volume IV

MENGGAPAI TAUHID MELALUI “MA`RIFAT”

Oleh : Nafaro Affandi Lubis

A. Pendahuluan

Dalam tradisi irfan kita sering mengenal sebuah ungkapan bahwa “muqaddimah beragama itu adalah pengenalan terhadap sang khalik” “Awwaluddin ma`rifatullah” , dan di atas dasar itulah semua ilmu pengetahuan dan ritual Islam dibangun. Para arif menyebut pengenalan terhadap Allah tersebut sebagai ma`rifat yang secara sederhana dapat dirujuk kepada pemaknaan  Rasulullah terhadap ihsan yakni “Sembahlan Allah seolah-olah engkau melihatnya dan jika engkau belum melihatnya yakinlah bahwa Allah melihatmu”.

Sementara kita beranggapan bahwa pengenalan terhadap Allah bukan merupakan urusan penting, bahkan pengkajian terhadap aqidah sering tidak dikaitkan dengan upaya pengenalan tersebut. Kita dapat menemukan sekelompok manusia yang mengakui keimanan kepada Allah sebagai salah satu rukun iman, namun dalam kenyataannya justru mereka menghindari pengenalan terhadap Allah tersebut. Hal ini berakibat pada rendahnya komitmen sebagian kita dalam bertuhan selanjutnya dalam beragama. Kenyataan ini telah menimpa sebagian besar umat Islam khususnya yang mereka yang dengan mudah telah menerima metodologi materialis sebagai sebuah cara memahami agama.

Ketika seorang hamba tidak mampu mengenali Tuhannya secara baik, maka komitmen untuk menaatinya pun akan rapuh, akibatnya agama menjadi sesuatu hal skunder yang dibutuhkan pada situasi tertentu saja. Keberagamaan yang demikian dapat kita sebut sebagai keberagamaan teritorial ‘mengakui keberadaan Tuhan pada suatu saat, dan mengingkarinya pada saat yang lain” atau “ mengimani Tuhan ketika berada pada suatu tempat dan mendustakannya pada tempat yang lain’. Tradisi seperti ini telah tampak pada trend beragama manusia modern, yang hal ini disebabkan kejahilan mereka terhadap Allah dan terhadap hakikat agama. Inilah kemudian yang menjadi alasan penulisan artikel ini.

M`rifatullah Antara Kewajiban dan Kebutuhan Dalam Bertauhid

Islam menempatkan pengenalan terhadap Allah sebagai dasar pengkajian agama, pengenalan seorang manusia terhadap agamanya sangat tergantung kepada kualitas ma`rifat yang dimiliki seseorang. Dalam khazanah taswuf, ma`rifatullah menjadi fardu `ain dimana setiap orang memiliki kewajiban yang sama untuk memperolehnya. Ma`rifat adalah sebuah trend yang dalam pemaknaannya memiliki kemiripan dengan ilmu atau pengetahuan. Namun istilah ini biasanya digunakan sebagai sebutan terhadap ilmu pengetahuan yang lebih sempurna, yang mana ia diperoleh melalui pembedayaan akal dan kalbu secara sempurna.

Perolehan ma`rifat berbeda pada setiap orang tergantung kepada kualitas intelektual dan jalan pemikiran yang dilaluinya. Karena ma`rifat tersebut merupakan hasil kesempurnaan akala dan kalbu, maka ia harus diperoleh melalui tangga-tangga epistemologis. Epistemologi yang dimaksud tentu bukan seperti yang dikedepankan pemikir materialis Barat, melainkan epistemologi Islam yang meliputi kebenaran lahir dan batin. Sipistis dalam memahami dan mengamalkan agama biasanya disebabkan ketidak mampuan manusia mengetahui hal-hal di luar alam material. Dimana hal tersebut diakibatkan oleh tertutupnya nalar dan hatinya dari kebenaran immaterial selanjutnya kebenaran agama. Akal manusia yang tidak dapat menserap sesuatu diluar material akan mengalai kesulitan dalam memahami hakikat agama, sebab pengenalan terhadap Allah sebagai puncak keberagamaan merupakan sesuatu yang istihalah baginya. Di dalam kehidupan sehari-hari kita sering menjumpai manusia  yang hanya mampu mengenali hal-hal yang baik secara lahiriah, selanjutnya hanya mengetahui dan merasakan apa yangt dialaminya secara material. Sementara terhadap sesuatu yang bersifat batiniah meskipun mungkin dialami, namun tidak dapat dirasakan sehingga kita tidak mampu menyampaikannya kepada orang lain. Akibatnya hanya alam materiallah yang diyakini sebagai hakikat dalam kata maupun tindakan, sementara terhadap sesuatu yang diluar material termasuk Allah, hanya mampu didengarkan dan tidak dapat dirasakan, apalagi disampaikan.

