volume VIII

HAKIKAT SENI DAN ESTETIKA DALAM ISLAM

(Tubuh Wanita; Porno atau Keindahan Desain Ilahi)

Oleh :Salahuddin Harahap, MA

Pendahuluan

Islam adalah agama universal, ajarannya telah diperuntukkan sebagai rahmatanlil`alamin dan diamanahkan kepada seorang ar-Rasul dengan kapasitas tibyanan likulli sya`in. Berdasarkan hal itu menoleh kepada ajaran Islam ketika menghadapi pelbagai tantangan dan persoalan dalam kehidupan menjadi sutau keniscayaan. Sayangnya tidak banyak manusia yang menyadari hal ini, kecuali mereka yang benar-benar mengenal agama dan hujjahnya.

Saat ini masyarakat kita sedang dihadapkan kepada sejumlah persoalan pelik dan membingungkan, yang oleh karena rapuhnya pengetahuan dan keimanan terhadap ajaran agama menyebabkan kita terjebak dalam kobodohan atau bahkan kesesatan. Kaburnya pemahaman terhadap ajaran agama telah menempatkan kita pada persipangan jalan; mengikuti ide-ide liberalisme, modernitas dan toleransi pada satu sisi, dan keinginan mempertahankan keimana kepada Tuhan, memelihara budaya dan melestarikan etika pada sisi yang lain. Kasus RUU porno-grafi dan porno-aksi merupakan salah satu contoh yang amat kentara dimana orang-orang yang diberi gelar ulama, tokoh agama, nasionalis, politikus, budayawan dan bahkan seniman telah terjebak di dalam kontraversi yang berkepanjangan dalam menyikapinya yang berakibat rakyat kemudian kehilangan simpatik dan kepercayaan.

Kontraversi seputar batasan seni dan porno, agama, hak azasi dan toleransi telah menjadikan persoalan ini tampak begitu rumit dan ambigu. Nah, ini semua dapat terjadi akibat ketidakmampuan kita memahami secara benar apa itu agama, seni dan bahkan kemanusiaan yang selama ini menjadi bahan diskursus yang berkepanjangan di antara kita. Berdasarkan hal itu, melalui tulisan sederhana ini, penulis mencoba menguraikan gambaran seputar seni dan estetika dalam Islam yang diharapkan menjadi salah satu sumbangan dalam mengambil kebijakan seputar penerapan RUU APP.

Islam, Porno dan Falsafah Seni

Islam memberikan penghargaan yang cukup tinggi terhadap seni dan estetika, bahkan dalam rentang perjalan sejarah sempat menjai salah satu aspek kebudayaan yang cukup membanggakan. Karenanya sangat pantas jika kita menunjukkan rasa salut kepada generasi terdahulu atas peninggalan karya arsitektur, kaligrafi serta berbagai karya sastra lainnya yang cukup mengagumkan. Ketika menjelaskan konsep ilmu pengetahuan dalam Islam Seyyed Hossein Nasr menyatakan bahwa seni merupakan suatu hal yang inheren dalam ilmu pengetahuan dan bahkan setiap aktifitas yang dilakukan manusia merupakan manifestasi keindahan dan kasih sayang Allah Swt (Traditional Islam in Modern World, 1981). Hal ini berarti tidak ada satu tindakan pun dan tidak ada satu wujud pun yang terlahir tanpa di dalamnya termanifestasi keindahan Allah Swt. Dalam salah satu hadis ar-Rasul Saw, menyatakan bahwa sesungguhnya Allah adalah sesuatu yang indah dan senang akan keindahan. Tanpa ingin menelusuri keshahihan sanadnya, namun hadis ini dapat dilihat sebagai sebuah isyarat betapa keindahan atau seni memiliki hubungan yang amat erat dengan ketuhanan. Bahkan dalam khazanah filsafat memperhatikan nilai seni, keindahan dan keteraturan penciptaan alam semesta merupakan salah satu jalan menuju mepenganalan kepada Allah Swt yang disebut dengan jalan teleologi.

Keindahan (jamalah) adalah sesuatu yang abstrak merupakan nilai yang hendak dicapai dari sebuah karya seni, ia memiliki nilai universal, suci dan mandiri sehingga dijadikan sebagai salah satu sifat Allah yang maha Agung. Karenanya memberikan lebel indah “al-jamil” kepada Allah menunjukkan kemadirian dan universalitasnya sebagai salah satu sifat Allah sekaligus penegasan absoluditas kepemilikan Allah terhadapnya. Karena ia merupakan sifat absolut, maka sebenarnya tidak ada suatu nilai pun yang dapat disetarakan dengannya dan tentu saja tidak ada yang dapat memahaminya secara paripurna. Dengan demikian persepsi manusia yang beragam terhadap keindahan adalah sesuatu yang rapuh dan leralif jika yang dimaksud adalah keindahan sejati. Sebab selama keindahan masih berada pada wilayah ketuhanan maka ia senantiasa identik dengan kebenaran dan memiliki karakter objektifitas yang lepas dari persepsi personality manusia. Namun bersamaan dengan keniscayaan degradasi wujud menuju level terendah yakni materi atau fisik, keindahan pun mengalami proses desakralisasi, hingga kemudian memasuki ruang-ruang subjektifikasi di alam material. Pada saat inilah keindahan menjadi sangat rentan terhadap subjektifitas manusia selanjutnya budaya, geografis bahkan pada akhirnya ideologi masing-masing golongan manusia.

Ketika keindahan sudah terkungkung dalam persepsi subjektifitas setiap manusia, maka keindahan menjadi sangat plural dan bahkan relatif. Hal ini kemudian  berakibat pada munculnya kesimpangsiuran atau bahkan kekeliruan dalam mempersepsikan seni dan keindahan yang dicapainya. Apa yang kita hadapi saat ini, sehubungan dengan kasus porno-aksi dan porno-grafi tidak lebih dari sebuah perbedaan dalam mempersepsikan sebuah keindahan atau seni yang sudah merasuki relung-relung subjektifikasi budaya, ideologi dan bahkan pemahaman keagamaan masing-masing. Disebabkan oleh ketidak jujuran dan pengingkaran atas kebenaran selanjutnya didasarkan pada keinginan mempertentangkan peradaban Timur-Barat, Islami- sekuler, theis-a-theis, seniman-nonseniman akhirnya kita dihadapkan pada kesulitan dalam menentukan batasan seni dari non seni, keindahan dari keburukan, susila dari a-susila.

Untuk dapat keluar dari persoalan ini kita harus kembali kepada ranah objektifitas dimana keindahan belum terpecah belah, seni masih memiliki konsep universalitas sebagai esensi-esensi yang melekat dalam keindahan Allah Swt, tentu dengan menelusuri jalan agama yang benar. Agama Islam adalah jalan yang dianugerahkan Allah kepada manusia melalui mana setiap orang dapat bergerak menuju-Nya. Jalan tersebut dibangun di atas prinsip-prinsip ilahiyat; kebenaran, keindahan, keadilan, kasih sayang dan kesempurnaan. Berdasarkan hal ini Islam merupakan mizan atau timbangan setiap persoalan yang dengan sengaja diberikan Allah sebagai pengawal setiap gerakan dan aktivitas manusia yang sedang berjalan menuju-Nya. Jika hal ini dapat diterima, maka setiap persolan mestinya dirujuk kepada prinsip-prinsip universal agama Islam, agar tidak terjebak dalam relatifitas dan subjektifikasi manusia, egotisme budaya dan hegemoni ideologis.

Berkat kasih sayang dan kekuasaan Allah Swt, setiap sifat-Nya turut bertajalli pada setiap tingkatan gradasi wujud alam material yaitu bentuk tubuh manusia termasuk tubuh seorang wanita. Keindahan atau nilai seni yang pada mulanya bernilai universal dalam bingkai keadilan dan kebenaran serta kasih sayang Allah, seolah telah menjadi relatif dan subjektif ketika ia memasuki keterbatasan ruang dan waktu. Dalam kondisi ini lahirlah berbagai persepsi tentang keindahan ataupun seni yang terkadang lepas dari sifat-sifat kesejatian yang semestinya melekat. Padahal keindahan ataupun nilai seni yang teraktus di alam materi pada hakikatnya merupakan lambang atau manifestasi sifat-sifat Allah yang Abadi dan Maha Sempurna. Itulah sebabnya persepsi terhadap keindahan mesti didasarkan pada pengenalan terhadap karakteristik yang mendasarinya yakni; kebenaran, kasih sayang, keadilan dan kelembutan. Dengan demikian ia tidak dapat dinilai berdasarkan subjektifitas, egotisme, nafsu setan, kecurangan dan kesombongan apalagi dengan pengingkaran terhadap keberadaan sang pencipta.

Imam Ali as berkata: “Allah Swt memulai penciptaan pada masa awal tanpa mengalami pemikiran, tanpa menggunakan suatu eksperimen, tanpa melakukan suatu gerakan, dan tanpa mengalami kerisauan. Setelah mencipta ia memberikan waktunya kepada segala sesuatu yang tercipta, mengumpulkan variasi-variasi dan memberikan sifat-sifat kepada masing-masing. Allah  menetapkan corak wajah dimana ia mengetahui-Nya sebelum menciptakannya, menyadari sepenuhnya batas-batas dan kesudahannya” (Nahjul Balagah). Ucapan Imam Ali as ini menggambarkan betapa Allah senantiasa menyertai setiap ciptan-Nya.

Karena setiap ciptaan disertai dengan tajalli keindahan Allah, maka tidak ada satu makhluk pun yang tercipta tanpa di dalamnya terdapat nilai keindahan. Para penyair abad pertengahan dan bahkan sebagian sufi menyatakan bahwa Allah Swt telah memanifestasikan keindahan-Nya jauh lebih banyak dalam penciptaan manusia terlebih perempuan dibanding makhluk lainnya. Karenanya sangat pantas jika, tubuh perempuan diidentifikasi sebagai karya seni Tuhan yang paling sempurna. Karena setiap keindahan adalah anugerah Tuhan dan merupakan manifestasi kesempurnaan-Nya, maka ia harus tetap diposisikan dan dinikmati sebagai karya yang Maha Indah, tentu dengan cara-cara yang diizinkan oleh sang designer. Hal tersebut sebenarnya sangat masuk akal, sebaba yang paling berhak atas setiap karya seni adalah designernya dalam hal ini Allah Swt. Jika hal ini dapat diterima maka untuk dapat menimati keindahan karya seni ilahi secara paripurna, ikutilah petunjuk yang diberikan untuk menikmatinya. Karena itu, perintah menutup aurat dan menjaga kehormatan yang diwajibkan kepada wanita dalam konteks ini merupakan wujud dari keinginan Allah untuk menjaga kesempurnaan dan kesejatian karya seni-Nya tersebut.

Bagi mereka yang tidak meyakini dan dan tidak menghargai sang desiner agung ini, pastilah bukan manusia profesional dan manusia modern, sebab salah satu ciri manusia modern itu adalah kerelaannya menghargai hasil karya orang lain. Meskipun mereka berusaha memberikan persepsi terhadap keindahan karya seni ini, namun usaha ini dapat dilihat sebagai tindak kecurangan administratif dan pelanggaran hak peto sang designer. Mereka adalah orang-orang yang berusaha mencampur antara yang hak dan yang batil dengan mengedepankan hawan nafsu, lalu memberikan nilai seni atau keindahan berdasarkan kecurangan-kecurangan ini dengan dalih kepentingan orang banyak, politik, sosial, dan bahkan ekonomis.

Imam Ali as menegaskan : “Setiap yang tahu selain Allah pada hakikatnya adalah pencari pengetahuan. Setiap yang berkuasa selain Dia adalah kadang berkuasa dan kadang tidak mampu. Setiap pendengar selain Dia adalah tuli terhadap suara ringan  sedang suara nyaring telah menulikannya, adapun suara-suara jauh menjauh darinya. Setiap pelihat selainnya adalah buta terhadap warna-warna tersembunyi dan benda-benda halus “. Pernyataan ini merupakan petunjuk betapa penilaian manusia terhadap hasil karya seni Allah dalam hal ini keindahan tubuh manusia sangat rapuh dan tidak beralasan. Karenanya persoalan batas wilayah porno dari seni dan keindahan tidak dapat dikembalikan pada ukuran hawa nafsu dan kesepakatan manusia yang tidak profesional, melainkan harus dikembalikan kepada sang designer pemilik keindahan atau berdasarkan petunjuk-Nya yakni agama.

Penutup

Subjektifitas penilaian terhadap seni dan keindahan tidak berarti melepaskannya dari hakikatnya sebagai sesuatu yang universal dan suci di sisi Allah. Karenanya kesusahan memisahkan porno dari seni sungguh tidak beralasan. Sebab Allah yang Maha Indah dan pemilik keindahan telah memberikan batasan-batasan dan karakteristik keindahan dan seni tersebut melalui agama dan hujjahNa bagi mereka yang mau menggunakan akal sehatnya. Yang kita butuhkan adalah kesungguhan para pakar mencari akar permasalahan yang jelas dan keasadaran setiap manusia untuk kembali kepada kebenaran dan segera memberikan penentangan terhadap kejahilan dan hawa nafsu. Dengan begitu diharapkan kita mamapu menemukan jalan keluar yang lebih bijak dan lebih arif.  Wa Allahu A`lamu bi ash-Shawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: