GENNEKA TUNGGAL IKA

Oleh : Candiki Repantu

20190429_214557-COLLAGE

Genneka Tunggal Ika, Aneka gen, satu Indonesia”, begitu semboyan yang dilontarkan oleh dr. Herawati Sudoyo, MS. Ph.D pakar genetika dari Eikjman Institut. Semboyan ini disampaikan beliau berdasarkan pada penelusuran dan penelitian beliau tentang “Asal Usul Genetik Manusia Indonesia”, yang mana ditemukan bahwa seorang pribadi warga Indonesia yang dianggap pribumi pada dasarnya di dalam dirinya memiliki campuran beragam genetika dari berbagai belahan dunia. Hal ini disampaikan oleh Dr. Herawati dalam Kongres Kebudayaan di Jakarta, beberapa bulan yang lalu.

Kemarin, 27 April 2019, bertempat di Digital Library Universitas Negeri Medan (Digilib UNIMED) dengan data-data yang ada, dr. Herawati kembali memaparkan riset genetika atas Manusia Indonesia. Dari mana nenek moyang kita berasal? Apakah nenek moyang kita seorang pelaut? Apakah nenek moyang kita murni dari daratan Jawa, Sumatera, Sulawesi, Maluku, atau Irian Jaya?

FB_IMG_1556548521566Foto : dr. Herawati Sudoyo, Dr. Ketut, dan Dr. Fauziah dalam  Seminar Nasional “Asal Usul Genetika Nenek Moyang Bangsa Indonesia” di Digilib UNIMED.

Tes DNA menunjukkan manusia Indonesia selalu bergerak, puluhan ribu tahun saling silang kontak, kawin mawin, saling ambil, saling pengaruh, budaya dan asal usul darahnya. Menariknya, dr. Herawati Sudoyo menjadikan dirinya sebagai salah satu sosok pribadi yang diuji coba dalam laboratorium. Apa hasilnya?

Dr. Herawati Sudoyo M.S. Ph.D dilahirkan dari ayah bersuku Jawa kelahiran Mojokerto. Tes DNA pada dirinya bercerita sebagai berikut :

Wahai dr. Herawati, secara komposisisi, kromoson anda sekitar 95 % berasal dari Asia Tenggara, 2 % dari Asia Barat dan 3 % dari Cina. Hasil deteksi mengungkapkan unsur Cina masuk ke dalam diri anda sekitar tahun 1800 dalam tubuh moyang anda. DNA anda juga mengabarkan bahwa dari garis ibu anda, dapat ditelusuri ternyata moyang anda adalah seorang perempuan yang hidup di Afrika sekitar seratus lima puluh ribu tahun lalu….”

Itulah kisah orang Jawa yang bernama dr. Herawati Sudoyo. Lalu bagaimana kisah orang Sumatera? Tentang orang Batak Toba, Karo, Nias, Melayu, Minangkabau dan lainnya?

Penelusuran Genetika pada ragam etnik ini di luar Gen Austronesia yang dominan, berasal dari India (Dravidan). Wow..kuche kuche hota hai dong. Nias bahkan tidak sama dengan gen manapun di Sumatera. Lalu berasal dari manakah? Menurut tes DNA ada kesamaan dengan DNA Formosa atau Taiwan nun jauh di sana. Begitu pula dengan orang Mentawai punya DNA Formosa tersebut.

Disiplin ilmu Genetika yang sekarang sedang dikembangkan, menurut sejarawan yang juga ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial (PUSSIS) UNIMED, Dr. Phil. Ichwan Azhari, merupakan bagian penting untuk melakukan rekonstruksi sejarah ke depannya. Temuan kalangan ahli genetika ini tinggal menunggu waktu menggusur teori lama dalam pembelajaran sejarah. Guru-guru sejarah, perlu merevitalisasi pengetahuannya tentang asal usul keragaman bangsa Indonesia pada generasi yang katanya masuk revolusi industri 4.0.

Tidak hanya tes DNA, kajian budaya dan temuan arkeologi belakangan juga mendukung teori genetika ini, dan secara perlahan tapi pasti menggugurkan teori migrasi manusia Indonesia sebelumnya yang telah kadaluarsa seperti teori Deutro dan Proto Melayu yang berujung pada 4000 tahun yang lalu. Meskipun tentu teori ini masih bersemayam di buku-buku pelajaran sejarah dan memori para pembelajarnya. Perlu waktu untuk mengikisnya.

Beberapa waktu yang lalu, Balai Arkeologi Medan misalnya, menemukan kerangka Manusia Stabat yang berusia lebih 6000 tahun. Begitu pula, di Sumatera Selatan di dalam Gua Harimau ditemukan kerangka yang berusia sekitar 10.000 tahun. Dan di Sulawesi, dalam Gua batu ditemukan sederet lukisan yang berusia 40.000 tahun. Adapun analisa genetika yang ada saat ini mengabarkan kepada kita bahwa manusia Indonesia telah ada menghuni kawasan ini sekitar 60.000-70.000 tahun yang lalu.

Berbagai data ini, menunjukkan pada kita bahwa konsep pribumi dan non pribumi menjadi basi. Sebab keragaman gen dalam diri manusia yang dianggap pribumi di Indonesia ternyata tidak murni. Semua menunjukkan keanekaan pada pribadi seseorang, baik asal usul nasab dan juga konsep budayanya. Tentu kita semua ingat pantun di Tanjung Balai :

Bukan kapak sebarang kapak
Ini kapak pembelah kayu
Bukan Batak sebarang Batak
Ini Batak jadi Melayu

Karena itu ke depannya, para pengkaji sejarah mau tidak mau harus mensinergikan metodologi sejarah yang ada dengan riset genetika. Jika selama ini untuk menguji kertas, tinta, tulisan, nisan kuburan, bebatuan, tanah, fosil, dan lain-lain bahan sejarah, kita telah memanfaatkan ilmu arkeologi, antropologi, geologi, fisika dan kimia, maka kini untuk menguji manusianya juga kita bisa menggunakan bantuan riset-riset genetika. Sehingga suatu fosil atau profil diri manusia, bisa dilacak silsilahnya bahkan sampai pada tahun percampuran gennya.

Begitu pula, jika biasanya dalam analisa  antropologi, di tanah Batak ada tarombonya (silsilah nasab) untuk menjelaskan asal usul bangso Batak. Maka dalam tradisi Arab-Islam, ada juga pencatatan nasab, terutama di kalangan para keturunan Arab Bani Hasyim (suku Nabi Muhammad Saw) atau yang lebih dikenal dengan sebutan sayid atau habib. Mungkin anda pernah dengar misalnya nama Habib Rizik Shihab yang populer seantero jagad itu. Ada lembaga khusus berkelas dunia, dan juga di Indonesia yang melakukan pencatatan nasab para habib ini.

Begitu pula, dalam tradisi orang Pariaman di Minangkabau, ada gelar-gelar khusus yang diberikan, salah satunya adalah gelar Sidi (kemungkinan asal katanya dari Sayyidi) bagi laki-laki dan Siti (kemungkinan asal katanya dari Sayyidati) bagi perempuan. Konon katanya, gelar ini adalah gelar khusus untuk keturunan atau yang memiliki nasab orang-orang khusus. Hanya ayahnya yang Sidi, yang bisa menurunkan nasab Sidi atau Siti ke anaknya. Selainya tidak bisa menurunkan nasab tersebut. Ada yang menyebut bahwa Sidi dan Siti itu sebagai keturunan ulama, tapi ada anggapan yang kuat bahwa Sidi dan Siti adalah gelar untuk keturunan Bani Hasyim di tanah Pariaman, atau habib dalam istilah orang di tanah Jawa. Kalau ditanya catatan silsilah nasabnya, mereka tidak memilikinya. Tapi tradisi itu mereka terima secara turun temurun tanpa keraguan.

 

IMG_20190406_195452Foto : Penulis (kopiah hijau) bersama Sayid Nasser al-Habsyi (lobe putih) dan Sidi Muhammad Ridwansyah (kopiah hitam) ketika berziarah ke makam Syaikh Burhanuddin di Ulakan, Kota Pariaman.

Dan kini dengan riset genetika kita bisa membantu menguji nasab orang Pariaman tersebut. Tes DNA akan mengabarkan kepada kita jati diri Sidi dan Siti tersebut. Samakah dengan para Habib tanah Jawa yang berasal dari Yaman tersebut atau dari Persia, India, atau belahan dunia lainnya. Jadi, kita dapat melacak sejauh mana “kemurnian” nasab orang Minang, orang Batak, dan termasuk para habib-habib yang ada serta juga melacak jejak percampurannya. Karena itu jangan heran kalau kita lihat secara kasat mata, tidak semua yang mengaku Sayid atau habib berwajah ke-Arab-araban, berhidung mancung, atau berkulit putih. Begitu pula tidak lantas orang Batak berwatak keras seolah tanpa kelembutan dan senyuman. Sekarang masing-masing kita akan bertanya, Siapa saya? Apakah saya orang Jawa, Batak, Melayu, Cina, India, Arab atau lain-lainya? Jawabnya, “Genneka Tunggal Ika, Aneka Gen, Satu Indonesia”.

SYIAH DI INDONESIA

Oleh : PP IJABI

“Tahun 2016, Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama melaksanakan penelitian tentang perkembangan gerakan Syi’ah di Indonesia.

Penelitian dilakukan di Jakarta, Banten (Kota Tangerang), Jawa Barat (Kota Cirebon, Kota Bogor, Kabupaten Garut, Kota Tasikmalaya), Jawa Timur (Kota Surabaya, Kota Malang , Bondowoso, Jember), Jawa Tengah (Kota Semarang , Kabupaten Banyumas, Jepara, Kabupaten Tegal, Kota Pekalongan), Makassar, Palu dan Medan.

Hasil penelitian tersebut telah diseminarkan pada tanggal 14 Desember 2016 di Hotel Millenium Sirih, Jakarta, dan diterbitkan dalam sebuah buku berjudul “Dinamika Syiah di Indonesia” (2017).

​Penelitian tersebut adalah penelitian kualitatif, bentuknya studi kasus untuk mendalami, menjelaskan dan mendeskripsikan eksistensi Syiah berkaitan dengan sejarah, kegiatan, lembaga yang dimiliki, struktur organisasi dan sebarannya, serta peran pemerintah daerah.

Dalam pengantar buku “Dinamika Syiah di Indonesia” tersebut, Prof. Abd. Rahman Mas’ud, Ph.D (Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI) menyatakan:

Dalam konteks Indonesia, perkembangan dan diaspora penganut mazhab Syiah ini tidak dapat dimungkiri telah mengkonstruksi dan menghiasi kehidupan sosial-keagaman di Indonesia. Sehingga, sangat sulit untuk mengatakan bahwa tradisi Islam di Indonesia tidak dipengaruhi oleh tradisi Syiah. Bahkan tradisi dan ritual tersebut diterima dengan baik oleh umat Islam Indonesia yang mayoritas Sunni seperti halnya tradisi perayaan Asyura di Indonesia. Tradisi semacam ini dipraktikan pula oleh warga nahdliyin yang nota bene pengikut mazhab Sunni. Selain itu, Sunni-Syiah sukses mengislamkan nusantara dan membangun masyarakat dengan nilai Islam yang rahmatan lil’alamin. Ini menunjukkan suksesnya koeksistensi Sunni-Syiah di Indonesia.

Berdasarkan realitas itulah, Gus Dur pernah menyatakan bahwa NU adalah Syiah tanpa imamah. Ungkapan Gus Dur tentu saja tidak berlebihan sebab Sunni dan Syiah tidak berbeda kecuali dalam hal imamah. Gus Dur sangat memahami begitu tipisnya perbedaan NU dan Syiah dikarenakan kesamaan dalam meyakini Allah, al-Quran, nabi, kiblat, shalat, haji, dan seterusnya.

Faktanya, buku hasil penelitian ini berhasil memotret dengan baik bahwa relasi komunitas Syiah dengan komunitas lainnya (Sunni) berlangsung sangat baik di seluruh wilayah penelitian, terkecuali di Makassar dan Bondowoso dengan adanya sedikit ketegangan di sana. Dengan demikian, dari hasil penelitian ini diharapkan muncul kesadaran umat Islam untuk menghormati dan melindungi saudara sesama Muslim yang berbeda mazhab sebagaimana dijamin UUD 1945.

Picture

​Secara keseluruhan, data penelitian membuktikan bahwa semua tudingan/tuduhan terhadap Syiah terjadi akibat kesalahpahaman, perbuatan bohong karena kebencian, ketidakpahaman atau kurang membaca tulisan terkait Syiah dari sumber-sumber  utama yang diakui di kalangan Syiah.  Sebagian tuduhan juga muncul karena ketidakmampuan membedakan mana ajaran Syiah dan mana perilaku sebagian penganut Syiah yang tidak merepresentasikan ajaran Syiah secara umum (seperti yang dilakukan sekelompok orang yang disebut Syiah Takfiri atau Syiah Sempalan).

Terkait berbagai tuduhan terhadap Syiah, semua tuduhan tersebut adalah framing dan propaganda anti Syi’ah untuk mendelegitimasi Syiah. Tuduhan negatif terhadap Syiah adalah tidak relevan. Generalisasi Syiah sebagai Rafidhah jelas tidak sesuai realitas dan fakta yang sesungguhnya. Semua tuduhan yang terus diproduksi dan disebarkan (oleh kelompok anti-Syiah) telah mendapat klarifikasi dan bantahan tegas dari kalangan Syiah.

Berbagai bentuk framing dalam aktivisme anti-Syiah dapat dikelompokkan ke dalam tiga aspek: religius, sosial, dan politik. Inti framing anti-Syiah adalah bahwa: pertama, Syi’isme adalah aliran sesat dan menyesatkan; kedua, karena Indonesia dianggap sebagai bumi Sunni, kehadiran Syiah menjadi sumber konflik; ketiga, Syiah merupakan ancaman terhadap NKRI. Berbagai bentuk framing tersebut TIDAK terbukti dalam realitas di lapangan.

Hasil penelitian tersebut mengungkap beberapa temuan yang kemudian dirumuskan menjadi kesimpulan dan rekomendasi hasil penelitian. Temuan lapangan tersebut (sekali lagi) membuktikan tidak benarnya berbagai tuduhan dan membantah berbagai tudingan yang dialamatkan kepada Syiah selama ini oleh kalangan anti-Syiah.

Tuduhan bahwa Syiah berbahaya bagi Sunni dan NKRI tidaklah relevan dan justru terbukti sebaliknya. IJABI menegaskan komitmen kebangsaannya seperti tertuang dalam Deklarasi Pancasila (baca: https://www.majulah-ijabi.org/ijabikita/deklarasi-pancasila-ijabi). Pernyataan resmi yang ditunjukkan oleh IJABI dan ABI membuktikan kuatnya komitmen keislaman dan kebangsaan Muslim Syiah di Indonesia. “Melalui kedua organisasi tersebut, komunitas Syiah memproyeksikan dirinya sebagai bagian dari masyarakat Muslim dan sekaligus warga bangsa Indonesia dan NKRI dan berperan aktif dalam membangun masyarakat dan menjaga keutuhan NKRI”, demikian kesimpulan Prof. Dr. Zulkifli, MA dalam Prolog buku tersebut di atas.

Dalam hal relasi komunitas Syiah dengan Sunni, di seluruh daerah umumnya berjalan baik, bahkan  beberapa daerah tertentu terdapat kerjasama dan saling membantu dalam kegiatan. Dalam kehidupan sehari-hari, antara umat Muslim Syiah dan Sunni tetap berjalan dalam batas kewajaran, bahkan para pengikut Syiah seringkali melakukan shalat berjamaah bersama kaum Sunni. Penganut Syiah dapat hidup rukun di berbagai daerah karena pengikut Syiah sangat membaur dengan masyarakat Sunni. Bahkan komunitas Syiah tidak membangun masjid sendiri, dan memilih berbaur dengan masjid masyarakat sekitarnya.

Komunitas maupun warga pengikut Syiah harus terus menjaga dan meningkatkan hubungan baik dengan masyarakat sekitar dan elemen masyarakat lain serta menjauhkan sikap-sikap eksklusif yang akan berdampak pada terjadinya gap dan prasangka terhadap keberadaan mereka di lingkungan masyarakat.

Sesungguhnya keberadaan komunitas Syiah tidak dirasakan sebagai gangguan bagi umat lain. Masyarakat sekitar pun tidak ada yang merasa terganggu dengan keberadaan kelompok Syiah itu. Justru setelah terbit surat edaran dari pemerintah lokal (seperti misalnya Surat Edaran Walikota Bogor tentang pelarangan peringatan Asyura) telah menyebabkan pro-kontra yang berujung terjadinya disharmoni di dalam masyarakat.

Relasi pemerintah dengan komunitas Syiah juga cukup baik di berbagai daerah. Sedangkan daerah yang relasinya masih kurang baik umumnya karena belum (atau kurangnya) silaturrahim. Oleh karena itu, komunikasi dan silaturrahim harus dibangun. Pada berbagai event yang diadakan komunitas Syiah, juga turut dihadiri unsur pemerintah dan tokoh Sunni.

Kekerasan yang terjadi terhadap komunitas Muslim Syiah adalah salah alamat. Seluruhnya berangkat dari kesalahpahaman, generalisasi yang tidak tepat, dan mengeneralisir semua Syiah dalam satu sebutan. Apalagi objek penyesatan Syiah itu dijelaskan kalangan anti Syiah, yang secara ilmiah tidak berhak.

Terlepas dari aktivisme anti-Syiah yang digerakkan oleh kelompok kecil tersebut di atas dan proses saling pengakuan masih menjadi dambaan, sesungguhnya relasi Sunni Syiah di Indonesia secara umum berlangsung harmonis. Demikian temuan penting penelitian yang tertuang dalam buku tersebut.

Selain temuan dan kesimpulan tersebut, penelitian juga merekomendasikan beberapa hal, antara lain:

  • Kalangan anti Syiah sebaiknya berhenti menjelaskan tentang mazhab Syiah karena penjelasan mereka tidak sesuai dengan mainstream yang dianut Syiah di Indonesia, bahkan menimbulkan ketidakjelasan, dan menjerumuskan umat Islam untuk membenci Syiah dan menimbulkan konflik dengan Syiah. Kalangan anti Syiah sebaiknya berhenti melakukan propaganda dan menggantinya dengan melakukan tabayun dan klarifikasi kepada akademisi Syiah agar tidak terjadi prasangka dan umat tidak menjadi korban.
  • Menggambarkan pandangan dan sikap keagamaan Syiah harus merujuk kepada penganut Syiah sendiri terutama melalui pemimpin dan ulamanya yang otoritatif atau melalui organisasi resminya, yakni IJABI dan ABI. Memahami dan menerima pandangan dan sikap tersebut harus dengan sikap terbuka dan jujur sehingga dapat melahirkan dialog dan kerja sama. Kecurigaan dengan alasan Syiah bertaqiyah sebagaimana terjadi pada aktivis anti-Syiah telah menutup peluang untuk memahami dan menerima eksistensi Syiah secara jujur dan terbuka tetapi menganggapnya sebagai ancaman yang menakutkan.
  • Ada beberapa paham dalam Syiah yang berbeda dengan Sunni. Namun, walaupun   berbeda, para ulama masih menganggap bahwa Syiah adalah bagian dari Islam.
  • Komunitas Sunni Syiah itu bersaudara. Biarkanlah umat Islam memilih mazhab yang disukai, tidak jamannya memaksakan kehendak. Apalagi ada jaminan konstitusi. Indonesia telah membangun teologi kerukunan, mempunyai Bhinneka Tunggal Ika, dan berbagai kesepakatan internasional tentang persaudaraan Sunni Syiah.
  • Hendaknya kalangan non Syiah (MUI dan anti Syiah) dapat melakukan dialog, saling klarifikasi, tentang berbagai kesalahpahaman yang terjadi selama ini. Seyogyanya MUI memelopori pendekatan mazhab dan dialog untuk saling berklarifikasi berkaitan kesalahpahaman yang sudah lama terjadi dan belum ada penjelasan obyektif. Dialog Sunni-Syiah perlu dilakukan dalam dimensi akademik, serta kampanye damai antar mazhab dan aliran.
  • Umat Islam harus mulai memahami mengapa Sunni dan Syiah dibenturkan di seluruh dunia, yang berakibat kehancuran negara-negara tersebut. Sebab faktanya umat Islam umumnya gagal melihat fenomena dan rekayasa global agar umat Islam sibuk urusan domestiknya dan tidak memikirkan kemajuannya sebagai bangsa.
  • Umat Islam harus paham betapa kapitalisme internasional dan zionisme sangat senang dengan konflik-konflik sektarian di kalangan umat Islam (Sunni dan Syiah) dan kehancuran negara-negara mayoritas muslim, seperti Irak, Suriah, Libya, Yaman, Afghanistan, dan lain-lain.
  • Pejabat pemerintah, tokoh agama, dan ormas keagamaan hendaknya mulai membuka diri dengan melakukan dialog dan diskusi yang melibatkan orang-orang Syiah, agar mereka saling mengenal dan saling memahami. Pemerintah perlu memfasilitasi dialog di antara dua kelompok yang masih berseberangan, dialog yang berusaha untuk saling memahami bukan dialog yang bersifat debat kusir.
  • Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Agama, sebaiknya mendorong upaya dialog Syiah dan Sunni dengan tetap mengedepankan sikap santun dan semangat persaudaraan antar sesama umat Islam, serta tidak mengklaim kebenaran individu dengan menafikan pendapat kelompok lain.
  • Pemerintah daerah sebaiknya lebih berhati-hati dalam mengeluarkan kebijakan dan peraturan terkait keagamaan mengingat dampak dan potensinya terhadap harmoni dan kerukunan yang telah terjalin baik di masyarakat.
  • Para tokoh agama dan ormas Islam dalam melakukan dakwah agar tidak memunculkan provokasi kepada pihak yang berbeda paham, agar suasana rukun dan damai yang sudah terbangun dapat lebih ditingkatkan. Pendekatan musyawarah dan dialog sebaiknya lebih dikedepankan dalam setiap penyelesaian masalah-masalah keagamaan dibanding dengan pendekatan mobilisasi massa yang berpotensi terjadinya kekerasan.
  • Selain integrasi dalam bentuk ritual dan tradisi kesalehan ‘Alawi, terjadi dialog dan kerja sama antara kelompok Syiah dan Sunni yang tergabung dalam organisasi Islam seperti NU, Muhamadiyah, dan Al-Washliyah. Demikian juga dialog dan kerja sama terjalin antara lembaga-lembaga pendikan Islam Syiah dan Sunni. Pemerintah dan ulama dituntut untuk berperan aktif dalam memfasilitasi dan memastikan berlangsungnya dialog dan kerja sama tersebut. Interaksi yang harmonis tersebut menggambarkan wajah ramah Islam Nusantara yang moderat dan menjunjung tinggi prinsip Rahmatan lil Alamin.

*) Resume ini dibuat oleh PP IJABI dengan merujuk pada (dan bersumber dari) :

  1. Presentasi dan Makalah Seminar “Penelitian Gerakan Syiah di Indonesia”, oleh Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, di Hotel Millenium Sirih, Jakarta pada tanggal 14 Desember 2016.
  2. Buku “Dinamika Syiah di Indonesia”, Editor Ubaidillah. Tim Penulis: Wakhid Sugiyarto, dkk. Diterbitkan oleh Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan, tahun 2017 .

*Sumber : https://www.majulah-ijabi.org/khazanah/syiah-di-indonesia

MENGENAL DAN MEWASPADAI PENYMPANGAN BUKU PANDUAN MUI TENTANG SYIAH (BAG 6)

MENGENAL DAN MEWASPADAI

PENYIMPANGAN BUKU PANDUAN TENTANG SYIAH (BAG 6)

(Bedah Buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia”)

Oleh : Candiki Repantu 

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad

2. Allamah al-Majlisi

Ulama kedua yang dinyatakan meyakini tahrif Alquran oleh Buku Panduan tersebut adalah Syaikh Muhammad Baqir al-Majlisi pengarang buku Miratul Uqul. Buku Panduan ini menyebutkan :

  • Al-Majlisi mengatakan dalam kitab Mir’atul Uqul Syarh al-Kafi, menyatakan bahwa Alquran telah mengalami pengurangan dan perubahan.” (hal. 25).

Anggapan tersebut dinisbatkan berdasarkan pada pernyataan Allamah Al-Majlisi dalam Kitab Mir’atul Uqul fi Syarh Akhbar Aali al-Rasul juz 12/525. Perlu diketahui kitab ini adalah adalah kitab yang mengomentari kitab Al-Kafi karya Syaikh al-Kulaini. Dan pada bagian yang disebutkan ini beliau sedang mensyarah hadis al-kafi yang menyebutkan tentang diturunkan Alquran dari Jibril sebanyak 17.000 ayat.

Di sini, ternyata Buku Panduan ini mengarahkan perhatiannya hanya pada bagian awal tulisan Al-Majlisi dan memotong paragraf berikutnya. Berikut paragraf pertama dari tulisan Al-Majlisi :

الحديث الثامن و العشرون : موثق. و في بعض النسخ عن هشام بن سالم موضع هارون بن مسلم، فالخبر صحيح و لا يخفى أن هذا الخبر و كثير من الأخبار الصحيحة صريحة في نقص القرآن و تغييره، و عندي أن الأخبار في هذا الباب متواترة معنى

“Hadis ke 28. “hadis muwatsaq”. Disebagian salinan, Hisyam bin Salim, ditulis Harun bin Muslim. Riwayat shahih, dan tidaklah tersembunyi bahwa riwayat ini dan banyak riwayat-riwayat yang sahih lagi jelas tentang pengurangan Alquran dan perubahannya. Menurutku, riwayat-riwayat dalam bab ini bersifat mutawatir makna…”

Berdasarkan pernyataan inilah, Buku Panduan tersebut mengklain bahwa Al-Majlisi percaya tahrif. Namun bagaimana sebenarnya sikap Al-Majlisi terhadap riwayat-riwayat tersebut? Menurut Al-Majlisi hal itu tidak bisa dijadikan dalil meyakini tahrif Alquran. Beliau menegaskan hal itu pada paragraf berikutnya :

 لأنه إذا ثبت تحريفه ففي كل آية يحتمل ذلك و تجويزهم عليهم السلام على قراءة هذا القرآن و العمل به متواتر معلوم إذ لم ينقل من أحد من الأصحاب أن أحدا من أئمتنا أعطاه قرانا أو علمه قراءة، و هذا ظاهر لمن تتبع الأخبار، و لعمري كيف يجترئون على التكلفات الركيكة في تلك الأخبار

Perhatikan bagaimana Al-Majlisi menegaskan bahwa : “…KARENA, JIKA KITA MENETAPKAN TAHRIF ALQURAN, MAKA HAL ITU BISA TERJADI PADA SELURUH AYATNYA, SEMENTARA SECARA MUTAWATIR PARA IMAM AHLUL BAIT MEMBOLEHKAN MEMBACA ALQURAN INI DAN BERAMAL DENGANNYA. DAN TIDAK SEORANGPUN YANG MENUKIL BAHWASANYA SALAH SEORANG IMAM MEMBERIKAN ALQURAN ATAU MENGAJARKAN BACAAN YANG BERBEDA, INILAH YANG NYATA BAGI ORANG YANG MENGKUTI RIWAYAT-RIWAYAT TERSEBUT. DAN DEMI HIDUPKU, BAGAIMANA MEREKA BERANI MEMBERLAKUKAN PERKARA INI PADA RIWAYAT-RIWAYAT TERSEBUT…” (Mir’atul Uqul juz 12/525).

Jadi, Buku Paduan MUI merekayasa data dengan mengutip sepotong tulisan al-Majlisi dan membuang lainnya.

3. Alqummi

Buku Panduan ini juga menyebutkan Alqummi sebagai salah seorang ulama yang meyakini tahrif Alquran sebagai berikut :

  • Al-Qummi, tokoh mufassir syiah, menegaskan dalam muqaddimah tafsirnya bahwa ayat-ayat Alquran ada yang diubah sehingga tidak sesuai dengan ayat aslinya seperti ketika diturunkan oleh Allah. (hal. 26)

Pernyataan Buku Panduan ini berdasarkan pada Muqaddimah Tafsir Alqummi juz 1 hal. 5-11. Perlu diketahui, sebelumnya (pada catatan bedah buku bagian-5) sudah saya jelaskan bahwa menurut ulama syiah, nuzul Alquran (turunnya Alquran) terdiri dari dua hal, yakni teks dan makna Alquran yang disertai tafsir, takwil, hukum, rahasia, dan ilmu-ilmu lainnya. Karenanya, Nabi saaw adalah penafsir pertama Alquran yang menyampaikan teks sekaligus maknanya. Inilah hakikat nuzul Alquran yang mana Allah swt yang menurunkannya, membacakannya, mengumpulkannya, dan menjelaskan maksudnya (Q.S. al-Qiyamah: 16-19). Jadi, Muqaddimah Tafsir Al-Qummi juga sedang menjelaskan hal-hal tersebut. Berikut ini pernyataan Alqummi dalam tafsirnya tersebut—{saya tidak menuliskan semuanya karena terlalu panjang, tetapi dipilih sesuai maksud yang dituju oleh Buku Panduan tersebut}—sebagai berikut :

فالقرآن منه ناسخ، ومنه منسوخ، ومنه محكم، ومنه متشابه، ومنه عام،  ومنه خاص، ومنه تقديم، ومنه تأخير، ومنه منقطع، ومنه معطوف، ومنه حرف مكان حرف، ومنه على خلاف ما انزل الله ، ومنه ما لفظه عام ومعناه خاص،  ومنه ما لفظه خاص ومعناه عام، ومنه آيات بعضها في سورة وتمامها في سورة اخرى ومنه ما تأويله في تنزيله ومنه ما تاويله مع تنزيله، ومنه ما تأويله قبل تنزيله، ومنه تأويله بعد تنزيله

واما ما هو كان على خلاف ما انزل الله فهو قوله ” كنتم خير امة اخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون بالله ” فقال ابوعبدالله (عليه السلام) لقاري هذه الآية ” خير امة ” يقتلون امير المؤمنين والحسن والحسين بن علي

فقيل له وكيف نزلت يابن رسول الله؟ فقال انما نزلت ” كنتم خير ائمة اخرجت للناس ” الا ترى مدح الله لهم في آخر الآية ” تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون بالله “

“Alquran di dalamnya ada nasikh, mansukh, muhkam, mutasyabih, am, khas, taqdim, takhir, munqati’, ma’thuf, huruf diposisi huruf, dan sebagiannya berbeda dengan apa yang diturunkan Allah swt. Di dalamnya juga terdapat lafadz umum tetapi bermakna khusus, dan lafadz khusus bermakna umum, ayat-ayat yang sebagiannya di satu surat dan penyempurnaanya ada pada surah yang lain, terdapat ta’wilnya pada turunnya, bersamaan dengan turunnya, sebelum turunnya, dan sesudah turunnya…(Tafsir Alqummi, hal. 5)

Adapun tentang “sebagiannya berbeda dengan apa yang diturunkan Allah swt”, adalah seperti firman-Nya, “Kamu adalah sebaik-baik ummat yang dikeluarkan untuk manusia, yang memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar dan beriman kepada Allah” (Kuntum khairu ummah ukhrijat linnasi takmuruna bil ma’ruf wa tanhauna ‘anil munkar wa tu’minuna billah)” (Q.S. Ali Imran: 110). Maka berkata Abu Abdillah as kepada yang membaca ayat ini : “khairu ummah” (sebaik-baik ummat)apakah mereka juga yang membunuh Amirul Mukminin Ali, Hasan dan Husain? Maka ditanyakan, bagaimana ayat ini diturunkan wahai putra Rasulullah? Imam as menjawab,SESUNGGUHNYA IA DITURUNKAN ‘KUNTUM KHAIRU AIMMAH UKHRIJAT LINNASI” (kamu adalah sebaik-baik imam yang dikeluarkan untuk manusia).” PERHATIKANLAH BAGAIMANA ALLAH SWT MEMUJI MEREKA PADA BAGIAN AKHIR AYATNYA “..YANG MEMERINTAHKAN KEPADA YANG MA’RUF DAN MENCEGAH YANG MUNGKAR DAN BERIMAN KEPADA ALLAH.” (Tafsir Alqummi, hal. 10) 

Jadi, yang dimaksud dengan perkataan Imam Ja’far “diturunkan ayat ini” yaitu hakikat turunnya yang disertai takwil atau penjelasannya. Jadi itu bukan teks Alquran tetapi penjelasan maksud Alquran tersebut agar orang tidak salah memahaminya sebagaimana ditunjukkan dengan kritik Imam kepada pemaknaan umumnya, yaitu “Apakah mereka juga termasuk mengaku sebagai umat terbaik, padahal mereka membunuh Ali, Hasan dan Husain”?

Dengan demikian, yang dimaksud oleh Al-Qummi dengan pernytaan “tidak sesuai dengan apa yang diturunkan Allah” adalah hakikat turunnya yang disertai takwil dan rahasianya kepada Rasul saaw. Itulah yang dijelaskanya pada Muqaddimah Tafsir al-Qummi tersebut…(bersambung)