Ngaji Lebaran Nusantara : KELUARGA BARU

Oleh : Candiki Repantu

Sebentar lagi kita berlebaran, kita sibuk memilihkan pakaian baru, kopiah baru, dan sepatu baru untuk anak-anak kita. Kita siapkan makanan yang enak-enak untuk menyambut Hari Raya, bahkan tak jarang makanan itu terlalu berlebihan sehingga adakalanya terbuang percuma. Kita dan anak-anak kita tertawa riang gembira. Namun, adakah kita memperhatikan sekeliling kita. Melihat anak-anak tetangga kita, apakah anak-anak itu punya baju dan sepatu baru seperti anak-anak kita? Apakah mereka punya makanan enak seperti makanan kita?

Lihatlah ke jalanan, anak-anak masih bertebaran, masih menggoncang-goncangkan kaleng rombengan, dengan wajah penuh kedukaan, bernyanyi dengan suara sedih yang menyayat hati, karena dihimpit beragam penderitaan, mengharapkan lemparan uang recehan.

Boleh jadi mereka adalah anak-anak yatim yang mendambakan kasih sayang ayah-ibunya. Apa yang bisa kita lakukan untuk mereka? Rasulullah saw berpesan, gembirakanlah mereka dengan rezeki yang tak terduga, sebab Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang memenuhi kebutuhan seorang dari umatku agar ia gembira karenanya, maka sesungguhnya orang itu telah membuatku gembira. Dan siapa yang membuatku gembira, ia telah membuat Allah gembira. Dan barangsiapa menggembirakan-Nya, akan dimasukkan ke surga.” (H.R. Baihaqi)

Dalam kesempatan lain Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya para ahli ibadah dari umatku tidak akan masuk surga karena amal ibadahnya, tetapi karena rahmat Allah, dan karena kedermawanan, kebesaran jiwa, serta belas kasihnya kepada semua kaum muslimin.” (H.R. Ibnu Abi Dunya)

Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik rumah ( di antara) rumah kaum muslimin ialah rumah yang di dalamnya ada anak yatim yang diperlakukan dengan baik. Dan sejelek-jeleknya rumah (di antara) kaum muslimin ialah rumah yang di dalamnya ada anak yatim yang diperlakukan dengan tidak baik. Aku dan orang yang memelihara anak yatim di dalam surga adalah seperti ini! Beliau mengisyaratkan dengan dua jarinya.” (Kanz al-Ummal jilid II, hal. 35)

Pada suatu hari raya Rasulullah saw keluar untuk menunaikan shalat Id. Di pertengahan jalan, beliau melihat banyak anak kecil sedang bermain dengan gembira. Mereka memakai baju dan sandal baru yang mengkilap. Tiba-tiba pandangan beliau tertuju pada seorang anak yang sedang duduk menyendiri dan sedang menangis tersedu-sedu. Bajunya compang-camping dan kakinya tidak bersandal. Rasulullah saw mendekatinya, mengusap-usap kepala anak tersebut dan mendekapnya ke dada beliau, “Mengapa engkau menangis, nak? Tanya Rasulullah saw.

Tanpa mengetahui siapa yang sedang memeluknya, anak tersebut menjawab, “Biarkanlah aku sendirian. Ayahku gugur dalam peperangan bersama Nabi saw. Lalu ibuku menikah lagi, dan hartaku habis dimakan suami ibuku. Sekarang aku diusir dari rumah. Pada lebaran ini, aku tak mempunyai baju baru dan makanan yang enak. Aku sedih melihat teman-temanku bermain dengan riangnya.”

Nabi saw lantas membimbing anak tersebut seraya menghiburnya, “Sukakah engkau bila aku menjadi ayahmu, Fatimah menjadi kakakmu, Aisyah menjadi ibumu, Ali sebagai pamanmu, Hasan dan Husain menjadi saudaramu?”

Anak itu baru sadar dengan siapa dia berbicara. Maka langsung ia berkata, “Mengapa aku tak suka, ya Rasulullah?” Kemudian, Rasulullah saw pun membawa anak itu ke rumah beliau, dan diberikan kepadanya pakaian yang indah, memandikannya, dan memberinya perhiasan agar ia tampak lebih gagah, lalu mengajak makan. Sesudah itu, anak itu pun keluar bermain bersama kawan-kawanya yang lain, sambil tertawa-tawa kegirangan.

Melihat perubahan pada anak itu, kawan-kawannya merasa heran lalu bertanya, “Tadi kamu menangis, mengapa sekarang bergembira?” Anak itu menjawab, “Tadi aku kelaparan, sekarang sudah kenyang. Tadi aku tak punya pakaian sekarang aku mempunyainya. Tadi aku tak punya ayah, sekarang ayahku Rasulullah saw dan ibuku Aisyah ra.” Mendengar hal itu, anak-anak lainnya berkomentar, “Wah, andaikan ayah kita gugur dalam perang.” (al-Hufiy, Min Akhlaq an-Nabi saw, hal. 107). Inilah rezeki nomplok di hari lebaran yang dihadiahkan Nabi saw kepada seorang anak yatim jalanan, menerima keluarga baru. Siapa keluarga baru kita di lebaran kali ini? (CR14)

Iklan

Tadarus Ramadhan (29) : SALAM PERPISAHAN

Oleh : Candiki Repantu

“Suatu hari Nabi Musa as berdoa, ‘Ya Tuhanku, aku ingin kedekatan dengan-Mu’. Allah berfirman, ‘Kedekatan dengan Ku akan didapat orang yang bangun pada malam qadar.’

Musa berdoa lagi, ‘Tuhanku, aku ingin limpahan rahmat-Mu.’ Allah berfirman, ‘Rahmat Ku untuk orang yang menyantuni kaum miskin pada malam qadar.’

Musa memohon lagi, ‘Tuhan Ku, aku ingin kemudahan melewati jembatan shirat.’ Allah menjawab, ‘Itu akan Kuberikan kepada orang yang bersedekah pada malam qadar.’

Musa melanjutkan permohonannya, “Tuhanku, aku ingin memperoleh pepohonan dan buah-buahan surga.’ Allah menjawab, ‘Itu akan Kuberikan bagi orang yang bertasbih di malam qadar.’

Musa meminta lagi, ‘Ya Ilahi, aku ingin terbebas dari siksa neraka.’ Allah berfirman, ‘Itu Kuberikan bagi orang yang beristighfar pada malam qadar.’

Musa berdoa lagi, ‘Ya Tuhanku, aku ingin memperoleh ridha Mu.’ Allah menjawabnya, ‘Ridha Ku diperuntukkan bagi orang yang salat dua rakaat di malam qadar.’ (Ibnu Thawus, Iqbal al Amal, h. 345)

Syaikh Maliki at-Tabrizi menjelaskan, “Berdasarkan banyak riwayat, di malam qadar rezeki dan usia para hamba, baik dan buruknya urusan mereka, ditetapkan oleh Allah swt. Pd malam qadar, Alquran suci diturunkan, begitu pula para malaikat diturunkan semuanya ke bumi. Ketika melewati majelis kaum mukminin, para malaikat menyampaikan salawat dan pujian kepada kaum mukminin tersebut sambil terus memperhatikan solat dan doa mereka sampai fajar. Selama malam tersebut, semua doa-doa dikabulkan kecuali doa empat kelompok manusia yaitu : Anak yg durhaka, orang yg memutuskan silaurrahmi, org yg memiliki kebencian dan dendam kepada seorang mukmin di dalam hatinya, dan orang yang tukang meminum minuman keras.” (Tabrizi, 2005: 151)

Dari riwayat-riwayat di atas, maka jelaslah bahwa ibadah pada bulan ramadhan dikategorikan pada dua jenis ibadah, yaitu ibadah pribadi dan ibadah sosial, ibadah ketuhanan dan ibadah kemanusiaan.

Ibadah pribadi atau ketuhanan adalah ibadahnya penduduk langit yang merupakan hubungan Allah dengan hamba-Nya seperti solat, istighfar, berzikir dan bertasbih. Sedangkan ibadah sosial dan kemanusiaan merupakan ibadahnya penduduk bumi yang menghubungkan antara sesama manusia, seperti menyantuni fakir miskin, bersedekah, menyambung silaturrahmi, saling memaafkan, memuliakan org tua, mohon ampun atas dosanya, dosa orang tuanya dan dosa kaum muslimin. Orang yang mengamalkan kedua jenis ibadah inilah yg akan melalui ramadhan dengan menggapai keagungan malam seribu bulan (lailatuk qadar).

Di bulan ramadhan kita gapai keagungan malam seribu bulan dengan salat dan sedekah; dengan berzikir disertai menyantuni kaum fakir.

Di bulan turunya Alquran, kita memohon ampunan Tuhan dengan tangisan dan membahagiakan hati kaum miskin dengan bingkisan.

Di bulan qadar, sembari mengangkat tangan dan berdoa dengan suara bergetar, tidak lupa pula kita mengulurkan tangan membantu kaum dhu’afa yang perutnya lapar.

Di bulan pengampunan, kita mohon ampunan Tuhan dengan tetesan air mata penyesalan, sembari menangis iba untuk anak-anak yang terlantar di jalanan.

Di bulan turunnya para malaikat, kita senantiasa meminta agar ditunaikan segala hajat, tapi kita juga harus ingat untuk menunaikan hak-haknya kaum kerabat.

Di bulan kemuliaan, kita telah bertasbih mensucikan Tuhan semesta alam, diiringi dengan mensucika harta kita dengan zakat kepada kaum pinggiran.

Di bulan penuh berkah, kita selalu menyambungkan diri kita dengan Allah melalui ibadah, diikuti dengan menyambungkan silaturrahmi kepada manusia melalui ukhuwah. Maafkan segala khilaf dan salah yang pernah mencederai hubungan kemanusiaan kita.

Kini sudah melewati ramadhan dengan amalan-amalan langit yang menggembirakan Tuhan disertai amalan-amalan bumi yang yang menyenangkan insan. Kita sudah memohon ampunan Tuhan, kasih sayang orang tua, ridho istri/suami, cinta anak-anak, perhatian kaum fakir, kesucian perut dari makanan haram, kebersihan hati dari rasa dendam dan benci, serta ketulusan niat dlm ibadat.

Dengan bekal inilah kita sampaikan salam perpisahan kepada bulan ramadhan dengan menggemakan takbiran dan berlanjut menyongsong lebaran bersama kerabat dan sanak saudara dengan penuh kesyukuran dan saling bermaafan. Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin. Selamat berlebaran, semoga Allah menemukan kita di ramadhan tahun depan!(CR14).

Tadarus Ramadhan (28) : MENJAMU TAMU

Oleh : Candiki Repantu

Ummul mukminin Aisyah ra meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda, “Orang yang murah hati dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka. Orang yang bakhil (pelit) jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga, dan dekat dengan neraka. Orang bodoh yang murah hati lebih dicintai Allah daripada orang pintar yang pelit.” (H.R. at-Tirmidzi)

Al-Qusyairi dalam Risalah al-Qusyairiyah membedakan antara orang yang murah hati dengan orang yang dermawan. Menurutnya, dermawan lebih tinggi tingkatannya dari murah hati. Orang yang memberikan sesuatu dan menyisakan sebagian, maka dia adalah orang yang murah hati. Orang yang memberikan miliknya dan menyisakan sedikit untuk dirinya, maka dia adalah orang yang dermawan.

As-Sulami, menunjukkan menifestasi kedermawanan disaat menghormati tamu. Dia mengutip sabda Nabi saw, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia membaguskan jamuan untuk tamunya.” SitiAisyah ra berkata, “Malaikat senantiasa mendoakan kalian, selama kalian menjamu tamu kalian.”

Al-Zuzani meriwayatkan, “telah sampai kepadaku kisah tentang Ibrahim as. Allah bertanya kepadanya, ‘Tahukah engkau mengapa aku mengambilmu sebagai khalil (kekasih)’. ‘Tidak ya Rabb’, jawab Nabi Ibrahim as. Maka Allah menyampaikan, “Aku bedah hatimu, dan ternyata di sana Aku temukan bahwa hatimu lebih suka memberi daripada menerima”. Adapun Alqusyairi saat menafsirkan ayat, “Sudahkan sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim yang dimuliakan”? (Q.S. adz-Dzariyat: 24) mengatakan bahwa maksudnya adalah Nabi Ibrahim as melayani tamunya dengan tangannya sendiri.

Dikisahkan bahwa Qais bin Sa’ad bin Ubadah adalah orang anshar yang terkenal dermawan. Ia ditanya apakah ia pernah melihat seseorang yang lebih murah hati dari dirinya. Maka ia menceritakan pengalamannya, “Ketika aku ke suatu desa, aku bertemu seorang wanita, lalu suaminya datang. Si wanita berkata kepada suaminya, ‘engkau kedatangan tamu’. Lalu suaminya keluar mengambil seekor unta dan menyembelihnya. Besoknya datang lagi tamu yang lain. Lelaki itu pun kembali menyembelih seekor unta. Aku heran melihatnya, dan berkata, ‘Tuan, aku hanya memakan sedikit unta yang disembelih semalam, menurutku tuan tak perlu menyembelih unta lagi.’ Dia menjawab, ‘Aku tidak akan menjamu tamuku dengan makanan sisa yang sudah menginap semalaman.’ Aku tinggal di rumah suami-isteri itu selama tiga hari, dan mereka selalu memperlakukan tamunya seperti itu…”

Suatu hari Imam Ali bin Abi Thalib ra menangis, lalu seseorang bertanya kepadanya mengapa ia menangis. Beliau menjawab, “Sudah seminggu rumahku tidak kedatangan tamu, aku takut Allah menghinakanku.” Anas bin Malik ra berkata, “Zakat rumah adalah digunakan untuk menerima tamu.” Dan tentang ayat, “Tidak ada halangan bagimu untuk makan bersama-sama atau sendirian” (Q.S. an-Nur: 61), Ibnu Abbas berkata bahwa ayat tersebut bermakna pada dasarnya tidak boleh seseorang makan dengan sendirian, tapi kemudian Allah memberikan kemudahan. (Risalah al-Qusyairiyah, hal. 372).

Ketika menjelaskan keutamaan menjamu tamu, Imam Ali beliau mengatakan, “Yang menguatkan badan adalah makanan, dan yang menguatkan rohani adalah memberi makan.” Juga berkata, “Makanan yang kau makan akan lenyap, sementara makanan yang kau berikan kepada orang lain akan abadi.” (Mizan al-Hikmah, no. 3800)

Karenanya, kita harus khawatir jika rumah kita jarang didatangi tamu, dan lebih khawatir lagi jika kita tidak suka rumah kita didatangi tamu. Kalau kita mau menumbuhkan sifat kedermawanan, maka biasakanlah menjamu tamu dengan sebaik-baiknya, sekalipun dalam kesusahan.

Allah memuji kedermawanan para sahabat Anshar yang merefleksikan sifat kedermawanan ini dengan firman-Nya, “…dan mereka (Anshar) lebih mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka membutuhkan (apa yang mereka berikan itu)” (Q.S. Al-Hasyr : 9). Tentang keluarga Nabi saw, Allah berfirman, “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. (Mereka berkata), “Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dan tidak pula (ucapan) terima kasih darimu.” (Q.S. al-Insan : 8-9). Sebentar lagi kita lebaran, dan tamu akan banyak berdatangan. Layanilah tamu-tamu kita dengan sebaik-baik jamuan. (CR14)

Tadarus Ramadhan (27) : EMPATI KEMISKINAN

Oleh : Candiki Repantu

Diceritakan, seseorang masuk ke rumah Bisyr bin Harits pada musim dingin, dan melihatnya memakai pakaian biasa sehingga tubuhnya menggigil kedinginan. Orang tersebut berkata kepada Bisyr, “Hai Abu Nashr, orang-orang saat ini merangkap pakaiannya dengan berlapis-lapis, tetapi engkau justru menguranginya.” Bisyr menjawab, “Aku teringat kepada orang-orang miskin dan aku tidak memiliki sesuatu yang bisa kuberikan kepada mereka. Karena itu aku berusaha memenuhi hak mereka dengan cara seperti ini, membiarkan diriku kedinginan seperti apa yang mereka rasakan.”

Begitu juga Imam Khumaini qs. Dikisahkan bahwa ketika di suatu musim panas yang sangat, beliau tidak menggunakan pendingin sehingga tubuhnya dipenuhi dengan keringat dan ia menggunakan kain untuk membersihkan setiap keringat yang mengalir. Apakah tidak ada pendingin di ruangannya? Ada, tetapi tidak mengizinkan untuk menghidupkannya. Beliau berkata, ingin merasakan juga derita orang-orang susah dan para pejuang di garis depan yang berpanas-panasan dalam hidup mereka membela tanah airnya.

Apa yang dilakukan oleh dua sufi besar di atas yaitu Bisyr dan Imam Khumaini adalah suatu bentuk empati. Empati inilah yang mengantarkan mereka pada derajat agung di sisi Allah swt.

Pernahkah kita berbuat seperti Bisyr atau Imam Khumaini? Pernahkah kita ketika ingin membeli baju yang mahal, tapi membatalkan membelinya karena teringat akan orang-orang miskin yang tidak memiliki baju? Mana yang lebih menggembirakan kita, membeli satu baju idaman yang mahal, atau membeli sepuluh baju yang tidak mahal, kemudian memakai satu dan membagikan sembilan baju lainnya? Saat kita menikmati makanan di rumah atau di restoran, ingatkah kita kepada orang-orang yang kelaparan? Bahkan ketika kita sedang susah, masih ingatkah kita untuk bersedekah?

Puasa mengajarkan kita untuk empati pada orang-orang miskin, lihatlah ketika kita tidak puasa kita di suruh membayar fidyah yaitu memberi makan fakir miskin. Begitu pula ketika kita melanggar aturan puasa, kita pun harus membayar kifarat. Dan kifaratnya juga adalah memberi makan kepada fakir-miskin, selain membebaskan budak dan puasa dua bulan berturut-turut (Q.S. al-Baqarah: 184).

Begitu pula, puasa dijadikan wasilah bagi kita untuk menuju manusia takwa dan ketakwaan yang menjadi tujuan ibadah puasa tersebut dicerminkan dengan kesediaan berbagi rezeki sebagaimana difirmankan Allah swt tentang ciri orang takwa, “(yaitu) orang-orang yang menginfakkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit…”(Q.S. Ali Imran: 134).

Dalam Tafsir Nur al-Quran diriwayatkan dari Imam Ja’far Shadiq, ketika ditanya tentang alasan perintah berpuasa, maka beliau menjawab :

Allah telah memerintahkan puasa untuk menciptakan keseimbangan antara orang kaya dan orang miskin. Hal ini agar orang kaya merasakan keadaan orang miskin dan akibatnya orang kaya menyayangi orang miskin (dengan menunaikan hak-hak mereka). Dan, karena segala sesuatu selalu tersedia bagi orang-orang kaya, maka Allah Yang Maha Kuasa senang apabila keseimbangan ditegakkan di antara hamba-hamba-Nya. Oleh karenanya, Dia telah menakdirkan orang kaya merasakan lapar dan kesulitan tersebut sehingga bersimpati kepada orang yang lemah dan merasa sayang kepada orang yang lapar.”

Jadi, puasa kita saat ini dinilai berhasil, jika pasca puasa ini, kita lebih senang memberi daripada menerima, baik ketika susah, terlebih ketika senang, dan kita lebih berempati kepada orang-orang miskin. Semoga! (CR14)

Tadarus Ramadhan (26) : KEASLIAN SUMBER ALQURAN

Oleh : Ust. M. Iqbal Al-Fadani

Dalam pandangan Islam tentu saja Alquran bersumber dari Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw melalui proses wahyu yang hakikatnya tidak bisa kita mengerti. Namun hal ini tentu saja tidak mendapatkan penilaian yang sama dari orang-orang yang tidak meyakini Islam, apalagi mereka yang memusuhinya.

Karena itu, salah satu pembahasan penting dalam Ulum Alquran baik klasik ataupun kontemporer adalah masalah keaslian Sumber Alquran. Masalah ini mengemuka karena terdapat kritik dari berbagai ahli terutama yang nonmuslim bahwa sumber Alquran tidaklah asli dari Allah swt, melainkan berasal dari kitab-kitab lainnya atau diajarkan oleh jin, atau berasal dari pikiran Nabi Muhammad saw sendiri.

Saat ini yang ingin kita bahas adalah anggapan terakhir yang menyatakan bahwa Alquran adalah buah karya kejeniusan pikiran Nabi Muhammad Saw yang mampu membaca situasi dan kondisi bangsa Arab kala itu, lalu kemudian berhasil menemukan formula yang cocok untuk jadi acuan dan pola hidup bangsa Arab. Kemampuan nabi dalam menghadapi musuh-musuhnya dan penyampaian ajarannya kepada umat dijadikan sebagai bukti atas asumsi ini.

Perlu diketahui juga bahwa pendapat ini tidak hanya bersumber dari para orientalis, bahkan sebagian ilmuan muslim pun ada yang ikut terseret kedalam pola pikir yang rancu ini.

Di sini akan disebutkan beberapa bantahan atas asumsi dan pendapat di atas.

1). Orang jenius memang berbeda dengan manusia normal lainnya. Perbedaan ini ada dalam percepatan daya tangkap yang mereka miliki, dimana waktu yang mereka perlukan untuk menyelesaikan sebuah permasalahan lebih singkat dari yang dibutuhkan orang biasa. Namun begitu orang biasa dengan waktu yang lebih lama dan penelitian yang lebih alot pada gilirannya akan bisa sampai pada apa yang telah berhasil dicapai oleh seorang jenius. Jadi permasalahannya hanya pada persoalan waktu saja. Hal ini sangat berbeda dengan Alquran yang dibawa oleh nabi Muhammad Saw, dimana tidak seorang pun yang mampu membuat kitab yang sama dengan Alquran. Dari dulu sampai sekarang bahkan di masa yang akan datang.

2). Seorang jenius tidak akan mampu memahami berbagai disiplin ilmu yang berbeda dan beragam sebagai mana yang kita temukan dalam Alquran, apalagi harus dituangkan dalam sebuah bahasa yang penuh mujizat.

3). Apa yang diperoleh oleh seorang jenius adalah hasil dari ilmu “hushuli” (proses berpikir) yang dapat dipelajari dan diajarkan kepada orang lain. Itulah sebabnya sorang jenius tidak pernah melakukan “tahaddi” atau tantangan untuk semua kalangan dengan mengatakan bahwa tidak seorangpun yang mampu menemukan apa yang dia temukan. Sebab dia mengetahui bahwa pada saatya orang lain juga akan mampu membuat apa yang dia temukan bahkan tidak menutup kemungkinan penemuan berikutnya justru lebih sempurna dari penemuannya.

Tapi Alquran justru sebaliknya. Ia berani melakukan tahaddi dan tantangan. Tantangannya juga tidak tanggung-tanggung, sebab melibatkan semua manusia bahkan jin sekalipun, “Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Alquran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”. (Q.S. Al-Israa’: 88)

Terakhir sebagai catatan, dengan mengatakan bahwa Alquran tidak bersumber dari pemikiran jenius nabi, bukan berarti kita sedang mengatakan bahwa nabi hanya memiliki daya pikir yang sama dengan manusia lainnya, sebab kita juga meyakini bahwa beliau memiliki pikiran yang jauh melebihi kejeniusan orang-orang jenius. Namun yang kita yakini adalah pemikiran yang di atas jenius ini hanya merupakan sarana untuk menampung wahyu yang bersumber dari Allah SWT, bukan sebagi sumber Wahyu. Wallahu a’lam. (CR14)

Tadarus Ramadhan (25) : TAHAPAN DAKWAH NABI SAW

Oleh : Ust. M. Iqbal Al-Fadani

Tafsir Alquran bi Alquran, merupakan sebuah metode penafsiran dimana Alquran itu sendiri dijadikan sebagai referensi untuk menafsirkan dirinya. Metode penafsiran ini sebenarnya telah diajarkan oleh nabi Muhammad Saw dan keluarga sucinya serta juga sering digunakan oleh para mufassirin sepanjang sejarah. Namun, metode ini menjadi lebih dikenal setelah dijadikan metode penafsiran secara khusus oleh Allamah Thabathabai di dalam tafsirnya Al-Mizan.

Jika, para mufassirin sebelum beliau menggunakan metode ini hanya di sebagian tafsir mereka, maka Allamah Thabathabai berusaha menerapkan konsep tersebut secara utuh di dalam keseluruhan kitab tafsirnya tersebut.

Berangkat dari metode ini, kita coba melihat beberapa ayat dalam Alquran yang berkaitan dengan perintah dakwah yang diemban Nabi Muhammad Saw.

Biasanya sering diajarkan bahwa Nabi saw berdakwah dalam dua tahap, yaitu tahap sembunyi-sembunyi dan tahap terang-terangan. Tapi jika kita menganalisa beberapa ayat suci Alquran dan menggunakan metode tafsir Alquran bi Alquran, maka akan kita temukan terdapat empat tahapan dakwah yang dilalui oleh Nabi Muhammad Saw.

1). Tahap sembunyi-sembunyi. Setelah turunnya Wahyu pertama, nabi Muhammad Saww selama tiga tahun melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi, hanya terbatas pada keluarganya saja dan orang-orang dekatnya.

2). Tahapan mengajak kerabatnya. Di tahap ini Nabi Muhammad Saw mendapat perintah dakwah dari Allah SWT untuk mengajak keluarga terdekatnya, “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”. (Q.S. Al-Syu’ara : 214).

3). Tahap dakwah terang-terangan kepada penduduk Mekah dan sekitarnya. Pada tahapan ketiga Nabi Muhammad saw diperintahkan untuk mengajak penduduk Makkah dan sekitarnya untuk mengikuti ajaran yang diturunkan kepada beliau, “Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Alquran dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya.” (Q.S. Al-Syuura: 7).

4. Tahap dakwah universal. Pada tahapan terakhir ini, Nabi Muhammad Saw mendapat perintah untuk menyebarkan ajaran Islam ke seluruh dunia. “Dan Alquran ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Alquran (kepadanya).” (Q. S. Al-An’am: 19).

Menyandingkan beberapa ayat ini, membawa kita pada kesimpulan di atas. Tapi sebaliknya, jika hanya melihat sebagian ayat di atas dan melupakan sebagian yang lain, akan melahirkan pemahaman yang berbeda. Misalnya, jika hanya melihat Ayat yang berkaitan dengan tahapan ketiga saja, maka akan menyimpulkan bahwa Alquran hanya untuk penduduk Makkah dan sekitarnya saja, bukan untuk semua bangsa dan lintas teritorial. Begitu juga halnya bila melupakan ayat yang berkaitan dengan tahap pertama, kedua dan ketiga, tapi langsung melihat tahapan terakhir, maka yang terjadi adalah kehilangan sejarah dan historis terbentuknya masyarakat Islam dari awal lahirnya sampai kemudian muncul sebagai sebuah agama yang bersifat universal.

Dari sinilah dipahami bahwa metode tafsir Qur’an Bil Qur’an seperti yang dipopulerkan oleh Allamah Thabathabai merupakan kemestian, tentu saja tanpa mengesampingkan metode lainnya sebagai sarana memahami Islam yang utuh. Wallahu a’lam. (CR14)

BERKAH SEEKOR DOMBA

Oleh : Candiki Repantu

 

IMG_20170610_100149_157

Malam, 15 Ramadahan tahun ke-3 H. Suatu sinar suci menerangi Madinatun Nabi berasal dari rumah sederhana milik Sayidah Fatimah as, sang puteri terkasih Nabi saw. Malam itu, lahir seorang bayi mungil penuh aroma wangi malakuti dari rahim ratu bidadari. Itulah putera pertama yang dinanti Sang pengemban wasiat Nabi. Itulah cucu pewaris tahta ilahi. Sebagai rasa syukur, setelah tujuh hari pasca dikumadangkan azan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri, rumah kenabian mengadakan jamuan akikah dengan menyembelih seekor domba jantan dan bersedekah perak seberat rambut bayi. Berdasarkan wahyu suci, diberilah bayi itu dengan nama Hasan ibn Ali. Nama yang cukup asing ditelinga kaum Quraisy.

Dalam asuhan Nabi saw, Ali as dan Fatimah as, Imam Hasan as tumbuh menjadi teladan abadi. Bukan hanya fisiknya, tapi karakter dan akhlaknya mencerminkan seluruh kepribadian kakeknya.

Diriwayatkan oleh Syaikh Radhi al-Yasin dalam bukunya Shulh al-Hasan bahwa suatu hari wewangian Rasulullah saw, Imam Hasan as keluar melakukan perjalanan ditemani oleh Imam Husain as dan Abdullah bin Ja’far ra. Tanpa disadari, barang-barang bawaan mereka tertinggal sehingga menyulitkan perjalanan mereka. Lapar dan dahaga menimpa mereka dalam perjalanan tanpa bekal tersebut.

Dalam situasi itu mereka melihat kemah dwngan seorang perempuan tua sedang duduk di depan kemah tersebut. Maka Imam Hasan dan dua saudaranya ini menuju kemah dan meminta air kepada wanita tua tersebut untuk menghilangkan dahaga mereka. Wanita tua itu berkata, “perahlah susu domba ini!.” Merekapun memerah susu domba tersebut.

Kemudian, putera-putera Rasulullah saw ini meminta makanan kepada wanita tersebut. Perempuan itu berkata, “Aku tidak memiliki apapun selain domba ini. Sembelihlah ia oleh salah seorang di antara kamu”. Lalu disembelihlah domba wanita itu, dikuliti dan setelah itu wanita tua itu memanggang daging domba tersebut untuk dihidangkan kepada tiga tamu tak dikenalnya. Mereka pun memakan daging domba panggang tersebut dan setelah itu beristirahat sejenak untuk melepas lelah.

Ketika terbangun, mereka pamit sembari berkata kepada wanita tua itu, “Kami dari golongan Quraisy dan ingin melanjutkan perjalanan. Apabila nanti kami kembali, kunjungilah kami karena kami ingin berbuat baik kepadamu”. Kemudian mereka pergi.

Tak berselang lama, suami wanita tua itu pun kembali dan diberitahukan kepadanya bahwa ia telah menjamu tamu dengan dombanya. Suaminya marah dan berkata, “celakalah engkau! Kau telah mengorbankan dombaku untuk orang-orang yang tidak dikenal kecuali hanya sebagai orang Quraisy.”

Hari demi hari berlalu. Kondisi keluarga wanita tua itu semakin memburuk. Lalu ia pun berangkat menyusuri jalanan hingga sampai Madinah sambil tertatih-tatih. Imam Hasan as melihat wanita tua itu dan mengenalinya. Imam Hasan menegurnya dan bertanya, “Apakah engkau mengenalku?”. Wanita tua itu menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Tidak! Aku tidak mengenalmu”. Imam Hasan as pun menjelaskan bahwa dirinya adalah tamunya dulu yang dijamunya denga seekor domba miliknya.

Kemudian Imam Hasan as membawa wanita tua itu ke tempatnya, dan Imam Hasan as memberinya hadiah seribu ekor domba dan uang seribu dinar. Lalu Imam Hasan as mengirim wanita tua itu kepada Imam Husain as dan Imam Husain as pun memberikan seribu ekor domba dan uang seribu dinar. Selanjutnya Imam Husain as mengirimkan wanita itu kepada Abdullah bin Ja’far ra, dan seperti dua saudaranya tersebut, ia pun memberikan seribu ekor domba dan seribu dinar uang. Maka wanita itu pun kembali ke tempatnya dengan membawa tiga ribu ekor domba disertai uang 3000 dinar.

Wanita itu terharu, Inilah balasan bagi seekor domba yang disembelihnya. Dan inilah putera-putera Rasulullah saw yang membalas kebaikan orang lain dengan sebaik-baik pembalasan. Inilah wujud teladan sepanjang zaman.

Kumpulkanlah sejumlah manusia tampan dalam khayalan
Lalu datangkanlah Hasan sebagai bandingan
Semua akan tenggelam dalam pesonanya yang rupawan
Wajahnya bak purnama yang menyinari gelap malam
Aromanya menyebar dan mengalahkan semua wewangian bumi
Karena ia adalah semerbak wewangian surgawi
Yang terpancar dari bawah Arsy Ilahi

Menyambut pagi ini, dari kedalaman relung hati
Ku ucapkan “Assalamualaika Yabna Rasulullah, Ya Hasan ibn Ali”
Selamat atas kelahiran Hasan putra Ali
Pewaris tahta langit dan bumi dalam berkah dan ridha ilahi

15 Ramadahan 1438 H dini hari
Dari budakmu yang hina bernama Candiki

🌹💝🌹
CR14