Training Aqidah/Ushuluddin di Yayasan Islam Abu Thalib: Bab Ketuhanan Sub-bab Sarana Mengetahui Eksistensi Tuhan (2)

Oleh: Ahsanul Ihsan Ritonga*

299083_114648598640970_1024159074_nPada kajian terdahulu kita telah membahas dan mengkaji secara kritis tentang asal mula keber-agama-an seseorang. Dimana agama tersebut sangat mempengaruhi pandangan dunianya sebagai seorang insan rasionalis. Setelah mengenal defenisi agama serta apa yang terkandung didalamnya, maka kini timbul pertanyaan, dari mana kita mengetahui adanya Tuhan/Pencipta? Melihat pertanyaan ini, umat islam terbagi kedalam dua kelompok, kelompok pertama mengatakan bahwa manusia mengetahui keberadaan Tuhan melalui Kitab Suci Al-Quran, di sisi lain terdapat kelompok yang berpedoman pada asumsi rasional, yaitu keberadaan Tuhan hanya dapat diketahui melalui akal murni (pure reason). Jika demikian adanya, kita akan memilih mana diantara kedua kelompok tersebut yang memenuhi kriteria kebenaran secara rasional. Sekarang kita lihat kepada kelompok yang berpendapat bahwa pengetahuan tentang Tuhan hanya diperoleh melalui kitab suci. Pertanyaannya ialah manakah terlebih dahulu diyakini antara Tuhan atau kitab suci? Jika dikatakan Quran-lah yang lebih dahulu ada baru Tuhan, lantas dari mana percaya kalau Tuhan ada? Apakah dari kitab suci juga? Sementara mengetahui kitab suci didapat dari kepercayaan terhadap Tuhan terlebih dahulu. Hal tersebut tidak mampu menyelesaikan permasalahan, dan akan menyebabkan terjadinya tasalsul yaitu rentetan memanjang tiada akhir atau daur yakni rentetan berputar tiada akhir. Sebab, pendapat diatas hanya berkutat antara Kepercayaan antara Tuhan atau kitab suci yang harus didahulukan.

SAMSUNG CAMERA PICTURESKemudian kita lihat pendapat kedua yang mengatakan kepercayaan terhadap Tuhan hanya bersumber dari akal murni. Namun, sebelum kita menguji pendapat ini kita harus melihat terlebih dahulu sumber-sumber pengetahuan lain yang dapat dijadikan alat untuk mengetahui eksistensi Tuhan. Pertama, salah satu alat yang digunakan untuk mengetahui Tuhan ialah indra. Indra yang dimiliki manusia terdiri atas lima jenis yang kerap disebut panca indra, yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap dan peraba. Setiap indra memiliki fungsi tersendiri dalam kerjanya, seperti mata untuk melihat atau telinga untuk mendengar. Indra memiliki keterbatasan dalam menerima objek yang hendak dicapai. Sebab, ruang lingkup indra hanya terbatas pada objek material. Oleh karenanya, indra tidak dapat dijadikan sarana untuk mengetahui keberadaan Tuhan, sebab Tuhan bersifat non-materi. Kedua, sarana selanjutnya yang dijadikan alat mengetahui kebenaran ialah hati. Hati berfungsi sebagai sarana mengetahui objek non-materi yang dilakukan melalui proses tazkiyatu an-nafs (pencucian jiwa). Karena metode pencucian jiwa membutuhkan bacaan-bacaan atau zikir-zikir khusus yang mana seluruhnya diketahui dengan mengenal Tuhan terlebih dahulu, maka tidak mungkin alat ini digunakan untuk mengetahui keberadaan Tuhan, sebab jika demikian maka akan mengakibatkan terjadinya tasalsul maupun daur. Disamping itu, hati (perasaan) hanya dapat digunakan oleh pribadi yang mengalaminya. Dan tidak boleh menghukumi orang lain dengan pengalaman yang dialaminya secara individual. Oleh karenanya proses tersebut hanya berlaku bagi orang yang berhubungan dengan hati (perasaan). Bahkan tidak mungkin seorang yang belum pernah bertemu dengan Tuhan tiba-tiba mengaku bertemu dengan-Nya, sementara tidak ada yang menjamin siapa yang dijumpainya ketika terjadi di alam perasaan. Apakah memang yang ditemuinya itu benar-benar Tuhan atau selain Tuhan? Kesimpulannya hati tidak dapat dijadikan sarana untuk mengetahui Tuhan.

SAMSUNG CAMERA PICTURESKetiga, alat selanjutnya yang diajukan ialah Wahyu atau Al-Quran. Al-Quran juga tidak dapat dijadikan sarana untuk mengetahui Tuhan, sebab kita akan bertanya dari mana datangnya Al-Quran? Siapa penciptanya? Apakah memang seluruh yang dikatakan Al-Quran itu merupakan wahyu yang bersumber dari penciptanya? Perlu dibuktikan terlebih dahulu siapa pembawa Al-Quran dan dari mana sumbernya. Jadi, lagi-lagi Al-Quran tidak dapat dijadikan bukti kuat untuk mengetahui adanya Tuhan. Selain itu Al-Quran hanya dapat dijadikan dalil hanya bagi orang Islam saja, dan tidak berlaku bagi orang diluar Islam. Keempat, sarana keempat yang hanya mungkin untuk dijadikan  sebagai alat mengetahui keberadaan Tuhan ialah akal. Akal dalam kerjanya melampaui ruang lingkup materi dan non-materi. Akal mampu mengetahui objek-objek non-materi sekalipun seperti Ruh, Jin, Malaikat bahkan Tuhan. Sebab, akal bersifat non-materi. Sehingga karena Tuhan bersifat non-materi, maka sarana untuk mengetahui-Nya haruslah yang sama yaitu akal. Hal tesebut karena akal dimiliki oleh semua manusia, tidak memandang agama apapun yang dianutnya. Sehingga dari pembahasan singkat ini satu-satunya alat yang digunakan sampai saat ini untuk mengetahui eksistensi Tuhan hanyalah akal. Bukan berarti wahyu atau hati tidak dapat dijadikan sarana, tetapi ada saatnya kedua sarana itu berfungsi dan harus digunakan. Mengenai sumber dan sarana pengetahuan ini dibahas secara lebih intens pada kajian Epistemologi.

* Penulis adalah Mahasiswa SEM. VII AHS UISU Sekaligus Pendiri Komunitas Epistemologi

Iklan

Training Aqidah/Ushuluddin di Yayasan Islam Abu Thalib: Bab Ketuhanan Sub-bab Mengenal Agama (1)

Oleh: Ahsanul Ihsan Ritonga*

299083_114648598640970_1024159074_nAgama merupakan satu masalah yang sangat urgen dalam kehidupan manusia. Sebab, manusia yang berakal senantiasa mempergunakan akal pikirannya untuk mencari kebenaran demi menuju kesempurnaan yang abadi. Lantas, apakah agama menjamin kesempurnaan terhadap manusia? Dalam hal ini kita akan memulai pembahasan dari defenisi agama. Agama memiliki makna yang sangat beragam. Agama menurut kaidah bahasa Arab berasal dari kata “ad-din”, kata ini dapat diterjemahkan kedalam berbagai arti, diantaranya ialah ketaatan, kepasrahan, atau balasan. Ad-din dapat berarti balasan, sebab didalam agama sendiri terdapat balasan untuk kebaikan dan balasan untuk kejahatan. Balasan berbuat baik disebut pahala, sedangkan untuk kejahatan disebut dosa. Seperti perintah mendirikan shalat agar kita mendapat pahala, atau larangan terhadap perbuatan maksiat yang mengakibatkan pelakunya mendapatkan dosa. Ad-din yang bermakna balasan juga terdapat didalam Al-Quran, seperti dalam ayat keempat surah Al-Fatihah yang artinya: “Tuhan yang menguasai hari pembalasan”. Ad-din pada ayat tersebut tidaklah diartikan sebagai agama, namun berubah menjadi pembalasan.

Pada dasarnya agama itu hanya berisi dua dimensi: dimensi teoritis dan dimensi praktis. Sisi teoritis agama disebut keyakinan/keimanan/akidah. Sementara sisi praktisnya disebut amalan/hukum/syari’ah. Dari seluruh defenisi agama yang diberikan para ahli, dapat disimpulkan bahwa defenisi yang disepakati ialah yang terdiri dari dua aspek diatas, yakni sekumpulan keyakinan tentang pencipta alam semesta dan sekumpulan amalan yang sesuai dengan keyakinan. Jadi, teoritis agama ialah urusan keberadaan Tuhan, dan ukurannya benar/salah. Pertama, apakah kita memiliki keyakinan tentang keberadaan Tuhan? jika yakin barulah kemudian kita dapat memasuki bab penyembahan terhadap Tuhan. Seperti shalat, seseorang yang melakukan shalat hanyalah disebabkan dirinya telah yakin akan adanya Tuhan. Namun, meskipun orang tersebut yakin bahwa Tuhan itu ada, jika keyakinan tersebut tidak dibangun oleh pondasi pengetahuan yang bersifat filosofis, maka semakin lama keyakinan tersebut akan semakin pudar oleh suatu sebab tertentu. Sehingga perlu kiranya agar kita terlebih dahulu merekonstruksi keyakinan kita selama ini melalui suatu metode khusus yang disebut akidah filsafat, yakni akidah yang dilandasi paradigma filosofis, demi kokohnya bangunan keimanan seseorang didalam kehidupannya.

SAMSUNG CAMERA PICTURESSisi praktis agama ialah urusan baik/buruk, jika seseorang tidak memiliki keyakinan yang baik terhadap Tuhan atau hari akhir, maka tiada gunanya beribadah. Sebab, keseluruhan ibadah itu hanya akan dilakukan jika dirinya memiliki keyakinan terhadap Tuhan dan hari pembalasan. Nah, sekarang tugas kita berikutnya ialah hendak menguji apakah Islam dapat disebut sebagai agama atau tidak melalui dua pendekatan yang dijelaskan tadi, yaitu teoritis dan praktis. Jika dilihat secara kritis dan eksplisit, maka akan ditemukan kedua dimensi asasi ini didalam agama Islam, bahwa Islam meyakini akan adanya Tuhan yang Satu, dan memerintahkan penganutnya untuk melakukan perbuatan baik, secara ritual, sosial dan intelektual. Bahkan selain Islam, terdapat banyak agama yang memenuhi kriteria diatas. Sebut saja Kristen atau Yahudi, Kristen juga meyakini bahwa adanya pencipta alam semesta, disamping itu, Kristen juga menekankan penganutnya agar berbuat baik, saling mencintai satu sama lain, dan berkorban di jalan yang benar. Yahudi memiliki keimanan terhadap Tuhan, dan memiliki hukum tersendiri bagi umatnya sebagai pedoman menuju jalan kebenaran. Bahkan Marxis juga dapat dikatakan sebagai agama, sebab Marxis juga memiliki keyakinan akan adanya pencipta, walaupun konsepsi ketuhanannya jauh berbeda dengan agama-agama diatas, juga memiliki hukum yang harus dijalankan oleh pengikutnya.

Diantara dua dimensi dasar agama tersebut, sisi teoritislah yang paling utama, sehingga posisinya sebagai pokok/prinsip dasar atau asas-asas yang dalam bahasa agama disebut Ushuluddin,. Sebab, tanpa adanya ushuluddin maka tidak akan pernah ada hukum praktis. Karena adanya hukum praktis tergantung oleh asas keyakinan/prinsip-prinsip agama, sementara hukum praktis sebagai cabangnya yang dalam bahasa agama disebut Furu’uddin (cabang-cabang agama). Jadi, ushuluddin merupakan landasan agar agama dapat diamalkan. Karenanya, ushuluddin tidak ada hubungannya dengan rukun iman, jika rukun iman dibatasi hanya sampai enam perkara saja, maka akan memberikan konsekwensi seluruh umat Muslim menjadi kafir, sebab, banyak hal yang harus diyakini tetapi tidak tergolong kedalam rukun iman, seperti iman kepada surga dan neraka, iman kepada siksa kubur, iman kepada jin/iblis, dan masih banyak lagi perkara yang harus diimani oleh setiap muslim tetapi tidak termaktub dalam doktrin rukun iman, oleh karenanya kita menyebutnya dengan Ushuluddin. Maksudnya ialah hal-hal apa saja yang menjadi prinsip dalam agama dan bersifat asasi diantara seluruh yang wajib diyakini. Jadi, adalah salah jika ada yang mengklaim kekufuran orang yang tidak menjadikan iman kepada kitab suci atau qadha dan takdir sebagai rukun imannya. Lantas kita akan menjawab bahwa ushuluddin tidak memiliki hubungan dengan rukun iman. Sebab iman kepada kitab suci atau iman kepada qadha dan takdir telah masuk kedalam divisi ushuluddin yang mana kedua hal tersebut menjadi sub-bab tertentu yang dibahas secara eksklusif. Seperti iman kepada kitab suci menjadi salah satu kajian dalam bab kenabian. Sebab, kitab suci tidak menjadi ushul dalam porsi ushuluddin, dan yang menjadi topik utamanya hanya terdiri dari lima tema sentral, yakni Ketuhanan, Kenabian, Keadilan, Imamah (kepemimpinan), dan Ma’ad (eskatologi/hari akhir). Sehingga kitab suci akan menjadi bahasan khusus pada bab kenabian, sementara qadha dan takdir termasuk kedalam bab keadilan. SAMSUNG CAMERA PICTURESKlaim “kafir” bagi yang tidak meyakini ushuluddin juga meniscayakan kekufuran bagi orang yang ingkar terhadap masalah furu’. Seperti keingkaran akan perintah shalat, puasa, zakat dan lainnya. Pada dasarnya ushuluddin tidak mengatakan kafirlah orang yang mengingkarinya, namun agama tidak mungkin dapat dijalankan jika tidak ada keyakinan dengan ushuluddin. Sebab, perkara keimanan sangat banyak, dan tidak semuanya disebutkan oleh dalil/nash secara total, baik dalam Kitab maupun hadits. Karena tema-tema keimanan sangat beragam, maka harus dicari diantaranya yang palingmendasar, dimana tidak mungkin menjalankan agama ini jika tidak meyakini perkara yang prinsipil tersebut.

* Penulis adalah Mahasiswa SEM. VII AHS UISU Sekaligus Pendiri Komunitas Epistemologi

Peringatan Haul (Wafat)-nya Ar-Rasul SAWW.

