MENGENAL DAN MEWASPADAI PENYIMPANGAN BUKU PANDUAN TENTANG SYIAH (BAG 5)

MENGENAL DAN MEWASPADAI

PENYIMPANGAN BUKU PANDUAN TENTANG SYIAH (BAG 5)

(Bedah Buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia”)

Oleh : Candiki Repantu 

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad

BAB III : PENYIMPANGAN AJARAN SYIAH

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (QS. Al Hujurât [49];12)”

Kita telah membedan dua bab dari isi Buku Panduan ini, dan anda sudah menyaksikan bagaimana penyimpangannya. Maka kini masuklah kita pada inti buku ini, yaitu Bab III, tentang Penyimpangan Ajaran Syiah. Dalam bab ini ada lima penyimpangan yang diajukan oleh Buku Panduan terebut terhadap syiah yaitu :

  1. Penyimpangan Paham tentang Orisinalitas Alquran
  2. Penyimpangan Paham tentang Ahlul Bait Rasul saw dan Meengafirkan Sahabat Nabi
  3. Penyimpangan Paham Syiah Mengafirkan Umat Islam
  4. Penyimpangan Paham tentang Kedudukan Imam Syiah
  5. Penyimpangan Paham tentang Hukum Nikah Mut’ah

Kelima hal di atas diajukan Buku Panduan ini untuk menyesatkan syiah—atau mungkin mengkafirkannya. Sekarang marilah kita telusuri “Penyimpangan Buku Panduan ini Ketika Membahas Penyimpangan Syiah”. Pembahasan ini tidak lain untuk memperkuat kokohnya Ukhuwah Islamiyah Syiah-Sunni, agar tidak terjadi salah pemahaman dikarenakan isu-isu yang keliru dipahami atau terselewengkan.

Kang Jalal (Jalaluddin Rahmat, 1995) pernah memetakan enam teknik pengalihan atau manipulasi data para penulis tentang syiah yang diduga beliau karena alasan politis, yaitu sbb :

  1. Membuang sebagian isi hadits dan menggantinya dengan kata-kata yang kabur. Contoh: Tarikh al-Thabari meriwayatkan ucapan Nabi tentang Ali, “Inilah washiku dan khalifahku untuk kamu”. Kata-kata ini dalam tafsir al-Thabari dan Ibnu Katsir diganti dengan “wa kadza wa kadza (demikianlah-demikianlah)”. Tentu kata ‘washi’ dan ‘khalifah’ sangat jelas, sedangkan” wa kadza”  tidak jelas.
  2. Membuang seluruh beritanya dengan petunjuk adanya pembuangan cerita. Contohnya: Dalam buku ‘Shiffin’ karya Nashr bin Mazahim (w. 212 H) dan Muruj al-Dzahab karya al-Masudi (w. 246 H) diceritakan bahwa Muhammad bin Abu Bakar menulis surat kepada Muawiyah menjelaskan keutamaan Imam Ali sebagai ‘washi’nabi, dan muawiyah mengakuinya. Namun, al-Thabari yang juga menceritakan kisah tersebut dengan merujuk pada buku-buku di atas sebagai sumber, membuang semua isi surat itu dengan alasan “supaya orang banyak tidak resah mendengarnya”. Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah, juga menghilangkan isi surat itu dengan alasan yang sama.
  3. Memberikan makna lain (takwil) pada riwayat. Contohnya : al-Thabrani dalam Majma al-Zawaid meriwayatkan ucapan Nabi kepada Salman al-Farisi bahwa Ali adalah washi-nya. Al-Thabrani memberikan komentar, “Nabi menjadikannya washi untuk keluarganya, bukan untuk khalifah”. Begitu pula banyak yang menakwilkan kata “maula” dalam hadis ghadir khum bukan untuk kepemimpinan.
  4. Membuang sebagian riwayat tanpa menyebutkan petunjuk atau alasan. Contohnya: Ibnu Hisyam mendasarkan  kitabnya, Tarikh Ibnu Hisyam pada Tarikh Ibnu Ishaq. Akan tetapi Ibnu Hisyam dalam kata pengantarnya berkata bahwa ia meninggalkan beberapa bagian riwayat Ibnu Ishaq yang jelek bila disebut orang. Diantara yang ditinggalkannya itu adalah kisah “wa andzir ashiratakal aqrabin”, yang dalam Sirah Ibnu Ishaq di riwayatkan Nabi mengatakan “Inilah (Ali) saudaraku, washiku, dan khalifahku untuk kamu”. Ini juga terjadi pada buku Hayat Muhammad karya Husain Haikal. Pada cetakan pertama, ia mengutip ucapan Nabi, “siapa yang akan membantuku dalam urusan ini akan menjadi saudaraku, washiku, dan khalifahku untuk kamu”. Pada cetakan kedua (tahun 1354 H) ucapan Nabi ini dibuang dari bukunya.
  5. Melarang penulisan hadits-hadits Nabi saw, dari masa sahabat sampai masa thabiin, sehingga kemungkinan hadits banyak yang hilang.
  6. Mendhaifkan hadits-hadits yang mengurangi kehormatan orang yang kita dukung (penguasa) atau yang menunjukkan keutamaan lawan. Contohnya: Ibnu Katsir mendhaifkan hadits-hadits tentang keutamaan Imam Ali sebagai washi dan khalifahNabi. Ia menganggap riwayat ini sebagai dusta yang dibuat-buat orang syiah atau orang-orang bodoh dalam ilmu hadits. Padahal hadits itu diriwayatkan dari banyak sahabat oleh Imam Ahmad, al-Thabari, al-Thabrani, Abu Nuaim al-Isbahani, Ibnu Asakir, dan lainya.

Terlepas dari sepakat atau tidak dengan pemetaan di atas, maka kita akan mencoba membedah Buku Panduan ini saat mengulas penyimpangan syiah. Apakah terjebak atau tidak dengan teknik pengalihan fakta di atas.

1.    TENTANG ORISINALITAS ALQURAN  

Perlu ditegaskan bahwa yang muktabar bagi syiah imamiyah itsna asyariyah yang pengikutnya mayoritas di dunia dan di Indonesia adalah menolak terjadinya tahrif pada Alquran, baik itu penambahan maupun pengurangan pada Alquran. Hal ini banyak ditegaskan para ulama syiah dari masa lalu hingga kini. Karenanya, untuk mendudukan persoalan tersebut, dan sebelum mengulas tentang tahrif Alquran, perlu diketahui, menurut para ulama syiah, Al-Quran diturunkan dalam dua tahap. Pertama, sabil al-ijmal (marhalah al-ihkam), yaitu diturunkan secara keseluruhan dalam bentuk global. Kedua, sabil at-tafshil (marhalah at-tafshil), yaitu diturunkan secara berangsur-angsur sejak Rasul saaw di utus hingga akhir hayatnya (lihat Baqir al-Hakim, Ulum al-Quran, hal. 27-28)   

Ayatullah Baqir al-Hakim menjelaskan yang dimaksud diturunkannya wahyu itu secara global yaitu turunnya ilmu-ilmu Allah swt, termasuk Alquran dan rahasia-rahasia besar yang terkandung di dalamnya ke dalam hati Rasulullah saaw agar hatinya dipenuhi dengan cahaya pengetahuan al-Quran (Ulum al-Quran, hal. 27). Jadi, nuzul al-Quran (turunnya Alquran) itu terdiri dari dua hal, yakni teks Alquran dan makna Alquran (tafsir, takwil, hukum, rahasia-rahasianya, dan lainnya). Karena itulah, maka Rasulullah saaw adalah orang pertama yang menguasai maksud dan makna teks-teks Alquran itu, beliaulah penafsir pertama Alquran. Karena itu adakalanya Rasul saaw menyampaikan teks sekaligus makna yang terkandung di dalamnya. Inilah yang disebut hakikat nuzul Alquran yang mana Allah swt yang menurunkannya, membacakanya, mengumpulkannya di dalam dada Nabi saaw, dan menjelaskan maksudnya. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Alquran sendiri : “Janganlah engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk mebaca Alquran) karena hendak cepat-cepat menguasainya. Sesungguhnya KAMI YANG AKAN MENGUMPULKANNYA (di dadamu) dan MEMBACAKANNYA. APABILA KAMI TELAH SELESAI MEMBACAKANNYA, MAKA IKUTILAH BACAANNYA ITU. KEMUDIAN, SESUNGGUHNYA KAMI YANG AKAN MENJELASKANNYA.” (Q.S. al-Qiyamah : 16-19)

Setelah mengetahui dua jenis penurunan wahyu, mari kita bisa menganalisis tentang tahrifal-Quran yang menjadi polemik sunni dan syiah. Dan agar tidak terjadi kerancuan pembahasan perlu ditetapkan dulu tahrif Alquran yang bagaimana yang dituduhkan kepada syiah?

Buku Panduan MUI ini menyebutkan bahwa ulama-ulama syiah meyakini terjadinya tahrifAlquran yang bermakna penambahan dan pengurangan Alquran. Hal ini dapat dilihat pada pernyataan di buku panduan tersebut pada hal. 25-26 sebagai berikut :

  •  “Menurut seorang ulama Syiah, al-Mufid, dalam kitab Awail al-Maqalat, menyatakan bahwa Alquran yang ada saat ini tidak orisinal. Alquran sekarang sudah mengalami distorsi, penambahan dan pengurangan. Tokoh syiah lain mengatakan dalam kitab Mir’atul Uqul Syarh al-Kafi, menyatakan bahwa Alquran telah mengalami pengurangan dan perubahan. Al-Qummi, tokoh mufassir syiah, menegaskan dalam muqaddimah tafsirnya bahwa ayat-ayat Alquran ada yang diubah sehingga tidak sesuai dengan ayat aslinya seperti ketika diturunkan oleh Allah. Abu Manshur Ahmad bin Ali al-Thabarshi, seorang tokokh syiah abad ke-6 H menegaskan dalam kitab al-Ihtijaj, bahwa Alquran yang ada sekarang adalah palsu, tidak asli, dan telah terjadi pengurangan. Ni’matullah al-Jazairi menyatakan dalam kitabnya al-Anwar an-Nu’maniyah, semua imam syiah menyatakan adanya tahrif (perubahan) Alquran, kecuali pendapat Al-Murtadha, as-Shaduq, dan al-Thabarshi yang berpendapat tidak ada tahrif. Dalam keterangan selanjutnya ia menjelaskan bahwa ulama yang menyatakan tidak ada tahrif pada Alquran itu sedang bertaqiyah” (hal. 25-26). 

Jadi, Buku Panduan ini menyebutkan lima ulama syiah yang menyatakan tahrif Alquran, yaitu : Syaikh Mufid, Allamah Al-Majlisi, Al-Qummi, Ahmad bin Ali at-Thabarshi, dan Ni’matullah al-Jazairi. Dari kelima tokoh di atas, hanya Syaikh Mufid yang dituduh mengakui tahrif dalam makna penambahan dan pengurangan Alquran. Sedangkan keempat lainnya, yaitu Allamah al-Majlisi, Al-Qummi, Ahmad bin Ali at-Thabarshi, dan Ni’matullah al-Jazairi kelihatannya lebih pada pernyataan terjadinya pengurangan pada Alquran bukan penambahan.

Sekarang mari kita bandingkan pernyataan Buku Panduan tersebut dengan pernyataan ulama syiah, Al-Fadhl ib al-Hasan Abu Ali At-Thabarsyi dalam kitabnya tafsirnya Majma’ al-Bayan sebagai berikut : Adapun tentang adanya penambahan pada al-Quran maka hal tersebut disepakati sebagai sesuatu yang batil. Sedangkan adanya pengurangan dari al-Quran maka beberapa dari kalangan kami (imamiyah) dan juga dari kalangan ahlussunnah, ada riwayat bahwa di dalam al-Quran terjadi perubahan dan pengurangan. Akan tetapi yang benar menurut mazhab kami dan mazhab mereka ialah kebalikan dari itu. Dan pendapat yang demikian itulah yang didukung oleh al-Murtadha, semoga Allah mensucikan ruh beliau.” (At-Thabarsi, Tafsir Majma’ al-Bayan jilid 1, h. 15)

Dari pernyataan at-Thabarsyi di atas maka kita bisa mengambil kesimpulan :

  1. Tentang penambahan Alquran disepakati kebatilannya dan tertolak.
  2. Tentang pengurangan Alquran, maka terdapat ulama imamiyah dan  ulama Ahlussunnah yang meriwayatkan terjadinya hal tersebut.
  3. Para ulama syiah dan sunni, membahas pendapat tentang pengurangan Alquran ini dan menolak terjadinya hal tesebut dengan argumentasi-argumentasi yang tak terbantahkan.Karenanya, menisbatkan kepada Syiah atau kepada Sunni keyakinan terjadinya tahrif Alquran dalam makna pengurangan Alquran juga tidak bisa diterima.

Dari pernyataan di atas, maka pembicaraan tahrif Alquran dibatasi pada persoalan pengurangan Alquran tersebut. Apakah kelima ulama syiah yang disebutkan oleh Buku Panduan tersebut meyakini terjadinya pengurangan Alquran? Berikut ini satu persatu ulama yang disebutkan di atas akan kita diskusikan.

1. Syaikh Mufid. Buku panduan ini menyatakan bahwa “Syaikh Mufid dalam kitab Awail al-Maqalat, menyatakan bahwa Alquran yang ada saat ini tidak orisinal. Alquran sekarang sudah mengalami distorsi, penambahan dan pengurangan”. (hal. 25). Dalam footnote-nya disebutkan dikutip dari kitab Awail al-Maqalat, hal. 80-81 . Sekarang mari kita lihat isi kitabAwail al-Maqalat pada halaman 80-81 bab “Pendapat tentang Penyusunan Alquran, Penambahan dan Pengurannya” sebagai berikut :

القول في تأليف القرآن وما ذكر قوم من الزيادة فيه والنقصان

 

أقول: إن الأخبار قد جاءت مستفيضة عن أئمة الهدى من آل محمد (ص)، باختلاف القرآن وما أحدثه بعض الظالمين فيه من

الحذف والنقصان، فأما القول في التأليف فالموجود يقضي فيه بتقديم المتأخر وتأخير المتقدم ومن عرف الناسخ والمنسوخ والمكي والمدني لم يرتب بما ذكرناه وأما النقصان فإن العقول لا تحيله ولا تمنع من وقوعه، وقد امتحنت مقالة من ادعاه، وكلمت عليه المعتزلة وغيرهم طويلا فلم اظفر منهم بحجة اعتمدها في فساده

وقد قال جماعة من أهل الإمامة إنه لم ينقص من كلمة ولا من آية ولا من سورة ولكن حذف ما كان مثبتا في مصحف أمير المؤمنين (ع) من تأويله وتفسير معانيه على حقيقة تنزيله وذلك كان ثابتا منزلا وإن لم يكن من جملة كلام الله تعالى الذي هو القرآن المعجز، وقد يسمى تأويل القرآن قرآنا قال الله تعالى: (ولا تعجل بالقرآن من قبل أن يقضى إليك وحيه وقل رب زدني علما) فسمى تأويل القرآن قرآنا، وهذا ما ليس فيه بين أهل التفسير اختلاف

وعندي أن هذا القول أشبه من مقال من ادعى نقصان كلم من نفس القرآن على الحقيقة دون التأويل، وإليه أميل والله أسأل توفيقه للصواب

 “Sesungguhnya riwayat-riwayat yang diperoleh dari imam-imam pemberi petunjuk dari keluarga Muhammad saaw, terdapat pernyataan tentang perbedaan Alquran, dan juga yang menceritakan tentang sebagian orang-orang zalim yang membuang dan mengurangi Alquran. Yaitu terjadi pada saat penyusunan (Alquran) dengan memerintahkan mendahulukan yang akhir dan mengakhirkan yang terdahulu, mengenalkan nasakh dan mansukh, makkiyah dan madaniyyah, tidaklah teratur sebagaimana disebutkannya. Adapun tentang pernyataan pengurangan (Alquran) yang secara akal tidaklah mustahil dan tidak terlarang terjadinya, maka setelah aku mencermati dari para penyerunya dan pernyataan dari Muktazilah dan selain mereka, maka tidaklah dapat diambil dan bersandar pada hujjah mereka yg rusak tersebut.

DAN TELAH BERAKATA JAMAAH AHLI IMAMAH (KELOMPOK SYIAH), SESUNGGUHNYA ALQURAN TIDAK BERKURANG WALUPUN HANYA SATU KATA, SATU AYAT, ATAU SATU SURAT. Akan tetapi (yang) dihapus (adalah) apa-apa yang ada dalam mushaf Amirul Mukminin as yang merupakan ta’wil dan tafsir makna-maknanya sesuai dengan hakikat turunnya. YANG DEMIKIAN ITU (ta’wil dan tafsir) SEKALIPUN TELAH DITURUNKAN ALLAH TETAPI ITU BUKAN BAGIAN DARI FIRMAN ALLAH ALQURAN YANG MUKJIZAT. Dan MENURUT SAYA PENDAPAT INI LEBIH TEPAT DARIPADA PENDAPAT ORANG YANG MENGANGGAP ADANYA PENGURANGAN FIRMAN DARI ALQURAN ITU SENDIRI YANG BUKAN TA’WILNYADAN SAYA MEMILIH PENDAPAT INI. Hanya kepada Allah lah saya memohon tawfiq untuk kebenaran.” (Awail al-Maqalat hal. 80-81)….{Setelah menolak pengurangan Alquran, kemudian Syaikh Mufid menjelaskan penolakanya terhadap penambahan Alquran, maaf saya tidak tuliskan lagi}.

Jadi, sungguh aneh bin ajaib, Buku Panduan ini menuduh Syaikh Mufid mengakui tahrifAlquran. Kesimpulan kita sementara ini, penyimpangan Buku Panduan ini karena mengarahkan pandangannya pada judul bab dan ungkapan awal Syaikh Mufid dan meninggalkan bagian akhirya (mungkin ini bukan kesengajaan). Tetapi ini kesalahan fatal. Dari enam teknik manipulasi data yang disebutkan Kang Jalal, termasuk bagian manakah manipulasi ini?, silahkan anda pilih sendiri…. (bersambung)

Iklan

MENGENAL DAN MEWASPADAI PENYIMPANGAN BUKU PANDUAN MUI TENTANG SYIAH (BAG 4)

MENGENAL DAN MEWASPADAI

PENYIMPANGAN BUKU PANDUAN MUI TENTANG SYIAH (BAG 4)

(Bedah Buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia”)

Oleh : Candiki Repantu 

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad

TENTANG SYIAH DAN RAFIDHAH

Alhamdulillah, Hari ini telah hadir ditengah-tengah kita, seorang narasumber yang sudah tidak asing bagi kita, seorang intelektual dan cendekiawan muda, yang cukup valid untuk membincangkan tema seminar kita hari ini. Dan perlu juga diketahui oleh para audiens, Pak Candiki Repantu ini adalah seorang tokoh syiah di Medan dan Sumatera Utara.” Begitulah kira-kira saat beberapa waktu yang lalau saya diundang untuk menjadi narasumber dalam suatu seminar tentang “Teror atas Nama Tuhan”. Ada yang menarik kali ini, karena dari berbagai undangan seminar yang saya hadiri, baru kali ini saya diperkenalkan oleh panitia kepada audiens, dengan menyematkan atau melabelkan sesuatu yang lain. Jika saya diperkenalkan hanya dengan label intelektual atau “cendekiawan” muda—(ini perasaan panitia saja, karena terpengaruh nama saya “Candiki” yang memang diambil dari kata Cendekiawan)—, sekarang labelnya ditambah lagi karena panitia memperkenalkan saya sebagai “tokoh syiah di Medan”. Saya tidak tahu maksud memperkenalkan saya dengan label tambahan tersebut.

Hanya saja, saat itu saya teringat teori “labeling” atau teori “tanda” (sign) dari Ferdinand de Saussure, yang menyatakan ada hungungan erat yang tak terpisahkan antara label dan konsep. “Tanda” yang terdiri dari label dan konsep ini, mempengaruhi cara orang mempersepsi sekitarnya, karena telah diisi dengan makna yang bisa dihubungkan dengan tanda lainnya. Ambillah contohnya, saya dilabelkan “cendekiawan” yang konsep dan maknanya adalah keceradasan, maka orang akan mempersepsi saya sebagai orang cerdas. Tetapi, bagaimana jika saya disebut “orang syiah”, kira-kira persepsi apa yang mucul…? tergantung konsepnya. Kalau baru saja mendengar berita “Orang Syiah di sampang diusir” atau membaca buku “Panduan Penyimpangan Syiah di Indonesia”, maka muncullah dalam persepsinya “narasumber hari ini adalah orang yang menyimpang, sesat dan menyesatkan, dan layak diusir”—(untung saya tidak di usir, karena saya dengar di Jakarta seorang Ustadz Syiah diusir saat mau menghadiri seminar). wallahu a’lam.

Dengan contoh di atas anda bisa memahami bahwa karena kita punya sejarah, budaya, dan bahasa yang terkait dengan kelompok tertentu maka masing-masing kita memiliki identitas, dan identitas ini selalu digunakan untuk memberikan label pada diri kita. Dan seseorang atau kelompok tertentu bisa punya lebih dari satu label, dan label ini ada yang digunakan sendiri oleh orangnya/kelompok tersebut dan ada yang dilekatkan secara semena-mena pada orang/kelompok tertentu. Dan label itu ada yang berdaya positif, tetapi ada yang mengandung stereotif negatif (perhatikan kembali kasus saya di atas). Misalnya juga, “orang melayu” sekaligus ditandai sebagai “orang Islam”, sehingga saat keluar dari Islam, maka tidak diakui lagi sebagai orang melayu (ini tanda dari dalam). Tetapi “orang melayu” disebut “orang pemalas” bisa jadi ditandai secara negatif oleh kelompok lainnya (tanda dari orang luar).

Dengan memahami sedikit teori tanda di atas, mari kita bedah isi buku ini saat membicarakan tentang “Syiah dan Rafidhah”. Perhatikan rentetan kalimat-kalimat berikut ini yang kita kutip dari buku panduan tersebut :

  • “Rafidhah adalah kelompok syiah yang berdusta mendukung Ahlul Bait, dengan menolak Abu Bakar, Umar dan sebagian besar sahabat Nabi saw, disertai sikap mengafirkan dan mencaci mereka (hal.14).…”Abul Qasim al-Isfahani yang berjuluk qiwamus sunnah, al-Razi, as-Syahrastani, dan Ibnu Taymiyah menguatkan asal mula istilah rafidhah untuk syiah imamiyah itsna asyariyah adalah karena penolakan mereka terhadap Zaid bin Ali Zainal Abidin bin Husain ra yang memuliakan Abu Bakar dan Umar ra….istilah ‘rafidhah’ bagi kelompok syiah yang menolak Abu Bakar dan Umar dan mencaci keduanya. Adapun Imam Abul Hasan al-Asy’ari berpendapat syiah imamiyah dinamakan rafidhah karena penolakan mereka terhadap kepemimpinan Abu Bakar dan Umar ra.” (hal. 15)

 

Tanggapan :

#CR : Dari ungkapan-ungkapan Buku Panduan di atas, maka terlihat bagaimana para penulisnya mencoba memberi tanda dengan stereotif negatif kepada syiah. Untuk menanamkan visinya, buku ini menggiring pembaca dari istilah syiah ke istilah rafidhah, tatapi dengan menyimpangkan makna rafidhah dan mengisinya dengan makna atau konsep yang negatif. Karena rafidhah memang bermakna “pemberontak/penolak” yang berkesan negatif. Perlu diketahui, awalnya, istilah rafidhah ini digunakan untuk orang yang memberontak apapun mazhabnya, bukan hanya syiah. Ini dibuktikan dengan merujuk ke Kitab Waqaah as-Shiffin, hal. 34, karya Nasr bin Muzahim (W. 212 H) yang menyebutkan bahwa Muawiyah menulis surat kepada Amr bin ‘Ash yang sedang berada di Palestina yang isinya mengatakan :

أما بعد فإنه كان من أمر علي وطلحة والزبير ما قد بلغك . وقد سقط إلينا مروان بن الحكم في رافضة أهل البصرة  

Amma’ ba’du, Kamu telah mengetahui perkara tentang Ali, Thalhah dan Zubair, tetapi (ketahuilah) Marwan bin Hakam telah bergabung bersama para rafidhah/pemberontak dari penduduk Bashrah.

Karenanya, tidak tepat mengatakan istilah rafidhah muncul dari Zaid bin Ali seperti yang diteorikan oleh al-Isfahani, Al-Razi, Syahrastani, Ibnu Taymiyah, dan Abul Hasan al-Asyari. Sebab, ternyata istiah itu telah ada sebelum zaman Zaid dan digunakan oleh Muawiyah untuk menyebut kelompok pemberontak. Dan orang Basrah juga bukanlah syiah, karena mereka tidak percaya pada kepemimpinan Ali. Tetapi kemudian, makna rafidhah ini diarahkan kepada syiah, karena syiah selalu menjadi oposisi penguasa, dan diperlebar pada penolakan terhadap Abu Bakar dan Umar, seperti diindikasikan Al-Isfahani, al-Razi, Syahrasatani dan Abul Hasan al-Asy’ari di atas.

Adapun Ibnu Hajar menyebut rafidhah sebagai syiah ekstrem yang lebih mengutamakan Ali di atas Abu Bakar, Umar dan seluruh sahabat, tetapi tidak mencela mereka. Berikut ungkapan Ibnu Hajar dalam kitabnya Hady as-Sari, 1/459 :

والتشيع محبة على وتقديمه على الصحابة فمن قدمه على أبي بكر وعمر فهو غال في تشيعه ويطلق عليه رافضي وإلا فشيعي

“Tasyayyu adalah mencintai Ali dan mengutamakannya atas semua sahabat {selain Abu Bakar dan Umar}, dan jika mengutamakannya diatas Abu Bakar dan Umar maka dia tasyayyu’ ekstrem yang disebut Rafidhah dan jika tidak maka disebut Syiah.”

Namun, merasa kurang mantap, Tim Penulis Buku Panduan yang antipati terhadap syiah, mengembangkannya lagi maknanya dengan mengatakan :

  • Rafidhah adalah kelompok syiah yang berdusta mendukung Ahlul Bait, menolak Abu Bakar, Umar dan sebagian besar sahabat Nabi saw, disertai sikap mengafirkan dan mencaci mereka (hal.14)….

Setelah memberi muatan negatif, kemudian Tim Penulis ini mengarahkan sasarannya bahwa yang dimaksud rafidhah adalah syiah imamiyah itsna asyariyah (dan juga syiah ismailiyah), yang disepakati kesesatanya. Perhatikan kalimat Buku Panduan berikut ini :

  • “Syiah rafidhah yang mengklaim adanya nash/teks wasiat penunjukan Ali sebagai khalifah dan berlepas diri dari bahkan mencaci dan mengafirkan, para khalifah sebelum Ali dan mayoritas sahabat Nabi. Kelompok ini telah meneguhkan dirinya ke dalam sekte Imamiyah itsna asyariyah dan ismailiyah. Golongan ini disepakati kesesatannya oleh para ulama, tetapi secara umum tidak mengafirkan mereka.” (hal. 16-17)

Kalau kita perhatikan teori Saussure di atas, maka kita paham bahwa label dan konsep rafidhah ini dilabelkan oleh Buku Panduan ini kepada syiah imamiyah untuk mendeskreditkan kelompok tersebut dan mengarahkan pada stereotif negatif. Maka tepatlah apa yang dikatakan Muhsin Amin dalam A’yan as-Syiah seperti dikutip juga oleh Buku Panduan itu bahwa istilah “rafidhah adalah julukan buruk untuk orang yang mendahulukan Ali dalam soal khilafah dan kebanyakan digunakan untuk mendeskredikan dan membenci mereka. Visi Buku Panduan ini untuk mencipakan kesan negatif dengan mengubah “tanda”, semakin terbukti dengan kalimat mereka berikut ini :

  • Kita mesti membedakan istilah syiah secara umum dan rafidhah secara khusus. Setiap rafidhah adalah syiah ekstrem yang telah mencaci, bahkan mengafirkan Abu bakar dan Umar ra…” (hal. 17-18)

Inilah di antara yang perlu diwasapadai dan penyimpangan tulisan tentang syiah yang dilakukan Buku Panduang ini. Perhatikan defenisi Ibnu Hajar di atas tentang rafidhah, sangat jauh dari gambaran Tim Penulis MUI tersebut. Ibnu Hajar hanya mengatakan ““Rafidhah adalah syiah ekstrim yang mengutamkan Imam Ali di atas Abu Bakar dan Umar…”, sedangkan Buku Panduan ini menyatakan : “…Rafidhah adalah syiah ekstrem yang telah mencaci, bahkan mengafirkan Abu bakar dan Umar ra.”

Tidak hanya sampai disitu, Buku Panduan ini kemudian mencari dukungan pernyataan dengan membawa label “ulama salaf”, dan menyatakan bahwa tidak ada generasi sahabat dan tabiin yang memandang Ali lebih utama dari Abu Bakar dan Umar :

  • “…Tidak ada syiah rafidhah yang dianggap moderat oleh para ulama salaf. Syiah moderat adalah syiah pada generasi sahabat dan thabiin yang berjuang bersama Ali dimana mereka tidak pernah bersikap ekstrim dalam memandang kedudukan Ali dan tidak pula mengutamakan Ali atas Abu Bakar dan Umar RA.” (hal. 17-18).

Mari kita bandingkan pernyataan Buku Panduan ini dengan pernyataan Muhammad ibn Aqil Al-Alawi al-Hadrami dalam Al-‘Atbu al-Jamil ala Ahli Jarh wa Ta’dil, hal. 30 yang juga mengutip defenisi Ibnu Hajar dan kemudian berkomentar :

“…Jelaslah, makna perkataannya (Ibnu Hajar) ini bahwa sesungguhnya semua orang yang mencintai Ali dan mengutamakannya atas Syaikhain (Abu Bakar dan Umar) disebut Rawafidh (jamak dari rafidah), …Banyak dari kalangan sahabat mulia seperti Miqdad, Zaid bin Arqam, Salman, Abu Dzar, Khabbab, Jabir, Abu Said al-Khudri, Ammar, Ubai bin Ka’ab, Hudzaifah, Buraidah, Abu Ayyub, Sahal bin Hunaif, Utsman bin Hunaif, Abu Haitsam bin Tayyahaan, Khuzaimah ibn Tsabit, Qais ibn Sa’d, Abu Thufail Amir ibn Watsilah, Al-Abbas bin Abdul Muththalib dan seluruh putranya, seluruh Bani Hasyim dan Bani Al-Muththalib serta banyak lagi selain mereka… mereka semua adalah RAWAFIDH karena mereka mengutamakan Ali atas Abu Bakar dan Umar karena kecintaan mereka kepada Ali. Dan juga banyak tabi’in dan tabi’it tabi’in, para ulama besar, dan ini umat yang tidak terhitung jumlahnya, dan mereka juga para pendamping Alqur’an. Dan mencacat keadilan mereka—demi Allah— akan mematahkan punggung (merusak agama)

Perhatikan bagaimana Sayid Muhammad bin Aqil yang dengan tegas mengidentifikasi di antara sahabat dan tabiin, serta tabiit tabiin banyak yang rafidhah (ayiah eksterim). Dengan demikian, Tim Penulis MUI keliru dan menyimpang, saat menyatakan bahwa tidak ada rafidhah (syiah ekstrim) di masa sahabat dan tabiin.

Bagaimana? Apakah Tim Penulis MUI mau menfatwakan bahwa Miqdad, Zaid bin Arqam, Salman, Abu Dzar, Khabbab, Jabir, Abu Said al-Khudri, dan seterusnya nama-nama di atas, sebagai orang yang menyimpang, sesat menyesatkan dan tidak diterima hadisnya, karena mereka rafidhah alias syiah ekstrim?………..(bersambung)

MENGENAL DAN MEWASPADAI PENYIMPANGAN BUKU PANDUAN TENTANG SYIAH (BAG 3)

MENGENAL DAN MEWASPADAI

PENYIMPANGAN BUKU PANDUAN TENTANG SYIAH (BAG 3)

(Bedah Buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” Bag. 3) 

Oleh : Candiki Repantu

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad

TENTANG SEJARAH SYIAH

Dalam penggunaan bahasa, ada yang disebut implikatur, yaitu cara di mana pendengar (pembaca) bisa memahami sendiri asumsi-asumsi di balik sebuah informasi tanpa harus mengungkapkannya secara eksplisit. Dengan kata lain, implikatur adalah informasi tambahan yang bisa dideduksi dari sebuah informasi tertentu. Salah satu tujuan penggunaan implikatur adalah membujuk pendengar (pembaca) untuk percaya pada validitas klaim-klaim pembicara (penulis). Jadi, Implikatur ini bisa digunakan untuk membuat orang secara tidak sadar menerima begitu saja pendapat-pendapat yang sebenarnya masih bisa diperdebatkan. Kalau anda sering mendengar politisi berkata, “Seorang presiden harus bertindak atas kepentingan negara bukan partainya”, ini adalah implikatur yang mengisyaratkan bahwa selama ini presiden selalu bertindak atas kepentingan partainya. Kita bisa menggunakan implikatur ini, baik untuk tujuan positif maupun negatif. Namun, implikatur biasanya lebih sering oleh digunakan oleh para politisi.

Implikatur ini juga digunakan Tim Penulis buku panduan ini agar pembaca mengembangkan maknanya sendiri. Misalnya TPBP ini menyebutkan :

  • Istilah syiah pada era kekhalifahan Ali hanyalah bermakna pembelaan dan dukungan politik. Syiah Ali muncul pertama kali pada era kekhalifahan Ali bin Abi Thalib ra, bisa disebut sebagai pengikut setia khalifah yang sah pada saat itu melawan pihak Muawiyah, dan hanya bersifat kultural, bukan bercorak akidah seperti yang dikenal pada masa sesudahnya hingga sekarang. Sebab kelompok setia syiah Ali yang terdiri dari sebagian sahabat Rasulullah dan sebagian besar tabi’in pada saat itu tidak ada yang berkeyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib ra lebih utama dan lebih berhak atas kekhalifahan setelah rasul daripada Abu Bakar ra dan Umar bin Khattab ra. Bahkan Ali bin Abi Thalib ra sendiri, saat menjadi khalifah, menegaskan dari atas mimbar Masjid Kufah ketika berkhutbah bahwa, “sebaik-baik umat Islam setelah Nabi Muhammad saaw adalah Abu Bakar dan Umar ra.” Demikianlah pula jawaban beliau ketika ditanya oleh putranya, yaitu Muhammad ibn al-Hanafiyah, seperti yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam sahihnya hadis no. 3671.” (hal. 6-7) 

Kalimat-kalimat di atas memuat implikatur tersembunyi. Dengan menggunakan implikatur, buku ini mengajak pembacanya mengembangkan asumsinya sendiri tentang “kesesatan” syiah secara bertahap—meskipun nantinya buku ini secara jelas ingin menyesatkan syiah. Secara perlahan, pembaca diajak untuk mengatakan syiah sekarang berbeda dengan syiah yang dulu (tahap membedakan). Syiah yang dulu itu benar tetapi syiah sekarang tidak. Syiah yang benar adalah syiah yang hanya gerakan politik dan kultural, bukan gerakan akidah. Syiah dulu meyakini Abu Bakar dan Umar lebih baik dari Ali bin Abi Thalib, sedangkan syiah sekarang meyakini Ali lebih utama dari Abu bakar dan Umar (tahap menyalahkan). Lihatlah Ali bin Abi Thalib saja mengatakan yang terbaik adalah Abu Bakar dan Umar. Jadi, jika orang syiah mengakui mengikuti Ali, maka semestinya ia mengutamakan Abu Bakar dan Umar. Karenanya, yang benar adalah menganggap Abu Bakar dan Umar lebih mulia dari Ali, maka yang menganggap Ali lebih mulia dari Abu Bakar dan Umar adalah menyimpang (tahap menyimpangkan). Dan syiah sekarang berarti menyimpang.

Dan kemudian dihalaman-halaman berikutnya, pembaca di ajak dari menyatakan “syiah menyimpang” menjadi menyatakan “syiah sesat menyesatkan”. Untuk sampai pada tujuan itu, buku tersebut mengembangkan asumsinya pula dengan mengganti istilah syiah menjadi rafidhah, yaitu “syiah sekarang bukan lagi mengutamakan Ali, tetapi kelompok rafidhah yang berdusta pada ahlul bait dan mencaci serta mengkafirkan Abu Bakar dan Umar serta sahabat lainnya” (lihat hal. 14, 16, 18). Berdusta atas ahlul bait, mencaci dan mengafirkan Abu Bakar, Umar dan sahabat lainnya tentunya adalah kesesatan (tahap menyesatkan). Begitulah kira rangakaian deduksi yang muncul dari teknik implikatur buku ini. Padahal, asumsi-asumsi ini masih dalam ajang perdebatan.

Salah satu yang paling sering disebutkan para penulis tentang syiah adalah mengecilkannya menjadi sekedar urusan politik ansich. Penilaian ini muncul karena yang diperebutkan adalah soal kepemimpinan, dan itu tentu saja masuk bab politik. Tetapi para penulis ini lupa, bahwa konsepsi dasar Islam menegaskan akidah merupakan pondasi seluruh ajaran Islam termasuk politik (siyasah). Nabi saaw juga pemimpin agama sekaligus politik. Para ulama juga menyatakan bahwa Islam pada dasarnya tak pernah memisahkan antara urusan agama/akidah dan politik. Memisahkan urusan agama dan politik adalah paradigma sekularisme yang difatwakan haram oleh MUI itu sendiri. Apakah Tim Penulis buku ini berpendapat bahwa para sahabat seperi Imam Ali, Siti Aisyah, Thalhah, Zubair, Muawiyah, dan para pendukungnya masing-masing berperang dan saling berbunuhan karena pragmatisme politik kekuasaan tanpa memperdulikan urusan agama/akidah?  

Kemudian, menurut buku panduan ini, bukti bahwa syiah awal hanya gerakan politik dan kultural saja dan bukan persoalan akidah dengan alasan : “tidak ada sahabat dan tabiin yang berkeyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib ra lebih utama dan lebih berhak atas kekhalifahan setelah Rasul dari pada Abu Bakar ra dan Umar bin Khattab ra.”

Dengan begitu, buku ini ingin mengatakan bahwa syiah sekarang itu telah menyimpang dari syiah dulu. Sekarang mari kita buktikan apakah benar tidak ada generasi sahabat Nabi saaw dan tabiin yang mengutamakan Imam Ali as daripada Khalifah Abu Bakar dan Umar?? Ini berarti jika terbukti ada sahabat yang meyakini keutamaan Imam Ali dibandingkan Khalifah Abu Bakar dan Umar, maka asumsi para penulis buku ini gugur, dan berarti sejak awal syiah memang mazhab akidah dan itu terjaga terus hingga hari ini. Karenanya tidak ada penyimpangan keyakinan syiah dari dulu hingga sekarang.

Perhatikan keterangan berikut ini. Ibnu Hibban (Ats-Tsiqat jilid 9 no. 16440) saat menyebutkan tentang Yusuf bin Isa al-Marwzi meriwayatkan :

حدثنا إبراهيم بن نصر العنبري ثنا يوسف بن عيسى ثنا الفضل بن موسى عن شريك عن عثمان بن أبى زرعة عن سالم بن أبى الجعد قال سئل جابر بن عبد الله عن على فقال ذاك خير البشر من شك فيه فقد كفر 

Menceritakan kepada kami Ibrahim bin Nashr al-Anbari yang berkata, telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Isa, yang berkata telah menceritakan kepada kami Fadhl bin Musa, dari Syarik dari Utsman bin Abi Zur’ah, dari Salim bin Abil Ja’d, yang berkata: ‘aku bertanya kepada Jabir bin Abdullah tentang Ali’, maka Beliau menjawab : ‘Dia adalah manusia terbaik, siapa yang meragukannya sungguh telah kufur’. 

Lihatlah dengan tegas Jabir bin Abdillah berpendapat bahwa Imam Ali as adalah manusia terbaik dan yang meragukannya adalah “kufur/ingkar”. Apakah pernyataan Jabir bin Abdillah ini bukan bukti ia mengutamakan Ali?

Selain itu, Ibnu Abdil Barr (al-Isti’ab jilid 3/1090), juga menegaskan tentang sahabat-sahabat yang mengutamakan Imam Ali di atas siapapun :

وروى عن سلمان وأبى ذر والمقداد وخباب وجابر وأبى سعيد الخدرى وزيد بن الأرقم أن على بن ابى طالب رضى الله عنه أول من أسلم وفضله هؤلاء على غيره 

 

“Diriwayatkan dari Salman, Abu Dzar, Miqdad, Khabbab, Jabir, Abu Said Al Khudri dan Zaid bin Al Arqam bahwa Ali bin Abi Thalib RA adalah orang yang pertama masuk islam dan mereka mengutamakan Ali dibanding sahabat yang lain.

Lagi pula, jika mendukung Ali sebagai khalifah adalah perkara politik saja, lantas bagaimana dengan kekhalifahan Abu Bakar dan Umar? Kalau urusan politk juga dan bukan akidah, maka syiah tidaklah menyimpang jika tidak percaya pada kekhalifahan mereka. Kalau, syiah menyimpang karena tidak mengakuinya, maka berarti buku panduan ini memasukkan urusan khalifah sebagai urusan akidah. Lalu kenapa syiah dikatakan menyimpang memasukkan imamah sebagai urusan agama/akidah?

Mungkin makna dukungan politik dinisbatkan sebagai bentuk lahir perebutan kekuasaan, tetapi kita tidak bisa hanya melihat bentuk lahirnya saja, karena setiap perilaku memiliki motif. Motif inilah yang menjadi ukuran apakah itu hanya politik ansich atau punya motif keagamaan. Apakah Salman, Ammar, Miqdad, Jabir bin Abdillah, Abu Dzar, Habib bin Mazhahir, Hujur bin Adi, Hasan, Husain, dan lainnya yang mendukung Imam Ali as (Syiah Ali) hanya karena pragmatisme politik saja tanpa motif agama? Beginikah cara Tim Penulis buku ini menilai Syiah Ali generasi awal.

Adapun tentang munculnya syiah buku panduan ini menyebutkan sebagai berikut :

  • TP menulis : Ada yang menganggap syiah lahir pada masa akhir kekhalifahan Utsman bin Affan ra atau pada masa awal kepemimpinan Ali bin Abi Thalib ra…tampaknya pendapat yang paling populer adalah bahwa syiah lahir setelah gagalnya perundingan antara pihat Khlifah Ali dengan pihak Muawiyah bin Abu Sufyan ra di Shiffin yang lazim disebut sebagai peristiwa tahkim (arbitrasi)…sebagian besar orang yang tetap setia kepada khalifah Ali disebut syiah Ali (pengikut Ali).” (hal.5-6)

Tanggapan :

 

#CR : Para ahli memang berbeda pendapat tentang munculnya syiah. Sebagian mengatakan sesaat setelah Nabi saaw wafat, yaitu ketika perdebatan di Saqifah. Yang lainnya menyatakan syiah lahir pada masa akhir Khalifah Usman, awal kepemimpinan Ali bin Abi Thalib (35 H). Pendapat lain menyatakan bersamaan dengan Khawarij, yakni pasca perang shiffin (Ensiklopedi Tematis Dunia Islam jilid III, 2002: 34). Ada juga pendapat, syiah muncul setelah peristiwa Karbala syahidnya Imam Husain as (Hitti, History of the Arab, 2003: 237).

Namun, terdapat pula penegasan bahwa syiah telah ada sejak masa Rasul saaw. Baqir Sadr menegaskan bahwa syiah telah hadir di tengah-tengah masyarakat Islam sejak masa hidup Rasul yang terdiri dari orang-orang yang meyakini ketetapan Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin pasca Rasul saaw. Kelompok ini muncul memprotes dan menolak kepemimpinan Abu Bakar. Di antara mereka adalah Ammar bin Yasir, Miqdad, Abu Zar, Salman, Jabir  bin Abdillah, dan lainnya. Merekalah pelopor gerakan syiah awal. (Baqir sadr, 1990 : 62). Hal ini didukung dengan hadits-hadits Rasul saaw yang menggunakan istilah syiah Ali, seperti, “Syiah Ali adalah orang-orang yang beroleh kemenangan. Ketika turun ayat ‘Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk’ (Q.S. al-Bayyinah : 7), Rasulullah Saw bersabda, “Wahai Ali, itu adalah engkau dan syiahmu.” (Darwisy, Syiah Ali fi Ahadis Ahl as-Sunnah, 2006: 10). Silahkan setiap orang mau mengikuti teori yang mana..! (maaf kalau kepanjangan….bersambung)

——————–

 

MENGENAL DAN MEWASPADAI PENYIMPANGAN BUKU PANDUAN MUI TENTANG SYIAH (Bag 2)

MENGENAL DAN MEWASPADAI

PENYIMPANGAN BUKU PANDUAN TENTANG SYIAH

(Bedah Buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia”) 

Oleh : Candiki Repantu

 

 

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad

POIN-POIN TANGGAPAN

PENYIMPANGAN ANTARA VISI MUI DAN VISI PENULIS BUKU

Tim Penulis Buku Panduan (TPBP) berkata : “Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah wadah musyawarah para ulama, zuama, dan cendekiawan Muslim, yang kehadirannya berfungsi untuk mengayomi dan menjaga umat. Selain itu MUI juga wadah silaturahim yang menggalang ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyyah, demi untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang harmonis, aman, damai, dan sejahtera dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.” (hal. 1).

 

Tanggapan :

# Candiki Repantu (CR) : Betapa indahnya kalimat-kalimat di atas, dan tentu kita semua berharap MUI memang menjadi lembaga yang mengayomi dan menjaga umat Islam yang berbeda-beda mazhabnya baik sunni maupun syiah. Kita berharap MUI menjadi wadah silturrahmi yg menggalang ukhuwah islamiyah diantara sesama kaum muslim, baik sunni maupun syiah, ukhuwah wathaniyah bagi semua warga Indonesia apapun suku, agama dan mazhabnya, dan ukhuwah insaniyah bagi sesama manusia tanpa memperdulikan agama dan mazhabnya. Tapi apakah harapan tersebut terlihat dalam buku ini? Apakah setelah membaca buku tersebut akan muncul semangat untuk membangun ukhuwah?

Perhatikan kutipan dari buku tersebut : “Al-Bukhari berkata, “Saya tidak akan salat di belakang penganut Jahmiah dan rafidhah, sama seperti salat di belakang Yahudi dan Nasrani, tidak boleh mengucapkan salam kepada mereka, tidak dijenguk, tidak boleh dinikahkan, tidak boleh disaksikan jenazahnya, dan tidak boleh dimakan sembelihannya” (hal. 21)

Menurut pembaca, apakah kalimat ini mencerminkan jembatan ukhuwah atau akan menjadi penghalang ukhuwah? Kalau menjadi penghalang, maka kita ragu apakah buku ini memenuhi visi mulia MUI. Saya serahkan anda menilainya masing2.

———

  • TPBP menulis : Untuk menjalankan fungsi dan tujuan sebagaimana di atas, MUI melakukan pendekatan dan upaya proaktif, responsif, dan preventif terhadap berbagai problem keumatan dan kerakyatan agar problem-problem tersebut sedini mungkin dapat diatasi sehingga tidak menimbulkan dampak yang lebih luas pada masyarakat, khususnya umat Islam. 

 

Tanggapan

#CR : Ini juga hal yg kita harapkan bersama bahwa MUI melakukan pendekatan yg proaktif, responsif, dan prepentif. Tapi apakah buku ini menerapkannya, atau buku ini cenderung pada pendekatan yg propokatif, retorik, dan destruktif saat membicarakan “kesesatan dan penyimpangan” syiah. Boleh jadi, bagi sebagian, ini adalah bentuk proaktif karena berusaha menasehati umat untuk hati-hati dengan “kesesatan” syiah; tetapi ini juga bisa dianggap propokatif karena memancing umat untuk “menyesatkan” syiah. Boleh jadi, ini wujud responsif terhadap perkembangan syiah yang “menyimpang” di tengah-tengah umat, tetapi ini juga bisa dinilai retorik karena hanya fokus pada “penyimpangannya” saja. Boleh jadi ini juga usaha preventif utk mencegah umat “bersatu keyakinan” dengan syiah, tetapi juga bisa dinilai destruktif karena mencegah umat untuk mengutamakan persatuan di dalam perbedaan.

———–

  • TPBP menulis : Atas dasar tugas dan tanggungjawab luhur dalam membina dan menjaga umat pada berbagai aspeknya, dan sebagai bentuk tanggungjawab ke hadapan Allah SWT dalam meluruskan aqidah dan syariah umat…membuat buku panduan—seperti buku panduan tentang syiah ini—setelah dilakukan penelitian dan pengkajian yang mendalam. Buku panduan ini sebagian merupakan penjelasan teknis dan rinci dari rekomendasi Rapat Kerja Nasional MUI pada Jumadil Akhir 1404 H/Maret 1984…” (hal. 2) 

Tanggapan :

#CR : Betapa beratnya tugas dan tanggung jawab tersebut, dan lebih berat lagi saat Allah swt meminta pertanggungjawaban atas semua perkataan, tulisan, dan tindakan yg dilaksanakan kelak di akhirat dalam pengadilan Ilahi. Betapa di dalam sejarah kekuasaan Islam yg bermasalah saat berhubungan dengan dukungan mazhab. Berapa banyak orang dihukum hanya karena berbeda dengan ulama formal yg didukung penguasa, atau ulama mayoritas yang didukung massa? Dan Luar biasanya juga, MUI merekomendasikan pada Rapat Kerja Nasional pada tahun 1404 H/1984 M, dan baru sekarang Tim Penulis merasa mewakili MUI untuk mengeluarkan buku panduannya yang dikerjakan setelah 30 tahun kemudian. Jadi, selama 30 tahun umat terombang ambing tanpa petunjuk dan panduan. 30 tahun yang lalu ketika orde baru demikian kuatnya, MUI menfatwakan untuk mewaspadai masuknya faham syiah—bukan menyesatkan syiah—yang disatu sisi dianggap akan mengeksport ideologis revolusi Iran, dan ideologi revolusi itu tentu saja dianggap berbahaya oleh negara yg dikuasai para diktator. Jadi MUI pada 1984 hanya bervisi untuk mewaspadai, tetapi tim penulis buku ini bervisi menyesatkan atau mungkin kalau bisa mengkafirkan syiah.

——————

  • TP menulis : “Hadirnya buku panduan ini merupakan wujud dari tanggungjawab dan sikap tegas MUI itu, dengan harapan umat islam Indonesia mengenal syiah dengan benar dan kemudian mewaspadai serta menjauhi dakwah mereka, karena dalam pandangan MUI faham syiah itu menyimpang dari ajaran Islam, dan dapat menyesatkan umat… Untuk itu MUI berkewajiban untuk memagari dan mengayomi umat agar mereka terhindar dari upaya-upaya penyesatan dan penyimpangan di dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama.” (hal. 4)  

Tanggapan

#CR : Inilah apa yang saya sebut di awal, preventif berubah menjadi propokatif, retorik dan destruktif. MUI sendiri belum pernah mengeluarkan fatwa menyesatkan syiah, tetapi buku ini seolah-olah membawa nama MUI atas kesesatan syiah..!? Ini salah satu yang harus diwaspadai dan penyimpangan buku ini. ternyata Visi MUI berbeda dengan Visi para penulis buku ini. Kalau memang mau mengenalkan syiah, maka berlaku adillah. Kenalkanlah dalil-dalil mereka, bukan langsung penilaian “menyimpangnya” saja. Kalau mau mengenalkan syiah undang dan hadirkanlah representasi mereka untuk berbicara dan menjelaskan tentang syiah. Dan alangkah arifnya jika buku ini menjelaskan bagaimana sikap saling mengormati dan menghargai di antara umat Islam yang berbeda mazhabnya, dan silahkan setiap orang untuk menjalankan keyakinannya masing-masing, tanpa harus merasa risih dengan perbedaan, sebab perbedaan adalah rahmat Allah swt bagi semesta. Adapun soal konflik, di negara ini, sering terjadi konflik karena pragmatisme politik bukan karena keagamaan. Dan pragmatisme politik itulah yang sering menunggang di belakang ranah agama. Karena itu, konflik sunni dan syiah boleh jadi lebih didominasi kepentingan pragmatis dari pada keagamaan…….(bersambung)

——————-

 

MENGENAL DAN MEWASPADAI PENYIMPANGAN BUKU PANDUAN TENTANG SYIAH (bag 1)

MENGENAL DAN MEWASPADAI

PENYIMPANGAN BUKU PANDUAN TENTANG SYIAH

(Bedah Buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” ) 

Oleh : Candiki Repantu

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad

PEMBUKA

Tulisan ini dibuat untuk menanggapi buku yang berjudul Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesiayang diterbitkan oleh penerbit Alqalam yang dieditori oleh Prof. Dr. Hasan Baharun. Tanggapan ini sebagai niat baik untuk konfirmasi dan informasi karena terdapat penyimpangan-penyimpangan yang fatal dalam buku tersebut. Perlu diketahui, syiah yang dimaksud dalam tulisan ini adalah syiah imamiyah itsna asyariyah, yaitu syiah yang meyakini ada 12 imam setelah Rasul saaw yakni Imam Ali hingga Imam Mahdi. Terkadang disebut juga mazhab Ja’fari atau mazhab Ahlul Bait. Saya tidak mengulas syiah lainnya, karena pada dasarnya buku Panduan MUI”—meskipun masih diragukan benarkah diterbitkan oleh MUI secara resmi—mengarahkan tulisannya kepada syiah imamiyah ini, hal ini dibuktikan dengan membawa-bawa negara Iran sebagai “pengekspor” syiah tersebut, dan semua orang tahu Iran adalah satu-satunya negara yang menjadikan syiah imamiyah itsna asyariyah sebagai landasan negaranya. Selain itu, di Indonesia juga yang umumnya berkembang adalah syiah imamiyah ini.

Beberapa tahun yang lalu saya juga pernah diminta dalam suatu diskusi untuk membedah buku yang menghujat syiah yaitu karya seseorang yang mengaku bernama Husain al-Musawi yang menulis buku “Mengapa Aku Keluar dari Syiah”. Saya menyebut beberapa hal penting kehadiran buku tersebut, dan tampaknya, poin-poin itu masih relevan dengan terbitnya buku panduan MUI ini. Saya menyebutkan Kehadiran buku seperti ini memberikan beberapa hal penting.

Pertama, Pada tahap tertentu buku ini menjelaskan pemikiran-pemikiran mazhab syiah, bahkan iklan gratis bagi mazhab syiah. Hanya saja —daripada membahas secara ilmiah—, buku ini secara sengaja mengumpulkan sisi-sisi negatif mazhab syiah. Hal ini sudah terlihat sejak dari judulnya “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Mazhab Syiah”. Tapi, secara positif, kita bisa berbaik sangka, bahwa buku ini ingin menjelaskan adanya mazhab syiah yang menyimpang dan ada yang tidak menyimpang, dan kita mewaspadai yang menyimpang tersebut. (Tapi nanti kita akan melihat ternyata buku ini juga berisi penyimpangan-peyimpangan)

Kedua, Buku ini pada tahap tertentu telah menciptakan sentimen kemazhaban dari kedua belah pihak (sunni dan syiah) yang dapat merusak persatuan kaum muslimin dalam bingkai berbeda-beda tetapi tetap satu juga. Semoga tidak terjdi konflik sektarian yang meluas di Indonesia. Karena itu, buku ini mengingatkan orang syiah –dan pada tahap tertentu juga orang-orang sunni— untuk lebih waspada karena bisa saja buku ini digunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk menghalangi bagi terjadinya pendekatan antar mazhab dan persatuan kekuatan kaum muslimin.

Ketiga, buku ini meningkatkan ketegangan hubungan antar umat seagama yang seharusnya dipupuk terlebih disaat Islam dipojokkan dengan beragam isu konflik yang berdampak internasional seperti isu terorisme. Sebagai tambahan,..

Keempat, buku ini dalam tataran tertentu semakin memperkuat “perjuangan” kelompok takfiri transnasional (kelompok yang suka mengkafirkan dan menyesatkan kelompok lain) yang mulai banyak merebak di Indonesia, bahkan tidak jarang disertai dengan kekerasan dan anarkisme. Kelompok inilah yang sebenarnya harus diwaspadai.

Kelima, buku ini hadir mendekati pesta politik Indonesia yakni pemilu, yang tentu saja umat Islam akan turut andil besar dalam mensukseskannya. Tak pelak isu sentimen kemazhaban, juga merebak di tengah-tengah komoditas politik, karena boleh saja banyak juga para penganut mazhab yg berbeda maju menjadi calon-calon politikus papan atas. Dan biasanya konflik muncul lebih cenderung karena politisasi ini. Saya yakin MUI tidak berniat untuk  memecah belah umat, tetapi siapa yang bisa menjamin bahwa karya ilmiah ini tidak digunakan oleh sekelompok orang untuk kepentingan golongannya, partainya, atau kelompoknya.

Dengan memperhatikan kelima poin itu, maka saya berusaha semaksimal mungkin mengulas dan memahaminya untuk memberikan informasi dan tanggapan yang memadai. Namun, tentu saja tanggapan saya ini bukanlah tanggapan resmi mazhab syiah. ini hanya tanggapan dan bedah buku yang saya susun sepintas lalu, untuk diskusi dan bedah buku tersebut. Dan hanya sebagai wujud partisipasi dalam munazharah intelektual dan sumbangsih informasi dalam bentuk tulisan. Untuk mempermudah bacaan, maka tulisan ini di susun secara berseri sesuai tema yang saya pandang layak untuk di bedah dan mungkin tidak mencakup semua temanya, sesuai dengan format diskusi dan bedah buku. Semoga bermanfaat bagi kawan-kawan ahlussunnah dan juga syiah dalam mengukuhkan persaudaraannya dengan saling memahami melalui informasi yang memadai.

 

IDENTITAS BUKU

Buku yang ingin saya bedah saat ini berjudul Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia”. Buku ini diterbitkan sekitar bulan september/oktober tahun 2013, oleh penerbit Al-Qalam, suatu penerbit di bawah kelompok Gema Insani Jakarta. Buku kecil yang hanya setebal 120 halaman ini (sudah termasuk pengantar penerbit, pengantar penulis, daftar isi dan daftar pustaka), cukup bergengsi karena di tulis oleh Tim Penulis yang terdiri para ulama dan intelektual serta akademisi yang berkiprah di MUI Pusat, yaitu : DR (H.C) K.H. Ma’ruf Amin; Prof. Dr. Yunahar Ilyas, MA; Drs. H. Ichwan Syam; dan Dr. Amirsyah T, MA. Dan untuk menambah dayanya, buku ini di editori oleh Prof. DR. Hasan Baharun, yang dianggap sebagai editor ahli tentang syiah karena pernah menulis buku kecil saku yang berjudul “201 Tanya Jawab Syiah”, (maaf! saya menyebutnya buku kecil karena sebelum Prof. Baharun menerbitkan bukunya, seorang ulama syiah Prof. Ali Kurani pernah menulis berjilid-jilid buku tentang 1000 soal dan bantahan tentang syiah, yang berjudul Alfu as-Sual wa al-Isykal ‘ala Mukhalifin li Ahli al-Bait at-Thahirin).  

Selain Daftar Isi, Pengantar Penerbit, Pengantar Penulis, dan sambutan Dewan Pimpinan MUI, buku ini terdiri dari lima bab, sbb : Bab I : Pendahuluan; Bab II : Sejarah Syiah; Bab III : Penyimpangan Ajaran Syiah; Bab IV : Pergerakan Syiah di Indonesia; dan Bab V : Sikap dan Respon Majelis Ulama Indonesia. Bagian akhir ditutup dengan lampiran “Fatwa dan Pernyataan Ulama Indonesia Tentang Hakikat dan Bahaya Syiah” dan Daftar Pustaka…

(bersambung)

 

SAHABATKU, JAGALAH LISANMU..!! (Bag 7)

SAHABATKU, JAGALAH LISANMU..!! (Bag 7)

(Tanggapan Untuk Buletin Dakwah Aswaja Sumut)

Oleh : Candiki Repantu 

Tentang Tajsim

Tajsim adalah sebuah pandangan dalam akidah yang menganggap bahwa Tuhan itu memiliki jisim (jasad/bentuk). Selain istilah tajsim ada juga dikenal tasybih  yaitu pandangan yang menterupakan Tuhan seperti makhluknya. Team Aswaja menuduhkan bahwa syiah adalah penganut tajsim dan tasybih, tanpa mengkroscek dengan baik struktur akidah syiah tentang ketuhanan (Tauhid). Sayang sekali, kelompok yang terdiri dari para Usatdz-ustadz alumni dalam dan luar negeri ini hanya bermodalkan satu buku berani melakukan penilaian atas konsepsi akidah syiah. Padahal boleh jadi, pandangan tajsim dan tasybih ini kembali pada keyakinan Aswaja sendiri. Sadarilah, bahwa apa yang anda tuliskan dan fitnah yang dilontarkan akan diminta oleh Allah swt pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Perhatikan tulisan Team Aswaja berikut ini :

  • Team Aswaja menulis :

Ajaran Syiah Indonesia pun meyakini Tajsim pada Dzat Allah, sebagaimana yang tertera pada buku KECUALI ALI, karangan Abbas Rais Kermani yang diterbitkan oleh Penerbit Alhuda Jakarta, pada halaman 22, saat Syiah mengklaim pembicaraan Imam Ja’far Shadiq, tatkala ditanya tentang arti ayat “Kullu syai-in haalikun illa wajhahu”, maka Imam Ja’far Shadiq menjawab: Segala sesuatu itu akan rusak kecuali WAJAH Allah, dan Wajah Allah itu adalah Ali bin Abi Thalib. Aqidah Syiah ini juga sama dengan keyakinan kaum Nasrani yang mengatakan: Yesus adalah Tuhan dan Tuhan adalah Yesus. Kaum Syiah mengatakan : Ali adalah Allah dan Allah adalah Ali.

Jadi, jelaslah perbedaan Islam dan Syiah adalah perbedaan aqidah/keyakinan, bukan perbedaan khilafiyah furu`iyah. Karena itu salah besar jika ada tokoh maupun umat Islam yang menyederhanakan perbedaan Islam dan Syiah `Iran` Imamiyah, dan menganggap seperti perbedaan antara madzhab Hanafi, Maliki, Syafi`i dan Hanbali.

 Tanggapan :

# CR : Kasihan sekali saya melihat Team Aswaja sumut ini padahal mereka terdiri dari para ustadz kondang kota Medan. Dan saya sedih, hanya mempelajari sekilas dan mengutip satu buku itu, kemudian mengambil kesimpulan yang fatal. Kalau seperti ini, kemungkinan besar Tim Aswaja tidak membaca buku2 Akidah syiah yang khusus membahas Tauhid atau ketuhanan, sebab tuduhan ini tidak akan dilontarkan bagi siapa saja yang membaca sedikit kitab “Tauhid” syiah. Ini adalah tuduhan cukup aneh bagi syiah. Karena semua orang tahu, bagaimana kekuatan filsafat dalam pembahasan akidah syiah. Semua para pengkaji tahu, bagaimana syiah mengulas keyakinan tauhidnya dengan analisis filosofis tingkat dasar hingga tingkat tinggi. Bahkan akan sangat sulit memahaminya bagi kebanyakan orang yang tidak terbiasa dengan studi filsafat. Untuk itu saya bawakan saja beberapa penjelasan imam-imam dan ulama-ulama syiah. Kajian ini saya bagi dua. Pertama, perspektif tauhid (ketuhanan) menurut syiah. Kedua, makna wajhullah.

 1. Tauhid menurut Syiah

Imam Ali as berkata : “Awal agama adalah mengenal Allah (ma’rifatuhu), dan kesempurnaan mengenal-Nya adalah membenarkan-Nya, kesempurnaan membenarkan-Nya ialah mengesakan-Nya, kesempurnaan mengesakan-Nya ialah mensucikan-Nya, dan kesempurnaan mensucikan-Nya ialah menafikan sifat-sifat-Nya, karena setiap sifat berbeda dengan apa yang disifatkan dengannya, dan setiap yang disifati berbeda dengan sifat itu. Barangsiapa yang mensifati Allah, maka mengakui keserupaan-Nya, dan barangsiapa mengakui keserupaan-Nya maka ia menganggap-Nya dua, dan siapa menganggap-Nya dua, berarti membagi-bagi-Nya, dan barangsiapa membagi-bagi-Nya, berarti ia tidak mengenal-Nya. Dan barangsiapa tidak mengenal-Nya maka ia akan menunjuk-Nya, dan barangsiapa menunjuk-Nya, maka ia mengakui batas-batas bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui batas-batas bagi-Nya, berarti ia mengatakan jumlah-Nya.

Barangsiapa menyatakan bahwa “Dia berada dalam apa”, berarti ia membuat-Nya bertempat, dan barangsiapa mengatakan “di atas apa Dia berada” maka ia beranggapan bahwa la tidak berada di atas sesuatu lainnya. Dia Maujud tetapi tidak melalui fenomena muncul menjadi ada. Dia ada tetapi bukan bersal dari ketiadaan. la bersama segala sesuatu tetapi tidak dalam kedekatan fisik. la berbeda dari segala sesuatu tetapi bukan dalam keterpisahan fisik. Dia berbuat tetapi tanpa gerakan dan alat. Dia melihat meskipun tidak ada ciptaan-Nya yang dilihat. Dia Esa sedemikian rupa sehingga tak ada sesuatu yang bersekutu dengannya atau yang Dia akan kehilangan karena ketiadaannya.” (Nahjul Balaghah, Khutbah 1)

Semoga Team Aswaja bisa memahami maksud Imam Ali as yang dengan menjelaskan eksistensi ilahiah yang mutlak. Pernyataan Imam Ali as di atas yg sering dikutip oleh para ulama syiah menunjukkan bahwa Allah swt adalah wujud mutlak yg tidak mungkin diserupakan dengan apapun, tidak berjasad, tidak berbentuk, singkatnya tidak terbatas.

Di tempat lain, Syaikh Kulaini dalam kitabnya Ushul al-Kafi bab “Annahu la Yu’raf illa Bihi”meriwayatkan bahwa Imam Ali as ditanya oleh seseorang, “Dengan apa engkau memahami Tuhanmu?” Imam Ali as menjawab, “Dengan cara sebagaimana Dia mengenalkan diri-Nya kepadaku?” Kemudian ditanyakan lagi, “Bagaimana Dia mengenalkan dirinya kepadamu?”. Imam Ali menjawab, “Dia tidak menyerupai suatu bentuk dan Dia tidak dapat dirasakan dengan indera dan tidak bisa dikiyaskan dengan manusia. Dia dekat dalam kejauhan-Nya, dan Dia jauh dalam kedekatan-Nya. Dia berada di atas segala sesuatu dan tidak dapat dikatakan sesuatu di atasnya. Dia di depan segala sesuatu tetapi tidak dapat dikatakan (Dia) memilki depan. Dia di dalam segala sesuatu, tetapi tidak seperti sesuatu yang (berada) di dalam sesuatu lainnya. Dia di luar segala sesuatu tetapi tidak seperti sesuatu yang keluar dari sesuatu. Maha Suci Dia yang seperti ini dan tidak ada yang seperti ini selain-Nya. Dan segala sesuatu itu ada permulaannya.”

Dalam salah satu hadits, Imam Shadiq as bersabada, “Sesungguhnya Allah tidak bisa disifati dengan waktu, tempat, gerak, diam, dan perpindahan, melainkan Dia adalah pencipta waktu, tempat, gerak, diam, dan perpindahan. Allah lebih tinggi dari apa yang disifatkan oleh orang-orang zalim”. (Biharul Anwar, jilid 3, hal. 309, hadits 1)

Tentang makna as-Shamad, Imam Ali as berkata, “Makna shamad adalah bahwa Tuhan tak bernama, tak berjasmani, tak memiliki kesamaan, tak berwajah, tak terbatas, tak bertempat, tak bersubstansi, tak di sini, tak di sana, tak memenuhi tempat dan tak mengosongkan tempat, tak berdiri dan tak duduk, tak bergerak dan tak diam, tak gelap dan tak terang, bukan ruh dan bukan jiwa, semua tempat diliputi oleh-Nya, tak tempat yang mampu menampung-Nya, tak berwarna dan tak terbayang dalam kalbu seseorang dan tak ada aroma yang tercium dari-Nya, semua hal-hal ini ternafikan dari-Nya”. (Biharul Anwar, jilid 3, hal. 320, hadits 21)

Dalam salah satu kisah diceritakan bahwa seorang sahabat Imam Shadiq as menyampaikan  ucapan Hisyam bin Hakam mengenai kejasmanian Tuhan (tajsim). Maka Imam ja’far as berkata: “Celakalah dia! Apakah dia tidak mengetahui bahwa badan dan wajah adalah terbatas? Apabila (sebuah benda) memiliki batas, maka dia akan menerima sifat kuantitas (banyak dan sedikit) dan setiap yang berkuantitas, pastilah makhluk”. Perawi mengatakan, aku berkata, “Lalu apa yang harus aku katakan?” Imam Ja’far menjawab : “Dia tak berbadan dan tak berwajah, melainkan yang menciptakan badan dan mewujudkan wajah, Dia tidak bisa dibagi-bagi, dibatasi, dan diperbanyak atau dikurangi. Apabila benar apa yang dikatakannya maka tidak ada perbedaan antara Pencipta dengan yang diciptakan (makhluk), sementara Dia adalah Khalik dan terdapat perbedaan antara badan dan yang menciptakan badan, karena tak sesuatupun yang serupa dengan Tuhan dan Tuhanpun tidak identik dengan sesuatu”. (Kitab At-Tauhid, bab keenam, hadits 7. Syaikh Shaduq dalam bab ini menyebutkan 20 riwayat tentang penafian kejasmanian Tuhan; lihat jugaUshul al-Kafi, kitab at-Tauhid, bab an-nahi ‘an al-jism wa as-surah)

Syaikh Thusi dan ulama lainnya menjelaskan bahwa keniscayaan Wujud Allah swt dan ketidakbutuhan-Nya kepada selain-Nya memastikan keabadian-Nya, menafikan tambahan, sekutu, keserupaan dan ketersusunan dalam semua artinya. Begitu pula mustahil Dia memiliki lawan, bertempat dan menempel pada benda, berdimensi, terlibat dalam hal-hal yg temporal, terkena rasa suka dan duka, dan semua hal yg tidak tepat dilekatkan kepada-Nya. Allah bukan jisim (berjasad), bukan substansi (jauhar), bukan aksiden (‘ard), tidak berdiam dalam sesuatu dan tidak terkena hal-hal yang bersifat fisik.

Dengan riwayat-riwayat dan penjelasan para ulama syiah, maka dengan jelas terlihat bahwa syiah adalah mazhab yang menolak adanya tajsim dan tasybih bagi Allah swt bahkan syiah juga menolak ru’yatullah (melihat Allah) yang diakui oleh oleh mazhab al-Asy’ariyah, karenaru’yatullah itu bagi syiah masih terkesan mengakui tajsim dan tasybih pada Allah swt. Jadi, bagaimana mungkin Team Aswaja menuduh syiah bermazhab tajsim. Hal ini tidak lain karena ketidaktahuan mereka ttg mazhab syiah, karenanya kita memakluminya saja.

2). Tentang “wajhuullah dalam Q.S. al-Qashas : 88 

Aswaja Sumut mengutip buku “Kecuali Ali” yang meriwayatkan bahwa Imam Ja’far Shadiq, ditanya tentang ayat “Kullu syai-in haalikun illa wajhahu”, maka Imam Ja’far as menjawab: ‘Segala sesuatu itu akan rusak kecuali WAJAH Allah, dan Wajah Allah itu adalah Ali bin Abi Thalib’. Berdasarkan hal ini, Aswaja Sumut menuduh syiah mengakui tajsim. Padahal riwayat2 seperti ini bertebaran juga di kitab-kitab sunni, apakah ustadz-ustadz Aswaja Sumut tidak mengetahuinya…??

Setelah penjelasan di atas dan kita mengetahui bahwa tauhid syiah yang menolak tajsimdan tasybih, maka barulah kita bisa memahami dengan baik riwayat di atas. Kemudian untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, maka kita perlu juga memperhtikan riwayat-riwayat lainnya dan keudukan imam Ali as serta para imam ahlul bait as. Selain riwayat yang dikutip oleh Aswaja Sumut ttg makna “wajhullah”, yaitu Imam Ali as, maka perlu juga diketahui terdapat riwayat2 lain yang menjelaskan makna “wajhullah” dalam ayat tersebut, diantaraya sbb :

  • Wajhullah bermakna Agama Allah (dinullah) seperti riwayat dari Imam Baqir as, ketika ditanya tentang makna ayat  “”Setiap sesuatu akan binasa kecuali Wajh Allah”, maka Imam menjawab: “Sesungguhnya Allah azza wa jalla lebih agung dari pada apa yg disifatkan mempunyai wajah, tetapi maknanya adalah segala sesuatu akan binasa kecuali agama Allah (dinullah), dan wajah itu yang mengarahkan kepada-Nya.”
  • Wajhullah bermakna jalan yg benar (thariq al-haq). Imam Ja’far Shadiq as ketika menafsirkan ayat tersebut, beliau berkata, “segala sesuatu akan binasa kecuali berpegang pada jalan yang benar” (thariq al-haq).
  • Wajhullah adalah ketaatan kepada Rasul saaw dan Imam-imam setelahnya. Imam Ja’far as yang berkata, “siapa yang menuju Allah swt dengan melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya dari ketaatan kepada Muhamamd saaw dan imam-imam sesudahnya, maka itulah wajah yang tidak akan binasa, kemudian Imam as membacakan ayat, “Siapa yang menaati Rasul, sungguh dia telah menaati Allah” (Q.S. an-Nisa : 80). (lihat Kitab at-Tauhid Syaikh Shaduq, bab tafsir Q.S. al-Qashas : 88 “semua akan binasa kecuali wajah-Nya”; Tafsir Shofi jilid 5, hal. 455-456; Al-Kafi juz 1 kitab at-Tauhid bab an-Nawadir, hal. 191; dll)

Dengan menggabungkan beberapa riwayat tersebut maka kita menemukan makna yang ditunjukkannya yaitu “wajhullah adalah : agama Allah, jalan yang benar, ketaatan kepada Rasul dan imam-imam setelahnya, serta Ali bin Abi Thalib. Kesimpulannya Wajhullahadalah agama dan jalan yang benar yaitu jalan yg ditempuh dengan mengikuti dan mematuhi Rasul saaw dan imam setelahnya yakni Imam Ali as. Dan kebinasaanlah bagi yg menolak agama Allah, jalan yang benar, dan tidak mau mematuhi Rasul saaw dan Imam Ali as. Dalam hadis Safinah (hadis tentang Bahtera keselamatan) disebutkan, “Pemisalan Ahlul baitku seperti bahtera Nuh, siapa yang masuk kedalamnya selamat (najah), dan siapa yang keluar akan binasa (halak).”

Kemudian juga, wajah bisa dimaknai sesuatu yang mengenalkan pada hakikat yang dituju. Karena itu “wajah Allah”, yaitu sesuatu yang mengantarkan untuk mengenal Allah swt. Dan di antara yang akan mengantarkan manusia untuk mengenal Allah swt adalah Imam Ali as. Kalau Aswaja Sumut, membaca bait-bait berikutnya dari buku “Kecuali Ali”, maka disana disebutkan riwayat tentang hal ini, yaitu Rasul saaw bersabda, “Aku dan Ali adalah bapak umat ini, barangsiapa mengenal kami, maka dia mengenal Allah.” Begitu pula di buku tersebut diriwayatkan Rasul saaw berkata, “Seandainya aku dan Ali tidak ada, maka Allah tidak dikenal”; Imam Ja’far as berkata, “Dialah pemimpin umatnya pada zamannya, barangsiapa mengenalnya maka dia mengenal Allah.”   Orang yang mengenal Allah secara sempurna akan kekal selama-lamanya di surganya Allah swt, dan yang tidak mengenal Allah swt akan binasa dalam siksa neraka Allah swt. Jadi, kemungkinan maksud perkataan Imam Ja’far Shadiq as bahwa “wajhullah” itu Imam Ali as, yaitu bahwa Imam Ali as yg mengantarkan manusia untuk mengenal Allah swt, dan yang mengenal Allah swt tidak akan binasa, yaitu tdk akan celaka dan masuk neraka.

Selain pemaknaan di atas kita bisa menjelaskan hal lainnya, bahwa Allah swt mengindikasikan “tidak semua akan binasa”.  Penjelasan singkatnya adalah sebagai berikut :

Di dalam ayat-ayat Alquran terdapat indikasi bahwa kebinasaan akan menimpa seluruh makhluk, tetapi ada juga ayat-ayat yg mengindikasikan bahwa terdapat makhluk-makhluk yg tidak akan binasa. Tentang hal ini Allah swt berfirman, “Segala sesuatu akan binasa kecuali WAJAH-NYA” (Qs. Al-Qashash [28]:88) Atau “Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi KECUALI SIAPA YANG DIKEHENDAKI ALLAH”. (Qs. Al-Zumar :68). Sehingga kalau kita menggabungkan kedua jenis ayat ini maka bisa ditarik kesimpulan bahwa “tidak semua akan mengalami kebinasaan, dan yang tidak mengalami kebinasaan itu adalah orang-orang khusus yang dikehendaki oleh Allah swt”. Atau maknanya “semua akan binasa kecuali siapa yg dikehendaki Allah swt” dan diantara yg dikehendaki untuk tidak binasa adalah “WAJAH ALLAH” dan salah satu ‘manifestasi’ dari wajah Allah swt adalah Imam Ali as.

Hal ini karena posisi keimamahan yang begitu tinggi sehingga menjadikan Imam Ali as sebagai tanda bagi kekuasaaan Allah swt, sebagai orang yang terbaik dan suci (maksum; mukhlasin), yang tidak melihat sesuatu selain Tuhan; tidak memandang kecuali tanda dan ayat-Nya; tidak perduli keuntungan atau kerugian duniawi. Imam Ali as yang dirinya “tenggelam dan lebur” dalam ẓat Tuhan. Seluruh aktivitas disandarkan dan diserahkan  kepada Tuhan, dan tiada yang keluar dari-Nya kecuali keridhaan Tuhan. Beliau adalah wujud yang mendekat kepada Allah swt sedemikian dekatnya sehingga seperti disebutkan dalam hadis qudsi, yang mana Tuhan akan menjadi tangan, mata, telinga, lisan dan hatinya. Beliau adalah cermin sempurna Tuhan dan hanya “wajah Tuhan” yang beliau munculkan dalam seluruh aktivitasnya, bukan wajah mereka. Karena itulah, beliau adalah “wajhullah” (wajah Tuhan), yakni wajah batin dan hakikat segala sesuatunya. Wajhullah-nya ini bermakna bahwa bliau merupakan tanda Tuhan yang sempurna, dan manifestasi seluruh “jelmaan” Ilahi di mana Allah swt berfirman: “Kullu syai’in halik illa wajhah”, segala sesuatunya binasa kecuali wajah-Nya.” Dengan begitu, segala sesuatu yakni mahkluk akan binasa, tetapi beliau abadi dan tidak ada kebinasaan pada hakikat beliau (bukan kematian jasad beliau, karena jasd beliau telah mati), bisa saja beliau salah satu yg dikehendaki Allah untuk tetap kekal saat semuanya binasa “Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi KECUALI SIAPA YANG DIKEHENDAKI ALLAH”. (Qs. Al-Zumar :68).

Demikianlah kemungkinan-kemungkinan makna terhadap ayat tersebut di atas. Jadi, hal ini bukan berhubungan dengan tajsim dan tasybih, tetapi mengenal posisi keimamahan yang tinggi dan bagian utama dari ajaran agama Allah swt. Semoga bermanfaat dan dapat dipahami dengan baik.

GAGASAN IBNU MISKAWAIH TENTANG PENDIDIKAN

GAGASAN IBN MISKAWAIH TENTANG PENDIDIKAN ISLAM

Oleh: Ja’far Umar, MA

PENDAHULUAN

Ketika dinasti Abbasiyah (750-1258 M) menguasai dunia Islam secara menyeluruh, kebudayaan dan peradaban Islam pun semakin maju. Meskipun benih-benihnya telah mulai disemai pada era dinasti Umayyah, namun tidak dapat dipungkiri bahwa kebudayaan dan peradaban Islam baru mencapai puncaknya ketika dinasti Abbasyiah berkuasa atas dunia Islam. Kebudayaan dan peradaban Islam itu lahir karena umat Islam di bawah komando Kekhalifahan Abbasyiah telah menggali dua macam sumber ilmu pengetahuan, yakni sumber dalam dan sumber luar. Sumber dalam ini tidak lain adalah al-Quran dan hadits. Penggalian atas sumber dalam ini melahirkan pelbagai macam ilmu-ilmu agama. Sementara sumber luar itu merupakan setiap ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh umat manusia sebelum Islam lahir. Sumber luar ini berasal dari pusat-pusat peradaban dunia pra Islam, seperti Yunani, Iskandariyah, Jundisyapur, India, dan lainnya. Sumber-sumber luar ini dapat berbentuk filsafat, sains, dan teknologi. Demikianlah, karena umat Islam berhasil menggali kedua macam sumber ilmu tersebut, mereka pun akhirnya dapat mengkonstruksi kebudayaan dan peradaban Islam yang khas.

Sebagaimana diuraikan di atas, selain karena umat Islam menggali sumber dalam, kebudayaan dan peradaban Islam muncul dilatari oleh adalah aktifitas penerjemahan atas kitab-kitab ilmu pengetahuan sebagai buah kebudayaan dan peradaban manusia pra-Islam yang merupakan sumber luar. Kegiatan seperti ini sebenarnya telah dilakukan pada masa kekhalifahan Umayyah (660-750 M) di Damaskus, namun kegiatannya masih terbatas kepada penerjemahan kitab-kitab tertentu. Maksudnya, para penerjemah hanya menerjemahkah kitab-kitab yang diduga dapat bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat, seperti kitab-kitab tentang kedokteran, astronomi, kimia, dan matematika.[1] Sementara kitab-kitab lain masih belum dilirik sama sekali. Barulah ketika dinasti Abbasyiah berkuasa, seluruh kitab ilmu pengetahuan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab seperti kitab-kitab filsafat, sains, dan teknologi. Para penerjemah menerjemahkan kitab-kitab orisinil karya Phytagoras, Plato, Aristoteles, Plotinus, Galen, Nicomachus, Euclide, Ptolemaeus, Hippocrate,[2] dan lainnya. Pada akhirnya, kegiatan penerjemahan ini memacu lahirnya the Golden Age of Islam sepanjang abad 8 sampai abad 12 M.[3]

Pada masa keemasan Islam tersebut, banyak pemikir Islam muncul ke permukaan. Secara pasti, mereka menguasai dan memahami hampir seluruh cabang ilmu pengetahuan. Selain banyak memberikan syarah atas kitab-kitab asing, mereka pun menuliskan buah fikir nya di berbagai cabang ilmu pengetahuan.[4] Tak dapat dipungkiri, keberadaan para pemikir Islam tersebut menjadi penopang utama pilar kebudayaan dan peradaban Islam di zaman Klasik. Para pemikir dimaksud antara lain adalah al-Kindi, al-Farabi, al-Razi, Ibn Miskawaih, al-Amiri, al-Sijistani, at-Tauhidi, Ibn Sina, Ibn Bajjah, Ibn Thufail, Ibn Rusyd,[5] dan ratusan lainnya. Meskipun memiliki ciri khas tersendiri, namun tidak dapat disangkal bahwa pemikiran mereka memiliki rantai sanad hingga ke pemikiran para filsuf pra-Islam semacam Phytagoras, Plato, Aristoteles, Plotinus, Phorphyrius, dan lainnya. Kebesaran nama dan pemikiran mereka telah membuat banyak ahli meneliti biografi dan pemikiran para filsuf Islam tersebut.

Selain para pemikir Islam era Klasik di atas, para sarjana Modern banyak meneliti tentang Ibn Miskawaih (w. 1030 M). Penelitian itu dilakukan selain karena Ibn Miskawaih menjadi salah satu pilar kebudayaan dan peradaban Islam era Klasik, juga karena tokoh di bidang filsafat akhlaq ini memiliki pokok-pokok fikiran yang khas. Pemikiran-pemikiran Ibn Miskawaih pun dipandang memiliki nilai guna bagi dunia Modern, selain sebagai wadah inspirasi bagi filsuf dan ilmuan Modern.

Tulisan ini mencoba memaparkan pemikiran Ibn Miskawaih tentang pendidikan akhlaq. Secara khusus, tulisan ini akan memfokuskan pembahasan hanya kepada sejumlah pemikirannya, yakni hakikat jiwa sebagai dasar utama pembahasan akhlaq, prinsip-prinsip akhlaq, pendidikan akhlaq, dan pendidikan jiwa. Sebagai sebuah makalah sederhana, makalah ini tidak berpretensi untuk menguraikan secara mendalam seluruh pemikiran akhlaqnya. Karena keterbatasan waktu, maka makalah ini hanya menyajikan sejumlah pemikiran pendidikan akhlaq Ibn Miskawaih secara umum.

MENGENAL IBN MISKAWAIH; SEBUAH SKETSA BIOGRAFIS

Nama lengkapnya adalah Abu Ali al-Khasim Ahmad bin Ya’kub bin Maskawaih. Ia lebih dikenal dengan nama Ibn Miskawaih.[6] Beliau dilahirkan di kota Ray (Iran) pada tahun 320 H/932 M[7]. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, Ibn Miskawaih mempelajari kitab Tarikh al-Thabari kepada Abu Bakar Ahmad ibn Kamil al-Qadhi (w. 350 H/960 M). Selain belajar sejarah, beliau pun mempelajari filsafat kepada Ibn al-Khammar, salah seorang komentator Aristoteles[8] dan al-Hasan bin Siwar, seorang ‘ulama pengkaji filsafat, kedokteran dan logika.[9] Tidak hanya sebatas itu, beliau pun mempelajari ilmu bahasa, ilmu kedokteran, ilmu fiqh, hadits, matematika, musik, ilmu militer,[10] dan lainnya. Karena beliau memiliki tingkat kecerdasan yang sangat tinggi, maka beliau pun dapat melahap habis semua pelajaran yang diberikan kepadanya. Walhasil, beliau pun menjadi salah seorang filsuf Islam terkemuka di zamannya.

Sebagai seorang pemikir besar, Ibn Miskawaih telah melahap seluruh kitab-kitab filsafat dari warisan peradaban pra-Islam. Pada masanya, beliau banyak membaca dan menelaah kitab-kitab pemikir dari berbagai peradaban seperti Yunani, Persia, Romawi, dan lainnya. Karena itu pula, pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh dari berbagai peradaban itu memberikan pengaruh yang tidak kecil bagi Ibn Miskawaih. Hal ini terlihat jelas, ketika Ibn Miskawaih merumuskan pandangannya, beliau pun mengkombinasikan pemikiran-pemikiran dari Plato, Aristoteles, Galen dan ajaran Islam.[11]

Ibn Miskawaih hidup pada masa dinasti Buwaihi. Ketika masih muda, ia mengabdi kepada Abu Muhammad al-Hasan al-Muhallabi, wazir pangeran Buwaihi, Mu’iz ad-Daulah di Baghdad.[12] Setelah Al-Muhallabi itu wafat pada tahun 352 H/963 M), Ibn Miskawaih pun mendekati Ibn al-‘Amid di Ray, wazir dari Rukn al-Daulah. Rukn al-Daulah ini tidak lain adalah saudara Mu’iz al-Daulah. Ibn al-‘Amid bukan orang sembarangan, sebab ia seorang tokoh sastra terkenal. Tidak hanya itu, Ibn al-‘Amid bekerja sebagai pustakawan. Karena Ibn al-‘Amid menjadi wazir dari Rukn al-Daulah, maka beliau pun mendapat kedudukan terhormat di ibukota pemerintahan dinasti Buwaihi tersebut.[13] Pada tahun 360 H/970 M, al-‘Amid wafat, sehingga kedududkannya digantikan oleh anaknya, yakni Abu al-Fath. Ibn Miskawaih pun mengabdi kepada anak al-‘Amid ini. Pada tahun 366 H/976 M, Abu al-Fath wafat, sehingga jabatan wazir direbut oleh musuhnya yang bernama al-Shahib ibn ‘Abbad. Karena musuh Abu al-Fath merebut kekuasaan, maka sebagai pendukung Abu al-Fath, Ibn Miskawaih pun meninggalkan kota Ray. Kemudian, Ibn Miskawaih berangkat menuju Baghdad. Di kota ini, Ibn Miskawaih mengabdikan diri kepada penguasa Dinasti Buwaihi, yakni ‘Adhud al-Daulah. Pada masa ini, Ibn Miskawaih diangkat sebagai bendahara penguasa dinasti Buwaihi. Setelah ‘Adhud al-Daulah wafat, Ibn Miskawaih tetap mengabdi kepada para pengganti pangeran dinasti Buwaihi ini, yakni Shamsham al-Daulah (388 H/998 M) dan Baha’ al-Daulah (403 H/1012 M).[14]

Ibn Miskawaih hidup sebagai seorang Syi’ah. Para penulis biografi pun memasukkan nya ke dalam daftar ulama dan filosof Syi’ah karena beberapa pandangannya menegaskan keharusan kemaksuman para imam. Sebagai seorang filsuf, Ibn Miskawaih banyak berdebat dengan para filsuf sezamannya, seperi Ibn Sina.[15]

Meskipun beliau menduduki jabatan strategis di pemerintahan Dinasti Buwaihi, namun hal itu tidak membuatnya malas menulis. Hal ini terbukti karena beliau banyak menulis kitab-kitab yang bermutu tinggi, antara lain al-Fauz al-Akbar; al-Fauz al-Ashghar; Tajarib al-Umam; Uns al-Farid; Tartib al-Sa’adah; al-Mustaufa; Jawidan Khirad; al-Jami’; al-Siya; On the Simple Drugs; On the Compositions of the Bajats; Kitab al-Asyribah; Tahdzib al-Akhlaq; Risalah fi al-Lazzah wa al-Alam fi jauhar al-Nafs; Ajwibah wa As’ilah fi al Nafs wa al-‘Aql; al-Jawab fi al-Masa’il al-Tsalas; Risalah fi Jawab fi Su’al Ali ibn Muhammad Abu Hayyan al-Shufi fi Haqiqah al-‘Aql; dan Thaharah al-Nafs.[16]

Ibn Miskawaih wafat di Isfahan (Iran) pada 9 Shafar 421 H[17]/1030 M.[18]

HAKIKAT JIWA MANUSIA

Menurut Ibn Miskawaih, manusia memiliki kemiripan dengan alam semesta. Karena itu, jika alam semesta disebut sebagai makrokosmos, maka manusia disebut sebagai mikrokosmos. Di samping memiliki panca indra, manusia memiliki indra bersama. Indra bersama ini berperan sebagai pengikat sesama indra. Indra bersama ini memiliki ciri. Ciri-ciri indra bersama ini adalah bahwa indra bersama dapat menerima citra-citra indrawi secara serentak, tanpa zaman, tempat, dan pembagian. Kemudian, citra-citra itu tidak saling bercampur dan saling mendesak. Daya indra bersama ini beralih ke tingkat daya khayal, sebuah daya yang berada di bagian depan otak. Dari daya khayal ini beralih ke daya fikir. Daya berfikir ini dapat berhubungan dengan Akal Aktif guna mengetahui hal-hal Ilahi.[19]

Menurut Ibn Miskawaih, pada diri manusia terdapat tubuh dan jiwa. Jiwa tidak dapat menjadi sebuah fungsi dari materi. Hal ini karena dua hal. Pertama. Suatu benda yang berbeda-beda bentuk dan keadaannya, dengan sendirinya tidak bisa menjadi salah satu dari bentuk-bentuk dan keadaan-keadaan itu. Suatu benda yang warnanya bermacam-macam tentu, dalam pembawaannya sendiri, tidak berwarna. Jiwa, dalam mempersepsi obyek-obyek eksternal, mengasumsi, seolah-olah, berbagai bentuk dan keadaan; karena itu, jiwa tidak dapat dianggap sebagai salah satu dari bentuk-bentuk itu. Kedua. Atribut-atribut itu terus menerus berubah; tentu ada, di luar lingkup perubahan, substratum permanen tertentu yang menjadi fondasi identitas personal.[20]

Karena jiwa tidak dapat dianggap sebagai suatu fungsi dari materi, maka Ibn Miskawaih mencoba membuktikan bahwa jiwa bukan materi. Alasan-alasannya sebagai berikut:

  1. Indra, setelah mempersepsi suatu rangsangan kuat, selama beberapa waktu, tidak lagi mampu mempersepsi rangsangan yang lebih lemah. Namun demikian, ini berbeda benar dengan aksi mental intuisi.
  2. Jika kita renungkan suatu subyek yang musykil, kita berusaha keras untuk sepenuhnya menutup kedua belah mata kita terhadap obyek-obyek di sekitar kita, yang kita anggap sebagai sedemikian banyak halangan bagi aktifitas spiritual. Jika esensi jiwa adalah materi, maka agar aktifitasnya tak terhambat, jiwa tidak perlu lari dari dunia materi.
  3. Mempersepsi rangsangan kuat memperlemah dan kadang-kadang merugikan indra. Di sisi lain, intelek berkembang menjadi kuat dengan mengetahui ide-ide dan faham-faham umum.
  4. kelemahan fisik yang disebabkan oleh umur yang tua tidak mempengaruhi kekuatan mental.
  5. Jiwa dapat memahami proposisi-proposisi tertentu yang tidak mempunyai pertalian dengan data indrawi. Indra misalnya, tidak mampu memahami bahwa dua hal yang bertentangan tidak dapat ada bersama.
  6. Ada suatu kekuatan tertentu pada diri kita yang mengatur organ-organ fisik, membetulkan kesalahan-kesalahan inderawi, dan menyatukan semua pengetahuan. Prinsip penyatuan yang merenung-renungkan materi yang dibawa dihadapannya melalui saluran indrawi, dan yang menimbulkan evidensi (bukti) masing-masing indra, inilah yang menentukan karakter keadaan-keadaan tandingan, maka dengan sendirinya jiwa itu harus berada di atas lingkungan materi.[21]

Menurutnya, jiwa bukan bagian dari tubuh dan bukan aksiden tubuh. Pada wujudnya, jiwa tidak butuh kekuatan tubuh. Jiwa merupakan substansi sederhana dan tidak dapat dapat ditangkap oleh panca indra. Antara jiwa dan hidup itu tidak sama. Jiwa itu suatu esensi yang hidup dan kekal, serta bisa mencapai kesempurnaan hidup di dunia. Selanjutnya, menurutnya, perbedaan antara jiwa manusia dari jiwa binatang adalah potensi akal. Jiwa manusia memiliki potensi akal. Potensi akan adalah potensi untuk memiliki pengetahuan teoritis dan pengetahuan praktis.[22]

Secara lengkap, Ibn Miskawaih menuliskan pemikirannya tentang jiwa di dalam bukunya yang berjudul Tahzib al-Akhlaq. Dalam buku ini, ibn Miskawaih menulis bahwa manusia terdiri atas dua unsur yakni tubuh dan jiwa. Tubuh manusia itu materi (jauhar) dan berbentuk (‘Aradh). Tubuh manusia dan fakultas-fakultasnya mengetahui ilmu melalui indra. Tubuh sangat butuh terhadap indranya. Tubuh pun sangat berhasrat terhadap hal-hal indrawi semacam kenikmatan jasadi, keinginan balas dendam, dan ego untuk menang. Melalui hal ini, kekuatan tubuh akan bertambah dan tubuh akan terus mengalami kesempurnaan. Kesempurnaan eksistensi tubuh manusia terkait erat dengan hal-hal seperti itu. Sementara itu, jiwa itu bukan tubuh, bukan bagian dari tubuh, serta bukan pula materi. Jiwa manusia ini tidak cocok dengan hal-hal jasadi. Ketika jiwa dapat menjauhi hal-hal jasadi, maka jiwa akan semakin sempurna. Jiwa memiliki kecenderungan kepada selain hal-hal jasadi. Jiwa ingin mengetahui realitas Ilahiah. Jiwa pun sangat mendambakan sesuatu hal yang lebih mulia dari hal-hal jasmaniah. Jiwa ingin menjauhkan diri dari kenikmatan jasmani, dan berharap mendapatkan kenikmatan akal. Dari aspek ini, jelas jiwa lebih mulia dari pada benda-benda jasadi.[23]

Menurut Ibn Miskawaih, jiwa mendapat banyak prinsip ilmu pengetahuan melalui indra. Namun begitu, jiwa ini sendiri memiliki prinsip lain serta tingkah laku yang lain pula. Tidak seperti indra karena indra hanya mengetahui obyek indrawi, maka jiwa mampu mengetahui sebab-sebab harmonis dan bertolak belakang dari segala hal yang dapat diindra tadi. Di samping itu, jiwa dapat mengetahui kesalahan dan keabsahan indra, namun pengetahuan jiwa ini bukan dari indra, namun dari hasil kesimpulan jiwa itu sendiri. Selain itu, jiwa itu pun dapat mengetahui dirinya sendiri. Jika jiwa mengetahui bahwa dirinya (jiwa) memahami ma’qulat-nya sendiri, maka jiwa mengetahuinya bukan dari sumber lain, melainkan dari dirinya sendiri. Hal ini lumrah, karena jiwa itu mengetahui segala hal baik dirinya maupun selainnya, dari esensi dan substansinya sendiri yakni akal. Dengan begitu, jiwa tidak membutuhkan sesuatu guna mengetahui sesuatu kecuali dirinya sendiri. Berdasarkan hal ini, maka akal, yang berfikir, dan objek yang dipikirkan itu satu kesatuan. Secara agak mendalam dapat disimpulkan bahwa prilaku jiwa itu sendiri bisa dikatakan ilmu pengetahuan.[24]

Ibn Miskawaih menjelaskan tentang kebajikan jiwa. Menurutnya, keutamaan atau kebajikan jiwa terletak pada kecenderungan jiwa kepada dirinya sendiri, yakni ilmu pengetahuan, sembari tidak cenderung kepada tingkah laku tubuh. Kebajikan jiwa diukur dari sejauh mana jiwa mengupayakan kebajikan dan mendambakannya. Keutamaan ini akan terus meningkat ketika jiwa memperhatikan dirinya sendiri serta berusaha keras menyingkirkan segala rintangan bagi pencapaian tingkat keutamaan seperti ini. Namun demikian, Ibn Miskawaih menyadari bahwa pencapaian tingkat keutamaan ini memiliki kendala. Kendala ini tidak lain segala hal bersifat badani, indrawi, serta segala hal yang berhubungan dengan keduanya. Ketika kendala ini berhasil dihadapi oleh jiwa, dan jiwa itu suci dari segala perbuatan keji (nafsu badani dan nasfu hewani), maka keutamaan-keutamaan itu akan tercapai. Dengan kata lain, keutamaan jiwa lahir ketika jiwa suci dari nafsu badani dan nafsu hewani.[25]

Secara umum, Ibn Miskawaih membagi kekuatan jiwa menjadi tiga macam, yakni al-Quwwah al-Natiqah, al-Quwwah Syahwiyyah, dan al-Quwwah al-Ghadabiyyah. Adalah al-Quwwah al-Natiqah sebuah fakultas yang berkaitan dengan berfikir, melihat, dan mempertimbangkan segala sesuatu. Fakultas ini disebut fakultas raja. Fakultas ini menggunakan organ tubuh otak. Sementara al-Quwwah Syahwiyyah sebuah fakultas yang berkaitan dengan marah, berani, berani menghadapi bahaya, ingin berkuasa, menghargai diri, dan menginginkan bermacam-macam kehormatan. Fakultas ini disebut sebagai fakultas binatang. Organ tubuh yang digunakannya adalah hati. Terakhir, al-Quwwah al-Ghadabiyyah sebagai sebuah fakultas yang berkenaan dengan nafsu syahwat dan makan, keinginan pada nikmatnya makanan, minuman, senggama, dan kenikmatan indrawi lainnya. Ketigas fakultas ini berbeda antara satu dengan lainnya. Fakultas ini disebut fakultas binatang buas. Fakultas ini menggunakan organ jantung.[26]

PRINSIP-PRINSIP AKHLAK

Pada pembahasan terdahulu telah dikemukakan tentang tiga daya jiwa. Ketiga daya ini melahirkan sifat kebajikan. Jumlah keutamaan (kebajikan) sama dengan jumlah fakultas-fakultas dan kebalikan dari keutamaan-keutamaan ini. Menurut Ibn Miskawaih, ketika aktifitas jiwa kebinatangan dikendalikan oleh jiwa berfikir, dan jiwa itu tidak tenggelam dalam memenuhi keinginannya sendiri, maka jiwa ini akan mencapai kebajikan sikap sederhana (iffah) yang diiringi kebajikan dermawan. Sementara itu, ketika jiwa amarah memadai dan mematuhi segala aturan yang ditetapkan oleh jiwa berfikir serta tidak bangkit pada waktu yang tidak tepat, maka jiwa ini akan mencapai kebajikan sikap sabar yang diiringi kebajikan sikap berani. Setelah itu, dari ketiga kebajikan itu satu kebajikan lain sebagai kelengkapan dan kesempurnaan tiga kebajikan itu, yakni kebajikan sifat adil. Kebajikan sikap adil ini berhubungan dengan tepat antara kebajikan satu dengan kebajikan lainnya. Jadi, keutamaan (kebajikan) manusia itu terdiri atas empat hal yakni arif, sederhana, berani, dan adil.[27]

Sementara itu, keempat keutamaan (kebajikan) ini memiliki lawan. Kebalikan dari keempat keutamaan ini terbagi atas empat pula, yakni bodoh, rakus, pengecut dan lalim. Keempat sifat ini dapat dikatakan sebagai penyakit jiwa dan menimbulkan banyak kepedihan seperti perasaan takut, sedih, marah, berjenis-jenis cinta dan keinginan, dan karakter buruk lainnya.[28]

Menurut Ibn Miskawaih, keutamaan adalah kebaikan. Sementara ketidakutamaan sebagai lawan dari keutamaan adalah kejahatan. Menurut tokoh ini, kebaikan merupakan hal yang dapat dicapai oleh manusia dengan melaksanakan kemauannya dan dengan berupaya dan dengan hal yang berkaitan dengan tujuan diciptakannya manusia. Sementara keburukan atau kejahatan adalah hal yang menjadi penghambat manusia mencapai kebaikan, baik berupa kemauan dan upayanya atau berupa kemalasan dan keengganannya mencari kebaikan.[29]

Ibn Miskawaih telah memberikan definisi keempat keutamaan (kebajikan) tersebut dan macam-macam dari keempat keutamaan itu. Menurutnya, kearifan adalah keutamaan dari jiwa berfikir dan mengetahui. Kearifan ini memiliki bagian-bagian seperti pintar, ingat, berfikir,  cepat memahami dan benar pemahamannya, jerni pikiran, serta mampu belajar dengan mudah. Sederhana adalah keutamaan dari bagian hawa nafsu. Keberanian adalah keutamaan jiwa amarah. Keberanian ini dibagi menjadi beberapa bagian pula yakni besar jiwa, ulet, tegar, tabah, menguasai diri, perkasa serta ulet dalam bekerja. Sederhana ini memiliki bagian-bagian yakni rasa malu, tenang, dermawan, integritas, puas, loyal, berdisiplin diri, optimis, kelembutan, anggun berwibawa, dan wara’. Sementara keadilan adalah kebajikan jiwa yang timbul akibat menyatunya tiga kebajikan tersebut. Keadilan ini dibagi atas beberapa bagian, yakni bersahabat, bersemangat, sosial, silaturahmi, memberi imbalan, bersikap baik dalam kerjasama, jeli dalam memutuskan masalah, cinta kasih, beribadah, jauh dari rasa dengki, memberi imbalan terbaik meski sedang ditimpa keburukan, berpenampilan lembut, berwibawa di segala bidang, menjauhkan diri dari bermusuhan, tidak menceritakan hal yang tidak layak, mengikuti orang-orang yang berkata dengan benar, tidak bicara tentang sesama Muslim bila tidak ada kebaikannya, menjauhi diri dari kata-kata buruk, tidak betah berucap kalau cuma akan menjatuhkan seseorang, tidak peduli pada perkataan orang pelit waktu berbicara di depan umum, mendalami masalah seseorang yang perlu dibantu, dan mengulang pertanyaan bila belum jelas. Ibn Miskawaih menuliskan bahwa dermawan termasuk pada sifat kebajikan. Dermawan adalah kecenderungan untuk berada di tengah dalam soal memberi. Dermawan ini memiliki bagian-bagian yakni murah hati, mementingkan orang lain, rela, berbakti, dan tangan terbuka.[30]

Menurut Ibn Miskawaih, kebajikan merupakan titik tengah antara dua ujung. Ujung-ujung itu merupakan keburukan-keburukan. Dengan demikian, kebajikan-kebajikan di atas pun berada pada titik tengah antara dua keburukan. Karena itu, kearifan adalah titik tengah yang letaknya ada di antara bodoh dan dungu. Pandai antara titik tengah yang terletak pada posisi antara kebusukan mental dan ketololan. Ingat adalah titik tengah yang terletak antara posisi antara dua lupa, yakni melalaikan segala yang mesti diingat dan memperhatikan apa yang harus diingat. Kecemerlangan adalah titik tengah antara memikirkan sesuatu yang tidak semestinya dipikirkan dan kurang memikirkan sesuatu yang semestinya dipikirkan. Sederhana merupakan titik tengah antara memperturutkan hawa nafsu dan mengabaikan hawa nafsu. Keberanian merupakan titik tengah antara pengecut dan sembrono. Keadilan merupakan titik tengah antara berbuat lalim dan dilalimi. Begitu pula kebajikan-kebajikan lainnya merupakan titik tengah antara dua keburukan dan kehinaan.[31]

Bagi Ibn Miskawaih, kebajikan hanya dapat dicapai seseorang, jika orang tersebut bergaul dengan masyarakat. Menurutnya, manusia tidak akan pernah dapat mencapai kesempurnaan dengan hidup menyendiri. Manusia memerlukan orang lain pada komunitas tertentu agar kebahagiaan insaninya tercapai. Manusia niscaya memerlukan manusia lain selain dirinya. Seorang manusia harus bersahabat dengan manusia lain dan harus menyayanginya secara tulus. Sebab, mereka melengkapi eksistensinya sekaligus menyempurnakan kemanusiaannya dengan hal ini. Hal ini karena manusia sebagai makhluq sosial. Tanpa bergaul dengan masyarakat, maka manusia itu tidak akan dapat menggapai kebajikan.[32]

Di samping masalah kebajikan (keutamaan), menurut Ibn Miskawaih bahwa masalah pokok kajian akhlaq adalah kebaikan dan kebahagiaan. Pembahasan ini memiliki kaitan erat dengan pembahasan akhlaq. Menurut Ibn Miskawaih, kebaikan diartikan sebagai tujuan setiap sesuatu. Jadi, kebaikan berarti tujuan terakhir. Sementara kebahagiaan diartikan sebagai kebaikan dalam kaitannya dengan pemiliknya dan kesempurnaan bagi pemiliknya. Dengan kata lain, kebahagian itu bagian dari kebaikan. Secara agak mendalam, maka kebahagiaan dapat diartikan sebagai kesempurnaan dan akhir dari kebaikan. Kebahagiaan merupakan kebaikan paling utama di antara seluruh kebaikan lainnya.[33]

Menurut Ibn Miskawaih, karena manusia terdiri atas dua unsur yakni tubuh dan jiwa, maka kebahagiaan itu meliputi keduanya. Kebahagiaan itu ada dua tingkat, pertama kebahagiaan jasmani dan kedua kebahagiaan jiwa. Bagi Ibn Miskawaih, kebahagiaan seseorang berada pada salah satu dari dua tingkatan, yakni: Pertama. Ketika manusia itu berada pada tingkatan hal-hal jasmani menyatu dengan keadaan-keadaan rendah mereka dan berbahagian di dalamnya. Keadaan-keadaan rendah ini diartikan sebagai segala hal yang dapat dijangkau oleh indra. Kedua, bersamaan dengan itu pula, ketika manusia itu mencari hal-hal mulia, berupaya mendapatkan hal-hal mulia, menyukainya, dan merasa puas dengannya. Bisa dikatakan pula ketika manusia itu berada pada tingkatan ruhani, lekat dengan hal-hal tinggi, dan berbahagian di dalamnya. Bersamaan dengan ini, manusia itu mengamati dan menelaah hal-hal rendah, mengambil pelajaran darinya, merenungkan tanda-tanda kebesaran Ilahi dan bukti-bukti kearifan sempurna, mengikuti contoh-contohnya, mengaturnya, melimpahkan bermacam-macam kebaikan padanya, dan memandunya memperoleh kebaikan demi kebaikan sebatas kesanggupannya. Dengan kata lain, seseorang dikatakan bahagia ketika orang tersebut berada pada salah satu dari dua tingkatan di atas.[34]

Di samping masalah kebajikan; serta kebaikan dan kebahagiaan, Ibn Miskawaih pun membicarakan masalah cinta. Menurut Ibn Miskawaih bahwa asas semua keutamaan adalah cinta kepada semua manusia. Jika manusia tidak memiliki cinta, maka suatu komunitas masyarakat tidak akan dapat ditegakkan. Bahkan manusia tidak akan sampai kepada tingkat kesempurnaannya kecuali manusia itu memelihara jenisnya dan menunjukkan pengertiannya terhadap sesama jenisnya. Menurutnya, cinta tidak akan berbekas kecuali jika manusia berada di tengah-tengah masyarakat. Karena itu, jika seorang manusia mengasingkan diri dari masyarakat, maka manusia itu belum dapat dinilai sebagai seorang pemilik sifat terpuji atau tercela. Penilaian itu dapat diberikan ketika manusia itu telah berkecimpung di dalam komunitasnya. Tidak hanya itu, suatu masyarakat buruk tidak akan dapat berubah jika orang-orang terbaik di dalamnya mengasingkan diri tanpa ingin memberikan pertolongan bagi perbaikan masyarakat itu.[35]

HAKIKAT AKHLAK

Menurut Ibn Miskawaih, akhlaq adalah suatu keadaan jiwa. Keadaan ini menyebabkan jiwa bertindak tanpa dipikir atau dipertimbangkan secara mendalam. Ibn Miskawaih membagi asal keadaan jiwa ini menjadi dua jenis. Pertama alamiah dan bertolak dari watak. Kedua tercipta melalui kebiasaan dan latihan. Baginya akhlaq itu alami sifatnya namun akhlaq pun dapat berubah cepat atau lambat melalui disiplin serta nasihat-nasihat yang mulia. Pada mulanya, keadaan ini terjadi karena dipertimbangkan dan dipikirkan, namun kemudian melalui praktik terus menerus akan menjadi akhlaq.[36]

Kedua pandangan Ibn Miskawaih ini dapat dirujuk kepada pemikiran-pemikiran filsuf pra-Islam seperti Galen dan Aristoteles. Berkenaan dengan akhlaq sebagai sesuatu berasal dari alamiah dan bertolak dari watak, pandangan ini diambil Ibn Miskawaih dari pemikiran kaum Stoik, sekelompok pemikir pra-Stoik, dan Galen. Bagi kaum Stoik, manusia secara alami baik. Bagi pemikir pra-Stoik, manusia itu secara alami buruk. Sementara bagi Galen, sebagian manusia secara alami bermoral baik. Jumlah manusia seperti ini sedikit. Mereka pun tidak akan berubah menjadi manusia bermoral buruk. Sebagian manusia lain secara alami bermoral buruk. Jumlah manusia seperti ini sangat banyak. Mereka tidak akan pernah berubah menjadi manusia bermoral baik. Terakhir, sebagian manusia berada pada posisi tengah-tengah, yakni mereka bisa berubah menjadi baik akibat bergaul dengan orang-orang yang baik dan mengikuti ajakan mereka. Mereka pun bisa berubah menjadi buruk akibat bergaul dengan orang-orang jahat, dan mereka mau mengikutinya. Berkenaan dengan akhlaq sebagai hal yang berasal dari proses latihan dan kebiasaan, pemikiran ini berasal dari Aristoteles. Bagi Aristoteles, orang yang buruk bisa berubah menjadi baik melalui pendidikan. Melalui nasehat yang berulang-ulang dan disiplin, serta bimbingan yang baik, akan melahirkan hasil-hasil yang berbeda-beda pada berbagai orang. Sebagian mereka tanggap dan menerimanya, sementara sebagian lain tidak menerimanya.[37]

PENDIDIKAN AKHLAK

Sebagai filsuf akhlaq, Ibn Miskawaih memberikan perhatian serius terhadap pendidikan akhlaq anak-anak. Menurut Ibn Miskawaih, jiwa seorang anak itu diibaratkan sebagai mata rantai antara jiwa binatang dan jiwa manusia berakal. Pada jiwa anak-anak ini, jiwa binatang berakhir sementara jiwa manusia mulai muncul. Menurutnya, anak-anak harus dididik mulai dengan menyesuaikan rencana-rencananya dengan urutan daya-daya yang ada pada anak-anak, yakni daya keinginan, daya marah, dan daya berfikir. Dengan daya keinginan, anak-anak dididik dalam hal adab makan, minum, berpakaian, dan lainnya. Sementara daya berani diterapkan untuk mengarahkan daya marah. Kemudian daya berfikir dilatih dengan menalar, sehingga akan dapat menguasai segala tingkah laku.[38]

Kehidupan utama anak-anak memerlukan dua syarat, yakni syarat kejiwaan dan syarat sosial. Syarat pertama tersimpul dalam menumbuhkan watak cinta kepada kebaikan. Hal ini dapat dilakukan dengan muda pada anak yang berbakat baik. Bagi anak-anak tidak berbakat, maka hal ini bisa dilakukan dengan cata latihan membiasakan diri agar cenderung kepada kebaikan. Syarat kedua dapat dicapai dengan cara memilihkan teman-teman yang baik, menjauhkan anak dari pergaulan dengan teman-temannya yang berakhlaq buruk, menumbuhkan rasa percaya diri pada dirinya, dan menjauhkan anak-anak dari lingkungan keluarganya pada saat-saat tertentu, serta memasukkan mereka ke tempat kondusif.

Selanjutnya Ibn Miskawaih menyatakan bahwa banyak tingkatan manusia dalam menerima akhlaq. Dalam konteks anak-anak, Ibn Miskawaih menyebutkan bahwa akhlaq atau karakter mereka muncul sejak awal pertumbuhan mereka. Anak-anak tidak menutup-nutupi dengan sengaja dan sadar, sebagaimana dilakukan orang dewasa. Seorang anak terkadang merasa enggan untuk memperbaiki karakternya. Karakter mereka itu mulai dari karakter yang keras sampai kepada karakter yang malu-malu. Terkadang karakter anak-anak itu baik, terkadang pula buruk seperti kikir, keras kepala, dengki, dan seterusnya. Keberadaan pelbagai karakter anak ini menjadi bukti bahwa anak-anak tidak memiliki tingkatan karakter yang sama. Tak hanya itu, sebagian mereka tanggap dan sebagian lain tidak tanggap, sebagian mereka lembut dan sebagian lagi keras, sebagian mereka baik dan sebagian lain buruk. Namun sebagian mereka berada pada posisi tengah di antara kedua kubu ini. Sebagai pendidik, maka orang tua harus mendisiplinkan karakter mereka. Jika tabiat-tabiat ini diabaikan, tidak didisiplinkan, dan di koreksi, maka mereka akan tumbuh berkembang mengukuti tabiatnya. Selama hidupnya, kondisinya tidak akan berubah. Mereka akan memuaskan diri sesuai dengan apa yang dianggapnya cocok menurut selera alamiahnya, dan seterusnya.[39]

Tidak sebatas itu, Ibn Miskawaih memandang syari’at agama dapat menjadi faktor guna meluruskan karakter remaja. Syari’at agama menjadi penting karena dapat membiasakan mereka untuk melakukan perbuatan yang baik. Syari’at agama pun dapat mempersiapkan diri mereka untuk menerima kearifan, mengupayakan kebajikan dan mencapai kebahagiaan melalui berfikir dan penalaran yang akurat. Dalam konteks ini, sebagai pendidik, maka orang tua wajib mendidik mereka agar menaati syari’at ini, agar berbuat baik. Hal ini dapat dilakukan melalui nasehat, pemberian ganjaran dan hukuman. Jika mereka telah membiasakan diri dengan prilaku ini, dan kondisi ini terus berlangsung lama, maka mereka akan melihat hasil dari prilaku mereka itu. Mereka pun akan mengetahui jalan kebajikan dan sampailah mereka pada tujuan mereka dengan cara yang baik.[40]

Menurut Ibn Miskawaih, tujuan pendidikan akhlaq ini adalah mencetak tingkah laku manusia yang baik, sehingga manusia itu dapat berprilaku terpuji dan sempurna sesuai dengan substansinya sebagai manusia, serta bertujuan mengangkat manusia dari derajat yang paling tercela sebagai derajat yang dikutuk oleh Allah SWT. Secara tegas dapat dikatakan bahwa menurut Ibn Miskawaih bahwa pendidikan akhlaq ini bertujuan agar manusia menjadi manusia sempurna.[41]

Menurut Ibn Miskawaih, kesempurnaan manusia memiliki tingkatan dan substansi. Baginya kesempurnaan manusia ada dua maca, yakni kesempurnaan kognitif dan kesempurnaan praktis. Kesempurnaan kognitif terwujud jika manusia mendapatkan pengetahuan sedemikian rupa sehingga persepsinya, wawasannya, dan kerangka berfikirnya menjadi akurat. Sementara kesempurnaan praktis ialah kesempurnaan karakter. Menurut Ibn Miskawaih, kesempurnaan teoritis (kognitif) berkenaan dengan kesempurnaan praktis. Kesempurnaan teoritis tidak lengkap tanpa kesempurnaan praktis, begitu pula sebaliknya. Hal ini karena pengetahuan adalah permulaannya dan perbuatan itu akhirnya. Kesempurnaan sejati tercapai jika keduanya berjalin berkelindan. Di pihak lain, bagi Ibn Miskawaih bahwa kesempurnaan manusia itu terletak pada kenikmatan spiritual, bukan kenikmatan jasmani.[42]

Ibn Miskawaih menuliskan tentang metode agar seorang manusia dapat mencapai kesempurnaan itu. Yakni seorang manusia harus mengetahui kekurangan-kekurangan tubuh dan jiwa dan kebutuhan-kebutuhan primernya untuk melenyapkan kekurangan-kekurangan itu serta memperbaikinya. Dalam konteks tubuh, maka seorang manusia harus mengetahui kekurangan-kekurangan jasmani dan kebutuhan-kebutuhan primernya untuk melenyapkan kekurangan-kekurangan itu serta memperbaikinya. Kebutuhan jasmani adalah makanan, pakaian, senggama, dan lainnya. Karena itu, seorang manusia harus mengambilkan hanya bila diperlukan untuk menghilangkan ketidaksempurnaannya dan demi kelangsungan hidupnya. Kemudian, manusia itu pun tidak boleh melampaui batas dalam memenuhi kebutuhan tubuhnya. Dalam konteks jiwa, maka seorang manusia harus mengetahui kekurangan-kekurangan jasmani dan kebutuhan-kebutuhan primernya untuk melenyapkan kekurangan-kekurangan itu serta memperbaikinya. kebutuhan jiwa adalah pengetahuan, mendapatkan objek-objek fikiran, membuktikan kebenaran pendapat, menerima kebenaran, dan seterusnya. Seorang manusia harus mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan jiwa ini, serta mengetahui kekurangan dan melenyapkan kekurangan tersebut.[43]

Ibn Miskawaih memberikan perhatian besar terhadap pendidikan akhlaq bagi anak-anak. Hal ini bertujuan agar anak dapat memiliki akhlaq sempurna dan segara menggapai kesempurnaannya. Pendidikan akhlaq ini dapat dicapai dengan melakukan hal-hal sebagai berikut[44]:

  1. Seorang pendidik hendaknya mendidik manusia sejak kecil untuk mengikuti syari’at agama agar terbiasa mengerjakan kewajiban-kewajiban agama, membaca buku-buku akhlaq agar akhlaqk dan kualitas terpuji merasuk dalam dirinya melalui dalil-dalil rasional, dan mempalajari matematika sehingga terbiasa dengan perkataan dan argumentasi yang benar dan tepat. Jika semua hal ini dilakukan, maka seseorang dapat mencapai tingkat manusia sempurna, sebagaimana dijelaskan di atas.
  2. Jika seorang anak dididik dengan kesenangan dan kenikmatan jasmani, sehingga jiwa dan raganya telah terbiasa dengan hal-hal yang bersifat jasmaniah itu, maka hendaknya orang tua atau pendidik lain mengajari anak itu agar anak itu memandang semua kesenangan dan kenikmatan jasmani tersebut sebagai kesengsaraan dan kerugian, bukan sebagai kebahagiaan dan keberuntungan. Hendak pula anak itu diajari agar anak itu menjauhkan dirinya dari kenikmatan seperti itu secara perlahan.
  3. Orang tua harus memahami jiwa anak-anak secara umum. Secara umum dikatakan bahwa seorang anak kecil itu malu-malu. Dia akan menundukkan kepalanya ke bawah. Dia pun takut dan tidak berani menatap wajah orang dewasa. Hal ini mengindikasikan bahwa anak tersebut telah mulai mampu membedakan baik dan buruk. Rasa malunya itu merupakan pengekangan diri yang terjadi karena anak itu khawatir jika ada keburukan yang muncul dari dirinya. Jiwa seperti ini siap menerima pendidikan dan cocok untuk dipupuk.
  4. Orang tua harus memilihkan teman bergaul yang berakhlaq mulia untuk anaknya. Seorang anak tidak boleh dibiarkan bergaul dengan orang-orang yang berakhlaq buruk, karena orang-orang seperti itu akan merusak jiwanya. Sebab jiwa anak kecil masih sederhana dan belum menerima gambar apa pun serta belum mempunyai pendapat yang akan mengubahkan dari satu keadaan ke keadaan lain. Jika jiwa anak itu telah menerima gambar tertentu, maka anak ini akan tumbuh sesuai dengan jiwa seperti gambar yang diterimanya. Oleh sebab itu, jiwa seorang anak harus diupayakan agar mencintai kebaikan dan membenci keburukan.
  5. Orang tua harus mengajari anak agar berpakaian baik. Anak harus diajari agar berpakaian sesuai dengan jenis kelaminnya, memakai pakaian putih, dan lainnya.
  6. Orang tua harus membiasakan anak untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban agama.
  7. Orang tua harus memuji seorang anak ketika anak tersebut melakukan kebaikan dan akhlaq mulia.
  8. Orang tua hendaknya memerintahkan seorang anak agar menghafal tradisi-tradisi yang baik, syair-syair yang dapat membuatnya terbiasa melakukan moral terpuji.
  9. Orang tua hendaknya mengajari anaknya tentang tata cara makan yang baik. Orang tua harus mengajari anaknya bahwa tujuan makan bukan demi kenikmatan semata, melainkan demi kesehatan. Makan tidak boleh berlebihan dan melampaui batas. Orang tua pun harus memberi banyak makan di malam hari, sebab jika orang tua memberi makan di siang hari, maka anak menjadi malas, mengantuk, dan otaknya menjadi lamban.
  10. Orang tua harus mengajari anaknya agar anak tidak boleh menyembunyikan sesuatu. Sebab tidak mungkin dia berbuat begitu, kecuali dipastikan bahwa perbuatanmua buruk.
  11. Orang tua harus mengajari anaknya agar anak itu tidak tidur terlalu lama, karena akibatnya membuat otak anak menjadi bebal dan mematikan pikirannya. Jangan sampai dia terbiasa tidur siang. Jangan biarkan dia tidur ditempat empuk dan mewah agar dia terbiasa hidup sederhana.
  12. Orang tua harus mengajari anaknya agar anak itu sering berjalan, bergerak, berkuda, dan olah raga. Anak diajari agar tidak boleh jalan tergesa-gesa, bersikap angkuh, tetapi supaya anak itu sering mensedekapkan tangannya ke dada.
  13. Orang tua harus mengajari anaknya agar anak itu tidak boleh memanjangkan rambut (jika laki-laki), tidak boleh memakai pakaian yang tidak sesuai dengan jenis kelaminnya, tidak boleh memakai cincin, tidak boleh membanggakan kedua orang tuanya, tidak boleh sombong dan keras hati.
  14. Orang tua harus mengajari anaknya agar anak tidak boleh meludah, menguap, dan membuang ingus ketika sedang bersama orang lain. Tidak boleh bertopang dagu dan menyandarkan kepala pada kedua tangannya, sebab hal itu menunjukkan bahwa dia malas. Biasakan anak tidak berbohong dan tidak boleh bersumpah.
  15. Orang tua harus mengajari anaknya agar anaknya membiasakan tidak banyak bicara dan hanya menjawab pertanyaan. Hendaknya anak itu mendengarkan kata-kata orang tua dan diam dihadapan orang dewasa. Anak diajari agar tidak berkata kotor, hina, sumpah serapah, menuduh, dan tidak bicara senonoh. Biasakan dia dengan kata-kata anggun, bermuka manis kepada orang lain, tidak mengatakan kata-kata buruk di depan orang lain. Ajari anak hendaknya anak belajar melayani diri sendiri.
  16. Orang tua harus mengajari anaknya agar ketika anak dipukul oleh gurunya, maka dia tidak boleh mengadu dan tidak boleh meminta perlindungan orang lain, karena tindakan itu hanya pantas dilakukan para budak.
  17. Orang tua hendaknya tidak menakut-nakuti anak kecil. Berilah anak semangat, memberikan hadiah kepadanya jika mereka berbuat baik, agar anak tidak meminta-minta kepada orang lain. Upayakan mereka agar mereka benci kepada perhiasan dan agar mereka lebih takut pada keduanya ketimbang takut pada hewan buas.
  18. Orang tua harus membiasakan agar anak taat kepada kedua orang tua, dan pendidiknya. Biarkan dia bermain dengan permainan baik.

Menurut Ibn Miskawaih, semua hal yang disebutkan di atas sangat bermanfaat, tidak hanya bagi anak kecil, tetapi juga untuk anak-anak. Hal ini bermanfaat karena sikap-sikap seperti itu mendidik anak untuk cinta kepada kebajikan dan kemuliaan, serta untuk tumbuh berkembang dengan kebajikan dan kemuliaan tersebut. Akibatnya, dia akan mudah menjauhi kehinaan dan keburukan, dan mudah mengikuti ajaran filsafat. Dia akan terbiasa mengekang diri dari hawa nafsu yang senantiasa menggodanya, serta bisa menjaga diri agar tidak hanyut oleh kenikmatan jasmaniah. Sikap baik itu akan membawanya kepada martabat yang yang tinggi.[45]

PENDIDIKAN JIWA MANUSIA

Menurut Ibn Miskawaih, pendidikan jiwa itu seperti halnya pendidikan jasmani yakni menjaga kesehatannya selagi sehat dan memilihkannya jika sakit. Di dalam karyanya, Ibn Miskawaih menuliskan sejumlah metode guna mendidik jiwa agar tetap sehat, yakni:[46]

  1. Tidak bergaul dengan orang-orang yang jiwanya tidak baik dan tidak bajik. Seseorang jika ingin mendidik jiwanya harus menjauhi orang-orang keji yang suka pada kenikmatan-kenikmatan buruk, suka berbuat dosa, bangga, dan tenggelam dalam dosa. Bergaul dengan orang-orang seperti mereka akan membuat jiwa kotor sehingga tidak dapat dibersihkan kecuali melalui waktu yang sangat lama. Manusia harus bergaul dengan pemilik jiwa yang baik dan bajik, jiwa yang suka mencari kebajikan dan ingin memilikinya, jiwa yang rindu pada ilmu-ilmu hakiki serta pengetahuan yang sahih.
  2. Khusuk melaksanakan tugas yang berkenaan dengan pengetahuan dan praktik, suatu tugas yang tak boleh diabaikan, sehingga kedua hal itu dapat melayani jiwa. Karena itu, seseorang harus melatih diri dengan berfikir dan mempelajari ilmu-ilmu matematika. Selain itu, olah raga diperlukan untuk menjaga kesehatan tubuh.
  3. Senantiasa melakukan hal-hal di atas. Karena dengan berbuat demikian, seseungguhnya seseorang sedang menjaga nikmat tiada tara yang mulia sebagai anugrah bagi jiwanya.
  4. Seseorang harus merasa cukup jika telah memperoleh kebahagiaan eksternal dan tidak hidup secara berlebihan. Sebab kebahagiaan eksternal tidak ada batasnya. Jika seseorang masih berupaya memperoleh kebahagiaan eksternal yang lebih banyak lagi, maka orang tersebut akan mengalami bahaya yang tak ada habisnya.
  5. Seseorang dianjurkan untuk tidak menggelorakan fakultas hawa nafsu dan amarah-nya dengan cara mengingatkan dirinya akan apa yang didapatnya dari masing-masing fakultas tadi.
  6. Seseorang harus memperhatikan seluruh tindakan dan rencananya, serta organ-organ tubuh dan jiwa yang akan digunakannya untuk melaksanakan rencananya itu, agar dia tidak menggunakannya menurut kebiasaan yang menyimpang dari pikirannya.
  7. Seseorang harus senantiasa introspeksi diri. Dia harus tahu cela apa yang terdapat dalam dirinya.
  8. Seseorang harus mampu menjauhkan diri dari penyakit-penyakit jiwa dan bahkan harus mampu mengidentifikasi pelbagai penyakit jiwa serta cara penyembuhannya. Orang tersebut harus mengetahui penyebab, akibat dan cara menyembuhkan penyakit-penyakit jiwa tersebut. Menurut Ibn Miskawaih, penyakit-penyakit jiwa itu tidak lain adalah kebalikan atau lawan dari kebajikan-kebajikan sebagaimana disebut di atas. Penyakit-penyakit jiwa itu adalah seperti bodoh, rakus, pengecut, dan lalim. Namun Ibn Miskawaih membagi lagi kejahatan dan kehinaan menjadi delapan bagian. Jumlah ini dua kali jumlah kebajikan yang empat. Kedelapan bagian itu adalah sembrono dan pengecut sebagai dua ujung dari satu titik tengah yang berupa berani. Kemudian memperturutkan hawa nafsu dan mengabaikan hawa nafsu sebagai dua ujung dari satu titik tengah yang berupa sederhana. Kemudian bodoh dan tolol sebagai dua ujung dari satu titik tengah yang berupa ‘arif. Dan lalim dan watak budak sebagai dua ujung dari satu titik tengah yang berupa adil. Kedelapan jenis penyakit jiwa ini bertolak belakang dengan empat kebajikan yang merupakan tanda kesehatan jiwa. Sebenarnya, di bawah penyakit-penyakit jiwa ini memiliki jenis-jenis penyakit lain yang tak terbatas. Perinciannya dapat dilihat beberapa contoh di bawah ini:

Marah

Menurut Ibn Miskawaih, marah juga merupakan salah satu bentuk penyakit jiwa. Penyebab marah ini adalah sombong, cekcok, meminta dengan sangat, bercanda, berolok-olok, mengejek, khianat, berbuat salah dan mencari hal-hal yang membawa kemasyhuran dan yang membuat manusia saling bersaing diri. Sifat marah ini menimbulkan hal-hal buruk seperti menyesal, mengharap dihukum cepat atau lambat, perubahan tempramen serta kepedihan. Sifat marah ini dapat disembuhkan dengan cara menyingkirkan sebab-sebab marah, melemahkan daya marah, menyabut substansi marah dan melindungi diri dari akibat-akibatnya. Selain itu, sifat marah dapat disembuhkan melalui cara menghentikan sikap melampaui batas.

Takut

Sebagai salah satu penyakit jiwa, sifat takut disebabkan oleh sejumlah hal, yakni merasa bakal terjadi sesuatu yang buruk, takut pada kejadian-kejadian yang bakan terjadi. Sebenarnya kejadian ini baru sebatas kemungkinan saja sehingga bisa terjadi dan bisa tidak terjadi. Karena itu jangan ditetapkan di dalam hati bahwa hal itu pasti terjadi, karena hal ini membuat kita takut. Inilah cara pengobatannya. Selain itu sifat takut disebabkan oleh pilihan buruk dan dosa sendiri. Hal ini dapat disembuhkan dengan jalan mengekang diri untuk tidak mengulangi perbuatan itu, tidak melakukan perbuatan bahaya, dan meninggalkan semua perbuatan keji yang kita cemaskan segala akibatnya. Ibn Miskawaih menyebutkan bahwa terkadang manusia itu takut tua dan takut mati. Untuk kasus takut tua, maka seseorang harus menyadari bahwa jika manusia menghendaki umur panjang, berarti dia pasti akan berusia tua dan mengantisipasinya bahwa hal itu akan terjadi. Untuk kasus takut mati, bahwa penyebab takut mati adalah orang tersebut tidak mengetahui hakikat jiwa, tidak tahu hakikat mati, menduga bahwa jiwa akan hancur bersama jasad, menduga ada penderitaan menyakitkan setelah kematian, dan adanya keyakinan ada siksa setelah mati. Penyembuhannya dapat dilakukan dengan memberikan pemahaman tentang hakikat jiwa dan hakikat mati.

Sedih

Sebagai salah satu penyakit jiwa, sifat sedih hati disebabkan hilangnya sesuatu yang dicintai dan gagal mendapatkan apa yang dicari. Hal ini karena seseorang serakah pada harta benda, haus pad nafsu badani, dan merasa rugi ketika salah satu dari itu semua hilang atau gagal diperoleh. Penyembuhannya dapat dilakukan melalui memberikan pemahaman tentang hakikat dirinya dan menjelaskan bahwa seluruh alam semesta akan hancur karena tidak kekal. Jika hal ini telah dilakukan, maka seseorang yang terkena penyakit sedih hati tidak akan sedih lagi. Jika sudah demikian, maka orang tersebut akan mengarahkan tujuannya bukan kepada hal-hal jasmaniah lagi, melainkan ke tujuan-tujuan suci dan hanya mencari kebaikan-kebaikan kekal saja.

PENUTUP

Pada bagian terdahulu, Penulis telah menjelaskan pokok-pokok pemikiran Ibn Miskawaih tentang hakikat jiwa, prinsip-prinsip Akhlaq, hakikat Akhlaq, Pendidikan akhlaq, dan pendidikan jiwa. Berdasarkan uraian-uraian terdahulu, dapat disimpulkan bahwa Ibn Miskawaih benar-benar seorang filosof akhlaq yang handal. Uraian-uraiannya cukup filosofis dan mendalam. Karena itu sebagai sebuah apresiasi, generasi sekarang wajib memberikan penghargaan kepada filsuf yang satu ini. Penghargaan itu dapat berupa menjaga dan mengembangkan warisan pemikiran Ibn Miskawaih itu. Yang lebih penting lagi, sebesar-besar sebuah penghargaan adalah tidak mengadopsi pemikiran Klasik secara membabi buta tanpa diiringi sikap analitis-kritis, seraya mengajukan solusi kreatif dan alternatif. Wallahu A’lam bi al-Shawab

DAFTAR BACAAN

Al-Ahwani, Ahmad Fuad, Filsafat Islam, terjemahan Tim Pustaka Firdaus, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995.

Ali, Yusnaril, Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1991.

Amin, Ahmad, Zuhr al-Islam, Juz II, Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1969.

Badawi, Abdurrahman,Miskawaih”, dalam, M.M. Sharif (ed.), A History of Muslim Philosophy, Vol. 1, Wiesbaden: Otto Harrosowitz, 1963.

Boer, T.J. De, The History of Philosophy in Islam, New York: Dover Publication, tt.

Dahlan, Abdul Azis,Filsafat”, dalam, Taufik Abdullah (ed.), Ensiklopedi Tematis Dunia Islam; Pemikiran dan Peradaban, Jakarta: P.T. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002.

Daudy, Ahmad, Kuliah Filsafat Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1992.

______(ed.), Segi-segi Pemikiran Falsafi Dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1984.

Hitti, Philip K, History of the Arabs; From the Earliest Times to the Present, New York: Macmillan Press, 2002.

Iqbal, Muhammad, Metafisika Persia; Suatu Sumbangan untuk Sejarah Filsafat, terjemahan Joebar Ayoeb, Bandung: Mizan, 1990.

Jalaluddin, dan Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996.

Jum’ah, M. Luthfi, Tarikh Falsafah al-Islam, Mesir: tp, 1927.

Kamal, Zainun, “Sebuah Pengantar”, dalam, Ibn Miskawaih, Menuju Kesempurnaan Akhlaq; Buku Daras Pertama Tentang Filsafat Etika, terjemahan Helmi Hidayat, Bandung: Mizan, 1997).

Ibn Al-Khatib, “Sebuah Pengantar”, dalam, Ibn Miskawaih, Menuju Kesempurnaan Akhlaq; Buku Daras Pertama Tentang Filsafat Etika, terjemahan Helmi Hidayat, Bandung: Mizan, 1997.

Labib, Muhsin, Para Filosof Sebelum dan Sesudah Mulla Shadra, Jakarta: Al Huda, 2005.

Leamen, Oliver, “Ibn Miskawaih”, dalam, Syed Hossein Nasr dan Oliver Leamen (ed.), Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, terjemahan Tim Penerjemah Mizan, Bandung: Mizan, 2003.

Madjid, Nurcholis, (ed.), Khazanah Intelektual Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1984.

Ibn Miskawaih, Menuju Kesempurnaan Akhlaq; Buku Daras Pertama Tentang Filsafat Etika, terjemahan Helmi Hidayat, Bandung: Mizan, 1997.

Musa, Muhammad Yusuf, Bain al-Din wa al-Falsafah, Kairo: Dar al-Ma’arif, 1971.

Nasution, Hasyimsyah, Filsafat Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999.

Sharif, M. M, Alam Fikiran Islam; Peranan Ummat Islam Dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan, terjemahan Fuad Moh. Fachruddin, Bandung: CV Diponogoro, 1979.

_____, (ed.), Para Filosof Muslim, terjemahan Ilyas Hasan, Bandung: Mizan, 1999.

Souyb, Joesoef, Pemikiran Islam Merobah Dunia, Medan: Madju, 1984.

Zurayk, C. K, “Sebuah Pengantar”, dalam, Ibn Miskawaih, Menuju Kesempurnaan Akhlaq; Buku Daras Pertama Tentang Filsafat Etika, terjemahan Helmi Hidayat, Bandung: Mizan, 1997.


[1]Ahmad Fuad Al-Ahwani, Filsafat Islam, terj. Tim Pustaka Firdaus, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995), hlm. 41.

[2]Ibid, hlm. 44-62.

[3] Baca: Philip K. Hitti, History of the Arabs; From the Earliest Times to the Present, (New York: Macmillan Press, 2002), hlm. 350-570.

[4] Baca: M. M Sharif, Alam Fikiran Islam; Peranan Ummat Islam Dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan, Terj. Fuad Moh. Fachruddin, (Bandung: CV Diponogoro, 1979).

[5] Sekedar melihat biografi dan pemikiran para filosof Muslim ini, lihat: Muhsin Labib, Para Filosof Sebelum dan Sesudah Mulla Shadra, (Jakarta: Al Huda, 2005); M.M. Syarif (ed.), Para Filosof Muslim, terj. Ilyas Hasan, (Bandung: Mizan, 1999); Ahmad Daudy (ed.), Segi-segi Pemikiran Falsafi Dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984); Nurcholis Madjid (ed.), Khazanah Intelektual Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984).

[6] M. Luthfi Jum’ah, Tarikh Falsafah al-Islam, (Mesir: tp, 1927), hlm. 304.

[7] Para penulis biografi berbeda pandangan dalam hal penentuan tahun lahirnya. Jalaluddin dan Usman Said menyatakan bahwa tokoh ini lahir pada tahun 330 H/940 M. Sementara Yusnaril Ali menuliskan bahwa tokoh ini lahir tahun 330 H/932 M. Ahmad Daudy hanya menyebut tahun hijriahnya yakni 330 H. Zainun Kamal menyebut tahun 330-921 H/421-1030 M. Sementara C.K. Zurayk menuliskan tahunnya 320 H/932 M. Sedangkan Ibn al-Khatib hanya menuliskan tahun wafatnya yakni 421 H/1030 M. Lihat, Jalaluddin dan Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996), hlm. 135; Yusnaril Ali, Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hlm. 53; Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1986), hlm. 61; Zainun Kamal, “Sebuah Pengantar”, dalam Ibn Miskawaih, Menuju Kesempurnaan Akhlaq; Buku Daras Pertama Tentang Filsafat Etika, terj. Helmi Hidayat, (Bandung: Mizan, 1997), hlm. 13-14; C. K. Zurayk,Sebuah Pengantar”, dalam Ibn Miskawaih, Menuju Kesempurnaan Akhlaq; Buku Daras Pertama Tentang Filsafat Etika, terj. Helmi Hidayat, (Bandung: Mizan, 1997), hlm. 18; dan Ibn Al-Khatib, “Sebuah Pengantar”, dalam Ibn Miskawaih, Menuju Kesempurnaan Akhlaq; Buku Daras Pertama Tentang Filsafat Etika, terj. Helmi Hidayat, (Bandung: Mizan, 1997), hlm. 26.

[8] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999), hlm. 56.

[9] Labib, Para Filosof, hlm. 110.

[10] Ahmad Amin, Zuhr al-Islam, Juz II, (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1969), hlm. 66.

[11] T.J. D Boer, The History of Philosophy in Islam, (New York: Dover Publication, tt.), hlm. 128.

[12] Joesoef Souyb, Pemikiran Islam  Merobah Dunia, (Medan: Madju, 1984), hlm. 120.

[13] Oliver Leamen,Ibn Miskawaih”, dalam Syed Hossein Nasr dan Oliver Leamen (ed.), Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, terj. Tim Penerjemah Mizan, (Bandung: Mizan, 2003), hlm. 310.

[14] Lihat: C.K. Zurayk,Sebuah Pengantar”, hlm. 18-19.

[15] Labib, Para Filosof, hlm. 110-111.

[16] Abdurrahman Badawi,Miskawaih”, dalam M.M. Sharif (ed), A History of Muslim Philosophy, vol. 1, (Wiesbaden: Otto Harrosowitz, 1963), hlm. 469-470.

[17] Labib, Para Filosof, hlm. 111.

[18] Muhammad Iqbal, Metafisika Persia; Suatu Sumbangan untuk Sejarah Filsafat, terj. Joebar Ayoeb, (Bandung: Mizan, 1990), hlm. 50.

[19] Hasyimsyah, Filsafat Islam, hlm. 62.

[20] Iqbal, Metafisika Persia, hlm. 55.

[21] Iqbal, Metafisika Persia, hlm. 56.

[22] Abdul Azis Dahlan,Filsafat”, dalam Taufik Abdullah (ed.), Ensiklopedi Tematis Dunia Islam; Pemikiran dan Peradaban, (Jakarta: P.T. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), hlm. 196-197; Souyb, Pemikiran Islam, hlm. 122.

[23] Ibn Miskawaih, Menuju Kesempurnaan Akhlaq; Buku Daras Pertama Tentang Filsafat Etika, terj. Helmi Hidayat, (Bandung: Mizan, 1997), hlm. 35-37.

[24] Ibid, hlm. 37, 39.

[25] Ibid, hlm. 39.

[26] Ibid, hlm. 43-44.

[27] Ibid, hlm. 44.

[28] Ibid, hlm. 45.

[29] Ibid, hlm. 41.

[30] Ibid, hlm. 45-50.

[31] Ibid, hlm. 51-52.

[32] Ibid, hlm. 54.

[33] Ibid, hlm. 89-91.

[34] Ibid, hlm. 95-97.

[35] bid, hlm. 133-161.

[36] Ibid, hlm. 56.

[37] Ibid, hlm. 56-58.

[38] Ibid, hlm. 60.

[39] Ibid, hlm. 50.

[40] Ibid, hlm. 59-60.

[41] Ibid, hlm. 60-63.

[42] Ibid, hlm. 64-65.

[43] Ibid, hlm. 669-70

[44] Ibid, hlm. 70-81.

[45] Ibid, hlm. 80.

[46] Ibid, hlm. 162-195.