SAHABATKU, JAGALAH LISANMU..!! (Bag 7)

SAHABATKU, JAGALAH LISANMU..!! (Bag 7)

(Tanggapan Untuk Buletin Dakwah Aswaja Sumut)

Oleh : Candiki Repantu 

Tentang Tajsim

Tajsim adalah sebuah pandangan dalam akidah yang menganggap bahwa Tuhan itu memiliki jisim (jasad/bentuk). Selain istilah tajsim ada juga dikenal tasybih  yaitu pandangan yang menterupakan Tuhan seperti makhluknya. Team Aswaja menuduhkan bahwa syiah adalah penganut tajsim dan tasybih, tanpa mengkroscek dengan baik struktur akidah syiah tentang ketuhanan (Tauhid). Sayang sekali, kelompok yang terdiri dari para Usatdz-ustadz alumni dalam dan luar negeri ini hanya bermodalkan satu buku berani melakukan penilaian atas konsepsi akidah syiah. Padahal boleh jadi, pandangan tajsim dan tasybih ini kembali pada keyakinan Aswaja sendiri. Sadarilah, bahwa apa yang anda tuliskan dan fitnah yang dilontarkan akan diminta oleh Allah swt pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Perhatikan tulisan Team Aswaja berikut ini :

  • Team Aswaja menulis :

Ajaran Syiah Indonesia pun meyakini Tajsim pada Dzat Allah, sebagaimana yang tertera pada buku KECUALI ALI, karangan Abbas Rais Kermani yang diterbitkan oleh Penerbit Alhuda Jakarta, pada halaman 22, saat Syiah mengklaim pembicaraan Imam Ja’far Shadiq, tatkala ditanya tentang arti ayat “Kullu syai-in haalikun illa wajhahu”, maka Imam Ja’far Shadiq menjawab: Segala sesuatu itu akan rusak kecuali WAJAH Allah, dan Wajah Allah itu adalah Ali bin Abi Thalib. Aqidah Syiah ini juga sama dengan keyakinan kaum Nasrani yang mengatakan: Yesus adalah Tuhan dan Tuhan adalah Yesus. Kaum Syiah mengatakan : Ali adalah Allah dan Allah adalah Ali.

Jadi, jelaslah perbedaan Islam dan Syiah adalah perbedaan aqidah/keyakinan, bukan perbedaan khilafiyah furu`iyah. Karena itu salah besar jika ada tokoh maupun umat Islam yang menyederhanakan perbedaan Islam dan Syiah `Iran` Imamiyah, dan menganggap seperti perbedaan antara madzhab Hanafi, Maliki, Syafi`i dan Hanbali.

 Tanggapan :

# CR : Kasihan sekali saya melihat Team Aswaja sumut ini padahal mereka terdiri dari para ustadz kondang kota Medan. Dan saya sedih, hanya mempelajari sekilas dan mengutip satu buku itu, kemudian mengambil kesimpulan yang fatal. Kalau seperti ini, kemungkinan besar Tim Aswaja tidak membaca buku2 Akidah syiah yang khusus membahas Tauhid atau ketuhanan, sebab tuduhan ini tidak akan dilontarkan bagi siapa saja yang membaca sedikit kitab “Tauhid” syiah. Ini adalah tuduhan cukup aneh bagi syiah. Karena semua orang tahu, bagaimana kekuatan filsafat dalam pembahasan akidah syiah. Semua para pengkaji tahu, bagaimana syiah mengulas keyakinan tauhidnya dengan analisis filosofis tingkat dasar hingga tingkat tinggi. Bahkan akan sangat sulit memahaminya bagi kebanyakan orang yang tidak terbiasa dengan studi filsafat. Untuk itu saya bawakan saja beberapa penjelasan imam-imam dan ulama-ulama syiah. Kajian ini saya bagi dua. Pertama, perspektif tauhid (ketuhanan) menurut syiah. Kedua, makna wajhullah.

 1. Tauhid menurut Syiah

Imam Ali as berkata : “Awal agama adalah mengenal Allah (ma’rifatuhu), dan kesempurnaan mengenal-Nya adalah membenarkan-Nya, kesempurnaan membenarkan-Nya ialah mengesakan-Nya, kesempurnaan mengesakan-Nya ialah mensucikan-Nya, dan kesempurnaan mensucikan-Nya ialah menafikan sifat-sifat-Nya, karena setiap sifat berbeda dengan apa yang disifatkan dengannya, dan setiap yang disifati berbeda dengan sifat itu. Barangsiapa yang mensifati Allah, maka mengakui keserupaan-Nya, dan barangsiapa mengakui keserupaan-Nya maka ia menganggap-Nya dua, dan siapa menganggap-Nya dua, berarti membagi-bagi-Nya, dan barangsiapa membagi-bagi-Nya, berarti ia tidak mengenal-Nya. Dan barangsiapa tidak mengenal-Nya maka ia akan menunjuk-Nya, dan barangsiapa menunjuk-Nya, maka ia mengakui batas-batas bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui batas-batas bagi-Nya, berarti ia mengatakan jumlah-Nya.

Barangsiapa menyatakan bahwa “Dia berada dalam apa”, berarti ia membuat-Nya bertempat, dan barangsiapa mengatakan “di atas apa Dia berada” maka ia beranggapan bahwa la tidak berada di atas sesuatu lainnya. Dia Maujud tetapi tidak melalui fenomena muncul menjadi ada. Dia ada tetapi bukan bersal dari ketiadaan. la bersama segala sesuatu tetapi tidak dalam kedekatan fisik. la berbeda dari segala sesuatu tetapi bukan dalam keterpisahan fisik. Dia berbuat tetapi tanpa gerakan dan alat. Dia melihat meskipun tidak ada ciptaan-Nya yang dilihat. Dia Esa sedemikian rupa sehingga tak ada sesuatu yang bersekutu dengannya atau yang Dia akan kehilangan karena ketiadaannya.” (Nahjul Balaghah, Khutbah 1)

Semoga Team Aswaja bisa memahami maksud Imam Ali as yang dengan menjelaskan eksistensi ilahiah yang mutlak. Pernyataan Imam Ali as di atas yg sering dikutip oleh para ulama syiah menunjukkan bahwa Allah swt adalah wujud mutlak yg tidak mungkin diserupakan dengan apapun, tidak berjasad, tidak berbentuk, singkatnya tidak terbatas.

Di tempat lain, Syaikh Kulaini dalam kitabnya Ushul al-Kafi bab “Annahu la Yu’raf illa Bihi”meriwayatkan bahwa Imam Ali as ditanya oleh seseorang, “Dengan apa engkau memahami Tuhanmu?” Imam Ali as menjawab, “Dengan cara sebagaimana Dia mengenalkan diri-Nya kepadaku?” Kemudian ditanyakan lagi, “Bagaimana Dia mengenalkan dirinya kepadamu?”. Imam Ali menjawab, “Dia tidak menyerupai suatu bentuk dan Dia tidak dapat dirasakan dengan indera dan tidak bisa dikiyaskan dengan manusia. Dia dekat dalam kejauhan-Nya, dan Dia jauh dalam kedekatan-Nya. Dia berada di atas segala sesuatu dan tidak dapat dikatakan sesuatu di atasnya. Dia di depan segala sesuatu tetapi tidak dapat dikatakan (Dia) memilki depan. Dia di dalam segala sesuatu, tetapi tidak seperti sesuatu yang (berada) di dalam sesuatu lainnya. Dia di luar segala sesuatu tetapi tidak seperti sesuatu yang keluar dari sesuatu. Maha Suci Dia yang seperti ini dan tidak ada yang seperti ini selain-Nya. Dan segala sesuatu itu ada permulaannya.”

Dalam salah satu hadits, Imam Shadiq as bersabada, “Sesungguhnya Allah tidak bisa disifati dengan waktu, tempat, gerak, diam, dan perpindahan, melainkan Dia adalah pencipta waktu, tempat, gerak, diam, dan perpindahan. Allah lebih tinggi dari apa yang disifatkan oleh orang-orang zalim”. (Biharul Anwar, jilid 3, hal. 309, hadits 1)

Tentang makna as-Shamad, Imam Ali as berkata, “Makna shamad adalah bahwa Tuhan tak bernama, tak berjasmani, tak memiliki kesamaan, tak berwajah, tak terbatas, tak bertempat, tak bersubstansi, tak di sini, tak di sana, tak memenuhi tempat dan tak mengosongkan tempat, tak berdiri dan tak duduk, tak bergerak dan tak diam, tak gelap dan tak terang, bukan ruh dan bukan jiwa, semua tempat diliputi oleh-Nya, tak tempat yang mampu menampung-Nya, tak berwarna dan tak terbayang dalam kalbu seseorang dan tak ada aroma yang tercium dari-Nya, semua hal-hal ini ternafikan dari-Nya”. (Biharul Anwar, jilid 3, hal. 320, hadits 21)

Dalam salah satu kisah diceritakan bahwa seorang sahabat Imam Shadiq as menyampaikan  ucapan Hisyam bin Hakam mengenai kejasmanian Tuhan (tajsim). Maka Imam ja’far as berkata: “Celakalah dia! Apakah dia tidak mengetahui bahwa badan dan wajah adalah terbatas? Apabila (sebuah benda) memiliki batas, maka dia akan menerima sifat kuantitas (banyak dan sedikit) dan setiap yang berkuantitas, pastilah makhluk”. Perawi mengatakan, aku berkata, “Lalu apa yang harus aku katakan?” Imam Ja’far menjawab : “Dia tak berbadan dan tak berwajah, melainkan yang menciptakan badan dan mewujudkan wajah, Dia tidak bisa dibagi-bagi, dibatasi, dan diperbanyak atau dikurangi. Apabila benar apa yang dikatakannya maka tidak ada perbedaan antara Pencipta dengan yang diciptakan (makhluk), sementara Dia adalah Khalik dan terdapat perbedaan antara badan dan yang menciptakan badan, karena tak sesuatupun yang serupa dengan Tuhan dan Tuhanpun tidak identik dengan sesuatu”. (Kitab At-Tauhid, bab keenam, hadits 7. Syaikh Shaduq dalam bab ini menyebutkan 20 riwayat tentang penafian kejasmanian Tuhan; lihat jugaUshul al-Kafi, kitab at-Tauhid, bab an-nahi ‘an al-jism wa as-surah)

Syaikh Thusi dan ulama lainnya menjelaskan bahwa keniscayaan Wujud Allah swt dan ketidakbutuhan-Nya kepada selain-Nya memastikan keabadian-Nya, menafikan tambahan, sekutu, keserupaan dan ketersusunan dalam semua artinya. Begitu pula mustahil Dia memiliki lawan, bertempat dan menempel pada benda, berdimensi, terlibat dalam hal-hal yg temporal, terkena rasa suka dan duka, dan semua hal yg tidak tepat dilekatkan kepada-Nya. Allah bukan jisim (berjasad), bukan substansi (jauhar), bukan aksiden (‘ard), tidak berdiam dalam sesuatu dan tidak terkena hal-hal yang bersifat fisik.

Dengan riwayat-riwayat dan penjelasan para ulama syiah, maka dengan jelas terlihat bahwa syiah adalah mazhab yang menolak adanya tajsim dan tasybih bagi Allah swt bahkan syiah juga menolak ru’yatullah (melihat Allah) yang diakui oleh oleh mazhab al-Asy’ariyah, karenaru’yatullah itu bagi syiah masih terkesan mengakui tajsim dan tasybih pada Allah swt. Jadi, bagaimana mungkin Team Aswaja menuduh syiah bermazhab tajsim. Hal ini tidak lain karena ketidaktahuan mereka ttg mazhab syiah, karenanya kita memakluminya saja.

2). Tentang “wajhuullah dalam Q.S. al-Qashas : 88 

Aswaja Sumut mengutip buku “Kecuali Ali” yang meriwayatkan bahwa Imam Ja’far Shadiq, ditanya tentang ayat “Kullu syai-in haalikun illa wajhahu”, maka Imam Ja’far as menjawab: ‘Segala sesuatu itu akan rusak kecuali WAJAH Allah, dan Wajah Allah itu adalah Ali bin Abi Thalib’. Berdasarkan hal ini, Aswaja Sumut menuduh syiah mengakui tajsim. Padahal riwayat2 seperti ini bertebaran juga di kitab-kitab sunni, apakah ustadz-ustadz Aswaja Sumut tidak mengetahuinya…??

Setelah penjelasan di atas dan kita mengetahui bahwa tauhid syiah yang menolak tajsimdan tasybih, maka barulah kita bisa memahami dengan baik riwayat di atas. Kemudian untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, maka kita perlu juga memperhtikan riwayat-riwayat lainnya dan keudukan imam Ali as serta para imam ahlul bait as. Selain riwayat yang dikutip oleh Aswaja Sumut ttg makna “wajhullah”, yaitu Imam Ali as, maka perlu juga diketahui terdapat riwayat2 lain yang menjelaskan makna “wajhullah” dalam ayat tersebut, diantaraya sbb :

  • Wajhullah bermakna Agama Allah (dinullah) seperti riwayat dari Imam Baqir as, ketika ditanya tentang makna ayat  “”Setiap sesuatu akan binasa kecuali Wajh Allah”, maka Imam menjawab: “Sesungguhnya Allah azza wa jalla lebih agung dari pada apa yg disifatkan mempunyai wajah, tetapi maknanya adalah segala sesuatu akan binasa kecuali agama Allah (dinullah), dan wajah itu yang mengarahkan kepada-Nya.”
  • Wajhullah bermakna jalan yg benar (thariq al-haq). Imam Ja’far Shadiq as ketika menafsirkan ayat tersebut, beliau berkata, “segala sesuatu akan binasa kecuali berpegang pada jalan yang benar” (thariq al-haq).
  • Wajhullah adalah ketaatan kepada Rasul saaw dan Imam-imam setelahnya. Imam Ja’far as yang berkata, “siapa yang menuju Allah swt dengan melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya dari ketaatan kepada Muhamamd saaw dan imam-imam sesudahnya, maka itulah wajah yang tidak akan binasa, kemudian Imam as membacakan ayat, “Siapa yang menaati Rasul, sungguh dia telah menaati Allah” (Q.S. an-Nisa : 80). (lihat Kitab at-Tauhid Syaikh Shaduq, bab tafsir Q.S. al-Qashas : 88 “semua akan binasa kecuali wajah-Nya”; Tafsir Shofi jilid 5, hal. 455-456; Al-Kafi juz 1 kitab at-Tauhid bab an-Nawadir, hal. 191; dll)

Dengan menggabungkan beberapa riwayat tersebut maka kita menemukan makna yang ditunjukkannya yaitu “wajhullah adalah : agama Allah, jalan yang benar, ketaatan kepada Rasul dan imam-imam setelahnya, serta Ali bin Abi Thalib. Kesimpulannya Wajhullahadalah agama dan jalan yang benar yaitu jalan yg ditempuh dengan mengikuti dan mematuhi Rasul saaw dan imam setelahnya yakni Imam Ali as. Dan kebinasaanlah bagi yg menolak agama Allah, jalan yang benar, dan tidak mau mematuhi Rasul saaw dan Imam Ali as. Dalam hadis Safinah (hadis tentang Bahtera keselamatan) disebutkan, “Pemisalan Ahlul baitku seperti bahtera Nuh, siapa yang masuk kedalamnya selamat (najah), dan siapa yang keluar akan binasa (halak).”

Kemudian juga, wajah bisa dimaknai sesuatu yang mengenalkan pada hakikat yang dituju. Karena itu “wajah Allah”, yaitu sesuatu yang mengantarkan untuk mengenal Allah swt. Dan di antara yang akan mengantarkan manusia untuk mengenal Allah swt adalah Imam Ali as. Kalau Aswaja Sumut, membaca bait-bait berikutnya dari buku “Kecuali Ali”, maka disana disebutkan riwayat tentang hal ini, yaitu Rasul saaw bersabda, “Aku dan Ali adalah bapak umat ini, barangsiapa mengenal kami, maka dia mengenal Allah.” Begitu pula di buku tersebut diriwayatkan Rasul saaw berkata, “Seandainya aku dan Ali tidak ada, maka Allah tidak dikenal”; Imam Ja’far as berkata, “Dialah pemimpin umatnya pada zamannya, barangsiapa mengenalnya maka dia mengenal Allah.”   Orang yang mengenal Allah secara sempurna akan kekal selama-lamanya di surganya Allah swt, dan yang tidak mengenal Allah swt akan binasa dalam siksa neraka Allah swt. Jadi, kemungkinan maksud perkataan Imam Ja’far Shadiq as bahwa “wajhullah” itu Imam Ali as, yaitu bahwa Imam Ali as yg mengantarkan manusia untuk mengenal Allah swt, dan yang mengenal Allah swt tidak akan binasa, yaitu tdk akan celaka dan masuk neraka.

Selain pemaknaan di atas kita bisa menjelaskan hal lainnya, bahwa Allah swt mengindikasikan “tidak semua akan binasa”.  Penjelasan singkatnya adalah sebagai berikut :

Di dalam ayat-ayat Alquran terdapat indikasi bahwa kebinasaan akan menimpa seluruh makhluk, tetapi ada juga ayat-ayat yg mengindikasikan bahwa terdapat makhluk-makhluk yg tidak akan binasa. Tentang hal ini Allah swt berfirman, “Segala sesuatu akan binasa kecuali WAJAH-NYA” (Qs. Al-Qashash [28]:88) Atau “Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi KECUALI SIAPA YANG DIKEHENDAKI ALLAH”. (Qs. Al-Zumar :68). Sehingga kalau kita menggabungkan kedua jenis ayat ini maka bisa ditarik kesimpulan bahwa “tidak semua akan mengalami kebinasaan, dan yang tidak mengalami kebinasaan itu adalah orang-orang khusus yang dikehendaki oleh Allah swt”. Atau maknanya “semua akan binasa kecuali siapa yg dikehendaki Allah swt” dan diantara yg dikehendaki untuk tidak binasa adalah “WAJAH ALLAH” dan salah satu ‘manifestasi’ dari wajah Allah swt adalah Imam Ali as.

Hal ini karena posisi keimamahan yang begitu tinggi sehingga menjadikan Imam Ali as sebagai tanda bagi kekuasaaan Allah swt, sebagai orang yang terbaik dan suci (maksum; mukhlasin), yang tidak melihat sesuatu selain Tuhan; tidak memandang kecuali tanda dan ayat-Nya; tidak perduli keuntungan atau kerugian duniawi. Imam Ali as yang dirinya “tenggelam dan lebur” dalam ẓat Tuhan. Seluruh aktivitas disandarkan dan diserahkan  kepada Tuhan, dan tiada yang keluar dari-Nya kecuali keridhaan Tuhan. Beliau adalah wujud yang mendekat kepada Allah swt sedemikian dekatnya sehingga seperti disebutkan dalam hadis qudsi, yang mana Tuhan akan menjadi tangan, mata, telinga, lisan dan hatinya. Beliau adalah cermin sempurna Tuhan dan hanya “wajah Tuhan” yang beliau munculkan dalam seluruh aktivitasnya, bukan wajah mereka. Karena itulah, beliau adalah “wajhullah” (wajah Tuhan), yakni wajah batin dan hakikat segala sesuatunya. Wajhullah-nya ini bermakna bahwa bliau merupakan tanda Tuhan yang sempurna, dan manifestasi seluruh “jelmaan” Ilahi di mana Allah swt berfirman: “Kullu syai’in halik illa wajhah”, segala sesuatunya binasa kecuali wajah-Nya.” Dengan begitu, segala sesuatu yakni mahkluk akan binasa, tetapi beliau abadi dan tidak ada kebinasaan pada hakikat beliau (bukan kematian jasad beliau, karena jasd beliau telah mati), bisa saja beliau salah satu yg dikehendaki Allah untuk tetap kekal saat semuanya binasa “Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi KECUALI SIAPA YANG DIKEHENDAKI ALLAH”. (Qs. Al-Zumar :68).

Demikianlah kemungkinan-kemungkinan makna terhadap ayat tersebut di atas. Jadi, hal ini bukan berhubungan dengan tajsim dan tasybih, tetapi mengenal posisi keimamahan yang tinggi dan bagian utama dari ajaran agama Allah swt. Semoga bermanfaat dan dapat dipahami dengan baik.