volume IX

MENDIDIK ANAK BERBASIS OTAK

DAN KASIH SAYANG

Oleh: Salahuddin Harahap, MA

Pendahuluan

Ketika Kang Jalal memproklamirkan dan kemudian menulis sebuh buku “Pendidikan Berbasis Otak” menjelaskan di dalam buku tesebut bahwa ternyata pendidikan yang kita terapkan selama ini, di negara ini justru telah melukai atau bahkan hampir membunuh otak anak-anak bangsa ini segera saja para pendengar dan pembaca merasa kaget, bahkan hampir tidak dapat mempercayai kenyataan tersebut. Bagaimana tidak, sebagian besar mereka adalah manusia yang selama ini menganggap dirinya telah berjasa mencerdasakan dan membina otak anak-anak bangsa ini, tanpa sadar ternyata malah telah menyakiti dan menjadikan otak anak-anak semakin lemah tidak berdaya. Hal ini tidak hanya dialami oleh para guru kita yang senantiasa digelari pahlawan tanpa jasa, tetapi juga para orang tua yang mendapat gelar sang mentari atau sang surya atau bahkan sang pembawa surga di telapak kakinya.

Dalam berbagai kesempatan, kita sering mendengarakan keluhan para tokoh atau kumpulan orang tua yang menyesali terjadinya dekadensi moralitas dan kemerosotan intelegensi anak bangsa ini, tanpa pernah menyadari dan mencari persoalan yang mendasarinya. Dalam hal ini, agaknya sangat wajar mengucapkan rasa salut dan terima kasih kepada Kang Jalal atas karya yang sangat penting ini. Tulisan ini, merupakan inspirasi sederhana setelah membaca buku Kang Jalal di atas yang mudah-mudahan dapat menjadi bahan renungan untuk dapat membangun kembali metodologi mendidik anak yang cerdas dan lebih akomodatif.

Pendidikan berbasis otak merupakan sebuah keniscayaan meskipun dalam kenytaan telah lama terlupakan. Padahal memahami otak secara paripurna merupakan suatu kemestian yang harus dimiliki oleh setiap pendidik dan orang tua, sebelum

ia terjun untuk mendidik seorang anak. Sebab yang akan didik dari seorang anak adalah otaknya sendiri yang di dalamnyalah seluruh potensi jiwa dibentuk. Lalu bagaimana mungkin seseorang yang tidak memahami struktur, fungsi, kapasitas dan potensi otak diharapkan mampu membina dan membentuk otak tersebut. Barangkali, kita akan sering menemukan seorang pendidik atau orang tua yang sebenarnya tidak memiliki pemahaman apa pun tentang, bentuk, struktur,  potensi dan kebutuhan otak namun berdasarkan jahalah tersebut memaksakan diri mendidik anak-anakanya. Akibatnya jiwa anak justru tidak tumbuh dengan baik, bahkan kecerdasan intelegensinya pun sama sekali jauh dari apa yang diharapkan. Beberapa waktu lalu, seorang tokoh mengungkapkan dalam ceramahnya sebagai berikut: “Belakangan ini anak-anak kita tidak lebih dari hanya sekedar keturunan bialogis kita, mereka sama sekali tidak memiliki kemiripan dan kesamaan apapun dengan kita kecuali dari sisi fisik saja; anak seorang ulama justru tumbuh sebagai preman, anak seorang guru kemudian tumbuh sebagai manusia tidak berakhlak dan berbagai kasusu lainnya”.

Apa yang menjadi keluhan tokoh tersebut, tampaknya juga telah menjadi keluhan oleh mayoritas orang tua dan para guru di negeri ini, yang hal tersebut diakibatkan oleh ketidakmampuan kita menerapkan metode pendidikan yang tepat bagi anak-anak kita. Kita berusaha mendidik otak tanpa samasekali mengetahui apa dan bagaimana hakikat otak tersebut, akibatnya kita hanya berhasil mendidik fisik anak kita bukan anak kita secara utuh.

Pendidikan untuk Pembentukan Jiwa Manusia

Mendidik seorang anak tentu tidak sama dengan mendirikan sebuah bangunan dimana dengan hanya menghubungkan berbagai kontruksi yang ada  sebuah gedung telah dapat berdiri. Pendidikan itu adalah pembangunan secara utuh, menumbuhkan sosok makhluk hidup paling sempurna dengan berupaya mewadahi serta memfasilitasi seluruh potensi yang dimilikinya. Pendidikan dengan demikian, tidak sama dengan menumbuhkan tanaman bunga yang meskipun kita menyediakan tanah yang subur agar ia dapat tumbuh secara baik, namun kita tidak dapat mengembangkan potensi-potensi tertentu pada tumbuhan tersebut yang harus berkembang sebagaimana mestinya. Pendidikan seorang anak bukan saja mengawal perumbuhan fisiknya akan tetapi juga pembentukan jiwanya sebab manusia adalah perpaduan fisik dan jiwa, adapun jiwa merupakan pengendali fisiknya. Dalam Islam pendidikan tidak hanya diarahkan pada pembentukan jiwa individu seorang anak, tetapi lebih dari itu adalah pembentukan jiwa sosial. Itulah sebabnya dalam jiwa seorang anak  semangat keilmuwan harus ditanamkan dan dipupuk, dan itu tidak hanya ditujukan agar ia menjadi seorang yang `alim (pandai) tetapi juga agar menjadi seseorang yang selalu ingin mencari kebenaran, jauh dari kefanatikan, kejumudan, dan sikap sombong, memiliki kasih sayang dan ketulusan.

Kesemuanya sikap tersebut bukan terletak pada bentuk atau pertumbuhan fisik, tetapi terletak pada otak atau jiwa, kaenanya yang harus menjadi perhatian seorang pendidik adalah jiwa bukan fisiknya. Adapun jiwa manusia pada masa kecilnya adalah makhluk yang diciptakan dari zat yang kenyal dimana ia masih dapat dipola dan diarahkan, ia ibarat tanah lunak yang dapat dibentuk hingga kemudian setelah dewasa bentuknya menjadi permanen dan kaku. Karena itu uangkapan “Menuntut ilmu pada waktu kecil bagai mengukir di atas batu” hendaknya berubah menjadi “Pendidikan pada waktu kecil bagaikan mengukir di atas tanah liat”. (Murthada Muthahari, Tarbiyatul Islam, Beirut). Maulawi Jalaluddin Rumi mengatakan bahwa “Semakin dewasa seseorang akan semakin kuat sifat-sifatnya dan semakin mengakar dalam jiwanya”. Sementara Sa`adi menyatakan bahwa “Seseorang yang tidak beradab pada masa kecil akan tidak beradab pula ketika dewasa”.

Jiwa sendiri merupakan anugerah yang diberikan Allah kepada manusia yang meskipun secara takwini memiliki kecenderungan terhadap kebaikan dan keburukan, namun kecenderungan pada kebaikanlah yang menyubstansi secara kuat di dalamnya. Karena itu sahabat jiwa yang sesungguhnya adalah kebenaran, kebaikan dan kasih sayang yang merupakan karakter dasar sang jiwa. Berdasarkan alasan ini para pendidik kotemporer lebih memfokuskan perhatian mereka kepada pendidikan masa kanak-kanak (preschool education). Masa kanak-kanak adalah sebuah fase dimana seluruh potensi yang dimiliki seorang manusia masih sangat sensitif, tidak hanya untuk mengetahui sesuatu akan tetapi juga untuk merasakan dan memperoleh sesuatu. Untuk itu perlu disadari bahwa sebagaimana jiwa cenderung kepada hal-hal yang baik, kasih sayang, kelembutan, tetapi ia juga berpeluang untuk menerima dan peka akan kekerasan, kecurangan, amarah, dan dendam.

Imam Ali Kw, mengatakan bahwa: “Sesungguhnya hati itu ada kalanya menginginkan, ada kalanya menerima, dan ada kalnya pula akan menolak. Karenanya, sentuhlah dan bahagiakanlah bahagian hati yan menginginkan dan yang menerima, karena sesungguhnya, hati jika ia membenci maka ia akan buta”. (Nahjul Balaghah). Ungkapan ini menjelaskan betapa kepekaan hati terhadap kebaikan dan keburukan secara takwini adalah sama, namun jika hati sedang berkehendak terhadap kebaikanan, kasih sayang, dan kelembutan maka seorang pendidik harus mendatanginya dengan sifat-sifat ini, sehingga ketika ia berkehendak terhadap keburukan segera saja kasih sayang yang diberikan dapat membantu dan mengawal jiwanya untuk tetap bertahan pada kebaikan. Keadaan seperti ini akan senantiasa dirasakan oleh setiap manusia, terlebih ketika pada usia kanak-kanak.

Jika pemikiran tersebut dapat diterima, pendidikan seorang anak harus dititikberatkan untuk merangsang dan mengembangkan potensi kelembutan dan kebaikannya, sehingga ketika ia dewasa kelembutan dan kebaikanlah yang tertanam,tersubstansi serta menghiasi jiwanya. Seorang anak yang selalu dididik dengan pukulan, bentakan, cubitan, tekanan, dan sikap merendahkan lainnya, akan mengakibatkan jiwanya menjadi kerdil, keras, rapuh, dan ketika ia dewasa sifat-sifat inilah yang akan memenuhi dan menjadi perisai jiwanya. Kesalahan sementara kita adalah memandang kecerdasan dan kepatuhan, serta kebaikan sebagai akibat ketakutan dan keterpaksaan dan ketertekanan. Kita hampir tidak dapat mengetahui apakah seorang anak dalam kepatuhan atau hanya bersikap seolah-olah patuh ketika ia dusurh melaksanakan sesuatu, apakah ia menghormati dan menyayangi kita atau sedang tertekan dan ketakutan. Semua ini diakibatkan karena sesungguhnya kita tidak pernah mengenali jiwa atau otak mereka meskipun kita mengaku sebagai pendidik atau orang tua mereka.

Imam Ali Kw juga menyatakan bahwa: “Sesungguhnya hati dapat juga merasa bosan sebagaimana halnya dengan tubuh, maka berusahalah agar menghiburnya dengan hikmah yang indah-indah” (Nahjul Balghah). Kebosanan adalah sifat sang hati, karena itu ia harus senantiasa diperkenalkan dengan hal-hal baru dan menarik. Hati sama sekali tidak menghendaki aktivitas yang statis dan monoton terlebih semasa kanak-kanak, sebab progresifitas semangat mencari merupakan karakter dasarnya. Berdasarkan itu, sistem pendidikan yang memaksa anak untuk berkonsentrasi hingga melampaui kemampuannya sesungguhnya merupakan tindakan penzhaliman dan pencabulan. Bahkan tindakan tersebut tanpa disadari telah menggiring sang hati untuk keluar dari karakter dasarnya. Dalam hal ini perlu diingat bahwa dibalik kecanggihannya berinteraksi dengan hal-hal baru yang positif, sang hati juga memiliki kemampuan luar biasa berinteraksi dengan hal-hal baru dalam kesesatan, kejahatan, kejumudan, fanatisme dan sebagainya. Terkadang kita dikagetkan dengan makian seorang anak atau pameran tingkah-lakunya yang terkesan amoral diakibatkan oleh kebosanan dan kekesalannya terhadap sesuatu, dan kita tidak dapat menyikapinya secara baik.

Berkenan dengan itu, Imam Ali menganjurkan agar kita senantiasa menghiburnya dengan hikmah yang indah-indah. Hikmah dapat berupa sikap dan perkataan mulia yang dapat memberi motivasi dan meredam sifat bosan yang sedang muncul dalam jiwa. Hikmah adalah sahabat akal, sementara akal pada hakikatnya makhluk anti kejumudan, fatalisme, dan fanatisme, namun karena ia sedang dikelilingi sang materi dan nafsu, sifat-sifat inipun terkadang menyelimutinya khususnya dalam keterpaksaan dan ketertekanan. Karenanya, ketika ia dijumpakan dengan sang hikmah (kebenaran) segera saja akal mendapat pencerahan, dukungan dan semangat untuk kemudian dapat kembali kepada fithrahnya sebagai sahabat kebenaran.

Selanjutnya Imam Ali Kw, mengatakan: “Sesungguhnya hati dapat menerima dan dapat menolak, pada saat ia menerima maka manfaatkanlah agar melakukan yang sunnah-sunnah dan saat ia menolak maka cukup melakukan yang fardhu saja” (Nahjul Balaghah). Ungkapan ini merupakan isyarat betapa hati merupakan makhluk yang sangat sensitif, ia tidak selalu berada pada kondisi yang sama pada setiap saat. Pada saat ia sedang berhasrat untuk menerima maka berilah sebanyak-banyaknya, tetapi ketika ia sedang tidak senang berikanlah sekedar kebutuhan, jangan memaksakan hati seorang anak untuk menerima lebih dari yang ia butuhkan, sebab penerimaan model ini akan berbalik menjadi penolakan atau bahkan perlawanan. Ketahuilah bahwa kondisi setiap hati belum tentu sama dalam penerimaan atau penolakan.

Itulah sebabnya, memahami kondisi jiwa seorang anak akan menjadi tolok ukur berhasil tidaknya seseorang dalam mendidik, dan untuk dapat mencapai hal itu tentu seorang pendidik harus terlebih dahulu mengenali jiwanya. Sangat disayangkan seorang guru yang menindak anak didiknya tanpa mengetahui kondisi jiwa sang anak, akan tetapi akan lebih sedih lagi jika guru yang menindak justru tidak memahami dan tidak mampu mengendalaikan jiwanya. Oleh karenanya, pendidikan berbasis otak baru dapat terlaksana, manakala para pendidik belajar memahami jiwanya dan kemudian memahami jiwa ataupun otak anak didiknya.

Penutup

Mendidik seorang anak bukan hanya mengawal pertumbuhan fisikhya pada setiap fase dengan mencari susu atau vitamin yang sesuai dengan tuntutan perkembangan organ tubuhnya. Lebih dari itu mendidik adalah mebentuk jiwa dan kepribadian seorang manusia agar mampu hidup sebagai seorang individu dan sebagai anggota masyarakat sosial. Karenanya seorang disebut pendidik tidak hanya karena ia memiliki fisik atau umur lebih yang tua dari yang didiknya, tetapi lebih disebabkan oleh kesempurnaan jiwa dan kemampuannya memahamii jiwa anak didik. Jika guru kencing beridiri, maka murid akan kencing berlari, lalu bagaimana yang tak mengenali dirinya mampu mengenali orang lain dan membuat orang lain dapat mengenal dirinnya sendiri. Wa Allahu A`lamu bi ash-Shawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: