SETAN DARI NAJD : SANG PERANCANG PEMBUNUHAN NABI SAAW

 

Pada hari Kamis tanggal 26 shafar tahun 14 dari kenabian (12 september 622 M), atau sekitar dua setengah bulan setelah peristiwa Baiat Aqabah Kubro, maka diadakan pertemuan anggota parlemen Mekah di Darun Nadwah, yang dimulai sejak pagi hari. Ini merupakan pertemuan yang paling penting dalam sejarah mereka, yang dihadiri para wakil dari setiap kabilah Quraisy. Mereka mengkaji langkah yang paling jitu untuk menghabisi pembawa bendera Islam secara cepat dan memotong pancaran sinarnya dari permukaan bumi.

Yang hadir dalam pertemuan di darun Nadwah ini adalah tokoh utama Quraisy yaitu :

  1. Abu Jahal bin Hisyam, dari kabilah Bani Makhzum
  2. Jubair bin Muth’im, Thu’aimah bin Ady, dan al-Harits bin Amir. Mereka dari Bani Naufal bin Abdi Manaf
  3. Syaibah bin Rabi’ah, Utbah bin Rabi’ah, dan Abu Sufyan bin Harb dari Bani Abdi Syams bin Abdi Manaf.
  4. An-Nadhr bin al-Harits dari Bani Abdid Dar, yaitu org yang pernah melemparkan isi perut hewan yang sudah disembelih kepada beliau.
  5. Abul Bakhtary bin Hisyam, Zam’ah bin al-Aswad, dan Hakim bin Hizam dari bani Asad bin Abdul Uzza.
  6. Nubih bin al-Hajjaj dan Munabbih bin al-Hajjaj dari bani Sahm.
  7. Umayyah bin Khalaf dari Bani Jumah.

Tatkala mereka datang ke Darun Nadwah pada waktu yang telah ditetapkan, tiba-tiba muncul seorang syaikh mengenakan pakaian yang tebal, berdiri di ambang pintu.

“Siapa syaikh ini?” Mereka bertanya. Maka ada yang menjawab, “Dia Syaikh dari Najd yang mendengar apa yang hendak kalian rembug tentang Muhammad. Dia sengaja datang ke sini untuk mendengar pendapat kalian. Siapa tahu di bisa memberikan pendapat dan nasehat bagi kalian.” “Baiklah. Kalau begiut masuklah!” Kata mereka. Maka orang tua itu pun ikut masuk…(Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa syaikh tersebut adalah setan yang menjelma)

Dalam pertemuan itu berkembanglah berbagai usulan dan pendapat yang cukup menghasilkan perdebatan hangat. Hanya saja setiap pendapat yang diajukan selalu dibantah oleh Syaikh dari Najd tersebut dengan alasan tidak akan berhasil.

Abul Aswab berkata, “Kita usir dan enyahkan dia dari tengah kita.” Syaikh Dari Najd berkata menanggapi, “Aku tidak setuju dengan pendapat kalian ini. Apakah kalian tidak athu kata-katanya bagus dan manis serta kepintarannya menguasai hati siapa pun yang datang kepadanya? Demi Allah, andaikata kalian bertindak seperti itu, maka kalian tidak akan mampu menjamin seorang Arab pun yang bisa melepaskan diri darinya, lalu dia akan menyerbu kalian bersama mereka dan menginjak-injak kalian di tempat ini pula. Setelah itu dia bisa berbuat semaunya terhadap kalian. Pikirkan pendapat yang lain untuk menghadapi dirinya.”

Abul bakhtary menyampaikan usulan, “Masukkan saja dia ke dalam penjara besi, tutup pintunya rapat-rapat, kemudian biarkan dia seperti nasib yang dialami penyair sebelumnya (Zuhair dan An-Nabighah) hingga meninggal dunia.

Syaikh dari Najd itu menanggapi, “Demi Allah, aku tidak setuju dengan pendapat kalian ini. Demi allah, jika kalian menahannya seperti itu, maka keadaanya akan segera didengar rekan-rekanya, lalu secepat itu pula mereka akan mendatangi kalian, melepaskannya dari cengkeraman kalian dan menghimpun sekian banyak orang. Boleh jadi mereka bisa mengalahkan kalian. Ku tidak setuju deengan pendapat ini. Pikirkanlah pendapat yang lain lagi.”

Setelah dua usulan ini di tolak, maka Abu Jahal bin Hisyam menyampaikan pendapatnya, “Menurutku, kita tunjuk salah seorang yang gagah perkasa, berdasarkan bangsawan dan biasa menjadi penengah dari setiap kabilah. Masing-masing pemuda kita beri pedang yang tajam, lalu mereka harus mengepungnya, kemudian menebas Muhammad dengan sekali tebasan, layaknya tebasan satu orang hingga ia meninggal. Dengan begitu kita bisa merasa tenang dari gangguannya. Jika mereka berbuat seperti itu, maka darahnya bercecer di semua kabilah, sehingga Bani Abdi manaf tidak akan sanggup memerangi semua kaumnya, dan dengan lapang dada mereka akan menerima keadaan ini dan kita pun menerimanya.

Maka Syaikh dari Najd itu pun berkata menanggapi, “Aku setuju dengan pendapat ini dan tidak kulihat pendapat yang lain.” Maka mereka semua menyetujui pendapat Abu Jahal tersebut dan bersiap untuk melaksanakannya malam itu juga.

Maka dipilihlah sebelas orang utk melakukan rencana tersebut, yaitu :

  1. Abu Jahal bin Hisyam
  2. Al-Hakam bin Abul Ash
  3. Uqbah bin Abu Mu’ith
  4. An-Nadhr bin al-Harits
  5. Zam’ah bin al-Aswad
  6. Thu’aimah bin Ady
  7. Abu Lahab
  8. Umayyah bin Khalaf
  9. Ubay bin Khalaf
  10. Nubih bin al-Hajjaj dan
  11. Munabbih bin al-Hajjaj

Maka dikepunglah rumah Rasulullah saaw dari segala penjuru. Rasulullah saaw yang telah mengetahui rencana jahat tersebut dari Jibril as, memanggil Imam Ali as untuk menempati tempat tidurnya dan memakai selimutnya. Kemudian Rasululah saaw keluar rumahnya tanpa diketahui oleh orang-orang kafir Quraisy karena Allah swt menutup pandangan mereka, “Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula).dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” (Yasin : 9)

Begitulah maka Rasululah saaw pun dengan pertolongan Allah swt keluar dengan selamat dan kaum kafir Quraisy terkejut saat menerobos masuk ke rumah Nabi saaw, dan menemukan Imam Ali as tidur di ranjang beliau. Mereka gagal menjalankan misi yang telah direncanakan dengan bantuan setan yang menyamar menjadi seorang Syaikh dari Najd, sebab Allah berkehendak lain, “Dan (ingatlah) katika orang-orang kafir memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka memikirkan strategi, dan Allah adalah sebaik-baik pembuat strategi.” (al-Anfal : 30).

Wallahu a’lam

AGAMA DAN TERAPI KEJIWAAN

Oleh : Sudi Utama Tumangger

Ciri-ciri penyakit jiwa yang telah menghantui masyarakat modern adalah penyakit yang dideritanya adalah bukanlah penyakit sejati, secara tradisional disebut penyakit mental, dan sekarang orang menyebutnya psikosomatis. Ia bukanlah penyakit dalam pengertian bahwa penderita harus menganggap dirinya mengidap sakit, akan tetapi penyakit yang dialami sipenderita adalah sebagai akibat tekanan dari alam sekitar mereka atau bisa juga ‘sesama manusia saling bermusuhan hanya karena persoalan yang tidak begitu penting dalam kaca mata agama, yakni kebutuhan akan materi dan kebutuhan-kebutuhan yang lain untuk sementara waktu.

Konskuensi dari cara pandang masyarakat yang materialistik ini  sangat erat kaitannya dengan perkembangan pengamalan ajaran agama sebagai pembimbing keselamatan hidup. Peraturan agama bukan dianggap hal sakral dan penting untuk menyelami makna batinnya sehingga mampu membimbing manusia dalam menempuh perjalanan hidupnya, jangan sampai ajaran agama hanya sebatas kulit luar belaka selebihnya tidak ada, agama hanya dikenal  pada hari-hari perayaan besar belaka, sementara dalam kehidupan kesehariannya tetap saja melanggar ajaran mulia yang terdapat agama.

