Lahirnya Abul Fadl Abbas Ksatria Tanpa Tangannya

Oleh Candiki Repantu

abbas3Pada 4 Sya’ban 26 H, Imam Ali as mendapatkan seorang putra lagi yang juga kelak menjadi tumpuan keluarga Nabi. Itulah Abul Fadhl Abbas, sang Purnama Bani Hasyim, dari rahimnya Ummul Banin. Seolah telah ditakdirkan untuk selalu menjadi pendamping al-Husain. Bayangkan, ia dilahirkan pada bulan yang sama, dengan tangal yang hanya berbeda satu hari dari Imam Husain, dan wafatnya pada tanggal yang sama dengan al-Husain di tempat yang sama pula. Abul Fadhl Abbas, adalah simbol pendamping setia Sayidus Syuhada.

Ketika Imam Ali diberitahukan tentang kelahiran putra Ummul Banin ini, beliau segera kembali ke rumahnya dan diliputi rasa gembira. Ia mendekap sang bayi, mengumandangkan azan dan ikamah di telinganya. Sebagai ungkapan rasa syukurnya, dan keberkahan kelahiran putranya, Imam Ali memberikan sedekah kepada kaum papa. Tak bosan Imam Ali memandangi wajah sang bayi. Ia melihat jiwa tangguh pemberani dan semangat yang utuh pada diri putranya ini. Abbas itulah nama yang pantas, pikirnya.

Abbas artinya singa, yang membuat takut setiap orang yang menghadapinya. Ayahnya juga adalah singa (Haidar) yang membuat gentar setiap lawan-lawanya. Ia mendapatkan kemuliaan di asuh oleh tiga imam, Ali bin Abi Thalib, al-Hasan, dan al-Husain. Sehingga ia tumbuh menjadi pemuda yang kuat fisiknya, tinggi akalnya, dan bersih jiwanya. Limpahan kemuliaan para imam, menjadikannya sebagai manusia pilih tanding di medan laga, dan pilih sanding di pengabdian agama. hidupnya begitu mulia dengan banyak ibadah, dan matinya juga mulia dengan menggapai syahadah.

Imam Ali Zainal Abidin, yang merupakan saksi karbala, bertutur tentang pamannya ini, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada pamanku Abbas, yang telah mengorbankan hidupnya demi membela saudaranya sehingga kedua tangannya tertebas. Allah Yang Maha Kuasa menganugerahkan kepadanya sepasang sayap yang memudahkannya terbang menuju surga bersama para malaikat sebagaimana Allah menganugerahkan hal yang sama kepada Ja’far bin Abi Thalib. kedudukannya yang khusus inilah yang membuat iri para syuhada lainnya.”

Imam Ja’far Shadiq, sangat memuji pengorbanan Abul Fadl Abbas, “Pamanku Abbas bin Ali” kata Imam Ja’far suatu hari, “Memiliki penglihatan yang tajam dan iman yang menjulang. Ia tetap setia bersama Abu Abdillah (al-Husein) dan berjuang disampingnya, hingga ia menggapai syahadah yang sempurna. Pada kesempatan lainnya, Imam Ja’far menyampaikan salam kepadanya dengan mengatakan, “Segala puji bagi Allah dan para malaikat-Nya. Salam sejahtera bagi para nabi dan orang-orang saleh. Salam bagi seluruh syuhada dan orang-orang yang jujur. Salam sejahtera bagi Abbas bin Ali bin Abi Talib.”

Jadi, Imam Ali, Imam Hasan, dan juga Imam Husein mengetahui dengan jelas kemuliaan diri putra Ummul Banin ini, karena itu mereka dengan sepenuh hati mendidiknya. Dan Abul Fadhl Abbas juga tak menyia-nyiakan kebersamaannya dengan para imam mulia ini. Setiap ajaran mereka diserapnya dan diterapkannya, setiap perintah mereka dilaksanakannya, dan setiap amanat mereka ditunaikannya, inilah yang mengantarkannya pada derajat manusia sempurna.

Abul Fadhl Abbas sangat menghormati Imamnya. Suatu hal yang mengesankan, walaupun Imam Husian adalah saudaranya, tetapi Abul Fadhl Abbas, tak pernah memanggil al-Husain dengan panggilan kakak. Ia selalu memanggil al-Husain dengan sebutan Imam. Ia memang sangat bersyukur menjadi saudara sedarahnya Imam Husian as, tetapi ia juga merasa dirinya tak layak disandingkan dengan Imam Husain as. Konon ibunya, Ummul Banin, pernah mengingatkannya, “Wahai Abbas, engkau memang putranya Ali, saudara Hasan dan Husain, tetapi ingatlah engkau bukan putranya Sayidah Fatimah”. Ummul Banin menyadari bahwa dirinya bukanlah sebanding dengan Sayidah Fatimah, walaupun punya kedudukan yang sama sebagai istrinya Imam Ali.

Dengan penghormatannya yang tinggi itu, membuat Abbas mendudukkan dirinya pada posisi budak di hadapan tuannya. Tak pernah luput sekalipun ia melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya. Dikatakan, setiap keluarga Imam Husian meminta sesuatu, maka Abbas pasti mengabulkannya. Tak pernah sekalipun ia gagal membawakan hajat yang diinginkan keluarga imamnya. Hanya satu kali seumur hidupnya, ia gagal memenuhi permintaan keluarga imamnya, yaitu ketika Sukainah, dalam kehausan yang tiada tara, memintanya untuk mengambil air untuk membasahi tenggorokan mereka yang terbakar dahaga. Abbas meneteskan air matanya melihat permata Husain merana, dilanda dahaga di pinggir sunggai Efrat yang melimpah airnya. Ketika kuda-kuda bahkan anjing sekalipun dibiarkan meminum air sungai, namun keluarga Nabi dibiarkan kehausan hingga tubuh terkulai, sungguh manusia-manusia durjana yang biadab, tapi masih mau mengaku umatnya Muhammad.

Abbas tak mampu menahan haru, dengan izin imamnya, ia hentak kudanya menuju sungai Efrat dengan satu tekad, mengambil air untuk keluarga Muhammad. Tak perduli banyaknya musuh yang mengarahkan panah, tombak dan pedang kepadanya. Ia tunjukkan keahlian perangnya. Ia mengamuk bagai banteng ketaton memporak-porandakan barisan musuh yang berusaha menghadang. Setiap ia menggerakkan pedang, terdengarlah suara jeritan, disertai tubuh yang jatuh telentang. Usaha gigihnya tak sia-sia, musuh tak mampu menghadangnya, sampailah ia di pinggir sungai Efrat. Napas memburu, tenggorokan naik-turun melihat air bening mengalir tenang. Terbersit di hatinya, ingin meneguk air untuk membasahi kerongkongannya, tetapi benaknya diliputi wajah-wajah mulia Imam Husian dan putra-putrinya. Tak layak pikirnya, ia meneguk air menghilangkan dahaga, sementara sang Imam dan keluarganya, menanti dalam kehausan yang mendera.

Dengan segera ia mengisi kantong-kantong airnya, kembali menaiki kudanya menuju tenda tempat Sukainah menunggunya. Tapi, pasukan musuh sudah mengepungnya, tak memberi jalan bagi Abbas untuk melewatinya, tanpa perjuangan bersenjata. Abbas mengikat kantong-kantong air ditubuhnya. Dengan pedang di tangan kanan, ia menyongsong pasukan musuh yang beringas ingin membunuhnya. Tak kenal kasihan, ratusan tombak dan pedang digunakan untuk menghadang Abul Fadhl Abbas yang hanya sendirian. Hingga sebuah pedang berhasil menebas lengan Abbas yang sebelah kanan. Tangan kanan itu jatuh terpental, dan darah pun bertebaran, Abul Fadhl Abbas meringis menahan sakit, “Demi Allah!” kata Abbas, “Biarpun tangan kananku buntung, aku takkan berhenti bertarung, akan kubela al-Husain dengan tangan kiriku,,, Apalah arti sepotong tanganku untuk membela agama kakekku, karena aku telah serahkan jiwa demi tegaknya agama.”

Abbas terus berperang di tengah derasnya anak-anak panah yang dilontarkan,,,Tiba-tiba dari arah belakang sebuah ayunan pedang kembali menghantam, menebas tangan kirinya. Abbas mengerang, sakit mendera sekujur tubuhnya. Kegesitannya menghilang, keseimbangannya tak bisa dipertahankan. Abbas tetap berada di atas kudanya dalam keadaan putus kedua tangannya, darah melumuri bajunya, matanya hanya mampu menatap wajah-wajah durjana di sekitarnya. Ia masih berpikir, memperhatikan jalan keluar agar dapat mengantarkan kantong air kepada keluarga Imamnya, tapi apa nak dikata, sebatang anak panah mengenai matanya, luka merekah menebarkan banyak darah, tubuhnya tak mampu lagi bertahan di atas kudanya, ia jatuh tersungkur bebas, karena tak ada lagi tangan yang bisa menopangnya

Wajah Abbas yang berlumuran darah, semakin dilanda kalut dan sedih melihat kantong air putus dan airnya terbuang sia-sia di padang pasir karbala, ia meradang karena tak berhasil memenuhi permintaan keponakannya, Sukainah dan Atikah. Di sisa-sisa tenaganya, ia hanya mampu berteriak, “wahai Imam, datanglah padaku sebelum ajal menjemputku.”

Teriakannya sampai ditelinga al-Husian, al-Husain bergegas menyongsong Abbas, matanya menatap setiap mayat yang yang berserakan. Di manakah Abbas? Imam memperhatikan kesana-kemari, ia melihat sosok tubuh mengerang, semakin dekat semakin terlihat, itulah Abbas, “Abbas saudaraku, apa yang mereka lakukan terhadapmu?” kata al-Husain. Imam mengangkat kepala Abbas, meletakkannya di pangkuannya, tetapi Abbas menggeser kepalanya, meletakkan kembali di padang pasir Karbala. Imam mengangkat dan meletakkan kembali dipangkuannya, “Wahai Imam” kata Abbas, “aku membayangkan saat ajal menjemputmu, tak ada seorang pun yang memangku kepalamu, karena itu aku merasa lebih baik jika kepalaku tetap di atas pasir saat ajal menjemputku. Lagi pula, aku adalah hambamu dan engkau adalah imamku. Tak pantas bagiku meletakkan kepala dipangkuanmu”. Imam Husain tak mampu menahan haru, air mata menetes deras mengharu biru.

“Wahai Imam!”, lanjut Abbas, “waktu aku dilahrikan wajahmulah yang kupandang, maka diakhir hidupku ini, aku juga hanya ingin memandang wajahmu, namun, satu mataku tertusuk anak panah, dan satunya lagi dibanjiri darah. Tanganku sudah tiada, aku mohon padamu untuk membersihkan darah dari sebelah mataku agar aku dapat menatap wajahmu.” Tetesan air mata al-Husain semakin deras

“Wahai Imam!” kata Abbas lagi, “Aku masih ada permohonan padamu. Jika aku wafat, aku tidak ingin jenazahku dibawa ke tenda, karena aku telah berjanji pada Sukainah untuk membawa air kepadanya, tapi aku gagal, aku malu menemuinya sekalipun hanya jasadku saja, begitu pula janganlah engkau bawa Sukainah kemari untuk melihat keadaanku. Karena aku khawatir dirinya tak mampu menahan duka melihat tubuhku seperti ini. Jadi biarkanlah jasadku terbaring sendiri di sini.”

Imam Husian tak mampu berkata apapun, hanya air mata yg berderai, ia bersihkan darah dari wajah Abbas, untuk memenuhi permintaan terakhirnya. Kedua saudara ini saling pandang, Imam Husain kemudian berkata, “Wahai Abbas!, aku juga punya permintaan padamu, sejak kanak-kanak, engkau selalu memanggilku imam, maka diakhir hayatmu ini, aku ingin sekali saja engkau memanggilku kakak.”

Abbas memandang Imam Husain, tubuhnya dan suaranyapun lemah, bibirnya berusaha membuka, imam Husian mendekatkan wajahnya, ia mendengar desahan lirih Abbas, “kakakku, kakakku!”, itulah kata terakhir yang mampu dikatakannya! Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Inilah kisah dua saudara, lahir ditanggal yang hampir sama pada bulan yang sama, dan mereguk syahadah di tempat dan waktu yang sama, mereka berdua memang ditakdirkan Tuhan sebagai pemilik simbol keberanian, kesetiaan, ketegaran, keteguhan, dan tentu saja kebenaran!

Lahirnya Husain, Ksatria Tanpa Kepala

Oleh  Candiki Repantu

6Di Madinah, dalam sebuah rumah yangsangat sederhana, dengan luas sekitar 15 m (diperkirakan berukuran panjang 4,6m, lebar 3,4 m dan tinggi 3,15 m), yang beratapkan pelepah kurma denganbatangnya pula sebagai tiang penyangga, sedangkan dinding-dindingnya terdiridari susunan batu atau tanah liat yang dikeraskan, mendapatkan berkah dancahaya rahmat dengan lahirnya seorang bayi nan indah tepat tanggal 3 Sya’ban 4H.

Suasana kota Madinah semakin bersinar,rumah kenabian harum semerbak, Nabi dan keluarganya serta masyarakat Madinahmenyambut lahirnya seorang pemimpin pemuda surga, putra pemimpin orang yang takwa,Ali bin Abi Thalib, dari rahim wanita penghulu semesta, Fatimah az-Zahra as.Bayi mungil ini, berdasarkan wahyu yang diterima oleh kakeknya, diberilah nama al-Husain.Secara fisik dikatakan bahwa Imam Hasan menyerupai Nabi dari kepala hinggadada, sedangkan Imam Husain menyerupai Nabi dari dada hingga kaki.

Itulah al-Husain pewaris tahta kepemimpinanumat sejagat. Darinyalah manusia-manusia teladan abadi lahir untuk menjadipenjaga syariat Sang Nabi. Sayidah Fatimah mengisahkan, “Rasulullah saw menemuikuketika aku baru melahirkan al-Husain. Aku serahkan al-Husain kepada beliaudalam sebuah kain yang berwarna kuning. Rasulullah saw melemparkan kain kuningitu dan mengambil sebuah kain yang berwarna putih dan membalut bayi al-Husaindengan kain putih itu. Setelah itu, Rasulullah saw bersabda, “Ambillah bayiini, wahai Fatimah! Sesungguhnya dia adalah seorang imam, putra dari seorangimam, dan ayah sembilan orang imam, dari sulbinya akan lahir imam-imam yang saleh dan yang kesembilan dari mereka adalah al-Mahdi”.

Itulah Husain, yang namanya diwahyukan Tuhan, Imam Sajjad bertutur tentang kelahiran ayahnya, “Tatkala al-Husain lahir, Allah Yang Maha Tinggi mewahyukan kepada Jibril bahwa telah dilahirkan seorang anak bagi Muhammad, maka turunlah dan sampaikan selamat kepadanya, dan katakan,“Sesungguhnya kedudukan Ali di sisimu seperti kedudukan Harun di sisi Musa, oleh karena itu, namailah dia dengan nama putra Harun”. Jibril pun turun menyampaikan salam Tuhan. Jibril berkata, “Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk menamainya dengan nama putra Harun.” Rasulullah bertanya, “Siapa nama putra Harun?” Jibril menjawab, “Syubair”. Rasulullah berkata lagi, “Aku adalah orang Arab”. Jibril menjawab, “Namailah dia al-Husain”.

Itulah al-Husain, bukan orang sembarangan.“Suatu hari”, kenang Bara bin Azib, “Aku melihat Rasulullah menggendong Husain sambil berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku menyayanginya, maka sayangilah dia”, Dalam riwayat lain, disebutkan Rasul bersabda, “Husain dariku dan aku dari Husain, Allah menyintai orang yang menyintai Husain” (Mizan al-Hikmah)

Namun, berbeda dengan miladnya Nabi, Imam Ali, Fatimah, dan Imam Hasan, memperingati miladnya Imam Husain memiliki kekhasan tersendiri, yaitu jika setiap miladnya para manusia mulia lainnya disambut dengan riang gembira, tetapi kelahiran Husain disambut dengan deraian air mata.

Ummul Fadhl binti al-Harits meriwayatkan bahwa suatu hari ia datang menjumpai Rasulullah saw untuk mengabarkan mimpi yang dialaminya. Nabi bertanya, “mimpi apakah itu?” Ummul Fadhl menjawab,“sungguh mengerikan ya Rasul”. Rasul bertanya lagi, “Mimpi apakah itu?” Ummul Fadhl pun menjawab, “Aku bermimpi sepenggal jasad yang terpotong diletakkan dipangkuanku”. Nabi menenangkannya, dan bersabda, “wahai Ummul Fadhl, itu adalah mimpi yang indah, insya Allah, Fatimah akan melahirkan seorang anak dan anak itu akan berada dalam pangkuanmu”.Apa yang diramalkan terbukti, Fatimah melahirkan Husain, dan diletakkan di pangkuan Ummul Fadhl.

“Suatu hari”, lanjut UmmulFadhl, “aku masuk menemui Rasulullah dan menyerahkan al-Husain ke pangkuan beliau, ketika aku menoleh, aku melihat kedua mata Rasulullah mengucurkan airmata. Aku berkata, “Wahai nabi Allah, semoga ayah dan ibuku menjadi tebusan,apa yang terjadi?” Nabi saw bersabda, “Jibril datang menjumpaiku dan mengabarkan bahwa kelak umatku akan membunuh putraku ini.” Aku bertanya, “Putra anda ini”. Nabi saw bersabda, “Ya! Dan Jibril pun membawakan untukku segenggam tanah merah (tempat terbunuhnya) al-Husain.” (lihat al-Hakim, al-Mustadrakjuz III : 176)

Jadi, Nabi berduka dan menangisial-Husain. Inilah sunnah fi’liyah yang dipraktikkan Nabi. Dan hal itu dilakukan Rasulullah setiap ada kesempatan dan di berbagai tempat. Tradisi menangisi al-Husain ini menjadi tradisi kenabian dalam setiap memperingati miladnya sang ksatria tanpa kepala.

Perhatikan laporan dari al-Khawarijmi al-Hanafi berikut ini, “Ketika al-Husain berusia satu tahun, turunlah dua belas malaikat menemui Rasulullah dengan wajah memerah. Mereka membentangkan sayap-sayap sambil berkata,‘Wahai Muhammad, putramu al-Husain akan terbunuh seperti tebunuhnya Habil oleh Kabil,dan ia akan diberi pahala seperti Habil, sedangkan pembunuhnya akan menerima dosa seperti dosanya Kabil’. Para malaikat di langitpun turun semuanya untuk menyampaikan belasungkawa kepada Nabi atas apa yang akan menimpa al-Husain dan mengabarkan pahala yang akan diberikan untuk al-Husain serta menyerahkan tanah al-Husain, dan Nabi saw berdoa, “Ya Allah hinakan orang yang mengabaikan pembelaan terhadap al-Husain dan bunuhlah orang yang membunuhnya, dan jangan beri kesenangan pada nikmat yang diperolehnya”

“Dan ketika al-Husain berusia dua tahun”, lanjut Khawarijmi, “Nabi saw sedang dalam perjalanan, tiba-tiba beliau berhenti dan mengatakan inna lillahi wainna ilaihi rajiun, sambil kedua mata beliau meneteskan air mata. Ketika ditanya, beliau menjawab, ‘Jibril  mengabarkan kepadaku tentang sebuah daerah di sisi sungai Efrat yang dinamai Karbala, yang di sanalah putraku al-Husain putra Fatimah kelak akan dibunuh”

Sebab itu, gelar Imam Husain adalah Sayyid al-Syuhada, pemimpin para syahid. Gelar mulia ini disematkan Nabi, bukanlah sekedar penghias nama, tapi fakta sejarah yang tak mungkin dihilangkan—meskipun sering dilupakan— Pada 10 Muharram 61 H, di Padang Tandus Karbala, Imam Husain beserta keluarga dan sahabatnya di bantai dengan keji oleh segerombol manusia atas perintah Yazid bin Muawiyah. Peristiwa ini dikenal sebagai Asyura.

Sebab itu, jika Sang Nabi menangisi al-Husain 50 tahun sebelum peristiwa itu terjadi, lantas bagaimana dengan kita yang mengetahui peristiwa itu secara nyata? Mengapa kita tidak menangisi al-Husain? Jika tangisan ini dianggap bid’ah, biarkanlah air mata ini kelak menjadi saksi dan hujjah di hadapan Allah dan Rasul-Nya serta Imam Ali dan Bunda Fatimah, bahwa kita bersedih untuk al-Husain karena kecintaan yang tulus kepadanya. Karena, pada hari ini, ketika lahirnya diperingati, kita ingin bergabung bersama kafilah duka suci Sang Nabi untuk menangisi al-Husain putra Ali.

Ali Sang Haidar

Ali Sang Haidar

Oleh Candiki Repantu

aliTiga belas rajab, 30 tahun setelah peristiwa ashabul fil (tentara gajah), seorang wanita terlihat menyusuri jalanan Mekah menuju Baitullah, ka’bah. Dengan penuh keyakinan, wanita itu memasuki pelataran Masjidil Haram, ketika itu terlihat beberapa pemuka Mekah sedang berada di sekitar ka’bah, diantaranya ada Abbas bin Abdul Muthalib.

Tanpa memperdulikan tatapan orang-orang di sekitarnya, wanita itu menuju ka’bah, ia berniat melakukan thawaf sebagai salah satu ibadah yang diperintahkan oleh Tuhan, Sang Pemilik ka’bah. Sesekali terlihat wanita itu mengelus perutnya yang terlihat besar, oh ternyata ia sedang hamil dan telah memasuki usia melahirkan. Thawaf yang dilakukannya ini berniat sebagai permohonan kepada Tuhan untuk keselamatan dalam melahirkan bayinya.

Di sela-sela thawafnya, ia bersimpuh di dinding ka’bah, ia menengadahkan wajah ke langit, dengan hati khusyu dan penuh pengharapan, ia berdoa, “Tuhanku! Sesungguhnya aku beriman kepada-Mu, dan kepada semua rasul-Mu, serta apa yang dibawa oleh para rasul dari sisi-Mu dan apa yang tertera di dalam kitab-kitab-Mu. Sesungguhnya aku memberikan kesaksian bahwa datukku Ibrahim al-khalil, dialah yang membangun Baitullah. Maka, Ya Allah! Demi keagungan ka’bah yang mulia, dan demi hak Nabi yang membangun Baitullah ini dan melalui hak bayi yang ada dalam kandunganku, permudahlah untukku proses kelahiran bayiku, yang akan menjadi pelipur laraku, putra yang memiliki kemuliaan yang menjadi salah satu tanda keagungan dan kekuasaan-Mu”

Setelah berdoa, wanita itu merasa sesuatu bergerak dalam perutnya, tanda-tanda bahwa ia akan segera melahirkan bayinya. Ia berusaha bangkit untuk kembali ke rumahnya, tetapi tak mampu melakukannya. Tapi ia sadar tak mungkin melahirkan di pelataran ka’bah di depan banyak orang yang menyaksikannya, “Ya Allah jangan permalukan aku”, seolah begitulah bisik hati sang wanita. Seperti mendengar doanya, terjadilah peristiwa yang menakjubkan setiap orang yang hadir di sana, mendadak terbelahlah dinding ka’bah, membentuk pintu memberi jalan bagi si wanita untuk memasukinya. Setelah wanita itu masuk dalam ka’bah, dindingnyapun tertutup seperti semula.

Peristiwa itu begitu singkat dan mengagetkan, orang-orang pun berada dalam kebingungan. Abbas segera menuju rumahnya, mengabarkan apa yang terjadi, dan membawa sejumlah wanita untuk membantu persalinannya. Akan tetapi, mereka hanya mengelilingi ka’bah tak menemukan jalan masuk ke dalamnya. Mereka hanya bisa menanti dengan pengharapan.

Empat hari berlalu, terlihat dinding ka’bah kembali terbelah, dari dalamnya keluar wanita sambil menggendong bayi laki-laki mungil di dadanya, bayi yang indah dan menggembirakan bagi setiap orang yang melihatnya. Orang-orang datang menghampirinya, merasa takjub dan heran, betapa suatu kehormatan yang tiada tara mendapat tempat bersalin di dalam baitullah, Rumat Allah.

Siapa wanita terhormat yang menjadi tamu Allah dan melahirkan di dalam rumah-Nya? Dialah Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf, isteri Abu Thalib. Lalu siapa bayi mungil yang digendongnya? tidak lain adalah Ali, putra Abu Thalib. Karena fenomena kelahirannya di baitullah, Ali kemudian dikenal sebagai Ibnul ka’bah, Putra ka’bah.

Fatimah binti Asad berkisah kepada orang-orang yang menanti dirinya, “Wahai penduduk Mekah, dengan menganugerahkan putra yang baik ini, Allah Yang Maha Kuasa telah memberiku kedudukan yang mulia melebihi seluruh wanita, karena tidak ada wanita yang melahirkan di dalam rumah Allah, dan selama tiga hari menjadi tamu-Nya. Ketika aku ingin keluar, Allah kembali membelah dinding ka’bah dan memberiku jalan keluar. Nama putraku ini adalah Ali, nama itu kuberikan karena ketika di dalam ka’bah aku mendengar suara berkata, ‘berilah nama Ali padanya, yang diturunkan dari nama-Ku, Aliyul A’la’

Akhirnya dikenallah nama anak itu Ali hingga saat ini. Awalnya ibunya ingin menamainya Haidar yang berarti Singa. Ia ingin anaknya memiliki sifat pemberani dan jawara seperti singa, disegani kawan dan ditakuti lawan. Terlebih lagi Fatimah adalah putri dari Asad yang juga artinya singa. Jadi Fatimah di kelilingi oleh para “singa”, dialah putri Asad dan ibu dari Haidar, keduanya berarti “singa”, dan terbukti kelak anaknya ini menjadi asadullah (singa Allah) dan pelindung Rasulullah. Sebagai buktinya, tanyalah kepada setiap umat Islam di mana saja, siapa pemuda yang mereka kenal dengan pedangnya? Tanyalah nama pedang yang terkenal yang dimiliki sahabat di zaman Nabi? Dari empat khulafa al-rasyidin, pedang siapa yang dikenal kaum mukminin? Dari sepuluh sahabat nabi yang dijamin masuk surga, pedang siapa yang dikenal umat Islam sedunia? Tanyakan pada kaum mukminin, apa nama pedangnya Abu Bakar, pedangnya Umar, pedangnya Usman, pedangnya Thalhah, pedangnya Zubair, pedangnya Abdurrahman bin Auf, dan lainnya? Mereka akan menggelengkan kepala, sebab hanya satu pedang yang dienal mereka, itulah Dzulfikar. Dan hanya satu pemiliknya, itulah Ali bin Abi Thalib. Sebab hanya ada satu sabda, itulah ‘la fata illa Ali wa la saif illa dzulfikar”.

Para ahli sejarah meriwayatkan ketika terjadi perang Uhud, ketika semua orang lari dari medan perang meninggalkan Nabi saw, hanya segelintir sahabat yang tetap setia mendampingi Nabi, termasuk salah satunya Ali.

Perang Uhud dimulai ketika Ali maju ke medan laga menerima tantangan Thalhah bin Abi Thalhah “Siapakah dari kalian yang berani maju bertanding?” Ali, dengan langkah tegap dan pedang terhunus maju menyambutnya. Thalhah bin Abi Thalhah menyerang lebih dulu, tetapi tanpa diduganya, baru saja mengangkat pedangnya, tubuhnya keburu disambar oleh Ali dengan pedangnya. Thalhah terkulai jatuh ke tanah, tubuhnya terbelah bersimbah darah. Betapa bangganya Rasulullah, suara takbir pun bergema. Perang sudah diambang mata.

Tak lama, perangpun berkobar. Ali, Abu Dujanah dan Hamzah mengobrak-abrik pasukan musuh. Mereka menyergap dan menyerang bagaikan singa-singa menerkam mangsanya. Pasukan musuh berantakan dan lari ketakutan. Kemenangan pasukan muslim sudah di depan mata, tapi apa yang terjadi?

Pasukan pemanah yang diberi amanah tetap di lereng bukit melupakan tugasnya. Ketika melihat pasukan musuh lari, mereka pun meninggalkan posnya, ikut berebut harta rampasan yang melimpah. Mereka lupa pada pesan Rasulullah agar tidak meninggalkan tempatnya, hanya karena takut tidak kebagian harta.

Dalam keadaan pasukan muslim sibuk dengan harta rampasan, pasukan berkuda musuh dipimpin Khalid bin Walid melakukan serangan dari belakang, melalui lereng-lereng bukit yang ditinggalkan. Situasi perang berubah, pasukan muslim porak-poranda, lari tunggang langgang menyelamatan nyawa, dan meninggalkan harta yang tadi ingin dikumpulkannya. Serangan pasukan kafir semakin menggila, mereka menyerang maju menuju tempat Rasul yang mulia untuk membunuhnya. Di sisi Rasul hanya tinggal beberapa sahabat setia, seperti Saad, Abu Dujanah dan Ali bin Abi Thalib. Ali, dengan keberanian yang luar biasa, menyerang laksana singa, menangkis dan menerkam musuh yang berani mendekati tempat sang Nabi, menghalau musuh dari sisi kanan dan kiri, muka dan belakang, ia berputar seperti gasing untuk melindungi sang Rasul, ia tak perduli dengan nyawanya sendiri, lebih baik mati berkalang tanah, dari pada harus lari meninggalkan sang Rasulullah.

Tapi apa nak di kata, serangan dahsyat musuh memang sulit diterka, tiba-tiba sebongkah batu (atau anak panah) dilemparkan musuh mengenai wajah Rasul yang mulia, membersit dari dahinya darah, gigi gerahamnya patah, serpihan topi besi menembus pipinya, mengoyak wajah agungnya. Tubuh Rasul menggigil menahan sakit yang tiada tara, tapi lebih sakit lagi hatinya yang ditinggalkan para sahabatnya, seolah dirinya tiada lagi berharga. Untung masih terobati dengan hadirnya Ali di sisinya. Di tengah gundah gulana, terdengarlah suara langit menggema, menyampaikan pesan Tuhan semesta untuk menghibur nabi-Nya, “La fata illa Ali, wa la saif illa dzulfikar”, tiada pemuda selain Ali, dan tiada pedang selain dzulfikar.

Itulah Ali sang Haidar di sisi ibunya, suami terbaik di sisi Fatimah, imam pertama dalam mazhab Syi’ah. Itulah Ali, pemegang mandat dan wasiat, pelanjut kepemimpinan umat, yang di Sunni menjadi Khulafa al-Rasyidin yang keempat. Itulah Ali, yang bagi orang Barat, hubungannya dengan Muhammad dilukiskan seperti Yohanes Pembaptis kepada Yesus (Isa as), namun dalam Islam, baik syiah maupun sunni, mengakui hubunganya seperti Harun di sisi Musa. Itulah Ali, Kepadanya Tuhan memberi gelar “khairul bariyah”, sebaik-baik makhluk-Nya. Itulah Ali, Untuknya Nabi bersabda, “Tidak ada yang menyintaimu selain mukmin, dan tiada yang memusuhimu selain munafik.Ituah Ali, Sang Haidar, jawara Badar, Uhud, Khandak, dan Khaibar.

Dan hari ini, 13 rajab 1426 H, untukmu imam, kami hanya bisa berkata, “Selamat atas kelahiranmu wahai sayidul muslimin, amirul mukminin, imamul muttaqin, syafaatilah kami di sisi Allah Rabb al-‘alamin. Pada hari yang mulia ini, kami berdoa, semoga hidup kami seperti hidupmu, mati kami seperti matimu, dan kumpulkanlah kami kelak bersamamu. Salam atasmu wahai Ali bin Abi Thalib warahmatullah wabarakatuh”

Laa ilaha illa Allah, Allahu Rabbi

Muhammad Nabi

Aliyyun imami

Medan, 2 Mei 2015/13 Rajab 1436 H