BERDEBAT


Oleh : Candiki Repantu

FB_IMG_1585801683211

Suatu hari seorang mahasiswa berdebat dengan dosennya tentang suatu teori. Mahasiswa tersebut menyampaikan argumentasi – argumentasi dan bukti-bukti atas klaim kebenaran teori yang dianutnya. Dosen berusaha membantahnya dengan mengajukan berbagai alasan yang asal-asalan. Dengan tangkas sang mahasiswa membantahnya dan menunjukkan berbagai referensi sebagai bukti kesalahan dosenya dalam berteori. Dengan santai sang dosen menjawab, “Kamu itu masih kuliah, ini teori baru, kamu belum sempat mempelajarinya dan referensi kamu juga belum memuatnya, jadi saya lebih tahu dari kamu.” Mahasiswa itu pun terdiam dan tak bisa berkata-kata lagi. Dosen itu telah berhasil membungkam mahasiswanya. Dari situ ada pameo, UU Dosen berbunyi : “Pasal 1: Dosen tak pernah salah. Pasal 2 : Kalau Dosen salah itu teori baru.”

“Membungkam lawan debat” itulah tujuan dasar dalam perdebatan. Karena itu seseorang yang berdebat akan mengajukan apapun termasuk ngibul dan ngayal selama hal itu dapat digunakan untuk membungkam lawan. Teknik-teknik mengenal “ngayal dan ngibul” dalam berdebat itu dipelajari dalam Ilmu Mantiq (Logika).

Perlu dipahami, Ilmu Mantiq itu mengajarkan cara berpikir yang sehat (benar), bukan mengajarkan akal sehat, sebab setiap manusia sudah diberikan akal yang sehat yang secara otomatis berfungsi untuk berpikir, karena itu tak perlu dipelajari lagi. Akal sehat itu fitrah manusia. Tapi, pemilik akal sehat belum tentu cara berpikirnya sehat. Karena itulah Mantiq mengajarkan kepada pemilik akal sehat, cara berpikir yang sehat (benar) dan menghindari cara berpikir yang sakit (salah). Pesantren-pesantren di Nusantara biasanya mengajarkan kitab “Sullam al-Munawraq” karya Syekh Abdurrahman al-Akhdhori, dan kitab “Idhah al-Mubham” karya Syekh al-Damanhuri untuk para santri belajar Ilmu Mantiq agar paham membedakan cara berpikir yang sehat dan cara berpikir yang sakit.

Kembali ke soal debat, bagi yang pernah belajar Ilmu Mantiq (Logika), dalam suatu debat ada empat hal penting yang harus diperhatikan, yaitu :

1). Ketepatan dalam kalimat yang digunakan.

2). Ketepatan dalam makna yang ingin disampaikan.

3). Ketepatan dalam maksud pada diri pengucap dan sasarannya.

4). Ketepatan dalam bukti yang disodorkan.

Dengan keempat hal di atas, maka kita bisa menilai dalam perdebatan mana pendebat yang memberikan informasi valid dan gambaran prediktif, bukan menyampaikan wawasan fiksi dan ujaran fiktif. Bersandar pada empat tersebut kita juga bisa mengukur mana yang memberi bukti, solusi, dan janji yang rasional, dan mana yang hanya pandai mencari sensasional sembari memancing emosional. Emosional ini bisa dalam bentuk harapan, ketakutan, kesedihan, kasihan, kesenangan, dan kebencian.

Pendebat yang kalimatnya tertata, makna dan maksudnya jelas dan praktis, memiliki bukti valid dengan contoh yang konkrit, maka kita pun bisa mengukur ketepatan ucapannya dan kejernihan akalnya. Sedangkan ucapan yang tanpa bukti, adalah informasi yang belum terverifikasi. Yang penting dalam debat, tetaplah ramah-ramah jangan marah-marah. Karena agama mengajarkan kita berkompetisi dengan pesan kedamaian bukan ujaran kebencian, sebagaimana pesan kitab suci “..Dan debatlah mereka dengan cara yang lebih baik” (Q.S. an-Nahl : 125).

Satu Tanggapan

  1. Mantap dn mengashikkn

    On Thu, Apr 2, 2020, 12:45 YAYASAN ISLAM ABU THALIB wrote:

    > abuthalib posted: ” Oleh : Candiki Repantu Suatu hari seorang mahasiswa > berdebat dengan dosennya tentang suatu teori. Mahasiswa tersebut > menyampaikan argumentasi – argumentasi dan bukti-bukti atas klaim kebenaran > teori yang dianutnya. Dosen berusaha membantahnya deng” >

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: