BERKAH SEEKOR DOMBA

Oleh : Candiki Repantu

 

IMG_20170610_100149_157

Malam, 15 Ramadahan tahun ke-3 H. Suatu sinar suci menerangi Madinatun Nabi berasal dari rumah sederhana milik Sayidah Fatimah as, sang puteri terkasih Nabi saw. Malam itu, lahir seorang bayi mungil penuh aroma wangi malakuti dari rahim ratu bidadari. Itulah putera pertama yang dinanti Sang pengemban wasiat Nabi. Itulah cucu pewaris tahta ilahi. Sebagai rasa syukur, setelah tujuh hari pasca dikumadangkan azan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri, rumah kenabian mengadakan jamuan akikah dengan menyembelih seekor domba jantan dan bersedekah perak seberat rambut bayi. Berdasarkan wahyu suci, diberilah bayi itu dengan nama Hasan ibn Ali. Nama yang cukup asing ditelinga kaum Quraisy.

Dalam asuhan Nabi saw, Ali as dan Fatimah as, Imam Hasan as tumbuh menjadi teladan abadi. Bukan hanya fisiknya, tapi karakter dan akhlaknya mencerminkan seluruh kepribadian kakeknya.

Diriwayatkan oleh Syaikh Radhi al-Yasin dalam bukunya Shulh al-Hasan bahwa suatu hari wewangian Rasulullah saw, Imam Hasan as keluar melakukan perjalanan ditemani oleh Imam Husain as dan Abdullah bin Ja’far ra. Tanpa disadari, barang-barang bawaan mereka tertinggal sehingga menyulitkan perjalanan mereka. Lapar dan dahaga menimpa mereka dalam perjalanan tanpa bekal tersebut.

Dalam situasi itu mereka melihat kemah dwngan seorang perempuan tua sedang duduk di depan kemah tersebut. Maka Imam Hasan dan dua saudaranya ini menuju kemah dan meminta air kepada wanita tua tersebut untuk menghilangkan dahaga mereka. Wanita tua itu berkata, “perahlah susu domba ini!.” Merekapun memerah susu domba tersebut.

Kemudian, putera-putera Rasulullah saw ini meminta makanan kepada wanita tersebut. Perempuan itu berkata, “Aku tidak memiliki apapun selain domba ini. Sembelihlah ia oleh salah seorang di antara kamu”. Lalu disembelihlah domba wanita itu, dikuliti dan setelah itu wanita tua itu memanggang daging domba tersebut untuk dihidangkan kepada tiga tamu tak dikenalnya. Mereka pun memakan daging domba panggang tersebut dan setelah itu beristirahat sejenak untuk melepas lelah.

Ketika terbangun, mereka pamit sembari berkata kepada wanita tua itu, “Kami dari golongan Quraisy dan ingin melanjutkan perjalanan. Apabila nanti kami kembali, kunjungilah kami karena kami ingin berbuat baik kepadamu”. Kemudian mereka pergi.

Tak berselang lama, suami wanita tua itu pun kembali dan diberitahukan kepadanya bahwa ia telah menjamu tamu dengan dombanya. Suaminya marah dan berkata, “celakalah engkau! Kau telah mengorbankan dombaku untuk orang-orang yang tidak dikenal kecuali hanya sebagai orang Quraisy.”

Hari demi hari berlalu. Kondisi keluarga wanita tua itu semakin memburuk. Lalu ia pun berangkat menyusuri jalanan hingga sampai Madinah sambil tertatih-tatih. Imam Hasan as melihat wanita tua itu dan mengenalinya. Imam Hasan menegurnya dan bertanya, “Apakah engkau mengenalku?”. Wanita tua itu menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Tidak! Aku tidak mengenalmu”. Imam Hasan as pun menjelaskan bahwa dirinya adalah tamunya dulu yang dijamunya denga seekor domba miliknya.

Kemudian Imam Hasan as membawa wanita tua itu ke tempatnya, dan Imam Hasan as memberinya hadiah seribu ekor domba dan uang seribu dinar. Lalu Imam Hasan as mengirim wanita tua itu kepada Imam Husain as dan Imam Husain as pun memberikan seribu ekor domba dan uang seribu dinar. Selanjutnya Imam Husain as mengirimkan wanita itu kepada Abdullah bin Ja’far ra, dan seperti dua saudaranya tersebut, ia pun memberikan seribu ekor domba dan seribu dinar uang. Maka wanita itu pun kembali ke tempatnya dengan membawa tiga ribu ekor domba disertai uang 3000 dinar.

Wanita itu terharu, Inilah balasan bagi seekor domba yang disembelihnya. Dan inilah putera-putera Rasulullah saw yang membalas kebaikan orang lain dengan sebaik-baik pembalasan. Inilah wujud teladan sepanjang zaman.

Kumpulkanlah sejumlah manusia tampan dalam khayalan
Lalu datangkanlah Hasan sebagai bandingan
Semua akan tenggelam dalam pesonanya yang rupawan
Wajahnya bak purnama yang menyinari gelap malam
Aromanya menyebar dan mengalahkan semua wewangian bumi
Karena ia adalah semerbak wewangian surgawi
Yang terpancar dari bawah Arsy Ilahi

Menyambut pagi ini, dari kedalaman relung hati
Ku ucapkan “Assalamualaika Yabna Rasulullah, Ya Hasan ibn Ali”
Selamat atas kelahiran Hasan putra Ali
Pewaris tahta langit dan bumi dalam berkah dan ridha ilahi

15 Ramadahan 1438 H dini hari
Dari budakmu yang hina bernama Candiki

🌹💝🌹
CR14

Iklan

PERNIKAHAN SUCI SANG PUTRI NABI

Oleh : Candiki Repantu

ali-fathimah2

Madinah al-Munawwarah semakin bercahaya

Dengan tumbuh dan mekarnya “bunga surga”

Penyejuk mata Nabi mulia, Fatimah Zahra ummu abiha.

Nasab mulia dimilikinya, baik dari jalur ayah atau ibunya,

Cahaya kecantikannya tak perlu diragukan

Keagungan akhlaknya patut dibanggakan

Membuat setiap lelaki di zamannya

Tak peduli dengan usia dan kedudukan mereka,

Semua saling berlomba

Untuk merebut hati Sang Nabi dan perhatian Sang Putri.

 

Abu Bakar yang usianya sepadan dengan Rasulullah

Datang untuk meminang Fatimah.

“Wahai Rasulullah, Anda telah mengetahui kesetiaan

dan pengabdianku terhadap Islam,

aku menginginkan agar Anda menikahkan diriku dengan Fatimah”, minta Abu Bakar.

Nabi Saw tertegun mendengarnya, tanpa sepatah katapun keluar dari lisannya.

Abu Bakar memahami Nabi tidak menerimanya.

Maka ia pun pergi meninggalkan rumah Nabi yang mulia.

Di perjalanan ia bertemu Umar sahabatnya

Menyampaikan bahwa Nabi mengabaikan lamarannya.

 

Dengan ditolaknya Abu Bakar, Umar merasa memiliki kesempatan

Tak menunggu waktu, ia langsung bergegas memburu

Seperti Abu Bakar, ia berhajat meminang Fatimah

untuk menjadi pendamping hidupnya

Namun, ia bernasib sama

Nabi tak meresponnya dan hanya berkata Beliau sedang menunggu pesan ilahi

menyangkut jodoh sang putri

Dua sahabat senior ini

Gugur dalam sayembara suci merebut pujaan hati.

 

Sahabat-sahabat lainnya tak mau rugi

Mereka berusaha menampilkan diri

dengan segala yang mereka miliki

untuk dapat mempersunting putri terkasih Nabi.

Dua pengusaha besar saling berebutan,

Abdurrahman bin Auf dan Usman bin Affan

Keduanya datang ke rumah Nabi secara bersamaan

Untuk menyampaikan lamaran kepada Fatimah wanita idaman.

 

Abdurrahamn bin Auf memulai pembicaraan,

“Wahai Nabi, nikahkanlah putrimu denganku,

maka aku akan memberinya mahar seratus unta hitam bermata biru

yang berasal dari Mesir di lembah sungai Nil

yang semuanya dalam keadaan hamil.

Tidak hanya itu, aku juga akan menambahkan

sepuluh ribu dinar sebagai hantaran.”

 

Mendengar itu, Usman bin Affan tak mau ketinggalan,

Ia menyambut pembicaraan Abdurrahman,

“Wahai Nabi, seperti halnya Abdurrahman,

Aku pun siap memberikan mahar yang sama jika Fatimah berkenan

Lagian, aku masuk Islam lebih duluan.”

Usman mengemukakan kelebihan

Agar Nabi lebih condong menentukan pilihan.

 

Rasul tersenyum memandang kedua sahabatnya ini.

Untuk menenangkan hati sabdapun disampaikan Nabi,

Amraha inda rabbiha”, urusannya ada di sisi Tuhannya.

Nabi tak menginginkan harta karena memang keluarganya senang hidup sederhana.

Nabi hanya menegaskan bahwa jodoh Fatimah ada dalam ketetapan Tuhannya.

Syuaib bin Saab menggambarkan kisah ini dengan indah,

“Ketika matahari kecantikannya bersinar di langit kerasulan

dan menjadi purnama di cakrawala kenaikan bulan kesempurnaannya,

awal pikiran menjangkau ke arahnya

dan tatapan orang-orang terpilih rindu mengamati kecantikannya;

maka, para pemimpin kaum Muhajirin dan Anshar meminangnya,

namun orang yang dikarunia ridha Allah (Nabi Muhammad Saw) menolak mereka

dan berkata, ‘Aku sedang menanti ketetapan Tuhan atasnya’.”

 

Apakah sebenarnya yang dinantikan Nabi?

Bukankah telah datang kepadanya sahabat-sahabat besar yang mengikat janji?

Bukankah telah ditawarkan limpahan harta sebagai mahar tanda kasih sejati?

Namun mengapa nabi menolak dan mengembalikannya pada pesan ilahi?

 

Semua orang merasa bahwa Fatimah bukanlah “wanita biasa”

Nabi pun mencari suami yang bukan “lelaki biasa”

Siapa gerangan lelaki itu adanya?

Para sahabat sudah bisa menduga.

Lelaki itu sahabat setia sekaligus kerabatnya.

Ia orang yang paling dekat dengannya, paling dicintainya,

Ia pembela gigih agama, berjuang sepenuh jiwa,

dan pengabdi yang tak diragukan kesetiaannya,

itulah Ali bin Abi Thalib, Haidar Sang Singa

 

Nabi menantikan kedatangannya,

Namun, sepertinya Ali hilang keberaniannya

untuk mengikuti sayembara cinta melamar Fatimah

Ia sadar siapa dirinya

Bayangkan, sejak kecil hingga dewasa ia diasuh di rumah Khadijah,

diberi makan, diberi pakaian, dididik dengan sebaik-baik pendidikan

Belum lagi membalas semua itu, kini berani-beranian meminta lagi

Anak Nabi untuk dijadikan isteri

“Sungguh tidak tahu terima kasih”,

Begitu kata hati yang menghantui batinnya Ali.

 

Lagian, apa yang bisa ditawarkan untuk bekal pinangan.

Ali adalah pemuda miskin yang tak punya rumah idaman,

biaya hidup pas-pasan, pas ada biaya maka bisa membeli makanan,

pas tidak ada maka ibadah puasa jadi pegangan,

pakaian pun hanya apa yang ada di badan.

Sungguh tak layak pikir Ali, untuk melangkahkan kaki,

melamar putri suci, cahaya mata sang Nabi.

 

Namun, cerita sudah beredar bahwa semua orang ditolak Nabi dengan sabar

Hanya Ali saja yang belum datang melamar.

Para sahabat memotivasi Ali agar dirinya tak gentar

untuk menyampaikan isi hati yang kian membakar

dalam api cinta suci yang terus berkobar.

Namun itulah Ali sang Haidar,

pemuda yang tegar di medan pertempuran yang besar,

kini tubuhnya bergetar, lidah kelu tak mampu berujar,

kepalanya tertunduk seperti ditindih batu besar,

Menghadap Nabi untuk melamar al-Kautsar.

 

Rasulullah saw mengerti gelagat Ali

Yang menyimpan keinginan di dalam hati.

Ia pun bertanya, “Apa gerangan yang membawamu kemari?”.

Jantung Ali berdetak lebih laju, rona wajahnya semakin memerah malu,

mulutnya semakin terkunci membisu,

Namun pikirannya ingin menyampaikan sesuatu.

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Rahman, Ali memulai pembicaraan,

Menyampaikan keinginan untuk memiliki pasangan,

Yang mendampinginya mengarungi suka dukanya kehidupan,

Dan itu adalah Fatimah Zahra, wanita mulia sepanjang zaman.

 

Wajah Nabi menunjukkan kegembiraan,

Yang dinantikan kini datang menghadap sopan,

Inilah akhir janji Tuhan,

Agar menikahkan Fatimah dengan orang yang sepadan,

“Kalau tidak ada Ali, tidak ada yang layak menikahi Fatimah”

begitu kira-kira janji yang telah ditetapkan-Nya.

 

Namun, Nabi tahu aturan,

Dibutuhkan persetujuan untuk menikahkan anak perempuan.

Nabi pun bersabda, “Wahai Ali, sebelummu, sudah banyak laki-laki datang melamar Fatimah,

tapi ia menolak mereka semua.

Aku akan sampaikan hajatmu kepadanya,

tunggulah sampai jawaban terlontar dari lisannya.”

 

Nabi bergegas menemui putrinya,

Dan Ali menanti jawaban az-Zahra dengan hati gundah gulana.

“Fatimah!, panggil Nabi dengan suara lembutnya.

Engkau tahu hubungan Ali dengan kita,

Engkau juga tahu pengabdian dan kesetiaannya

Aku meminta kepada Allah agar menikahkanmu dengannya

Dengan manusia terbaik dari semua makluk-Nya,

yang mencintai dan dicintai-Nya;

dan kini Ali datang melamarmu,

bagaimana pendapatmu?”

 

Fatimah tak memberikan jawaban,

Hanya pancaran wajah dan sorot matanya telah menampakkan isi hatinya.

Nabi saw berdiri mengumandangkan takbir,

Allahu Akbar, diammu menunjukkan persetujuanmu”

 

Nabi menyampaikan kabar gembira itu kepada Ali,

Ali pun merasa lega di hati,

tapi tunggu dulu, ada hal lain yang perlu diketahui,

yaitu mahar apa yang dapat diberikannya sebagai suami.

“Apa yang bisa kau berikan sebagai mahar pernikahan?” tanya Nabi kepada Ali.

Inilah yang dikhawatirkan Haidar,

tak mungkin ia mampu memberikan mahar untuk menyaingi Abu Bakar dan Umar,

apalagi Abdurrahman bin Auf dan Usman bin Affan yang dulu datang melamar.

Jangankan seratus ekor unta bermata biru,

membeli satu untapun dirinya tak mungkin mampu.

 

Tapi lamaran sudah terlanjur disetujui, tak mungkin ditarik kembali.

Dengan memberanikan diri, berkatalah Ali,

“Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu wahai Nabi

Tentang kehidupanku engkau sangat mengetahui

Aku hanya memiliki tiga buah benda : sebilah pedang, seekor unta, dan sebuah baju besi.”

 

Rasulullah tersenyum, ia tahu betul keadaan sepupunya,

tak ada yang tersembunyi darinya, kecuali apa yang diutarakannya.

Rasul pun berkata, “Pedang kau gunakan untuk berjuang,

unta kau pakai untuk mengangkut air kebutuhan harian.

Tak mungkin kau menyerahkan sebagai mahar pernikahan.

Karenanya, juallah baju besi dan bawa hasilnya kemari”,

Itulah pesan Sang Nabi.

 

Imam Ali melaksanakan titah ilahi,

Untuk menjual baju besi sebagai mahar mengikat tali kasih

dalam suatu perjanjian suci.

Hasilnya tak seberapa, hanya 500 dirham saja.

Inilah maharnya Fatimah,

Kelak jumlahnya dijadikan oleh keturunan sucinya

Para imam yang mulia sebagai batas mahar pernikahan mereka.

Tak pernah ada yang berani

memberikan mahar melebihi maharnya Fatimah dan Ali.

Adakah wanita yang merasa lebih mulia dan solehah

Merasa lebih berhak menerima mahar melebihi Fatimah?

Adakah lelaki yang merasa lebih sejati

dengan memberi mahar melebihi pemberian Ali?

 

Perkawinan suci pun dilangsungkan

dengan Nabi bertindak sebagai wali pernikahan.

Jamuan sederhana dibagikan, doa-doa dipanjatkan,

dan wajah kegembiraan menebar di seantero alam.

Namun ketika aroma kegembiraan itu meliputi semua hati,

mendadak masalah terjadi,

Fatimah menuntut mahar lebih dari apa yang diberikan Ali.

Ia menggugat Nabi, “Bukankah setiap wanita berhak menentukan maharnya?

Lalu mengapa aku tak diberi kesempatan untuk meminta maharku?

Aku tak ingin mahar 500 dirham itu, aku menginginkan sendiri maharku.”

 

Nabi tertegun memandang Fatimah seolah tak percaya.

Apakah ada keputusannya yang salah? Mengapa Fatimah berubah?

Tapi memang itu ajaran agama, bahwa wanita juga berhak menentukan maharnya.

Nabi pun hanya bisa pasrah mempersilahkan Fatimah meminta maharnya,

sambil bersabda mengingatkannya,

“Wahai Fatimah, ini Ali yang engkau pasti mengenal kehidupannya,

lantas mahar apakah yang akan engkau minta darinya?”

Dengan sungguh-sungguh Fatimah berkata, meminta mahar yang tidak terkira,

“Aku memohon kepada Allah, dihari pernikahanku,

agar Allah menjadikan syafaatku sebagai mahar pernikahanku”.

 

Semua memandang seolah tak percaya

sebab Fatimah meminta mahar termahal di dunia.

Siapa yang mampu mengabulkannya kecuali Tuhan pemilik jagat raya.

Tuhan pun menjawab permintaan az-Zahra,

Jibril pun diperintahkan turun dari sisi Tuhan

Untuk menyampaikan salam persetujuan

Mahar syafaat menjadi syarat pernikahan.

Selembar kain yang bertuliskan perjanjian Tuhan

Dibawa Jibril untuk Fatimah wanita penghulu alam

memberi syafaat kepada manusia kelak di alam kebangkitan.

“Allah telah setuju menjadikan syafaat Fatimah

bagi umat ayahnya sebagai mahar nikahnya”,

begitu teks perjanjiannya.

Kelak, ketika menjelang ajalnya,

Fatimah berwasiat kepada Ali suaminya

untuk meletakkan surat perjanjian itu dalam kain kafannya,

Letakkan surat ini di kain kafanku,

sebab kelak dihari kiamat, dengan memegang suratku,

aku akan memberikan syafaatku kepada orang-orang yang berdosa dari umat ayahku.”

 

Hari itu, 1 Dzulhijjah 14 abad yang silam,

Menjadi saksi penting ikatan kasih sayang

Dalam perjanjian yang teguh, mitsaqan ghalizhan

Antara dua insan suci yang dibalut keagungan,

Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra, .

Ikatan kasih mereka abadi

Hingga bertemu Ilahi Rabbi.

 

Ketika mengenang Fatimah, Imam Ali pernah bercerita,

“Aku menikah dengan Fatimah.

Kami tak memiliki alas tidur kecuali selembar kulit domba.

Malam harinya kami gunakan untuk alas tidur,

dan siang harinya kami jemur.

Kami tak memiliki pembantu,

pekerjaan rumah dikerjakan Fatimah tanpa mengeluh.

Ketika kami pindah, Rasulullah membekali kami dengan sebuah selimut,

bantal kulit yang diisi serabut,

dua gilingan tepung, satu gelas, dan sekantong susu.

Begitu seringnya Fatimah menggiling tepung,

sampai berbekas kasar pada tangannya.

Begitu seringnya Fatimah memanggul air,

sampai berbekas hitam di punggungnya.

Begitu seringnya Fatimah membersihkan rumah,

sehingga pakaiannya dipenuhi debu.

Dan begitu seringnya Fatimah menyalakan tungku api,

sampai-sampai pakaiannya menghitam dipenuhi arang.”

 

Ya Fatimah, Ya Ali,

jalinan cinta kalian ternyata menjadi rahmat bagi seluruh bumi,

meliputi kami yang hidup saat ini,

hingga manusia nanti sampai kiamat terjadi.

Ikatan kasih kalian, menebar ke seluruh alam

yang terungkap dalam bantuan syafaat yang sangat kami butuhkan

ketika berdiri di pengadilan Tuhan.

 

Ya Fatimah, kami sampaikan doa dengan wasilah,

“Ya wajihatan ‘indallah, isfa’i lana ‘indallah”,

“Wahai yang mulia di sisi Allah, syafaatilah kami di sisi Allah”.

Kepada semua pecinta Fatimah,

Kami sampaikan “Selamat Hari Mahabbah

Semoga Allah mengekalkan cinta kita semua

kepada keluarga suci Nabi-Nya,

yang menebar hingga anak –cucu dan keturunan kita.”

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad!

 

IMAM RHIDA AS : SANG MATAHARI KHURASAN

Oleh : Candiki Repantu

imam ridhaSyaikh Shaduq dalam kitabnya ‘Uyun al-Akhbar al-Ridha menyampaikan riwayat ini : “…dari Ali bin Maitsam, dari ayahnya yang mengatakan, “Saya mendengar Najmah, ibunya Imam Ridha, berkata, ‘Ketika aku mengandung putraku Ali, aku tidak merasakan beban apa pun. Aku mendengar tasbih, tahlil, dan puji-pujian dari perutku ketika aku tidur. Aku khawatir mendengar suara-suara tersebut. Namun saat terbangun aku tidak mendengar suara apapun. Ketika lahir, dia meletakkan kedua tangannya di atas tanah, mengangkat kepalanya ke arah langit dan menggerakkan bibirnya mengucapkan sesuatu.’ Ayahnya, Musa bin Ja’far as datang kepadaku dan berkata, ‘Wahai Najmah! Selamat untuk anugerah ilahi ini yang Allah berikan kepadamu.’ Kemudian aku membungkus bayi itu dalam balutan kain putih dan menyerahkannya. Imam Kazhim as mengumandangkan azan di telinga kanannya dan ikamat di telinga kirinya. Kemudian, beliau meminta dibawakan air dari sungat Efrat dan memberi minum sang bayi (Imam Ridha) sebagian darinya. Lalu dia memberikan kembali bayi itu kepadaku dan berkata, ‘Ambillah! Dia adalah baqiyatullah di muka bumi’.”

Imam Ali Ridha bin Musa dilahirkan di Kota Madinah, pada 11 Dzulqaidah 148 H, tepat pada tahun wafatnya Imam Ja’far Shadiq as, kakek kandungnya. Berasal dari keturunan yang suci dan disucikan, yang menaiki tangga kemuliaan dan kesempurnaan. Putra keturunan suci ini merupakan puncak bagi seluruh dimensi karakter manusia, dalam pemikiran dan perasaan serta perbuatan, dia adalah bintang gemintang yang bersinar dalam perjalanan manusia, teladan yang agung dalam sejarah. Dia telah berpasrah diri kepada Allah dan mengikuti jejak Rasulullah saw, serta menjadi padanan kitab Alquran yang mulia. Kesempurnaan dan kesuciannya tidak ada bandingnya di alam semesta, bakan para malaikat sekalipun tak mampu mencapainya.

Ayahnya adalah Imam Musa al-Kazhim bin Ja’far as dan Ibunya adalah ummu walad, yang dipanggil dengan nama-nama yang beragam yaitu Najmah, Arwa, Sakan, Saman, dan Tuktam. Najmah dan Tuktam adalah nama yang masyhur dikenal oleh masyarakat Iran. Ketika melahirkan Imam Ali Ridha, Imam Musa Kazhim as memanggilnya dengan nama Thahirah (perempuan suci).

Kemuliaan Imam Ali Ridha di sisi syiah bisa dilihat dari gelar-gelar yang diberikan kepadanya, seperti ash-Shabir (yang sabar), az-Zaki (suci), al-Wafi (yang mulia), Sirajullah (cahaya Allah), Qurratul Ainil Mukminin (cahaya mata orang mukmin), Makidatul Mulhidin (penakluk orang ateis), ash-Shiddiq (yang jujur terpercaya), dan al-Fadhil (yang utama). Adapun panggilan beliau yang populer adalah Abul Hasan Ali al-Ridha.

Suatu ketika Bizanthi menyampaikan kepada Imam Muhammad al-Jawad, putra Imam Ali Ridha, bahwa sebagian orang mengira, al-Makmun memanggil Imam Ali dengan panggilan al-Ridha karena dia menyukai Imam dan memilihnya sebagai putra mahkota. Imam Jawad as membantahnya, “Demi Allah! Mereka adalah para pendusta. Allah Swt yang menamakannya al-Ridha, karena dia diterima oleh Allah Swt di langit-langit-Nya, dan dia diterima oleh Nabi-Nya dan para imam di bumi-Nya.” Bizanthi mengatakan, “Bukankah ayahmu dan para datukmu diterima oleh Allah, Nabi, dan para Imam?” Imam Jawad as menjawab, “Ya, mereka diterima.” Dia kemudian bertanya, “Lantas mengapa hanya ayahmu yang dipanggil dengan sebuatan al-Ridha sementara mereka tidak?” Maka Imam Jawad as mengatakan, “Itu karena para sahabat dan para pengikutnya serta para musuhnya menerimanya, sedangkan hal ini tidak pernah terjadi terhadap para datukku. Karenanya, dia adalah orang satu-satunya yang dipanggil dengan sebutan al-Ridha.”

Selamat atas Miladnya Imam Ali Ridha as yang kehadirannya di Thus menjadi cahaya mercusuar yang menerangi setiap sudut kota, gunung batu, padang pasir, lembah, sungai, hingga relung-relung hati para pecinta keluarga Nabi. Dialah Sang Matahari Khurasan!

Tahrif kitab Futuhat al-Makkiyah, Keturunan Siapakah Imam Mahdi Menurut Ibnu Arabi?

Oleh Candiki Repantu

Abdul Wahab As-Sya’rani (w 973 H), seorang ulama dan sufi besar di dalam kitabnya al-Yawaqit wal Jawahir yg ditulis untuk menjelaskan konsep-konsep inti dalam pemikiran Ibnu Arabi, mengutip pernyataan Ibnu Arabi dalam kitabnya “Futuhat al-Makkiyah bab 366” sbb (perhatikan yg digaris merah)

yawakit al-jawahirPerhatikan yg digaris merah disebutkan “Ibnu Arabi dalam bab 366 dari kitabnya Futuhat menyebutkan bahwa “,,,,AL-MAHDI ADALAH ITRAH/KETURUNAN RASULULLAH SAW, DARI FATIMAH, KAKEKNYA ADALAH HUSAIN BIN ALI BIN ABI THALIB. AYAHNYA ADALAH HASAN ASKARI BIN IMAM ALI AN-NAQI BIN MUHAMMAD AT-TAQI, BIN IMAM ALI AL-RIDHA, BIN IMAM MUSA AL-KAAZHIM, BIN IMAM JA’FAR AL-SHADIQ BIN IMAM MUHAMMAD AL-BAGIR, BIN IMAM ZAINAL ABIDIIN, BIN IMAM AL-HUSAIN BIN ALI BIN ABI THALIB. NAMA BELIAU SAMA DENGAN NAMA RASUL SAWW, BELIAU AKAN DIBAIAT KAUM MUSLIMIN ANTARA RUKUN DAN MAQAM,,,”

Jadi, Ibnu Arabi menyatakan bahwa Imam Mahdi sudah lahir, dan ia merupakan putra dari Imam Hasan Askari

Pernyataan as-Sya’rani di atas juga dibenarkan oleh ulama besar sunni lainnya yaitu Muhmmad Ali Shbabban dalam kitabnya Is’af al-Raghibin fi sirah al-mushtafa wa fadhail ahli baiti al-thahirin, berikut ini

وقال سيدي عبد الوهاب الشعراني في كتابه اليواقيت والجواهر المهدي من ولد الإمام حسن العسكري ومولده ليلة النصف من شعبان سنة خمس وخمسين ومائتين وهو باق إلى أن يجتمع بعيسى ابن مريم وهكذا أخبرني الشيخ حسن العراقي المدفون فوق كوم الريش المطل على بركة الرطل بمصر المحروسة عن الإمام المهدي حين اجتمع به ووافقه على ذلك سيدي علي الخواص رحمهما الله تعالى.
________________________________________
وقال الشيخ محيي الدين في الفتوحات اعلموا أنه لا بد من خروج المهدي عليه السلام لكن لا يخرج حتى تمتلئ الأرض جورا وظلما فيملؤها قسطا وعدلا وهو من عترة رسول الله صلى الله عليه وسلم من ولد فاطمة رضي الله تعالى عنها جده الحسين بن علي بن أبي طالب ووالده الإمام حسن العسكري بن الإمام علي النقي بالنون ابن الإمام محمد التقي بالتاء ابن الإمام علي الرضا ابن الإمام موسى الكاظم ابن الإمام جعفر الصادق ابن الإمام محمد الباقر ابن الإمام زين العابدين علي بن الحسين بن الإمام علي بن أبي طالب رضي الله تعالى عنهم يواطئ اسمه اسم رسول الله صلى الله عليه وسلم يبايعه المسلمون بين الركن والمقام يشبه رسول الله صلى الله عليه وسلم في الخلق بفتح الخاء

Namun, jika kita rujuk pada kitab Ibnu Arabi yang ada saat ini, telah terjadi perubahan dan penghapusan nasab atau silsilah Imam Mahdi yg menyebutkan nama imam-imam syiah tersebut, berikut ini saya bawakan teks dari kitab Futuhat al-Makkiyah karya Ibnu Arabi pada bab 366, ternyata di sana sudah dihapus dan tidak ada lagi nama-nama Imam2 syiah sbg nasabnya imam mahdi tsb, yang ada tinggal pernyataan bahwa “IMAM MAHDI ADALAH ITRAH/KETURUNAN RASUL DARI FATIMAH, KAKEKNYA ADALAH HUSAIN BIN ALI BIN ABITHALIB,,”,,,, Tidak ada lagi pernyataan “Ayahnya adalah Imam Hasan Askari, bin Imam Ali at-Naki, bin Imam Muhamad al-Taki, bin imam Ali al-Ridha, bin Imam Musa al-Kazhim, bin imam Ja’far al-Shadiq bin imam Muhammad al-Bagir, bin Imam Zainal Abidiin, bin imam al-Husain bin Ali bin Abi Thalib,,,”

Berikut teks dari kitab Futuhat Ibnu Arabi dalam satu versi penerbitan

futuhan husain

Perhatikan teks yg digaris merah dibagian kedua setelah bab 366, disebutkan bahwa Imam Mahdi adalah “KHALIFAH DARI KETURUNAN RASULULAH DARI FATIMAH, YANG NAMANYA SAMA DENGAN NAMA RASULULLAH SAW, KAKEKNYA ADALAH HUSAIN BIN ALI BIN ABI THALIB YANG AKAN DIBAIAT DI ANTARA RUKUN DAN MAQAM”

Jadi dalam hal ini pendapat Ibnu Arabi yang lengkapnya ttg Imam Mahdi adalah keturunan Imam Imam Hasan Askari,, dst silsilahnya sampai Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib, dihapus, dan tinggal pernyataan “kakeknya adalah Husain bin Ali”

————–

Tapi itu masih lumayan, karena kemudian ternyata, tidak hanya sampai disitu saja, karena ada juga kitab Futuhat al-Makkiyah dalam versi terbitan yang lainnya yang bukan hanya menghapus silsilah Imam Mahdi, bahkan telah terjadi penggantian nama, yaitu dari “IMAM HUSAIN” menjadi “IMAM HASAN” ,,,,, Perhatikan teks yg digaris merah berikut ini

futuhat 0267

Dalam versi penerbitan ini, yg digaris merah meyebutkan bahwa Al-Mahdi adalah “KHALIFAH DARI KETURUNAN RASULULLAH SAW DARI FATIMAH, DAN KAKEKNYA ADALAH HASAN BIN ALI”

Jadi, dalam hal ini pendapat Ibnu Arabi yg pada awalnya menyebutkan bahwa Imam Mahdi adalah keturunan Imam Husain, diganti menjadi keturunan Imam Hasan!

Jadi keturunan siapakah Imam Mahdi menurut Ibnu Arabi? Wallahu a’lam

Lahirnya Abul Fadl Abbas Ksatria Tanpa Tangannya

Oleh Candiki Repantu

abbas3Pada 4 Sya’ban 26 H, Imam Ali as mendapatkan seorang putra lagi yang juga kelak menjadi tumpuan keluarga Nabi. Itulah Abul Fadhl Abbas, sang Purnama Bani Hasyim, dari rahimnya Ummul Banin. Seolah telah ditakdirkan untuk selalu menjadi pendamping al-Husain. Bayangkan, ia dilahirkan pada bulan yang sama, dengan tangal yang hanya berbeda satu hari dari Imam Husain, dan wafatnya pada tanggal yang sama dengan al-Husain di tempat yang sama pula. Abul Fadhl Abbas, adalah simbol pendamping setia Sayidus Syuhada.

Ketika Imam Ali diberitahukan tentang kelahiran putra Ummul Banin ini, beliau segera kembali ke rumahnya dan diliputi rasa gembira. Ia mendekap sang bayi, mengumandangkan azan dan ikamah di telinganya. Sebagai ungkapan rasa syukurnya, dan keberkahan kelahiran putranya, Imam Ali memberikan sedekah kepada kaum papa. Tak bosan Imam Ali memandangi wajah sang bayi. Ia melihat jiwa tangguh pemberani dan semangat yang utuh pada diri putranya ini. Abbas itulah nama yang pantas, pikirnya.

Abbas artinya singa, yang membuat takut setiap orang yang menghadapinya. Ayahnya juga adalah singa (Haidar) yang membuat gentar setiap lawan-lawanya. Ia mendapatkan kemuliaan di asuh oleh tiga imam, Ali bin Abi Thalib, al-Hasan, dan al-Husain. Sehingga ia tumbuh menjadi pemuda yang kuat fisiknya, tinggi akalnya, dan bersih jiwanya. Limpahan kemuliaan para imam, menjadikannya sebagai manusia pilih tanding di medan laga, dan pilih sanding di pengabdian agama. hidupnya begitu mulia dengan banyak ibadah, dan matinya juga mulia dengan menggapai syahadah.

Imam Ali Zainal Abidin, yang merupakan saksi karbala, bertutur tentang pamannya ini, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada pamanku Abbas, yang telah mengorbankan hidupnya demi membela saudaranya sehingga kedua tangannya tertebas. Allah Yang Maha Kuasa menganugerahkan kepadanya sepasang sayap yang memudahkannya terbang menuju surga bersama para malaikat sebagaimana Allah menganugerahkan hal yang sama kepada Ja’far bin Abi Thalib. kedudukannya yang khusus inilah yang membuat iri para syuhada lainnya.”

Imam Ja’far Shadiq, sangat memuji pengorbanan Abul Fadl Abbas, “Pamanku Abbas bin Ali” kata Imam Ja’far suatu hari, “Memiliki penglihatan yang tajam dan iman yang menjulang. Ia tetap setia bersama Abu Abdillah (al-Husein) dan berjuang disampingnya, hingga ia menggapai syahadah yang sempurna. Pada kesempatan lainnya, Imam Ja’far menyampaikan salam kepadanya dengan mengatakan, “Segala puji bagi Allah dan para malaikat-Nya. Salam sejahtera bagi para nabi dan orang-orang saleh. Salam bagi seluruh syuhada dan orang-orang yang jujur. Salam sejahtera bagi Abbas bin Ali bin Abi Talib.”

Jadi, Imam Ali, Imam Hasan, dan juga Imam Husein mengetahui dengan jelas kemuliaan diri putra Ummul Banin ini, karena itu mereka dengan sepenuh hati mendidiknya. Dan Abul Fadhl Abbas juga tak menyia-nyiakan kebersamaannya dengan para imam mulia ini. Setiap ajaran mereka diserapnya dan diterapkannya, setiap perintah mereka dilaksanakannya, dan setiap amanat mereka ditunaikannya, inilah yang mengantarkannya pada derajat manusia sempurna.

Abul Fadhl Abbas sangat menghormati Imamnya. Suatu hal yang mengesankan, walaupun Imam Husian adalah saudaranya, tetapi Abul Fadhl Abbas, tak pernah memanggil al-Husain dengan panggilan kakak. Ia selalu memanggil al-Husain dengan sebutan Imam. Ia memang sangat bersyukur menjadi saudara sedarahnya Imam Husian as, tetapi ia juga merasa dirinya tak layak disandingkan dengan Imam Husain as. Konon ibunya, Ummul Banin, pernah mengingatkannya, “Wahai Abbas, engkau memang putranya Ali, saudara Hasan dan Husain, tetapi ingatlah engkau bukan putranya Sayidah Fatimah”. Ummul Banin menyadari bahwa dirinya bukanlah sebanding dengan Sayidah Fatimah, walaupun punya kedudukan yang sama sebagai istrinya Imam Ali.

Dengan penghormatannya yang tinggi itu, membuat Abbas mendudukkan dirinya pada posisi budak di hadapan tuannya. Tak pernah luput sekalipun ia melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya. Dikatakan, setiap keluarga Imam Husian meminta sesuatu, maka Abbas pasti mengabulkannya. Tak pernah sekalipun ia gagal membawakan hajat yang diinginkan keluarga imamnya. Hanya satu kali seumur hidupnya, ia gagal memenuhi permintaan keluarga imamnya, yaitu ketika Sukainah, dalam kehausan yang tiada tara, memintanya untuk mengambil air untuk membasahi tenggorokan mereka yang terbakar dahaga. Abbas meneteskan air matanya melihat permata Husain merana, dilanda dahaga di pinggir sunggai Efrat yang melimpah airnya. Ketika kuda-kuda bahkan anjing sekalipun dibiarkan meminum air sungai, namun keluarga Nabi dibiarkan kehausan hingga tubuh terkulai, sungguh manusia-manusia durjana yang biadab, tapi masih mau mengaku umatnya Muhammad.

Abbas tak mampu menahan haru, dengan izin imamnya, ia hentak kudanya menuju sungai Efrat dengan satu tekad, mengambil air untuk keluarga Muhammad. Tak perduli banyaknya musuh yang mengarahkan panah, tombak dan pedang kepadanya. Ia tunjukkan keahlian perangnya. Ia mengamuk bagai banteng ketaton memporak-porandakan barisan musuh yang berusaha menghadang. Setiap ia menggerakkan pedang, terdengarlah suara jeritan, disertai tubuh yang jatuh telentang. Usaha gigihnya tak sia-sia, musuh tak mampu menghadangnya, sampailah ia di pinggir sungai Efrat. Napas memburu, tenggorokan naik-turun melihat air bening mengalir tenang. Terbersit di hatinya, ingin meneguk air untuk membasahi kerongkongannya, tetapi benaknya diliputi wajah-wajah mulia Imam Husian dan putra-putrinya. Tak layak pikirnya, ia meneguk air menghilangkan dahaga, sementara sang Imam dan keluarganya, menanti dalam kehausan yang mendera.

Dengan segera ia mengisi kantong-kantong airnya, kembali menaiki kudanya menuju tenda tempat Sukainah menunggunya. Tapi, pasukan musuh sudah mengepungnya, tak memberi jalan bagi Abbas untuk melewatinya, tanpa perjuangan bersenjata. Abbas mengikat kantong-kantong air ditubuhnya. Dengan pedang di tangan kanan, ia menyongsong pasukan musuh yang beringas ingin membunuhnya. Tak kenal kasihan, ratusan tombak dan pedang digunakan untuk menghadang Abul Fadhl Abbas yang hanya sendirian. Hingga sebuah pedang berhasil menebas lengan Abbas yang sebelah kanan. Tangan kanan itu jatuh terpental, dan darah pun bertebaran, Abul Fadhl Abbas meringis menahan sakit, “Demi Allah!” kata Abbas, “Biarpun tangan kananku buntung, aku takkan berhenti bertarung, akan kubela al-Husain dengan tangan kiriku,,, Apalah arti sepotong tanganku untuk membela agama kakekku, karena aku telah serahkan jiwa demi tegaknya agama.”

Abbas terus berperang di tengah derasnya anak-anak panah yang dilontarkan,,,Tiba-tiba dari arah belakang sebuah ayunan pedang kembali menghantam, menebas tangan kirinya. Abbas mengerang, sakit mendera sekujur tubuhnya. Kegesitannya menghilang, keseimbangannya tak bisa dipertahankan. Abbas tetap berada di atas kudanya dalam keadaan putus kedua tangannya, darah melumuri bajunya, matanya hanya mampu menatap wajah-wajah durjana di sekitarnya. Ia masih berpikir, memperhatikan jalan keluar agar dapat mengantarkan kantong air kepada keluarga Imamnya, tapi apa nak dikata, sebatang anak panah mengenai matanya, luka merekah menebarkan banyak darah, tubuhnya tak mampu lagi bertahan di atas kudanya, ia jatuh tersungkur bebas, karena tak ada lagi tangan yang bisa menopangnya

Wajah Abbas yang berlumuran darah, semakin dilanda kalut dan sedih melihat kantong air putus dan airnya terbuang sia-sia di padang pasir karbala, ia meradang karena tak berhasil memenuhi permintaan keponakannya, Sukainah dan Atikah. Di sisa-sisa tenaganya, ia hanya mampu berteriak, “wahai Imam, datanglah padaku sebelum ajal menjemputku.”

Teriakannya sampai ditelinga al-Husian, al-Husain bergegas menyongsong Abbas, matanya menatap setiap mayat yang yang berserakan. Di manakah Abbas? Imam memperhatikan kesana-kemari, ia melihat sosok tubuh mengerang, semakin dekat semakin terlihat, itulah Abbas, “Abbas saudaraku, apa yang mereka lakukan terhadapmu?” kata al-Husain. Imam mengangkat kepala Abbas, meletakkannya di pangkuannya, tetapi Abbas menggeser kepalanya, meletakkan kembali di padang pasir Karbala. Imam mengangkat dan meletakkan kembali dipangkuannya, “Wahai Imam” kata Abbas, “aku membayangkan saat ajal menjemputmu, tak ada seorang pun yang memangku kepalamu, karena itu aku merasa lebih baik jika kepalaku tetap di atas pasir saat ajal menjemputku. Lagi pula, aku adalah hambamu dan engkau adalah imamku. Tak pantas bagiku meletakkan kepala dipangkuanmu”. Imam Husain tak mampu menahan haru, air mata menetes deras mengharu biru.

“Wahai Imam!”, lanjut Abbas, “waktu aku dilahrikan wajahmulah yang kupandang, maka diakhir hidupku ini, aku juga hanya ingin memandang wajahmu, namun, satu mataku tertusuk anak panah, dan satunya lagi dibanjiri darah. Tanganku sudah tiada, aku mohon padamu untuk membersihkan darah dari sebelah mataku agar aku dapat menatap wajahmu.” Tetesan air mata al-Husain semakin deras

“Wahai Imam!” kata Abbas lagi, “Aku masih ada permohonan padamu. Jika aku wafat, aku tidak ingin jenazahku dibawa ke tenda, karena aku telah berjanji pada Sukainah untuk membawa air kepadanya, tapi aku gagal, aku malu menemuinya sekalipun hanya jasadku saja, begitu pula janganlah engkau bawa Sukainah kemari untuk melihat keadaanku. Karena aku khawatir dirinya tak mampu menahan duka melihat tubuhku seperti ini. Jadi biarkanlah jasadku terbaring sendiri di sini.”

Imam Husian tak mampu berkata apapun, hanya air mata yg berderai, ia bersihkan darah dari wajah Abbas, untuk memenuhi permintaan terakhirnya. Kedua saudara ini saling pandang, Imam Husain kemudian berkata, “Wahai Abbas!, aku juga punya permintaan padamu, sejak kanak-kanak, engkau selalu memanggilku imam, maka diakhir hayatmu ini, aku ingin sekali saja engkau memanggilku kakak.”

Abbas memandang Imam Husain, tubuhnya dan suaranyapun lemah, bibirnya berusaha membuka, imam Husian mendekatkan wajahnya, ia mendengar desahan lirih Abbas, “kakakku, kakakku!”, itulah kata terakhir yang mampu dikatakannya! Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Inilah kisah dua saudara, lahir ditanggal yang hampir sama pada bulan yang sama, dan mereguk syahadah di tempat dan waktu yang sama, mereka berdua memang ditakdirkan Tuhan sebagai pemilik simbol keberanian, kesetiaan, ketegaran, keteguhan, dan tentu saja kebenaran!

Lahirnya Husain, Ksatria Tanpa Kepala

Oleh  Candiki Repantu

6Di Madinah, dalam sebuah rumah yangsangat sederhana, dengan luas sekitar 15 m (diperkirakan berukuran panjang 4,6m, lebar 3,4 m dan tinggi 3,15 m), yang beratapkan pelepah kurma denganbatangnya pula sebagai tiang penyangga, sedangkan dinding-dindingnya terdiridari susunan batu atau tanah liat yang dikeraskan, mendapatkan berkah dancahaya rahmat dengan lahirnya seorang bayi nan indah tepat tanggal 3 Sya’ban 4H.

Suasana kota Madinah semakin bersinar,rumah kenabian harum semerbak, Nabi dan keluarganya serta masyarakat Madinahmenyambut lahirnya seorang pemimpin pemuda surga, putra pemimpin orang yang takwa,Ali bin Abi Thalib, dari rahim wanita penghulu semesta, Fatimah az-Zahra as.Bayi mungil ini, berdasarkan wahyu yang diterima oleh kakeknya, diberilah nama al-Husain.Secara fisik dikatakan bahwa Imam Hasan menyerupai Nabi dari kepala hinggadada, sedangkan Imam Husain menyerupai Nabi dari dada hingga kaki.

Itulah al-Husain pewaris tahta kepemimpinanumat sejagat. Darinyalah manusia-manusia teladan abadi lahir untuk menjadipenjaga syariat Sang Nabi. Sayidah Fatimah mengisahkan, “Rasulullah saw menemuikuketika aku baru melahirkan al-Husain. Aku serahkan al-Husain kepada beliaudalam sebuah kain yang berwarna kuning. Rasulullah saw melemparkan kain kuningitu dan mengambil sebuah kain yang berwarna putih dan membalut bayi al-Husaindengan kain putih itu. Setelah itu, Rasulullah saw bersabda, “Ambillah bayiini, wahai Fatimah! Sesungguhnya dia adalah seorang imam, putra dari seorangimam, dan ayah sembilan orang imam, dari sulbinya akan lahir imam-imam yang saleh dan yang kesembilan dari mereka adalah al-Mahdi”.

Itulah Husain, yang namanya diwahyukan Tuhan, Imam Sajjad bertutur tentang kelahiran ayahnya, “Tatkala al-Husain lahir, Allah Yang Maha Tinggi mewahyukan kepada Jibril bahwa telah dilahirkan seorang anak bagi Muhammad, maka turunlah dan sampaikan selamat kepadanya, dan katakan,“Sesungguhnya kedudukan Ali di sisimu seperti kedudukan Harun di sisi Musa, oleh karena itu, namailah dia dengan nama putra Harun”. Jibril pun turun menyampaikan salam Tuhan. Jibril berkata, “Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk menamainya dengan nama putra Harun.” Rasulullah bertanya, “Siapa nama putra Harun?” Jibril menjawab, “Syubair”. Rasulullah berkata lagi, “Aku adalah orang Arab”. Jibril menjawab, “Namailah dia al-Husain”.

Itulah al-Husain, bukan orang sembarangan.“Suatu hari”, kenang Bara bin Azib, “Aku melihat Rasulullah menggendong Husain sambil berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku menyayanginya, maka sayangilah dia”, Dalam riwayat lain, disebutkan Rasul bersabda, “Husain dariku dan aku dari Husain, Allah menyintai orang yang menyintai Husain” (Mizan al-Hikmah)

Namun, berbeda dengan miladnya Nabi, Imam Ali, Fatimah, dan Imam Hasan, memperingati miladnya Imam Husain memiliki kekhasan tersendiri, yaitu jika setiap miladnya para manusia mulia lainnya disambut dengan riang gembira, tetapi kelahiran Husain disambut dengan deraian air mata.

Ummul Fadhl binti al-Harits meriwayatkan bahwa suatu hari ia datang menjumpai Rasulullah saw untuk mengabarkan mimpi yang dialaminya. Nabi bertanya, “mimpi apakah itu?” Ummul Fadhl menjawab,“sungguh mengerikan ya Rasul”. Rasul bertanya lagi, “Mimpi apakah itu?” Ummul Fadhl pun menjawab, “Aku bermimpi sepenggal jasad yang terpotong diletakkan dipangkuanku”. Nabi menenangkannya, dan bersabda, “wahai Ummul Fadhl, itu adalah mimpi yang indah, insya Allah, Fatimah akan melahirkan seorang anak dan anak itu akan berada dalam pangkuanmu”.Apa yang diramalkan terbukti, Fatimah melahirkan Husain, dan diletakkan di pangkuan Ummul Fadhl.

“Suatu hari”, lanjut UmmulFadhl, “aku masuk menemui Rasulullah dan menyerahkan al-Husain ke pangkuan beliau, ketika aku menoleh, aku melihat kedua mata Rasulullah mengucurkan airmata. Aku berkata, “Wahai nabi Allah, semoga ayah dan ibuku menjadi tebusan,apa yang terjadi?” Nabi saw bersabda, “Jibril datang menjumpaiku dan mengabarkan bahwa kelak umatku akan membunuh putraku ini.” Aku bertanya, “Putra anda ini”. Nabi saw bersabda, “Ya! Dan Jibril pun membawakan untukku segenggam tanah merah (tempat terbunuhnya) al-Husain.” (lihat al-Hakim, al-Mustadrakjuz III : 176)

Jadi, Nabi berduka dan menangisial-Husain. Inilah sunnah fi’liyah yang dipraktikkan Nabi. Dan hal itu dilakukan Rasulullah setiap ada kesempatan dan di berbagai tempat. Tradisi menangisi al-Husain ini menjadi tradisi kenabian dalam setiap memperingati miladnya sang ksatria tanpa kepala.

Perhatikan laporan dari al-Khawarijmi al-Hanafi berikut ini, “Ketika al-Husain berusia satu tahun, turunlah dua belas malaikat menemui Rasulullah dengan wajah memerah. Mereka membentangkan sayap-sayap sambil berkata,‘Wahai Muhammad, putramu al-Husain akan terbunuh seperti tebunuhnya Habil oleh Kabil,dan ia akan diberi pahala seperti Habil, sedangkan pembunuhnya akan menerima dosa seperti dosanya Kabil’. Para malaikat di langitpun turun semuanya untuk menyampaikan belasungkawa kepada Nabi atas apa yang akan menimpa al-Husain dan mengabarkan pahala yang akan diberikan untuk al-Husain serta menyerahkan tanah al-Husain, dan Nabi saw berdoa, “Ya Allah hinakan orang yang mengabaikan pembelaan terhadap al-Husain dan bunuhlah orang yang membunuhnya, dan jangan beri kesenangan pada nikmat yang diperolehnya”

“Dan ketika al-Husain berusia dua tahun”, lanjut Khawarijmi, “Nabi saw sedang dalam perjalanan, tiba-tiba beliau berhenti dan mengatakan inna lillahi wainna ilaihi rajiun, sambil kedua mata beliau meneteskan air mata. Ketika ditanya, beliau menjawab, ‘Jibril  mengabarkan kepadaku tentang sebuah daerah di sisi sungai Efrat yang dinamai Karbala, yang di sanalah putraku al-Husain putra Fatimah kelak akan dibunuh”

Sebab itu, gelar Imam Husain adalah Sayyid al-Syuhada, pemimpin para syahid. Gelar mulia ini disematkan Nabi, bukanlah sekedar penghias nama, tapi fakta sejarah yang tak mungkin dihilangkan—meskipun sering dilupakan— Pada 10 Muharram 61 H, di Padang Tandus Karbala, Imam Husain beserta keluarga dan sahabatnya di bantai dengan keji oleh segerombol manusia atas perintah Yazid bin Muawiyah. Peristiwa ini dikenal sebagai Asyura.

Sebab itu, jika Sang Nabi menangisi al-Husain 50 tahun sebelum peristiwa itu terjadi, lantas bagaimana dengan kita yang mengetahui peristiwa itu secara nyata? Mengapa kita tidak menangisi al-Husain? Jika tangisan ini dianggap bid’ah, biarkanlah air mata ini kelak menjadi saksi dan hujjah di hadapan Allah dan Rasul-Nya serta Imam Ali dan Bunda Fatimah, bahwa kita bersedih untuk al-Husain karena kecintaan yang tulus kepadanya. Karena, pada hari ini, ketika lahirnya diperingati, kita ingin bergabung bersama kafilah duka suci Sang Nabi untuk menangisi al-Husain putra Ali.

Ali Sang Haidar

Ali Sang Haidar

Oleh Candiki Repantu

aliTiga belas rajab, 30 tahun setelah peristiwa ashabul fil (tentara gajah), seorang wanita terlihat menyusuri jalanan Mekah menuju Baitullah, ka’bah. Dengan penuh keyakinan, wanita itu memasuki pelataran Masjidil Haram, ketika itu terlihat beberapa pemuka Mekah sedang berada di sekitar ka’bah, diantaranya ada Abbas bin Abdul Muthalib.

Tanpa memperdulikan tatapan orang-orang di sekitarnya, wanita itu menuju ka’bah, ia berniat melakukan thawaf sebagai salah satu ibadah yang diperintahkan oleh Tuhan, Sang Pemilik ka’bah. Sesekali terlihat wanita itu mengelus perutnya yang terlihat besar, oh ternyata ia sedang hamil dan telah memasuki usia melahirkan. Thawaf yang dilakukannya ini berniat sebagai permohonan kepada Tuhan untuk keselamatan dalam melahirkan bayinya.

Di sela-sela thawafnya, ia bersimpuh di dinding ka’bah, ia menengadahkan wajah ke langit, dengan hati khusyu dan penuh pengharapan, ia berdoa, “Tuhanku! Sesungguhnya aku beriman kepada-Mu, dan kepada semua rasul-Mu, serta apa yang dibawa oleh para rasul dari sisi-Mu dan apa yang tertera di dalam kitab-kitab-Mu. Sesungguhnya aku memberikan kesaksian bahwa datukku Ibrahim al-khalil, dialah yang membangun Baitullah. Maka, Ya Allah! Demi keagungan ka’bah yang mulia, dan demi hak Nabi yang membangun Baitullah ini dan melalui hak bayi yang ada dalam kandunganku, permudahlah untukku proses kelahiran bayiku, yang akan menjadi pelipur laraku, putra yang memiliki kemuliaan yang menjadi salah satu tanda keagungan dan kekuasaan-Mu”

Setelah berdoa, wanita itu merasa sesuatu bergerak dalam perutnya, tanda-tanda bahwa ia akan segera melahirkan bayinya. Ia berusaha bangkit untuk kembali ke rumahnya, tetapi tak mampu melakukannya. Tapi ia sadar tak mungkin melahirkan di pelataran ka’bah di depan banyak orang yang menyaksikannya, “Ya Allah jangan permalukan aku”, seolah begitulah bisik hati sang wanita. Seperti mendengar doanya, terjadilah peristiwa yang menakjubkan setiap orang yang hadir di sana, mendadak terbelahlah dinding ka’bah, membentuk pintu memberi jalan bagi si wanita untuk memasukinya. Setelah wanita itu masuk dalam ka’bah, dindingnyapun tertutup seperti semula.

Peristiwa itu begitu singkat dan mengagetkan, orang-orang pun berada dalam kebingungan. Abbas segera menuju rumahnya, mengabarkan apa yang terjadi, dan membawa sejumlah wanita untuk membantu persalinannya. Akan tetapi, mereka hanya mengelilingi ka’bah tak menemukan jalan masuk ke dalamnya. Mereka hanya bisa menanti dengan pengharapan.

Empat hari berlalu, terlihat dinding ka’bah kembali terbelah, dari dalamnya keluar wanita sambil menggendong bayi laki-laki mungil di dadanya, bayi yang indah dan menggembirakan bagi setiap orang yang melihatnya. Orang-orang datang menghampirinya, merasa takjub dan heran, betapa suatu kehormatan yang tiada tara mendapat tempat bersalin di dalam baitullah, Rumat Allah.

Siapa wanita terhormat yang menjadi tamu Allah dan melahirkan di dalam rumah-Nya? Dialah Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf, isteri Abu Thalib. Lalu siapa bayi mungil yang digendongnya? tidak lain adalah Ali, putra Abu Thalib. Karena fenomena kelahirannya di baitullah, Ali kemudian dikenal sebagai Ibnul ka’bah, Putra ka’bah.

Fatimah binti Asad berkisah kepada orang-orang yang menanti dirinya, “Wahai penduduk Mekah, dengan menganugerahkan putra yang baik ini, Allah Yang Maha Kuasa telah memberiku kedudukan yang mulia melebihi seluruh wanita, karena tidak ada wanita yang melahirkan di dalam rumah Allah, dan selama tiga hari menjadi tamu-Nya. Ketika aku ingin keluar, Allah kembali membelah dinding ka’bah dan memberiku jalan keluar. Nama putraku ini adalah Ali, nama itu kuberikan karena ketika di dalam ka’bah aku mendengar suara berkata, ‘berilah nama Ali padanya, yang diturunkan dari nama-Ku, Aliyul A’la’

Akhirnya dikenallah nama anak itu Ali hingga saat ini. Awalnya ibunya ingin menamainya Haidar yang berarti Singa. Ia ingin anaknya memiliki sifat pemberani dan jawara seperti singa, disegani kawan dan ditakuti lawan. Terlebih lagi Fatimah adalah putri dari Asad yang juga artinya singa. Jadi Fatimah di kelilingi oleh para “singa”, dialah putri Asad dan ibu dari Haidar, keduanya berarti “singa”, dan terbukti kelak anaknya ini menjadi asadullah (singa Allah) dan pelindung Rasulullah. Sebagai buktinya, tanyalah kepada setiap umat Islam di mana saja, siapa pemuda yang mereka kenal dengan pedangnya? Tanyalah nama pedang yang terkenal yang dimiliki sahabat di zaman Nabi? Dari empat khulafa al-rasyidin, pedang siapa yang dikenal kaum mukminin? Dari sepuluh sahabat nabi yang dijamin masuk surga, pedang siapa yang dikenal umat Islam sedunia? Tanyakan pada kaum mukminin, apa nama pedangnya Abu Bakar, pedangnya Umar, pedangnya Usman, pedangnya Thalhah, pedangnya Zubair, pedangnya Abdurrahman bin Auf, dan lainnya? Mereka akan menggelengkan kepala, sebab hanya satu pedang yang dienal mereka, itulah Dzulfikar. Dan hanya satu pemiliknya, itulah Ali bin Abi Thalib. Sebab hanya ada satu sabda, itulah ‘la fata illa Ali wa la saif illa dzulfikar”.

Para ahli sejarah meriwayatkan ketika terjadi perang Uhud, ketika semua orang lari dari medan perang meninggalkan Nabi saw, hanya segelintir sahabat yang tetap setia mendampingi Nabi, termasuk salah satunya Ali.

Perang Uhud dimulai ketika Ali maju ke medan laga menerima tantangan Thalhah bin Abi Thalhah “Siapakah dari kalian yang berani maju bertanding?” Ali, dengan langkah tegap dan pedang terhunus maju menyambutnya. Thalhah bin Abi Thalhah menyerang lebih dulu, tetapi tanpa diduganya, baru saja mengangkat pedangnya, tubuhnya keburu disambar oleh Ali dengan pedangnya. Thalhah terkulai jatuh ke tanah, tubuhnya terbelah bersimbah darah. Betapa bangganya Rasulullah, suara takbir pun bergema. Perang sudah diambang mata.

Tak lama, perangpun berkobar. Ali, Abu Dujanah dan Hamzah mengobrak-abrik pasukan musuh. Mereka menyergap dan menyerang bagaikan singa-singa menerkam mangsanya. Pasukan musuh berantakan dan lari ketakutan. Kemenangan pasukan muslim sudah di depan mata, tapi apa yang terjadi?

Pasukan pemanah yang diberi amanah tetap di lereng bukit melupakan tugasnya. Ketika melihat pasukan musuh lari, mereka pun meninggalkan posnya, ikut berebut harta rampasan yang melimpah. Mereka lupa pada pesan Rasulullah agar tidak meninggalkan tempatnya, hanya karena takut tidak kebagian harta.

Dalam keadaan pasukan muslim sibuk dengan harta rampasan, pasukan berkuda musuh dipimpin Khalid bin Walid melakukan serangan dari belakang, melalui lereng-lereng bukit yang ditinggalkan. Situasi perang berubah, pasukan muslim porak-poranda, lari tunggang langgang menyelamatan nyawa, dan meninggalkan harta yang tadi ingin dikumpulkannya. Serangan pasukan kafir semakin menggila, mereka menyerang maju menuju tempat Rasul yang mulia untuk membunuhnya. Di sisi Rasul hanya tinggal beberapa sahabat setia, seperti Saad, Abu Dujanah dan Ali bin Abi Thalib. Ali, dengan keberanian yang luar biasa, menyerang laksana singa, menangkis dan menerkam musuh yang berani mendekati tempat sang Nabi, menghalau musuh dari sisi kanan dan kiri, muka dan belakang, ia berputar seperti gasing untuk melindungi sang Rasul, ia tak perduli dengan nyawanya sendiri, lebih baik mati berkalang tanah, dari pada harus lari meninggalkan sang Rasulullah.

Tapi apa nak di kata, serangan dahsyat musuh memang sulit diterka, tiba-tiba sebongkah batu (atau anak panah) dilemparkan musuh mengenai wajah Rasul yang mulia, membersit dari dahinya darah, gigi gerahamnya patah, serpihan topi besi menembus pipinya, mengoyak wajah agungnya. Tubuh Rasul menggigil menahan sakit yang tiada tara, tapi lebih sakit lagi hatinya yang ditinggalkan para sahabatnya, seolah dirinya tiada lagi berharga. Untung masih terobati dengan hadirnya Ali di sisinya. Di tengah gundah gulana, terdengarlah suara langit menggema, menyampaikan pesan Tuhan semesta untuk menghibur nabi-Nya, “La fata illa Ali, wa la saif illa dzulfikar”, tiada pemuda selain Ali, dan tiada pedang selain dzulfikar.

Itulah Ali sang Haidar di sisi ibunya, suami terbaik di sisi Fatimah, imam pertama dalam mazhab Syi’ah. Itulah Ali, pemegang mandat dan wasiat, pelanjut kepemimpinan umat, yang di Sunni menjadi Khulafa al-Rasyidin yang keempat. Itulah Ali, yang bagi orang Barat, hubungannya dengan Muhammad dilukiskan seperti Yohanes Pembaptis kepada Yesus (Isa as), namun dalam Islam, baik syiah maupun sunni, mengakui hubunganya seperti Harun di sisi Musa. Itulah Ali, Kepadanya Tuhan memberi gelar “khairul bariyah”, sebaik-baik makhluk-Nya. Itulah Ali, Untuknya Nabi bersabda, “Tidak ada yang menyintaimu selain mukmin, dan tiada yang memusuhimu selain munafik.Ituah Ali, Sang Haidar, jawara Badar, Uhud, Khandak, dan Khaibar.

Dan hari ini, 13 rajab 1426 H, untukmu imam, kami hanya bisa berkata, “Selamat atas kelahiranmu wahai sayidul muslimin, amirul mukminin, imamul muttaqin, syafaatilah kami di sisi Allah Rabb al-‘alamin. Pada hari yang mulia ini, kami berdoa, semoga hidup kami seperti hidupmu, mati kami seperti matimu, dan kumpulkanlah kami kelak bersamamu. Salam atasmu wahai Ali bin Abi Thalib warahmatullah wabarakatuh”

Laa ilaha illa Allah, Allahu Rabbi

Muhammad Nabi

Aliyyun imami

Medan, 2 Mei 2015/13 Rajab 1436 H