GENNEKA TUNGGAL IKA

Oleh : Candiki Repantu

20190429_214557-COLLAGE

Genneka Tunggal Ika, Aneka gen, satu Indonesia”, begitu semboyan yang dilontarkan oleh dr. Herawati Sudoyo, MS. Ph.D pakar genetika dari Eikjman Institut. Semboyan ini disampaikan beliau berdasarkan pada penelusuran dan penelitian beliau tentang “Asal Usul Genetik Manusia Indonesia”, yang mana ditemukan bahwa seorang pribadi warga Indonesia yang dianggap pribumi pada dasarnya di dalam dirinya memiliki campuran beragam genetika dari berbagai belahan dunia. Hal ini disampaikan oleh Dr. Herawati dalam Kongres Kebudayaan di Jakarta, beberapa bulan yang lalu.

Kemarin, 27 April 2019, bertempat di Digital Library Universitas Negeri Medan (Digilib UNIMED) dengan data-data yang ada, dr. Herawati kembali memaparkan riset genetika atas Manusia Indonesia. Dari mana nenek moyang kita berasal? Apakah nenek moyang kita seorang pelaut? Apakah nenek moyang kita murni dari daratan Jawa, Sumatera, Sulawesi, Maluku, atau Irian Jaya?

FB_IMG_1556548521566Foto : dr. Herawati Sudoyo, Dr. Ketut, dan Dr. Fauziah dalam  Seminar Nasional “Asal Usul Genetika Nenek Moyang Bangsa Indonesia” di Digilib UNIMED.

Tes DNA menunjukkan manusia Indonesia selalu bergerak, puluhan ribu tahun saling silang kontak, kawin mawin, saling ambil, saling pengaruh, budaya dan asal usul darahnya. Menariknya, dr. Herawati Sudoyo menjadikan dirinya sebagai salah satu sosok pribadi yang diuji coba dalam laboratorium. Apa hasilnya?

Dr. Herawati Sudoyo M.S. Ph.D dilahirkan dari ayah bersuku Jawa kelahiran Mojokerto. Tes DNA pada dirinya bercerita sebagai berikut :

Wahai dr. Herawati, secara komposisisi, kromoson anda sekitar 95 % berasal dari Asia Tenggara, 2 % dari Asia Barat dan 3 % dari Cina. Hasil deteksi mengungkapkan unsur Cina masuk ke dalam diri anda sekitar tahun 1800 dalam tubuh moyang anda. DNA anda juga mengabarkan bahwa dari garis ibu anda, dapat ditelusuri ternyata moyang anda adalah seorang perempuan yang hidup di Afrika sekitar seratus lima puluh ribu tahun lalu….”

Itulah kisah orang Jawa yang bernama dr. Herawati Sudoyo. Lalu bagaimana kisah orang Sumatera? Tentang orang Batak Toba, Karo, Nias, Melayu, Minangkabau dan lainnya?

Penelusuran Genetika pada ragam etnik ini di luar Gen Austronesia yang dominan, berasal dari India (Dravidan). Wow..kuche kuche hota hai dong. Nias bahkan tidak sama dengan gen manapun di Sumatera. Lalu berasal dari manakah? Menurut tes DNA ada kesamaan dengan DNA Formosa atau Taiwan nun jauh di sana. Begitu pula dengan orang Mentawai punya DNA Formosa tersebut.

Disiplin ilmu Genetika yang sekarang sedang dikembangkan, menurut sejarawan yang juga ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial (PUSSIS) UNIMED, Dr. Phil. Ichwan Azhari, merupakan bagian penting untuk melakukan rekonstruksi sejarah ke depannya. Temuan kalangan ahli genetika ini tinggal menunggu waktu menggusur teori lama dalam pembelajaran sejarah. Guru-guru sejarah, perlu merevitalisasi pengetahuannya tentang asal usul keragaman bangsa Indonesia pada generasi yang katanya masuk revolusi industri 4.0.

Tidak hanya tes DNA, kajian budaya dan temuan arkeologi belakangan juga mendukung teori genetika ini, dan secara perlahan tapi pasti menggugurkan teori migrasi manusia Indonesia sebelumnya yang telah kadaluarsa seperti teori Deutro dan Proto Melayu yang berujung pada 4000 tahun yang lalu. Meskipun tentu teori ini masih bersemayam di buku-buku pelajaran sejarah dan memori para pembelajarnya. Perlu waktu untuk mengikisnya.

