LAILATUL QADAR MAJELIS AZ-ZAHRA

13552665_10205612488186460_1498751469_n

Memperingati Malaam lailatur Qadar (malam ke 23 Ramadhan) selain di adakan di Majelis Yayasan Abu Thalib Sumatera Utara (YIATSU), majelis juga di laksanakan di Majelis Az-Zahra Kota Langsa yang di pimpin langsung Oleh Ketua Yayasan Islam Abu Thalib Ust. Candiki Repantu yang mengambil tema tausiah keutamaan-keutamaan malam-malam Qadar.

Majelis yang di hadiri oleh Jama’ah Kota langsa, Sungai Raya dan Aceh Tamiang Provinsi Aceh, dengan penuh Khidmat jamaah membaca doa-doa malam Ramadhan, serta doa Jausan Kabir meski memakan waktu berjam-jam akan tetapi tidak ada Jamaah yang beranjak dari tempat duduk semua asik dalam pergulatan cinta, sebab malam Qadar adalah moment yang langka dan hanya ada pada bulan Ramadhan dan tidak ada di bulan-bulan lain.

13565539_10205612487986455_20388055_n

Dalam tausiahnya Ust Candiki Repantu menyampaikan bahwa Malam Lailatu Qadar adalah malam terpilih untuk manusia agar lebih bisa mendekatkan diri kepada Allah dan malam terpiilih untuk turunnya Al-qur’an, sehingga malam Qadar benilai lebih dari 1000 bulan hal tersebut bukan tanpa Alasan melainkan Rahmat yang turun pada Malam Qadar adalah Rahmat turunnya Al-Qur’an sebagai pedoman Hidup bagi umat Islam di dunia.

Selain itu Ust. Candiki Repantu juga menyampaikan sekelumit kisah Imam Ali Bin Abi Thalib yang wafat juga di waktu yang di pilihkan Allah yaitu pada malam Qadar sehingga Imam Ali AS wafat pada malam turunnya Rahmat, lalu siapa gerangan pecinta yang tidak mengiginkan syahid di Malam Qadar sayang di perlukan kebersihan hati dan kebesaran jiwa menjadi Insan sempurna untuk meraih Syahadah di malam 1000 Bulan.

13553325_10205612488306463_462383012_n

MALAM QADAR KETIGA (Habis)

 

13535970_1146218095436143_589096697_n

Majelis Malam Qadar ketiga (malam 23 Ramadhan) di Yayasan Abu Thalib Sumatera Utara (YIATSU) yang berada di Jl. Gurila No.82 Medan di adakan pada tanggal 27 Juni 2016 di isi oleh Tausiah Ust. Muhammad Rusdi yang mengambil tema keutamaan-keutamaan Imam Ali Bin Abi Thalib sebagai bagian dari majelis mengenang sahidnya Imam Ali Bin Abi Thalib AS, sedangkan Doa-doa di  pimpin oleh Ust. Abdul Azis yang dimulai pada pukul 22.00 WIB sampai pukul 03.30 WIB tanggal 28 Juni 2016.

Dalam Tausiahnya Ust. Muhammad Rusdi menyampaikan tentang keutamaan Imam Ali AS diantaranya beliau lahir di Ka’bah yang tidak ada seorangpun di muka bumi ini yang lahir di Ka’bah bahkan Nabi sekalipun tidak ada yang lahir di Ka’bah dan beliau syahid di mihrab sehingga julukan sebagai manusia yang lahir di ka’bah dan syahid di mihrab di sematkan pada Imam Ali Bin Abi Thalib AS sebagai penghormatan atas kemulyaan Imam Ali Bin Abi Thalib.

Selain keutaman tersebut Imam Ali bin Abi Thalib secara kwalitas keperkasan adalah pengawal Rasulullah yang selalu setia baik di masa Damai maupun dimasa perang dan Imam Ali AS tidak pernah lari dari peperangan manapun bahkan di perang Uhud saat pasukan Muslimin kocar-kacir Imam Ali tetap kokoh melindungi Nabi SAW maka tidak heran jika Rasulullah mengatakan “Tiada Pemuda kecuali Ali dan Tiada pedang Kecuali Zulfikar” hal ini menunjukkan keistimewaan luar biasa Dari Imam Ali AS.

Dari sisi keilmuan Imam Ali tak memiliki tandingan yang sepadan karena sebagai penafsir Al-Qur’an imam Ali memiliki Ilmu yang luas yang tak mungkin kita tandingi , bahkan kumpulan Khutbah dan Surat menyurat Imam  Ali AS yang terkumpul dalam Nagjul Balaghah menjadi kitab yang tidak pernah bisa kering untuk di kaji sepanjang jaman dan hal tersebut cukup  untuk menunjukkan  kwalitas sang Imam. Maka berwilayah kepada Imam Ali AS adalah sebuah keharusan agar kita benar-benar  mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW sebab Imam Ali AS adalah sosok terbaik diantara yang terbaik.

13553362_1144832508908035_477616078_n

Seperti malam yang sudah-sudah Majelis di Isi dengan membaca Al-qur’an dan doa-Doa malam Ramadhan terutama Doa Jausan Kabir dan Tawsul Al-Qur’an, dan terakhir adalah acara sahur bareng sebelum Jama’ah kembali kerumah Masing-masing. (N. Silabuhan)

MALAM QADAR KE-2

13438793_10205590560958293_4612853045963230972_n

Wajah suci semakin pucat luka kepala masih menganga darah terus menetes menembus celah perban penutup luka menganga, Deraan racun pedang sang durjana menjalar hingga ujung  kaki membuat tubuh Al-Murtadha berubaah pucat membiru, luka hatii tak mampu menahan  airmata sang pemuda syurga tanpa sadar jatuh mengenai wajah panglima pemberani hingga memaksa sang Singa Allah membuka mata dan berkata lirih

 “wahai Anakku Hasan… apakah engkau menangis aku merasakan air hangat menerpa wajahku”  senyum yang tak pernah lepas dari hati meski bibirnya  tak mampu lagi menampug sungging,

dengan terisak sang pemuda syurga menjawab “iya wahai Ayahku .. aku menangis…” jawab Imam Hasan menjawab dengan deru gemuruh yang mampu mengeringkan sungai efrat.

“bersabarlah wahai anakku…” hanya itu kata yang  mewakili ketegaraan yang Washi kemudian sebelumnya larut dalam pingsaannya untuk seberapa saat.

Sementara tangan-tangan dekil fakir miskin Kufah berdatangan kerumah sang pemimpin dengan wajah sayu membawa wadah-wadah  usang berisi susu hasil mengumpulkan dari beberapa tetes, ditemani wajah-wajah polos pilu sang anak  yatim mereka menyampaikan susu untuk menawarkan racun pedang sang durjaana “Ibnu  Muljam”, dalam sayatan pilu hati mustadafin kufah ”Wahai Imam kami jangan tinggalkan Kami” masih terbayang oleh mereka pemimpin yang senantiasa memberi makan mereka saat mereka di hujami Rasa lapar  yang sangat…..

Detik waktu terasa cepat wajah suci semain pucat kain pembalut semakin berwarna pekat hingga tak memiliki arti, luka itu terlalu dalam kata Sang Tabib cemas, sayatan itu terlalu menghujam hingga akhir menjelang syahid tak ada yang bisa membedakan antara wajah dan pembalut luka semua berwarna sama, warna kuning pucat darah terserang racun, aduhai pilu semesta tak terkira saat mata imam berpamitan kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya untuk segera bertemu dengan Al-Musthafa

“aduhai Singa Allah perkasa kini ragamu lelah, menopang  jasadmu yang  telah rebah derai tangis pilu seisi semesta pecah, air mata fakir miskin, anak  yatim dan janda tua tumpah, Almusthafa telah menyambutmu bersama Penghulu perempuan semesta Fatimah, nafas tenang iringi syahadah, imamku telah usai tunaikan Hujjah”

imageuis

—####—–

Petikan singkat kisah tragis yang menimpa Imam Ali Bin Abi Thalib di malam ke 21 Ramadhan 1400 tahun silam setelah bertahan dari deraan racun pedang Ibnu Muljam setelah 2 Hari berjibaku dengan luka dan racun, Akhirnya sang Putera Ka’bah tersebut harus mengehembuskan nafas terakhir sebagai tanda bahwa sang Imam telah selesai menunaikan tugasnya sebagai Washi, Khalifah Pengganti Nabi.

Masih dalam rangkaian majelis malam qadar di  Yayasan Islam Abu Thalib Sumatera Utara (YIATSU) pada malam 21 Ramadhan 1437 H tepatnya tanggal 25 Juni 2016 kali ini di isi dengan Tausiah yang mengangkat tema “bekal sambut lailatul Qadar” juga rangkain pembacaan doa-doa terutama doa Jausan Kabir yang di  Pimpin oleh Ust. Zefri Ansari S.Hi M.Hi,  Ust. Abdul Azis Baeha SE dan Ust. Muhammad Rusdi S.Hi.

13552677_1144832218908064_716089178_n

Dalam tausiah di malam ke 21 ini Ust. Candiki Repantu menyampaikan pesan bahwa saling memaafkan di antara manusia adalah bekal Utama dalam menyambut malam Qadar dan malam qadar menjadi tidak berarti jika kita menyambutnya dengan  menyimpan dendam dan kebencian terhadap saudara meski sebesar biji zarah sekalipun, ketidak sempurnaan itu di karenakan rahmat tidak akan turun pada orang yang masih memiliki dendam terhadap saudara muslimnya oleh sebab itu sebaiknya dalam menyaambut malam Qadar sebaiknya kita saling meminta dan memberi maaf agar kita semua memperoleh rahmatnya Allah  SWT dan mencerap madu laylatul Qadar. (N. Silabuhan)

13553157_1144833215574631_1786769572_n.jpg

KENANGAN BERSAMA DR. KASHEZADEH

10

bersama Ketua Yayasan Islam Abu Thalib Sumatera Utara

11

mengisi Tausiah

12

menghadiri Acara di Babusalam Simalungun

13

Bukan Rahasia

14

bersama Jama’ah Tarikat Naqsabandiyah Simalungun

15

bersama Sekjend GARDA ASURA

16

SUNI & SYIAH Shalat bareng (Kenapa tidak)

17

mengisi Tausiah Ramadhan di mesjid Agung Kota Langsa

18

Ziarah ke Monumen Asia Tenggara Kota Peureulak Provinsi Aceh

13413847_10205508088496533_1030210858_n

Buka Bersama di Majelis Fadl Abas Bangun Purba Deli Serdang

13459756_10205523059670803_1742309999_n

Buka puasa bersama di Majelis Az-Zahra Tanjung Morawa

LAILATUL QADAR YAYASAN ABU THALIB

13511459_1143545929036693_735039817_n

 

Al-Qur’an bersama Ali

Ali Bersama Al-Qur’an

Ucapan Ust. Cadiki Repantu Mengawali tausianya dalam majelis Lailatur Qadar sekaligus memperingati peristiwa tertebasnya Singa Allah di tangan sang durjana  Ibnu Muljam saat Imam Ali bin Abi Thalib melaksanakan Shalat subuh dan tebasan tersebut melukai kepala Suci pewaris Ilmu Nabi,  sejarah kemudian mencatat bahwa tebasan pedang beracun tersebut mengakhiri hidup Imam Ali Bin Abi Thalib AS. Sebuah tragedy memilukan bagaimana tidak manusia suci yang sejak kecil makan dan minum dan mencerap manisnya madu ilmu di rumah kenabian harus berakhir oleh tebasan pedang durjana yang telak mengenai kepala sang Imam dan darahpun mengucur hingga membasahi janggut beiau.

Selain mengenang kembali peristiwa Tragis yang menimpa Imam Ali bin Abu Thalib dalam tausianya Ust. Candiki juga menyampaikan bahwa Al-Qura’an di turunkaan oleh Allah SWt lengkap tanpa kurang termasuk syarat adanya Insan Sempurna untuk mengawalnya agar Al-Quran tidak di tafsirkan sembarangan oleh orang-orang yang hanya ingin mencari dalil atas kepentingan pribadi.

Tugas mengawal Al-Qu’an tidak bisa di berikan kepada sembaranng orang dan orang tersebut  harus Maksum sebab sesuatu yang suci harus pula di kawal oleh Manusia Suci dan pada saat Nabi Muhammad SAWA masih hidup maka Rasulullah yang mengawal dan menjaga tapi setelah Rasulullah wafat maka tugas tersebut di berikan kepada Imam-Imam Ahlul bait yang maksum dan saat ini tugas itu di emban oleh Al-Qaim Imam zaman sebagai hujjah Allah, maka tidak heran jika Al-Qur’an masih terjaga kesuciannya hingga saat ini dengan kata lain teks suci harus di jaga oleh orang suci.

Tausiah di atas adalah salah satu rangkaian kegiatan majelis Lailatul Qadar yayasan Islam Abu Thalib Sumatera Utara (YIATSU) yang di adakan pada malam ke 19 Ramadhan tepatnya tanggal 23 Juni 2016 pukul 21.00 dan berakhir pada saat makan sahur 24 Juni 2016. Dalam majelis kali ini di mulai dengan membaca Doa Kumayl di teruskan membaca Doa Ramadhan dan terakhir membaca secara bersama-sama Doa Jausan kabir.

Majelis akan di laksanakan pada malam-malam lailatul qadar yaitu malam ke 19, 21 dan 23 yang di ikuti oleh Jama’ah Yaayasan Islam Abu Thalib yang berdomisili di Medan, Binjai dan sekitar dan acara di akhiri dengan Makan Sahur bersama-sama. (N. Silabuhan)

YAYASAN ISLAM ABU THALIB SUMATERA UTARA MENGADAKAN MILAD IMAM HASAN AS

13434845_1140178476040105_8115186882803203360_n

Pada  hari minggu 19 Juni 2016 bertepatan pada malam 15 Ramadhan Yayasan Islam Abu Thalib Sumatera Utara (YIATSU) mengadakan Majlis Milad Imam Hasan AS bertempat di Gedung Yayasan Abu Thalib Jl. Gurila Nomor 82 Medan dengan pembicara Ust. Abdullah Beik (Jakarta) dan Ust Candiki Repantu (Ketua Yayasan Islam Abu Thalib) dan majlis di hadiri oleh Jama’ah pengajian Yayasan Abu Thalib.

Dalam Sambutannya Ust Candiki Repantu mengajak Jama’ah yang hadir  untuk ikut menteladani kesabaran Imam Hasan Bin Ali Bin Abi Thalib AS dimana dalam menjalani kehidupan Imam Hasan selalu mendapat tekanan dari penguasa saat itu yaitu Mu’awiyah dan puncaknya untuk menyelamatkan pengikutnya Imam Hasan harus rela mengikat perjanjian damai dengan Mu’awiyah meski banyak pengikutnya menolak strategi Imam Hasan As dan kita sebagai pecinta Ahlul Bait Nabi Muhammad SAW harus menanamkan keyakinan akan kebenaran strategi yang di lakukan oleh Imam Hasan AS tanpa ada keraguan sedikitpun sebab keraguan akan mengantarkan kita pada kelemahan Iman akan kemaksuman Imam Ahlul Bait.

Disisi lain dalam tausiahnya Ust. Abdullah Beik menyampaikan bahwasanya dengan Milad hendaknya kita memupuk keimanan kita terhadap Allah dengan cara mengambil tauladan terhadap sikap dan perilaku Imam, meneladani Imam-imam Ahlul Bait bukan hanya sekedar memperingati hari-hari penting yang berkaitan dengan Imam semata melainkan juga meneladani sikap dan perilaku Imam dalam kehidupan sehari-hari sebagai contoh jika Imam AS melaksanakan Shalat dalam malam Ramadhan 1000 Raka’at semalam maka kita sebagai pengikutnya harus mengikuti minimal melaksanakan 2 Raka’at semalam dari pada tidak sama sekali dan dapat di tingkatkan di hari-hari selanjutnya sehingga malam-malam kita selalu di Isi oleh Ibadah.

Lebih Jauh Ust. Beik mengatakan setiap kita harus selalu membaca Al-Qur’an setiap hari sebab keterikatan antara Imam Ahlul Bait dan Al-Qur’an adalah keterikatan mutlak yang tidak bisa di tawar lagi jika belum mampu memaknai Al-Qur’an maka paling tidak kita membacanya dari beberapa ayat hingga banyak ayat dan terakhir mampu pula memaknai Al-Qur’an dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.  selain itu pecinta Ahlul bait juga harus membiasakan membaca Do’a-do’a yang di ajarkan Ahlul bait setiap hari sehingga membaca doa menjadi kebiasaan bagi pecinta Ahlul Bait AS setiap hari untuk mengikatkan batin kita kepada junjungan kita Imam Ahlul bait AS.

13432214_1140178836040069_9185187460092885945_n

Acara Majelis Milad Imam Hasan AS di akhiri dengan membaca Do’a Ziarah yang di pimpin Oleh Ust Candiki Repantu dan semoga dengan majelis peringatan Milad Imam Hasan ini mampu menjadi tonggak kebangkitan kesabaran diri kita masing-masing dan selalu memupuk keimanan agar senantiasa selalu menjadi Insan yang bertaqwa kepada Allah SWT sehingga dalam menjalankan kehidupan sehari-hari kita selalu di Jaga Allah SWT dan mendapat keberkahan tentunya. (N. Silabuhan)

BERKUNJUNG KE SIMALUNGUN (Ketiga)

13444197_10205523065510949_2118839759_n

Masih dalam rangkaian Safari Ramadhan Yayasan Islam Abu Thalib Sumatera Utara (YIATSU) bersama Hujatul Islam Mohamad Kashezadeh pada Tanggal 13 Juni 2016 menghadiri Undangan majelis persulukan Tarekat Naqsyabandiyah Babusallam Simalungun yang di asuh oleh Dr. Sabam Rajagukguk sekaligus acara Safari Ramadhan Pemkab Simalungun.

13459583_10205523070471073_983020369_n

Acara yang masuk agenda resmi Pemkab Simalungun ini di hadiri jama’ah tarekat Naqsabandi, Bupati Simalungun R.J Saragih, Jajaran Muspika SImalungun. Menjadi kehormatan tersendiri bagi Yayasan Islam Abu Thalib yang juga turut di undang secara khusus, dan bagi Yayasan Islam Abu Thalib undangan ini merupakan bukti bahwa Sunah dan Syiah bisa hidup berdampingan tanpa membesar-besarkan persoalan khilafiah.

Dihadapan para khalifah tarekat ini Hujatul Islam Mohamad Kashezadeh menyampaikan sejarah Naqsyabandi yang di dirikan oleh Orang Persia (Baca:Iran) yang kemudian berkembang ke India dan Akhirnya masuk ke Indonesia maka tidak heran banyak karya-karya syair jama’ah Naqsyabandi di Iran yang diterima dan popular di kalangn pengikut Ahlul Bait (Syiah).

13472250_10205523097471748_1345649718_n

Sedangkan Dr. Sabam Rajagukguk dalam sambutannya menyammpaikan rasa bahagianya atas kehaddiran Hujatul Islam Mohamad Kashezadeh ke majelisnya sehingga mereka dapat saling bertukar informasi dan ilmu agar segala fitnah bisa di eliminir sedikit demi sedikit, demikian halnya ketua Yayasan Islam Abu Thalib senada dengan Dr. Sabam Rajagukguk menginginkan adanya rekatan yang lebih erat lagi persaudaraan Antara Sunah dan Syiah dalam Bingkai NKRI dimasa-masa yang akan datang

13444236_10205523073031137_1462692546_n

Sungguh romantisme yang patut di pupuk dan di pertahankan ditengah-tengah fitnah yang menghujam silih berganti dari orang-orang yang tidak ingin Sunah dan Syiah hidup rukun dan damai dalam bingkai NKRI.

13435621_10205523078031262_1559991323_n

13435627_10205523075191191_1179356689_n