MITOS KARTINI DAN LENYAPNYA SEJARAH JURNALIS PEREMPUAN

Oleh : Dr.Phil. Ichwan Azhari, MS

(Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial Unimed)

FB_IMG_1524201854993

Salah satu mitos Kartini adalah dia penulis yang hebat dan menerbitkan buku Habis Gelap Terbitlah Terang dan seakan menginspirasi gerakan kaum perempuan. Tahayul ini begitu kuat menyelusup lewat pelajaran di sekolah-sekolah. Padahal Kartini tidak pernah menulis buku dalam hidupnya, dia hanya menulis surat-surat pribadi yang hanya dibaca oleh orang yang ditujunya. Jauh setelah dia meninggal barulah surat surat itu diterbitkan di Belanda tahun 1911 dengan judul Door Duisternis tot Licht: Gedachten Over en Voor Het Javaansche Volk van Raden Ajeng Kartini. Buku itupun dterbitkan untuk kepentingan politik etis kolonial dan edisi Bahasa Melayunya diterbitkan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang tahun 1922.

Jadi Kartini hanya menulis surat-surat pribadi untuk orang yang terbatas dan bukan untuk publik. Sementara itu dibeberapa kota di Sumatera cukup bukti adanya perempuan yang menulis di surat kabar dan dibaca luas kaum perempuan, sezaman dengan beredarnya surat-surat Kartini yang dibukukan. Di Sumatera, kaum perempuan menulis dan menyebarkannya. Dalam pentas rutin peringatan Hari Kartini, para perempuan hebat yang menggugah zamannya itu seakan terkubur dalam timbunan abu sejarah.

Di Sumatera Utara sejak tahun 1919 telah terbit surat kabar dan majalah khusus perempuan yang memperlihatkan telah tampilnya kelompok perempuan moderen, terdidik (walau setingkat SMP dan SMA sekarang) dan mampu mengekspresikan diri dan kaumnya melalui media massa khusus.

Menurut identifikasi di Museum Sejarah Pers Medan ada 8 koran perempuan di Sumut : Perempuan Bergerak (Medan, 1919-1920 ), Parsaoelian Ni Soripada (Tarutung , 1927) Soeara Iboe (Sibolga, 1932) Beta (Tarutung, 1933), Keoetamaan Istri (Medan, 1937-1941), Menara Poetri (Medan, 1938), Boroe Tapanoeli (Padang Sidempuan, 1940) Dunia Wanita (Medan, 1949-1980-an).

Penggunaan nama Perempuan Bergerak dengan semboyan “untuk menyokong pergerakan perempoean” merupakan koran yang dianggap radikal pada zamannya (1919) dengan keberanian yang tidak ditemukan di pulau Jawa. Saat ini dalam sejarah pers Sumatera Utara, para perempuan dan wartawati yang “lebih terdidik” (kebanyakan sarjana) tidak memiliki media sendiri. Spirit perempuan berusia belasan tahun yang menerbitkan koran itu (1919-1949) sayangnya kini tidak muncul lagi di kalangan kaum perempuan terdidik lulusan perguruan tinggi yang luar biasa banyaknya. Dimana ada kini koran perempuan? Perempuan jurnalis kini punya problematika sendiri dalam tekanan zamannya (globalisasi dan kapitalisme) sehingga terkesan tidak selugas dan sehebat mereka ini dulu.

Betapa hebatpun ide-ide dan pemberontakan Kartini melawan kungkungan tradisi Jawa di Jepara dalam surat-suratnya, itu merupakan ekspresi renungan yang dituangkan dalam surat pribadi yang pada saat dia hidup surat-surat itu tidak dibaca oleh kaumnya.

Berpuluh tahun, lagi-lagi dunia pendidikan kita mengkostruksi Kartini secara keliru. Para guru sejarah di sekolah-sekolah perlu memberikan pengetahuan yang benar kepada anak didik, bahwa Kartini menulis surat-surat yang kemudian dibukukan. Dalam pembelajaran sejarah yang saintifik, para siswa bisa ditugaskan mencari sumber sumber lain (yang kini mulai mudah didapat lewat internet) agar siswa mampu memahami dan menganalisis, di samping surat surat Kartini ada ratusan karya tulis kaum perempuan lainnya. Ini akan memperkaya rasa kagum mereka pada bangsa, pada intelektualitas kaum perempuan pada awal abad 20. Dalam periode itu Indonesia tidak hanya memiliki Kartini, tetapi ada banyak perempuan-perempuan lain yang lebih hebat atau sejajar dengan Kartini mulai dari Sulawesi Utara, Jawa Barat, Sumatera Barat, Sumatera Utara, bahkan Aceh.

*Sumber : FB Ichwan Azhari. Dalam versi yang lain narasi teks ini pernah dimuat di Sudut Tempoe Doeloe Harian Waspada Medan Edisi 20 April 2015.

Iklan

KECUPAN TERAKHIR

Oleh : Candiki Repantu

Screenshot_2018-04-05-20-38-31-019_com.android.chrome

Angin gurun Karbala mendesir, menghasilkan simfoni duka nestapa di hati keluarga Nabi yang mulia. Al-Husain yang kini berada di puncak penderitaannya memanggil para wanita anggota keluarganya yang setia mengiringinya.

Kemari lah wahai Zainab, Ummu Kulsum, Sukainah, Atikah, Ruqayyah, Shafiyatu, dan isteri-isteriku tercinta. Salam dariku sebagai abang, ayah, paman, dan suami bagi kamu sekalian. Inilah pertemuan terakhir kita. Inilah detik-detik kebersamaan kita. Puncak tangisan dan derita akan segera tiba. Bersiaplah untuk memasukinya.

Al-Husain as berpamitan dengan mereka sembari menyeka air mata yang merembes di pipinya.

Ketika Al-Husain as ingin menaiki kudanya, seketika Sukainah menjerit dan meronta-ronta dalam tangis panjang duka nestapa. Al-Husain kembali menghampirinya, memeluknya dengan lembut, mengecup mata putrinya dengan penuh kasih sayangnya. Sukainah bertanya, “Mau kemana wahai ayah? Apakah engkau akan kembali kemari? Siapa yang akan menjaga kami jika engkau pergi?” Tangis keluarga Nabi semakin menjadi-jadi.

Al-Husain as hanya menjawab dengan syairnya :

Seruling duka akan ditiup
Semerbak wewangian surga akan kuhirup
Genderang perang segera ditabuh
Perahu cinta akan segera berlabuh
Pesta kepala putra Ahmad dimulai
Sebab dengan syahadah surga kan dicapai

Jalan terjal dan jauh di depanmu
Jangan sesali diri atau membisu
Jangan menangis sebelum aku mati
Andai aku mati, engkau selalu di hati

Sukainah menatap ayahnya dengan mata syahdunya, ia meminta ayahnya mengusap kepalanya. Al-Husain berkata, “Engkau bukan anak yatim yang harus diusap kepalanya!”. “Tapi ayah, aku yakin engkau tak akan kembali lagi untuk mengusap kepala ini, karena itu aku minta diusap kepalaku saat engkau ingin pergi sebagaimana engkau mengusap kepala putra pamanku Muslim ketika mendengar kesyahidannya”, jawab Sukainah dengan suara paraunya. Al-Husain tak mampu menahan tangisnya, ia usap kepala Puteri kecilnya dengan lembut sepenuh jiwa.

Kini Al-Husain bersiap siaga menuju Medan laga. Mendadak panggilan Zainab menghentikan langkahnya, “Wahai kakakku, ada pesan yang ingin kusampaikan padamu, ini pesan dari ibu kita Fatimah, yang dititipkan kepadaku sebelum wafatnya”.

Mendengar nama Fatimah as ibunya disebut, air mata Al-Husain as kian mengucur deras, terbayang setiap penderitaan demi penderitaan yang dilalui ibunya, terutama setelah ditinggal wafat kakeknya tercinta. Al-Husain as mendekati Zainab as, “Apa pesan ibu kita, wahai adikku Zainab? Katakan segera agar aku dapat menunaikannya”.

Zainab tak segera menjawab, ia pandangi wajah abangnya dengan tatapan nanar penuh makna, kemudian berkata, “Aku ingin engkau membuka leher dan dadamu”, kata Sayidah Zainab as. “Sebab, suatu hari ibu kita Fatimah, memanggilku lalu menceritakan penderitaan dan syahidmu di Karabala. Kemudian ibu kita Fatimah menitipkan kepadaku ciuman untuk di leher dan dadamu, yang akan dipotong pedang dan ditancap tombak. Ibu kita berkata, ‘Wahai Zainab putriku, nanti kelak ketika engkau bersama abangmu Husain di Padang Karbala, sebelum ia pergi menjemput kematiannya, aku ingin engkau menyampaikan ciuman dariku di leher dan dadanya”, lanjut Zainab.

Al-Husain as dan semua keluarga Nabi yang mulia tak mampu lagi membendung air mata mereka. Suara tangisan bergemuruh menggema di sahara Nainawa, di antara gelak tawa dan tatapan para durjana yang ingin menerkam mangsa.

Dengan perlahan Al-Husain as membuka baju di bagian leher dan dadanya, mempersilahkan Zainab menyampaikan kecupan sayang dari ibunya, dan Zainab pun mengecup leher dan dada Husain seperti ibunya mengecupnya dengan penuh cinta berbalut kesedihan jiwa. Inilah kecupan terakhir Bunda Zahra as yang disampaikan dengan sempurna oleh putri penanggung duka Asyura, Srikandi Nainawa, Dewi Padang Karbala, dialah Zainab al-Kubra.

Inilah Zainab, yang namanya disusun dari dua kata “Zain” yang berarti hiasan indah, dan “Ab” yang berarti ayah. Inilah zainab yang menjadi hiasan keindahan bagi ayahnya.

Inilah Zainab, yang lahirnya ditangisi karena Rasul saw teringat akan duka nestapa yang ditanggungnya.

Inilah Zainab yang menyaksikan dan menghantarkan semua jenazah ahlul kisa’ ke peraduan mereka dari Rasulullah Saw di Madinah hingga Husain as di Karbala.

Inilah Zainab yang dipanggil Aqilah Bani hasyim yang disebut Imam Sajjad sebagai ‘Alimah ghairu muallimah, pemilik akal Bani Hasyim, seorang yang berilmu tanpa diajari.

Inilah Zainab, yang lisannya membungkam si terlaknat Ibnu Ziyad, ketika menghina kesyahidan Al-Husain dengan mengatakan “Aku tidak melihat apapun kecuali keindahan.”

Namun, Inilah Zainab yang dengan sepenuh iman, ketika melihat tubuh Al-Husain tercabik-cabik di tempat pembantaian, dengan rendah hati ia berkata kepada Tuhan,
Allahumma taqabbal minna hadza al-qurban,” Ya Allah! Terimalah dari kami pengorbanan ini.

Inilah Zainab, pembawa kecupan terakhir Bunda Zahra, dan penyambung lidah Karbala hingga sampai kepada kita semua dengan darah dan air mata.

Salam atasmu wahai putri Rasulullah
Salam atasmu wahai putri Fatimah dan Khadijah
Salam atasmu wahai putri Amirul mukminin
Salam atasmu wahai saudari Hasan dan Husain
Salam atasmu wahai putri wali Allah
Salam atasmu wahai saudari wali Allah
Salam atasmu wahai bibi kekasih-kekasih Allah
Assalamu alaiki warahmatullahi wa barakatuh. (CR14)

15 Rajab, Mengenang wafatnya Sayidah Zainab as.

🙏🌷

MENGENANG SETAHUN HAUL HABIB AHMAD JUFRI (HABIB ATE) SANG JURNALIS

FB_IMG_1521882057918

Oleh : Candiki Repantu

Diusiamu yang tak lagi muda (Lahir 12 Juli 1965), tapi jiwa muda dan semangat perjuanganmu tetap menggelora. Jalan perjuangan yang engkau pilih menjadikanmu sebagai penyambung lidah para mustad’afin (kaum tertindas) dalam melawan kaum mustakbirin (kaum penindas).

Suara keadilan terus engkau gaungkan dari jalanan tempat bekerjanya kaum pailit hingga di gedung dewan tempat berkumpulnya kaum elit, dari lorong-lorong rumah kaum melarat sampai di gedung-gedung mewah para pejabat yang terhormat. Engkau berteriak keras dalam demontrasi menentang kezaliman di jalanan, sekeras argumentasimu membela wong cilik di pengadilan.

Simpati dan empati atas perikehidupan masyarakat bawah membuatmu tak bisa berdiam diri untuk tidak terlibat aktif dalam memperjuangkan hak-hak kemanusiaan warga negara di manapun berada. Tulisan-tulisaanmu yang tajam, dan kritikmu yang menohok jantung penguasa orde baru masa itu, membuatmu ditangkap dan merasakan dinginnya lantai penjara selama tiga tahun lamanya. Hal itu tak membuatmu surut langkah ke belakang, bahkan suaramu semakin lantang. Engkau ingin melanjutkan suara keadilan kakek dan nenekmu, Imam Ali bin Abi Thalib as dan Fatimah az-Zahra as.

Sebagai seorang jurnalis, engkau meyakini pepatah bahwa “Pena lebih tajam dari pedang” maka engkau pun melawan dengan pena dengan banyak menulis diberbagai majalah, tabloid, dan surat kabar ibu kota, hingga mengantarkanmu bekerja di majalah TEMPO (sejak 1989). Selain itu engkau juga membantu berdirinya CBS TV-based Tokyo at APEC Jakarta. Mempunyai pengalaman 40 hari meliput di perbatasan Pakistan-Afghanistan (Tribal Area), saat Amerika Serikat menyerang Pemerintahan Taliban di Afghanistan, 2001. Meliput pemilihan umum di Irak, 24 Januari –1 Maret 2005.

Sebagai pendidik, engkau menyalurkan kemampuan ilmiahmu dengan menjadi Dosen di STIKOM Bandung, Mengajar Jurnalistik di Kursus Jurnalistik Muhammadiyah, Bandung. Mengajar kursus-kursus jurnalistik di UPN Veteran, Jakarta, IKIP/UN Jakarta, STTN Jakarta, UPancas, SMP Lab School Jakarta, Universitas Indonesia, IAPI Jakarta, Unisba-Bandung, UnPas-Bandung, Unpad Bandung, Unikom Bandung, IAIN Surabaya, Undip Semarang dan sebagainya.

Sebagai aktivis, engkau tak berhenti hanya menulis, tetapi juga mendirikan dan aktif di sejumlah organisasi perjuangan seperti Forum Wartawan Independen (FOWI), Ketua Presidium Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Ketua Institute Advokasi Pers Indonesia (IAPI), Anggota International Federation of Journalists (IFJ), Lembaga Bantuan Hukum Universalia, dan Anggota Kehormatan International PEN English Centre.

Sebagai praktisi hukum, engkau menjadi advokat yang aktif membela orang-orang yang disingkirkan karena diskriminasi agama, rakyat miskin, dan orang-orang dizalimi. Engkau bersedia menjadi tim pembela Hendra Saputra, Office Boy yang ditumbalkan oleh anak menteri yang mulia. Engkau mengadvokasi tuduhan pelaku tawuran di Tanah Abang, memperjuangkan hak-hak Pedagang yang termiskinkan karena impor barang jadi, melawan kejahatan lingkungan di Bandung dan Sumedang.

Bukan hanya membela kaum tertindas di dalam negeri, dalam dunia advokasi dan pembelaan kemanusiaan engkau juga bergabung dalam koalisi Advokat international untuk pembelaan hak-hak bangsa Palestina. Karena itu, setiap bulan ramadhan datang, engkau tidak hanya puasa dari minum dan makan sebagai perintah Tuhan, tapi juga turut bergabung dengan seluruh aktivis di dunia, untuk melaksanakan amanat kemanusiaan dengan turun ke jalan menyuarakan pembebasan Palestina sebagai “tanah Tuhan” yang dikuasai oleh Zionis Israel, sang hamba setan. Begitu pula, ketika orang sibuk menyanjung kedatangan Raja Salman, engkau teriak mengecamnya sebagai penjahat kemanusiaan yang harus bertanggungjawab atas pembantaian rakyat Yaman.

Dari berbagai aktivitas dan perjuanganmu tersebut engkau memperoleh berbagai penghargaan antara lain : Tasrief Award – Indonesia Press Freedom award (Jakarta, 1995); CPJ (berbasis di New York) International Press Freedom Award (1995); Digul Award – Indonesian NGO’s human rights award (1996). Hellmann/ Hammet Award from American Writer, New York (1998). Memenangkan beberapa lomba dan anugerah jurnalistik pada tahun 2008, 2009, 2010 dan penghargaan Mochtar Lubis Award bidang penulisan Pelayanan Publik (2011). Tapi bukan penghargaan itu yang membuatmu besar, melainkan karena ketulusanmu kepada Yang Maha Besar.

Beberapa karya buku yang engkau tulis seperti Seks dan Gerakan Mahasiswa, tahun 1994 ; Asia Against West, Asia-network, Korea, 2003 (Bahasa Korea); Jalan Terjal Menegakkan Kebenaran, Menolak Kompromi Jadi Korban Politik (Pledoi Rahardi Ramelan); I am a Journalist, Pledoi, Tempo, 2004; Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2007, Lesperssi DCAF, Jakarta 2007; The News, Beyond The Headline, Asia Network, Korea (Bahasa Korea), 2008; Detik-detik Terakhir Saddam, bersama Rommy Fibri, PDAT, Jakarta 2008; Penjara, the Untold Stories, UfukPress, 2010; Bisnis Seks di Balik Jeruji, UfukPress, 2011; Buku Saku Jurnalistik : Teknik Wawancara dan 7 Isu Internasional Kontemporer 2016. Semua karya ini engkau dedikasikan bagi kemanusiaan dan perjuangan keadilan.

Satu kenanganku bersamamu masih melekat walau sudah beberapa tahun berlalu, ketika engkau datang ke Medan dalam suatu acara, di tengah-tengah kesibukanmu, engkau tak lupa singgah untuk sekedar bertatap muka denganku. Kita berbicara panjang lebar tentang Indonesia dan dunia dalam berbagai tema, politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum dan agama. Asap rokok tak putus menghembus dari bibirmu di tengah-tengah nada bicara dan senyum simpulmu. Aku banyak belajar darimu. Hanya satu hal saat itu, mau tak mau aku harus menolak tawaranmu karena mazhab yang berbeda. Engkau pewaris sejati “mazhab kopi” , sedangkan aku penganut “mazhab teh” yang setia. Satu kenangan yang takkan kulupa, ketika engkau berbisik bertanya atas kopi Aceh yang diminum, Apakah di kopi ini ada “rumput aceh” sebagai penyedap rasa karena kepala saya terasa pusing setelah meminumnya? . Aku hanya tertawa saja. 😀

Hari ini, aku mengenang setahun kepergianmu. Tapi setiao detik perjuanganmu masih melekat di jiwaku. Setahun lalu, setelah berjuang melawan sakitmu akhirnya engkau menghadap Tuhanmu, menghembuskan nafas terakhirmu pada 23 Maret 2017. Hanya doa dan airmata yang bisa kusampaikan mengantarkan kepergian pejuang, sahabat, dan guruku yang mulia.

Aku juga masih ingat, beberapa bulan sebelum hembusan nafas terakhirmu, di saat sakit mulai menimpa jasadmu, engkau masih meluangkan waktu dengan semangat ruh yang penuh rindu, mengikuti kafilah ziarah karbala, berjalan kaki hampir seratus kilometer jauhnya, menelusuri jejak-jejak sejarah yang menorehkan luka, duka, dan nestapa, tapi juga mengajarkan kesetiaan, keadilan, dan cinta dari para ksatria Nainawa.

Perjalanan cinta itu kemudian kau tuangkan dengan indah dalam sederet tulisan di Majalah Tempo tempatmu berkiprah. Melalui tulisanmu, engkau sampaikan pesan Imam Husain as ke seluruh penjuru dunia walau jasad al-Husain sudah terpendam lebih seribu tahun lamanya. Inilah salah satu peninggalan mulia darimu. Kini, jasadmu juga sudah terpendam tanah setahun berlalu, tapi aku yakin suaramu juga tak akan padam hanya karena tubuhmu sudah di kuburkan, bahkan seperti kata ungkapan “Suaranya lebih menggema dari dalam kuburnya”. Semoga Allah menggabungkanmu dengan para pejuang keadilan sepanjang sejarah manusia _bihaqqi zahra wa abiha wa ba’liha wa baniha._ Alfatihah dan solawat kupersembahkan buatmu. 😢

🙏🌷
CR14

ISRAEL NEGARA PARA PERAMPOK

Oleh : Kardinal Syah

IMG_20171226_085124

Jahudi adalah sebuah agama bukan sebuah Bangsa, orang Jahudi memang ditakdirkan hidup tanpa negara sampai Sang Mesias “ Juru Selamat “ datang.” (Neturai Karta)

Ada persamaan antara Donald Duck dan Donald Trump. Pertama, mereka sama-sama produk Amerika. Kedua, mereka sama-sama dikuasai oleh orang-orang Jahudi. Holywood tempat diproduksinya film Donald Duck dikusai oleh orang Jahudi demikian juga White House dikusai oleh orang Jahudi. Ketiga, Donald Duck tokoh kartun dengan suara khasnya selalu mengeluarkan suara-suara aneh yang terkadang membuat kita tersenyum geli karena kelucuannya, demikian juga yang dilakukan oleh Donald Trump suara dan celotehannya terdengar aneh dan menyebalkan sehingga kita bisa tersenyum geli atau marah sampai-sampai ubun-ubun kita mengepulkan asap.

Pernyataan sepihak Donald Trump bahwa Amerika akan membuka kantor Duta Besar Amerika di Yerusalem melahirkan gelombang demonstrasi diberbagai belahan dunia. Reaksi negara-negara timur tengah juga beragam, ada yang pura-pura marah dan ada yang benar-benar marah. Yang pura-pura marah adalah negara-negara yang selama ini telah mengakui kedaulatan negara Israel atau negara-negara yang selama ini telah menjalin hubungan dengan Israel secara diam-diam melalui negara ketiga. Untuk timur tengah mungkin hanya Libanon, Syiria dan Iran yang benar-benar marah karena hanya ketiga negara ini yang belum mengakui kedaulatan negara Israel.

Mengakui kedaulatan negara Israel sama saja dengan mengakui sahnya suatu tindakan perampokan dan penjarahan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap harta dan milik orang lain. Sebelum tahun 1948 orang-orang Jahudi hidup berpencar diberbagai belahan dunia, benar apa yang dikatakan oleh Neturai Karta sebuah lembaga Jahudi Internasional yang menolak pendirian negara Israel, bahwa Jahudi adalah sebuah Agama bukan sebuah bangsa atau Nation.

Gerakan anti Jahudi atau lebih dikenal dengan gerakan antisemitisme telah menyatukan seluruh kaum Jahudi diseluruh dunia, satu-satunya cara untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menciptakan satu tanah air bagi orang Jahudi. Pada tahun 1897 dalan Kongres I Zionis Internasional yang dilaksanakan di Bassel atau Bersley, Swiss. Dr. Theodore Herzl yang dianggap sebagai Bapak Zionis menyampaikan pemikiran dan gagasannya tentang tanah air dan bangsa bagi orang-orang Jahudi dihadapan 200 utusan Kongres dari berbagai belahan dunia. Dalam Kongres tersebut juga dibentuk panitia kecil yang bertugas menyusun program perjuangan Jahudi. Panitia kecil merupakan secret meeting yang anggotanya diberi tugas rahasia untuk menyusun program rahasia Jahudi pada tahun 1901-1903.

Inggris menawarkan Argentina, India dan Uganda sebagai tanah air dan negara orang Jahudi, tentu saja usulan ini ditolak oleh Herzl. Dr. Theodore Herzl memilih Palestina sebagai tanah air orang Jahudi. Alasan pemilihan Palestina adalah latar belakang historis disinilah bukit Zion berada merupakan puncak kejayaan Jahudi dan disini juga berdirinya Haikal Sulaiman. Mulailah Herzl melakukan propoganda dan berkampanya melalui tulisannya Der Yuden Stat. Pada tahun 1915 lahirlah kesepakatan Sykes Picot yang secara rahasia menempatkan Palestina dibawah kekuasaan Inggris. Sementara itu Palestina masih berada atau merupakan vazal (Protektorat) Turki Usmani.

Sultan Abdul Hamid mengatakan “Seandainya kalian membayar dengan seluruh isi bumi ini, aku tidak akan menerima tawaran itu“. Maka lahirlah gerakan Turki Muda yang dipimpin oleh Kemal Attaurk sebagai bentuk dari Konspirasi Jahudi Internasional dan selanjutnya runtuhlah kekhalifahan Turki Usmani.

Padatanggal 2 November 1917 Arthur James Balfour mengirimkan surat kepada pemimpin komunitas Jahudi di Inggris yang bernama Lord Rotshchild yang isinya menyetujui pendirian negara Israel di Wilayah Palestina. Surat ini sendiri sebagai bentuk balas jasa dan balasan surat dari Chaim Weizmann seorang Jahudi Inggris kelahiran Rusia, Weizmann adalah seorang ahli kimia penemu aseton sejenis senyawa kimia yang penting bagi senjata api dan penemuan Weizmann digunakan dalam perang oleh Inggris. Chaim Weizmann adalah Presiden I Israel.

Maka dapatlah disimpulkan berdirinya negara Israel merupakan hasil Konspirasi Jahudi Internasional dengan dukungan Negara-negara sekutu, negara ini didirikan diatas suatu negara yang berdaulat yaitu Palestina. Masyarakat Internasional sudah seharusnya menolak Israel sebagai suatu negara dan mendukung Kemerdekaan Negara Palestina. Tidak semua warga negara Palestina beragama Islam, mereka ada yang beragama Kristen, Jahudi bahkan ada juga yang Atheis. Jelas bahwa masalah Palestina bukanlah masalah antara Islam dan Kristen bukan juga masalah antara Islam dan Jahudi. Ini adalah masalah hak untuk merdeka dan berdaulat.

Di Indonesia pernyataan Donald Trump dikait-kaitkan dengan Presiden Jokowi, beredar issue yang mengatakan bahwa Donald Trump sudah melakukan pembicaraan rahasia dengan Presiden Jokowi terkait pemindahan ibukota Israel ke Yerusalem. Lebih baik pelihara kambing ketimbang memelihara prasangka buruk, kebijakan negara dan pemerintah Indonesia sudah jelas yaitu mendukung perjuangan rakyat Palestina untuk Merdeka. (ATN)

*Sumber : FB Kardinalsyah.

CINTA PEMBAWA BERKAH

Oleh Candiki Repantu

IMG_20171118_151409

Pemuda itu begitu gagah. Kemuliaan nasabnya, ketampanan wajahnya yang bercahaya, lembut tutur katanya, dan kebaikan akhlaknya menunjukkan kepribadian sempurna. Itulah Abdullah, pemuda gagah yang terkenal di seantero Mekah. Ia menjadi kumbang yang diharapkan singgah oleh banyak kembang yang merekah. Namun semua kembang itu hanya punya harapan, sebab pria tampan dan baik itu, menyerahkan pada ayahnya, siapa jodoh yang dipilihkan untuknya.

Tanpa sepengetahuan Abdullah, ada seorang putri Mekah yang menyimpan kenangan padanya. Aminah namanya. Sudah banyak pria yang melamarnya, tetapi tidak satupun yang menarik hatinya. Sebab, dalam bayangnya wajah Abdullah selalu menghampirinya. Ia terkenang ketika mereka bersama di depan Ka’bah, bersenda gurau dan tertawa ria. Mereka memang dekat sebagai satu kabilah yang sama, tapi mereka juga dekat sebagai sahabat setia. Di dalam hati, ia ingin bersama lagi dengan Abdullah berada di sisi ka’bah, tapi tidak lagi sekedar bermain dan tertawa ria, melainkan mengikat janji, sebagai sepasang kekasih yang sejati. Tetapi sayang, Abdullah tak pernah mampir ke rumahnya, memintanya menjadi pasangan sejatinya. Apakah ada wanita lain yang menarik hati Abdullah?. Ahh, sungguh bahagianya wanita itu jika disunting oleh Abdullah, bisik hati Aminah.

Setiap ada rasa pasti ada resah. Mengenang Abdullah membuatnya gelisah, hati dilanda rindu memburu, hasrat bertemu begitu menggebu, tapi semua kalah dengan besarnya rasa malu, ia lebih memilih memendam semua itu. Namun, sesekali ia berdiri dibalik jendela dan mengintip dibalik pintu rumahnya. Berharap, Abdullah tak sengaja melewatinya. Tapi, semua hanya harapan. Yang terlihat hanya dinding batu diiringi hembusan semilir angin sahara, yang tak mampu mengusir gundah yang melanda hati dan jiwanya. Demikianlah, Aminah melalui hari-harinya dengan sejuta tanya, sejuta rindu, dan sejuta harapan, pada satu pria idaman.

Di saat semua kenangan datang dalam ingatan, ketika rindu datang menggebu, ketika harapan semakin membesar, mendadak berita duka sampai ke telinganya, Abdullah akan dikorbankan untuk memenuhi nazar ayahnya. Mendengar itu, jantungnya Aminah berdegub keras, sekujur tubuhnya menggigil, aliran darahnya seolah beku, lidahnya menjadi kelu. Tak mampu ia membayangkan ketika pedang menebas leher Abdullah dan mengalirkan darahnya, hanya derai air mata mulai membasahi pipinya, kesedihan tiada tara menghantam jiwanya. Hanya doa yang terbetik, “Semoga Allah menyelamatkan Abdullah seperti Allah menyelamatkan Ismail kakeknya”. Ia berharap keajaiban akan datang.

Kalau menuruti kemauannya, ia ingin hadir si sisi Ka’bah, melihat langsung pengorbanan Abdullah. Namun, ia sadar tak mampu menanggung derita itu. Dengan menekan perasaan, ia menyabarkan diri menunggu apa yang terjadi. Di rumah, ia hanya berjalan mondar mandir, kadang berdiri bingung, kadang duduk termangu, kadang berbaring membisu. Kerongkongan kering tak terasa dahaga dan perut kosong tak terasa laparnya, seluruh pikiran hanya tertuju pada Abdullah. “Ya Allah, selamatkanlah dia, selamatkanlah dia, dia milik-Mu bukan milik Abdul Muthalib”, doanya lirih terlontar. Suara lirih itu memang pelan terdengar di bumi, tetapi nyaring di langit, naik menuju alam malakuti, menggetarkan Arsy Ilahi.

Imam Ali Ridha as mengisahkan, “ketika semua orang berkumpul sedih menyaksikan pengorbanan Abdullah, mendadak Atikah putri Abdul Muthalib berkata, “Wahai ayah! Mintalah pada Allah untuk memaafkanmu dari mengorbankan putramu”. Abdul Muthalib menjawab, “Wahai putriku! Apa yang harus kulakukan?”. “Gantilah dengan untamu hingga Tuhan menjadi rela”, jawab Atikah. Maka unta-unta dibawa ke sisi ka’bah. Abdul Muthalib mengundi nama Abdullah dengan sepuluh ekor unta, tapi undian tetap mengarah pada Abdullah. Abdul Muthalib menambahkan sepuluh ekor unta lagi, tapi nama Abdullah tetap keluar untuk dikorbankan.

Abdul Muthalib tak peduli harus mengorbankan berapa unta sebagai ganti Abdullah. Ia terus menambahkan sepuluh ekor unta, hingga jumlahnya menjadi seratus ekor. Undian pun dilakukan lagi, kini mata Abdul Muthalib berbinar riang, nama unta keluar dalam undian. Abdul Muthalib mengulang undian hingga tiga kali, hingga ia yakin sepenuh hati, Tuhan ridha ia mengorbankan seratus ekor unta, sebagai ganti Abdullah. Takbir pun bergema dengan gegap gempita. Semua bersyukur atas selamatnya Abdullah. Terutama bagi Aminah, kembang semerbak kota Mekah.

Tak berselang lama, sebagai rasa syukurnya, pada hari itu juga, Abdul Muthalib bermaksud memilih jodoh untuk putranya. Para wanita Mekah berlomba agar Abdul Muthalib memilih mereka. Bahkan sebagiannya menawarkan diri, rela mengorbankan seratus ekor unta lagi demi menjadikan Abdullah pasangan sejati. Namun, Abdul Muthalib punya pilihan sendiri, ia menggandeng tangan Abdullah berjalan menuju ke suatu  rumah. Rumah yang dituju adalah rumah Aminah. Memasuk pintunya, jantung Abdullah berdegub dengan kerasnya, disambut oleh getaran hati Aminah dari balik kamarnya, yang bagaikan mimpi dilamar oleh pria pujaan hatinya. Tak banyak masalah, kedua keluarga saling sepakat untuk melangsungkan pernikahan sepasang merpati Tanah Haram.

Dua sejoli ini pun memulai hidup baru. Suatu hari mereka duduk berdua untuk saling berkisah mengenang masa ketika mereka bermain bersama. Terkadang terdengar suara tawa renyah yang mengandung aroma bahagia mengenang peristiwa masa kanak-kanak mereka berdua. Pada suatu malam, Abdullah terbangun dari tidurnya, ia pandangi wajah jelita isterinya yang sedang tersenyum simpul karena tenggelam dalam mimpi yang indah. Menjelang fajar, Aminah terbangun, ia tatap wajah lembut suaminya. Aminah berkata, ia baru saja bermimpi indah, melihat sinar terang meliputi dirinya di sekeliling istana-istana megah, dan terdengar suara lembut menyapanya, “Ya Aminah, engkau akan hamil dan melahirkan anak yang menjadi manusia termulia sepanjang sejarah dunia”. Inilah cinta pembawa berkah, cinta Abdullah dan Aminah yang melahirkan purnama kota Mekah, Muhammad ibn Abdullah saw.

Assalamu ‘alaika ya Rasulullah
Assalamu ‘alaika ya Khalilallah
Assalamu ‘alaika ya Nabiyallah
Assalamu ‘alaika ya Shafiyallah
Assalamu ‘alaika ya Rahmatullah
Assalamu ‘alaika ya Khiyaratallah
Assalamu ‘alaika ya Habiballah
Assalamu alaika ya Najiballah
Assalamu ‘alaika ya Nurallah
Assalamu ‘ala abika Abdillah wa ‘ala ummika Aminah
Assalamu ‘ala jaddika Abdil Muthalib wa ‘ala ‘ammika wa kafilika Abi Thalib
Assalamu alaika wa ‘ala ahli baitika at-thaibina at-thahirin
Walhamdulillahi rabbil Al-Amin

Salam Maulid ar-Rasul
17 Rabiul Awal 1439 H

MAULID NABI : “BID’AH” PARA PECINTA

Oleh : Candiki Repantu

IMG_20171201_103128

“Bagaimana bisa tetes air menceritakan kisah samudera? Bagaimana bisa malam melukis fajar? Bagaimana bisa lembah menyamakan tingginya dengan puncak gunung? Dan bagaimana bisa duri hitam menukil hikayat kembang mawar merah?

Aku adalah tetes ilmu, dan engkau adalah samudera; aku adalah malam yang malu, dan engkau adalah fajar yang bangga; aku adalah lembah sunyi, dan engkau adalah puncak gunung berisi; aku adalah duri hitam, dan engkau adalah kembang bunga kemanusiaan. Lalu bagaimana mungkin aku mampu mengisahkan tentang dirimu?

Hanya dengan lisan air mata kuungkapkan perasaanku, seperti yang dikatakan Kalim Kasyani dalam syairnya :

Mata kekasih penuh air mata semerah jiwa
Nilai cincin ditentukan oleh batu yang bertahta

Selama sembilan bulan, aku mencari harum wujudmu di antara lima ratus kitab. Kadang, aku menangis penuh keharuan, dan terkadang remuk oleh penyesalan. Setelah semua itu, kini aku duduk di hadapan pagar pusaramu, berjarak lima atau enam meter dari makam yang terang oleh sinar mentari siang. Dihantui oleh rasa takut terhadap para penjaga yang berikat kepala, aku menangis tanpa suara, dan kutuanglah perasaanku dalam lembaran kertas putih ini. Hatiku diremas rasa pedih dan sesal, saat kucuri pandang melalui sela-sela pagar pusaramu, dan kulihat debu yang menyelimuti kuburmu. Akankah kelak mereka mengizinkan kami membersihkan pusaramu dengan bulu mata kami hingga bisa bercelak dengan debu pusaramu?

Kini kau tidur dihadapanku. Tapi tidak! sesungguhnya engkau-lah yang terjaga dan kami-lah yang tidur dalam ranjang kelalaian. Engkau masih terus terjaga mengkhawatirkan jahiliyah abad ke-21.
Duhai kekasih! Bimbinglah kami keluar dari gelapnya malam kebodohan, menuju terangnya fajar pengetahuan! Tuntunlah tangan kami dan ajari kami bagaimana cara hidup dan mati! Pancarkan sinar suryamu kepada kami hingga cairlah segala keegoisan kami!”

Husain Sayyidi mengawali bukunya “Muhammad The Untold Stories” (Hamname Ghalha-ye Bahadi) dengan tuturan indah tersebut. Ia menyadarkan kita, mustahil melukiskan Nabi saw dengan sempurna, sebab tak ada yang mengenal Muhammad saw sesempurna Tuhannya. Allah telah menjelaskan Muhammad saw dalam kitab-Nya, dan siapa yang mampu menandingi karya tulis Sang Ilahi itu. Bukankah Allah berfirman, “Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang seruap Alquran ini, niscaya mereka tidak akan mampu membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lainnya .” (Q.S. al-Isra : 88). Allah telah menggambarkan Sang Nabi dalam Alquran, hanya orang yang sombong, merasa mampu menandingi ungkapan Alquran untuk melukiskan kepribadian Rasul idaman.

Namun, lidah kelu tetap ingin memuja sang Nabi tercinta. Biarlah seperti kata Husain Sayyidi, tetes-tetes air ini berkumpul dan tenggelam dalam mengisahkan luasnya samudera.

Apa kata tetes-tetes air itu?

Tetes-tetes air itu berkata, Muhammad saw adalah puncak karakter manusia dalam pemikiran, perasaan serta perbuatannya. Dia adalah mentari terang yang memberi energi bagi geraknya kehidupan. Dia teladan yang agung dalam sejarah. Dia telah berpasrah diri kepada Allah, serta menjadi padanan kitab Alquran dengan sempurna. Kesempurnaan dan kesuciannya tidak ada bandingnya di alam semesta, bakan para malaikat sekalipun tak mampu mencapainya.

Tetes-tetes air itu berbisik, Muhammad saw dilahirkan dari keturunan yang mulia. Nasabnya berasal dari Ibrahim as yang dinobatkan Tuhan menjadi pemimpin seluruh manusia. Ismail as putranya menjadi pewaris wujud nabi dalam sulbinya, sehingga Tuhan harus bertindak mengubah takdir ketika pedang hampir menebas lehernya. Mengapa pedang tajam itu hanya mampu menebas seekor qibas? Karena Ismail as membawa di dalam dirinya, wujud Muhammad saw yang kelahirannya ditunggu alam semesta. Jika Ismail terbunuh, maka Muhammad tak akan pernah lahir ke dunia. Maka tujuan pencipataan pun menjadi sirna.

Tetes-tetes air itu berbicara, kelahiran Muhammad menjadi tujuan penciptaan semesta, sebab Tuhan berfirman dalam hadis qudsinya, “Seandainya bukan karena Muhammad, Aku tidak akan menciptakan jagat raya”. Inilah sosok yang ditunggu untuk mencurahkan rahmatnya. Jika rahmat Tuhan meliputi segala sesuatu (rahmati wasyi’at kulla syai), maka rahmat Muhammad meliputi seluruh alam semesta (rahmatan lil alamin).

Tetes-tetes air itu juga mengerti, inilah manusia sejati, yang kelahirannya telah diketahui dan ditunggu oleh para nabi. Bahkan Tuhan mengikat janji dan bersaksi bersama para utusannya yang suci, untuk senantiasa menolongnya nanti, “Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dari para Nabi, “Manakala Aku memberikan kitab dan hikmah kepada kamu, LALU DATANG KEPADAMU SEORANG RASUL yang membenarkan apa yang ada pada kamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.” Allah berfirman, “Apakah kamu setuju dan menerima perjanjian dengan-Ku atas hal itu?”. Mereka menjawab, “Kami setuju!”. Allah berfirman, “Kalau begitu bersaksilah dan Aku menjadi saksi bersama kamu” (Q.S. Ali Imran : 81).

Tetes-tetes air itu pun mengabarkan, Inilah Muhammad yang namanya disebut dari Adam as hingga Isa putra Maryam as. Ingatlah ketika Adam dan Hawa keluar dari surga, ia memohon ampun dengan berwasilah kepada Nama Muhammad  Saw yang mulia. Ketahuilah ketika Isa diutus kepada kaumnya, ia mengabarkan, “…Wahai Bani Israel, sesungguhnya aku utusan Tuhan kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad…” (Q.S. As-Shaff : 6)

Tetes-tetws air itu juga mengisahkan, Inilah Muhammad, manusia yang seumur hidupnya senantiasa beribadah sehingga Tuhan pun bersumpah atas umurnya, “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing dalam kemabukan (kesesatan)” (Q.S. al-Hijr : 72). Kita tahu, suatu yang dijadikan objek sumpah tentu adalah sesuatu yang mulia dan menakjubkan. Betapa umur Muhammad saw begitu menakjubkan di mata Tuhannya, dan tentu umur Muhammad saw di dunia ini, diawali sejak kelahirannya.

Jadi, dari tetes-tetes air itu kita tahu, kelahiran Muhammad ssw sudah diperingati Tuhan dan menjadi tujuan penciptaan. Kelahiran Muhammad saw sudah dinanti oleh para Nabi. Kelahiran Muhammad saw dengan bangga ditunggu jagat raya. Kelahiran Muhamad saw menjadi rahmat bagi semesta. Kelahiran Muhammad  Saw disambut malaikat yang mulia. Tapi sayang kini ada yang menganggap bahwa menanti, memperingati, menyambut, dan merayakan kelahiran Muahammad adalah bid’ah, kesesatan, dan siksa neraka. Biarlah kita bersama Tuhan, malaikat, para nabi dan rasul, serta seluruh jagat raya menyambut kelahiran Nabi termulia berada dalam satu “bid’ah” bersama, yaitu “bid’ah” para pecinta. Terimalah ya Muhammadku, salam dari budakmu yang bernama Candiki Repantu.! (CR14)

*Sumber : Lipitanislam.com

AKSARA ARAB MELAYU : IDENTITAS BANGSA YANG DIHILANGKAN

Oleh : Ichwan Azhari*

Screenshot_2017-11-01-07-45-08-880_com.facebook.katana

Kemarin dalam rangka peringatan Kongres Pemuda (28.10.2017) di Lubuklinggau Sumatera Selatan saya diundang menjadi narasumber bersama ahli naskah sunda dari Universitas Padjajaran bapak Undang Ahmad Darsa dan ahli naskah-naskah Sumatera Selatan dari prodi sejarah STKIP PGRI Lubuklinggau bapak Suwandi Syam, dalam seminar nasional “Aksara Daerah Sebagai Identitas Bangsa”.

Dalam seminar ini saya menampilkan tajuk sesuai judul status ini dan mengungkapkan Aksara Arab Melayu (di Malaysia tulisan Jawi , di Jawa aksara Pegon namanya) selama 500 tahun telah menjadi aksara penting dalam bidang politik dan ekonomi internasional, pendidikan, sastra, etnosains, terutama dalam bidang agama Islam dan juga agama Kristen. Teks teks keagamaan Islam dan sastra beraksara Arab Melayu jumlahnya teridentifikasi puluhan ribu di berbagai museum dan perpustakaan di luar negeri.

Raja Inggris James I dan kabinetnya harus faham huruf Arab Melayu untuk bisa membaca (dan tabah) surat penolakan Sultan Iskandar Muda dari Aceh tahun 1615 M yang tidak mengijinkan Inggris berdagang di Pariaman, Sumbar. Izin berdagang nakhoda Inggris di Aceh yang diberikan sultan Alauddin Syah tahun 1602 juga ditulis dalam huruf Arab Melayu.

IMG_20171128_105412

Belanda lewat VOC tahun 1700-an lalu pemerintah Hindia Belanda (Niederlandisch Indie) di Indonesia dan Inggris di Malaysia sejak tahun 1800-an menggunakan huruf Arab Melayu di dalam puluhan uang yang mereka keluarkan selama satu setengah abad.

Malaysia menggunakan huruf Arab Melayu dalam uang mereka sampai hari ini, Indonesia menghilangkannya. Padahal awal 1950an aksara ini masih dipakai dalam uang logam Indonesia bahkan perjuangan kemerdekaan Indonesia di Malaya (1948), aksara Arab Melayu ini digunakan.

IMG_20171101_074324

Tapi kini dibanyak tempat di Indonesia muncul gerakan untuk menghidupkan kembali aksara tradisional ini lewat pendidikan di sekolah. Di Jawa Barat, aksara Sunda sudah mendapat pengesahan wajib diajarkan di sekolah. Karya sastra lama beraksara Sunda dan Pegon mulai dijadikan bahan pembelajaran sastra daerah. Di Sumatra Selatan terdapat 10 aksara tradisional dan sudah ada kabupaten yang menempatkan aksara lokal untuk nama jalan. Mereka juga sedang berjuang mengenalkan aksara Sumsel pada acara besar Asean Games 2018 mendatang di Palembang.

Saya dalam seminar ini menampilkan gambaran bakal bangkitnya kembali aksara Arab Melayu di nusantara. Saya perkirakan, orang yang kini bisa membaca aksara Arab Melayu atau minimal akan mudah membacanya, jumlahnya lebih banyak dan lebih tersebar di banding dulu.

Pesantren, komunitas pengajian Alquran dengan jutaaan jamaahnya sebagai penutur bahasa Indonesia/Melayu hanya selangkah saja yang dengan mudahnya memahami Aksara Arab Melayu.

Internet dengan anak kandungnya smartphone dan media sosial akan mempercepat proses ini. Tak perlu ratusan tahun untuk menghubungkan nusantara dengan satu aksara yang selama berabad abad pernah berfungsi dan menjadi spirit menyatukan Indonesia di masa lalu. (CR14).

*Ichwan Azhari adalah ahli sejarah dan Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial UNIMED. Mengelola Rumah Sejarah Medan di lokasi situs penting Kota Cina. Beliau menyelesaikan doktornya di Universitas Hamburg Jerman.

#Sumber : FB Ichwan Azhari.