah. Memasuk pintunya, jantung Abdullah berdegub dengan kerasnya, disambut oleh getaran hati Aminah dari balik kamarnya, yang bagaikan mimpi dilamar oleh pria pujaan hatinya. Tak banyak masalah, kedua keluarga saling sepakat untuk melangsungkan pernikahan sepasang merpati Tanah Haram.

Dua sejoli ini pun memulai hidup baru. Suatu hari mereka duduk berdua untuk saling berkisah mengenang masa ketika mereka bermain bersama. Terkadang terdengar suara tawa renyah yang mengandung aroma bahagia mengenang peristiwa masa kanak-kanak mereka berdua. Pada suatu malam, Abdullah terbangun dari tidurnya, ia pandangi wajah jelita isterinya yang sedang tersenyum simpul karena tenggelam dalam mimpi yang indah. Menjelang fajar, Aminah terbangun, ia tatap wajah lembut suaminya. Aminah berkata, ia baru saja bermimpi indah, melihat sinar terang meliputi dirinya di sekeliling istana-istana megah, dan terdengar suara lembut menyapanya, “Ya Aminah, engkau akan hamil dan melahirkan anak yang menjadi manusia termulia sepanjang sejarah dunia”. Inilah cinta pembawa berkah, cinta Abdullah dan Aminah yang melahirkan purnama kota Mekah, Muhammad ibn Abdullah saw.

Assalamu ‘alaika ya Rasulullah
Assalamu ‘alaika ya Khalilallah
Assalamu ‘alaika ya Nabiyallah
Assalamu ‘alaika ya Shafiyallah
Assalamu ‘alaika ya Rahmatullah
Assalamu ‘alaika ya Khiyaratallah
Assalamu ‘alaika ya Habiballah
Assalamu alaika ya Najiballah
Assalamu ‘alaika ya Nurallah
Assalamu ‘ala abika Abdillah wa ‘ala ummika Aminah
Assalamu ‘ala jaddika Abdil Muthalib wa ‘ala ‘ammika wa kafilika Abi Thalib
Assalamu alaika wa ‘ala ahli baitika at-thaibina at-thahirin
Walhamdulillahi rabbil Al-Amin

Salam Maulid ar-Rasul
17 Rabiul Awal 1439 H

MAULID NABI : “BID’AH” PARA PECINTA

Oleh : Candiki Repantu

IMG_20171201_103128

“Bagaimana bisa tetes air menceritakan kisah samudera? Bagaimana bisa malam melukis fajar? Bagaimana bisa lembah menyamakan tingginya dengan puncak gunung? Dan bagaimana bisa duri hitam menukil hikayat kembang mawar merah?

Aku adalah tetes ilmu, dan engkau adalah samudera; aku adalah malam yang malu, dan engkau adalah fajar yang bangga; aku adalah lembah sunyi, dan engkau adalah puncak gunung berisi; aku adalah duri hitam, dan engkau adalah kembang bunga kemanusiaan. Lalu bagaimana mungkin aku mampu mengisahkan tentang dirimu?

Hanya dengan lisan air mata kuungkapkan perasaanku, seperti yang dikatakan Kalim Kasyani dalam syairnya :

Mata kekasih penuh air mata semerah jiwa
Nilai cincin ditentukan oleh batu yang bertahta

Selama sembilan bulan, aku mencari harum wujudmu di antara lima ratus kitab. Kadang, aku menangis penuh keharuan, dan terkadang remuk oleh penyesalan. Setelah semua itu, kini aku duduk di hadapan pagar pusaramu, berjarak lima atau enam meter dari makam yang terang oleh sinar mentari siang. Dihantui oleh rasa takut terhadap para penjaga yang berikat kepala, aku menangis tanpa suara, dan kutuanglah perasaanku dalam lembaran kertas putih ini. Hatiku diremas rasa pedih dan sesal, saat kucuri pandang melalui sela-sela pagar pusaramu, dan kulihat debu yang menyelimuti kuburmu. Akankah kelak mereka mengizinkan kami membersihkan pusaramu dengan bulu mata kami hingga bisa bercelak dengan debu pusaramu?

Kini kau tidur dihadapanku. Tapi tidak! sesungguhnya engkau-lah yang terjaga dan kami-lah yang tidur dalam ranjang kelalaian. Engkau masih terus terjaga mengkhawatirkan jahiliyah abad ke-21.
Duhai kekasih! Bimbinglah kami keluar dari gelapnya malam kebodohan, menuju terangnya fajar pengetahuan! Tuntunlah tangan kami dan ajari kami bagaimana cara hidup dan mati! Pancarkan sinar suryamu kepada kami hingga cairlah segala keegoisan kami!”

Husain Sayyidi mengawali bukunya “Muhammad The Untold Stories” (Hamname Ghalha-ye Bahadi) dengan tuturan indah tersebut. Ia menyadarkan kita, mustahil melukiskan Nabi saw dengan sempurna, sebab tak ada yang mengenal Muhammad saw sesempurna Tuhannya. Allah telah menjelaskan Muhammad saw dalam kitab-Nya, dan siapa yang mampu menandingi karya tulis Sang Ilahi itu. Bukankah Allah berfirman, “Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang seruap Alquran ini, niscaya mereka tidak akan mampu membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lainnya .” (Q.S. al-Isra : 88). Allah telah menggambarkan Sang Nabi dalam Alquran, hanya orang yang sombong, merasa mampu menandingi ungkapan Alquran untuk melukiskan kepribadian Rasul idaman.

Namun, lidah kelu tetap ingin memuja sang Nabi tercinta. Biarlah seperti kata Husain Sayyidi, tetes-tetes air ini berkumpul dan tenggelam dalam mengisahkan luasnya samudera.

Apa kata tetes-tetes air itu?

Tetes-tetes air itu berkata, Muhammad saw adalah puncak karakter manusia dalam pemikiran, perasaan serta perbuatannya. Dia adalah mentari terang yang memberi energi bagi geraknya kehidupan. Dia teladan yang agung dalam sejarah. Dia telah berpasrah diri kepada Allah, serta menjadi padanan kitab Alquran dengan sempurna. Kesempurnaan dan kesuciannya tidak ada bandingnya di alam semesta, bakan para malaikat sekalipun tak mampu mencapainya.

Tetes-tetes air itu berbisik, Muhammad saw dilahirkan dari keturunan yang mulia. Nasabnya berasal dari Ibrahim as yang dinobatkan Tuhan menjadi pemimpin seluruh manusia. Ismail as putranya menjadi pewaris wujud nabi dalam sulbinya, sehingga Tuhan harus bertindak mengubah takdir ketika pedang hampir menebas lehernya. Mengapa pedang tajam itu hanya mampu menebas seekor qibas? Karena Ismail as membawa di dalam dirinya, wujud Muhammad saw yang kelahirannya ditunggu alam semesta. Jika Ismail terbunuh, maka Muhammad tak akan pernah lahir ke dunia. Maka tujuan pencipataan pun menjadi sirna.

Tetes-tetes air itu berbicara, kelahiran Muhammad menjadi tujuan penciptaan semesta, sebab Tuhan berfirman dalam hadis qudsinya, “Seandainya bukan karena Muhammad, Aku tidak akan menciptakan jagat raya”. Inilah sosok yang ditunggu untuk mencurahkan rahmatnya. Jika rahmat Tuhan meliputi segala sesuatu (rahmati wasyi’at kulla syai), maka rahmat Muhammad meliputi seluruh alam semesta (rahmatan lil alamin).

Tetes-tetes air itu juga mengerti, inilah manusia sejati, yang kelahirannya telah diketahui dan ditunggu oleh para nabi. Bahkan Tuhan mengikat janji dan bersaksi bersama para utusannya yang suci, untuk senantiasa menolongnya nanti, “Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dari para Nabi, “Manakala Aku memberikan kitab dan hikmah kepada kamu, LALU DATANG KEPADAMU SEORANG RASUL yang membenarkan apa yang ada pada kamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.” Allah berfirman, “Apakah kamu setuju dan menerima perjanjian dengan-Ku atas hal itu?”. Mereka menjawab, “Kami setuju!”. Allah berfirman, “Kalau begitu bersaksilah dan Aku menjadi saksi bersama kamu” (Q.S. Ali Imran : 81).

Tetes-tetes air itu pun mengabarkan, Inilah Muhammad yang namanya disebut dari Adam as hingga Isa putra Maryam as. Ingatlah ketika Adam dan Hawa keluar dari surga, ia memohon ampun dengan berwasilah kepada Nama Muhammad  Saw yang mulia. Ketahuilah ketika Isa diutus kepada kaumnya, ia mengabarkan, “…Wahai Bani Israel, sesungguhnya aku utusan Tuhan kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad…” (Q.S. As-Shaff : 6)

Tetes-tetws air itu juga mengisahkan, Inilah Muhammad, manusia yang seumur hidupnya senantiasa beribadah sehingga Tuhan pun bersumpah atas umurnya, “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing dalam kemabukan (kesesatan)” (Q.S. al-Hijr : 72). Kita tahu, suatu yang dijadikan objek sumpah tentu adalah sesuatu yang mulia dan menakjubkan. Betapa umur Muhammad saw begitu menakjubkan di mata Tuhannya, dan tentu umur Muhammad saw di dunia ini, diawali sejak kelahirannya.

Jadi, dari tetes-tetes air itu kita tahu, kelahiran Muhammad ssw sudah diperingati Tuhan dan menjadi tujuan penciptaan. Kelahiran Muhammad saw sudah dinanti oleh para Nabi. Kelahiran Muhammad saw dengan bangga ditunggu jagat raya. Kelahiran Muhamad saw menjadi rahmat bagi semesta. Kelahiran Muhammad  Saw disambut malaikat yang mulia. Tapi sayang kini ada yang menganggap bahwa menanti, memperingati, menyambut, dan merayakan kelahiran Muahammad adalah bid’ah, kesesatan, dan siksa neraka. Biarlah kita bersama Tuhan, malaikat, para nabi dan rasul, serta seluruh jagat raya menyambut kelahiran Nabi termulia berada dalam satu “bid’ah” bersama, yaitu “bid’ah” para pecinta. Terimalah ya Muhammadku, salam dari budakmu yang bernama Candiki Repantu.! (CR14)

*Sumber : Lipitanislam.com

ANAK SEBAGAI SUBJEK PENDIDIKAN

Oleh : Munif Chatif

IMG_20171129_183312

Salah satu terobosan paradigma baru pendidikan adalah mengubah peserta didik atau siswa menjadi SUBYEK PENDIDIKAN bukan lagi menjadi OBYEK PENDIDIKAN. Mungkin pendidikan di Indonesia rata-rata masih menjadikan siswanya obyek. Ciri-ciri siswa masih menjadi obyek adalah sebagai berikut :

▶Konten kurikulum pendidikan masih dari atas ke bawah, artinya dari kebijakan pusat atau sekolah diturunkan kepada siswa. Siswa tidak pernah ditanya, sebenarnya mereka membutuhkan materi apa dalam menjalani kehidupannya.

▶Peraturan sekolah masih instruktif, siswa masih belum dilibatkan untuk mendisain peraturan sekolah, definisi pelanggaran dan konsekuensinya. Saya sering menyebutnya dengan konsekuensi edukatif.

▶Program-program kerja di sekolah belum melibatkan siswa untuk diajak bersama berpikir, menyusun dan melaksanakan.

Saran saya, libatkan siswa dalam mendisain kurikulum. Bertanyalah kepada siswa, masalah apa yang dihadapinya saat ini. Pasti para guru akan terkejut kala siswanya diberi kesempatan mendata masalah-masalah yang dihadapi. Pasti banyak sekali dan sebenarnya solusi dari maslaah itulah kurikulum yang tepat untuk siswanya. Masalah adiktif gadget, pemahaman dan perilaku masa puber, dan lain-lain.

Demikian juga ketika siswa dilibatkan menyusun program-program kerja sekolah. Contohnya memperingati hari kemerdekaan pasti akan berbeda agenda lomba-lombanya jika siswa diberi kepercayaan untuk mendisainnya. Anak-anak SD terkadang menentukan jenis lomba yang tidak pernah terpikirkan oleh para guru. Contohnya lomba tiarap mundur, lomba lari dengan kostum super hero, dan lain-lain.

Mengapa tidak mencoba disain seragam juga ditawarkan kepada siswa. Pasti para siswa merasa dihargai eksistensi dan kreativitasnya oleh sekolah. Siswa akan mempunyai ‘sense of belonging’ kepada sekolahnya.

*Sumber : http://bit.ly/AnakObyekPendidikan