volume II

MEMUPUK KECINTAAN KEPADA RASULULLAH SAW MELALUI SHALAWAT PROGRESIF

Oleh:  Salahuddin Harahap, MA

Pendahuluan

Dalam salah satu dialog sederhana penulis bertanya kepada seorang ulama prihal kedudukan shalawat sebagai ungkapan rasa cinta kepada Nabi saw. Penulis bertanya sebagai berikut: “Wahai tuan guru ! bagaimana cara anda mengungkapkan kecintaan kepada ar-Rasul saw, adakah lantunan shalawat dan komitmen mengamalkan ajaran-ajaran yang terkandung dalam hadisnya sudah cukup menjadi bukti rasa cinta dan pengabdian kita”. Dengan nada sedikit keras dan sedih sang guru menjawab: “Ketahuilah akhy (saudaraku), sesungguhnya ar-Rasul saw, mencintai para ahlulbaitnya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Ketika Allah mengatakan barang siapa menjadi teman bagi ar-Rasul adalah teman Allah dan yang menjadi musuh ar-Rasul adalah musuh Allah, maka kecintaan dan kebencian Allah tidak terpisah lagi dari kecintaan dan kemarahan ar-Rasul. Dengan demikian saudaraku jika anda benar-benar

mencintai ar-Rasul, setidaknya anda bisa merasakan kegembiraan pada saat beliau bergembira dan merasakan kesedihan pada saat beliau sedang bersedih. Apakah engkau telah mengetahui kapan kekasih Allah ini bergembira dan kapan pula bersedih hati”.

Dialog ini meski berlalu sangat singkat, namun merupakan pukulan telak bagi jiwa penulis sebagai seorang yang kerap berinteraksi dengan kalimat-kalimat ar-Rasul (hadis) dan mengungkapkan kekaguman atas kecerdasan dan kebijaksanaannya, namun tidak pernah terpikir untuk berinteraksi dengan suasana batin yang dialami ar-Rasul dan keluarganya ketika mereka menghabiskan masa hidupnya dalam memperjuangkan agama Allah ini.

Dipengaruhi suasana haru ini penulis mencoba mengurai sepenggal renungan yang diharapkan dapat memupuk rasa cinta dan kerinduan kita kepada ar-Rasul saw beserta keluarganya.

Cinta Kepada ar-Rasul Saw, (Shalawat yang Progresif

Setiap kali seorang muslim dipercayakan menyampaikan sambutan, pengarahan, ceramah, khutbah, atau bahkan kesan dan pesan, selalu saja ia menyelipkan seruan mengucapkan shalawat kepada ar-Rasul dalam muqaddimah pembicaraannya. Ironinya, hal ini jarang dan hampir tidak kita temukan ketika seseorang melakukan pekerjaan secara sendiri atau ketika ia berbicara di forum non-formal alias tidak banyak yang mendengarkan.

Trend mengucapkan shalawat tentu menjadi satu hal yang pantas disyukuri, sebab melalui ungkapan ini setidaknya pendengaran anak-anak kita masih akrab dengan nama besar ini. Rasanya tidak terbayangkan jika pada suatu saat anak-anak kita sudah tidak lagi mengenal nama ini sebagaimana pergeseran yang terjadi pada makna dan eksistensi shalawat yang hanya tinggal hiasan muqaddimah pembicaraan di kalangan kita saat ini.

Dalam sebuah analisis disampaikan bahwa satu-satunya perintah Allah yang diwajibkan kepada diri-Nya dan makhluk-Nya adalah bershalawat kepada ar-Rasul. Hal ini menarik karena khusus untuk persoalan ini konsep (al-amr min al a`la ila al-adna) perintah itu dari yang lebih tinggi kepada yang lebih rendah seolah tidak berlaku. Jika analisis ini dapat diterima maka, perintah bershalawat kepada ar-Rasul merupakan persoalan ushuly yang harus dipatuhi setiap makhluk, tanpanya keimanan kepada Allah dengan sendirinya akan tertolak.

Namun, tentu saja yang dimaksud dengan shalawat atau bershalawat di sini tidak sesederhana yang kerap kita aplikasikan sehari-hari yakni sebagai hiasan muqaddimah ceramah-ceramah atau sambutan-sambutan kita. Namun lebih jauh shalawat hendaknya memiliki nilai yang signifikan sebagai gerbang mengungkapkan kecintaan kita kepada ar-Rasul. Jika shalawat Allah kepada ar-Rasul dapat dipahami sebagai pemberian berkah, pemeliharaan, penjagaan, kecintaan dan kasih sayang Allah kepadanya, yang dengannya perjuangan dakwah ar-Rasul dapat terlaksana, maka shalawat kepada ar-Rasul harus memiliki nilai progres dan nilai  perjuangan yang lebih nyata.

Jika shalawat disyarati dengan nilai progresifitas, tentu yang dimaksud bukan sebatas ucapan shalawat ketika mengawali pembicaraan sebagaimana yang telah tertradisikan. Tetapi ia harus menjadi penghubung pikiran, jiwa dan bahkan perjuangan kita dengan ar-Rasul berserta para keluarga dan sahabatnya yang setia. Dengan ungkapan lain saya ingin menyatakan, ketika lisan-mu mengucapkan shalawat hendaknya hati dan jiwamu segera menyelami dan bergabung dengan kondisi hati dan jiwa ar-Rasul ketika beliau memperjuangkan agama Allah ini (kesedihannya menjadi kesedihanmu, kegembiraannya menjadi kegembiraanmu). Bersamaan dengan itu hedaknya nalar dan pikiranmu segera menyahuti pelbagai persoalan yang dihadapi umat ini, sebagaimana ar-Rasul menggunakan akalnya memikirkan solusi terhadap berbagai masalah yang menghambat perjuangannya dan para sahabat dan keluarga yang dicintainya. Lebih jauh hendaknya semangat juang dan komitmenmu segera mengkristal sebagaimana tertanam dalam diri ar-Rasul dan umat yang setia kepadanya.

Apabila hal ini dapat dibangun pada diri setiap muslim, maka ucapan shalawat dan seruan bershalawat tidak hanya mengundang sambutan, “Allahumma shalli ala Muhammad wa ali Muhammad” yang diucapkan secara koor oleh jamaah, tetapi lebih jauh dapat menumbuhkan semangat serta komitmen dalam diri setiap jamaah untuk senantiasa melanjutkan perjuangan ar-Rasul dalam membela dan memelihara kebenaran agama Allah ini, melalui lisan, pikiran, jiwa maupun aksi.

Shalawat dengan makna ini,telah dicontohkan oleh para sahabat ar-Rasul semisal Ali Ibn Abi Thalib, Bilal ibn Robbah, Salman al-Farisi, Hamzah ibn Abdul Muthalib, Abu Dzar al-Ghiffari, beserta sahabat lain yang mencintai dan setia kepada perjuangan ar-Rasul. Bahkan sebagaimana yang dikedepankan oleh Ali Syari`ati semangat bershalawat ini akan lebih pantas dimaknai sebagai “falsafah syahadah” sebagaimana yang dicontohkan oleh Imam Husain bin Ali dalam perjuangannya di Karbala.

Husain ibn Ali Ra, adalah cucu tercinta ar-Rasul yang dibesarkan dalam madrasah Madinatul`Ilmi (kakeknya Rasulullah saw) dan Babul `Ilmi (ayahnya Ali ibn Abi Thalib), menamatkan dua perguruan tinggi ini telah menghantarkan beliau menjadi seorang pemimpin sekaligus menjadi imam bagi umat Islam saat itu. Apa yang diwarisinya dari kakek dan ayahnya dari keimanan, ilmu, dan kebijaksanaan telah membuatnya dicintai dan mencintai umat dan menjadi penerus dan pemelihara seluruh ajaran agama yang dibawa kakeknya. Bagi Husain Ra, Islam bukan hanya sebuah agama yang harus diperjuangkannya hanya karena agama ini dibawa kakeknya, akan tetapi karena baginya Islam-lah yang mampu menyelematkan umat manusia sebagaimana kakeknya menjelskan posisi kenabiannya sebagai rahmat bagi sekalian alam.

Dengan dasar keimanan yang sekokoh ini, Al-Husain ra, tidak pernah menghembuskan satu nafas pun kecuali di dalam jiwanya telah terbangun komitmen untuk senantiasa membela agama Allah ini. Bagi al-Husain ra, inilah yang harus dipersembahkannya kepada kakeknya, sebagai wujud dari shalawatnya. Semangat shalwat ini pulalah yang mendoronganya untuk maju ke medan perang Karbala bersama para keluarganya bukan menyongsong kematian apalagi untuk merebut jabatan politik, tetapi untuk mengumumkan kepada dunai bahwa wujud shalawat tidak hanya berhenti dalam hati, pikiran, apalagi hanya semboyan, tetapi ia harus menjelma menjadi sebuah aksi, perjuangan dan revolusi. Jika shalawat semacam ini dapat diterapkan, maka seorang manusia akan mengerti mengapa Allah sampai bershalawat kepada nabi-Nya.

Imam Husain ra, telah memproklamirkan shalawatnya dalam bentuk revolusi, Zainal Abidin anaknya telah mengungkapkan shalawatnya melalui do`a dan seruan-seruan yang mampu menggetarkan jiwa langit dan bumi, sekarang tinggal giliran kita. Saat ini kita dihadapkan kepada sejumlah problematika baik yang mengancam kemanusiaan maupun eksistensi agama kita. Tantangan yang muncul tidak hanya bersifat teoritis tetapi telah meliputi revolusi, evolusi, baik melalui kemasan komunikasi maupun setting global. Untuk itu perlu kiranya digagas sebuah pola bershalawat yang lebih efektif, lebih progres. Jika kenabian Muhammad saw, kebesaran pedang zulfikar di tangan Ali ra, serta keberanian Husain ra di Medan Karbala merupakan rentetan pewujudan sejarah shalawat dalam ranah aksi, maka shalawat harus dilihat sebagai ideologi perjuangan menegakkan kebenaran agama Allah dan untuk itu kita perlu merumuskan shalawat yang lebih bemakna dan lebih kontekstual..

Penutup

Tauhid dan shalawat adalah dua modal penting dalam memperjuangkan agama Allah. Keputusan Allah untuk beshalawat dan memerintahkan shlawat kepada malaikat, jin, dan manusia merupakan suatu isyarat betapa shalawat harus menjadi bangunan ideologis yang dapat menghantarkan kita kepada sebuah jalan yang konsisten dalam memperjuangkan agama Allah ini. Maka shalawat hendaknya menjiwai setiap langkah yang kita tapaki di dunia Allah ini. Wa Allahu A`lam bi ash-Shawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: