BELAJAR SYIAH, MERAJUT UKHUWAH

BELAJAR SYIAH, MERAJUT UKHUWAH

Tanggapan Tulisan M. Nasir dan Fakhrurrazy Pulungan Tentang Syiah

Oleh : Candiki Repantu

(Ketua Yayasan Islam Abu Thalib)

 

Membaca tulisan Ustadz Nasir dan Ustadz Fachrurrazy Pulungan, terlihat adanya prasangka dan kesalahpahaman, tanpa bukti atau tanpa mengetahui dengan baik argument seseorang. Misalnya, tuduhan syiah memiliki syahadat tiga, menyatakan Alquran tidak asli, mencaci maki sahabat, emngkafirkan Aisyah ra. Ini namanya hasty generalization (generalisasi terburu-buru), sebuah kesalahan berpikir dalam menilai argumentasi seseorang.

Terlihat pula kontradiksi dalam tulisannya. Misalnya, Ustadz Nasir menulis, “Perbedaan dalam fikih dapat dimaafkan…akan tetapi persoalan akidah tidak dapat ditolerir…” Tetapi kemudian tulisannya memasukkan persoalan fikih. Lihatlah pada poin 12 (soal membaca ‘amiin’ dalam shalat), poin 13 (soal shalat jama’), dan poin 14 (soal shalat dhuha), semuanya adalah persoalan fikih. Sebagai exercise, apakah syiah sesat karena tidak membaca ‘amiin’ dalam shalat (padahal itu sunnah), menjama’ shalat (yang juga ada dalam sunni), dan tidak shalat dhuha (yang hukumnya sunnah). Saya mau Tanya kepada Ustadz Nasir apakah ketiga hal itu menyebabkan orang sesat dan tidak berakidah Islam?

Agar terhindar dari semantic fallacies—kesalahan berpikir akibat salah member makna atau menggunakan kata-kata—maka saya batasi makna syiah dimaksud adalah syiah imamiyah itsna asyariyah, yaitu syiah yang meyakini pasca Nabi SAW, pemimpin Islam adalah 12 imam dari keluarga Nabi yaitu Ali, Hasan, Husein, Ali bin Husein, Muhammad bin Ali, Ja’far bin Muhammad, Musa bin Ja’far, Ali bin Musa, Muhammad bin Ali, Ali bin Muhammad, Hasan bin Ali, dan Muhammad bin Hasan.

Tentang Abdullah bin Saba’

           

            Ustadz nasir menyebut Abdullah bin Saba’ (ibnu Saba’), “kuat dugaan perpecahan di tubuh umat Islam terjadi karena provokasi Abdullah bin Saba’ (seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam)”.

            Pembahasan Ibnu Saba’ bias dinilai dari dua hal. Pertma, keberadaan Ibnu Saba’. Ulama syiah dan sunni ada yang menerimanya, ada yang menolaknya. Studi sistematis tentang Ibnu Saba’ dilakukan Murtadha al-Askari dalam bukunya Abdullah bin Saba’ wa Asathirul Ukhra yang nyaris mencapai 1000 halaman. Setelah meneliti sumber cerita Ibnu Saba’ dari syiah dan sunni, ia menyimpulkan Ibnu Saba’ adalah tokoh fiktif. Ulama sunni yang menganggap Ibnu Saba’ itu fiktif di antaranya adalah Thaha Husein, Dr. Hamid Hafna Daud, Hasan farhan al-Maliki, dan Abdul Aziz Halabi.

            Kedua, pendapat syiah tentang Ibnu Saba’. Kalaupun Ibnu Saba’ itu ada, tetapi ulama syiah tidak menganggap Ibnu Saba’ sebagai tokoh syiah dan sahabat Imam Ali. Ulama syiah mengecam serta berlepas diri (tabarri) darinya. Jelaslah persoalan Ibnu Saba’ tidak ada kaitannya dengan mazhab syiah. Mungkinkah orang yang ditolak keberadaanya atau dikecam ulama syiah dijadikan tokoh panutan dalam syiah? Sungguh kesimpulan yang gegabah.

Poin-poin Tanggapan

 

            Pertama, tentang syariat (ibadah). Ustadz Nasir (pada poin 1) dan Ustadz Fachrurrazy (pada bag. 2) menuliskan rukun Islam sunni dan syiah. Dari yang mereka tulis, maka terlihat persamaannya bukan perbedaan. Yakni sama-sama shalat 5 kali sehari semalam, membayar zakat, puasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah. Ada dua perbedaan, yaitu persoalan syahadat dan wilayah (kepemimpinan).

            Syiah juga mengucapkan syahadat sebagaimana orang sunni mengucapkannya. Lebih jelas, pelajari shalat syiah, perhatikan bacaan tasyahud mereka yang di dalamnya ada syahadat, “Asyhadu an la ilaha illallah, wahdahu la syarika lahu, wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluhu,” tanpa ada tambahan apapun. Jadi anggapan Ustadz Nasir (pada poin 3) bahwa syiah memiliki 3 kalimat syahadat sungguh keliru. Adapun persoalan wilayah (kepemimpinan ahlul bait), adalah komitmen syiah menerima ajaran Islam dari nabi dan ahlulbait-nya baik masalah akidah, hokum, ibadah dan lainnya. Salahkah, jika mengikuti ahlul bait Nabi?

            Kedua, tentang keimanan (akidah). Dalam syiah keimanan itu terbagi dua yakni ushuluddin (dasar agama) dan ushulul mazhab (dasar mazhab). Ushuluddin itu ada 3 yaitu Tauhid (ketuhanan), Nubuwah (kenabian), dan Ma’ad (kebangkitan di akhirat). Adapun ushulul mazhab ada dua yaitu al-adl (keadilan) dan Imamah (kepemimpinan). Inilah yang disebut ushulul khamsah (dasar yang lima) dalam syiah.

            Lantas, apakah syiah tidak percaya pada malaikat, kitab-kitab, dan takdir (qada dan qadar). Jangan gegabah menyimpulkannya! Syiah percaya semua itu. Syiah memasukkan kepercayaan pada malaikat dan kitab dalam bab kenabian, karena nabilah yang menerima wahyu melalui perantara malaikat. Silahkan baca seluruh kitab akidah syiah, maka Anda akan menemukan pembuktian atas kenabian, malaikat dan wahyu (kitab suci). Jadi syiah mempercayai kenabian, malaikat dan kitab suci. Adapun takdir dimasukkan syiah di bab keadilan, sebab keadilan adalah dasar keyakinan pada takdir.

            Ketiga, tentang sahabat dan Aisyah ra. Di antara yang sering dituduhkan adalah tentang shabat dan Aisyah ra.  Ustadz nasir pada poin 7 dan 8 menyebutkan bahwa syiah mencaci maki sahabat dan mengkafirkan Aisyah ra. Untuk menjawabnya, saya kutipkan fatwa resmi pemimpin syiah Ayatullah Ali Khamenei, “Diharamkan melakukan penghinaan terhadap (tokoh-tokoh yang diagungkan) Ahlussunnah apalagi melontarkan tuduhan terhadap isteri Nabi dengan perkataan yang menodai kehormatannya, tindakan demikian harap dilakukan terhadap isteri para Nabi terutama Rasul termulia.”

            Keempat, tentang hadits syiah. Ustadz Nasir (poin ke-9) dan juga Ustadz Fachrurrazy mempersoalkan ilmu dan kitab hadits syiah. Ulama syiah menyusun keilmuan Islam di seluruh cabangnya, termasuk hadits. Salahkan syiah jika memiliki kumpulan hadits dari keluarga Nabi? Bagi syiah, riwayat dari 12 imam adalah hadits seperti hadis rasul, karena seluruh ilmu imam syiah bersumber dari Rasulullah. Imam Ja’far Shadiq berkata, “Hadis yang aku riwayatkan adalah dari ayahku, yang didapat dari kakekku. Dan hadis kakekku adalah dari datukku Husein. Dan hadis Husein adalah juga hadis Hasan. Dan hadis Hasan berasal dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Dan hadis Ali berasal dari Rasulullah SAW. Dan hadits Rasulullah SAW berasal dari wahyu Allah ajja wa jalla.” (al-Kafi, juz 1). Ucapan imam Ja’far ini membantah Ustadz Fachrurrazy yang mengatakan, “semua hadis yang dikeluarkan para imam tidak perlu disandarkan kepada Nabi.”

            Kelima, tentang Alquran. Ustadz nasir (poin ke-10) dan juga Ustadz Fachrurrazy menganggap syiah meyakini Alquran tidak asli lagi. Ini tuduhan palsu. Ulama syiah menegaskan bahwa Alquran terjaga sampai kiamat. Syaikh Shaduq (w. 381 H) dalam kitabnya al-I’tiqadat hal. 83-84 menyatakan : “Keyakinan kami tentang Alquran, adalah Kalam Allah, wahyu-Nya, firman dan kitab suci-Nya. Ia tidak didatangi kebatilan dari depan maupun belakang…”

            Keenam,tentang surge dan cinta kepada Ali. Pada poin ke-11 Ustadz nasir menulis, “menurut syiah surge diperuntukkan bagi orang yang cinta kepada Imam Ali walaupun tidak taat kepada Rasulullah SAW, dan neraka diperuntukkan bagi orang yang memusuhi imam Ali, walaupun taat kepada Rasulullah.”  Sebagai tanggapan, Allah berfirman, “Taatilah Allah, taatilah Rasul, dan Ulil Amri kalian” (Q.S. an-Nisa : 59). Pada ayat itu ada tiga ketaatan, yaitu taat pada Allah, Rasul, dan ulil amri (yang dalam penafsiran syiah adalah 12 imam). Lantas bagaimana mungkin syiah mempertentangkan kecintaan kepada Ali dan ketaatan pada Rasul?

            Syaikh Kulaini dalam al-Kafi meriwayatkan Imam Baqir berkata, “Apakah cukup seseorang menganggap dirinya syiah dengan hanya mengatakan kecintaan kepada kami, ahlul bait? Demi Allah, Tidak! Seseorang tidak termasuk syiah kami kecuali dia takut pada Allah dan menaati-Nya.”

Ketujuh,tentang Q.S. al-Maidah : 55. Ustadz Fachrurrazy mengulas Q.S. al-Maidah : 55 yang berbunyi, “sesungguhnya wali kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka ruku’.”

Perhatikan, ayat tersebut menyebut 3 jenjang kewalian (kepemimpinan), yakni: 1). Allah, 2). Rasulullah, 3). Orang-orang yang beriman yang membayar zakat ketika ruku’. Para ahli tafsir menyebutkan bahwa, “orang beriman yang mendirikan salat dan membayar zakat ketika ruku’” adalah Ali bin Abi Thalib. Banyak hadits menyatakan, “Pada saat ruku’ Ali memberikan cincinnya kepada pengemis, maka turunlah ayat tersebut, Q.S. al-Maidah: 55.” Banyak sahabat meriwayatkannya, seperti Abu Dzar, Anas, Ibnu Abbas, jabir dan Ali, yang tercatat di kitab-kitab sunni seperti Tafsir Ibnu Katsir, Asbab an-Nuzul al-Wahidi; Tafsir al-Kabir al-Razi, Tafsir Thabari, Syawahid at-Tanzil al-Hiskani, dan lainnya. Jadi, Ustadz Fachrurrazy menyatakan, “tidaklah mungkin ayat tersebut turun mengenai Ali bin Abi Thalib yang menjadi imam tertinggi, sementara Rasulullah SAW masih hidup dan menjadi Rasul” tertolak dengan hadits di atas. Kesimpulannya, bahwa Imam Ali telah dipilih sebagai wali (pemimpin) sejak masa Rasul masih hidup, dan secara total pasca wafatnya Rasul SAW. Wallahu a’lam. (Dimuat oleh Harian Waspada, Jum’at, 28 September 2012).      

PERSAMAAN SUNNI – SYIAH

PERSAMAAN ALIRAN SUNNI-SYIAH

Aliran shiah (syiah) tidak hanya berada di Iran atau Negara-negara Arab lainnya, namun nyatanya juga punya pengikut di Indonesia, termasuk di Sumatera Utara. Kasus konflik terjadi di Sampang, Jawa Timur, belum lama ini barangkali, dan juga tidak salah kalau disebut sebagai salah satu factor terungkapnya secara menyeluruh di bumi persada nusantara ini bahwa aliran syiah itu juga ada di Indonesia.

Munculnya pendapat yang menyebut syiah itu bukan Islam, telah mengundang reaksi keras dari kelompok jamaah syiah di Sumatera. Kalau aliran sunni mempunyai empat imam yang dipercaya dan turut diakui jamaah syiah, namun sebaliknya syiah juga mempunyai imam dengan mazhabnya yang juga diakui ulama sunni. Pro-kontra mengenai syiah ini akan terus berkembang apabila masing-masing pribadi atau kelompok tidak memahami secara mendalam ajaran Islam yang dianut syiah. Berikut wawancara wartawan Harian Waspada Aidi Yursal (AY) dengan Ketua Yayasan Islam Abu Thalib, Candiki Repantu (CR) yang juga ustadz syiah, serta juga dengan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara Prof. Dr. Abdullahsyah, MA (Prof).

*****************************************

               

      Candiki Repantu

(Ketua Yayasan Islam Abu Thalib Medan)

AY : Pak Ustadz, darimana sebenarnya akar permasalahan sehingga terjadi aliran syiah yang basisnya berada di Iran dengan pengikutnya bertebaran di mana-mana terutama di Negara-negara timur –tengah?

                CR : Perlu saya jelaskan, saat membicarakan syiah kita harus membatasi persoalannya agar terhindar dari semantic fallacies, yaitu kesalahan berpikir karena salah member makna atau menggunakan kata. Syiah itu secara bahasa artinya pengikut, tetapi secara teknis, saat ini syiah itu berrarti kelompok Islam yang meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW wafat, maka yang melanjutkan kepemimpinan Islam adalah Ali bin Abi Thalib dan sebelas keturunannya. Jadi, jumlah 12 orang. Dan inilah yang disebut syiah imamiyah ithna asyariyah. Keyakinan berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa sepeninggalnya ada 12 imam/khalifah yang harus diikuti.

                Begitu pula Nabi bersabda yang maknanya : “Aku tinggalkan bagi kamu dua hal yang berharga yang jika kamu berpegang teguh kepadanya tidak akan sesat selamanya, yaitu Kitabullah dan Keturunanku, Ahlulbaitku.” Hadits tersebut diriwayatkan baik oleh sunni ataupun syiah. Jadi syiah menjadikan ahlul bait Nabi Rasulullah sebagai panutan dan pemimpin umat. Begitu pula Nabi Muhammad SAW menyatakan : “Siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpin, maka Ali adalah pemimpinnya stelahku.” Jadi pada dasarnya perbedaan antara sunni dan syiah itu adalah tentang kepemimpinan pasca Nabi Muhammad SAW. Namun bagi syiah sendiri hal itu tidaklah menyebabkan seseorang itu keluar dari Islam atau kafir.

                AY : Apa syiah ini juga punya pecahan atau terbagi lagi?

                CR : Ya memang. Sedikitnya tiga kelompok atau mazhab yang ada saat ini dalam syiah. Kelompok syiah terbesar bernama Ithna Ashariyya, dan paling kecil bernama Ismaili dan Zaidi. Menurut keputusan risalah Amman yang ditandatangani ulama sedunia, termasuk Indonesia tahun 2005, bahwa aliran syiah ithna (itsna) Asyariah dan Zaidiyah adalah mazhab resmi dalam Islam. MUI juga mengakuinya.

                AY : Syiah dengan kelompok jamaahnya jelas ada di Indonesia, termasuk di Medan. Bagaimana pandangan aliran sunni di Indonesia?

                CR : Kalau boleh kita bagi secara kasarnya, di dunia ini hanya dua kelompok atau aliran yaitu aliran syiah dan sunni. Syiah terbagi lagi dalam beberapa mazhab sebagai kita sebutkan di atas, dan demikian pula aliran sunni dengan beberapa mazhab. Namun di Indonesia ini sering orang tidak mau menyebut dirinya dari aliran syiah atau sunni dan lebih mau disebut sebagai penganut Islam saja. Bahkan dalam ranah yang lebih kecil lebih mau menyatu dalam organisasinya seperti NU, Muhammadiyah, al-Washliyah dan lain-lain.

                AY : Apa persamaan mendasar antara syiah dan sunni?

