AIR MATA PARA PECINTA

Oleh : Candiki Repantu

Al-Imam Ali Zainal Abidin as berkata, “Seorang mukmin yang menangis hingga air matanya membasahi kedua pipinya dikarenakan dibunuhnya al-Husain, maka Allah akan memberinya kamar-kamar di surga yang dia tinggal disana selama-lamanya” (Tsawab al-A’mal, hal. 108)

Mungkin kita sering menangis dalam menjalani kehidupan kita ini. Ada kalanya kesusahan menimpa kita, derita menghampiri kita, penyakit menyerang keluarga kita, atau kita ditinggal wafat oleh orang-orang yang kita cintai. Semua itu membuat kita bersedih dan menangis. Bahkan tak jarang kita dengar orang-orang berkata bahwa tangisan adalah senjata manusia, terutama wanita.

Tangisan dan air mata adalah sama saja dalam setiap peristiwa. Air mata yang kita teteskan karena sakit yang menimpa, sama dengan air mata yang kita alirkan karena ditinggal wafat keluarga kita. Begitu pula tidak ada bedanya air mata yang keluar ketika menangisi Imam Husain as. Semua adalah air mata yang sama. Lantas mengapa air mata untuk Imam Husain as begitu tingginya nilainya di sisi Allah SWT, sedangkan air mata untuk penyakit kita biasa-biasa saja nilainya? Mengapa air mata untuk Al-Husain diganjar dengan surga? Padahal air matanya itu-itu juga.

Hal ini disebabkan paling tidak karena tiga hal. Pertama, Karena air mata itu kita hubungkan dengan Imam Husain as yang dirinya punya kedudukan agung di sisi Allah SWT. Pada prinsipnya, sesuatu itu bisa bernilai lebih jika dikaitkan dengan sesuatu lain yang punya kelebihan. Cincin besi mungkin hal yang bisa, tapi ketika cincin itu dipakai oleh seorang putri, maka nilainya menjadi luar biasa. Begitulah air mata adalah hal biasa bagi kita, tapi air mata itu punya nilai agung dan mulia ketika dihubungkan dengan wujud yang mulia.

Kedua, suatu tangisan itu timbul berakar dari kecintaan. Dan nilai cinta diukur dari objek cinta. Siapa yang dicintainya maka seperti itulah nilai cintanya. Alquran memerintahkan kita untuk mencintai keluarga Nabi Saw dan cinta itu sebagai upah kepada Nabi saw. Maka mencintai al-Husain adalah bagian dari agama dan termasuk mengamalkan perintah Allah dan Rasul-Nya. Dengan begitu, tangisan yang kita persembahkan kepada Al-Husain as adalah berakar dari cinta yang diperintahkan Allah SWT.

Ketiga, Tangisan kepada Al-Husaian adalah tradisi para manusia suci sepanjang sejarah manusia. Husain adalah satu-satunya manusia yang yang dipenuhi dengan derai air mata. Dia lah yang sebelum lahir ditangisi, ketika lahir ditangisi, ketika hidup ditangisi dan setelah wafatnya tangisan semakin menggema di jagat raya. Tangisan untuk Al-Husain telah dilakukan Nabi Adam as hingga Nabi Muhammad Saw, dan dilakukan juga Imam Ali as hingga Imam Mahdi afs. Dengan demikian, ketika kita menangis untuk Al-Husain, maka kita sedang menggabungkan diri kita dengan seluruh manusia suci dari sejak para nabi dahulu hingga imam yang suci di masa kini. Dan bergabung bersama para manusia suci tentu adalah keagungan dan kemuliaan.

Ummu Fadhl menceritakan, “Suatu hari aku masuk menemui Rasulullah Saw dan menyerahkan Al-Husain ke pangkuan beliau, maka ketika aku menoleh, aku melihat kedua mata Rasulullah Saw mengucurkan air mata. Aku bertanya, ‘wahai Nabi Allah, semoga ayah dan ibuku menjadi tebusan anda, apa yang terjadi sebenarnya? Nabi pun bersabda, ‘Sesungguhnya Jibril datang menjumpaiku dan mengabarkan bahwa kelak umatku akan membunuh putraku.’ Aku bertanya, ‘Putra Anda ini wahai Rasulullah Saw? Nabi menjawab, ‘Ya! Dan Jibril as pun membawakan untukku segenggam tanah merah tempat terbunuhnya al-Husain, putraku”. (Al-Hakim, al-Mustadrak juz III, hal. 176).

Sebab itu, jika Nabi Adam as, Nabi Ibrahim as, Nabi Musa as, dan para Nabi lainnya menangisi Al-Husain sebelum lahirnya, dan Nabi Muhammad Saw menangisi Al-Husain ketika lahirnya, bahkan dalam banyak kesempatan melihat Al-Husain, Rasulullah Saw selalu mengucurkan air mata, lantas tidakkah layak bagi kita untuk meneteskan air mata untuk Al-Husain? Begitu keraskah hati kita sehingga tidak tersentuh dengan duka al-Husain? Begitu sombongkah mata kita sehingga tak ingin mengalirkan air mata ketika mengetahui pembantaian Al-Husain? Atau apakah kita khawatir karena memandang tangisan itu adalah bid’ah yang terlarang dalam agama?

Jika tangisan itu dianggap bid’ah, maka kita hanya bisa mengatakan, biarlah air mata ini kelak menjadi saksi dan hujjah di hadapan Allah dan Rasul-Nya serta Imam Ali as dan Bunda Fatimah, bahwa kita bersedih untuk Al-Husain karena kecintaan yang tulus kepadanya. Karena itu, di Bulan Muharram ini, kita ingin bergabung bersama kafilah duka suci Sang Nabi untuk menangisi Al-Husain putra Ali. Selamat datang jiwa-jiwa para pecinta, hati-hati yang diliputi duka, dan mata-mata penuh air mata. Salam atasmu wahai Aba Abdillah! (CR14).

Iklan

AKU TAK MEMBUTUHKAN KUDAMU!

Oleh : Candiki Repantu

Satu Muharram, rombongan kafilah Imam Husain menerabas jalanan gersang padang pasir Irak menuju Kufah. Di tengah perjalanan, di sebuah tempat yang bernama Qashr Bani Muqatil Imam Husain melihat sebuah tenda yang terpancang kokoh dengan tombak dan kuda mengitarinya. Inilah tenda tempat berteduhnya Ubaidillah bin Hurr al-Ju’fi dan Amr bin Qais melepas lelah mereka.

Melihat tenda tersebut, terbersit di hati Imam Husain as untuk mengajak mereka bergabung bersama kafilahnya. Maka diutuslah Hajjaj bin Masyruq menjumpai Ubaidillah bin Hurr menyampaikan undangan Sang Imam agar mereka berkenan mengunjungi Imam Husain di tendanya. Mendengar undangan Sang Imam, Ubaidillah sontak mengatakan “Inna lillahi wa Inna ilaihi Raji’un”. Dia sudah bisa merasakan apa yang diinginkan Sang Imam dari dirinya. Setelah berpikir sejenak, Ubaidillah meminta maaf, agar diizinkan untuk tidak menemui Sang Imam. Ia menolak undangan putra Rasul yang mulia. Ia enggan datang menghadap Imam Husain as, “Maafkan daku, Aku tidak bisa menolong dia dan aku tidak ingin dia melihatku atau aku melihatnya” kata Ubaidillah.

Hajjaj bin Masyruq menyampaikan permohonan maaf dan keengganan Ubaidillah kepada Sang Imam. Namun, seperti belum merasa puas atas jawaban Ubaidillah, dan tanpa menyurutkan keinginanya, Imam Husain as dengan penuh kerendahan hati, datang sendiri melangkahkan kaki ke tenda Ubaidillah al-Ju’fi. Sang Imam mengajaknya untuk bergabung bersama kafilahnya dan mendukung perjuangannya. Namun tak disangka, wajah suci Sang Imam tak sedikitpun menggoyahkan jiwa Ubaidillah. Seruan belahan jiwa Nabi ini tak menyentuh ke relung hatinya sehingga tergugah untuk bangkit memenuhi panggilan ilahi ini. Seperti halnya kepada Hajjaj bin Masyruq, Ubaidillah menyampaikan maafnya dan tak berniat membantu cucu nabinya.

Imam Husain as berkata, “Wahai Ubaidillah, jika engkau enggan membantu kami, maka janganlah engkau memerangi kami. Demi Allah, seorang yang mendengar seruan kami dan tidak ingin menolong kami niscaya dirinya akan binasa.”

Dengan gusar Ubaidillah menjawab, “Demi Allah, setiap orang yang bergabung denganmu pasti memperoleh kebahagiaan kelak di akhirat. Tapi aku bingung dan tidak tahu jatus melakukan apa untuk Anda. Di Kufah, aku tidak mengetahui seorangpun yang akan menolongmu. Demi Allah, aku belum menginginkan kematian, karenanya aku mohon jangan paksa aku mengikutimu. Ambillah kudaku ini, aku berikan untuk mendampingimu.”

Mendengar jawaban Ubaidillah, sungguh dalam duka, nestapa, derita, dan kesedihan melanda jiwa putra Fatimah as. Imam Husain menatap lekat wajah Ubaidillah, seolah ingin menembus keresahan di dalam jiwanya. Inikah jawaban untuk putra Nabi yang memelas meminta pertolongan umatnya? Inikah penolakan untuk seruan ilahi?

Apakah tak ada lagi orang yang bersedia membelanya sehingga harus seekor kuda yang mendampinginya?

Apakah panggilan sucinya tak ada lagi harganya sehingga nilainya hanyalah seekor binatang?

Apakah dunia begitu mempesona umat kakeknya sehingga mereka takut menjumpai kematiannya?

Tidak adakah lagi kaum yang merindukan surga untuk bergabung bersama Sang Penghulu pemuda surga?

Tidak adakah lagi orang yang mencintai al-Husain as sebagaimana Nabi dan Allah SWT mencintainya?

Bukankah Bara bin Azib, seorang sahabat Rasul Saw menceritakan, “Suatu hari aku melihat Rasulullah Saw menggendong Husain sambil berdoa, ‘Allahumma inni uhibbuhu fa uhibbahu’ (Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah dia).”

Bukankah para pecinta siap berkorban untuk orang yang dicintainya? Lantas apakah tidak ada yang ingin berkorban untuk Al-Husain as?

Namun, inilah yang terjadi. Ketika Imam Husain as mengajak manusia ke surga, memanggil umat mendukungnya, menyeru kaum menaiki bahtera keselamatan, mengharap para pecinta untuk berkorban, tapi apa yang didapatnya? Hanyalah seekor kuda peliharaan. “Wahai Ubaidillah, kalau kau tak mau menolongku, maka aku pun tak membutuhkan kudamu” jawab Sang Imam.

Saudaraku, kini satu Muharram sudah memasuki kita. Panggilan Imam Husain kembali menggema, “Adakah yang mau menolongku?”. Inilah teriakan Al-Husain yang menggema dari Karbala sampai ke seluruh dunia. Suara gaib Imam Husain melintasi ruang dan waktu, menggoncang jiwa-jiwa para pecinta, untuk bergegas memenuhi panggilannya. Apakah kita akan menjadi penerus suara Ubaidillah yang hanya menyerahkan kudanya untuk mendampingi Imamnya? Atau kita akan menyambutnya dalam satu teriakan yang mendunia, “Labbaika ya Husain, Labbaika Ya Husian, Labbaika Ya Husain!”. Dimanakah kita? (CR14).