Jika penyakit ini telah menghinggapi masyarakat modern, maka tugas para ahli agamalah untuk menyadarkan masyarakat kembali agar pandangan yang dulunya materialistik berubah kepada cara pandangan ilahiah atau ketuhanan. Disaat para dokter kesehatan tubuh tidak mampu maka saat itu para dokter spritual yang tercerahkan turun tangan ambil bagian untuk menyelamatkan masyarakat yang sedang sekarat ini.

Sekedar untuk mengingatkan bahwa masyarakat kita mulai berperilaku yang tidak diinginkan agama mulia kita. Sebahagian perilaku masyarakat sekarang tidak lebih baik sebagaimana manusia primitif berperilaku. Sigmund Freud mengingatkan kita “Manusia primitif memenuhi kebutuhan hasratnya lebih baik daripada manusia yang telah berperadaban” hidup mereka bebas dari penyakit kecemasan yang tidak realistik, mereka tidak menderita penyakit kejiwaan sebagaimana yang telah banyak memakan korban. Akan tetapi sejak munculnya dunia peradaban yang di agung-agungkan oleh para pendukungnya, kehidupan manusia yang dulunya sederhana tapi bersahaja berubah menjadi kehidupan yang canggih akan tetapi penuh dengan persoalan mutakhir. Menurut para ahli bahwa tidak semua persoalan manusia modern kali ini mampu dipecahkan menurut cara pandang ilmu yang empirik, para ahli itu rupanya telah sadar yang selama ini sedikit mengabaikan agama atau malah menjauhkan agama dari perkembangan ilmu pengetahuan.

Salah satu faktor terpenting yang menyebabkan manusia di zaman medern ini mengalami gangguan kejiwaan adalah rasa kecemasan dan keinginan yang telah mendominasi akal pikirannya untuk mengumpulkan materi dan menaklukkannya alam sebisa mungkin, falsafahnya‘ cara pandangnya’ seperti ini ‘hidup harus mengikuti keinginan nafsu sepuas-puasnya, bukan hidup sesuai dengan kebutuhan, sebab jika kita hidup berdasarkan atas kebutuhan maka kemungkinan besar akan berakhir pada kecukupan dan kesederhanaan, sebab dalam pandangan para arif semakin mencintai alam materi maka semakin jauh pula diri kita dari alam immaterial yang lebih mulia dari segala-galanya.

Ketahuilah, sesungguhnya cinta dunia adalah  pokok segala kesalahan (Imam Ali kw). Buah dari kecintaan kepada dunia yang berlebih akan berakibat pelanggaran terhadap sendi-sendi agama, bukan hanya itu saja, kecintaan terhadap dunia telah banyak menguasai manusia dan menderitanya lagi mampu membutakan dan menjadikan  tuli pendengaran manusia dari mendengar pesan-pesan mulia keselamatan bagi dirinya.

Pahamilah. Bahwa penyakit kejiwaan atau psikosomatis bukanlah diakibatkan oleh bakteri semacam virus atau pertumbuhan jaringan tubuh yang tidak sempurna, melainkan sesuatu yang diakibatkan  oleh kondisi kehidupan sehari-hari. Jika masyarakat kita tidak mampu mendapatkan kebahagiaan ples ketenteraman persi para monitor yang memberikan impian menggiurkan lewat corongnya yakni media massa televisi dan lainnya, maka semakin tertekanlah batin dan semakin buruk pula pandangan mereka terhadap ajaran agama, sebab bisa jadi mereka berpaling dari Tuhan, karena Tuhan persi mereka  tidak mampu melakukan dan memenuhi kebutuhan bagi kehidupan masyarakat modern.

Masyarakat modern perlu terapi khusus dari para arif yang mulia sebab mereka satu-satunya yang mampu membimbing masyarakat agar tidak membenci agama atau lari dari agama dan membuat ajaran baru yang lebih berbahaya lagi. Para pencinta keabadian selalu mengirimpan pesannya ”Biasakan dirimu untuk berpikir dan merenung, sebab hal itu akan mampu menyelamatkanmu dari kesesatan  dan memperbaiki sifat dan perilakumu kebnatangannmu, kembangkan potensi malaikatmu agar engkau sampai pada keabadian.

Agama yang mulia ini selalu mengingatkan kita akan kedudukan manusia yang lebih mulia disi Allah swt dari alam meteri ini. Alasan rasionalnya adalah bahwa di dalam setiap diri manusia ada sesuatu yang tersimpan dan jika sesuatu itu dapat dihidupkan dan dibangkitkan dengan cara latihan keagamaan, maka terangkatlah dirimu yang semula segumpal daging belaka menjadi lebih berharga dari seluruh ini alam ini. Bukankah kita telah tahu bahwa Allah swt telah menciptakan manusia yang paling mendekati diri-Nya, di dalam diri manusia ada tempat bagi Allah jika tempat itu tidak tercemari oleh materi-materi yang kerap menyelimuti pandangan kita kepada cahaya kebenaran.

Kecintaan kita kepada alam materi dan seisinya yang lebih rendah posisinya dari diri kita membuat kita menjadi orang yang kikir bahkan menbuat diri kita lupa akan kematian yang setiap pergesesan waktu telah mendekati kepada kita. Abu Turab telah berpesan kepada manusia “Wahai makluk Allah! Aku sarankan kalian untuk menjaga jarak dengan dunia yang segera akan meninggalkan kalian semuanya sekalipun kalian tidak mau meninggalkannya. Maka dari itu, jangan bernafsu mendapatkan kehormatan duniawi dan kebanggaannya, dan jangan merasa senang dengan keindahan dan kekayaannya, juga jangan meratapi berbagai kejadian yang tidak menyenangkan di dunia ini, karena kemulian dan kekayaan di dunia ini cepat atau lambat akan binasa. Di dunia ini setiap waktu ada akhirnya, dan setiap kehidupan di dalamnya akan ada matinya, dan anda juga akan mati, mari menyimpan kebajikan di bank-Nya Allah dengan cara melaksanakan kebajikan dan perintah-perintah lainnya.

Waspadalah! Saat-saat kita berbuat dosa kepada Allah dan kepada sesama kita. Pandanglah isi dunia ini sebagaimana pandangan orang zuhud, dan palingkan wajah kita dari keindahannya, sebab umur dunia ini pada hakikatnya telah tua renta yang sebentar lagi sampai azalnya. Dunia akan segera mematikan semua isinya dan menggantikannya dengan isi yang lain lagi. Semoga Allah swt mencurahkan rahmat-Nya  kepada kita dan kepada orang-orang yang selalu merenung tentang eksistensi ‘wujud’ dirinya dan alam semesta. Kita seharusnya mengingat dan jangan sampai melupakannya yakni kelak akan ada suatu masa ketika hanya seorang beriman yang dapat hidup bahagia sebagaimana kehidupan yang ada di dunia ini. Semoga saja kita yang mulai tercerahkan ini tidak terdaftar sebagai manusia yang sakit jiwa hanya karena mengumpulkan dan menguasai dunia padahal kita tidak mampu menguasainya, sebab kita tahu sebagaimana kata para para pendahulu ‘semakin kencang lari anda untuk berlari mengumpulkan materi, maka semakin kencang pula larinya, hanya ada satu cara yang harus dipirkan yakni biarkan dunia mengejar kita, sementara kita sedang berkontemplasi ‘merenung’ dan mendapatkan cucuran dari hidayah yang Mahasempurna yakni Allah swt. Amin

JALAN KESELAMATAN

Oleh : Sudi Utama Tumangger

Ketaatan kepada Allah swt akan melahirkan implikasi positif bagi perkembangan peribadi manusia dan selanjutnya akan melahirkan keinginan yang kuat untuk tidak melakukan apa yang terlarang menurut kesimpulan akal dan terlarang pula dalam kacamata agama atau syarak. Sedangkan kebalikannya adalah gagalnya manusia untuk menghargai perintah agama atau diidentikkan dengan penginkaran atau penolakan padahal ia tahu bahwa apa yang diingkari itu merupakan fakta keberaran yang tidak terbantahkan. Perilaku tercela ini dalam agama diistilahkan dengan kecaman ‘pengkafiran’ terhadap ajaran Allah swt dan biasanya orang seperti ini meletakkan akal sehatnya dibelakang punggungnya. Ciri-ciri pengkafiran atau ‘penghingkaran’ lain misalnya telah diketahui menghalalkan segala cara demi mempertahankan ‘mengumpulkan’ materi sebanyak mungkin, membangun istananya di dunia, ciri lain adalah pengamalan agama sebatas simbol belaka dan jiwanya tidak menyakini akan kebenaran yang tersimpan di dalamnya. Contoh “kekafiran” yang lain adalah pemeliharaan jiwanya diserahkan sepenuhnya kepada logika hawa nafsunya yang kontras dengan logika akal. Akhirnya jika perilaku buruk dan menyesatkan kehidupan manusia ini telah bersemi maka seluruh aktifitasnya biasanya menunjukkan kecintaan yang luar biasa kepada keindahan isi dunia hingga kematian pun menghampirinya. Sekedar menginatkan pesan Imam Ali bin Abi Thalib kw, bahwa akar segala kejahatan adalah cinta kepada dunia. Ambillah isi dunia secukupnya dan selebihnya titipkan kepada Allah swt agar terpelihara dengan baik.