                CR : Persamaan mendasar adalah terdapat pada rukun Islam, yaitu antara syiah dan sunni sama-sama mengakui lima rukun Islam, yaitu percaya kepada Allah dan para Rasul, shalat lima waktu sehari semalam, berpuasa pada bulan ramadhan, zakat dan naik haji ke Makkah. Khusus mengenai shalat lima waktu, terkadang orang kurang begitu paham dan malah menuding aliran syiah shalatnya 3 waktu sehari semalam. Padahal kami di syiah itu boleh menjamak shalat yang sama jumlah rakaatnya dilaksanakan dalam satu waktu bila ada suatu tugas yang mungkin saja bias-bisa lalai dalam menunaikannya, seperti shalat Zhuhur dan Ashar, orang bias menjamaknya atau menyatukan. Lain lagi dengan apabila kita dalam perjalanan jauh umpamanya, kita itu bukan menjamaknya tetapi meng-qashar-nya atau memendekkannya, dan juga dilakukan jamaah sunni. Jadi tidak benar anggapan itu bahwa jamaah syiah shalatnya tiga waktu saja sehari semalam. Singkatnya, shalat tertentu seperti Zhuhur-Ashar, Maghrib dan Isya boleh dijamak dan boleh tidak dijamak.

                AY : Kalau ada persamaan, kenapa menurut pandangan pak ustadz kok mesti akhir-akhir ini menjadi diributkan?

                CR : Konflik sunni-syiah lebih banyak dikarenakan kesalahpahaman saja. Selama ini ada kepentingan politik internasional untuk menghancurkan persatuan kaum muslimin. Karena jika kaum Muslimin bersatu maka musuh ulama Islam yaitu Amerika dan Zionis Israel serta antek-anteknya akan kehilangan kekuatan. Negara-negara Islam bersatu akan menjadi kekuatan adidaya di dunia ini. Sebenarnya banyak saudara-saudara kita orang sunni yang menyadari hal ini dan berjuang untuk persatuan umat Islam. Bahkan sekarang ini telah berdiri lembaga pendekatan antar mazhab untuk membangun kesatuan umat Islam dunia yang beranggotakan ulama-ulama baik dari sunni ataupun dari syiah. Jadi isu yang memvonis syiah itu sesat, kafir, dan Alquran-nya beda, mengkafirkan sahabat, adalah isu “murahan” yang tidak relevan lagi dimunculkan. Sebab masyarakat kita sudah cerdas dan bias memilah-milah antara fitnah dan kenyataan. Jadi perbedaan itulah yang dibesar-besarkan yang sepertinya ada pribadi atau kelompok yang menginginkan aliran syiah dan pengikutnya harus disingkirkan di muka bumi persada nusantara ini. Saya sendiri tidak tahu apa motif dan kepentingannya.

                AY : Apa ada menurut pandangan orang syiah, ada budaya syiah yang juga dilakukan orang sunni seperti yang mungkin juga terdapat di Indoensia?

                CR : Ya memang ada. Beberapa contoh adalah pelaksanaan acara kenduri, itu adalah budaya orang syiah. Kenduri itu bahasa Persia untuk memperingati sesuatu. Mengadakan acara 40 hari meninggalnya anggota keluarga, itu adalah budaya keagamaan orang syiah. Di Bengkulu itu ada namanya Tabot, di Padang Pariaman (Sumbar) ada Tabuik, di Jawa ada bubur asyura dan lainnya. Kesemua acara ini digelar pada hari asyura, hari memperingati kematian Hussein, anak Ali bin Abi Thalib. Namun orang syiah tidak mau mengklaim dan ribut-ribut soal itu karena yang sebenarnya itu adalah hak orang syiah yang kalau di Irak dimeriahkan dengan ziarah ke Karbala (Irak), tempat makam Ali dan Husein.

                AY : Tadi soal persamaan, apa pula perbedaan syiah atau sunni?

                CR : Aliran saja sudah berbeda, tentu jelas ada perbedaannya. Perbedaan utama antara sunni dan syiah terletak pada soal kepemimpinan. Persoalan fikih itu adalah ijtihad yang merupakan cabang dalam Islam. Perbedaan lain paling sederhana bias dilihat sewaktu anggota jamaah syiah shalat, mereka tidak melipat kedua tangannya dengan meletakkan di atas dada seperti yang dilakukan jamaah sunni, tetapi hanya berdiri lurus dengan kedua tangan tanpa melipat atau meletakkan di dada. Malah cara shalat dengan meluruskan tangan itu juga ada di sunni, yaitu pada mazhab Maliki. Selain itu orang syiah kalau menyalatkan jenazah terdiri dari lima takbir sementara orang sunni empat takbir. Makanya kalau kami dari syiah menjadi imam dalam menyalatkan seorang jenazah terlebih dahulu mengingatkan jamaah bahwa shalat jenazah ini terdiri dari lima takbir, dan sehingga jamaah tidak kebingungan dan muncul protes selama atau setelah shalat.

                AY : Pak Ustadz, apakah ada masjid orang syiah di Medan ini?

                CR : Jamaah syiah di Medan ini tdiak punya masjid khusus. Mereka bergabung dengan jamaah Muslim lainnya tanpa muncul perbedaan mendasar. Mereka shalat di masjid sunni. Jadi tidak ada masalah antara syiah dengan saudara kita umat Muslim lain di Medan ini. Dan Medan dengan heterogenitas masyarakatnya dapat menjadi contoh meredakan konflik bagi daerah lain di Indonesia.

**************************************

Prof. Dr. Abdullah Syah, MA

(Ketua MUI Prop. Sumatera Utara)

AY : Assalamualikum pak Prof, saya ingin minta tanggapan pak Prof mengenai keberadaan aliran syiah di Indonesia, khususnya Sumatera dengan kota Medannya?

Prof: Alaikumussalam Pak Aidi. Sepanjang yang saya ketahui, jumlah jamaah syiah sangat kecil di Sumatera Utara ini. Dan dalam melakukan ibadah mereka juga tidak ada masalah, dan malah cara ibadahnya boleh disebut sama seperti yang dilakukan Ahlussunnah Wal jamaah (sunni).

AY : Apa harapan Bapak Prof kepada jamaah syiah walau berada dalam kelompok minoritas atau kepada jamaah sunni atau Ahlussunnah wal Jamaah?

                Prof : Kita berharap jamaah syiah atau kepada jamaah sunni agar bias melakukan ibadah secara sama, kalaupun ada perbedaan umpamanya hendaknya dalam perbedaan yang wajar saja tanpa menyolok dan tanpa menimbulkan keresahan jamaah. Selagi ada kesamaan baik dalam ibadah, akhlak dan syariah, ya tidak masalah.

                AY : Bagaimana dengan konflik di Sampang yang katanya dipicu masalah syiah?

                Prof : Kita di Sumut ingin hidup satu sama lain secara harmonis, saling menghargai dan saling menghormati dengan jalinan persaudaraan yang kuat. Itu bukan hanya antara jamaah sunni dan syiah, tetapi dengan saudara-saudara kita dari umat lain sangat penting dijalin tali persaudaraan yang kokoh itu. Kita di Sumut ini ingin hidup tenang, aman, damai tanpa konflik sehingga kita masing-masing dari agama mana pun dan etnis apapun bias beraktivitas setiap hari dengan baik, lancer dan penuh kedamaian sehingga kita bias menuju hidup yang lebih makmur dan lebih sejahtera. Dan kita juga mengisyaratkan kepada saudara-saudara kita di daerah lain, agar bias menjadikan contoh dan tauladan daerah Sumut  dalammenjalani hidup dan kehidupan yang harmonis, aman dan damai dengan menyingkirkan jauh-jauh konflik dalam keberagaman perbedaan yang saling dimengerti dan saling dipahami.

                AY : Apa yang ditakuti dengan keberadaan aliran syiah itu pak Prof?

                Prof : Yang kita perlu sikapi secara hati-hati adalah kalau ada aliran syiah yang sesat, karena syiah itu juga punya banyak aliran, dan salah satu darinya mungkin saja aliran sesat. Di Sunni pun bukan tidak mungkin bias terjadi. Malah sudah banyak kita dengan laporan ada aliran sesat yang cukup meresahkan masyarakat. Yang jelas sunni dan syiah perlu menjalin hidup berdampingan yang penuh perdamaian dan harmonis tanpa konflik. (sumber : Koran Nasional Harian Waspada, Rabu, 12 September 2012)