volume X

MENGGUGAT DAN MENISCAYAKAN  SIKAP

LIBERAL DALAM BERAGAMA

Oleh: Salahuddin Harahap, MA

Pendahuluan

Ar-Rasul Saw menyatakan bahwa agama adalah sahabat akal dan hanya diperuntukkan bagi mereka yang mampu dan mau menggunakan akalnya secara baik. Sementara itu Imam Musa al-Kazhim menegaskan bahwa ilmu adalah sahabat akal yang keduanya saling sejalan. Hakikat agama dengan demikian adalah pengenalan terhadap Allah Swt dan seluruh ciptaan-Nya dengan pengetahuan sempurna melalui pemberdayaan akal. Allah Swt berfirman: “Sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku yang mendengarakan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah yang telah diberi Allah petunjuk  dan mereka itulah orang-orang yang memiliki akal” (Q.S. az-Zumar/39: 17-18). Ayat ini mengisyaratkan bahwa petunjuk Allah senantiasa dikemas sebagai informasi atau ilmu pengetahuan yang benar dimana untuk memperolehnya manusia harus menggunakan akalanya secara optimal.

Berdasarkan hal itu antara agama, ilmu serta prinsip akal harus tetap sejalan dan berada dalam kebenaran. Sebab jika tidak, maka kedudukan akal sebagai alat mengenali kebenaran menjadi tertolak. Fritjhof Schuon yang setela masuk Islam bernama Muhammad Isa Nuruddin menyatakan bahwa Allah Swt telah menganugerahkan akal kepada manusia sebuah fakultas yang secara adikodrati dimiliki mikrokosmos manusia, bahkan kategori-kateggori logika melalui mana manusia menalar merupakan refleksi kecerdasan Ilahi pada tataran pikiran manusia. (From the Devine to The Human, 1982).

Jika jalan pikiran ini dapat diterima, maka mempertentangkan agama dengan ilmu pengetahuan tidak dapat dibenarkan, demikian pula halnya dengan yang mempertentangkan akal dengan agama. Karenanya peristilahan “liberalisme” yang oleh sementara orang dipersepsikan sebagai pasukan akal yang membawa kepada kesesatan dan kedangkalan aqidah perlu dipertanyakan. Kesesatan adalah buah kejahilan dan merupakan tentara iblis sementara ilmu adalah konsekuensi fitrah dan merupakan tentara akal (Imam Khomeini, Junud el-aql wal jahl), lalu bagaimana mungkin akal bersekongkol dengan kesesatan sebagaimana halnya tidak mungkin agama bersahabat dengan iblis.

Belakangan ini ranah pemikiran Islam di Indonesia dan di dunia pada umumnya sedang diusik oleh isu-isu liberalisme yang tidak hanya dalam tataran konseptual, tetapi telah merambah pada ranah amaliaah (practices) ajaran agama. Penganut liberalisme yang berkembang ini senantiasa mengakui dirinya sebagai pemuja akal, dan dengan alasan itu mereka mendeklarasikan dirinya sebagai pembela kebenaran atau senantiasa berada di atas kebenaran. Sesungguhnya mengaitkan kepastian benar dengan penggunaan akal adalah sesuatu yang dapat dibenarkan sebagaimana yang dijelaskan di atas, namun tidak berarti setiap yang diklaim sebagai produk akal menjadi niscaya benar. Sebab akal adalah sesuatu yang ghaib memiliki dimensi sakral sebagai manifestasi ke-Maha Tahuan Allah, yang untuk sampai kepadanya dibutuhkan langkah-langkah serta syarat-syarat yang tidak semua orang dapat mencapainya. Berdasarkan itulah peluang penganut liberalisme untuk terjebak dalam kekeliruan atau bahkan kesesatan menjadi sangat terbuka.

Liberalisme Pasukan Akal (`ilm) atau Pasukan Iblis (jahl)

Kata liberal berasal dari bahasa Inggris liberation yang mengandung arti pembebasan atau tindakan memerdekakan. Konsisiten dengan itu penganut liberalisme adalah mereka yang sudah terbebas atau menginginkan agar dirinya terbebas dari hal-hal yang mengekangnya baik secara fisik, bathin maupun akal. Kebebasan sendiri meskipun pada awalnya merupakan konsep universal dan memiliki makna universal pula, namun secara perlahan telah menjadi relatif dan subejktif terlebih setelah memasuki sekat-sekat subjektifikasi pemikiran, ideologis, budaya atau bahkan agama yang dianut. Penganut hedonisme misalnya akan merasa terbebas manakala setiap hasratnya akan material dapat dipenuhi sehingga ia lepas dari serba kekurangan. Sementara penganut asketis akan merasa merdeka manakala ia tidak lagi terikat dengan kenikmatan dan kemehawan dunia. Para filsuf akan mersa merdeka dan bebas ketika semua tabir kejahilan telah berhasil disingkapnya, sedangkan para arif akan merasa terbebas ketika tidak ada sesuatupun yang menghalanginya untuk berinteraksi dengan Allah Swt. Kalau begitu peristilahan liberalisme berada pada predikat imkan dimana ia dapat berkonotasi negatif atau positif.

Dalam kasus pemikiran Islam Indonesia liberalisme Islam atau Islam liberal telah menjadi sebuah trem yang seolah sudah pasti berkonotasi negatif atau bahkan sesat. Tentu saja hal tersebut tidak didasarkan pada pemaknaan yang tegas terhadap kata liberal itu sendiri, melainkan lebih menitikberatkan pada subjektifitas atau personalitas orang-orang yang memproklamirkan dirinya sebagai penganut liberalisme tersebut. Karena konotasi negatif bukan merupakan suatu keharusan bagi istilah liberal, maka tuduhan yang bersifat generalisasi terhadap kesesatan liberalisme dan segala yang berkaitan dengannya menjadi kurang tepat, sebab hal itu merupakan kekeliruan berpikir yang disebut logo sentrisme atau logo-logi. Dikatakan demikian sebab dalam kasus tertentu liberalisme dengan makna pembebasan atau kemerdekaan justru sangat dibutuhkan bahkan menjadi sutau kemestian. Ismail Razi al-Faruqi misalnya menyatakan bahwa bertauhid itu adalah pembebasan manusia dari kuasa-kuasa atau ketergantungan kepada selain Allah, demikian juga halnya Asghar Ali Engineer yang memperoklamirkan kemestian menganut teology of liberation dengan makna membebaskan diri dari ajaran-ajaran yang menyusup ke dalam agama dan menggrogoti kesucian dan kekuatan agama dari dalam tanpa disadari oleh penganut agama itu sendiri.

Sesungguhnya liberalisme dalam makna dasarnya lebih cenderung kepada penentangan terhadap hal-hal negatif, bahkan dapat dikatakan sebagai anti kesesatan dan kekeliruan. Meskipun di awal telah dikatakan adanya kemungkinan berkonotasi negatif semisal kebebasan kaum hedonis yang didasarkan pada kemerdekaan dari kekurangan material. Kemerdekaan atau kebebasan dalam konteks ini bukanlah kebebasan yang sesungghnya, sebab secara fitrah manusia justru akan terkekang ketika menggantungkan diri kepada materi atau kepuasan dunia. Adapun kebebasan yang dirasakan sebagai akibat dari banyaknya harta atau kesenagan material lainnya justru merupakan keterkungkungan pada sisi lain. Sebagai contoh seorang yang sangat hoby memakan daging namun apabila ia disuguhkan daging pada suatu tempat kemudian ia memakannya hingga kenyang lalu berpindah ke tempat lain, kemudian untuk kedua kalinya disuguhi daging hingga hampir muntah, selanjutnya pada tempat lain ia juga disuguhi daging untuk kali ketiga, bisadi bayangkan bagaimana akhirnya. Tentu keberadaan daging justru menjadi sebuah siksaan atas dirinya, begitu jug dengan kenikmatan-kenikmatan material lainnya.

Sementara liberalisme atau kemerdekaan yang dikehendaki memaliki hubungan yang erat dengan kebenaran, pemiurnian, kemajuan dan kesempurnaan dan bahkan keabadian. Untuk itu tindakan membebaskan diri dari ketergantungan terhadap material merupakan jalan menuju kesempurnaan dan selanjutnya akan mendekatkan kita pada kebenaran. Jika hal ini dapat dibenarkan, maka sikap liberal dalam beragama perlu senantiasa dipupuk dan dikembangkan demi pemurnian ajaran agama, pemeliharaan kebenaran dan pencapaian ridha ilahi. Namun, satu hal yang tidak dapat dipungkiri, adanya sekelompok orang yang mengaku sebagai penganut liberalime, tetapi  pada saat yang sama justru ia telah mengekang dirinya dalam keterbatasan dan determinisme. Mereka inilah orang-orang yang mengaku berpikir padahal akalnya sedang dikendalikan hawa nafsunya, mereka telah minciderai akal dengan mencampuradukannya dengan kesesatan, fanatisme dan hawa nafsu serta memisahkannya dari ilmu dan kebenaran yang semestinya menjadi sahabatnya.

Untuk dapat terhindar dari kesalahan menerapkan arti liberalisme dalam beragama agaknya beberapa karakateristik berikut perlu dijadikan bahan renungan. Pertama,  perlu disadari bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk suci yang mandiri dan merdeka sehingga setiap manusia adalah pejuang kemerdekaan atau makhluk liberal. Kedua, kemerdekaan atau liberation merupakan kemampuan melepaskan diri dari setiap keterbatasan, kesementaraan, kenisbian serta kemampuan menggantungkan diri pada kebenaran dan kebadian. Ketiga, Tuhan adalah lambang kemerdekaan sehingga penganut liberalisme adalah mereka yang sedang berjalan dan berusaha mendekati Allah. Keempat, kemerdekaan adalah lepasnya kebutuhan kepada selain Allah dan hal tersebut disimbolkan dengan kesempurnaan akal, coba perhaytikan kehidupan para malaikat yang merupakan simbolitas makhluk akaly. Untuk itu penganut liberalisme adalah mereka yang mamapu menggunakan akalnya secara sempurna tanpa dominasi ego, fanatisme, apalagi hawa nafsu.

Berdasarkan karakteristik tersebut, maka penganut liberalisme adalah mereka yang memahami kebenaran dan senantiasa berpegang teguh pada kebenaran tersebut baik jasmani, bathin maupun akal. Mereka senantiasa membangun argumentasi di atas ilmu yang pasti dengan merujuk kepada Allah dan Hujjah-Nya, mereka mengenal Allah secara baik, mengenali utusan dan ajaran-Nya (ad-din) dan senantiasa berusaha membebaskan akal, kalbu dan aksinya dari kejahilan dan determinisme yang kurang beralasan. Untuk itu penganut liberalisme harus membebaskan manusia dari mempertahankan pemahaman agama yang sempit, usang  dan siplistis agar agama senatiasa dapat mengawal kemerdekaan eksistensi manusia sebagai hamba Allah. Sering sekali orang yang memaksakan diri berpegang teguh kepada pemahaman agama yang usang lalu kemudian terkurung dalam determenisme tersebut, namun akibat kejahalan justru merasa paling benar dan paling liberal. Karena itulah penganut liberalisme yang sebenarnya harus berjuang untuk melepaskan manusia dari fanatisme terhadap pemahaman yang dipertahankan tanpa hujjah yang kuat, sebab hal itu justru akan membuatnya terpuruk dan statis dalam mengamalkan ajaran agama. Selain itu penganut liberalisme juga harus memerangi kelompok-kelopok atau mazhab-mazhab yang mengaku sebagai pemilik otoritas kebenaran padahal mereka adalah penyembah hawa nafsu dan egotisme. Pendeknya Penganut liberalisme adalah mereka yang keimanan dan pengetahuannya sudah sampai kepada kepastian sehingga batas kebenaran dan kebatilan sudah sangat jelas dalam pandanga mereka. Kita harus mampu membedakan penganut liberalisme yang sesungguhnya dari sekelompok orang yang mendeklarasikan sebagai penganut dan pembela liberalisme dengan mengeluarkan gagasan-gagasan baru dalam bidang agama tanpa diikuti hujjah dan kesempurnaan iman. Karena pada hakikatnya mereka tidak lebih dari sekelompok pasukan iblis yang menyamar sebagai pembebas dengan menawarkan tiket memasuki gerbang keterkungkungan.

Kita juga perlu mengenali mereka yang dengan antusias menyerang pemikiran liberal dengan alasan mempertahankan sebuah ideologi dan pemahaman yang benar, sementara mereka sama sekali tidak memiliki hujjah yang benar. Sebab mereka ini sesungguhnya sedang memaki topeng iblis yang menghiasi penjara-penjara dan determinasi dengan dalih pemelihraan kebenaran dan kesucian. Karena kaum liberalis yang sesunguhnya adalah mereka yang mengikuti pola pikir dan perjuangan para Nabi dan Rasul sebagai urutan manusia pembebas dalam rentetan sejarah sosial manusia.

Penutup

Penganut liberalisme adalah pembela kebenaran dan kemerdekaan yang bernanung di bawah payung kesempurnaan akal dan firtah kemanusiaan. Merekalah yang mencoba mewarisi tugas para nabi dan para Imam untuk memelihara posisi dan eksistensi agama sebagai jalan dan rujukan seluruh tindakan dan aktifitas manusia sepanjang zaman. Liberalisme adalah keniscayaan karena wujudnya adalah penentangan terhadap segala bentuk determinisme. Ia adalah sahabat akal dan hujjah yang benar sehingga penentangan terhadapnya adalah kekeliruan dan kejahilan. Tidak ada yang menentang liberalisme kecuali mereka yang bertuan kepada ego, fanatisme dan keterbelakangan. Wa Allahu A`lamu bi ash-Shawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: