ISRAEL NEGARA PARA PERAMPOK

Oleh : Kardinal Syah

IMG_20171226_085124

Jahudi adalah sebuah agama bukan sebuah Bangsa, orang Jahudi memang ditakdirkan hidup tanpa negara sampai Sang Mesias “ Juru Selamat “ datang.” (Neturai Karta)

Ada persamaan antara Donald Duck dan Donald Trump. Pertama, mereka sama-sama produk Amerika. Kedua, mereka sama-sama dikuasai oleh orang-orang Jahudi. Holywood tempat diproduksinya film Donald Duck dikusai oleh orang Jahudi demikian juga White House dikusai oleh orang Jahudi. Ketiga, Donald Duck tokoh kartun dengan suara khasnya selalu mengeluarkan suara-suara aneh yang terkadang membuat kita tersenyum geli karena kelucuannya, demikian juga yang dilakukan oleh Donald Trump suara dan celotehannya terdengar aneh dan menyebalkan sehingga kita bisa tersenyum geli atau marah sampai-sampai ubun-ubun kita mengepulkan asap.

Pernyataan sepihak Donald Trump bahwa Amerika akan membuka kantor Duta Besar Amerika di Yerusalem melahirkan gelombang demonstrasi diberbagai belahan dunia. Reaksi negara-negara timur tengah juga beragam, ada yang pura-pura marah dan ada yang benar-benar marah. Yang pura-pura marah adalah negara-negara yang selama ini telah mengakui kedaulatan negara Israel atau negara-negara yang selama ini telah menjalin hubungan dengan Israel secara diam-diam melalui negara ketiga. Untuk timur tengah mungkin hanya Libanon, Syiria dan Iran yang benar-benar marah karena hanya ketiga negara ini yang belum mengakui kedaulatan negara Israel.

Mengakui kedaulatan negara Israel sama saja dengan mengakui sahnya suatu tindakan perampokan dan penjarahan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap harta dan milik orang lain. Sebelum tahun 1948 orang-orang Jahudi hidup berpencar diberbagai belahan dunia, benar apa yang dikatakan oleh Neturai Karta sebuah lembaga Jahudi Internasional yang menolak pendirian negara Israel, bahwa Jahudi adalah sebuah Agama bukan sebuah bangsa atau Nation.

Gerakan anti Jahudi atau lebih dikenal dengan gerakan antisemitisme telah menyatukan seluruh kaum Jahudi diseluruh dunia, satu-satunya cara untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menciptakan satu tanah air bagi orang Jahudi. Pada tahun 1897 dalan Kongres I Zionis Internasional yang dilaksanakan di Bassel atau Bersley, Swiss. Dr. Theodore Herzl yang dianggap sebagai Bapak Zionis menyampaikan pemikiran dan gagasannya tentang tanah air dan bangsa bagi orang-orang Jahudi dihadapan 200 utusan Kongres dari berbagai belahan dunia. Dalam Kongres tersebut juga dibentuk panitia kecil yang bertugas menyusun program perjuangan Jahudi. Panitia kecil merupakan secret meeting yang anggotanya diberi tugas rahasia untuk menyusun program rahasia Jahudi pada tahun 1901-1903.

Inggris menawarkan Argentina, India dan Uganda sebagai tanah air dan negara orang Jahudi, tentu saja usulan ini ditolak oleh Herzl. Dr. Theodore Herzl memilih Palestina sebagai tanah air orang Jahudi. Alasan pemilihan Palestina adalah latar belakang historis disinilah bukit Zion berada merupakan puncak kejayaan Jahudi dan disini juga berdirinya Haikal Sulaiman. Mulailah Herzl melakukan propoganda dan berkampanya melalui tulisannya Der Yuden Stat. Pada tahun 1915 lahirlah kesepakatan Sykes Picot yang secara rahasia menempatkan Palestina dibawah kekuasaan Inggris. Sementara itu Palestina masih berada atau merupakan vazal (Protektorat) Turki Usmani.

Sultan Abdul Hamid mengatakan “Seandainya kalian membayar dengan seluruh isi bumi ini, aku tidak akan menerima tawaran itu“. Maka lahirlah gerakan Turki Muda yang dipimpin oleh Kemal Attaurk sebagai bentuk dari Konspirasi Jahudi Internasional dan selanjutnya runtuhlah kekhalifahan Turki Usmani.

Padatanggal 2 November 1917 Arthur James Balfour mengirimkan surat kepada pemimpin komunitas Jahudi di Inggris yang bernama Lord Rotshchild yang isinya menyetujui pendirian negara Israel di Wilayah Palestina. Surat ini sendiri sebagai bentuk balas jasa dan balasan surat dari Chaim Weizmann seorang Jahudi Inggris kelahiran Rusia, Weizmann adalah seorang ahli kimia penemu aseton sejenis senyawa kimia yang penting bagi senjata api dan penemuan Weizmann digunakan dalam perang oleh Inggris. Chaim Weizmann adalah Presiden I Israel.

Maka dapatlah disimpulkan berdirinya negara Israel merupakan hasil Konspirasi Jahudi Internasional dengan dukungan Negara-negara sekutu, negara ini didirikan diatas suatu negara yang berdaulat yaitu Palestina. Masyarakat Internasional sudah seharusnya menolak Israel sebagai suatu negara dan mendukung Kemerdekaan Negara Palestina. Tidak semua warga negara Palestina beragama Islam, mereka ada yang beragama Kristen, Jahudi bahkan ada juga yang Atheis. Jelas bahwa masalah Palestina bukanlah masalah antara Islam dan Kristen bukan juga masalah antara Islam dan Jahudi. Ini adalah masalah hak untuk merdeka dan berdaulat.

Di Indonesia pernyataan Donald Trump dikait-kaitkan dengan Presiden Jokowi, beredar issue yang mengatakan bahwa Donald Trump sudah melakukan pembicaraan rahasia dengan Presiden Jokowi terkait pemindahan ibukota Israel ke Yerusalem. Lebih baik pelihara kambing ketimbang memelihara prasangka buruk, kebijakan negara dan pemerintah Indonesia sudah jelas yaitu mendukung perjuangan rakyat Palestina untuk Merdeka. (ATN)

*Sumber : FB Kardinalsyah.

Iklan

CINTA PEMBAWA BERKAH

Oleh Candiki Repantu

IMG_20171118_151409

Pemuda itu begitu gagah. Kemuliaan nasabnya, ketampanan wajahnya yang bercahaya, lembut tutur katanya, dan kebaikan akhlaknya menunjukkan kepribadian sempurna. Itulah Abdullah, pemuda gagah yang terkenal di seantero Mekah. Ia menjadi kumbang yang diharapkan singgah oleh banyak kembang yang merekah. Namun semua kembang itu hanya punya harapan, sebab pria tampan dan baik itu, menyerahkan pada ayahnya, siapa jodoh yang dipilihkan untuknya.

Tanpa sepengetahuan Abdullah, ada seorang putri Mekah yang menyimpan kenangan padanya. Aminah namanya. Sudah banyak pria yang melamarnya, tetapi tidak satupun yang menarik hatinya. Sebab, dalam bayangnya wajah Abdullah selalu menghampirinya. Ia terkenang ketika mereka bersama di depan Ka’bah, bersenda gurau dan tertawa ria. Mereka memang dekat sebagai satu kabilah yang sama, tapi mereka juga dekat sebagai sahabat setia. Di dalam hati, ia ingin bersama lagi dengan Abdullah berada di sisi ka’bah, tapi tidak lagi sekedar bermain dan tertawa ria, melainkan mengikat janji, sebagai sepasang kekasih yang sejati. Tetapi sayang, Abdullah tak pernah mampir ke rumahnya, memintanya menjadi pasangan sejatinya. Apakah ada wanita lain yang menarik hati Abdullah?. Ahh, sungguh bahagianya wanita itu jika disunting oleh Abdullah, bisik hati Aminah.

Setiap ada rasa pasti ada resah. Mengenang Abdullah membuatnya gelisah, hati dilanda rindu memburu, hasrat bertemu begitu menggebu, tapi semua kalah dengan besarnya rasa malu, ia lebih memilih memendam semua itu. Namun, sesekali ia berdiri dibalik jendela dan mengintip dibalik pintu rumahnya. Berharap, Abdullah tak sengaja melewatinya. Tapi, semua hanya harapan. Yang terlihat hanya dinding batu diiringi hembusan semilir angin sahara, yang tak mampu mengusir gundah yang melanda hati dan jiwanya. Demikianlah, Aminah melalui hari-harinya dengan sejuta tanya, sejuta rindu, dan sejuta harapan, pada satu pria idaman.

Di saat semua kenangan datang dalam ingatan, ketika rindu datang menggebu, ketika harapan semakin membesar, mendadak berita duka sampai ke telinganya, Abdullah akan dikorbankan untuk memenuhi nazar ayahnya. Mendengar itu, jantungnya Aminah berdegub keras, sekujur tubuhnya menggigil, aliran darahnya seolah beku, lidahnya menjadi kelu. Tak mampu ia membayangkan ketika pedang menebas leher Abdullah dan mengalirkan darahnya, hanya derai air mata mulai membasahi pipinya, kesedihan tiada tara menghantam jiwanya. Hanya doa yang terbetik, “Semoga Allah menyelamatkan Abdullah seperti Allah menyelamatkan Ismail kakeknya”. Ia berharap keajaiban akan datang.

Kalau menuruti kemauannya, ia ingin hadir si sisi Ka’bah, melihat langsung pengorbanan Abdullah. Namun, ia sadar tak mampu menanggung derita itu. Dengan menekan perasaan, ia menyabarkan diri menunggu apa yang terjadi. Di rumah, ia hanya berjalan mondar mandir, kadang berdiri bingung, kadang duduk termangu, kadang berbaring membisu. Kerongkongan kering tak terasa dahaga dan perut kosong tak terasa laparnya, seluruh pikiran hanya tertuju pada Abdullah. “Ya Allah, selamatkanlah dia, selamatkanlah dia, dia milik-Mu bukan milik Abdul Muthalib”, doanya lirih terlontar. Suara lirih itu memang pelan terdengar di bumi, tetapi nyaring di langit, naik menuju alam malakuti, menggetarkan Arsy Ilahi.

Imam Ali Ridha as mengisahkan, “ketika semua orang berkumpul sedih menyaksikan pengorbanan Abdullah, mendadak Atikah putri Abdul Muthalib berkata, “Wahai ayah! Mintalah pada Allah untuk memaafkanmu dari mengorbankan putramu”. Abdul Muthalib menjawab, “Wahai putriku! Apa yang harus kulakukan?”. “Gantilah dengan untamu hingga Tuhan menjadi rela”, jawab Atikah. Maka unta-unta dibawa ke sisi ka’bah. Abdul Muthalib mengundi nama Abdullah dengan sepuluh ekor unta, tapi undian tetap mengarah pada Abdullah. Abdul Muthalib menambahkan sepuluh ekor unta lagi, tapi nama Abdullah tetap keluar untuk dikorbankan.

Abdul Muthalib tak peduli harus mengorbankan berapa unta sebagai ganti Abdullah. Ia terus menambahkan sepuluh ekor unta, hingga jumlahnya menjadi seratus ekor. Undian pun dilakukan lagi, kini mata Abdul Muthalib berbinar riang, nama unta keluar dalam undian. Abdul Muthalib mengulang undian hingga tiga kali, hingga ia yakin sepenuh hati, Tuhan ridha ia mengorbankan seratus ekor unta, sebagai ganti Abdullah. Takbir pun bergema dengan gegap gempita. Semua bersyukur atas selamatnya Abdullah. Terutama bagi Aminah, kembang semerbak kota Mekah.

Tak berselang lama, sebagai rasa syukurnya, pada hari itu juga, Abdul Muthalib bermaksud memilih jodoh untuk putranya. Para wanita Mekah berlomba agar Abdul Muthalib memilih mereka. Bahkan sebagiannya menawarkan diri, rela mengorbankan seratus ekor unta lagi demi menjadikan Abdullah pasangan sejati. Namun, Abdul Muthalib punya pilihan sendiri, ia menggandeng tangan Abdullah berjalan menuju ke suatu  rumah. Rumah yang dituju adalah rumah Aminah. Memasuk pintunya, jantung Abdullah berdegub dengan kerasnya, disambut oleh getaran hati Aminah dari balik kamarnya, yang bagaikan mimpi dilamar oleh pria pujaan hatinya. Tak banyak masalah, kedua keluarga saling sepakat untuk melangsungkan pernikahan sepasang merpati Tanah Haram.

Dua sejoli ini pun memulai hidup baru. Suatu hari mereka duduk berdua untuk saling berkisah mengenang masa ketika mereka bermain bersama. Terkadang terdengar suara tawa renyah yang mengandung aroma bahagia mengenang peristiwa masa kanak-kanak mereka berdua. Pada suatu malam, Abdullah terbangun dari tidurnya, ia pandangi wajah jelita isterinya yang sedang tersenyum simpul karena tenggelam dalam mimpi yang indah. Menjelang fajar, Aminah terbangun, ia tatap wajah lembut suaminya. Aminah berkata, ia baru saja bermimpi indah, melihat sinar terang meliputi dirinya di sekeliling istana-istana megah, dan terdengar suara lembut menyapanya, “Ya Aminah, engkau akan hamil dan melahirkan anak yang menjadi manusia termulia sepanjang sejarah dunia”. Inilah cinta pembawa berkah, cinta Abdullah dan Aminah yang melahirkan purnama kota Mekah, Muhammad ibn Abdullah saw.

Assalamu ‘alaika ya Rasulullah
Assalamu ‘alaika ya Khalilallah
Assalamu ‘alaika ya Nabiyallah
Assalamu ‘alaika ya Shafiyallah
Assalamu ‘alaika ya Rahmatullah
Assalamu ‘alaika ya Khiyaratallah
Assalamu ‘alaika ya Habiballah
Assalamu alaika ya Najiballah
Assalamu ‘alaika ya Nurallah
Assalamu ‘ala abika Abdillah wa ‘ala ummika Aminah
Assalamu ‘ala jaddika Abdil Muthalib wa ‘ala ‘ammika wa kafilika Abi Thalib
Assalamu alaika wa ‘ala ahli baitika at-thaibina at-thahirin
Walhamdulillahi rabbil Al-Amin

Salam Maulid ar-Rasul
17 Rabiul Awal 1439 H

MAULID NABI : “BID’AH” PARA PECINTA

Oleh : Candiki Repantu

IMG_20171201_103128

“Bagaimana bisa tetes air menceritakan kisah samudera? Bagaimana bisa malam melukis fajar? Bagaimana bisa lembah menyamakan tingginya dengan puncak gunung? Dan bagaimana bisa duri hitam menukil hikayat kembang mawar merah?

Aku adalah tetes ilmu, dan engkau adalah samudera; aku adalah malam yang malu, dan engkau adalah fajar yang bangga; aku adalah lembah sunyi, dan engkau adalah puncak gunung berisi; aku adalah duri hitam, dan engkau adalah kembang bunga kemanusiaan. Lalu bagaimana mungkin aku mampu mengisahkan tentang dirimu?

Hanya dengan lisan air mata kuungkapkan perasaanku, seperti yang dikatakan Kalim Kasyani dalam syairnya :

Mata kekasih penuh air mata semerah jiwa
Nilai cincin ditentukan oleh batu yang bertahta

Selama sembilan bulan, aku mencari harum wujudmu di antara lima ratus kitab. Kadang, aku menangis penuh keharuan, dan terkadang remuk oleh penyesalan. Setelah semua itu, kini aku duduk di hadapan pagar pusaramu, berjarak lima atau enam meter dari makam yang terang oleh sinar mentari siang. Dihantui oleh rasa takut terhadap para penjaga yang berikat kepala, aku menangis tanpa suara, dan kutuanglah perasaanku dalam lembaran kertas putih ini. Hatiku diremas rasa pedih dan sesal, saat kucuri pandang melalui sela-sela pagar pusaramu, dan kulihat debu yang menyelimuti kuburmu. Akankah kelak mereka mengizinkan kami membersihkan pusaramu dengan bulu mata kami hingga bisa bercelak dengan debu pusaramu?

Kini kau tidur dihadapanku. Tapi tidak! sesungguhnya engkau-lah yang terjaga dan kami-lah yang tidur dalam ranjang kelalaian. Engkau masih terus terjaga mengkhawatirkan jahiliyah abad ke-21.
Duhai kekasih! Bimbinglah kami keluar dari gelapnya malam kebodohan, menuju terangnya fajar pengetahuan! Tuntunlah tangan kami dan ajari kami bagaimana cara hidup dan mati! Pancarkan sinar suryamu kepada kami hingga cairlah segala keegoisan kami!”

Husain Sayyidi mengawali bukunya “Muhammad The Untold Stories” (Hamname Ghalha-ye Bahadi) dengan tuturan indah tersebut. Ia menyadarkan kita, mustahil melukiskan Nabi saw dengan sempurna, sebab tak ada yang mengenal Muhammad saw sesempurna Tuhannya. Allah telah menjelaskan Muhammad saw dalam kitab-Nya, dan siapa yang mampu menandingi karya tulis Sang Ilahi itu. Bukankah Allah berfirman, “Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang seruap Alquran ini, niscaya mereka tidak akan mampu membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lainnya .” (Q.S. al-Isra : 88). Allah telah menggambarkan Sang Nabi dalam Alquran, hanya orang yang sombong, merasa mampu menandingi ungkapan Alquran untuk melukiskan kepribadian Rasul idaman.

Namun, lidah kelu tetap ingin memuja sang Nabi tercinta. Biarlah seperti kata Husain Sayyidi, tetes-tetes air ini berkumpul dan tenggelam dalam mengisahkan luasnya samudera.

Apa kata tetes-tetes air itu?

Tetes-tetes air itu berkata, Muhammad saw adalah puncak karakter manusia dalam pemikiran, perasaan serta perbuatannya. Dia adalah mentari terang yang memberi energi bagi geraknya kehidupan. Dia teladan yang agung dalam sejarah. Dia telah berpasrah diri kepada Allah, serta menjadi padanan kitab Alquran dengan sempurna. Kesempurnaan dan kesuciannya tidak ada bandingnya di alam semesta, bakan para malaikat sekalipun tak mampu mencapainya.

Tetes-tetes air itu berbisik, Muhammad saw dilahirkan dari keturunan yang mulia. Nasabnya berasal dari Ibrahim as yang dinobatkan Tuhan menjadi pemimpin seluruh manusia. Ismail as putranya menjadi pewaris wujud nabi dalam sulbinya, sehingga Tuhan harus bertindak mengubah takdir ketika pedang hampir menebas lehernya. Mengapa pedang tajam itu hanya mampu menebas seekor qibas? Karena Ismail as membawa di dalam dirinya, wujud Muhammad saw yang kelahirannya ditunggu alam semesta. Jika Ismail terbunuh, maka Muhammad tak akan pernah lahir ke dunia. Maka tujuan pencipataan pun menjadi sirna.

Tetes-tetes air itu berbicara, kelahiran Muhammad menjadi tujuan penciptaan semesta, sebab Tuhan berfirman dalam hadis qudsinya, “Seandainya bukan karena Muhammad, Aku tidak akan menciptakan jagat raya”. Inilah sosok yang ditunggu untuk mencurahkan rahmatnya. Jika rahmat Tuhan meliputi segala sesuatu (rahmati wasyi’at kulla syai), maka rahmat Muhammad meliputi seluruh alam semesta (rahmatan lil alamin).

Tetes-tetes air itu juga mengerti, inilah manusia sejati, yang kelahirannya telah diketahui dan ditunggu oleh para nabi. Bahkan Tuhan mengikat janji dan bersaksi bersama para utusannya yang suci, untuk senantiasa menolongnya nanti, “Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dari para Nabi, “Manakala Aku memberikan kitab dan hikmah kepada kamu, LALU DATANG KEPADAMU SEORANG RASUL yang membenarkan apa yang ada pada kamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.” Allah berfirman, “Apakah kamu setuju dan menerima perjanjian dengan-Ku atas hal itu?”. Mereka menjawab, “Kami setuju!”. Allah berfirman, “Kalau begitu bersaksilah dan Aku menjadi saksi bersama kamu” (Q.S. Ali Imran : 81).

Tetes-tetes air itu pun mengabarkan, Inilah Muhammad yang namanya disebut dari Adam as hingga Isa putra Maryam as. Ingatlah ketika Adam dan Hawa keluar dari surga, ia memohon ampun dengan berwasilah kepada Nama Muhammad  Saw yang mulia. Ketahuilah ketika Isa diutus kepada kaumnya, ia mengabarkan, “…Wahai Bani Israel, sesungguhnya aku utusan Tuhan kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad…” (Q.S. As-Shaff : 6)

Tetes-tetws air itu juga mengisahkan, Inilah Muhammad, manusia yang seumur hidupnya senantiasa beribadah sehingga Tuhan pun bersumpah atas umurnya, “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing dalam kemabukan (kesesatan)” (Q.S. al-Hijr : 72). Kita tahu, suatu yang dijadikan objek sumpah tentu adalah sesuatu yang mulia dan menakjubkan. Betapa umur Muhammad saw begitu menakjubkan di mata Tuhannya, dan tentu umur Muhammad saw di dunia ini, diawali sejak kelahirannya.

Jadi, dari tetes-tetes air itu kita tahu, kelahiran Muhammad ssw sudah diperingati Tuhan dan menjadi tujuan penciptaan. Kelahiran Muhammad saw sudah dinanti oleh para Nabi. Kelahiran Muhammad saw dengan bangga ditunggu jagat raya. Kelahiran Muhamad saw menjadi rahmat bagi semesta. Kelahiran Muhammad  Saw disambut malaikat yang mulia. Tapi sayang kini ada yang menganggap bahwa menanti, memperingati, menyambut, dan merayakan kelahiran Muahammad adalah bid’ah, kesesatan, dan siksa neraka. Biarlah kita bersama Tuhan, malaikat, para nabi dan rasul, serta seluruh jagat raya menyambut kelahiran Nabi termulia berada dalam satu “bid’ah” bersama, yaitu “bid’ah” para pecinta. Terimalah ya Muhammadku, salam dari budakmu yang bernama Candiki Repantu.! (CR14)

*Sumber : Lipitanislam.com

AKSARA ARAB MELAYU : IDENTITAS BANGSA YANG DIHILANGKAN

Oleh : Ichwan Azhari*

Screenshot_2017-11-01-07-45-08-880_com.facebook.katana

Kemarin dalam rangka peringatan Kongres Pemuda (28.10.2017) di Lubuklinggau Sumatera Selatan saya diundang menjadi narasumber bersama ahli naskah sunda dari Universitas Padjajaran bapak Undang Ahmad Darsa dan ahli naskah-naskah Sumatera Selatan dari prodi sejarah STKIP PGRI Lubuklinggau bapak Suwandi Syam, dalam seminar nasional “Aksara Daerah Sebagai Identitas Bangsa”.

Dalam seminar ini saya menampilkan tajuk sesuai judul status ini dan mengungkapkan Aksara Arab Melayu (di Malaysia tulisan Jawi , di Jawa aksara Pegon namanya) selama 500 tahun telah menjadi aksara penting dalam bidang politik dan ekonomi internasional, pendidikan, sastra, etnosains, terutama dalam bidang agama Islam dan juga agama Kristen. Teks teks keagamaan Islam dan sastra beraksara Arab Melayu jumlahnya teridentifikasi puluhan ribu di berbagai museum dan perpustakaan di luar negeri.

Raja Inggris James I dan kabinetnya harus faham huruf Arab Melayu untuk bisa membaca (dan tabah) surat penolakan Sultan Iskandar Muda dari Aceh tahun 1615 M yang tidak mengijinkan Inggris berdagang di Pariaman, Sumbar. Izin berdagang nakhoda Inggris di Aceh yang diberikan sultan Alauddin Syah tahun 1602 juga ditulis dalam huruf Arab Melayu.

IMG_20171128_105412

Belanda lewat VOC tahun 1700-an lalu pemerintah Hindia Belanda (Niederlandisch Indie) di Indonesia dan Inggris di Malaysia sejak tahun 1800-an menggunakan huruf Arab Melayu di dalam puluhan uang yang mereka keluarkan selama satu setengah abad.

Malaysia menggunakan huruf Arab Melayu dalam uang mereka sampai hari ini, Indonesia menghilangkannya. Padahal awal 1950an aksara ini masih dipakai dalam uang logam Indonesia bahkan perjuangan kemerdekaan Indonesia di Malaya (1948), aksara Arab Melayu ini digunakan.

IMG_20171101_074324

Tapi kini dibanyak tempat di Indonesia muncul gerakan untuk menghidupkan kembali aksara tradisional ini lewat pendidikan di sekolah. Di Jawa Barat, aksara Sunda sudah mendapat pengesahan wajib diajarkan di sekolah. Karya sastra lama beraksara Sunda dan Pegon mulai dijadikan bahan pembelajaran sastra daerah. Di Sumatra Selatan terdapat 10 aksara tradisional dan sudah ada kabupaten yang menempatkan aksara lokal untuk nama jalan. Mereka juga sedang berjuang mengenalkan aksara Sumsel pada acara besar Asean Games 2018 mendatang di Palembang.

Saya dalam seminar ini menampilkan gambaran bakal bangkitnya kembali aksara Arab Melayu di nusantara. Saya perkirakan, orang yang kini bisa membaca aksara Arab Melayu atau minimal akan mudah membacanya, jumlahnya lebih banyak dan lebih tersebar di banding dulu.

Pesantren, komunitas pengajian Alquran dengan jutaaan jamaahnya sebagai penutur bahasa Indonesia/Melayu hanya selangkah saja yang dengan mudahnya memahami Aksara Arab Melayu.

Internet dengan anak kandungnya smartphone dan media sosial akan mempercepat proses ini. Tak perlu ratusan tahun untuk menghubungkan nusantara dengan satu aksara yang selama berabad abad pernah berfungsi dan menjadi spirit menyatukan Indonesia di masa lalu. (CR14).

*Ichwan Azhari adalah ahli sejarah dan Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial UNIMED. Mengelola Rumah Sejarah Medan di lokasi situs penting Kota Cina. Beliau menyelesaikan doktornya di Universitas Hamburg Jerman.

#Sumber : FB Ichwan Azhari.

MENTARI KHURASAN

Oleh : Candiki Repantu

IMG-20171119-WA0015

Di Iran, makam suci Imam Ridha as ini menjadi axis Mundi, pusat spiritualitas, tangga penghubung bumi dan langit, lintasan bagi hilir mudiknya malaikat, tempat curahan berkah ilahi, dan pintu gerbang untuk menggapai hakikat kebenaran.

Orang suci yang dimakamkan di tempat ini merupakan wasilah (perantara) bagi terhubungnya ikatan antara yang natural dengan yang supranatural, antara yang profan dengan yang sakral, antara yang imanen dengan yang transenden, atau antara manusia umumnya dengan Sang Pencipta.

Untuk memasuki kawasan makam suci Imam Ridha as, peziarah bisa melalui empat jalan masuk sesuai arah mata angin, yaitu : Utara, Selatan, Barat dan Timur yang semuanya terhubung dengan jalan raya. Di setiap arah ini, terdapat pintu-pintu gerbang raksasa dan beranda-beranda yang megah untuk menyambut kedatangan jutaan peziarah. Bahkan di tiga arahnya yaitu Utara, Barat dan Timur, terdapat beranda-beranda yang bertiang tinggi dan megah. Beranda-beranda dan pintu gerbang tinggi nan megah ini dirancang untuk memberi kesan penyambutan yang memberikan penghormatan timbal balik antara peziarah dan yang diziarahi.

Berbagai arah dan banyaknya pintu masuk serta halaman-halaman yang luas memberikan pesan kepada para peziarah bahwa terbentang jalan luas dari berbagai arah untuk menuju satu titik pusat ilahiah. Hal ini juga mengingatkan kita pada pesan Nabi Ya’qub as kepada para putranya agar masuk dari berbagai arah dan pintu. Seolah ingin mengatakan “banyak jalan menuju Tuhan”.

Salah satu halaman untuk menampung para peziarah Imam Ridha as adalah Sahne Jami Razavi yang luas dan indah. Sahne Jami’ Razavi ini merupakan halaman terbesar di kompleks Makam Imam Ridha as. Untuk memasuki halaman ini bisa melalui dua pintu gerbang raksasa yaitu Bab al- Ridha (Pintu Gerbang Ridha) yang bersambung ke jalan raya Imam Ridha dan Bab al-Jawab (Pintu Gerbang Jawad) yang bersambung ke jalan raya Khosrovi atau Syahid Andarezgu.

Halaman luas ini memiliki lantai yang terdiri dari campuran batu berwarna dan granit. Di bawah halaman terdapat tempat parkir bawah tanah yang untuk mencapainya di buat dua terowongan penghubung. Di sisi atas kedua terowongan ini dihiasi dengan berbagai ornamen yang dibentuk dengan bentuk matahari.

Lukisan dan susunan ubin dalam bentuk matahari atau segi delapan banyak tersebar di setiap ruangan, dinding, dan halaman. Bentuk matahari yang disebut syamse ini adalah simbol bagi negeri Khurasan. Bukan hanya dinding yang dilukis dengan tetapi terdapat juga menara yang dibangun dalam bentuk delapan sudut dan kalau dilihat dari atas seperti bentuk matahari.

Simbol delapan sudut yang membentuk matahari tersebut dibuat karena Imam Ridha as merupakan Imam kedelapan dari dua belas Imam Mazhab Syiah. Nama Khurasan sendiri menurut Dr. Ghulam Ridha, terdiri dari dua suku kata, yaitu “Khur” dan “Ashan” yang berarti bumi tempat bersinarnya matahari. Dan imam Ridha as selain pemimpin agama disebut juga sebagai Syamse Khurasan, “Mataharinya Khurasan” atau Syamse Thus, “Mataharinya Thus”.

Iringan para peziarah berjalan dengan khusyu dan penuh penghormatan dari halaman luas ini menuju pusara suci, melalui banyak pintu masuk yang bersambung ke beberapa ruangan di dalam komplek Makam Imam as. Di antaranya, pintu yang bersambung ke ruangan Imam Khumaini, pintu masuk ke Sahne Quds, dan pintu masuk yang bersambung ke makam Syaikh Baha’i. Dari ruangan-ruangan inilah, peziarah berjalan perlahan dengan lisan dipenuhi zikir, doa dan solawat, menuju ke zarih suci Imam Ridha as yang terletak di bawah kubah emas Raudhah al-Munawwarah (Taman yang Bercahaya), tempat dan pusat utama spiritualitas ziarah.

Zarih adalah rumah bagi pusara suci yang berbentuk empat segi yang dibuat dari lapisan perak dan emas. Di dalam zarih inilah terletak pusara suci Imam Ridha as. Zarih di makam suci ini pertama kali dipasang pada masa Dinasti Syafawi. Sejak saat itu hingga sekarang ini telah lima kali terjadi pergantian zarih diikuti dengan penggantian batu pusaranya. Zarih yang saat ini digunakan adalah zarih kelima yang disebut Zarih Aftab atau Zarih Mentari.

Zarih Mentari ini memiliki desain yang sangat rumit yang dibuat oleh seniman dan perancang ternama Iran, Mahmud Farsyiciyan. Butuh waktu sekitar delapan tahun untuk membuatnya dengan kualitas dan komposisi yang tepat yang terdiri dari bingkai besi, baja, dan kayu serta dilapisi dengan perak dan emas dengan berat 12 ton. Zarih ini dihiasi dengan beragam ornamen artistik yang sesuai dengan prinsip dan dimensi seni yang berkembang pada era mutakhir masa kini dipadukan dengan simbol-simbol seni arsitektur dan bangunan klasik Makam Suci.

Di sekeliling zarih di hiasi oleh kaligrafi Alquran sepeti surat Yasin dan Surat al-Insan yang ditulis dengan khat tsulus dengan sepuhan emas dan perak. Pada keempat dinding zarih ini terdapat empat belas jendela atau lubang yang menyimbolkan empat belas orang suci dalam Mazhab Syiah. Selain itu juga dihiasi dengan ornamen lima kelopak bunga dengan delapan lembar seratnya. Jumlah ini memiliki makna tertentu. Lima kelopak bunga merupakan simbol lima orang ahlul kisa’ yang suci yaitu Nabi Saw, Imam Ali as, Syaidah Fatimah as, Imam Hasan as, dan Imam Husain as. Sedangkan delapan serat merupakan simbol delapan orang manusia suci lainnya yang telah wafat. Atau dimaknai juga sebagai simbol Imam Ridha as yang merupakan imam kedelapan.

Selain itu, terdapat juga ornamen bentuk-bentuk bunga matahari yang memancarkan sinarnya di seputar zarih yang merupakan simbol keagungan dan gelar Syams as-Syumus (Mataharinya Mentari) yang dinisbatkan pada kedudukan Imam Ridha sebagai Syamse Khurasan. Selanjutnya pada interior atap dan dinding bagian dalam zarih diperindah dan dibubuhi dengan aneka hiasan dan tulisan nama-nama Allah SWT (Asmaul Husna) yang dipahat dengan cermat.

Di depan zarih inilah, setelah melalui berbagai jalan, pintu gerbang, ruangan, dan lorong-lorong indah, seorang peziarah dengan penuh pengharapan, kerinduan dan cinta yang mendalam untuk menyatukan ruhnya dengan ruh suci sang Imam. Salawat kepada Nabi dan keluarganya senantiasa terdengar dari lisan para peziarah sampai hingga mencapai pusara suci Imam Ridha as. Cukup sulit untuk sampai persis di depan zarih karena ramainya manusia yang berdesak-desakan. Namun semua itu tak menyurutkan semangat. Suara gemuruh doa dan gelombang gerakan manusia dari segala arah berhimpitan menuju satu titik tujuan, pusara suci Sang Imam. Sesampainya di depan zarih pusara suci, semua usaha dan perjalanan melelahkan sirna begitu saja berganti dengan suasana haru, luapan kasih dan tangisan kerinduan. Di situlah kita menyampaikan salam kerinduan.

Assalamu alaika ya waritsa Muhammad Rasulillah
Assalamu alaika ya waritsa Amiril mukminin Aliyy ibn Abi Thalib
Assalamu alaika ya waritsa Fatimah az-Zahra
Assalamu alaika ya waritsa Al-Hasan wa al-Husain Sayyida syababi ahlil jannah
Assalamu alaika ya Abal Hasan wa rahmatullahi wa barakatuh

Ya Abal Hasan ya Ali ibn Musa
Ayyuhar Ridha ya ibn Rasulullah
Ya hujjatallah ‘ala khalqih
Ya sayyidina wa Maulana
Inna tawajjahna wa asy-tasfa’na
Wa tawassalna bika ilallah
Wa qaddamnaka baina yadai hajatina
Ya Wajihan insyallah, isyfa’lana ‘indallah.

Mengenang Syahidnya Imam Ridha as
30 Shafar 1439 H
🙏🌷
CR14

MANIK MANIK KUNO DAN KONSTRUKSI BUDAYA SAMPAI KE MASA KINI (PERBURUAN KE SULAWESI TENGAH)

Oleh : Dr. Phil. Ichwan Azhari M.S.*

FB_IMG_1508035588291

Banyak jejak budaya kuno yang terputus di era moderen. Tapi manik manik kuno merupakan salah satu pengecualian. Pada hari ahad (8.10.2017) saya berada di Museum Sulawesi Tengah (Sulteng) di Kota Palu dan mencari informasi tentang manik manik kuno yang beredar di Sulawesi Tengah sebagai jejak silang budaya global yang masuk lewat jalur perdagangan di Indonesia Timur.

Saya tergugah mendengar penuturan staf museum yang menjelaskan adanya beberapa desa di pedalaman Sulteng yang masih memproduksi manik manik lokal secara tradisional. Manik manik lokal Sulteng “dikawinkan” dengan manik manik dari Afrika, Timur Tengah, India Selatan, Indo Pasifik termasuk Polynesia dalam satu rangkaian “konstruksi” budaya setempat selama berabad abad. Dan uniknya masih berlangsung terus sampai kini dalam berbagai keperluan adat dan ritual.

FB_IMG_1508035608955

Dari Museum Sulteng saya minta petunjuk untuk dibawa ke kolektor barang antik yang ada di kota Palu. Saya dipertemukan di deretan ruko kota Palu dengan seorang saudagar barang antik asal Sulawesi Selatan yang untuk sementara saya namakan Daeng Maniki. Sang kolektor berkisah tentang manik manik kuno jenis tertentu yang saat ini masih dicari tokoh tokoh adat Sulteng dengan harga perbutir mencapai 300 ribu rupiah. Manik manik kuno jenis tertentu ini diperlukan sebagai suatu syarat penting dalam rangkaian manik manik untuk upacara adat.

Betapa menariknya penelitian antropologi yang mengungkapkan artefak sejarah kuno lebih 1000 tahun lalu masih disandingkan dalam berbagai tradisi masa kini di Sulteng. Di tempat lain manik manik kuno berhenti sebagai artefak arkeologis tapi di beberapa kawasan di Sulteng berlanjut ke tradisi yang masih hidup di masa kini.

Dari wawancara saya ke beberapa orang saya ketahui bahwa Sulteng nemiliki defosit manik manik kuno yang luar biasa. Bahkan dari periode pra sejarah di kuburan kuno termasuk di beberapa gua di Sulteng, sering ditemukan manik manik sebagai bekal kubur. Beruntung Museum Sulteng memiliki kesadaran mengoleksi ribuan butir manik manik yang ditemukan. Tapi museum inipun tidak memiliki dana, tidak berdaya untuk melengkapi berbagai tipe koleksi manik-manik yang beragam, sementara di luar museum sana ada ratusan ribu manik manik hasil buruan liar warga ke berbagai situs dan kuburan kuno Sulteng. Dan manik manik kuno Sulteng ini (juga keris, arca, tenunan kuno dan ribuan artefak budaya lainnya)mengalir ke pedagang barang antik di Bali dan dari Bali masuk ke pasar barang antik internasional. Defosit artefak kuno Indonesia sepertinya tidak bisa dicegah lari ke luar negeri.

Saya ucapkan terimakasih pada Daeng Maniki yang memberikan saya (dengan kompensasi) sejumlah manik-manik kuno Sulteng untuk menambah koleksi Rumah Manik-Manik Nusantara di Medan. Manik manik bukanlah semata perhiasan pada zamannya. Lewat manik manik kita bisa belajar tentang jejak peradaban, jalur perdagangan kuno, teknologi, karya seni, ritual, tradisi adat, status sosial, termasuk (seperti halnya di Sulteng) perubahan budaya. (CR14)

*Ichwan Azhari adalah Antropolog dan Ketua Pusat Studi Ilmu Sejarah UNIMED dan Pemilik Museum Kota Cina Medan.

BERKAH SEEKOR DOMBA

Oleh : Candiki Repantu

 

IMG_20170610_100149_157

Malam, 15 Ramadahan tahun ke-3 H. Suatu sinar suci menerangi Madinatun Nabi berasal dari rumah sederhana milik Sayidah Fatimah as, sang puteri terkasih Nabi saw. Malam itu, lahir seorang bayi mungil penuh aroma wangi malakuti dari rahim ratu bidadari. Itulah putera pertama yang dinanti Sang pengemban wasiat Nabi. Itulah cucu pewaris tahta ilahi. Sebagai rasa syukur, setelah tujuh hari pasca dikumadangkan azan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri, rumah kenabian mengadakan jamuan akikah dengan menyembelih seekor domba jantan dan bersedekah perak seberat rambut bayi. Berdasarkan wahyu suci, diberilah bayi itu dengan nama Hasan ibn Ali. Nama yang cukup asing ditelinga kaum Quraisy.

Dalam asuhan Nabi saw, Ali as dan Fatimah as, Imam Hasan as tumbuh menjadi teladan abadi. Bukan hanya fisiknya, tapi karakter dan akhlaknya mencerminkan seluruh kepribadian kakeknya.

Diriwayatkan oleh Syaikh Radhi al-Yasin dalam bukunya Shulh al-Hasan bahwa suatu hari wewangian Rasulullah saw, Imam Hasan as keluar melakukan perjalanan ditemani oleh Imam Husain as dan Abdullah bin Ja’far ra. Tanpa disadari, barang-barang bawaan mereka tertinggal sehingga menyulitkan perjalanan mereka. Lapar dan dahaga menimpa mereka dalam perjalanan tanpa bekal tersebut.

Dalam situasi itu mereka melihat kemah dwngan seorang perempuan tua sedang duduk di depan kemah tersebut. Maka Imam Hasan dan dua saudaranya ini menuju kemah dan meminta air kepada wanita tua tersebut untuk menghilangkan dahaga mereka. Wanita tua itu berkata, “perahlah susu domba ini!.” Merekapun memerah susu domba tersebut.

Kemudian, putera-putera Rasulullah saw ini meminta makanan kepada wanita tersebut. Perempuan itu berkata, “Aku tidak memiliki apapun selain domba ini. Sembelihlah ia oleh salah seorang di antara kamu”. Lalu disembelihlah domba wanita itu, dikuliti dan setelah itu wanita tua itu memanggang daging domba tersebut untuk dihidangkan kepada tiga tamu tak dikenalnya. Mereka pun memakan daging domba panggang tersebut dan setelah itu beristirahat sejenak untuk melepas lelah.

Ketika terbangun, mereka pamit sembari berkata kepada wanita tua itu, “Kami dari golongan Quraisy dan ingin melanjutkan perjalanan. Apabila nanti kami kembali, kunjungilah kami karena kami ingin berbuat baik kepadamu”. Kemudian mereka pergi.

Tak berselang lama, suami wanita tua itu pun kembali dan diberitahukan kepadanya bahwa ia telah menjamu tamu dengan dombanya. Suaminya marah dan berkata, “celakalah engkau! Kau telah mengorbankan dombaku untuk orang-orang yang tidak dikenal kecuali hanya sebagai orang Quraisy.”

Hari demi hari berlalu. Kondisi keluarga wanita tua itu semakin memburuk. Lalu ia pun berangkat menyusuri jalanan hingga sampai Madinah sambil tertatih-tatih. Imam Hasan as melihat wanita tua itu dan mengenalinya. Imam Hasan menegurnya dan bertanya, “Apakah engkau mengenalku?”. Wanita tua itu menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Tidak! Aku tidak mengenalmu”. Imam Hasan as pun menjelaskan bahwa dirinya adalah tamunya dulu yang dijamunya denga seekor domba miliknya.

Kemudian Imam Hasan as membawa wanita tua itu ke tempatnya, dan Imam Hasan as memberinya hadiah seribu ekor domba dan uang seribu dinar. Lalu Imam Hasan as mengirim wanita tua itu kepada Imam Husain as dan Imam Husain as pun memberikan seribu ekor domba dan uang seribu dinar. Selanjutnya Imam Husain as mengirimkan wanita itu kepada Abdullah bin Ja’far ra, dan seperti dua saudaranya tersebut, ia pun memberikan seribu ekor domba dan seribu dinar uang. Maka wanita itu pun kembali ke tempatnya dengan membawa tiga ribu ekor domba disertai uang 3000 dinar.

Wanita itu terharu, Inilah balasan bagi seekor domba yang disembelihnya. Dan inilah putera-putera Rasulullah saw yang membalas kebaikan orang lain dengan sebaik-baik pembalasan. Inilah wujud teladan sepanjang zaman.

Kumpulkanlah sejumlah manusia tampan dalam khayalan
Lalu datangkanlah Hasan sebagai bandingan
Semua akan tenggelam dalam pesonanya yang rupawan
Wajahnya bak purnama yang menyinari gelap malam
Aromanya menyebar dan mengalahkan semua wewangian bumi
Karena ia adalah semerbak wewangian surgawi
Yang terpancar dari bawah Arsy Ilahi

Menyambut pagi ini, dari kedalaman relung hati
Ku ucapkan “Assalamualaika Yabna Rasulullah, Ya Hasan ibn Ali”
Selamat atas kelahiran Hasan putra Ali
Pewaris tahta langit dan bumi dalam berkah dan ridha ilahi

15 Ramadahan 1438 H dini hari
Dari budakmu yang hina bernama Candiki

🌹💝🌹
CR14