Oleh: Ahsanul Ihsan Ritonga*

299083_114648598640970_1024159074_nAr-Rasul saw. Dan keluarga (Ahlulbait)-nya Merupakan manusia-manusia yang paling agung dan paling mulia diantara seluruh makhluk yang diciptakan Allah swt.  Maka dari itu, kita harus mengikuti jejak hidup mereka. Bagaimana kehidupan mereka, mati mereka, bahkan kebangkitan mereka di akhirat. Hari ini merupakan hari yang sangat bersejarah bagi umat Islam di seantero dunia bagi yang mengaku sebagai pengikut dan pencinta Rasulullah saw. Dan Ahlulbaitnya yang suci. Mereka memperingati hari ini sebagai hari duka terbesar karena terputusnya wahyu dari umat ini yang disebabkan oleh wafatnya pembawa misi Tuhan. Banyak orang yang mengklaim bahwa para pencinta ahlul bait (baca: Syiah Imamiyah) hanya memperingati hari Syahidnya Imam Husein dan menganggap hari tersebut adalah hari termulia diantara hari-hari yang diciptakan Tuhan. Kita sebagai pencinta mereka tidaklah bersikap demikian. Sebab, semua para manusia maksumin yang dimulai dari Ar-Rasul saw. Sampai kepada Imam Mahdi Al-Muntazhar memiliki peristiwa-peristiwa penting didalam perjalanan kehidupan mereka yang mulia. Dan seluruh perisitiwa-peristiwa dan kejadian penting mereka yang tercatat didalam kitab hadits maupun riwayat para ulama ahlul bait senantiasa kita peringati setiap momennya.

Para ulama Ahlussunnah sepakat bahwa hari lahir dan wafatnya Ar-Rasul jatuh pada tanggal yang sama yaitu tanggal 12 Rabiul Awwal. Sementara Ulama Ahlul Bait meriwayatkan bahwa hari kelahiran dan wafatnya Rasulullah saw. berbeda. Sebab hal tersebut menjadi mustahil jika kita memperingati dua hal yang berbeda didalam satu hari yang sama. Mayoritas dari Mereka (ulama Syiah) mengatakan hari lahirnya Rasulullah saw. Jatuh pada tanggal 17 Rabiul Awal selain Syaikh Kulaini yang mengatakan tanggal 12 Rabiul Awal, oleh karenanya Imam Khomeini mengatakan bahwa mulai tanggal 12-17 Rabiul Awal merupakan hari persatuan Umat Islam sedunia.  Sementara wafatnya Rasulullah saw. Jatuh pada tanggal 28 Safar sebagaimana yang kita peringati hari Sabtu 20 Desember 2014. Sehingga kita akan mengatakan bahwa bulan Muharram-Safar merupakan bulan dukacita terbesar bagi Umat Islam, karena ada empat orang manusia suci yang wafat pada bulan tersebut.

SAMSUNG CAMERA PICTURESWafatnya Rasulullah saw. Tidak terlepas dari peristiwa penting pasca menunaikan haji Wada’ (haji terakhir) tahun kesepuluh Hijrah. Selepas menyelesaikan seluruh rukun haji, Rasulullah dan ribuan sahabat beliau saw. Kembali ke Madinah, namun di pertengahan jalan yang tidak berapa jauh dari Makkah, Ar-Rasul saw. Memerintahkan kepada para sahabat untuk berhenti di suatu tempat yang nanti akan menjadi tempat paling bersejarah khususnya bagi para pengikut Ahlul Bait. Tempat tersebut diberi nama Ghadir Khum. Ketika Rasulullah saw. Tiba di tempat itu, beliau menyuruh para sahabat yang telah melewatinya agar segera kembali, dan menyuruh orang-orang yang masih di belakang agar segera mempercepat langkah mereka.

Hari itu jatuh pada tanggal 18 Zulhijjah. Cuaca disana panasnya mencekam, padang pasir nan tandus hampir merusak telapak kaki mereka yang berdiri. Ada yang melepaskan sorbannya untuk dijadikan alas kaki, bahkan sampai melepaskan pakaian mereka demi menghindari teriknya padang pasir saat itu. Kemudian Rasulullah menyuruh beberapa orang sahabat agar membuatkan sebuah mimbar untuk beliau berdiri diatasnya. Setelah semua selesai, Rasulullah saw. Langsung berdiri dan menjadikan Imam Ali as. Berdiri di sebelah kanan beliau. Beliau berkhutbah dengan kalimat yang sangat menakjubkan, membuat semua telinga yang mendengarnya merasakan kenikmatan luar biasa, sebab hari itu merupakan hari sempurnanya agama. Namun, diantara untaian kalimat beliau, terdapat sisi paling penting untuk dijadikan hujjah bahkan hingga saat ini. Kalimat tersebut berbunyi   من كنت مولاه فهذا علىّ مولاه  yang kurang lebih maknanya : “Barangsiapa yang menjadikan Aku (Rasul) sebagai walinya, maka ini Ali sebagai walinya”. Hadits tersebut tercatat di enam kitab induk Ahlussunah, yang mana telah diriwayatkan oleh 300 orang ulama Sunni-Syiah, yang disaksikan oleh 70.000 orang sahabat, bahkan ada yang mengatakan 90.000 orang, atau 114.000 orang bahkan sampai mencapai 124.000 orang sahabat waktu itu. Oleh karenanya benarlah apa yang dikatakan oleh seorang ulama Syiah yang bernama Ayatullah Mar’Asyi didalam kitabnya Hamaseh Ghadir bahwa jika hadits Ghadir Khum tidak diterima, maka tidak ada lagi hadits yang boleh kita terima. Sebab, ke-mutawatiran hadits tersebut mengalahkan seluruh hadits yang ada.

SAMSUNG CAMERA PICTURESPeristiwa Ghadir Khum merupakan peristiwa penunjukan orang yang berhak menggantikan posisi kenabian pasca wafatnya Rasulullah saw. Hanya saja orang itu tidak disebut sebagai Nabi, namun Imam/Khalifah. Sebab, tidak ada lagi Nabi/Rasul setelah Muhammad saw. Oleh karenanya penunjukan Imam Ali bin Abi Thalib as. sebagai pengganti Nabi Muhammad saw. Merupakan sinyal bagi kita bahwa Rasulullah saw. Akan meninggalkan dunia ini dan menghadap  Allah swt. Untuk selama-lamanya. Setelah dua bulan pasca pengangkatan Imam Ali as. Sebagai Khalifah pengganti Rasulullah saw. Maka beliau saw. Jatuh sakit, sakitnya beliau tidaklah disebabkan oleh apapun melainkan racun yang telah meresap dan bereaksi ke seluruh pembuluh darah sehingga membuat nadi-nadinya berputusan. Racun yang telah bersarang selama tiga tahun atau setidaknya sejak terjadi perang Khaibar.

Para sahabat sebenarnya mengerti akan wafatnya Rasulullah saw. Namun, hal tersebut mereka jadikan sebagai peluang untuk melakukan konspirasi politik demi merebut kekuasaan Islam dan menjadikannya sebagai otoritas sentral demi berjalannya keinginan serta pemerintahan yang akan mereka gilir. Bahkan sebagaimana riwayat mengatakan bahwa Ibnu Abbas ra. Pernah bertanya kepada Umar bin Khattab: “Bukankah kalian tahu bahwa Ali sebagai Khalifah yang ditunjuk oleh Allah dan Rasul-Nya?” Umar dengan santai menjawab: “Benar, kami tahu itu, namun kami hendak menggilir kepemimpinan ini bukan hanya berlaku di satu suku saja. Kami mengakui bahwa Nabi berada di suku Bani Hasyim, tetapi, kepemimpinan biarlah kami yang mengaturnya (pen.)”. Perkataan Umar ini memang benar-benar terjadi, kita lihat saja siapa khalifah yang mereka angkat pasca Rasul, Abu Bakar yang berasal dari Bani Taim, Umar dari Bani Adi, dan Utsman dari Bani Umayyah.

Di sisi lain, para pengikut setia Imam Ali bin Abi Thalib as. Tidak mengakui kepemimpinan mereka. Sehingga tidak sedikit dari mereka yang disiksa, dibunuh, dibakar hidup-hidup dsb. Ketika mengalami sakaratul maut, Rasulullah saw. Tidak lupa mewasiatkan kepada umat Islam saat itu. Namun, sebagian mereka tidak setuju akan kehendak Rasulullah saw. Yang ingin menulis wasiat di atas secarik kertas, ada yang berpendapat Rasul sedang mengigau, maracau, dsb. Padahal mereka tahu ayat yang berbunyi: “Dan tidaklah apa yang diucapkannya berasal dari Hawa Nafsu, melainkan kesemuanya itu ialah wahyu yang diwahyukan.”

Perisitwa wafatnya Rasulullah saw. Setidaknya mengajarkan kita beberapa hal:

  1. Bahwa setiap jiwa pasti akan merasakan maut, bahkan manusia termulia sekalipun.
  2. Mengingatkan kita sebagai seorang muslim agar menuliskan wasiat bagi para ahli waris.
  3. Mengajarkan kita untuk memilih siapa panutan pasca wafatnya Rasulullah saw. Yang mampu menuntun umat ke jalan yang benar.

* Penulis adalah Mahasiswa SEM. VII AHS UISU sekaligus Pendiri Komunitas Epistemologi.

Taliban dan Berpikir Sistemik*

Oleh : Dina Y. Sulaeman

taliban-flag1Taliban dengan darah dingin membantai 132 anak-anak sekolah di Pakistan. Menarik mengamati tanggapan publik atas kasus ini. Sebagian mengecam keras, mengapa Islam dan Allah dijadikan alasan untuk membunuh anak-anak. Sebagian lagi, terutama media-media takfiri (dan simpatisannya) yang selama ini memang dikenal sebagai pendukung Taliban (termasuk petinggi partai you-know-who yang pernah menulis puisi memuja Osama Bin Laden), tentu saja bungkam atau berupaya menjustifikasi (dan mengalihkan isu dengan memblow-up penyanderaan di Sidney yang dilakukan oleh penjahat buronan pemerintah Iran -dan diberi suaka oleh Australia.) Lalu bagaimana dengan ribuan warga Pakistan yang sejak 2004 dibantai bak tikus oleh drone (pesawat tanpa awak) AS? Lalu, bagaimana dengan tewasnya anak-anak muda di Paniai, Papua, baru-baru ini? Mengapa tidak banyak komentar dari bangsa ini? (Untuk pembantaian di Pakistan, presiden kita dengan sigap menulis komen di facebooknya).

Saya ingin mengajak Anda untuk berpikir sistemik: holistik, memandang konflik dalam sebuah peta besar; tidak fokus pada konflik tertentu saja. Taliban, ya, memang sadis dan sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin. Tapi, faktanya, mereka muslim dan mengaku (mengira) sedang memperjuangkan Islam. Dan, banyak simpatisan Taliban merasa sedang berjihad karena mengira yang sedang dilawan oleh Taliban adalah AS. Dan, memang faktanya, pemerintah AS adalah pelaku kejahatan kemanusiaan terbesar di dunia sepanjang sejarah (silahkan baca buku William Blum, orang AS, betapa pemerintah AS telah melakukan sangat-sangat banyak pembunuhan di muka bumi ini di balik kedok demokrasi. Judul bukunya “Demokrasi, Ekspor AS yang Paling Mematikan”).

Jadi, tidak bisa melepaskan fenomena Taliban dengan keberadaan AS. Sebagian (terutama yang tidak suka bila sebuah konflik dikaitkan dengan AS) akan buru-buru menyebut ini teori konspirasi. Tidak. Teori konspirasi adalah mengait-ngaitkan sejumlah fenomena satu sama lain dengan dilandasi khayalan (contoh: melihat simbol mirip Bintang Daud di sebuah masjid, langsung menuduh DKM-nya Zionis, padahal siapa tahu si desainer sekedar tulalit, tak paham simbol Bintang Daud). Tapi, jika kita mengungkapkan adanya konspirasi antara aktor-aktor politik, lengkap dengan bukti-bukti valid, itu bukan teori konspirasi.

brezenskiMisalnya, baca wawancara Counterpunch dengan Zbigniew Brzezinski, penasehat presiden Carter (dan presiden-presiden AS berikutnya, termasuk Obama) mengakui bahwa CIA mendanai Mujahidin Afghanistan. Versi Inggris ada di sini, versi kutipan-terjemahan saya copas dari sini:

Jurnalis:Mantan Direktur CIA, Robert Gates, menyatakan dalam memoarnya “From the Shadows”, bahwa CIA mulai memberikan bantuan kepada Mujahadin di Afghanistan 6 bulan sebelum Soviet menginvasi Afghanistan. Pada masa itu, Anda adalah penasehat keamanan Presiden Carter. Karena itu Anda memainkan peran dalam urusan itu. Benarkah demikian?

Brzezinski: Ya. Berdasarkan catatan resmi sejarah, bantuan CIA kepada Mujahidin dimulai pada 1980, setelah tentara Soviet menginvasi Afghanistan, 24 Desember 1979. Tetapi sebenarnya, secara rahasia, yang terjadi adalah sebaliknya. Sebenarnya pada 3 Juli 1979 Presiden Carter menandatangani perintah pertama pemberian bantuan rahasia kepada pihak oposisi pemerintah Kabul [pemerintah Kabul saat itu pro-Soviet]. Dan pada hari yang sama, saya menulis memo untuk presiden, yang di dalamnya saya jelaskan pemikiran saya, bahwa pemberian bantuan ini akan memicu intervensi militer Soviet.

Jurnalis:Meskipun ada resiko tersebut, Anda menjadi penasehat dari aksi rahasia ini. Mungkin Anda sendiri memang menginginkan masuknya Soviet ke perang ini dan ingin memprovokasinya?

Brzezinski:Tidak demikian. Kami tidak mendorong Rusian untuk intervensi, tetapi kami mengetahui ada kemungkinan demikian.

Jurnalis:Dan Anda juga tidak menyesal telah mendukung para jihadis, memberi senjata dan pembinaan kepada mereka yang kemudian menjadi teroris?

Brzezinski: Mana yang paling penting bagi sejarah dunia? Taliban atau runtuhnya Imperium Soviet? Segelintir Muslim yang ‘kacau’ atau liberalisasi Eropa Tengah dan berhentinya Perang Dingin?

Tahun 2011, saya menulis artikel ‘Pendidikan Jihad ala AS‘, di situ saya ceritakan bahwa Taliban justru dibentuk, didanai, dilatih oleh CIA, ISI (Dinas Rahasia Pakistan), dan Arab Saudi. Datanya valid, bersumber dari tulisan-tulisan orang AS sendiri. Ini foto tokoh-tokoh mujahidin diundang ke Gedung Putih, bertemu Reagan:

Kini, saya temukan bukti-bukti lainnya, yang mendukung artikel tsb. Saya copas dari sini:

Buku-buku pendidikan ‘jihad’ yang disebarkan di Afghanistan ternyata dibuat AS. Washington Post, 23 Maret 2002 menulis antara lain bahwa USAID menghabiskan 51 juta dollar untuk membiayai ‘program pendidikan di Afghanistan 1984-1994’ yang dilakukan oleh Universitas Nebraska. Buku-buku itu ditulis dalam bahasa utama Afghan, Dari dan Pashtun, dibuat pada tahun 1980-an dengan dana dari USAID yang dihibahkan kepada Pusat Studi Afghanistan di Universitas Nebraska.

Buku-buku yang penuh dengan gambar-gambar kekerasan dan ajaran Islam militan itu disuplai ke anak-anak sekolah di Afghan, sebagai bagian dari operasi rahasia untuk menumbuhkan perlawanan terhadap penjajahan Soviet.

Buku-buku utama, yang dipenuhi pembicaraan tentang jihad dan berisi gambar-gambar senjata, peluru, tentara, dan ranjau, telah dipakai dalam kurikulum sekolah di Afghanistan. Bahkan Taliban menggunakan buku produksi Amerika ini.

Gedung Putih membela konten ‘relijius’ itu dengan mengatakan bahwa prinsip-prinsip Islam mempengaruhi kebudayaan Afghan dan bahwa buku-buku itu “sepenuhnya sesuai dengan hukum dan kebijakan AS.” Ahli hukum mempertanyakan apakah buku-buku ini tidak melanggar konstitusi AS yang melarang penggunaan uang pajak untuk mempromosikan agama.

Pejabat USAID (United States Agency for International Development) pun berusaha membela diri dengan mengatakan bahwa mereka membiarkan konten ‘Islami’ itu karena mereka khawatir para guru di Afghan akan menolak buku itu bila tidak mengandung pemikiran muslim dalam ‘dosis yang kuat’. USAID menghapus logo lembaga tersebut dari buku-buku agama itu; kata Jubir USAID, Kathryn Stratos.

Contoh isi buku matematika produk AS:

-* Jika ada 10 atheis, 5 dibunuh oleh 1 Muslim, maka sisanya = 5
-* 5 pistol + 5 pistol = 10 pistol
-* 15 peluru– 10 peluru= 5 peluru.

sumber:

http://www.informationclearinghouse.info/article39942.htm#.VDu_8CZE1eY.facebook

http://newsrescue.com/genesis-of-islamic-radicalism-the-us-textbook-project-that-taught-afghan-children-terror/#axzz3EhfTfeDI

Ini penampakan salah satu buku yang dimaksud:

textbook-jihad

Kemudian, saya pernah menulis paper, mengemukakan konsep ‘politics of fear‘, apa tujuan dan keuntungan AS dalam membacking terorisme muslim; dan ada fakta ironis yang saya temukan: jumlah muslim yang tewas akibat terorisme atas nama Islam justru jauh lebih banyak dibanding non muslim. Silahkan baca atau unduh di sini.

Jangan lewatkan juga membaca ini, untuk mengetahui kekejian AS di Pakistan (sumber datanya hasil penelitian orang akademisi AS sendiri): Drone, Lebah Jantan Pembunuh Brutal

Nah, berpikir sistemik-nya itu dimana? Ya di sini: dengan melihat konflik secara utuh, bukan parsial. Intinya begini:

Pertama, terorisme digunakan untuk politik menakut-nakuti (politics of fear). Herman and O’Sullivan (1984) menulis, terorisme telah memberikan kesempatan bagi para pemimpin di Barat untuk menciptakan ketakutan dan irasionalitas di tengah masyarakat sehingga mereka memberikan kebebasan kepada para pemimpin itu untuk melakukan apa saja. Ketakutan terhadap terorisme efektif untuk memobilisasi massa agar mendukung aksi-aksi militer, dan ini memberikan keuntungan besar bagi industrialis perang. Selanjutnya, ketika suatu negara hancur lebur akibat perang, proyek-proyek rekonstruksi dan eksplorasi minyak pun akan mengisi pundi-pundi para kapitalis Barat itu.

Kalau teori ini diaplikasikan di Indonesia, agaknya cocok juga. Mengapa pemerintah seolah tenang saja melihat fenomena Al Qaida-ISIS sedemikian merajalela? Baiat-baiat ISIS dibiarkan, bahkan di kampus-kampus. Media-media takfiri pendukung ISIS dan sejenisnya, tidak ditindak. Setelah AS berkoar-koar akan memerangi ISIS di Suriah (dan ironisnya, yang dibom oleh AS di Suriah justru fasilitas-fasilitas yang merugikan pemerintah Suriah, bukan benar-benar memburu ISIS), baru pemerintah Indonesia terlihat bergerak, meski tidak terlalu kelihatan apa hasilnya. Buktinya, media-media pro perang atas nama Islam dan kelompok-kelompok Islam radikal masih bebas bersuara. Mana itu kesadaran NKRI yang sering disebut-sebut pejabat, militer, dan polisi? Analisis saya, keberadaan kelompok-kelompok Islam radikal memang sengaja dibiarkan agar ada musuh abadi, yang sewaktu-waktu bisa dimanfaatkan untuk pengalihan isu, militerisasi, dan sejenisnya.

Kedua, catatan untuk kaum muslimin sendiri. Tak bisa lagi dipungkiri, bahwa Taliban-Al Qaida-ISIS memang ada dan melakukan teror. Memang bila ditelusuri lagi, backing di belakang Al Qaida (bahkan, yang pertama kali membentuknya dan melatihnya) adalah CIA; kasus Libya dan Syria juga semakin membuka tabir siapa sebenarnya ‘sutradara’ di balik Al Qaida. Namun, siapa yang benar-benar terjun ke lapangan? Siapa yang angkat senjata atau melakukan berbagai aksi bom bunuh diri dan pengeboman jarak jauh? Tentu saja, jelas bukan bule-bule CIA, melainkan muslim yang merasa sedang berjihad. Artinya, kaum muslimin perlu mawas diri. Perhatikan lagi, berapa banyak yang tewas, dan siapa yang lebih banyak tewas gara-gara ada sekelompok muslim yang bergabung dengan Al Qaida (dan afiliasinya), atau menyebarluaskan narasi yang pro-Al Qaida, menshare berita-berita fitnah dan kebencian dari media-media takfiri.

Dengan berpikir sistemik begini, setiap orang, (termasuk para ibu rumah tangga muslimah yang sering saya dapati dengan ‘gagah berani’ dan merasa paling ngislam dengan menyebarluaskan kebencian, mengkafir-kafirkan orang lain, melalu media sosial), semoga bisa sadar, bahwa dunia ini sudah sedemikian mengglobal. Kebencian yang terucap di Indonesia -aneh tapi nyata- bisa menjadi bahan bakar peperangan di negara-negara lain. Bahan bakar dari Taliban, Al Qaeda, ISIS, dan sejenisnya itu adalah kebencian. Bagaimana mungkin mereka bisa membantai sesadis dan sebrutal itu bila tidak ada kebencian yang sedemikian menyala-nyala dalam hati mereka? (baca analisis mengapa sedemikian banyak simpatisan kelompok Islam pro-kekerasan di sini)

Para ‘pejuang’ ISIS, Taliban, dll itu dulunya adalah anak-anak, yang tumbuh besar menjadi pembantai. Bahkan di facebook dan grup WA pun, anak-anak Indonesia (terutama dari kalangan takfiri) dengan entengnya bicara soal pemenggalan kepala ala ISIS (baca: Anak-Anak yang Dibesarkan dalam Kebencian). Jadi, bila Anda benar-benar ingin mengalahkan imperium kapitalis global yang menindas kaum muslimin, berhentilah menyebarkan kebencian terhadap sesama manusia.

UPDATE: Ada yang bertanya, apa beda Taliban-Al Qaida-ISIS-Al Nusra dll? (perhatikan juga, ormas Islam mana di Indonesia yang menjadi simpatisan berbagai organisasi teror tsb)

Perbedaan hanyalah di struktur organisasi, tetapi mereka semua memiliki ideologi yang sama, yaitu Wahabisme (yang antara lain berpaham takfirisme-semua yang berbeda dianggap kafir dan layak dibunuh). Mereka saling dukung, namun juga saling berseteru. Taliban memfokuskan ‘perjuangan’-nya di wilayah Afghan-Pakistan, sementara Al Qaida di seluruh dunia. Taliban secara terbuka menyatakan mendukung agenda Al Qaeda (dan Al Qaeda yang kaya raya, menyuplai dana untuk Taliban). Kelompok-kelompok pemberontak Libya dan Suriah adalah ‘cabang’ Al Qaida. Di Suriah, mereka berseteru, satu pihak (Al Nusra) berbaiat pada Ayman Al Zawahiri, pihak lain (ISIS) berbaiat pada Al Baghaday. Meski sama-sama mengaku mujahidin, mereka saling bantai secara brutal di Suriah (dan juga membantai pihak lain, Sunni, Syiah, Kristen, Kurdi, Druze). Jadi, jangan dibingungkan oleh nama, lihat saja ideologi dan cara kerjanya. Di Indonesia, sebagian besar simpatisan jihad ala Taliban dkk masih berusaha menampilkan diri sebagai kelompok modernis dan mengaku anti kekerasan, tapi sikap mereka terhadap konflik Suriah memunculkan watak asli mereka.

*Sumber : www. https://dinasulaeman.wordpress.com