Ingatlah pesan dari wali Allah yang telah tercerahkan, ‘sesungguhnya takut (takwa) kepada Allah swt dalah kunci untuk mendapatkan hidayah, bekal untuk akhirat, kemerdekaan dari setiap bentuk perbudakan, dan keselamatan dari segala kehancuran. Dengan bantuan pertolonga takwa, si pencari kebenaran akan meraih kemenangan, sementara orang yang bersegera menuju keselamatan maka ia akan selamat dan mendapatkan apa yang telah diinginkan-Nya. (Imam Ali as)

Kedekatan dengan Allah swt dimaknai bukan hanya dekat secara fisik sebab Allah swt tidak memiliki fisik sebagaimana dengan mahkluk ciptaan-Nya. Yang dimaksud dengan dekat disini menurut para ahli adalah kedekatan posisi penghambaan dan penyerahan diri secara utuh dan keikhlasan dalam beramal semata-mata dilakukan hanya demi keridhaan Allah swt. Jadi beribadah disini bukan mengharapkan sanjungan atau penilaian dari manusia bahwa dirinya adalah termasuk orang yang soleh melainkan penilaian yang lebih berharga dan lebih tinggi yakni kesempurnaan penghambaan sebagaimana yang diinginkan Allah swt.

Untuk mendekatkan diri kepada Allah swt bukan persoalah mudah. Kita butuh kepada pengorbanan, butuh akan tenaga, melatih keihklasan dalam beramal dan yang paling penting dari semua itu adalah perlunya ilmu dan kesabaran. Berkorban saja tanpa perhitungan menjadi sia-sia. Memiliki tenaga tapi tidak tahu mau kemana dialokasikan tidak ada gunanya. Ikhlas tapi tidak memiliki ilmu adalah mustahil untuk mampu sampai kepada hamba yang ma’rifatnya ‘pengenalan’ kepada Allah swt mendekati kesempurnaan.

Untuk langkah awal bila ingin mencapai ma’rifat ‘mengenal’ yang sesungguhnya maka tidak ada jalan lain kecuali melaksanakan seluruh perintah Allah swt secara syariat dan diikuti dengan berbagai lahitan pembersihan diri dari perilaku-perilaku tercela.

Allah swt berfirman dalam hadis Qudsi “Tidak ada cara lain yang akan dilakukan oleh hambaku yang ingin bertakararub (mendekat) kepada-Ku yang lebih Aku sukai dibandingkan dengan melakukan amalan-amalan sunnah, sehingga Aku menyanyanginya. Jika Aku mencintainnya maka Aku akan menjadi telinga yang dengannya ia mendengar, menjadi mata yang dengannya ia melihat , menjadi mulut yang denganya ia berbicara, menjadi tangan yang dengannya ia memegang. Jika ia berdoa kepada-Ku, Aku niscaya akan mengabulkannya.

Penjelasan singkat dari hadis ini adalah sebagai berikut. Apabila kita secara pelan-pelan meneladani dan mengikuti pesan-pesan yang terkandung pada sunnah yang contoh hidupnya adalah perilaku keseharian Rasulullah swt dan orang-orang yang suci lagi setia mengikuti ajarannya. Ketakwaan kepada Allah swt akan membimbing pendengaran si hamba untuk tidak mendengar sesuatu yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Pendengaran orang yang telah mencapai tarap kesempurnaan kedekataannya kepada Allah swt tidak sama dengan sebagaimana pendengaran orang awam atau dengan pendengar orang-orang yang biasa melakukan maksiat kepada Allah. Ketakwaan kepada Allah swt akan membimbing seorang hamba untuk mampu melihat keajaiban dan kesempurnanan penciptaan Allah baik di dalam dirinya maupun dialam yang luas. Kemampuan melihat dengan menggunakan penglihatan Allah bukan dimaknai sebagaimana kita atau makhluk melihat, yang dimaksud melihat dengan penglihatan Allah adalah penglihatan mata batin yang telah bersrih dari kekurangan dan kekaburan dalam memandang kempurnaan Allah sebagai pencipta diri dan kebaikan atas ciptaan-Nya. Ketakwaan kepada Allah akan mampu merayu Allah yang Mahapemurah untuk mengabulkan apa yang diharapkan si hamba, tentunya ada beberapa hal yang perlu dipahami mengenai terkabulkannya doa-doa sipeminta. Syarat pertama permintaan hamba tidak akan dikabulkan jika yang dimohon dapat membuat dirinya menjadi jauh atau lalai kepada Allah. Allah akan menangguhkan semua permohonan sihamba sebab ada doa yang menurut pandangan akal kita seharusnya dikabulkan sementara dalam pandangan Allah harus ditunda akan tetapi bukan untuk tidak dikabulkan. Semua permohoan hamba-hamba-Nya akan dikabulkan Allah swt selama tidak bertentangan dengan syarak, sebab Allah sendiri telah menjaminya dengan firman-Nya ‘mintalah kepada-Ku pasti akan kukabulkan.’

Tanpa ketakwaan tidak ada kebahagian yang abadi. Kebahagiaan karena menguasai alam semesta memang mempesona, namun sisi dalamnya dapat membawa kehancuran. Kebahagian di dunia saja tidaklah cukup, sebab bahagia sementara waktu tidak akan mampu mengungguli kebahagiaan yang abadi. Takutlah kita kepada Allah swt yang implementasinya melakukan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari dan mencegah semua kemungkaran dan kejelekan.

Sibukkan diri kita untuk mengumpulkan kebaikan dan cegah serta kuasailah diri Anda agar terbebas dari perangkat dan rayuan dunia yang menjauhkan diri dari Allah swt. Mari kita menyucikan hati, menyiapkan bekal untuk hari yang tidak ada lagi waktu mencari bekal. Semoga pesan sprital dari Imam Ali bin Abi Thalib ini menyadarkan diri kita semua, “Wahai makluk Allah! Takutlah kepada Allah. Camkan selalu alasan kenapa Dia menciptakan kalian, dan takutlah kepadan-Nya dengan mengikuti pentunjuk-Nya yang telah diberikan kepada kalian. Siapkan diri kalian sedemikian rupa sehingga layak mendapatkan apa yang telah dijanjikan-Nya kepada kalian, dengan menyakini kebenaran-Nya dan atas janji-janji-Nya dan dengan rasa takut akan hari putusan-Nya. Tidak ada bekal yang paling penting selain bekal ketakwaan ‘takut’ kepada-Nya, dan tidak ada kesengsaraan yang paling abadi dan mengerikan kecuali kesengsaraan akibat tidak mendapatkan hidayah dari Allah swt, semoga kebahagiaan menyertai kita semua sampai Allah memanggil kita dalam keadaan tetap takut kepada-Nya. Amin

MENGUKUHKAN PENDIDIKAN AKHLAK

Oleh : Sri Fitria Ningsih

Akhlak (moral), dikatakan oleh Sayid Mujtaba Lari merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi perkembangan masyarakat, apakah akan menuju kemajuan atau malah tersungkur kepada lembah kehancuran.[1] Untuk itu, sebuah kenyataan penting jika empat belas abad yang lalu, seorang manusia sempurna di utus dengan tujuan inti untuk menyempurnakan akhlak manusia, “sesungguhnya aku di utus untuk meneyempurnakan akhlak manusia”, begitu sabda agung kenabian Muhammad saww.

Sabda di atas mengindikasikan bahwa pembentukan akhlak merupakan dimensi puncak terpenting dari kesempurnaan manusia. Secara umum hal ini dapat kita benarkan. Sebab, lazimnya kita menilai manusia dari akhlaknya hingga ukuran-ukuran fisikal terpental jauh dari penilaian. Misalnya, jika ada orang yang tampan atau cantik, tetapi berperangai buruk, maka secara otomatis kita akan mencibirkannya. Begitu juga dengan orang yang berilmu pengetahuan, cerdas dan pintar, akan tetapi berakhlak rendah, kurang ajar dan tidak tahu sopan santun, maka kita akan cenderung membenci dan menghinanya. Namun sebaliknya, ada orang yang biasa-biasa saja dari fisiknya, tidak terlalu cerdas otaknya, tetapi berkhlak mulia, maka kita akan senang bergaul dan berinteraksi dengannya. Jadi, sederhananya dapat disimpulkan nilai kemanusiaan terletak pada akhlaknya.

Karena itu, bagi penulis konsepsi pendidikan akhlak merupakan kunci sukses tarbiyah islamiyah (pendidikan Islam). Sebab, dimensi akidah, dimensi ibadah (syariah), dan dimensi akhlak adalah trikonsepsi struktur ajaran Islam. Akan tetapi akhlak menempati posisi inti sebagai puncak dari pembuktian akidah dan pelaksanaan ibadah. Insan kamil (manusia paripurna) yang merupakan orientasi tertinggi kemanusiaan dicirikan secara khas dengan karakter akhlak al-karimah (akhlak mulia).

Merujuk pada sejarah pemikiran, maka persoalan akhlak telah menjadi salah satu pembahasan serius para pemikir dunia, baik di Timur maupun di Barat, pra Islam maupun pasca Islam. Yunani, yang merupakan salah satu ikon peradaban dunia telah meninggalkan jejak-jejak pemikiran para ilmuannya mengenai akhlak seperti yang dapat kita temui pada ungkapan-ungkapan Socrates, Plato maupun Aristoteles. Socrates dan Plato menuangkan pemikirannya dalam kitab Republic-nya sedangkan Aristoteles secara konfrehensif membahas dalam buku Nichomachian Ethic yang sangat terkenal itu.

Dalam sejarah Islam Klasik kita mengenal sederet filosof besar yang mengukir sejarah seperti al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Miskawaih, al-Ghazali hingga Mulla Sadra. Di abad kontemporer ini kita mengenal Allamah Thabathabai, Murtadha Muthahhari, Imam Khumaini, dan juga Sayid Mujtaba Musawi Lari. Sederetan tokoh mutakhir ini, dikatakan sebagai pelanjut tradisi ilmiah filsafat Islam, yang banyak menulis buku dan telah diterjemahkan dan disebarkan dalam berbagai bahasa seperti Persia, Arab, Inggris, Perancis, Urdu, Jerman, dan tentunya juga Indonesia.

Dengan antusiasme yang tinggi, para pemikir Islam menelaah sejarah perkembangan masyarakat dalam dinamika maju dan mundurnya. Beragam studi dilakukan, bahkan tak jarang hingga membandingkan antara peradaban Barat dan Islam. Diantara objek kajian yang dengan serius digeluti adalah persoalan pertumbuhan dan perkembangan akhlak serta spiritual manusia dengan ragam dialektisnya dalam kehidupan sosial, budaya, politik, ataupun pergumulan ekonomi kemasyarakatan. Kesungguhan dan ketekunan para ulama pewaris nabi yang luar biasa dalam mengembangkan pokok-pokok pikiran demi merekonstruksi konsepsi pendidikan akhlak dari abad ke abad, telah menorehkan tinta emas dalam tradisi pengetahuan teoritis dan pengamalan praktis dalam kontruksi peradaban Islam yang gemilang.

MAKNA AKHLAK

Secara etimologis, akhlak berasal dari bahasa Arab yaitu al-khuluq yang berarti al-sajiyyah (karakter), ath-tabhi (tabiat atau watak), al-adah (tradisi atau kebiasaan), al-din (agama), al-muruah (harga diri). Sedangkan menurut pandangan para ulama Islam, meskipun beragam dalam menyusun defenisinya namun setidaknya ada defenisi umum yang dirumuskan, yaitu akhlak merupakan karakter yang telah tertanam (malakah) dalam jiwa manusia sehingga mengarahkannya dengan mudah untuk melakukan tindakan-tindakan. Misalnya, Allamah Thabathabai mendefenisikan ilmu akhlak sebagai ilmu yang membahas pembawaan-pembawaan manusia yang berkaitan dengan kekuatan-kekuatan tumbuh-tumbuhan, kekuatan binatang, dan kekuatan kemanusiaan untuk membedakan keutamaan dari keburukan agar manusia berhias dan bersifat dengannya sehingga mendapatkan kesempurnaan kebahagiaan ilmiahnya.[2]

Adapun Imam al-Ghazali mendefenisikan akhlak sebagai bentuk jiwa (nafs) yang terpatri, yang darinya muncul perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan. Apabila suatu bentuk memunculkan beragam perbuatan indah dan terpuji berdasarkan akal dan syariat, maka ia dinamakan akhlak yang terpuji (akhlak mahmudah). Sebaliknya, jika darinya muncul beragam perbuatan buruk, ia dinamakan akhlak tercela (akhlak mazmumah).[3]

Selanjutnya, Imam al-Ghazali menjelaskan perbedaan akhlak dengan perbuatan (fi’il), kemampuan (qudrah), dan pengetahuan (ma’rifah). Menurutnya, khulq (akhlak) bukanlah perbuatan (fi’l). Karena, banyak orang yang khulq-nya dermawan tetapi tidak mendermakan harta, mungkin lantaran kehabisan harta atau halangan tertentu. Terkadang pula, khulqnya bakhil (pelit) tetapi ia mendermakan harta, mungkin karena motif-motif tertentu atau riya. Khulq juga tidak sama dengan kemampuan (qudrah), sebab, kemampuan dinisbahkan pada menahan diri dan memberi. Tetapi, terhadap keduanya yang berlawanan ini keadaannya sama. Setiap orang diciptakan dengan fitrah dalam kondisi yang mampu memberi dan menahan. Itu tidak menyebabkan munculnya khulq kebakhilan dan khulq kedermawanan. Khulq juga bukanlah pengetahuan (ma’rifah), sebab, pengetahuan berkaitan dengan kebaikan dan keburukan sekaligus pada tingkatan yang sama. Akan tetapi khulq merupakan malakah yakni bentuk yang dengannya jiwa bersiap-siap untuk memunculkan sikap menahan diri atau memberi. Jadi, khulq adalah bentuk jiwa dan rupa batiniah.[4]

Dengan demikian akhlak merupakan sifat psikologis (ruhaniah) dan bukan suatu tindakan atau perbuatan, meskipun al-amal al-ikhtiari merupakan manifestasi luarnya. Akhlak juga bukanlah hasil dari sebuah kebetulan, karena ia berupa pembawaan yang melekat dalam jiwa (malakah). Maka, malakah harus memiliki fondasi sebagaimana bangunan memerlukan fondasi. Adapun fondasi-fondasi akhlak ialah naluri, keturunan, lingkungan, pendidikan, dan kebiasaan.[5]

SUMBER-SUMBER AKHLAK

Allamah Thabathabai menjelaskan bahwa manusia memiliki pembawaan-pembawaan yang berhubungan dengan tiga domain kekuatan yang terhimpun dalam diri manusia, yaitu kekuatan tumbuh-tumbuhan, kekuatan kebinatangan, dan kekuatan kemanusiaan. Ketiga kekuatan ini yang mengarahkan manusia pada dimensi moralitas (akhlak terpuji) atau juga akhlak rendah yang tercela.[6] Sedangkan Imam Khumaini, menyebutkan tiga daya atau fakultas batin yang penting dan menjadi sumber bagi seluruh malakah (watak/karakter) baik maupun buruk dan dasar bagi seluruh bentuk-bentuk gaib yang tinggi. Ketiga daya itu adalah al-quwwah al-wahmiyyah (daya imajinasi atau pencitraan), al-quwwah al-ghadabiyyah (daya amarah), al-quwwah al-syahwiyyah (daya syahwat).[7] Ketiganya, lanjut Imam Khumaini, bisa menjadi pasukan Sang Maha Pengasih yang akan membawa kebahagiaan dan keberuntungan bagi manusia jika semuanya mengikuti akal sehat dan ajaran para nabi Allah yang mulia, sebaliknya jika dibiarkan apa adanya, maka semua daya itu akan menjadi pasukan setan.[8]

Jiwa (nafs) adalah esensi surgawi yang menggunakan tubuh dan memanfaatkan berbagai organ lain untuk mencapai maksud dan tujuannya. Tetapi, perlu diketahui bahwa jiwa (nafs) bukanlah sesuatu yang kosong hampa tanpa memiliki potensi-potensi keruhanian, melainkan suatu wujud inti dari keberadaan manusia yang unik, luar biasa, dan penuh daya yang tak terbatas untuk senantiasa menyempurna dengan cara menyerap asma-asma ketuhanan, atau pula sebaliknya menjadi hina karena lebih mementingkan sisi kebinatangannya. Seperti disebutkan al-Quran bahwa manusia adalah sebaik-baik ciptaan, namun dapat pula ia dilemparkan ke dalam jurang kecelakaan yang penuh kehinaan, “Sesungguhnya kami menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk. Kemudian kami campakkan ia ketempat yang serendah-rendahnya” (Q.S. At-Tin: 4-5)

Penting diperhatikan, bahwa potensi diri kemanusiaan bermata ganda yaitu mengandung sisi negatif dan positif sekaligus. Hal itu dikarenankan, jiwa manusia memiliki kecakapan yang meliputi keduanya. An-Naraqi menyebutkan empat kecakapan utama yang dimiliki oleh jiwa, yaitu :

  1. Kecakapan akal (al-quwwah al-aqliyah)—bersifat malaikat.
  2. Kecakapan amarah (al-quwwah al-ghadabiyah)—bersifat buas.
  3. Kecakapan nafsu (al-quwwah ash-shahwiyah)—bersifat binatang.
  4. Kecakapan imajinasi (al-quwwah al-wahmiyyah)—bersifat kejam.[9]

Fungsi keempat kecakapan itu sangatlah berguna bagi kehidupan manusia. Sebab, apabila manusia tidak memiliki akal, tidak akan mungkin dapat membedakan yang baik dan yang buruk, benar dan salah. Apabila tidak memiliki kekuatan amarah, dia tidak dapat melindungi dirinya dari serangan, dan apabila kekuatan seksual tidak ada, keberadaan spesies manusia akan punah. Sedangkan, jika tidak memiliki kekuatan imajinasi, maka dia tidak dapat menggambarkan (visualize) hal-hal yang universal dan hal-hal yang partikular dan membuat kesimpulan dari gambaran tersebut.[10]

Dari keempat daya atau kecakapan di atas, diakui bahwa, kecakapan akal merupakan potensi termulia dan terbaik. Ia menjadi cahaya bagi jiwa untuk menjadi suci, sempurna dan bahagia. Jika, akal menjadi raja yang mengendalikan semua kecakapan lainnya, maka manusia akan mencapai perkembangan ruhani yang menjadikan dirinya dekat kepada Allah swt. Namun, jika akal menjadi tawanan dari ketiga daya di atas, maka saat itu akal akan bertindak menyalahi tabiat aslinya yang selalu benar. Misalnya, jika kekuatan akal mengabdi kepada kekuatan ghadab, syahwat, atau wahmiyyah, maka seseorang akan menjadi tiran di muka bumi, sehingga akan bertabiat sewenang-wenang, menebar kerusakan, menjadi teman setan, menghalalkan segala cara, dan mengingkari kebaikan serta mengerjakan kejahatan. Jadi, keempat daya ini menjadi sumber-sumber penting bagi perilaku manusia.

METODE PENDIDIKAN AKHLAK

Pendidikan akhlak merupakan pendidikan yang memiliki posisi inti dalam struktur ajaran Islam. Nilai penting tersebut dapat kita rujuk melalui dua pendekatan yaitu pendekatan naqliyah (normatif) dan pendekatan aqliyah (ilmiah).

Secara normatif, al-Quran dan sunnah Nabi Muhammad  SAW memberikan penegasan gamblang akan keharusan manusia untuk berakhlak mulia yang dimunculkan dalam refleksi tindakan baik itu kata-kata, perbuatan, maupun sikap. Manusia yang dalam dirinya ada manifestasi ilahiah yang kemudian diaktualisasikan melalui kemanusiaan sempurna (insan kamil) dengan cerminan akhlak mulia akan mendapatkan pujian dari Allah SWT. Dalam al-Quran, Allah memuji hamba-Nya dengan begitu indahnya :

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Q.S. al-Qalam: 4)

“Sungguh pada diri Rasululah ada suri tauladan yang baik.” (Q.S.        )

“Demi jiwa serta penyempurnaanya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Q.S. al-Syam: 7-10).

Ayat-ayat di atas menegaskan bahwa kemuliaan manusia terletak pada kemuliaan akhlak, sehingga layak mendapatkan pujian Allah SWT. Bukankah, kemualiaan itu terletak pada ketakwaan? Benar, karena ketakwaan adalah pokok akhlak. Menariknya ayat tersebut yang diidentifikasi untuk memuji Rasulullah SAW, menggunakan kata pujian dengan salah satu sifat Allah SWT, yaitu al-azhim (Maha Agung). Ayatullah Hasan Zaseh Amuli mengatakan :

“Berakhlak adalah merealisasikan dan menyifati diri dengan hakikat akhlak tersebut, bukan pengetahuan tentang makna atau konsep seperti yang diperoleh dengan merujuk pada kamus; bahwa rahim (kasih sayang) adalah begini dan athuf adalah begini. Dengan demikian, jelaslah makna hadits Rasulullah saw, “Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama. Barangsiapa yang memahami dan mengamalkannya, maka ia akan masuk surga”. Maksudnya, berakhlak dengan hakikat nama-nama tersebut, sebagaimana disebutkan dalam hadits lainnya dari Rasulullah saw, “Sesungguhnya Allah mempunyai 99 akhlak. Barangsiapa berakhlak dengannya, maka ia masuk surga.” Sebab, hadis-hadis saling menjelaskan satu sama lain, sebagaimana sebagian al-Quran membicarakan sebagian yang lainnya.”[11]

Kemuliaan akhlak juga merupakan tujuan pengutusan para nabi. Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah menegaskan bahwa sebenarnya ia diutus Allah dengan tujuan untuk menyempurnakan akhlak manusia, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia” Ini berarti, dengan berakhlak mulia manusia sedang menyerap sifat-sifat Tuhan dan kemudian ia manifestasikan (pancarkan) dalam kehidupannya sehari-hari dikomunitasnya. Menurut Majid Rasyid Pur, sabda Rasulullah SAW tersebut bermakna umum sekaligus spesifik. Hal ini karena kata buitstu yang berarti ‘aku diutus’ menunjukkan pemaknaan umum akan kenabian dan kerasulan yang berarti utusan Tuhan, namun di sisi lain, nabi juga menegaskan bahwa dirinya tabah dan sabar menghadapi berbagai kesulitan, caci maki, hinaan masyarakat Arab musyrik, dan lain-lain. Semua itu beliau tempuh demi menyempurnakan akhlak mulia. Adapun kalimat “untuk menyempurnakan” dapat dipahami bahwa seluruh agama dan ajaran ilahi bertujuan untuk membenahi akhlak manusia.[12]

Dengan demikian, dimensi spiritual kenabian bukanlah diperoleh secara kebetulan dan untung-untungan, melainkan dengan kerja keras dengan mengerahkan seluruh potensinya sehingga menggapai maqam kedekatan dengan Allah swt hingga dinyatakan layak untuk mengemban misi kenabian. Perjuangan nabi Muhammad saw yang begitu kukuh untuk tetap mempertahankan dirinya pada jalur kesucian ditengah badai kehancuran masyarakat Arab Mekah, menjadikan nabi sebagai sosok yang terlatih secara sadar untuk senantiasa berbicara, bersikap dan bertindak dengan cara-cara yang beradab, penuh wibawa, dan akhlak mulia. Kebiasaan nabi untuk senantiasa melakukan aktivitas berguna dan baik, menjadikan dirinya sebagai eksistensi kemanusiaan tersempurna diseluruh jagat raya.

Muhammad Mahdi bin Abi Dzar An-Naraqi dalam kitabnya yang terkenal Jami’ al-Saadat menyebutkan bahwa akhlak yang dihasilkan dari malakah (kecakapan, pembawaan) jiwa yang dengan latihan dan praktek berulang-ulang sehingga dapat dengan mudah dimunculkan dapat beragam aktivitas akan terinternalisasi secara kuat di dalam diri manusia sehingga tidak mudah untuk dirusak. Menurut An-Naraqi, suatu watak tertentu (malakah) mungkin muncul dalam diri manusia karena salah satu alasan berikut ini :

  1. Dandanan (make-up) alami dan buatan; hal ini menampilkan bahwa beberapa orang memiliki sifat sabar sementara lainnya mudah tersinggung dan tidak percaya diri.
  2. Kebiasaan; terbentuk karena kegiatan dan tindakan khusus yang dilakukan secara berulang-ulang dan berkelanjutan guna membentuk watak tertentu. Latihan dan usaha yang dilakukan secara sadar; yang jika dilakukan secara berkelanjutan dalam jangka waktu yang cukup lama akan memungkinkan untuk membentuk watak tertentu.[13]

Jadi, jika ingin memperoleh akhlak mulia, maka seseorang dianjurkan untuk mengulang-ulang perbuatan baik dan amal saleh secara berkesinambungan terus menerus sehingga menjadi kebiasaan yang tertanam di dalam jiwa dan sulit untuk dihilangkan.[14]

Allamah Thabathabai memaparkan tiga metode pendidikan untuk meraih kesempurnaan dan perbaikan akhlak, yaitu :

  1. Mendidik akhlak dengan tujuan-tujuan keduniawian yang baik. Hal ini berarti berhubungan dengan pujian dan celaan di hadapan manusia
  2. Mendidik akhlak melalui tujuan-tujuan ukhrawi yang mengindikasikan pada pahala dan dosa, ganjaran dan siksaaan di yaumil akhir kelak.
  3. Mendidik manusia secara deskriptif dan ilmiah dengan menggunakan ilmu pengetahuan (ma’arif) yang tidak menyisakan subjek ketercelaan.[15]

Ketiga cara ini handaknya digunakan sesuai dengan kondisi dan situasi yang tepat sesuai jenjang dan kemampuan individu.  

PENUTUP

Akhlak merupakan puncak dari kemanusiaan, inti pengutusan kenabian, serta cerminan bagi ketuhanan. Karenanya, siapa yang berhasil mencapai kesempurnaan akhlak maka ia memasuki tahap manifestasi asma dan sifat Tuhan, dimana seluruh organ tubuhnya menjadi alat bagi Tuhan untuk menebarkan rahmat pada semesta ciptaan. Sebab itu, pendidikan akhlak mesti dikukuhkan sebagai pendidikan puncak dari manusia. Wallahu a’lamu bi al-shawab.


[1] Sayid Mujtaba Musawi Lari. Ethic and Spiritual Growth. (Qum: Foundation of Islamic C.P.W, 2005), h. 11.

[2] Sayid Muhammad Husain Thabathabai. al-Mizan fi Tafsir al-Quran Jilid I, (Beirut: Muassasah al-a’lami li al-Mathbuat, 1991 M), h. 370.

[3] Sayyid Kamal Haydari. Manajemen Ruh. (Bogor: Cahaya, 2004), hlm. 29.

[4] Sayyid Kamal Haydari. Manajemen Ruh. h. 30.

[5] Muhammad Amin Zainuddin. Membangun Surga di Hati Dengan Kemuliaan Akhlak. (Bogor: Cahaya, 2004), h. 25-26.

[6] Sayid Muhammad Husain Thabathabai. al-Mizan, h. 370-371.

[7] Imam Khumaini. 40 Hadis. (Bandung: Mizan, 2004), hlm.16.

[8] Imam Khumaini. 40 Hadis, h.19.

[9] Muhammad Mahdi bin Abi Dzar an-Naraqi. Penghimpun Kebahagiaan: Jami’ as-Saadat. (Jakarta: Lentera, 2004), h.19-20.

[10] Muhammad Mahdi bin Abi Dzar an-Naraqi. Penghimpun, h. 20

[11] Sayid Kamal Haydari. Manajemen, h. 28.

[12] Lihat Majid Rasyid Pur. Tazkiyah al-Nafs: Penyucian Jiwa (Bogor: Cahaya, 2003), h. 37-38.

[13] Muhammad Mahdi bin Abi Dzar an-Naraqi, Penghimpun, h.12.

[14] Thabathabai, al-Mizan, h.  351.

[15] Thabathabai, al-Mizan, h.  351-355.

ADAKAH MASA DEPAN BANGSA? SEBUAH CATATAN BURAM

Oleh : Candiki Repantu

Narkoba mengancam generasi muda kita. “pil setan” dan “bubuk iblis” ini telah beredar sedemikian mudahnya hingga tidak hanya ditemui di gang-gang tempat mangkalnya para bandit, melainkan juga telah memasuki lorong-lorong kelas tempat calon pemimpin bangsa ini dididik. Pelajar yang seharusnya menyandang tas dan buku dengan berpakaian rapi, mendadak kabur di jalanan dengan menyandang pedang dan kelewang. Apa yang terjadi? Sudah pasti mereka lagi tawuran.

Dijurusan lain kita melihat, eksploitasi seksual telah membudaya di tengah-tengah kita sehingga tidak ada lagi rasa malu dan harga diri. Bentuk klasik yang namanya prostitusi mewabah tidak hanya digedung-gedung mewah tampatnya para kaum elite, tetapi juga di trotoar jalan tempat singgahnya kaum pailit. Sensualitas yang ditampilkan, tidak lagi di ruang tertutup yang menyeleksi para undangannya, melainkan telah dijajakan di pasar publik melalui beragam kemasan bisnis yang disebut iklan, model, dunia hiburan, serta lainnya yang diperdebatkan atas nama seni dan kebebasan ekspresi. Tak urung, pemimpin redaksi majalah dewasa play boy saja mendapat angin segar dengan vonis bebas yang dibacakan Bapak Hakim dalam sidang yang terhormat. Padahal di persidangan lain, tak jarang kita mendengar seorang kakek memperkosa cucunya, seorang ayah “meniduri” anaknya, dukun melakukan tindakan cabul, sodomi, atau pesta seks dikalangan pelajar, mahasiswa, bahkan pejabat, yang tergiur hanya karena pandangan menantang dalam kemasan pornografi dan pornoaksi.

Kita arahkan pandangan ke sudut lain, maka terlihat ada pembunuhan sadis dan perampokan tragis. Kehidupan di bawah garis kemiskinan dengan ekonomi sulit yang melilit, menyembunyikan nurani suci dan belas kasih demi sejengkal perut untuk bertahan hidup. Tidak ada lagi tempat yang aman, karena pencopet, pencuri, penggarong, perampok, atau apapun namanya bertebaran dipinggir jalan, terminal, bus kota, hingga rumah-rumah kita. Anehnya, hal ini juga merebak dikalangan elite yang hidup di atas garis kekayaaan, dengan nama yang lebih keren yakni korupsi, kolusi dan nepotisme.

Kemudian seorang ibu tega menjual anaknya, perdagangan bayi telah menjadi lahan untuk mengais rezeki. “Perbudakan” modern atas nama tenaga kerja, babu atau pembantu meninggalkan jejak-jejak luka di fisik dan di hati karena hidup mereka di bawah cengkeraman kejam sang majikan.
Itulah sekilas daftar masalah yang kita jumpai dalam tiap sudut kehidupan ini. Banyak lagi yang bisa kita daftarkan sebagai anggota tumpukan kejahatan.

Bagi para analis dan pemerhati, sudah seharusnya pemerintah dan kita semua berusaha meningkatkan kehidupan sosial ekonomi rakyat, atau agar para aparat lebih bersikap tegas kepada para penjahat dengan meningkatkan sistem keamanan, atau mungkin sudah saatnya tertib politik disadari oleh para pejabat yang menggunakan kekuasaan sewenang-wenang. Namun jika kita cermati dengan lebih jeli dan dalam, maka negeri ini telah luluh lantak di hantam badai krisis yang lebih dahsyat dari moneter, yaitu krisis akhlak (moralitas), krisis malu, ataupun krisis adab. Saya takut, kita mendapat cap yg berubah dari bangsa beradab menjadi bangsa biadab….mau kemana bangsaku..???? wallahu a’lam

Temu ramah bersama “Penghuni hotel prodeo” saat memberi Penyuluhan di LP Tanjung Gusta Medan….

ADAKAH MASA DEPAN WANITA?

Oleh : Candiki Repantu

semestinya…kita bertanya apakah siap hidup serasi dengan kaum pria—

hidup yang didasarkan pada saling menghargai perbedaan masing-masing,

namun juga saling mengakui betapa kita saling membutuhkan dan saling menginginkan.”

(Danielle Crittenden, 2002: 238)

 

Wanita dijajah pria sejak dulu”, begitu salah satu bait syair lagu yang popular di Indonesia. Syair ini menyadarkan kita bahwa eksploitasi wanita telah berjalan sistematis dari masa ke masa. Uniknya eksploitasi ini muncul dalam beragam bentuk yang terkadang tidak disadari oleh wanita itu sendiri. Jika, wanita masa Ibu Kartini, dipaksa menjual harga dirinya kepada Belanda, wanita kini dengan rela menjual segalanya demi uang sekian juta. Jika, Ibu Kartini di zaman Belanda berusaha menyadarkan wanita dari kebodohan dan penjajahan, maka ‘Kartini’ sekarang mesti menyadarkan wanita bahwa dirinya lebih mulai daripada uang sekian juta.

Jika dahulu kala, wanita disimpan sebagai untuk memuaskan pria, kini ia dipajang dalam iklan untuk memuluskan komoditas yang dipasarkan, bahkan tak jarang wanita itu sendiri telah menjadi komoditas yang diperdagangkan. Bukankah mobil mulus akan terlihat lebih indah jika diduduki wanita mulus? Bukankah rokok akan lebih laris jika dijajakan oleh wanita yang menantang? Tidakkah minuman akan lebih menarik jika memperlihatkan sedotan wanita? Begitulah, dengan kemasan yang apik, para pencipta citra dan pelaku bisnis memanfaatkannya dan mempublikasikan sederetan istilah untuk mempengaruhi persepsi manusia, khususnya wanita. Istilah ‘menarik’, ‘cantik’, ‘anak gaul’, ‘gengsi’, ‘gokil’, dan seabrek lainnya, menjadi trend perkembangan zaman dan pergaulan, sehingga, kita seolah terasing jika tidak ikut dalam arus itu. Hasilnya, jiwa materialisme, konsumerisme, dan hedonisme menjadi kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan.

Secara cermat, kita melihat bahwa eksploitasi terhadap wanita diterapkan secara dalam dan sitematis baik dengan kajian teoritis maupun budaya yang praktis. Secara teoritis, doktrin-doktrin agama ditafsirkan sedemikian rupa oleh sekelompok orang untuk mendudukan posisi wanita di bawah kendali laki-laki. Sederet teks-teks sakral dikumpulkan untuk membuktikan bahwa pesan-pesan Tuhan memang memihak laki-laki dan menempatkan perempuan sebagai makhluk yang harus diwaspadai, dimarahi, dan dijadikan abdi laki-laki. Adapun secara ilmiah, para ilmuwan menciptakan sekumpulan teori yang mendukung mitos-mitos tentang perempuan, seperti perempuan itu rendah akalnya, misterius sifatnya, ditakdirkan untuk mengabdi pada laki-laki, dan tidak kuat fisiknya.

Untuk menghapus semua kesan hina ini, memancarlah semangat mendunia yang menghembuskan isu kesetaraan gender atau emansipasi. Suara-suara yang saling sambung antar generasi ke generasi memberikan andil bagi pembentukan opini dunia terhadap peran dan kedudukan wanita dalam seluruh struktur kehidupan manusia, baik agama, budaya, sosial, ekonomi, maupun politik. Tak urung, sebagai realisasi ide tersebut telah terbentuk gerakan sejagat untuk mengangkat harkat dan martabat wanita yang sepanjang hayat keberadaanya selalu tertindas sebagai makhluk setengah jadi  dan warga kelas dua di bumi ini.

Terlebih lagi, abad modern belakangan ini dianggap sebagai abad kesadaran untuk menciptakan hubungan yang harmonis antara pria dan wanita. Ramalan John Naisbitt dan Patricia Aburdene dalam buku Megatrend 2000 tampaknya benar, bahwa wanita akan mengambil semua peran dalam berbagai lini kehidupan. Karenanya perbincangan tentang wanita telah menjadi bagian dari kajian filsafat, sains, bahkan agama. Corak pandangan berkembang, mulai dari yang menghinakan hingga yang memuliakan.

Memang, tidak dapat dipungkiri bahwa pria dan wanita adalah berbeda. Banyak penelitian dan buku ditulis untuk membuktikannya. Perbedaan itu tidak hanya menyangkut jenis kelamin saja, tetapi juga faktor-faktor lain yang melekat pada keduanya. Namun, perbedaan tersebut bukanlah ingin menunjukkan kekurangan dan ketidaksempurnaan pada salah satunya, tetapi sebaliknya, itu merupakan hikmah penciptaan dan karya utama alam dalam menjaga keseimbangan dan hubungan timbal balik antara pria dan wanita, yang dalam ungkapan Danielle Crittenden, ‘semestinya…kita bertanya apakah siap hidup serasi dengan kaum pria—hidup yang didasarkan pada saling menghargai perbedaan masing-masing, namun juga saling mengakui betapa kita saling membutuhkan dan saling menginginkan.” (Crittenden, 2002: 238)

Tidak ada manusia yang meminta dirinya menjadi pria atau wanita. Jenis kelamin, merupakan ketetapan ilahiah yang bekerja dengan sistem keadilan dan kebijaksanaan Tuhan. Karenanya, Tuhan Sang Pencipta, tidak mempersoalkan manusia dari sisi fisikal ini, melainkan lebih melihat inti keberadaan manusia sebagai makhluk yang berakal dan memiliki sisi ruhaniah yang suci. Kesempurnaan manusia, tidaklah dipandang dari sudut biologis dan anatomi tubuhnya, melainkan dari psikologis dan konstruksi ruhaninya.

Dengan demikian, wanita memiliki andil setara dengan pria dalam menggapai kesempurnaan diri dari seluruh aspeknya, karena ruhani manusia tidak memiliki label jenis kelamin. Artinya, hakikat kemanusiaan bukanlah pria dan bukan pula wanita. Melainkan, sejauh mana aktualisasi potensi kemanusiaanlah yang menjadi ukuran derajat manusia di sisi Sang Pencipta. Sudah mafhum secara umum, bahwa secara normative Kitab Suci  banyak membicarakan wanita-wanita mulia yang melebihi kaum Adam. Kita mengenal Maryam Ibunda Nabi Isa as, Asiyah istri Firaun, Ratu Bilqis, Ibunda Nabi Musa as, Khadijah istri Rasulullah saaw, dan Fatimah al-Zahra ummu abiha.

Jika kita memahami secara jeli, kemuliaan mereka bukan hanya karena ritual agama yang istiqamah (terus menerus), tetapi juga karena peran mereka di ranah publik dalam memperbaiki masyarakat, melawan kekuasaan zalim, mendidik, serta partisipasi sosial- politik dan keagamaan.

Karena itu, sebagai upaya untuk kembali mengaktualkan peran wanita, ada beberapa hal yang dapat dilakukan, diantaranya: Pertama, melakukan berbagai kajian sistematis dengan mengaktifkan perempuan untuk mengenal dan memahami diri sendiri. Kedua, menentang segala bentuk usaha diskriminasi dan penindasan terhadap perempuan baik yang dilakukan dalam keluarga, masyarakat, maupun dalam pekerjaan. Ketiga, melakukan redefenisi dan rekonstruksi pandangan manusia tentang kemuliaan wanita. Keempat, reinterpretasi (menafsirkan kembali) doktrin keagamaan mengenai perempuan secara kritis dan objektif. Dengan usaha dan kerja keras, mudah-mudahan kita dapat merubah tangisan Kartini menjadi seyuman bahagia. Semoga!

SUMPAH PEMUDA 2009 : “SATU PENDERITAAN, PENDERITAAN INDONESIA”..!!!

Oleh : Candiki Repantu

Telah disepakati bahwa kebangkitan hanya mungkin di dapat jika kita bersatu. Masalahnya, apa yang menjadi landasan persatuan. Teori umum menyebutkan bahwa persatuan bisa diwujudkan melalui landasan nasionalisme yang disatukan dalam satu tanah air, satu suku, satu ras, satu bangsa, satu bahasa, atau satu agama. Dan beberapa unsur itu pernah dijadikan sumpah oleh Pemuda Indonesia 81 tahun yang lalu (Sumpah Pemuda 28 oktober 1928).

Ada juga yang mengusulkan bahwa sebuah perubahan dan kebangkitan suatu bangsa akan tercapai jika muncul para pahlawan (orang-orang besar) atau gagasan-gagasan besar. Orang-orang besar (para intelektual, cendekiawan, atau pemimpin) akan menyadarkan manusia dan membawa mereka untuk melakukan gerakan pembebasan dan kebangkitan yang terarah. Orang-orang besar ini, akan memicu masyarakat untuk melakukan perlawanan atas segala jenis penjajahan baik fisik, politik, kebudayaan maupun ideologis. Begitu pula, gagasan-gagasan besar akan membentuk kesadaran bersama untuk bangkit dan melakukan perlawanan atas segala tekanan.

Namun, tanpa menafikan peran intelektual dan gagasannya, peran kesatuan bahasa, kesatuan tanah air, kesatuan bangsa, atau kesatuan agama, sesungguhnya kebangkitan dan perlawanan lebih di dasarkan pada rasa kemanusiaan yang sama. Dan rasa itu, tidaklah di dapatkan melalui unsur-unsur tersebut, melainkan timbul dari rasa KESATUAN PENDERITAAN. Proklamator Indonesia, Ir. Soekarno menegaskan bahwa para intelektual hanyalah menunjukkan jalan untuk menyalurkan arus aspirasi bangsa sehingga mencapai lautan keselamatan dan kebebasan. Baginya, pergerakan rakyat muncul dari kesengsaraan rakyat, dan pengaruh kaum intelektual (pemimpin) atas jiwa rakyat pada dasarnya juga muncul dari kesengsaraan rakyat tersebut.

Begitu pula dengan cita-cita kebangkitan yang digagas 101 tahun yang lalu oleh para pendiri Budi Utomo, semua itu didasarkan pada kesadaran akan penderitaan bersama. Perhatikan salah satu isi pidato Soetomo saat pembentukan Budi Utomo yang menginspirasikan cita-cita kebangkitan bangsa :

“Kami akan bekerja dengan bangsa kita dari segala lapisan dan segala tingkat kehidupan, supaya tanah dan rakyat boleh menempuh kemajuan dengan aman dan damai di dalam pergaulan hidup sendiri. Sifat serta fi’il kita, tabiat pekerti kita, ilmu kitab kita, pengetahuan kita atas bunyi-bunyian, suka duka kita, harapan dan cita-cita kita, segala sesuatu hendaklah mendapat jalan buat dilahirkan serta diperkatakan di dalam bond itu. Baik perihal pelajaran sekolah anak-anak Bumiputera, baikpun tentang urusan mengusahakan tanah akan sama-sama dipentingkan oleh bond kami. Begitu pula baik tentang keselamatan diri dan harta benda rakyat, maupun tentang cara pemerintah negeri dilakukan akan jadi perhatian bond kami.” (Pidato Soetomo, 1908)

Dengan demikian, untuk mewujudkan kebangkitan nasional, kita membutuhkan sekelompok orang yang memahami dialektika zamannya, sehingga tidak terkejut oleh tekanan zaman yang melingkupinya. Dan ternyata, bangsa ini belum mengerti tentang situasi zamannya, sehingga terkejut, saat tiba-tiba mendapati bangsa ini dalam masalah serius. Bayangkan, para pakar ekonomi di negara ini, sejak dari jajaran para menteri hingga Tim ekonomi, tidak mampu menganalisa hatta soal minyak di pasaran dunia, sehingga harus kelabakan menanggapinya dan lagi-lagi harus mengorbankan rakyat banyak atas nama keselamatan bangsa—yang sebenarnya lebih untuk menyelamatkan para pejabat dan pengusaha. Inilah mengapa Imam Ja’far Shadiq pernah berkata, “Barangsiapa yang memahami zamannya, maka tidak akan dikejutkan oleh segala serbuan yang membingungkannya.”

Sekali lagi, kita belum mengenal zaman sehingga kita bingung menghadapinya. Kita bingung akan harga BBM dan gas bumi, bingung persoalan investor, bingung soal privatisasi, bingung soal liberalisasi, bingung soal arah pembangunan, bingung masalah kemiskinan, bingung masalah pengangguran, bingung masalah hutan, bingung masalah pendidikan, bingung..bingung..dan bingung. Begitulah, sehingga kita pun akhirnya mengeluarkan kebijakan dari hasil kebingungan.

Kebijakan hasil kebingungan ini melahirkan jumlah penduduk miskin mencapai 39,1 juta, penduduk hampir miskin 28,6 juta, dan penduduk di bawah kemiskinan mencapai 67,7 juta. Sedangkan, pengangguran 11,1 juta dan setengah menganggur 29,9 juta. Jadi, total pengangguran mencapai 41 juta (38,6 %) dari angkatan kerja atau 18,5 % jumlah penduduk. Meskipun begitu, kita patut ‘optimis dan bangga’ kata Presiden dalam pidatonya di Istana Negara, karena kita mengalami kemajuan perekonomian dan pertanian kita surplus pangan. Mudah-mudahan surplus pangan itu, bisa ‘dieksport’ ke daerah-daerah kantong kemiskinan di negeri ini. Dan kita ‘lebih bangga’ lagi, karena salah satu majalah asia melansir orang-orang Indonesia yang hidup di atas garis kekayaan. Fakta yang berlawanan ini lagi-lagi membingungkan kita, mestikah kita menangis atau tersenyum manis? Yang pasti, ini sungguh ironis!

Jadi, kesadaran untuk ‘kebangkitan nasional’ ini kembali menemukan momentumnya saat ini. Dengan semangat reformasi, para pemuda bersatu membentuk kesadaran bersama akan keterpurukan bangsa ini, dengan menggelar aksi “100 tahun kebangkitan nasional”. Dengan memahami kondisi dan situasi yang dihadapi saat ini, dan dengan cita-citanya yang mulia para kaum terpelajar bangsa ini bersatu dalam usaha mewujudkan kebangkitan nasional. Sebab, kebangkitan dapat diraih jika kita menyadari bahwa kita sedang terpuruk. Sebab, jika kita merasa besar dan lupa diri, maka dirinya tidak akan terpacu untuk mewujudkan ‘kebangkitan’, malah keterpurukan itu akan dianggap sebagai lahan untuk mengais keuntungan.

Semangat ‘kebangkitan nasional’ ini, membuat pikiran kita menerawang kembali pada semangat yang dikobarkan oleh Soekarno dalam “Indonesia Menggugat” : “Rakyat Indonesia sejak 1908 sudah bangkit; nafsu menyelamatkan diri sejak 1908 sudah menitis juga. Imperialisme-modern yang mengaut-ngaut di Indonesia itu,—yang menyebarkan kesengsaraan di mana-mana—sudah menyinggung dan membangkitkan musuh-musuhnya sendiri. Raksasa Indonesia yang tadinya pingsan seolah tak bernyawa, sekarang sudah berdiri tegak dan memasang tenaga! Setiap kali ia mendapat hantaman dan rubuh, ia tegak kembali! Seperti mempunyai kekuatan rahasia, kekuatan penghidup, aji-pancasona dan aji-candrabirawa, ia tidak bisa dibunuh dan malah makin lama makin tak terbilang pengikutnya!” (Soekarno, Indonesia Menggugat, 1956)

Jadi, untuk melakukan revolusi sosail di Indonesia dlm milenium baru maka, ‘SUMPAH PEMUDA 2009’, bukan saja satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air Indonesia, tetapi harus di tambah satu lagi yakni : ‘SATU PENDERITAAN, PENDERITAAN INDONESIA ….!!!! mari kita teriakan bersama

Terakhir, ‘hari kebangkitan nasional’ tahun ini 28 oktober 2009, mudah2an dapat menjadi gejala perbaikan bangsa ini untuk menuju kemandirian yang lebih bermartabat. Semoga!..wallahu a’lam

Kawan2 lagi aksi di Konjen Amerika Medan…. pd hari al-Quds … semoga tetap semangat menumbangkan para tiran di setiap zaman….