BEDAH BUKU BAG 8 : MENGAPA SAYA KELUAR DARI SYIAH? TENTANG PENGHARAMAN MUT’AH PADA HARI KHAIBAR.

BEDAH BUKU BAG 8 : MENGAPA SAYA KELUAR DARI SYIAH?

 

TENTANG PENGHARAMAN MUT’AH PADA HARI KHAIBAR.

Oleh : Candiki Repantu

Salah satu persoalan fikih antara sunni-syiah adalah masalah hukum mut’ah. Ulama syiah sepakat akan halalnya nikah mut’ah berdasarkan al-Quran dan sunnah Rasulullah saaw dan ahl al-baitnya. Sedangkan ulama sunni menyatakan bahwa nikah mut’ah pernah dihalalkan, tetapi kemudian diharamkan oleh Rasulullah saaw.

Tapi anehnya, Husein al-Musawi al-Kadzab yang mengaku mujtahid ini, membuat fatwa tanpa dasar dan argumentasi yang utuh dengan mengharamkan nikah mut’ah hanya dengan menggunakan satu hadits yang sempat ditemukannya di dalam kitab syiah. Yaitu, hadits yang coba dipopulerkan olehnya dan oleh para pengikutnya yang diriwayatkan oleh Imam Ali as, tentang pengharaman nikah mut’ah pada hari Khaibar. Untuk itu, mari kita bahas hadits tersebut, sehingga menjadi jelas bagi kita semua keadaanya.

> Pada halaman 50, Husain al-Musawi menulis :

“Sesungguhnya mut’ah adalah dibolehkan pada masa jahiliyah. Ketika Islam datang, nikah tersebut dibiarkan beberapa waktu, kmudian diharamkan pada hari khaibar. Tetapi yang termasyhur dikalangan syiah dan dikalangan para ulama mereka bahwa umar bin khattab adalah yang mengharamkannya. Dan inilah yang diriwayatkan oleh sebagian ulama kami.”

“Yang benar dalam masalah ini adalah bahwa nikah mut’ah diharamkan pada hari Khaibar. Amirul mukminin berkata, “Pada hari Khaibar Rasulullah saaw mengharamkan keledai peliharaan dan nikah mut’ah.” (Lihat at-Tahzhib, 2/186; Al-Istibshar, 3/142; Wasail asy-Syiah, 14/441)
————-

# Pernyataan Husein al-Musawi al-Kadzab di atas, akan saya urai melalui dua persoalan.

1). Benarkah Pengharaman Mut’ah Oleh Umar bin Khattab Hanya Masyhur di Kalangan Syiah?

Di atas Husein al-Musawi al-Kadzab menganggap orang-orang syiah menuduh Umar bin Khattab yang mengharamkan mut’ah. Dia berkata :

“Tetapi yang termasyhur dikalangan syiah dan dikalangan para ulama mereka bahwa umar bin khattab adalah yang mengharamkannya. Dan inilah yang diriwayatkan oleh sebagian ulama kami.”

# Saya Jawab :

Sesungguhnya para ulama syiah maupun sunni menyebutkan bahwa nikah mut’ah dihalalkan berdasarkan kitab Allah (Q.S. an-Nisa : 24) dan sunnah Rasulullah saaw, dan dipraktekkan oleh para sahabat dalam berbagai kesempatan hingga Rasulullah saaw meninggal dunia. Allah berfriman : “Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban” (Q.S. an-Nisa : 24)

Memang benar bahwa para ulama syiah mengindikasikan bahwa yg pernah mengharamkan nikah mut’ah adalah Umar bin Khattab. Hal ini disebutkn dalam berbagai hadits2 yang shahih yang diriwayatkan oleh para ulama syiah. Diantaranya adalah celaan Imam Ali as bahwa Umar lah yang mengharamkan mut’ah :

مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ عَنِ الْفَضْلِ بْنِ شَاذَانَ عَنْ صَفْوَانَ بْنِ يَحْيَى عَنِ ابْنِ مُسْكَانَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سُلَيْمَانَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) يَقُولُ كَانَ عَلِيٌّ ( عليه السلام ) يَقُولُ لَوْ لَا مَا سَبَقَنِي بِهِ بَنِي الْخَطَّابِ مَا زَنَى إِلَّا شَقِيٌّ .

“Muhammad bin Ismail, dari al-Fadhl bin Sa’dzan, dari Sofwan bin Yahya, dari Ibnu Muskan, dari Abdillah bin Sulaiman berkta, “Aku mendengar Abu Ja’far as berkata : Ali as berkata “Seandainya mut’ah tidak dilarang oleh Ibnu Khattab, maka tidak akan ada yang berbuat zina kecuali orang yang benar-benar celaka.” (lihat Furu’ al-Kafi juz. 5, bab Mut’ah, hadits no. 2 dan Wasa’il Syiah jilid 21 hal 5 riwayat no 26357).

Tetapi, Husein al-Musawi al-Kadzab jelas keliru jika menisbahkan pengharaman nikah mut’ah kepada Umar adalah tuduhan ulama-ulama syiah. Sebab, ketahuilah, pengharaman Umar bin Khattab atas nikah mut’ah juga populer di dalam riwayat2 ahlussunnah, perhatikan hadits berikut ini :

حدثني محمد بن رافع حدثنا عبدالرزاق أخبرنا ابن جريج أخبرني أبو الزبير قال سمعت جابر بن عبدالله يقول كنا نستمتع بالقبضة من التمر والدقيق الأيام على عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم وأبي بكر حتى نهى عنه عمر في شأن عمرو بن حريث

Artinya : “Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Rafi’ yang berkata, telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq yang berkata, Ibnu Juraij menceritakan kepada kami, bahwa Abu Zubair telah berkata, ‘Aku mendengar Jabir bin Abdillah berkata, “kami melakukan mut’ah dengan segenggam kurma dan gandum pada masa Rasulullah saaw, dan masa Abu Bakar, sampai Umar melarangnya dalam kasus Amr bin Huraits.” (Lihat Shahih Muslim, jilid 2/ juz 4 Kitab Nikah bab Nikah Mut’ah).

Dengan demikian maka jelaslah pengharaman mut’ah dilakukan oleh Umar bin Khattab telah masyhur di dalam kitab2 sunni maupun syiah. Dan tentu saja ijtihad Umar tersebut tidak menjadi hujjah bagi syiah.

2). Benarkah Mut’ah Diharamkan Pada Hari Khaibar?

Husein al-Musawi selanjutnya berkata :

“Yang benar dalam masalah ini adalah bahwa nikah mut’ah diharamkan pada hari Khaibar. Amirul mukminin berkata, “Pada hari Khaibar Rasulullah saaw mengharamkan keledai peliharaan dan nikah mut’ah.” (Lihat at-Tahzhib, 2/186; Al-Istibshar, 3/142; Wasail asy-Syiah, 14/441)

# Saya Jawab :

Semua ulama syiah sepakat bahwa mut’ah adalah halal sampai hari kiamat berdasarkan dalil al-Quran dan hadits-hadits yang mutawatir dalam kitab-kitab standar syiah. Jadi, tidak ada peluang sedikitpun untuk menyatakan bahwa mut’ah telah diharamkan oleh para imam syiah as.

Namun, Husain al-Musawi berusaha memaksa diri untuk menunjukkan bahwa mut’ah telah diharamkan oleh imam syiah dengan cara memperkuat argumentasinya dengan mengutip hadits dari imam Ali as tentang pengharaman Nikah mut’ah pada hari khaibar. Hadits tersebut adalah sbb :

محمد بن أحمد بن يحيى عن أبي الجوزا عن الحسين بن علوان عن عمرو بن خالد عن زيد بن علي عن آبائه عن علي (عل) قال: حرم رسول الله (صلى الله عليه وآله)لحوم الحمر الاهلية ونكاح المتعة.

“Dari Muhammad bin Ahmad bin Yahya dari Abil Jauza’dari Husain bin Alwan dari Amru bin Khalid dari Zaid bin Ali dari Ayahnya dari kakeknya dari Ali as yang berkata “Rasulullah saaw pada hari Khaibar telah mengharamkan daging keledai jinak dan nikah mut’ah”. (Lihat Syaikh Thusi, al-Istibshar juz 3 bab Tahlil al-mut’ah hal. 142 hadits no. 5 dalam bab itu atau no. 511)

Memang benar bahwa hadits tersebut terdapat di dalam kitab al-Istibshar karya Syaikh Thusi juz 3 bab Tahlil al-Mut’ah hal. 142 hadits no. 5 atau no. 511; dan juga dalam Kitab Wasa’il Syiah jilid 21 hal. 12 riwayat no 26387. Sekarang mari kita kaji hadits tersebut untuk menguji kualitasnya.

Perhatikan bagaimana Syeikh Thusi memasukkan hadits tersebut dalam bab “Halalnya Mut’ah”, lalu mengapa Husein al-Musawi al-Kadzab memasukkannya sbg dalil “Haramnya mut’ah”..? Itulah sebabnya, maka tidak heran jika para ulama syiah tidak memperdulikan riwayat ini. Itulah sebabnya maka Syaikh Thusi dan juga Al-Hurr al-Amili menuliskan bahwa riwayat ini sebagai taqiyyah dalam periwayatan, karena halalnya nikah mut’ah adalah masalah yang dharuriyah dalam mazhab syiah”. (lihat Kitab Wasa’il Syiah jilid 21 hal 12). Adapun Sayyid Khu’i mengatakan bahwa riwayat dari Imam Ali as yang menyebutkan tentang pengharaman mut’ah pada hari Khaibar adalah palsu, sebab umat Islam masih terus mengerjakannya setelahnya.
وأما ما روي عن علي (عليه السلام) في تحريم المتعة فهو موضوع قطعا

(lihat Kitab al-Bayan fi Tafsir al-Quran karya Sayid Khu’i, hal. 322).

Beitulah para ulama syiah telah menolak riwayat di atas… lantas bagaimana sebenarnya kondisi riwayat itu sendiri.

Sebelum menguji kualitas hadits di atas nya, perlu kita ketahui dulu bahwa pembagian hadits berdasarkan kualitas perawinya menurut syiah adalah empat jenis yaitu :

1. Hadits Shahih, yaitu hadist yang diriwayatkan oleh seorang penganut syi’ah Imamiah yang telah diakui keadilannya dan dengan jalan yang shahih.

2. Hadits Hasan, yaitu jika rawi yang meriwayatkannya adalah seorang syi’ah Imamiah yang terpuji, tidak ada seorangpun yang jelas mengecamnya atau secara jelas mengakui keadilannya.

3. Hadits Muwatsaq, yaitu jika rawi yang meriwayatkannya adalah bukan syiah, tetapi diakui sebagai orang yang tsiqat dan terpercaya dalam periwayatan.

4. Hadits Dha’if, yaitu hadis yang tidak mempunyai kriteria-kriteria tiga kelompok hadis di atas, seperti misalnya sang rawi tidak menyebutkan seluruh rawi yang meriwayatkan hadist kepadanya.

((catt : ada juga yg menyebut lima jenis dengan menambahkan satu jenis lagi yaitu Hadits Qawi/kuat, yakni hadits yang diriwayatkan oleh orang-orang yang terpercaya).

Dengan memperhatikan sanad hadits Khaibar di atas, maka kita akan menemukan kualitas hadits tersebut. Hadits ini diriwayatkan dengan sanad sbb :

– Muhammad bin Ahmad bin Yahya al-Asyari dinyatakan tsiqah oleh para ulama (lihat Rijal an-Najasyi, hal. 348 no. 934; Kitab Rijal al-Hilli juz. 1 hal. 164 no. 1308; Kitab Wasail Syiah, juz 30 hal. 461)

– Abil Jauza’ namanya adalah Munabbih bin Abdullah juga dinyatakan tsiqah, shahih al-hadits (lihat Rijal an-Najasyi, hal. 421 no. 1129 dan hal. 459 no. 1252; Kitab Wasail Syiah juz 30, hal. 517; Naqd al-Rijal karya Sayid Mustafa juz 5, hal. 136 no. 5955)

– Husein bin Alwan tsiqah dan merupakan rijal ammah atau bukan orang syiah imamiyah (lihat Kitab Rijal al-Hilli juz 2, hal. 291 no. 8; Kitab Wasail Syiah, juz 30 hal. 354; Rijal an-Najasyi, hal. 52 no. 116; Naqd al-Rijal karya Sayid Mustafa jilid 2, hal. 103 no. 1481).

– Amru bin Khalid al-Wasithi juga merupakan rijal ammah atau bukan orang syiah imamiyah dan meriwayatkan dari Zaid (lihat Rijal an-Najasyi, hal. 228, no. 771; Kitab Rijal al-Hilli juz 2, hal. 292. no. 25; Kitab Wasail Syiah juz 30 hal. 438; Naqd al-Rijal karya Sayid Mustafa jilid 3, hal. 331 no. 3795)

– Zaid bin Ali merupakan putera Imam Ali zainal Abidin dan pemimpin Zaidiyah.

Dengan melihat sanad di atas, maka jelaslah bahwa hadits di atas bukanlah hadits shahih, tetapi hadits muwatsaq. Sebab ternyata Husein bin Alwan dan Amru bin Khalid al-Wasithi merupakan rijal ammah atau bukan orang syiah imamiyah. Hadits shahih adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang-orang syiah yang jujur dan dipercaya, sedangkan hadits Muwatsaq adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang yang bukan syiah, tetapi diakui sebagai orang yang tsiqat dan terpercaya dalam periwayatan. Orang yang bukan syiah imamiyah di dalam ilmu hadits syiah disebut dengan istilah rijal ‘ammah. Pada dasarnya, Hadits muwatsaq ini bisa dijadikan hujjah jika haditsnya tidak bertentangan dengan riwayat-riwayat yang shahih dan telah diakui (Lihat Muhyiddin al-Musawi al-Guhraifi, Qawa’id al-Hadist, hal. 24-30).

Dan ternyata hadits ini bertentangan dengan hadits-hadits shahih yang banyak jumlahnya dan ijma ulama syiah yang menetapkan bahwa kehalalan nikah mut’ah merupakan hal yang dharuriyat di dalam mazhab syiah. Dengan demikian hadits tersebut mengandung cacat dan tidak dapat dijadikan hujjah, terlebih telah dijelaskan sendiri oleh Syeikh Thusi dan al-Hurr al-Amili bahwa hadits tersebut merupakan taqiyah dalam periwayatan.

Keterangan di atas sudah cukup untuk menjadikan bukti akan kecacatan dan gugurnya hadits tersebut. Apakah Husein al-Musawi al-Kadzab yang mengaku mujtahid tidak mengetahui persoalan ini, atau dia sedang menerapkan jurus kura-kura dalam perahu, alias pura-pura tidak tahu sbg taktik untuk menipu..?? Ambillah pelajaran wahai orang yang berakal…!! wallahu a’lam.

Bedah buku “MENGAPA SAYA KELUAR DARI SYIAH” Karya Husain al-Musawi..yg diterbitkan oleh Pustaka al-Kautsar
Iklan

BEDAH BUKU BAG 7 : MENGAPA SAYA KELUAR DARI SYIAH? HUSAIN AL-MUSAWI AL-KADZAB MEMALSUKAN HADITS TENTANG MUT’AH

BEDAH BUKU BAG 7 : MENGAPA SAYA KELUAR DARI SYIAH?

 

HUSAIN AL-MUSAWI AL-KADZAB MEMALSUKAN HADITS TENTANG MUT’AH

Oleh : Candiki Repantu

Artinya : “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka Itulah orang-orang pendusta. (Q.S. an-Nahl : 105)

Rasulullah saaw memerintahkan al-Walid bin Uqbah untuk mengambil zakat kepada kaum al-Harts bin Dlirar al-Khuzai yang telah memeluk Islam. Tetapi ditengah jalan, al-Walid merasa gentar dan kembali kepada Nabi saaw dengan membuat laporan palsu bahwa al-Harts dan kaumnya tidak mau membayar zakat bahkan ingin membunuhnya. Mendengar laporan ini Rasulullah saaw mengutus utusan lagi untuk memperjelas persoalannya sebelum mengambil tindakan tegas. Hasilnya, ternyata al-Walid berdusta kepada Rasulullah saaw tentang al-Harts dan kaumnya. Peristiwa ini diabadikan Allah dengan menurunkan Q.S. al-Hujurat : 6, “Hai orang-orang yg beriman, apabila datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaanya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Q.S. al-Hujurat : 6)

Husain al-Musawi al-Kadzab dengan bukunya, “Mengapa Saya Keluar dari Syiah?”, kelihatannya melanjutkan tradisi al-Walid bin Uqbah yang digelar fasik oleh Allah swt. Jika, pada bukti sebelumnya, saya telah menunjukkan kedustaan Husein al-Musawi al-Kadzab karena dia memanipulasi hadits atau ayat dengan cara memotong kalimatnya, maka pada kesempatan ini, saya akan menunjukkan bagaimana kedustaan yang lebih nyata yang dilakukan oleh Husein al-Musawi al-Kadzab, yaitu bahwa “HUSEIN AL-MUSAWI AL-KADZAB MEMBUAT HADITS PALSU MELALUI IMAJINASINYA DAN KEMUDIAN MENISBAHKAN HAL ITU KEPADA RASUL SAAW DAN PARA IMAM AHLUL BAIT AS.”

Mari kita telusuri kedustaan yang di buat oleh Husein al-Musawi al-Kadzab saat membahas tentang mut’ah berikut ini.

> Husein al-Musawi menulis pada halaman 44, empat hadits tentang Mut’ah sbb :

1. Nabi saaw bersabda, “Barangsiapa yg melakukan mut’ah kpd seorang wanita mukminah, maka seolah2 dia berkunjung ke Ka’bah sebanyak tujuh puluh kali.”

Kemudian Husain al-Musawi berkomentar : “Apakah org yg melakukan mut’ah sama dengan org yg mengunjungi ka’bah sebanyak tujuh puluh kali? Dengan siapa? Dengan wanita mukminah?

# Saya Jawab :

Perhatikanlah Husain al-Musawi al-Kadzab menulis hadits di atas tanpa menunjukkan sumbernya shg kita kesulitan melacak pengutipannya dan memeriksa hadits tersebut. Saya sendiri berusaha mencari dibeberapa kitab hadits syiah yang berbicara tentang mut’ah, tetapi tak menemukan hadits tersebut. Jadi, bisa dihipotesakan bahwa Husein al-Musawi al-Kadzab tidak bisa menunjukkan sumbernya, karena hadits itu hanya buatannya sendiri yg dihasilkan dari khayalannya. Silahkan, jika ada para pendukung Husein al-Musawi al-Kadzab yang bisa menunjukkan secara lengkap hadits tersebut dengan sanadnya di dalam kitab hadits standar syiah untuk kita periksa kualitasnya.
——–
> Husein al-Musawi al-Kadzab menulis pd halaman 44 hadits ke-2 :

2. Ash-Shaduq meriwayatkan dari Ash-Shadiq as, dia berkata, “sesungguhnya mut’ah adalah agamaku dan agama bapakku. Brangsiapa yg mengerjakannya, maka dia telah mengamalkan agamanya. Barangsiapa yg mengingkarinya, maka berarti dia mengingkari agama kami dan berakidah dengan selain agama kami.” (Man la Yahdhuruhu al-Faqih, 3/366)…Husain al-Musawi melanjutkan, “Ini adalah pengkafiran terhadap org yg menolak mut’ah”.

# Saya Jawab :

Setelah membaca dan melacak hadits tersebut di dalam kitab Man Layahdhuruh al-Faqih, saya tidak menemukan riwayat tersebut di atas. Jadi, lagi-lagi Husein al-Musawi membuat hadits palsu melalui imajinasinya sendiri. Sungguh inilah mujtahid yg salah kaprah. Yang ada dan masyhur dikalangan Syiah adalah sebuah riwayat dengan berbunyi “TAQIYAH ADALAH AGAMAKU DAN AGAMA BAPAKKU”… bukan kalimat “Mut’ah adalah agamaku dan agama bapakku”. Dengan demikian, maka Husein al-Musawi telah merubah lafal hadits sesuka hatinya. Sungguh ini merupakan kedustaan yang sangat nyata. Meskipun begitu, (mungkin saja saya kurang jeli memeriksa kitab Man Layahdhuruh al-Faqih), saya persilahkan bagi pendukung Husein al-Musawi al-Kadzab utk menunjukkan hadits tersebut secara lengkap dengan sanadnya dan sumbernya di dalam kitab Man Layahdhuruhul Faqih bab dan nomor haditsnya.
————-

> Selanjutnya Husein al-Musawi al-kadzab menuliskan hadits ke-3 pd hal 44 :

3. Dikatakan kepada Abu Abdulah as, “Apakah dalam mut’ah terdapat pahala? Dia berkata, “Jika dengannya dia mengharap ridha Allah swt, tidak ada satu kata pun yg dia katakan kecuali Allah menuliskannya sebagi suatu kebaikan. Jika dia mendekatinya, maka Allah akan mengampuni dosanya berkat mut’ah yg dia lakukan. Jika dia mandi, maka Allah akan mengampuni dosanya sebanyak air yg membasahi rambutnya.” (Man La Yahdhuruhu al-Faqih, 3/366)

# Saya jawab :

Hadits tersebut memang ada di dalam kitab Man La yahdhuruh al-Faqih juz 3, Kitab al-Nikah bab al-Mut’ah, hadits no. 4602. Tetapi, ktahuilah bahwa hadits ini dhaif dan tidak bisa dijadikan hujjah dengan sanad dari Shalih bin Uqbah bin Sam’an, yang mana Sholih bin Uqbah adalah sanad yang dinilai dhaif dan pembohong oleh para ulama rijal (lihat Kitab Rijal karya al-Hilli juz 2, rijal no 237; Kitab Naqd al-Rijal karya Sayid Mushtafa juz 2, hal. 411 rijal no. 2592). Dengan demikian hadits ini gugur
———–

> Huseein al-Musawi al-Kadzab menulis hadits ke-4 sbb :

4. Nabi saaw bersabda, “Barangsiapa yg melakukan mut’ah dengan seorang wanita, maka dia akan aman dari murka Allah yg Maha Memaksa. Barangsiapa yg melakukan mut’ah dua kali, maka dia akan dikumpulkan bersama org2 baik. Barangsiapa yg melakukan mut’ah tiga kali, maka dia akan berdampingan denganku di surga. (Man La Yahdhuruhu al-Faqih, 3/366)

# Saya Jawab :

Lagi-lagi Husein al-Musawi memalsukan hadits melalui imajinasinya. Setelah berusaha melacaknya pada sumber yang disebutkan Husein al-Musawi, saya tidak menemukan riwayat tersebut. Hadits ini tidak saya temukan di dalam kitab Man La Yahdhuruhu al-Faqih dan kemungkinan besar juga tidak terdapat di dalam kitab hadits syiah lainnya. Silahkan, bagi para pendukung Husein al-Musawi jika ada yang mau menunjukkan secara jelas dimana terdapat hadits tersebut, sehingga kita bisa memeriksanya.
————

> Kemudian Husein al-Musawi al-Kadzab menuliskan hadits yang katanya dikutip dari Tafsir Fathullah Kasyani sbb :

5. Sayid Fathullah Kasyani meriwayatkan dalam tafisr Manhaj ash-Shadiqin dari Nabi saaw sesungguhnya dia bersabda, “Barangsiapa yg melakukan mut’ah satu kali, maka dia seperti derajat Husain as. Barangsiapa melakukan muta’ah dua kali, maka dia seperti derajat Hasan as. Barangsiapa yg melakukan Mut’ah tiga kali, maka derajatnya seperti derajat Ali bin Abi Thalib, dan barangsiapa ygmelakukan mut’ah empat kali, maka derajatnya seperti derajatku.”

# Saya Jawab :

Hadits ini juga tidak ada sumbernya, dan tidak ada di dalam kitab Tafsir Fathulah Kasyani saat menafsirkan Q.S. an-Nisa : 24. Perhatikan, Husain al-Musawi tidak menyebut halaman berapa dari kitab Tafsir Minhaj ash-shadiqin. Lagi-lagi Husein al-Musawi al-Kadzab menunjukkan kedurhakaannya pada Nabi saaw dan ahlul bait dengan membat hadits palsu atas nama mereka.

Demikianlah kedustaan nyata yang di buat oleh Husein al-Musawi terhadap Rasulullah saaw dan ahul baitnya. Ambillah pelajaran wahai orang-orang yang berakal. Wallahu a’lam.

Bedah buku “MENGAPA SAYA KELUAR DARI SYIAH” Karya Husain al-Musawi..yg diterbitkan oleh Pustaka al-Kautsar

BEDAH BUKU BAG 6 : MENGAPA SAYA KELUAR DARI SYIAH? HUSEIN AL-MUSAWI MEMANIPULASI AYAT AL-QURAN

BEDAH BUKU BAG 6 : MENGAPA SAYA KELUAR DARI SYIAH?

 

HUSEIN AL-MUSAWI MEMANIPULASI AYAT AL-QURAN TENTANG SIKAP KEBENCIAN FATIMAH ZAHRA as ATAS KELAHIRAN IMAM HUSAIN as.

Oleh : Candiki Repantu

Tuhan berfirman di dalam al-Quran menginagtkan kita untuk tidak berdusta, “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka Itulah orang-orang pendusta. (Q.S. an-Nahl : 105)

Ayat di atas memberikan ancaman keras bagi para pendusta, terutama berdusta atas nama Tuhan. Dan Husein al-Musawi ternyata telah membuat dirinya dilumuri kedustaan melalui bukunya tersebut. Telah kita perhatikan bersama, bagaimana hebatnya taktik Husein al-Musawi utk mengelabui pembaca dengan memotong-motong riwayat2 dari kitab2 ahlul bait sehingga riwayat tersebut menjadi tidak sesuai dengan teks asli dan maksud periwayatan. Tetapi tidak hanya sampai disitu, Husein al-Musawi bahkan rela memotong-motong ayat al-Quran (yang terselip di dalam sebuah hadits) utk mengelabui pembacanya, sehingga merubah maknanya dan menjadikan ayat itu sebagai hadits. Mari kita buktikan kedustaan yang dilakukan oleh Husein al-Musawi al-Kadzab.

Memang bagi pembaca yg tidak jeli, akan melihat bahwa riwayat itu mengindikasikan penghinaan pada Sayidah Fatimah az-Zahra as, tetapi jika kita lihat teks asli dan membacanya dengan teliti, maka akan jelaslah kebohongan yg diciptakan Husein al-Musawi. Dimana Husein al-Musawi memotong ayat al-Quran yg terletak di tengah-tengah hadits. Mari kita perhatikan riwayat dibawah ini yg ditulis oleh Husein al-Musawi al-Kadzab sbb :

> Pada halaman 30-31 Husein al-Musawi menulis :

“Al-Kulaini meriwayatkan dalam al-Ushul min al-Kitab al-Kafi : “Sesungguhnya Jibril turun kepada Nabi Muhammad s.a.w seraya berkata : Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah memberi kabar gembira dengan seorang anak yang akan lahir dari Fatimah, dia akan oleh umatmu setelahmu.’ Maka Nabi bersabda : Wahai Jibril dan keselamatan atas Tuhanku, saya tidak butuh kepada anak yang lahir dari Fatimah yang akan dibunuh oleh umatku setelahku.’ Maka Jibril naik lalu turun kembali dan mengatakan seperti di atas.

“Wahai Jibril dan keselamatan atas Tuhanku, saya tidak butuh kepada seorang bayi yang akan dibunuh oleh umatku setelahku.” Maka Jibril naik kelangit lalu turun kembali dan berkata : “Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu menyampaikan salam kepadamu dan memberi kabar gembira kepadamu bahwa Dia akan menjadikan dalam keturunanmu keimaman, kepemimpinan dan wasiat.” Maka Nabi berkata : “sesungguhnya saya ridha”. Kemudian dia mengutus seseorang kepada Fatimah untuk menyampaikan bahwa Allah memberi kabar kepadaku dengan seorang anak yang akan lahir darimu yang akan di bunuh oleh umatku setelahku. Maka Fatimah mengutus seseorang kepada nabi untuk menyampaikan bahwa dia tidak butuh kepada seorang anak yg akan dibunuh oleh umatmu setelahmu. Lalu nabi mengutus kepadanya bahwa Allah azza wa Jalla akan menjadikan dalam keturunannnya keimaman, kepemimpinan dan wasiat. Maka Fatimah mengirim utusan kepadanya bahwa ia ridha. MAKA DIA MENGANDUNGNYA DENGAN PERASAAN TIDAK SUKA DAN MELAHIRKANNYA JUGA DENGAN PERASAAN TIDAK SUKA. Dan Husain tidak menyusu kepada Fatimah, juga kepada wanita yang lain. Nabi saw datang kepadanya, lalu meletakkan ibu jarinya ke dalam mulutnya, maka Husain mengisapnya hingga cukup untuk dua sampai tiga hari.”

Setelah menulis riwayat di atas Husein al-Musawi berkomentar dengan melakukan tuduhan-tuduhan yang disengaja utnutk memjelekkan citra mazhab syiah :

“SAYA TIDAK MENGETAHUI APAKAH MUNGKIN RASULULLAH MENOLAK KABAR GEMBIRA YANG DIBERIKAN ALLAH KEPADANYA? DAN APAKAH MUNGKIN JUGA FATIMAH AZ-ZAHRA MENOLAK KEPUTUSAN YANG TELAH DITETAPKAN ALLAH DAN ALLAH HENDAK MEMBERI KABAR GEMBIRA DENGANYA, SEHINGGA DIA BERKATA, SAYA TIDAK BUTUH DENGANNYA.? APAKAH DIA MENGANDUNG HUSAIN DALAM KEADAAN TIDAK SENANG, DAN MELAHIRKANNYA DALAM KEADAAN TIDAK SENANG? APAKAH DIA JUGA MENOLAK UNTUK MENYUSUI HUSAIN SEHINGGA NABI DATANG UNTUK MENYUSUINYA DENGAN MEMASUKKAN IBU JARINYA UNTUK MENGENYANGKANNYA UNTUK DUA SAMPAI TIGA HARI.?”

# Saya Jawab :

Dari kutipan Husein al-Musawi al-Kadzab diatas, yang ingin saya permasalhkan adlah kutipannya yang menyebutkan : “MAKA DIA MENGANDUNGNYA DENGAN PERASAAN TIDAK SUKA DAN MELAHIRKANNYA JUGA DENGAN PERASAAN TIDAK SUKA.”

Dengan kutipan itu, Husein al-Musawi al-Kadzab ingin menujukkan bahwa Fatimah az-Zahra as tidak suka mengandung dan melahirkan Imam Husein as.

Setelah memeperhatikan riwayat yg dikutip oleh Husein al-Musawi, saya merasa ada sesuatu yg tidak beres dalam periwayatn di atas. Saya lagi-lagi mencurigai bahwa seperti kebiasaanya yg telah kita saksikan bersama bahwa Husein al-Musawi al-Kadzab sering mengutip hadits dhaif dan memelintir suatu riwayat demi mencapai keinginannya untuk menfitnah mazhab syiah. Dan ternyata, dugaan saya tidak keliru, saya menemukan bahwa Husein al-Musawi memanipulasi ayat al-Quran yg terdapat di pertengahan riwayat tersebut. Mari kita perhatikan teks asli berikut ini yang saya kutip dari Kitab Ushul al-Kafi jilid 1 Bab Maulid Husain as :

– مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى عَنْ عَلِيِّ بْنِ إِسْمَاعِيلَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو الزَّيَّاتِ عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِنَا عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ إِنَّ جَبْرَئِيلَ ( عليه السلام ) نَزَلَ عَلَى مُحَمَّدٍ ( صلى الله عليه وآله ) فَقَالَ لَهُ يَا مُحَمَّدُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِمَوْلُودٍ يُولَدُ مِنْ فَاطِمَةَ تَقْتُلُهُ أُمَّتُكَ مِنْ بَعْدِكَ فَقَالَ يَا جَبْرَئِيلُ وَ عَلَى رَبِّيَ السَّلَامُ لَا حَاجَةَ لِي فِي مَوْلُودٍ يُولَدُ مِنْ فَاطِمَةَ تَقْتُلُهُ أُمَّتِي مِنْ بَعْدِي فَعَرَجَ ثُمَّ هَبَطَ ( عليه السلام ) فَقَالَ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ فَقَالَ يَا جَبْرَئِيلُ وَ عَلَى رَبِّيَ السَّلَامُ لَا حَاجَةَ لِي فِي مَوْلُودٍ تَقْتُلُهُ أُمَّتِي مِنْ بَعْدِي فَعَرَجَ جَبْرَئِيلُ ( عليه السلام ) إِلَى السَّمَاءِ ثُمَّ هَبَطَ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنَّ رَبَّكَ يُقْرِئُكَ السَّلَامَ وَ يُبَشِّرُكَ بِأَنَّهُ جَاعِلٌ فِي ذُرِّيَّتِهِ الْإِمَامَةَ وَ الْوَلَايَةَ وَ الْوَصِيَّةَ فَقَالَ قَدْ رَضِيتُ ثُمَّ أَرْسَلَ إِلَى فَاطِمَةَ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُنِي بِمَوْلُودٍ يُولَدُ لَكِ تَقْتُلُهُ أُمَّتِي مِنْ بَعْدِي فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ لَا حَاجَةَ لِي فِي مَوْلُودٍ مِنِّي تَقْتُلُهُ أُمَّتُكَ مِنْ بَعْدِكَ فَأَرْسَلَ إِلَيْهَا أَنَّ اللَّهَ قَدْ جَعَلَ فِي ذُرِّيَّتِهِ الْإِمَامَةَ وَ الْوَلَايَةَ وَ الْوَصِيَّةَ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ أَنِّي قَدْ رَضِيتُ فَ

حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَ وَضَعَتْهُ كُرْهاً وَ حَمْلُهُ وَ فِصالُهُ ثَلاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَ بَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَ عَلى والِدَيَّ وَ أَنْ أَعْمَلَ صالِحاً تَرْضاهُ وَ أَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي

فَلَوْ لَا أَنَّهُ قَالَ أَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي لَكَانَتْ ذُرِّيَّتُهُ كُلُّهُمْ أَئِمَّة وَ لَمْ يَرْضَعِ الْحُسَيْنُ مِنْ فَاطِمَةَ ( عليها السلام ) وَ لَا مِنْ أُنْثَى كَانَ يُؤْتَى بِهِ النَّبِيَّ فَيَضَعُ إِبْهَامَهُ فِي فِيهِ فَيَمُصُّ مِنْهَا مَا يَكْفِيهَا الْيَوْمَيْنِ وَ الثَّلَاثَ فَنَبَتَ لَحْمُ الْحُسَيْنِ ( عليه السلام ) مِنْ لَحْمِ رَسُولِ اللَّهِ وَ دَمِهِ وَ لَمْ يُولَدْ لِسِتَّةِ أَشْهُرٍ إِلَّا عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ ( عليه السلام ) وَ الْحُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ ( عليه السلام ) . وَ فِي رِوَايَةٍ أُخْرَى عَنْ أَبِي الْحَسَنِ الرِّضَا ( عليه السلام ) أَنَّ النَّبِيَّ ( صلى الله عليه وآله ) كَانَ يُؤْتَى بِهِ الْحُسَيْنُ فَيُلْقِمُهُ لِسَانَهُ فَيَمُصُّهُ فَيَجْتَزِئُ بِهِ وَ لَمْ يَرْتَضِعْ مِنْ أُنْثَى .

“Muhammad bin Yahya, dari Ali bin Ismail, dari Muhammad bin Amru al-Zayyat, dari seorang laki-laki sahabat kami, dari Abu Abdillah as yang berkata: “Sesungguhnya Jibril turun kpd Nabi Muhammad saaw dan berkata : ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah memberi kabar gembira kepada engkau dengan seorang bayi yang kelak dilahirkan oleh Fatimah as, tetapi umatmu akan membunuhnya setelahmu. Maka berkatalah Rasul saaw : ‘Wahai Jibrail, salam atas Tuhanku, aku tidak berhajat pada anak yang akan dibunuh oleh umatku setelahku, lalu Jibril as telah naik ke langit. Kemudian turun dan mengatakan hal yang sama…..dst…. Kemudian Jibril turun kembali dan berkata : “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah menyampaikan salam dan memberi kabar gembira kepada engkau bahwa Dia menjadikan pada keturunanmu imamah, wilayah dan wasiat. Maka Rasul saaw bersabda: “Sungguh aku ridha”.

Kemudian Rasul saaw mengabarkan kepada Fatimah as : “Sesungguhnya Allah telah memberi kabar gembira kepadaku dengan seorang bayi yang kelak dilahirkan oleh engkau, umatku akan membunuhnya setelahku, lalu Fatimah as memberikan jawaban : “Aku tidak berhajat kepada bayi yang dilahirkan olehku, yang akan dibunuh oleh umatmu setelahmu”….

Kemudian Rasul saaw memberitahukan kepadanya bahwa Allah swt telah menjadikan pada keturunanya imamah, wilayah dan wasiat. Lalu Fatimah berkata : “Sesungguhnya aku ridha.

(Allah berfirman) : “IBUNYA MENGANDUNGNYA DENGAN SUSAH PAYAH, DAN MELAHIRKANNYA DENGAN SUSAH PAYAH PULA. MENGANDUNGNYA SAMPAI MENYAPIHNYA ADALAH TIGA PULUH BULAN SEHINGGA APABILA DIA TELAH DEWASA DAN UMURNYA SAMPAI EMPAT PULUH TAHUN DIA BERDOA: YA, TUHANKU, TUNJUKILAH AKU UNTUK MENSYUKURI NIKMAT ENGKAU YANG TELAH ENGKAU BERIKAN KEPADAKU DAN KEPADA IBU BAPAKU DAN SUPAYA AKU DAPAT BERBUAT AMAL YANG SOLEH YANG ENGKAU RIDHAI; BERILAH KEBAIKAN KEPADAKU DENGAN (MEMBERI) KEBAIKAN KEPADA ANAK CUCUKU. (lihat Q.S Al-Ahqaf : 15).

Seandainya Rasul saaw tidak berkata: “berilah kepadaku kebaikan dengan kebaikan bagi anak cucuku” maka, keturunnya telah menjadi para imam semuanya.

Imam Husein as tidak menyusu kepada Fatimah as dan lainnya. Rasul saaw datang dan meletakkan jarinya di mulut Husein as, lalu Husein as menghisapnya sehinga cukup untuknya sampai dua atau tiga hari. Maka daging Husain as tumbuh dari daging Rasul saaw dan darahnya. Tidak pernah dilahirkan (seorg bayi berumur) enam bulan melainkan Isa bin Maryam a.s dan Husain bin Ali as.

Di dalam riwayat lain, dari Abul Hasan al-Ridha as bahwa Husain a.s dibawa kepada Nabi saaw, beliau telah mengulurkan lidahnya, lalu Husein telah menghisapnya, dan cukuplah hal itu dan Husein as tidak menyusu pada wanita manapun. (lihat kitab Ushul al-Kafi jilid 1 bab Maulid Husain as, hadits no. 4)

# Al-Majlisi di dalam kitab Mir’at al-Uqul menegaskan bahwa hadits ini mursal (lihat Mir’at al-Uqul, juz. 5 hal. 364). Dalam kesempatan ini saya tidak ingin mengomentari kualitas hadits tersebut, tetapi lebih pada manipulasi yang dilakukan oleh Husein a-Musawi. Manipulasi itu adalah sebagai berikut.

# Husein al-Musawi memotong dan mengubah teks ayat al-Quran surat al-Ahqaf : 15 yang ada di dalam hadits tersebut sehingga di dalam buku “MENGAPA SAYA KELUAR DARI SYIAH?” diterjemahkan sbb :

“MAKA DIA MENGANDUNGNYA DENGAN PERASAAN TIDAK SUKA (Hamalathu kurhan).. DAN MELAHIRKANNYA JUGA DENGAN PERASAAN TIDAK SUKA (wa wadha’athu kurhan).

Kalimat yang dimanipulasi oleh Husein al-Musawi al-Kadzab di atas jelas mengindikasikan bahwa Sayidah fatimah az-Zahra tidak menyukai (benci) kehamilannya dan tidak suka atas kelahiran Imam Husein as. seperti dikomentari oleh Husein al-Musawi al-Kadzab.

# Coba kita perhatikan bagaimna Husein al-Musawi mengubah ayat “HAMALATHU UMMUHU KURHAN” (حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً ) yang berarti “IBUNYA MENGANDUNGNYA DENGAN SUSAH PAYAH/KESULITAN” menjadi kalimat “HAMALATHU KURHAN” حَمَلَتْهُ كُرْهاً ً (dengan menghapus kalimat “UMMUHU”) YANG diartikan “MAKA DIA MENGANDUNGNYA DENGAN PERASAAN TIDAK SUKA.”

Dan kalimat “WA WADHA’ATHU KURHAN” (وَ وَضَعَتْهُ كُرْهاً ) diartikan “DAN MELAHIRKANNYA DENGAN PERASAAN TIDAK SUKA”, padahal semestinya diartikan “DAN MELAHIRKANNYA DENGAN SUSAH PAYAH/KESULITAN”.

# Ketahuliah wahai saudaraku sekalian, Husein al-Musawi al-Kadzab telah memanipulasi dengan memotong ayat al-Quran yang terdapat pada hadits tersebut. Lengkapnya hadits tersebut adalah memuat Q.S. al-Ahqaf : 15 sbb :

حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَ وَضَعَتْهُ كُرْهاً وَ حَمْلُهُ وَ فِصالُهُ ثَلاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَ بَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَ عَلى والِدَيَّ وَ أَنْ أَعْمَلَ صالِحاً تَرْضاهُ وَ أَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي

“(firman Allah): “IBUNYA MENGANDUNGNYA DENGAN SUSAH PAYAH, DAN MELAHIRKANNYA DENGAN SUSAH PAYAH PULA. Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun dia berdoa : ya, tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat engkau yang telah engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang soleh yang engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi) kebaikan kepada anak cucuku. (Q.S. Al-Ahqaf : 15).

Jadi, Kesimpulannya : “TIDAK ADA DISEBUTKAN DI DALAM HADITS ITU BAHWA FATIMAH as MENGANDUNG DAN MELAHIRKAN HUSEIN as DALAM KEADAAN TIDAK SUKA”. HANYA SAJA AYAT AL-QURAN SURAT AL-AHQAF : 15 ITU YANG DIMANIPULASI OLEH HUSEIN AL-MUSAWI AL-KADZAB.”

Kemudian bukannya Fatimah yang tidak mau menyusui Husain as, melainkan Husain as memang tidak menyusu kepada siapapun sampai Rasulullah saaw datang dan memasukkan jarinya untuk memnuhi kebutuhan Husain as. Tentang hal ini, banyak terdapat hadits dan riwayat-riwayat sejarah mengenainya. Apakah Husein al-Musawi tidak tahu, atau hanya kura-kura dalam perahu, alias pura-pura tidak tahu? Ambillah pelajaran wahai orang-orang yang berpikir…! Wallahu a’lam.

Bedah buku “MENGAPA SAYA KELUAR DARI SYIAH” Karya Husain al-Musawi..yg diterbitkan oleh Pustaka al-Kautsar

BEDAH BUKU 5 : MENGAPA SAYA KELUAR DARI SYIAH? TENTANG ABDULLAH BIN SABA’

BEDAH BUKU 4 :MENGAPA SAYA KELUAR DARI SYIAH?

TENTANG ABDULLAH BIN SABA’

KESALAHAN KESIMPULAN TENTANG ABDULLAH BIN SABA’

Salah satu sebab terjadinya kesalahan berpikir adalah terlalu cepat mengambil kesimpulan saat belum memahami sebuah persoalan secara utuh. Banyak orang bisa membaca berita, tetapi sedikit yang bisa menafsirkan dan menganalisis berita.

Pembahasan tentang Abdullah bin saba’ bisa dinilai dari dua hal yaitu keberadaan Abdullah bin Saba’ dan pendapat para ulama syiah tentang sosok Abdullah bin Saba’.

1. Keberadaan Abdullah bin Saba’

Para ulama dan ilmuwan muslim baik dari sunni maupun syiah berbeda pendapat tentang keberadaan sosok Abdullah bin Saba’. Sebagian menganggapnya ada dan sebagian lagi menganggapnya sosok dongeng dan fiktif.

Keberadaan Abdullah bin Saba’ disebutkan baik oleh buku2 syiah maupun buku2 sunni. Jika ditelusuri sumber buku2 syiah ttg Abdulah bin Saba’ terdapat pada karya An-Naubakhti, Firaq al-Syiah dan al-Asyari al-Qumi, al-Maqqalat wal Firaq. Dan setelah kita periksa maka ternyata karya an-Naubakhti dan al-Qummi ini tidak menyebutkan sanadnya dan sumber pengambilannya…shg dianggap bahwa mereka hanya menuliskan cerita populer tersebut yg beredar dikalangan sunni.

Adapun yg pertama melakukan studi ilmiah dan istematis ttg Abdullah bin Saba’ adalah Sayid Murtadha al-Askari. Dan dari hasil penelususrannya tersebut, ia menganggap bahwa cerita ttg Abdullah bin Saba’ adalah fiktif. Sehingga, ia menolak keberadaan Abdullah bin saba’.

Adapun dari sunni yang menegaskan bahwa Ibnu Saba’ adalah fiktif dan dongeng adalah Thaha Husain dalam bukunya Fitnah al-Kubra dan Ali wa Banuhu, Dr. Hamid Hafna Daud dalam kitabnya Nadzharat fi al-Kitab al-Khalidah, Muhammad Imarah dalam kitab Tiyarat al-Fikr al-Islami, Hasan Farhan al-Maliki dalam Nahu Inqadzu al-Tarikh al-Islami, Abdul Aziz al-Halabi dlm kitabnya Abdullah bin Saba’, Ahmad Abbas Shalih dalam kitabnya al-Yamin wa al-Yasar fil Islami.

2. Pendapat para ulama Syiah tentang Abdullah bin Saba’

Para ulama syiah dari dulu hingga sekarang tidak menganggap Abdullah bin Saba’ sebagai tokoh syiah dan sahabat Imam Ali dan Imam-imam lainnya. Bahkan seluruh ulama syiah mengecam dan melaknat serta berlepas diri (tabarri) dari pendapat dan diri Abdullah bin Saba’. Bahkan buku-buku dan pendapat-pendapat yang dikutip oleh Husain al-Musawi dalam bukunya ini sudah cukup memnunjukkan sikap para Imam syiah dan ulama syiah tentang Abdullah bin saba’.

Dengan dua catatan di atas, maka jelaslah persoalan Ibnu Saba’ yang tidak kaitannya dengan mazhab syiah. Mungkinkah org ditolak keberadaanya atau yang dihina dan dikafirkan oleh seluruh imam2 syiah dan ulama-ulama syiah dijadikan tokoh panutan dalam syiah..??? sungguh kesimpulan yang gegabah dan tentu saja salah kaprah. …

Pada halaman 12, Husain al-Musawi menulis :
> “Abdullah bin Saba’adalah salah satu sebab, bahkan sebab yang paling utama kebencian sebagian besar orang syiah kepada ahlus sunnah.

# Darimana sumber kesimpulan Husain al-Musawi ini muncul..??? Sumber satu2nya adalah imajinasinya yang tak pernah kering. Coba perhatikan, Husain al-Musawi berusaha mempropokasi pembacanya. Pertanyaan kita apa hubungan antara Abdullah bin Saba’ dan kebencian kepada ahlu sunnah. Padahal kalau kita perhatikan seluruh buku2 syiah dan juga buku2 sunni dari yang besar sampai yang kecil tidak ada satupun yang memuji Abdulah bin Saba’. Semua buku itu mencela dan menyatakan kesesatan dan kekafiran Abdulah bin Saba’. Jadi sunni dan syiah sepakat akan kekafiran Abdulah bin Saba’. Seharusnya kesimpulan yang rasional dari hal itu adalah bahwa ahlussunnah dan syiah sama2 membenci Abdullah bin Saba’. Coba perhatikan enam kutipan kitab syiah yang ditulisnya dari mulai halaman 12 sampai halaman 15, bukankah semua isinya menghujat Abdullah bin Saba’..???

Seharusnya, jika dia menyatakan bahwa syiah adalah pengikut Ibnu Saba’, maka dia harus menyebutkan hadits2 syiah yg memuji Ibnu Saba’..??? tapi sayang dia takkan menemukannya….wallahu a’lam

bersambung…

Bedah buku “MENGAPA SAYA KELUAR DARI SYIAH” Karya Husain al-Musawi..yg diterbitkan oleh Pustaka al-Kautsar