ILMU HUSHULI


Kuliah 6

MAKNA ILMU HUSHULI

Secara deduktif-rasional berdasarkan kehadiran eksistensi objek pada subjek, maka ada dua jenis kehadiran. Pertama, kehadiran objek secara tidak langsung pada subjek, yaitu hadirnya gambaran (shurah) objek pada subjek. Kedua, kehadiran objek secara langsung pada subjek. Jenis kehadiran pertama disebut korespondensi atau ilmu hushuli (representational knowledge), sedangkan jenis kehadiran yang kedua disebut dengan Ilmu hudhuri (prentational knowledge; atau knowledge by presence).

Sebagai ilustrasi, coba Anda eja huruf berikut ini : A, B, C, D, E. Bukankakah Anda sudah hapal dan mengetahuinya. Akan tetapi saat Anda mengetahuinya, apakah huruf A, B, C, D, dan E, yang ada pada kertas ini pindah dan hadir ke dalam pikiran Anda. Jika huruf-huruf tersebut hadir dan pindah ke dalam pikiran anda, maka tentunya huruf-huruf yang ada pada kertas ini akan hilang semuanya. Namun kenyataannya, huruf-huruf tersebut tidaklah hilang meskipun Anda mengetahuinya. Jika begitu, berarti huruf-huruf tersebut tidak pindah ke dalam pikiran Anda, lalu bagaimana Anda dapat mempunyai pengetahuan tentang huruf-huruf tersebut? Para filosof menyebutkan bahwa, yang pindah atau hadir pada pikiran Anda bukanlah material huruf-huruf itu secara langsung, melainkan secara tidak langsung yaitu yang pindah atau hadir adalah bentuk atau gambaran (form/shurah) huruf tersebut. Karena yang hadir bukanlah huruf itu secara langsung, melainkan bentuk atau gambarannya, maka pengetahuan Anda bersifat perolehan atau korespondensi. Inilah makanya jenis ilmu seperti ini disebut dengan ilmu hushuli (pengetahuan perolehan; acquired knowledge; representational knowledge).

Ilmu Hushuli (acquired knowledge)adalah ilmu yang diperoleh melalui gambaran sesuatu yang diketahui, atau hadirnya gambaran sesuatu (shurah; form) pada akal. Allamah Thabathabai dalam bukunya Bidayah al-Hikmah mengemukakan bahwa manusia memiliki ilmu hushuli, yaitu ilmu tentang perkara-perkara eksternal dengan jalan hadirnya perkara eksternal tersebut melalui esensinya dan bukan melalui eksistensi eksternalnya.[1] Contohnya: ilmu tentang gunung, maka yang diketahui atau yang hadir adalah gambaran tentang gunung, bukan gunung itu sendiri. Begitu juga dengan mengetahui  rumah dan benda-benda yang ada disekitar kita.

DUA OBJEK PENGETAHUAN: OBJEK INTERNAL DAN OBJEK EKSTERNAL

Ada dua jenis objek pengetahuan yaitu objek internal (disebut juga objek imanen atau objek subjektif) dan objek eksternal (disebut juga objek transitif atau objek objektif).

Objek internal adalah sesuatu yang dekat, imanen dan identik dengan eksistensi subjek yang mengetahui, sedangkan objek eksternal adalah sesuatu yang transitif dan independen, yang eksistensinya terletak di luar, dan bersifat eksterior terhadap eksistensi subjek.[2]

Sebagai contoh, dalam hal persepsi inderawi, jika kita memersepsi sebuah objek fisik, misalnya sebuah bentuk pesawat TV, maka ada dua entitas objektif yang harus dibedakan satu sama lain. Pertama, objek eksternal yang eksis secara mandiri di luar pikiran kita, yang realitasnya termasuk ke dalam realitas dunia eksternal, dan tidak berkaitan apa pun dengan konstitusi pencerapan kita. Inilah yang disebut objek objektif (objek transitif) yang merupakan realitas fisik dari bentuk pesawat TV itu sendiri, lepas dari persepsi kita tentangnya.  Kedua, objek internal yang hadir di dalam dan identik dengan eksistensi kekuatan persepsi kita. Ini adalah objek subjektif (objek imanen) yang mengonstitusi esensi tindak memersepsi kita yang imanen, yang realitasnya termasuk dalam realitas persepsi kita. [3]

Perlu diperhatikan, pembagian jenis objek pengetahuan menjadi objek eksternal dan objek internal menunjukkan adanya dua hubungan korespondensi yaitu :

  1. Hubungan yang bersifat aksidental, yakni hubungan antara mengetahui dengan objek eksternal. Disebut aksidental karena objek eksternal sebagai eksistensi yang mandiri terletak di luar kuasa mental dan bersifat eksterior terhadapnya. Jadi, objek eksternal bersifat aksidental karena terletak di luar konsepsi pengetahuan dalam dunia ekstramental dan bertindak sebagai kausa final (sebab terakhir/tujuan) dalam kasus factual pengetahuan manusia tentang objek eksternal.
  2. Hubungan yang bersifat esensial, yakni hubungan antara mengetahui dengan objek internal. Disebut esensial karena objek internal itu berada dalam kuasa mental dan bersifat interior terhadapnya, karena pengetahuan mengharuskan adanya objek internal. Terlebih lagi adanya kita menemukan tindak mengetahui yang hanya memiliki objek internal tanpa memiliki objek eksternal di dunia realitas luaran, tetapi, tidak mungkin kita menemukan pengetahuan yang dibentuk oleh objek eksternal  tanpa adanya objek internal dalam tindak mengetahui tersebut. Jadi, objek internal telah tersedia secara konstitutif dalam esensi gagasan mengetahui itu sendiri sehingga bersifat esensial.[4]

Mulla Sadra menjelaskan hal ini dengan sangat baik dalam kitabnya al-Hikmah al-Muta’aliyah. Menurutnya, bentuk sesutau itu ada dua jenis: pertama, bentuk material yang eksistensinya terikat pada meteri, waktu, tempat, dan lainnya, dan kedua, bentuk abstrak (mujarrad) yang terlepas dari materi ruang dan tempat, baik secara mutlak maupun tidak mutlak. Bentuk pertama, lanjut Sadra, tidak mungkin menjadi objek pengetahuan secara actual, melainkan harus secara aksidental. Sedangkan bentuk yang kedua, dapat menjadi objek pengetahuan secara aktual.[5]

Bagi Sadra, bentuk material tidak mungkin menjadi objek pengetahuan karena pengetahuan itu merupakan kehadiran, dan kehadiran tidak mungkin terjadi pada objek material yang memiliki independensi yang berbeda dengan subjek yang non-material. Karena itu, objek material jika dijadikan sebagai objek pengetahuan, maka pastilah secara aksidental, yang mana, bukanlah eksistensinya yang hadir pada subjek, melainkan gambaran objek tersebut yang kemudian diubah oleh akal menjadi eksistensi baru yang bersatu dengan subjek.[6] Ini berarti, bahwa bentuk-bentuk yang dapat dipersepsi bukanlah bentuk-bentuk wujud eksternal; juga bukan bentuk-bentuk yang ada dalam organ indera pada saat mempersepsi. Karena itu, bentuk-bentuk yang dapat dipersepsi adalah kerja, atau emanasi, jiwa itu sendiri dan kehadiran objek pada organ indera hanya memberikan peluang untuk memproyeksikan bentuk dari jiwa.[7]

Untuk lebih jelasnya saya akan mengutip penjelasan dari Mehdi Hairi Yazdi tentang persolan dualitas objek ini dan bagaimana pengetahuan kita berkorespondensi dengan objek eksternal yang tidak hadir dalam subjek. Atau dengan kata lain, bagaimana kita bisa memahami dunia eksternal kita sebelum kita mampu berbicara dan membuat kalimat-kalimat mengenainya? Berikut ini penjelasan Mehdi Hairi Yazdi :[8]

Telah diketahui bahwa pengetahuan dengan korespondensi (ilmu hushuli) ditandai oleh keterlibatan makna ganda objektivitas. Ia mempunyai objek internal (objek subjektif), sebagai esensi yang diperlukan oleh pengetahuan seperti itu, dan juga mempunyai objek eksternal (onjek objektif) yang terletak di luar tatanan konsepsi dan merupakan rujukan objektif pengetahuan tersebut. Objek yang pertama oleh filsafat illuminasi disebut objek yang hadir, dan objek yang terakhir disebut objek yang tak hadir, yang realitasnya terpisah dari realitas pikiran subjek yang mengetahui.

Dalam kasus pengetahuan ini, objek subjektif memainkan peran representasi perantara dalam pencapaian tindak mengetahui. Artinya, objek subjektif, melalui konseptualisasi, menyuguhkan realitas objek eksternal di hadapan pikiran subjek yang mengetahui. Untuk mencapai tindakan representasi ini, harus ada kesesuaian dalam pengertian korespondensi[9] antara dua jenis objek tersebut. Sebagai representasi, objek subjektif, dan karenanya keseluruhan kesatuan pengetahuan, hanya bisa dimengerti jika ia memiliki kesesuaian dan korespondensi dengan objek eksternal. Karenanya pengetauan dengan korespondensi adalah pengetahuan yang :

  1. Terdapat dua jenis objek: objek internal dan objek eksternal. Artinya, baik objek subjektif maupun objek objektif harus sudah berada dalam tatanan aksi.
  2. Ada hubungan korespondensi antara kedua objek tersebut.

Perlu diperhatikan, karena hubungan korespondensi bersifat aksidental, artinya, pengetahuan kita mungkin berkoresponden atau tidak dengan realitas eksternal, maka dualisme logis kebenaran dan kesalahan, perlu dipertimbangkan. Jika objek subjektif kita benar-benar berkorespondensi dengan objek objektif, pengetahuan kita mengenai dunia eksternal adalah benar dan sahih, tetapi jika kondisi korespondensi belum diperoleh, kebenaran pengetahuan kita, tidak akan pernah dihasilkan. Ini karena oposisi terhadap kebenaran dan kesalahan termasuk jenis oposisi khusus. Ia menuntut suatu relasi yang aplikabilitasnya simetris (Contohnya: Rxy mengimplikasikan Ryx; jika A menikahi B, B juga menikahi A), bahkan jika hubungan itu tak simetris. Ini berarti bahwa, pada setiap proposisi atau kalimat yang di dalamnya kualitas ‘kebenaran’ bisa diterapkan, kualitas kesalahan dengan alasan yang sama bisa diterapkan secara potensial, begitu pula sebaliknya.

Kesimpulannya, dalam ilmu hushuli, tidak bisa dihindarkan adanya dua pengertian tentang objektivitas. Pertama, objek internal (objek imanen), yang intrinsik dan wajib yang merupakan bagian dari aksi subjek yang mengetahui.  Kedua, objek eksternal (objek transitif), yang ekstrinsik dan aksidental yang tidak hadir dalam pikiran dan berada di luar tindak mengetahui. Hubungan kedua objek yang berbeda ini adalah melalui korespondensi, bukan identitas. Hanya saja, dari dua jenis objek ini, hanya objek imanen saja yang konstutif dan esensial bagi pengetahuan. Pada pembahasan ilmu hudhuri, satu pengertian objektivitas, yakni objek imanen sebagai landasan pengetahuan akan dibuktikan dengan lebih gamblang.

Uraian-uraian di atas menunjukkan pada kita bahwa pembagian dua jenis objek ini sangat penting dan berfungsi untuk :

  1. Menunjukkan bagaimana kedua jenis objek ini saling terkait.
  2. Menjelaskan hubungan antara dunia eksistensi eksternal dan eksistensi internal.
  3. Memungkinkan kita memahami bahwa dalam pengetahuan kita tentang dunia eksternal selalu terdapat esensialitas yang tergabung dengan pengertian probabilitas dalam hubungan antara kedua jenis objek ini. Artinya, esensialitas dan probabilitas bergabung untuk membentuk pengetahuan kita mengenai objek-objek eksternal sehingga memiliki dualisme kemungkinan benar atau salah.
  4. Menegaskan perbedaan antara sains dan logika, dimana sains bergantung sepenuhnya pada korespondensi antara objek eksternal dengan objek internal, sedangkan logika tidak membutuhkannya.[10]

RELASI SUBJEK DAN OBJEK DALAM ILMU HUSHULI

Dalam ilmu hushuli relasi antara subjek dan objek terjadi melalui korespondensi. Ini berarti, ilmu hushuli merepresentasikan dua jenis eksistensi objek yang saling independen sedemikan rupa hingga keadaan eksistensial yang satu tidak berkaitan dengan yang lainnya baik secara ontologis, logis ataupun epistemologis. Kedua eksistensi itu dinamai dengan eksistensi internal (eksistensi mental; wujud dzihni) dan eksistensi eksternal (eksistensi aktual; wujud khariji).

Dengan independensi yang ketat seperti itu, sulit diperkirakan akan terjadinya kehadiran yang satu pada yang lainnya secara nyata untuk terjadinya ilmu pengetahuan. Hal yang mungkin adalah berkumpulnya kedua eksistensi tersebut melalui unifikasi fenomenal yang bersifat epistemik, bukan logis ataupun ontologis. Hal ini, karena sebuah objek eksternal selain memiliki realitas faktual dalam tatanan wujud, juga memiliki representasi fenomenal dalam pikiran kita yang terkait dengan tatanan konsepsi. Melalui unifikasi epistemik terjadi korespondensi yang bermakna “kemiripan” dalam isi dan “keidentikan” dalam bentuk. Artinya, bentuk internal disatukan dengan bentuk material eksternal karena adanya saling keserupaan kedua modus eksistensi tersebut melalui unifikasi formal (bentuk; shurah).[11]

Karena pada esensinya bersifat intensional (adanya tujuan yang bersifat eksternal), maka tindak mengetahui senantiasa dimotivasi, ditentukan, dan dikonstitusi oleh objeknya. Oleh karenanya, objek memiliki saham, bersama subjek, dalam penyusunan dan penentuan tindak mengetahui, tetapi berbeda dari subjek karena memiliki peran yang unik dalam memotivasi tindak mengetahui. Oleh karena itu, sementara cirri utama objek adalah memotivasi tindakan subjek, sebaliknya subjek tak bisa mengambil bagian dalam prosedur memotivasi tindakan intensionalnya sendiri, dengan alasan sederhana bahwa orang yang hadir bagi dirinya sendiri tidak mungkin menjadi objek bagi dirinya sendiri. Dengan kata lain, pikiran dirancang untuk berfungsi sebagai kausa efisien (sebab pelaku) bagi tindak intensional mengetahui sesuatu dan objek berfungsi sebagai kausa final (sebab tujuan) bagi pelaksanaan tindakan itu. Kausa efisien tidak dianggap sepenuhnya identik dengan kausa final, sehingga suatu subjek tidak mungkin identik dengan objeknya.[12]

Dalam konteks ini, kausa efisien didefenisikan sebagai agen yang bertindak, artinya yang melahirkan tindak mengetahui. Adapun kausa final, berfungsi dengan dua cara berbeda tergantung pada eksistensi eksternal dan internalnya. Eksistensi eksternal objek, karena secara prima facie independen dan tidak hadir dalam pikiran, hanya bisa memotivasi kegiatan intelektual subjek dari arah luar dan tidak bisa diidentikkan dengannya. Akan tetapi, eksistensi mental objek yang sama, karena hadir dalam pikiran, merupakan kausa bagi kausalitas subjek. Artinya, subjek yang mengetahui sebagai kausa efisien pada gilirannya disebabkan dan digerakkan oleh bayangan mental objek dalam pelaksanaan tindak pengetahuan. Karena gagasan tentang objeklah yang pertama kali mengefektifkan kausasi potensial subjek dengan membawanya dari keadaan potensialitas kepada keadaan aktual. Seandainya gagasan tentang objek tidak ada dalam pikiran subjek yang mengetahui, niscaya subjek potensial tersebut tidak akan pernah sampai pada tindak mengetahui sama sekali. Oleh karena itu, dalam urutan kausasi ini, gagasan tentang objek muncul lebih dahulu, dan dipandang sebagai kausa prima (sebab utama), sedangkan realitas objektifmya merupakan kausasi terakhir dan final dari tindak imanen pengetahuan.[13]

Dengan hal ini, maka jelas bahwa pengetahuan yang kita miliki berasal dari proses pencerapan terhadap eksistensi atau objek eksternal melalui gambaran (shurah) objek tersebut, yang kemudian dengan kreatifitas akal diubah menjadi eksistensi mental (objek internal) yang hadir dalam diri kita. Artinya subjek (akal) memiliki kemampuan untuk melakukan kreasi dalam menciptakan objek internal dari bentuk visual entitas yang berasal dari objek eksternal (wujud luar) bahkan menurut Mulla Shadra, bagi orang-orang yang telah mencapai taraf tertinggi yang akalnya telah aktif dan suci (kudus) secara sempurna, maka ia akan mampu mengaktualisasikan apa yang ada secara potensial di dalam akalnya sehingga terwujud di luar secara eksistensi eksternal (wujud luar) sekaligus dengan segala efek yang dihasilkannya.[14]

Dengan demikian jelaslah bahwa dalam tindak mengetahui, subjek hanya berelasi dengan objek internal dan tidak dengan objek eksternal.

Skema

Ilmu Hushuli

CIRI KHAS DAN PEMBAGIAN ILMU HUSHULI

Uraian-uraian di atas memberikan kita gambaran yang cukup jelas tentang ilmu hushuli. Jika kita rumuskan maka diantara diri khas ilmu hushuli tersebut yaitu :

  1. Memiliki perantara antara subjek dan objek. Hal ini karena, ilmu hushuli merupakan pengetahuan tentang objek melalui gambaran objek tersebut. Jadi yang menjadi perantara antara subjek dan objek adalah gambaran (shurah).
  2. Memiliki dualisme benar-salah. Ini karena, hubungan korespondensi kedua eksistensi ini bersifat aksidental, yaitu tidak hadirnya secara langsung objek eksternal, sehingga mengakibatkan adanya dualisme logis kebenaran dan kesalahan. Jika subjek benar-benar berkorespondensi dengan objek maka pengetahuan tentang realitas eksternal dikatakan benar, tetapi jika tidak terjadi korespondensi yang tepat berarti ilmu tersebut salah. Untuk itu, ilmu hushuli memerlukan neraca epistemologi yang akurat untuk dijadikan patokan atau standar yang dapat menguji hasilnya, apakah mengandung kebenaran atau sebaliknya, mengandung kesalahan.
  3. Tersusun dari konsepsi dan afirmasi. Konsepsi (tashawwur) merupakan gambaran dari suatu objek sedangkan afirmasi tashdiq) merupakan penilaian benar atau salah dalam pengetahuan manusia tentang suatu objek.
  4. Dapat ditransfer kepada yang lainnya. Hal ini karena, ilmu hushuli diperoleh dengan proses berpikir sehingga bias dikomunikasikan atau diajarkan pada yang lainnya sesuai dengan metode-metode yang akurat.
  5. Diperlukan latihan-latihan intelektual untuk pengembangannya, sebab, dengan bahan-bahan yang telah ada, akal memiliki kemampuan untuk menambah pengetahuan dan pemahaman-pemahaman yang baru.

Pada dasarnya pengetahuan manusia dapat dibagi pada dua jenis. Pertama, konsep universal (universal idea), yaitu konsep yang merepresentasikan sekian banyak hal dan benda. Contohnya: konsep manusia yang dapat diterapkan pada banyak individu. Kedua, konsep  partikular (particular idea), yaitu bentuk mental (mental form) yang hanya merepresentasikan satu maujud. Contohnya: bentuk mental tentang Candiki.[15] Ini berarti dalam pengetahuan manusia, ‘universalitas pengetahuan’ adalah kualitas suatu gagasan atau proposisi yang penerapannya pada banyak objek individual tidak mustahil atau kontradiktif secara logis, sedangkan ‘partikularitas pengetahuan’ adalah kualitas suatu gagasan atau proposisi yang penerapannya pada lebih dari satu objek individual menyiratkan absurditas atau kontradiksi logis.[16]

Kedua gagasan tersebut dapat dibagi pada beberapa jenis, yaitu :

  1. Gagasan-gagasan inderawi (sensory ideas), yakni gejala-gejala sederhana yang terdapat dalam jiwa sebagai hasil dari hubungan antara organ-organ indera dan kenyataan-kenyataan material, seperti citra pemandangan yang kita lihat atau suara yang kita dengar dengan telinga. Kelangsungan gagasan ini sepenuhnya bergantung pada kelangsungan kontak dengan alam luar. Begitu kontak itu terputus, gagasan-gagasan ini pun akan menghilang dalam sekejap.
  2. Gagasan-gagasan khayali (imaginary ideas), yakni gejala-gejala sederhana dan khas dalam jiwa yang secara langsung diakibatkan oleh timbulnya gagasan-gagasan inderawi dan hubungan dengan jagat luar. Berbeda dengan gagasan-gagasan inderawi, kelangsungan gagasan khayali tidak bergantung pada hubungan dengan jagat luar. Contohnya: citra mental pemandangan yang tetap ada dalam jiwa meskipun indera (mata) telah terpejam atau terputus hubungannya dengan alam luar, tetapi dapat kita ingat kembali walaupun sudah bertahun-tahun kemudian.
  3. Gagasan-gagasan kewahaman (ideas of prehension atau al-wahmiyyah), yakni gejala-gejala yang terkait dengan makna-makna partikular, seperti rasa permusuhan antar binatang yang menyebabkan mereka saling menjauh. Perlu diperhatikan, adakalanya gagasan-gagasan wahm digunakan untuk mengacu pada gagasan-gagasan yang tidak bersandarkan pada realitas apa pun dan adakalanya ia juga dimaksudkan sebagai ‘fantasi’ (al-tawahhum).[17]

JENIS-JENIS KONSEP UNIVERSAL

Mengenal tipe-tipe konsep universal adalah hal mendasar bagi ilmu hushuli dan sangat berguna bagi pembahasan-pembahasan filsafat pada umumnya. Ketidaktahuan akan konse-konsep universal ini akan mengakibatkan terbengkalainya problem-problem filsafat dalam jeratan kesulitan untuk menghasilkan solusi yang terbaik dan tentu saja bernilai benar.

Secara umum, konsep-konsep universal terbagi menjadi tiga kelompok :

  1. Konsep esensial (whatish concept; al-mafahim al-mahuwiyyah) atau konsep primer (first intelligibles; ma’qul awwali) yaitu konsep-konsep universal yang diabstraksikan akal setelah menangkap konsep-konsep particular. Artinya, akal secara otomatis mengabstraksikan konsep universal esensial dari beberapa pengetahuan particular yang didapatkannya dari indera atau intuisi batin. Contohya : konsep manusia, konsep putih, konsep takut, dll. Dari satu sisi, konsep esensial merupakan segi kesamaan sekelompok pengetahuan particular, dan dari sisi lain, konsep ini terlepas dan bebas dari ciri-ciri khusus setiap pengetahuan particular tersebut. Karena itu, konsep esensial dapat diterapkan pada individu-individu di alam luaran yang tidak terbatas.
  2. Konsep filsafat (philosophical concept; al-mafahim al-falsafiyyah) atau konsep sekunder (ma’qulat al-tsaniyah al-falsafiyah), yaitu konsep universal yang diperoleh melalui pengamatan akal dan melakukan perbandingan atas beberapa hal yang dipersepsikan. Contohnya : konsep sebab-akibat yang diperoleh setelah mengamati relasi dari dua hal. Umumnya, konsep filsafat ini menjelaskan hubungan-hubungan di antara entitas-entitas luaran dan ciri-ciri khas eksistensialnya, tetapi, ia tidak memiliki eksistensi di luar, ia hanya ada di mental. Jadi, konsep-konsep filsafat merupakan kualitas atau atribut untuk realitas-realitas objektif.

Ciri dasar konsep filsafat adalah menjelaskan karakter dan segi eksistensial entitas-entitas dan diperoleh lewat komparasi (perbandingan) akal dan pencermatannya atas dua hal atau lebih. Perbedaan mendasar antara konsep esensial dan konsep filsafat adalah : Pertama, konsep esensial menjelaskan batas-batas esensial entitas-entitas, sedangkan konsep filsafat menjelaskan karakter dan segi eksistensial entitas-entitas tersebut. Kedua, konsep esensial diperoleh akal hanya dengan didahului oleh satu persepsi particular atau lebih, sedangkan kemunculan konsep filsafat, disampin hal itu, juga perlu adanya pengamatan dan perbandingan (komparasi) akal di antara enstitas-entitas dan relasi di antara mereka.

  1. Konsep logika (logical concept; ma’qul tsani mantiqi) yaitu konsep universal yang tidak dapat dijadikan predikat bagi hal-hal yang menjelma di luaran, tetapi hanya untuk menjelaskan cirri-ciri khas konsep-konsep di mental (mental characterization; al-ittishaf al-dzihni). Oleh karena itu, konsep logika tidak berurusan sama sekali dengan segala realitas objektif. Adapun proses kemunculan konsep logika adalah: pertama-tama mental menangkap konsep-konsep esensial, lalu ia mengamati konsep-konsep esensial tersebut, dari pengamatan itu, ia menemukan atribut-atribut khas yang menyertai konsep-konsep esensial. Atribut-atribu itulah yang kita sebut dengan konsep-konsep logika. Contohnya: konsep ‘universal’ yang diterapkan pada ‘manusia’ sebagai konsep esensial. Konsep ‘universal’ tersebut hanyalah di dalam mental dan tidak bisa diterapkan dan diafirmasikan pada manusia yang ada di alam luaran, karena manusia di alam luaran semuanya adalah parsial dan personal, bukan universal. Contoh lain dari konsep  logika adalah seluruh konsep yang di bahas dalam ilmu mantic seperti tashawwur, tashdiqi, proposisi, induksi, silogisme, deduksi, universalia, dan lainnya.

Perbedaan antara konsep logika dengan konsep filsafat adalah bahwa konsep logika tidak ada kaitannya sama sekali dengan realitas apa pun di alam luar, tetapi mereka hanya sebagai kualitas-kualitas dan atribut untuk konsep-konsep dimental. Adapun konsep falsafi, meskipun kemunculannya ada di mental, tetapi memiliki hubungan dengan realitas luaran, bahkan ia merupakan atribut bagi realitas luaran tersebut. Dengan kata lain, dalam konsep logika, kemunculan dan penyifatannya hanya terjadi di dalam mental, sedangkan dalam konsep falsafi kemunculannya berada di mental sedangkan penyifatannya di alam luaran (iradhuhu fi al-dzihni wa at-tishafuhu fi al-kharij). [18]

Selaras dengan itu, Allamah Thabathabai, selain menyebutkan ketiga konsep di atas—konsep esensial, konsep filsafat, dan konsep logika—menambahkan satu konsep lagi yaitu konsep pemahaman logis dan saintis. Keempat konsep tersebut menurut Allamah Thabathabai dapat diperincikan sebagai berikut :

  1. Konsep real atau konsep esensial (konsep mahuwi), yaitu konsep yang mewujud baik di dalam akal maupun di luar akal, misalnya manusia dan pepohonan.
  2. Konsep filosofis :
  3. Konsep logis yaitu konsep yang menggambarkan sesuatu di dalam akal (mental), misalnya genus, differensia, dan silogisme.
  4. Konsep pemahaman logis dan saintis :
    1. Yaitu hasil figurative suatu persepsi yang meminjam konsep real untuk kemudian dimanifestasikan dalam kehidupan manusia.
    2. Konsep yang dicapai dan digunakan demi kepentingan sains serta untuk tujuan kehidupan manusia lainnya.
    3. Tidak memiliki terma logis sehingga tidak bisa dijelaskan dengan bukti demonstrative (burhan).
    4. Berbeda dengan konsep esensial, konsep ini tidak memiliki wujud eksternal yang sama.
    5. Pandangan yang merujuk pada konsep-konsep ini tidak dapat dinilai benar atau salah, penilaian tentangnya dilakukan melalui persetujuan atau penolakan terhadap tujuan-tujuan konsep tersebut.[19]
  1. Sifat-sifatnya bisa mewujud secara eksternal, misalnya eksistensi beserta karakteristik realnya, atau bisa juga tidak mewujud secara eksternal seperti halnya non-eksistensi (‘adam).
  2. Konsep-konsep yang dinisbatkan kepada wujud wajib (wajib al-wujud) dan wujud mungkin (mumkin al-wujud), misalnya : pengetahuan, kehidupan.
  3. Konsep-konsep yang menjadi predikat lebih dari satu kategori, misalnya : gerak.
  4. Konsep-konsep yang tidak mempunyai suatu terma logis (yakni genus dan differentia), dan tidak bisa disebut sebagai genus bagi kuiditas.

KRITIK TERHADAP PANDANGAN YANG MENOLAK ADANYA KONSEP UNIVERSAL

Meskipun konsep universal merupakan konsep yang jelas dan diakui, tetapi tetap ada saja kelompok yang menolaknya. Untuk itu, penulis akan mengutarakan beberapa alasan -alasan yang diajukan mereka dan mengkritisinya.

  1. Kalangan Platonis yang berpegang pada arketipe-arketipe kawruhan (intelligible archethypes) memandang bahwa pengetahuan manusia berasal dari arketipe-arketipe tersebut dan pengetahuan manusia berasal dari alam ide.  Begitu pula, konsep universal juga dicerap pada saat di alam ide sebelum di turunkan ke alam dunia ini.

Pandangan ini keliru, karena sebagian besar konsep universal –misalnya konsep ‘tiada’ dan ‘mustahil’—tidak memiliki arketipe-arketipe kawruhan. Oleh karena itu, pencerapan konsep-konsep universal jelas merupakan pengamatan terhadap kebenaran-kebenaran intelektual dan non-material. Konsep-konsep universal merupakan sejenis konsep mental yang terpahami sebagai konsep universal pada tingkat tertentu dalam benak manusia. Oleh karena itu, salah satu defenisi akal adalah kemampuan menangkap konsep-konsep mental universal. Untuk itu, para filosof Muslim berpendapat bahwa manusia memiliki daya kognitif khusus (special cognitive faculty) yang disebut akal untuk memahami (intellection) konsep-konsep universal, baik konsep-konsep itu memiliki contoh-contoh inderawi ataupun tidak.

  1. Ada yang berpendapat bahwa konsep universal adalah gagasan partikular yang samar (vague) dan bahwa pengertian-pengertian umum merujuk pada bentuk-bentuk samar (seolah-olah kepartikularan dan kekhasan telah tersapu bersih dari mereka) tidak akan menemukan hakikat konsep-konsep universal. Karena, konsep partikular yang samar dengan sedemikian rupa akan menerabas bebrapa cirri pembeda (features) dan bentuk khasnya, sehingga kita bisa menerapkan satu konsep particular pada beragam orang dan individu.

Pendapat ini keliru dikarenakan adanya konsep-konsep yang tidak memiliki contoh-contoh nyata di alam luaran, seperti konsep ‘tiada’ dan ‘mustahil’, atau konsep-konsep yang tidak mempunyai contoh-contoh material dan inderawi seperti Tuhan, malaikat, dan ruh; atau konsep-konsep yang sekaligus mempunyai contoh-contoh material maupun non-material, seperti sebab dan akibat. Selain itu, konsep-konsep tentang hal-hal yang berlawanan atau berlainan, seperti hidup dan mati, ada dan tiada, hitam dan putih, merupakan konsep-konsep yang jelas dan tidak samar.

  1. Kalangan nominalis seperti Barkeley dan Rudolf Carnap, juga menolak adanya konsep universal. Menurut mereka, istilah yang dipakai untuk menunjuk (denote) konsep-konsep universal tidak lain hanyalah merupakan istilah-istilah ekuivokal[20] yang mengacu pada banyak hal.

Pendapat ini keliru, karena tida dapat membedakan antara ekuivokal atau ambiguitas (al-isytirak al-lafzhi) dengan makna umum (al-musytarak al-ma’nawi). Ambiguitas adalah ungkapan yang merujuk pada banyak objek dan terjadi melalui konvensi (kesepakatan), seperti ‘bunga’ yang berarti imbalan jasa dari bank. Adapun makna umum adalah ungkapan yang ditetapkan dalam satu konvensi untuk merujuk pada sisi kesamaan dan keserupaan (isytirak) berbagai individu, dengan satu pengertian umum yang mengikat semuanya, seperti binatang yang dapat merujuk pada ayam yang berkaki dua atau lembu atau manusia. Ada tiga hal yang membedakan antara ambiguitas dan makna umum : a). Ambiguitas menuntut sejumlah konvensi yang ditetapkan sebelumnya, sementara makna atau pengertian umum hanya memerlukan satu konvensi; b). Ambiguitas hanya berlaku pada sederet makna yang masing-masingnya merupakan konvensi tersendiri, sedangkan makna umum dapat berlaku pada individu dan instanta yang tidak berhingga; c). Ambiguitas melibatkan banyak pengertian yang masing-masingnya membutuhkan penentuan konteks, sedangkan makna umum hanya memiliki satu pengertian umum yang dapat dipahami tanpa melihat konteks.  Dengan ketiga batasan ini jelaslah bahwa konsep universal termasuk makna umum, bukan ambiguitas.

  1. Kalangan nominalis juga mengajukan argumentasi lain. Menurut mereka, setiap konsep yang muncul dalam satu benak merupakan konsep partikular dan khas yang berbeda dengan konsep-konsep serupa yang mengemuka di benak-benak lain, bahkan satu benak dapat memberikan pengertian yang berbeda pada kesempatan berbeda tentang satu konsep yang sama. Masalahnya, bagaimana mungkin konsep-konsep universal muncul dalam benak manusia dengan sifat keuniversalannya (di satu sisi) dan kesatuan (di sisi lain)?

Pendapat ini keliru, karena tidak dapat membedakan segi konseptual dan segi eksistensial sesuatu, atau kebingungan membedakan antara prinsip-prinsip logika dengan prinsip-prinsip filsafat. Memang, semua konsep yang terjelma menjadi maujud bersifat particular dan khas, sesuai dengan kaedah para filosof ‘keberadaan setara (equivalent) dengan kepartikularan’. Kalau kita membayangkannya kembali, sesuatu itu akan mempunyai keberadaan lain (dalam benak), tetapi, keuniversalan dan kepartikularan konseptual tidak mengacu pada sisi keberadaan sesuatu, melainkan mengacu pada segi konseptualnya, yakni segi penggambaran dan pencitraannya terhadap berbagai individu (dan anggota dalam suatu konsep universal). Dengan kata lain, apabila benak dan pikiran kita meninjau konsep dari titik pandang kemampuannya mencitrakan dan memantulkan sesuatu (secara tidak mandiri) untuk menguji persesuaiannya dengan beragam individu, sifat keuniversalan akan terabstraksikan (dan termunculkan). Sebaliknya, apabila titik pandangnya berangkat dari keberadaan konsep itu di alam luar, ia akan menjadi perkara particular.[21]

KESIMPULAN

Dengan penjelasan-penjelasan di atas dapat dipahami bahwa ilmu hushuli merupakan pengetahuan yang kehadiran objek eksternal pada diri subjek tidaklah secara langsung melainkan melalui perantaraan gambaran atau bentuknya (shurah; form). Akan tetapi, proses itu tidaklah berakhir sampai di situ saja, di mana, setelah bentuk atau gamabran objek eksternal diterima subjek di dalam akal, maka akal dengan kreatifitasnya menciptakan suatu eksistensi baru (nasy’ah ilmiyah) yang tertanam dalam akal yang disebut dengan eksistensi mental (wujud al-dzihni), melaluinyalah akal mengetahui objek eksternal.

Karena kehadiran yang tidak langsung inilah, maka ilmu hushuli memiliki dualisme: kebenaran dan kesalahan, sehingga membutuhkan argumentasi dan bukti bagi kebenarannya. Artinya, jika terjadi korespondensi dengan objeks eksternal, maka pengetahuan tersebut benar, sebaliknya, jika tidak terjadi korespondensi, maka pengetahuan tersebut salah.


[1] Allamah Thabathabai, Bidayah al-Hikmah. (Qum: Muassasah Nasr al-Islami, 1415 H), h. 139.

[2] Lihat Mehdi Hairi Yazdi, Menghadirkan, h. 79.

[3] Mehdi Hairi Yazdi, Menghadirkan, h. 80-81.

[4] Mehdi Hairi Yazdi. Menghadirkan, h. 81.

[5] Mulla Sadra, al-Hikmah al-Muta’aliyah fi al-Asfar al-Aqliyah al-Arba’ah Jilid III. (Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1410 H), h. 313. Lihat juga Fazlur Rahman, Filsafat Shadra. (Bandung: Pustaka, 2000), h. 281.

[6] Mulla Sadra, al-Hikmah al-Muta’aliyah, h. 337; Fazlur Rahman, Filsafat Shadra, h. 281-282.

[7] Fazlur Rahman, Filsafat Shadra, h. 282.

[8] Lihat Mehdi Hairi Yazdi, Menghadirkan, h. 106-107.

[9] Korespondensi bermakna  kesesuaian atau “kemiripan” dalam isi dan “keidentikan” dalam bentuk.

[10] Lihat Mehdi Hairi Yazdi, Menghadirkan, h. 79.

[11] Lihat Mehdi Hairi Yazdi, Menghadirkan, h. 103-108.

[12] Mehdi Hairi Yazdi, Menghadirkan, h. 75.

[13] Mehdi Hairi Yazdi, Menghadirkan, h. 76.

[14] Mulla Sadra, al-Hikmat al-Muta’aliyat jilid I (Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1410 H), hlm. 266.

[15] Misbah Yazdi, Buku Daras, h. 102.

[16] Mehdi Hairi Yazdi, Menghadirkan, h. 182.

[17] Misbah Yazdi, Buku Daras, h. 102-103.

[18] Lihat Misbah Yazdi, Buku Daras, h.111-114; M.T. Misbah Yazdi, Meniru Tuhan. (Jakarta: Al-Huda, 2006), h.24-28; Toshihiko Izutsu. Struktur Metafisika Sabzawari. (Bandung: Pustaka, 2003), h. 33-34.

[19] Mas’oud Oumid, Epistemologi, h. 134-135; Allamah Thabathabai, Nihayah al-Hikmah, h. 243-259.

[20] Ekuivokal adalah suatu istilah yang mengandung lebih dari satu pengertian. Contoh: kepala, bulan, badan. Ekuivokal berasal dari bahasa latin aequus yang artinya sama dan vox yang artinya bunyi atau suara. Secara harfiah ekuivokal berarti bunyinya sama artinya berbeda. Lawannya adalah univocal yang berarti suatu istilah yang hanya mengandung satu arti. Contoh : manusia, bumi.

[21] Lihat Misbah Yazdi, Buku Daras, h. 104-109.

%d blogger menyukai ini: