KECUPAN TERAKHIR


Oleh : Candiki Repantu

Screenshot_2018-04-05-20-38-31-019_com.android.chrome

Angin gurun Karbala mendesir, menghasilkan simfoni duka nestapa di hati keluarga Nabi yang mulia. Al-Husain yang kini berada di puncak penderitaannya memanggil para wanita anggota keluarganya yang setia mengiringinya.

Kemari lah wahai Zainab, Ummu Kulsum, Sukainah, Atikah, Ruqayyah, Shafiyatu, dan isteri-isteriku tercinta. Salam dariku sebagai abang, ayah, paman, dan suami bagi kamu sekalian. Inilah pertemuan terakhir kita. Inilah detik-detik kebersamaan kita. Puncak tangisan dan derita akan segera tiba. Bersiaplah untuk memasukinya.

Al-Husain as berpamitan dengan mereka sembari menyeka air mata yang merembes di pipinya.

Ketika Al-Husain as ingin menaiki kudanya, seketika Sukainah menjerit dan meronta-ronta dalam tangis panjang duka nestapa. Al-Husain kembali menghampirinya, memeluknya dengan lembut, mengecup mata putrinya dengan penuh kasih sayangnya. Sukainah bertanya, “Mau kemana wahai ayah? Apakah engkau akan kembali kemari? Siapa yang akan menjaga kami jika engkau pergi?” Tangis keluarga Nabi semakin menjadi-jadi.

Al-Husain as hanya menjawab dengan syairnya :

Seruling duka akan ditiup
Semerbak wewangian surga akan kuhirup
Genderang perang segera ditabuh
Perahu cinta akan segera berlabuh
Pesta kepala putra Ahmad dimulai
Sebab dengan syahadah surga kan dicapai

Jalan terjal dan jauh di depanmu
Jangan sesali diri atau membisu
Jangan menangis sebelum aku mati
Andai aku mati, engkau selalu di hati

Sukainah menatap ayahnya dengan mata syahdunya, ia meminta ayahnya mengusap kepalanya. Al-Husain berkata, “Engkau bukan anak yatim yang harus diusap kepalanya!”. “Tapi ayah, aku yakin engkau tak akan kembali lagi untuk mengusap kepala ini, karena itu aku minta diusap kepalaku saat engkau ingin pergi sebagaimana engkau mengusap kepala putra pamanku Muslim ketika mendengar kesyahidannya”, jawab Sukainah dengan suara paraunya. Al-Husain tak mampu menahan tangisnya, ia usap kepala Puteri kecilnya dengan lembut sepenuh jiwa.

Kini Al-Husain bersiap siaga menuju Medan laga. Mendadak panggilan Zainab menghentikan langkahnya, “Wahai kakakku, ada pesan yang ingin kusampaikan padamu, ini pesan dari ibu kita Fatimah, yang dititipkan kepadaku sebelum wafatnya”.

Mendengar nama Fatimah as ibunya disebut, air mata Al-Husain as kian mengucur deras, terbayang setiap penderitaan demi penderitaan yang dilalui ibunya, terutama setelah ditinggal wafat kakeknya tercinta. Al-Husain as mendekati Zainab as, “Apa pesan ibu kita, wahai adikku Zainab? Katakan segera agar aku dapat menunaikannya”.

Zainab tak segera menjawab, ia pandangi wajah abangnya dengan tatapan nanar penuh makna, kemudian berkata, “Aku ingin engkau membuka leher dan dadamu”, kata Sayidah Zainab as. “Sebab, suatu hari ibu kita Fatimah, memanggilku lalu menceritakan penderitaan dan syahidmu di Karabala. Kemudian ibu kita Fatimah menitipkan kepadaku ciuman untuk di leher dan dadamu, yang akan dipotong pedang dan ditancap tombak. Ibu kita berkata, ‘Wahai Zainab putriku, nanti kelak ketika engkau bersama abangmu Husain di Padang Karbala, sebelum ia pergi menjemput kematiannya, aku ingin engkau menyampaikan ciuman dariku di leher dan dadanya”, lanjut Zainab.

Al-Husain as dan semua keluarga Nabi yang mulia tak mampu lagi membendung air mata mereka. Suara tangisan bergemuruh menggema di sahara Nainawa, di antara gelak tawa dan tatapan para durjana yang ingin menerkam mangsa.

Dengan perlahan Al-Husain as membuka baju di bagian leher dan dadanya, mempersilahkan Zainab menyampaikan kecupan sayang dari ibunya, dan Zainab pun mengecup leher dan dada Husain seperti ibunya mengecupnya dengan penuh cinta berbalut kesedihan jiwa. Inilah kecupan terakhir Bunda Zahra as yang disampaikan dengan sempurna oleh putri penanggung duka Asyura, Srikandi Nainawa, Dewi Padang Karbala, dialah Zainab al-Kubra.

Inilah Zainab, yang namanya disusun dari dua kata “Zain” yang berarti hiasan indah, dan “Ab” yang berarti ayah. Inilah zainab yang menjadi hiasan keindahan bagi ayahnya.

Inilah Zainab, yang lahirnya ditangisi karena Rasul saw teringat akan duka nestapa yang ditanggungnya.

Inilah Zainab yang menyaksikan dan menghantarkan semua jenazah ahlul kisa’ ke peraduan mereka dari Rasulullah Saw di Madinah hingga Husain as di Karbala.

Inilah Zainab yang dipanggil Aqilah Bani hasyim yang disebut Imam Sajjad sebagai ‘Alimah ghairu muallimah, pemilik akal Bani Hasyim, seorang yang berilmu tanpa diajari.

Inilah Zainab, yang lisannya membungkam si terlaknat Ibnu Ziyad, ketika menghina kesyahidan Al-Husain dengan mengatakan “Aku tidak melihat apapun kecuali keindahan.”

Namun, Inilah Zainab yang dengan sepenuh iman, ketika melihat tubuh Al-Husain tercabik-cabik di tempat pembantaian, dengan rendah hati ia berkata kepada Tuhan,
Allahumma taqabbal minna hadza al-qurban,” Ya Allah! Terimalah dari kami pengorbanan ini.

Inilah Zainab, pembawa kecupan terakhir Bunda Zahra, dan penyambung lidah Karbala hingga sampai kepada kita semua dengan darah dan air mata.

Salam atasmu wahai putri Rasulullah
Salam atasmu wahai putri Fatimah dan Khadijah
Salam atasmu wahai putri Amirul mukminin
Salam atasmu wahai saudari Hasan dan Husain
Salam atasmu wahai putri wali Allah
Salam atasmu wahai saudari wali Allah
Salam atasmu wahai bibi kekasih-kekasih Allah
Assalamu alaiki warahmatullahi wa barakatuh. (CR14)

15 Rajab, Mengenang wafatnya Sayidah Zainab as.

🙏🌷

Iklan

2 Tanggapan

  1. Sama2. Semoga berkah untuk semua

  2. artikel yang bermanfaat, terima kasih..

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: