MEMBINCANG 7 RESOLUSI KONGRES KEBUDAYAAN INDONESIA

Oleh : Saruhum Rambe 

(AAI Sumut)

20190126_184757-collage

“Prof, mana foto kita dulu di depan rumah Snouck Hurgronje”, tanya Dr. Phil. Ichwan Azhari ke Prof. Usman Pelly sesaat memasuki ruangan pustaka tempat diskusi akan dilaksanakan. Prof Usman coba mengingat, pergi ke ruangan terpisah dan tak lama kemudian kembali dengan foto ukuran jumbo memberikannya ke Dr. Azhari. “Iya ini dia”, ucapnya sambil menunjukkan ke kami, peserta diskusi yang sudah berhadir. Prof. Usman bercerita tentang cewek bule asal Italia yang ada di foto itu bersama mereka dan kisah uniknya, menjadi semacam simfoni pengantar bagi kami yang mengagumi foto kebersamaan mereka di Leiden. “Itu dua antropolog muda yang kini sudah tua”, ucap Dr. Azhari memberi quote sambil tersenyum.

Mengagumi foto lama (1995) yang dalam tafsir saya sengaja ditunjukkan ke kami untuk mengeskpresikan sejarah kedekatan mereka, menjadi semacam aktifitas pengantar diskusi. Tidak berhubungan secara langsung dengan tema yang akan didiskusikan, namun menjadi terhubung jika secara sadar coba dikoneksikan. Sama halnya dengan pentingnya bagi AAI Sumut untuk menggagas program pasca Kongres Kebudayaan Indonesia (KKI) 2018.

Tidak terlibat dalam prosesnya, namun mencoba untuk melihat peluang dan ruang untuk berkontribusi dari rumusan yang dihasilkan. Tidak dalam pengertian pragmatis untuk turut berebut kucuran dana, tetapi dalam konteks yang lebih strategis dalam upaya pemajuan antropologi dalam kebudayaan. Membantu kemajuan antropologi dengan cara membantu upaya pemajuan kebudayaan. Sesuai dengan anjuran yang disampaikan oleh sahabat nabi, Ali bin Abu Thalib, “Bantulah Dirimu Dengan Cara Membantu Orang Lain”.

Di sore hari yang cerah setelah mendung berlalu, Rabu (23/1) kami berkumpul di ruang baca perpustakan milik Prof. Usman Pelly yang dibuka untuk umum, CASA MESRA, Griya Unimed, Jl. Pelajar Medan. Diskusi terbatas untuk menyatakan jumlahnya dibatasi karena kapasitas ruangan yang akan terasa sempit jika peserta melebihi 20 orang. Dan syukurnya, jumlah peserta diskusi forum rabuan yang telah beberapa kali dilaksanakan di tempat itu tidak pernah melebihi kapasitas ruangan yang ada. Sebab penguasa ruang itu adalah ribuan buku-buku ilmu sosial dan agama, yang sudah lebih sering merindukan daripada dirindukan.

Digagas oleh Prof. Usman Pelly dimoderatori Edy Suhartono, diskusi yang difasilitasi oleh AAI Sumut ini mengambil tema : “Menggagas Program AAI Sumut Pasca Kongres Kebudayaan Indonesia 2018” dengan narasumber Dr. Phil. Ichwan Azhari,  MS (Anggota Ttim Perumus Kongres Kebudayaan Indonesia 2018). Beliau satu-satunya dari Sumatra yang duduk di tim perumus dan secara aktif mewarnai hasil rumusan dari strategi kebudayaan yang menghasilkan 7 (tujuh) agenda strategis yang kemudian diterjemahkan ke dalam 7 (tujuh) Resolusi Kongres.

Di hadiri belasan peserta diskusi dari anggota AAI Sumut, Prodi Antropologi Unimed, Departemen Antropologi USU, pendamping dan anggota tim Penyusun Pokok-pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Sumatera Utara dan Kota Medan, Dr. Azhari berbagi pengalaman tentang proses kongres yang berlangsung selama 10 bulan puncaknya di 9 Desember 2018 yang ditandai dengan penyerahan rumusan strategi kebudayaan nasional ke Presiden Jokowi.

Presentasinya dimulai dengan menunjukkan SK Tim Perumus, dan orang-orang terpilih dengan latar belakang keahliannya masing-masing, pertarungan argumentasi di tim perumus, dan pandangannya terhadap minimnya keterlibatan Antropolog di kongres. Lalu beliau mengulas sedikit sejarah seabad Kongres Kebudayaan Indonesia, yang menurutnya baru kali ini didukung kebijakan dan anggaran untuk implementasinya. Selanjutnya mempresentasikan strategi kebudayaan nasional (Tujuh Agenda Strategis Pemajuan Kebudayaan dan Resolusi Kongres) dan memberikan pokok-pokok pikirannya tentang ruang yang bisa AAI Sumut bisa tampil atau mengambil peran strategis dari masing-masing point hasil Resolusi Kongres.

Paparan yang disampaikan narasumber menjadi diskusi yang menarik. Banyak masukan yang disampaikan oleh Prof. Usman dan Pak Choking Susilo Sakeh serta peserta lainnya, bersama dengan gagasan Dr. Azhari sebagai narasumber akan dikongkritkan kembali dalam bentuk rumusan. Selanjutnya di pertemuan berikutnya akan disepakati satu atau dua pokok pikiran yang akan dijadikan sebagai rencana aksi dan pengorganisasiannya.
***

Lahirnya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, memberikan landasan penyusunan strategi kebudadayaan sesuai dengan pasal 8 C yang menyebutkan bahwa pemajuan kebudayaan berpedoman pada Strategi Kebudayaan. Dalam rangka penyusunan strategi kebudayaan, telah dilaksanakan Kongres Kebudayaan Indonesia (KKI) 2018 dalam suatu rangkaian panjang dari April 2018 dan puncaknya pada Desember 2018. KKI 2018 memberikan harapan besar bagi bangsa Indonesia untuk berkepribadian secara kebudayaan dengan dihasilkannya rumusan Strategi Kebudayaan 20 tahun ke depan dan Resolusi Kongres yang akan diimplementasikan segera.

Adapun 7 (Tujuh) Agenda Strategis Pemajuan Kebudayaan yang dijawab dengan Resolusi Kongres seperti yang dipaparkan narasumber yakni :

Agenda Strategis 1 : Menyediakan ruang bagi keragaman ekspresi budaya dan mendorong interaksi budaya untuk memperkuat kebudayaan yang inklusif.

RESOLUSI : Melembagakan Pekan Kebudayaan Nasional sebagai platform aksi bersama yang memastikan peningkatan interaksi kreatif antar budaya.

Agenda Strategis 2 : Melindungi dan mengembangkan nilai, ekspresi dan praktik kebudayaan tradisional untuk memperkaya kebudayaan nasional.

RESOLUSI : Memastikan terjadinya alih pengetahuan dan regenerasi melalui pelindungan dan pengembangan karya kreatif untuk kesejahteraan para pelaku budaya, serta pelibatan maestro dalam proses pendidikan dan pembelajaran formal.

Agenda Strategis 3 : Mengembangkan dan memanfaatkan kekayaan budaya untuk memperkuat kedudukan Indonesia di dunia internasional.

RESOLUSI : Meningkatkan diplomasi kebudayaan dengan memperkuat perwakilan luar negeri sebagai pusat budaya Indonesia, meningkatkan jumlah dan mutu program pertukaran dan residensi untuk seniman, peneliti dan pelaku budaya, dan menjadikan diaspora Indonesia sebagai ujung tombak pemajuan kebudayaan Indonesia di luar negeri.

Agenda Strategis 4 : Memanfaatkan obyek pemajuan kebudayaan untuk meningkatkan kesejateraan masyarakat.

RESOLUSI : Membangun pusat inovasi yang mempertemukan kemajuan teknologi dengan warisan budaya di tiap daerah melalui sinergi antara pelaku budaya dan penggerak ekonomi kreatif guna memanfaatkan kekayaan budaya dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Agenda Strategis 5 : Memajukan kebudayaan yang melindungi keanekaragaman hayati dan memperkuat ekosistem.

RESOLUSI : Membangun mekanisme pelibatan seniman dan pelaku budaya dalam kebijakan kepariwisataan berkelanjutan dan ekonomi kreatif yang berbasis komunitas, kearifan lokal, ekosistem budaya, pelestarian alam, dan pemanfaatan teknologi.

Agenda Strategis 6 : Reformasi kelembagaan dan penganggaran kebudayaan untuk mendukung agenda pemajuan kebudayaan.

RESOLUSI : Membentuk Dana Perwalian Kebudayaan guna memperluas akses pada sumber pendanaan dan partisipasi masyarakat dalam pemajuan kebudayaan.

Agenda Strategis 7 : Meningkatkan peran pemerintah sebagai fasilitator pemajuan kebudayaan.

RESOLUSI : Memfungsikan aset publik (seperti gedung terbengkalai, balai desa, gedung kesenian) dan fasilitas yang telah ada (taman budaya dan museum) sebagai pusat kegiatan dan ruang-ruang ekspresi kebudayaan guna memperluas dan menjamin pemerataan akses masyarakat pada kebudayaan. `(ATN)

*Sumber : FB Saruhum Rambe.

Iklan

PARA PENCARI DUNIA

Oleh : Candiki Repantu
🍃🍁🍃🍁🍃🍁🍃

Screenshot_2018-02-21-12-51-16-510_com.miui.gallery

Imam Ali as berkata, “Dunia adalah kendaraan orang mukmin yang digunakan untuk perjalanan menuju Tuhannya. Sebab itu, peliharalah kendaraanmu dengan baik agar dapat mengantarkanmu kepada Tuhanmu

Harta, tahta, dan wanita adalah tiga hal yang identik dengan perkara-perkara dunia. Sebagian orang sibuk mengejarnya dengan ketekunan yang luar biasa tak peduli siang dan malamnya, bahkan sampai lupa aturan-aturan Tuhannya. Dalam pikirannya yang ada hanyalah mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, menduduki jabatan setinggi-tingginya, dan mencari wanita-wanita seksi di setiap persinggahannya. Padahal kalau kita memiliki semuanya, pasti akan kita tinggalkan suatu saat untuk menghadap Tuhan, penguasa semesta.

Sebagian lagi sibuk pula berlari dari dunia karena khawatir akan kejahatannya. Mereka sibuk salat dan puasa, di mesjid berlama-lama untuk beribadah kepada Tuhannya tanpa sadar bahwa Tuhan juga memerintahkannya bekerja, menikah dan berkeluarga, serta memakmurkan jagad raya.

Ibadah dalam agama bukan sekedar salat dan puasa, tapi juga bersedekah, menolong orang-orang susah, mendidik istri dan anak-anak, serta juga menegakkan keadilan dengan kekuasaan yang ada di tangannya. Itu semua perkara duniawi yang berwajah ukhrawi. Bukankah Bang Haji Rhoma pernah mempopulerkan hadis, “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah isteri yg soleha“. Istri soleha adalah bidadari kita di dunia yang tetap setia sampai berjumpa kelak di surga.

Karena itu, seperti pesan Imam Ali as di atas, dunia adalah kenderaan, karena itu harta, tahta, wanita semuanya adalah kenderaaan kita menuju Allah ta’ala, karena itu cari dan pilihlah kenderaan terbaik untuk kita naiki agar perjalanan lancar tanpa hambatan yang berarti.

Kumpulkanlah harta yg dengannya kita membantu sesama, raihlah kekuasaan yang dengannya kita menegakkan keadilan, carilah isteri/suami yang dengannya kita mencetak generasi pewaris para pecinta keluarga nabi.

Untuk itu, jadilah para pencari dunia yg baik utk tujuan akhirat yg bahagia. Semoga teman-teman dapat meraihnya. (CR14)

PEJUANG PENDIDIKAN

IMG-20171125-WA0009

Oleh : Riani Azri Alfi

Fajar menyingsing pagi
Semilir angin sejukkan diri
Fikir itu pelita hati
Sambut hari ceriakan negeri
Secerah mentari menyinari

Ayunkan langkah lepas
Semangat menyelimuti penuh ikhlas
Lelah tak lagi terlintas
Buku dan ilmu mu mengulas
Didikan jasamu tak terbalas

Kicauan cercaan tak kau dihiraukan
Murid berlari mengejar pelajaran
Kau santuni segudang pelajaran
Kaulah sosok pejuang pendidikan
Bagai janji mentari mencerahkan

Kaulah cahaya mata ayah bunda
Tonggak negeri menuju jaya
Tanpamu dunia serasa buta
Lentik jarimu menuntun manusia
Suaramu ajarkan tiap kata

Tiada lafaz seindah ilmu
Menaburkan benih bermutu
Keberhasilan tujuan hidupmu
Mengukir jasa tiap waktu
Menyemai kasih ruang rindu

Lukisan sejarah tanpa tanda jasa
Dikenang sepanjang zaman
Menorehkan benih keilmuan
Mendidik perangai kemanusiaan
Lelah letih tak dihiraukan
Hanya ikhlaskan disebarkan

Membangun anak negeri
Berjuang menuntun harga diri
Seulas senyum menyelimuti
Karya jasamu tak pernah mati
Walau raga dikubur nanti

Lemah lembutlah mengajar
Tidak sembarang menghajar
Menelurkan karya besar
Melahirkan pribadi terpelajar
Semagat juang terus memancar

Guru memang bukan terhebat
Namun jasamu penuh berkat
Mewarisi orang cerdas hebat
Membangun manusia berbakat
Ilmu tersimpan bak terpahat

Soko guru yang mendidik
Bukan guru sibuk hardik
Contoh mulia terdidik
Jiwa menghiasi kharismatik
Wariskan cahaya budi baik

🎁Selamat hari guru🌈
Riani A.Alfi rindu ilmu

MENGHIDUPKAN SYAWAL

IMG_20170628_171943

MENGHIDUPKAN SYAWAL

Oleh : R. A. Alfi

Ramadhan bulan penuh berkah
Saat diri dijamu mengambil Iradah
Hidangan buat kita muhasabah
Kewajiban kita puasa bagian ibadah

Momen evaluasi menyucikan diri
Kini Ramadhan berlalu pergi
Berlalu bukan berarti tak kembali
Berpisah selalu harap ketemu lagi

Musimpun berganti Syawal
Meraih kemenangan jejak amal
Adakah diri suci beramal
Hilangkan penyakit hati yg mengganjal

Bersatu jabat genggam tangan erat
Bersihkan noda diri yang mengkarat
Tak perduli kaya miskin nan melarat
Mari merangkul tak kenal telat

Setiap hari adalah kemuliaan
Dengan saling memaafkan
Menepis semua perbedaan golongan
Karena kita semua ciptaan Tuhan

Semoga Allah menerima amalku dan dirimu
Semoga Allah Ampuni dosa kalian dan dosaku
Ya Illahi bebaskanlah mereka yang terbelenggu
Tuntunlah kami ke jalan yang lurus selalu
Sebagaimana Kau beri nikmat umat-Mu terdahulu