Ketika, kebenaran sesuatu hanya dibatasi pada materi, dan immateri hanya bertempat pada ranah pendengaran kita, maka informasi yang kita sampaikan lewat kata-kata terkadang tidak sama dengan hal yang sebenarnya. Sebagai suatu contoh, kita bercerita tentang musibah yang kita alami kepada orang lain, tetapi apa yang kita ceritakan tidak persis sama dengan apa yang kita alami, sebab pengalaman yang yang dapat direduksi hanya pada dimensi lahir saja. Kita dapat melihat juga misalnya, informasi musibah-musibah yang menimpa kaum muslim di penjuru dunia yang hanya dapat kita dengarakan dan kita bicarakan,namun tidak dapat kita rasakan padahal apa yang kita rasakan dari penderitaan mereka sebenarnya jauh dari penting. Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan (ma`rifat) terhadap dimensi immaterial yang sebenarnya menjadi hakikat musibah tersebut.

Dalam masalah tauhid, contoh ini juga tampak lebih kentara, dimana ketika seseorang hanya mampu menserap fenomena material, segera saja pandangannya terhenti pada pengalaman empiric. Itu berarti pengenalan terhadap Tuhan telah berhenti pada ranah material, dimana dengan terpaksa ia harus mengurung konsep ketuhanan di dalam ruang dan waktu. Itulah sebabnya kita membutuhkan apa yang disebut, ma`rifat sebuah ilmu yang dapat melampaui batasan material, ruang dan waktu.

Pengetahuan (ma`rifat) sangat penting dalam kehidupan kita, baik ketika menyampaikan sesuatu perbuatan atau informasi kepada orang lain agar apa yang disampaikan dapat mempunyai makna  yang kuat hakiki. Dalam kaitannya dengan ma`rifat, setiap orang mempunyai bobot yang berbeda, ini disebabkan oleh tingkat kesucian hati dan kesempurnaan  akalnya. Namun yang jelas ma`rifat menentukan derajat keimanan kita kepada Allah. Seseorang dapat mengatakan bahwa ia adalah seorang muslim, tetapi belum tentu sebagai mukmin sebab keimanan harus diiringi dengan pengetahuan yang mandiri kepada Allah. Kualitas keimanan memang sulit diukur, sebab ia ia berkaitan dengan hati seseorang. Namun yang jelas tingkat ma`rifat menjadi tolok ukur yang tidak dapat ditawar-tawar.

Ketika seorang hamba telah beriman dengan  ma`rifat yang benar, maka imannya akan membimbing setiap pemikiran dan amalnya. Karena itulah kita dapat menentukan bahwa seseorang itu beriman atau tidak dilihat dari amal dan perbuatannya, yang merupakan cermin dari keimanannya. Sementara untuk disebut sebagai muslim cukup dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.secara lahiriah atau hanya dalam bentuk bahasa saja.

Keislaman seseorang diawali dengan mengikrarkan syahadat. Syahadat bukan persoalan sederhana dimana ia selesai dengan hanya ungkapan lisan saja. Syahadat dengan ungkapan hanya dapat menjadikan kita menjadi seorang muslim, bukan seorang mukmin, bahkan pada tingkat tertentu berdasarkan syahadat orang tua kita, kita telah tergolong sebagai orang Islam. Namun untuk beriman, syahadat harus diiringi dengan ma`rifat yang benar, sebab kesaksian harus meliputi lisan, akal, hati dan aksi. Untuk itu marilah kita kembalikan pada diri kita masing-masing, apakah syahadat yang kita ikrarkan mempunyai makna dan bobot tertentu atau hanya sekedar memiliki arti bahasa saja. Saya ingin menegaslan, bahwa yang paling penting dari syahadat kita adalah Laa Illaaha illallah, yang merupakan puncak dari kesempurnaan pengetahuan manusia terhadap hakikat Allah. Itulah sebabnya maka awal dari ibadah adalah ma`rifat yang merupakan muara tauhid yang benar.

Tauhid yang benar adalah meniadakan batasan-batasan terhadap Allah Swt, untuk itu perlu diketahui bahwa segala sesuatu yang terbatas adalah makhluk bukan khalik. Sedangkan khalik adalah suatu zat yang tidak terbatas, maha kuasa, dan maha suci. Kita tidak dapat mengenali Allah dengan menggunakan pikiran kita, apalagi pikiran yang belum sempurna, karena itu, kita perlu menguraikan beberapa bagian tentang tauhid. Pertama, Tauhid Dzat, dalam tradisi keilmuan Islam harus disepakati bahwa, Zat Allah adalah sesuatu yang unik, sederhana, nyata yang karena nyatanya hingga ia menjadi ghaib. Zat Allah merupakan Wujud murni, tiada padanya sekutu atas-Nya, karena itulah ia tidak dapat dikenal secara mutlak oleh hamba-NyaYaitu bahwa Allah Swt itu esa, tidak membutuhkan apapun, artinya semua hikmah apabila dikembalikan kepada Allah Swt, maka ia kembali kepada zatnya (bukan selainnya). Kedua, Tauhid Sifat, yaitu semua sifat Allah itu kembali kepada dzatnya. Kedua tauhid yang dimaksud diatas sebenarnya adalah hujjah akal(nazhari).artinya bagaimana kita dapat memisahkan bahwa segala sesuatu yang terbatas iti bukan tauhiddiyah.

Ketiga, Tauhid Ibadah atau tauhid `amali, yaitu menyangkut amaliah atau perbuatan kita artinya bagaimana semua amal kita tujukan kepada Allah Swt. Tauhid zat dan tauhid sifat mempunyai sifat yang tetap, sedangkan tauhid sifat mempunyai sifat dinamis, seperti yang difirmankan Allah Swt dalam al-Qur”an (Qs.Fathir: 10) yang artinya:” bahwa sesungguhnya semua kalimat thayyibah kembali kepada Allah Swt dan amal sholeh yang mengangkatnya.(kalimat thayyibah)

Disini jelas bahwa tujuan dari tauhid,merupakan asal dari ma”rifat.seperti sabda Rasulullah Saw.  ”Tidaklah di dalam Islam ini kecuali dua perkara, yaitu mencinta karena Allah dan membenci juga karena Allah”. Seseorang saat bertauhid, dia harus memiliki daya tarik dan daya tolak terhadap dirinya.sehingga pada saat kita mengucapkan kalimat Laa  illaaha  illallah, berarti kita telah meniadakan semua yang dipertuhankan oleh nafsu kita.

Berkata Imam Ali bin Abi Thalib A.S : “Cukuplah kebodohan seseorang itu ketika dia tidak mengenal kadar dirinya”. Karena jika kita tidak dapat mengenal posisi diri kita atau dimana kita harus menempatkan diri kita.semakin seseorang itu pandai tetapi tidak tahu dimana posisinya,maka semakin jauh ia akan tersesat. Salah satu contoh seseorang yang tidak mengenal posisinya ialah ketika ia tidak mengenal siapa lawan dan siapa kawan, siapa yang harus ia tarik dan siapa yang harus ditolak.

Hal itulah yang menyebabkan kita berkewajibaan untuk mencari ma”rifat.dan pada saat kita mendengar panggilan ma”rifat dan kita mempunyai kekuatan,maka wajib untuk menyambutnya. Dalam hal ini tidak ada petunjuk yang mengatakan bahwa kita hanya mengikuti orang tua kita.biarkan akal kita yang mengembara atau berhijrah.seandainya kita sudah mendapatkan suatu kebenaran,marilah kita coba untuk beramal.

Dari pembicaraan kita ini adalah, dalam kita bertauhid kita harus mengenal diri kita Seperti sabda rasulullah Saaw  :”Siapa yang mengenal dirinya ,maka ia akan mengenal Rabbnya.akhirnya saya sudahi tulisan ini dengan mengucapkan shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad rasullullah Saaw beserta keluarga sucinya. Alhamdulillahi rabbil alamin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: