KAJIAN RAMADHAN (15) : MAKNA KAFIR

Oleh : Ustadz M. Iqbal Al-Fadani

Screenshot_2018-06-14-10-37-25-546_com.opera.mini.native

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.” (Q.S. Al-Baqarah : 6)

Di dalam ayat ini dijelaskan bahwa orang kafir adalah orang-orang yang tidak dapat menerima hidayah, bahkan jika nabi sekalipun yang memberikan peringatan kepada mereka.

Sepintas, ayat ini memberikan pemahaman bahwa orang di luar Islam sama sekali tidak akan menemukan hidayah. Oleh karena itu mengajak orang di luar Islam untuk mengikuti ajaran Islam merupakan kesia-siaan.

Namun uniknya adalah Nabi Muhammad Saww justru sangat aktif dalam mendakwahi mereka, dan lebih uniknya lagi tidak sedikit yang kemudian memilih islam. Lantas apakah ayat di atas salah atau pemahaman kita yang mesti diperbaiki? Dengan begitu ayat di atas benar dan pemahaman kita juga tepat. Dan pada gilirannya dakwah terhadap non muslim menemukan artinya. Untuk itu di sini kita perlu menjelaskan makna “kafir” menurut Al-Quran.

Apakah makna kafir di dalam ayat di atas adalah non muslim atau orang di luar Islam secara umum sehingga makna ayat tersebut seolah-olah bertentangan dengan realita yang ada? Atau kata “kafir” memiliki makna yang lebih sempit dari itu?

Kata “kafir” menurut istilah Alquran bukan bermakna orang di luar Islam atau non muslim secara umum, akan tetapi, yang dimaksud justru makna yang lebih sempit dari itu.

Maksudnya, orang kafir adalah orang yang tidak memilih Islam setelah melihat bahwa kebenaran secara nyata berada di pihak Islam. Oleh karena itu orang yang belum memahami kebenaran Islam atau belum menyadari kesalahan agamanya bukanlah disebut kafir.

Lebih jelasnya lagi, muslim dan kafir atau munafik adalah istilah yang muncul setelah adanya dakwah kenabian yang sudah sampai pada tahap jelasnya kebenaran dan kebatilan. Sebelumnya tidak ada muslim, kafir maupun munafik, yang ada hanyalah manusia tanpa identitas.

Namun setelah nabi datang membawa syari’at yang sempurna, kemudian kebenaran dan kebatilan dapat dibedakan dengan gamblang, maka manusia akan terbagi kepada beberapa kelompok.

Pertama, Muslim, yaitu orang-orang yang melihat kebenaran dan memilih kebenaran tersebut.

Kedua, mereka yang memahami kebenaran tapi tidak mau menerimanya, bahkan menolak dan memeranginya.

Ketiga, mereka yang memahami kebenaran tapi tidak menjadikannya sebagai pilihan, sebagai mana kelompok kedua, namun untuk menjaga kepentingannya, secara lahiriah mereka hidup seperti orang Islam.

Dalam hal ini alangkah baiknya kita mengutip tulisan Murthadha Muthhari yang mengatakan:

Dalam istilah Al-Quran kebanyakan kata “kafir” jika tidak kita katakan semuanya, bukan bermakna setiap orang yang bukan Islam. Akan tetapi makna “kafir” adalah orang yang menentang dan mengingkari dakwah nabi setelah kebenaran dan hakikat menjadi jelas. Maksudnya, sebelum disampaikanya dakwah kenabian masyarakat belum terbagi menjadi mukmin, kafir dan munafik. Mereka masih merupakan manusia tanpa identitas.” (Murthadha Muthhari, Asynai ba Quran, Intesyarat e Shandra, Qom, hal. 76-77).

Setelah memahami bahwa makna kafir adalah orang-orang yang mengenal kebenaran dengan baik, pun begitu tetap menolak dan memusuhinya, maka makna ayat di atas akan jelas.

Dengan penjelasan tadi, ayat di atas juga akan menemukan maknanya, yaitu manusia yang mampu melihat kebenaran sebagai suatu kebenaran dan kebatilan sebagai kebatilan, lalu dengan pilihannya sendiri dan dengan kerelaannya memilih kebatilan maka tidak akan bisa ditunjuki. Sebab dari awal dia sudah menentukan pilihannya.

Jadi makna ayat di atas adalah sesungguhnya orang-orang kafir (yang melihat kebenaran dan kebatilan dengan jelas lalu memilih kebatilan dan memerangi kebenaran) tidak akan beriman baik kamu beri peringatan maupun tidak kamu beri peringatan.”
Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam. (CR14)

Iklan

KAJIAN RAMADHAN (14) : MUDAH-MUDAHAN KAMU BERTAKWA

Oleh : Ustadz M. Iqbal Al-Fadani

IMG_20180603_050610

Salah satu tujuan dari melakukan ibadah puasa adalah mencapai maqam serta kedudukan takwa, sebagaimana disebutkan oleh Alquran :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. al-Baqarah : 183)

Dari sini dapat dipahami bahwa kedudukan takwa ini sangat mulia, sehingga pantas dijadikan sebagai ganjaran dari ibadah yang sangat agung tersebut. Untuk itu alangkah baiknya jika kita sedikit mengkaji kriteria orang bertakwa menurut Alquran. Yang pada kajian kali ini akan kita bahas sesuai dengan apa yang termaktub di awal-awal surah Al-Baqarah, sebagai berikut :

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ . الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ ۙ. وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَۗ

Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada (Alqur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat.” (Q.S. al-Baqarah : 2-4)

Ayat-ayat di atas secara umum menjelaskan kepada kita bahwa ada dua kriteria umum yang mesti dimiliki oleh seorang hamba sehingga layak menyandang predikat takwa dan dengan itu ia memperoleh keberuntungan.

Syarat pertama berkaitan dengan pembahasan teoritis tentang alam wujud; dimana menurut Alquran, alam keberadaan tidak hanya terbatas kepada alam materi. Akan tetapi selain dari alam yang dapat kita indera ini (alam syahadah) masih ada alam yang tentu saja lebih luas lagi, yang disebut dengan alam gaib. Nah, menurut ayat di atas iman terhadap keberadaan yang bersifat gaib merupakan kriteria orang bertakwa. Bahkan kriteria pertama ini merupakan dasar dan asas bagi kriteria kedua.

Murthadha Muthhari sewaktu menafsirkan ayat ini mengatakan bahwa menurut pandangan dunia Alquran keberadaan tidak hanya meliputi alam yang dapat di indera. Bahkan alam materi hanya secuil ibarat kulit tipis jika dibandingkan dengan alam secara keseluruhan; dimana bagian yang lebih luas lagi berada di balik alam materi ini. Yang dapat diindera bernama “syahadah” sedangkan yang luput darinya disebut gaib. (Murthadha Muthhari, Asynai ba Quran, Intisyarate Shandra, Qom, hal. 65)

Jadi ciri pertama orang bertakwa adalah percaya kepada yang gaib yang meliputi iman kepada Allah SWT, wahyu dan akhirat. Atau dalam kajian Kalam disebut dengan keyakinan terhadap “mabda”, “ma’ad” dan “nubuwwah”. Di mana kesemuanya berkaitan erat dengan kepercayaan terhadap alam gaib. Hal ini mengingat bahwa Allah SWT adalah gaib, proses penurunan wahyu dan kenabian adalah gaib serta akhirat juga berkaitan dengan alam gaib.

Adapun kriteria kedua orang bertakwa berkaitan dengan pembahasan amaliah, yakni apa yang seharusnya dan apa yang tidak seharusnya dilakukan, yang tentu saja berkaitan dengan tindakan dan aktivitas manusia.

Di dalam ayat di atas disebutkan dua contoh kongkrit dari hal tersebut. Pertama, berkaitan dengan hubungan personal seorang hamba dengan Tuhannya, yang dalam hal ini diwakili oleh shalat sebagi contoh paling urgen. Kedua, berkaitan dengan hubungan sosial seorang hamba dalam membangun suatu masyarakat yang Rabbani, yang dalam hal ini dicontohkan dengan infak.

Jadi secara ringkas orang yang bertakwa sesuai dengan apa yang dapat dipahami dari kedua ayat di atas adalah orang yang mampu menuntaskan pembahasan teoritis tentang alam keberadaan dengan meyakini alam gaib; yang secara umum meliputi “mabda” atau Allah, “ma’ad” atau akhirat dan “nubuwwah” yang berkaitan dengan wahyu dan syariat.

Dan pada tahap berikutnya orang bertakwa adalah orang yang secara praktis mampu menjalin hubungan yang baik dengan Allah SWT, sebagai hubungan personal dan dapat menciptakan relasi yang bagus dengan sesama. Mudah-mudahan takwa ini ada pada kita. Semoga saja!. Wallahu a’lam. (CR14)

KAJIAN RAMADHAN (13) : PENURUNAN ALQURAN DARI SISI TUHAN KE SISI MANUSIA

Oleh : Ustadz M. Iqbal Al-Fadani

Screenshot_2018-06-02-13-53-54-809_com.android.browser

Sebagaimana kita ketahui Alquran mengalami proses penurunan dari alam ladun (sisi Allah) sampai kemudian berada di tengah-tengah umat manusia dalam bentuk bahasa Arab. Proses ini lah kemudian yang disebut penurunan Alquran (Nuzul Alquran).

Kata _nuzul_ atau penurunan ini pada dasarnya memiliki dua makna atau dua jenis. Kedua jenis tersebut adalah : penurunan dalam makna “tajafi” (pengosongan) dan penurunan dalam makna “tajalli” (termanifestasi atau penjelmaan).

Penurunan “tajafi”, adalah proses penurunan yang terjadi di alam materi dimana suatu materi dari atas turun ke bawah. Sebagai misal yaitu disaat kita turun dari satu anak tangga menuju anak tangga yang di bawahnya. Pada proses penurunan yang seperti ini akan terjadi pengosongan (tajafi), artinya disaat kita turun dari anak tangga yang paling tinggi menuju anak tangga di bawahnya maka kita mengosongkan anak tangga yang paling atas tadi dan berpindah ke anak tangga di bawahnya. Penurunan tajafi ini bermakna perpindahan sesuatu dari atas ke bawah secara utuh sehingga di bagian atas menjadi kosong.

Sedangkan penurunan “tajalli” adalah proses penurunan yang tidak bersifat materi (penurunan immaterial) yaitu penurunan melalui penjelmaan, sehingga disaat terjadi proses penurunan maka tidak terjadi pengosongan apapun. Artinya disaat sesuatu mengalami penurunan dari atas ke bawah, maka di bagaian atas tersebut tetap masih bisa kita temukan sesuatu tadi, sebagai mana di bagian bawah juga dapat ditemukan. Ini berarti penurunan tajalli tidak bersifat berpindahan tetapi bersifat terbentang secara utuh dari atas hingga bawah.

Lalu dari kedua jenis dan makna penurunan di atas, termasuk jenis manakah penurunan Alquran?

Pada kasus Alquran, pada awalnya Alquran berada di sisi Allah SWT kemudian untuk bisa dijangkau oleh ummat manusia maka dilakukanlah proses penurunan, sehingga yang tadinya bukan berupa huruf, kata maupun kalimat menjelma menjadi huruf, kata dan kalimat.

Setelah terjadi penurunan dari Alquran yang tadinya merupakan satu kesatuan yang tidak memiliki bagian-bagian ke alam tulisan, tetap saja di alam ladun (di sisi Allah) Alquran memiliki keberadaan. Jadi penurunan Alquran ke alam bawah tidak menyebabkan pengosongan di alam atas. Ini berarti proses penurunan Al-Quran merupakan penurunan jenis kedua, yaitu penurunan tajalli.

Syaik Jawadi Amuli menjelaskan penurunan Alquran sebagai berikut :

Penurunan Al-Quran merupakan bentuk penjelmaan (tajalli). Maksudnya pada saat ajaran dan kandungan Alquran sampai kepada ummat manusia, tingkatan tertinggi dari Alquran (maqam ladun) tersebut tetap ada di sisi Allah SWT yang Maha Tinggi dan Bijaksana. Kemudian pada tingkatan yang lebih rendah sedikit, berada di tangan para malaikat “kiramin bararah”. Oleh karena itu Alquran merupakan satu hakikat yang bergradasi (bertingkat)”.

“Tingkatan ini juga memiliki hubungan penjelmaan antara satu dengan lainnya. Setiap tingkatan merupakan jelmaan tingkatan yang di atasnya dan sebagai turunannya. Dari sisi keberadaan juga memiliki keterikatan sepenuhnya dengan tingkatan di atasnya. Oleh karena itu membayangkan tingkatan-tingkatan Alquran yang saling terpisah dan tanpa hubungan, tidak dapat dibenarkan, sebab bertentangan dengan proses penurunan dalam bentuk penjelmaan dan tajalli.” (Syaikh Jawadi Amuli, _Quran dar Quran,_ Markaz e Israk, Qom, 1378 HS, hal. 46).

Dari penjelasan Syaikh Jawadi Amuli tersebut jelaslah bahwa penurunan Alquran itu bersifat penjelmaan (tajalli) bukan pengosongan (tajafi). Ini berarti Alquran yang ada di tengah-tengah kita yang disampaikan oleh Rasul Saw, yang kita baca dan pelajari adalah penjelmaan Alquran yang ada di sisi Allah SWT. Dengan demikian Alquran terbentang dari sisi Allah SWT di alam immaterial hingga ke sisi Nabi Muhammad Saw dan umatnya di alam material. Wallahu a’lam. (CR14)

KAJIAN RAMADHAN (12) : ALQURAN KALAM ILAHI

Oleh : Ustadz M. Iqbal Al-Fadani

IMG_20180220_085533

Kita sering mengatakan dan mendengar bahwa kitab suci Alquran adalah kalam ilahi. Tapi jarang sekali kita bertanya apa maksud dari kita mengatakan Alquran adalah Kalam ilahi. Apakah maksud dari Kalam ilahi adalah sejenis kata-kata? Layaknya perkataan atau ucapan yang terdiri dari huruf, suara dan kalimat? Atau maksud dari kalam ilahi justru bukan seperti itu? Lantas apa makna kalam ilahi bagi Alquran?

Untuk menjawab pertanyaan ini, pada tulisan singkat kali ini kami akan mengutip tulisan Ayatullah Jawadi Amuli yang mengatakan :

Perkataan dan kalam ilahi baik di dunia maupun di akhirat bukanlah berbentuk suara, lafaz dan kesepakatan… Perkataan ilahi adalah perbuatan-Nya yang bukan berupa suara yang dipantulkan maupun panggilan yang dapat didengar. Kalam ilahi adalah memberikan keberadaan, akan tetapi pada tingkatan terendahnya menjelma dalam bentuk Taurat yang dilafalkan atau Alquran yang fasih dalam bahasa Arab. Pada tingkatannya yang paling rendah ini kelazimannya adalah lafaz, berbentuk bahasa Arab, Ibrani dan lain-lain.

“Alquran yang berbahasa Arab merupakan turunan dari Kalam ilahi. Sedangkan sumber serta aslinya yang berada pada “maqam laduni” (di sisi Allah SWT) yang turun kepada Rasulullah Saw dan diterima oleh beliau, tidaklah berbentuk suara, lafaz dan kesepakatan. Dia merupakan satu hakikat yang tinggi dan bijaksana dimana hanya dengan Syuhud dapat dicapai.”

“Maksudnya, hakikat Alquran di semua tingkatannya merupakan kalam ilahi. Dan perkataan ini yang merupakan makhluk ilahi di dalam setiap tingkatannya adalah perbuatan khusus Allah SWT dimana Allah SWT yang menciptakannya. Dan khusus tingkatan terendahnya sebagaimana tingkatan lainnya merupakan kalam serta makhluk ilahi yang berbentuk lafaz dan kata-kata khusus.” (Syaikh Jawadi Amuli, Tafsir Maudu’i e Quran e Karim (Quran dar Quran), Markaz e Nashr e Israk, Qom, 1378 HQ, hal. 60-61).

Dari penjelasan yang telah disampaikan di atas dapat kita simpulkan bahwa kalam ilahi merupakan perbuatan dan makhluk Allah SWT. Dan maksud dari Alquran adalah kalam ilahi ialah bahwa Alquran merupakan salah satu hasil ciptaan Allah SWT yang berbentuk lafaz, kata-kata dan kalimat, bukan Allah SWT berkata-kata dengan menggunakan huruf, kata dan kalimat. Wallahu a’lam. (CR14)

KAJIAN RAMADHAN (11) : KARAKTER KISAH DALAM ALQURAN

Oleh : Ustadz M. Iqbal Al-Fadani

IMG-20171106-WA0018

Alquran bukanlah kitab atau buku sejarah yang bertugas sebagai pencatat kejadian di masa lampau. Meskipun demikian, kitab suci ini memuat banyak kisah para nabi, orang saleh, musuh para nabi dan orang jahat. Singkatnya di dalam kitab yang agung ini kita bisa menjumpai sejarah ummat terdahulu yang tentu saja dapat dijadikan sebagai bahan renungan dalam meniti kehidupan saat ini.

Alquran bukan kitab sejarah, tapi sebuah kitab yang memiliki tugas pemberi hidayah, “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Al-Baqarah/2), lalu apa perbedaan sejarah atau cerita yang dimuat oleh Alquran dengan buku sejarah atau cerita lainnya, sehingga Alquran dengan segudang kisah yang dipaparkannya tapi bukan merupakan kitab sejarah?

Sebenarnya ada banyak ciri khas tersendiri dan karakter khusus yang dimiliki Alquran dalam hal menyampaikan cerita sehingga menjadikannya berbeda dengan yang lainnya. Pada tulisan singkat kali ini kita akan menjelaskan salah satunya saja, yaitu “karakter pemilahan dalam kisah dalam Alquran.”

Pemilahan dalam memuat kisah merupakan ciri khas atau karakter Alquran. Yaitu bahwa kisah yang dimuat oleh Alquran itu hanya sebagian saja, yang mana bagian tersebut memiliki pelajaran (ibrah) bagi pembaca atau pendengarnya, bukan semua hal yang berkaitan dengan sebuah cerita sekalipun tidak memiliki ibrah sama sekali.

Atas dasar ini, hal-hal yang tidak penting ataupun tidak memiliki nilai pembelajaran (ibrah) dengan sendirinya tidak di muat dan dilupakan oleh Alquran. Oleh karena itu di dalam Alquran kadang kita melihat kisah tapi tidak disebutkan nama pelakunya, seperti : “Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu“. (Yasiin/20).

Ada juga kisah tapi tidak dimuat tanggal kejadiannya, bahkan sebagian kisahnya hanya memuat sepenggal dari perjalanan hidup dari tokoh yang diceritakan. Ini tidak lain dikarenakan misi dari kisah Alquran ada pada ibrahnya dan bukan pada sejarah sebagai sebuah sejarah.

Didalam kitab Asynai ba Ma’arif e Quran disebutkan bahwa salah satu metode Alquran dalam menyampaikan pesan-pesannya adalah, fakta yang dimuat telah dipilih sesuai dengan urgensinya, sehingga kemurnian ibrah atau pelajaran yang ingin disampaikan tetap terjaga. Dengan kata lainnya, pemilihan bagian tertentu dalam kisah-kisah Alquran tanpa melihat pada sisi sastra dan seninya, lebih karna mengedepankan bagian serta episode yang lebih berpengaruh (terhadap pembaca). Dan tidak disebutkannya bagian-bagian yang tidak terlalu penting bertujuan untuk lebih menjaga pengaruh kisah tadi dalam mengokohkan aqidah dan memperbaiki tindak tanduk pembacanya. (Asynai ba Ma’arif e Quran tafsir e Maudu’i e jil. 1, Sazman e Hauzeha wa Madaris e Ilmi e Kharij az Kesywar, Qom, 1391 HS, hal. 100).

Bagian terakhir dari kutipan di atas ingin menyampaikan bahwa terkadang menyebutkan hal-hal yang tidak penting dalam sebuah kisah dapat mengalihkan perhatian pembaca dari tujuan awalnya, yaitu mengambil ibrah dari sebuah kisah. Itulah sebabnya Alquran hanya menyebutkan bagian pentingnya saja. Wallahu a’lam. (CR14)

KAJIAN RAMADHAN (9) : VARIASI TAFSIR AQLI

Oleh : Ustadz M. Iqbal Al-Fadani

IMG-20180525-WA0012

Pada tulisan singkat sebelumnya telah disebutkan bahwa metode tafsir aqli adalah menjadikan capaian-capaian aqal sebagai referensi dalam menafsirkan Alquran. Oleh karena itu pada tulisan ini kita akan membicarakan varian dari tafsir aqli dalam penerapannya.

Pada penerapannya tafsir aqli dapat diklasifikasikan kepada dua variasi.

1. Capaian akal dijadikan sebagai tolok ukur dalam menafsirkan ayat yang secara zahirnya bertentangan dengan dalil-dalil akal yang pasti (burhan).

Pada kasus ini mengingat bahwa dalil pasti aqal bertentangan dengan zahir Alquran maka capaian akallah yang dikedepankan sehingga ayat Alquran akan ditkwilkan kepada makna yang sesuai. Ayat-ayat mutasyabihat (ambigu atau multi tafsir) adalah contoh paling tepat untuk varian pertama ini.

Ayat-ayat yang secara lahiriah menyatakan bahwa Allah memiliki tangan, mata, muka atau ayat yang memuat tentang kedatangan Tuhan dan lainnya, karena bertentangan dengan dalil akal yang pasti maka harus ditakwilkan. Misalnya tangan Allah ditakwilkan dengan kekuasaan Allah SWT. Sebab tidak mungkin tangan Allah dimaknai sebagaimana tangan yang kita pahami.

2. Varian kedua yaitu capaian akal berperan sebagai media untuk memahami Alquran dengan lebih baik. Pada bentuk kedua ini peran akal adalah untuk membantu pengkaji Alquran dalam mendapatkan pemahaman dan penjelasan yang lebih baik.

Hal ini terdapat pada ayat-ayat yang memuat tentang bukti keesaan Tuhan, seperti ayat berikut ini :

لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

_“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa.”_ (Q.S. al-Anbiya : 22)

Pada contoh ini capaian akal seperti kajian Ilmu Kalam dan Filsafat akan sangat membantu dalam menjelaskan kaitan antara keberadaan banyak tuhan dengan kehancuran langit dan bumi sehingga keesaan Tuhan akan lebih baik dipahami. Artinya salah satu bukti bagi keesaan Allah adalah penciptaan alam yang penuh  keseimbangan. Jika Tuhan lebih dari satu, maka tentu alam ini akan rusak binasa, dengan demikian adanya keseimbangan di alam menunjukkan bahwa Tuhan itu esa.

Muhammad Ali Ridhai mengatakan, _“Terkadang dalam metode tafsir aqli dalil pasti akal (Burhan) dijadikan dalil dalam menafsirkan ayat. Setiap ditemukan zahir Alquran bertentangan dengan capaian akal yang pasti, maka capaian akal dijadikan landasan untuk meninggalkan zahir ayat dan berusaha untuk menakwilkannya…. Terkadang capaian akal yang pasti digunakan untuk memahami ayat yang berkaitan dengan dalil-dalil ketuhanan dengan lebih baik. “_ (Ali Ridhai, _Rawesyha wa Gerayesyha e Tafsiri,_  Markaz Jahani Ulum e Islami, Qom, 1424 H, hal. 205-206). (CR14).

KAJIAN RAMADHAN (8) : MENAFSIRKAN ALQURAN DENGAN AKAL

Oleh : Ustadz M. Iqbal Al-Fadani

Screenshot_2018-05-25-13-59-11-049_com.opera.mini.native

Pada kajian sebelumnya kita mengenal metode Tafsir Alquran bi Alquran yaitu suatu metode menafsirkan satu ayat Alquran dengan menggunakan ayat  Alquran lainnya. Maka pada kali ini kita mengenalkan jenis tafsir lainnya yaitu Metode Tafsir Aqli.

ada Me tafsir aqli merupakan salah satu metode yang digunakan dalam memahami dan mengkaji kandungan ayat-ayat suci Alquran dengan menggunakan akal dan pikiran. Metode penafsiran yang seperti ini sudah ada semenjak awal kajian tafsir Alquran, sekalipun belum dikenal sebagai sebuah istilah dalam ilmu tafsir.

Metode tafsir aqli bisa dikelompokkan kepada dua kategori :

1. Metode pertama adalah dengan menggunakan akal sebagi alat untuk menyimpulkan dan menganalisa semua dalil-dalil yang ada untuk kemudian dilakukan pengambilan sebuah kesimpulan akhir.

Pada kasus ini akal berfungsi sebagai pengambil kesimpulan dalam memahami berbagai indikasi-indikasi yang diperoleh dari berbagai sumber yang ada, seperti ayat, riwayat, asbab al-nuzul, dan lainnya. Akal pada bagian pertama ini disebut “aqal fithri” atau “aqal mishbahi” yaitu sebagai penerang atau lampu (aqal mishbahi) dan metodenya biasa disebut dengan nama Tafsir Aqli Ijtihadi.

Muhammad Ali Ridhai mengatakan bahwa metode pertama ini adalah metode yang menggunakan kemampuan berfikir dalam menyimpulkan makna ayat (tentu tetap dengan memperhatikan riwayat, bahasa Arab dan lainnya) dan melakukan proses pengambilan hukum (istinbath) darinya, dalam rangka menyingkap makna dan maksud ayat-ayat Alquran, disebut tafsir ijtihadi.” (Ali Ridhai, Rawesyha wa Gerayesyha e Tafsiri, hal. 191, cet. Markaz e Jahani Ulum e islami, Qom, 2424 H).

2. Metode kedua adalah menjadikan capaian-capaian akal sebagai sumber rujukan serta referensi dalam menafsirkan ayat Alquran. Artinya jika pada bentuk pertama akal hanya berfungsi sebagai pengambil kesimpulan dari berbagai dalil dan referensi yang ada, pada bagian kedua ini akal justru sebagai sumber atau referensi penafsiran itu sendiri. Pada metode ini akal yang dimaksud adalah hasil capaian akal (aql burhani atau aql iktisabi), sedangkan metodenya disebut metode Tafsir Aqli.

Muhammad Ali Ridhai menjelaskan bahwa metode tafsir bentuk kedua ini menjadikan hasil capaian akal (burhan) dan dalil-dalil akal sebagai media dan referensi dalam memahami dan menjelaskan makna dan maksud ayat. Dimana dalam bentuk ini akal berperan sebagai sumber dan referensi dalam menafsirkan Al-Quran. Hukum akal serta proporsi-proposisi pasti (burhan) dijadikan sebagai dalil untuk tafsir Alquran.” (Ali Radhai, Rawesyha wa Gerayesyha e Tafsiri, hal. 191, cet. Markaz Jahani Ulum e islami, Qom,1424H).

Sebenarnya bentuk kedua inilah yang disebut dengan metode tafsir aqli, bukan bentuk pertama. Sebab yang dimaksud dengan metode di sini adalah penggunaan sesuatu sebagai referensi. Sebagaimana jika dikatakan metode Tafsir Alquran bi Alquran maka maksudnya adalah menjadikan Alquran sebagai referensi dalam menafsirkan Alquran.

Dan sebagai mana disebutkan bahwa pada bagian pertama akal hanya berfungsi sebagai pengambil kesimpulan bukan sebagai sumber dalam penafsiran. Wallahu a’lam. (CR14)