Beberapa waktu yang lalu, Balai Arkeologi Medan misalnya, menemukan kerangka Manusia Stabat yang berusia lebih 6000 tahun. Begitu pula, di Sumatera Selatan di dalam Gua Harimau ditemukan kerangka yang berusia sekitar 10.000 tahun. Dan di Sulawesi, dalam Gua batu ditemukan sederet lukisan yang berusia 40.000 tahun. Adapun analisa genetika yang ada saat ini mengabarkan kepada kita bahwa manusia Indonesia telah ada menghuni kawasan ini sekitar 60.000-70.000 tahun yang lalu.

Berbagai data ini, menunjukkan pada kita bahwa konsep pribumi dan non pribumi menjadi basi. Sebab keragaman gen dalam diri manusia yang dianggap pribumi di Indonesia ternyata tidak murni. Semua menunjukkan keanekaan pada pribadi seseorang, baik asal usul nasab dan juga konsep budayanya. Tentu kita semua ingat pantun di Tanjung Balai :

Bukan kapak sebarang kapak
Ini kapak pembelah kayu
Bukan Batak sebarang Batak
Ini Batak jadi Melayu

Karena itu ke depannya, para pengkaji sejarah mau tidak mau harus mensinergikan metodologi sejarah yang ada dengan riset genetika. Jika selama ini untuk menguji kertas, tinta, tulisan, nisan kuburan, bebatuan, tanah, fosil, dan lain-lain bahan sejarah, kita telah memanfaatkan ilmu arkeologi, antropologi, geologi, fisika dan kimia, maka kini untuk menguji manusianya juga kita bisa menggunakan bantuan riset-riset genetika. Sehingga suatu fosil atau profil diri manusia, bisa dilacak silsilahnya bahkan sampai pada tahun percampuran gennya.

Begitu pula, jika biasanya dalam analisa  antropologi, di tanah Batak ada tarombonya (silsilah nasab) untuk menjelaskan asal usul bangso Batak. Maka dalam tradisi Arab-Islam, ada juga pencatatan nasab, terutama di kalangan para keturunan Arab Bani Hasyim (suku Nabi Muhammad Saw) atau yang lebih dikenal dengan sebutan sayid atau habib. Mungkin anda pernah dengar misalnya nama Habib Rizik Shihab yang populer seantero jagad itu. Ada lembaga khusus berkelas dunia, dan juga di Indonesia yang melakukan pencatatan nasab para habib ini.

Begitu pula, dalam tradisi orang Pariaman di Minangkabau, ada gelar-gelar khusus yang diberikan, salah satunya adalah gelar Sidi (kemungkinan asal katanya dari Sayyidi) bagi laki-laki dan Siti (kemungkinan asal katanya dari Sayyidati) bagi perempuan. Konon katanya, gelar ini adalah gelar khusus untuk keturunan atau yang memiliki nasab orang-orang khusus. Hanya ayahnya yang Sidi, yang bisa menurunkan nasab Sidi atau Siti ke anaknya. Selainya tidak bisa menurunkan nasab tersebut. Ada yang menyebut bahwa Sidi dan Siti itu sebagai keturunan ulama, tapi ada anggapan yang kuat bahwa Sidi dan Siti adalah gelar untuk keturunan Bani Hasyim di tanah Pariaman, atau habib dalam istilah orang di tanah Jawa. Kalau ditanya catatan silsilah nasabnya, mereka tidak memilikinya. Tapi tradisi itu mereka terima secara turun temurun tanpa keraguan.

 

IMG_20190406_195452Foto : Penulis (kopiah hijau) bersama Sayid Nasser al-Habsyi (lobe putih) dan Sidi Muhammad Ridwansyah (kopiah hitam) ketika berziarah ke makam Syaikh Burhanuddin di Ulakan, Kota Pariaman.

Dan kini dengan riset genetika kita bisa membantu menguji nasab orang Pariaman tersebut. Tes DNA akan mengabarkan kepada kita jati diri Sidi dan Siti tersebut. Samakah dengan para Habib tanah Jawa yang berasal dari Yaman tersebut atau dari Persia, India, atau belahan dunia lainnya. Jadi, kita dapat melacak sejauh mana “kemurnian” nasab orang Minang, orang Batak, dan termasuk para habib-habib yang ada serta juga melacak jejak percampurannya. Karena itu jangan heran kalau kita lihat secara kasat mata, tidak semua yang mengaku Sayid atau habib berwajah ke-Arab-araban, berhidung mancung, atau berkulit putih. Begitu pula tidak lantas orang Batak berwatak keras seolah tanpa kelembutan dan senyuman. Sekarang masing-masing kita akan bertanya, Siapa saya? Apakah saya orang Jawa, Batak, Melayu, Cina, India, Arab atau lain-lainya? Jawabnya, “Genneka Tunggal Ika, Aneka Gen, Satu Indonesia”.

Iklan

MEMBINCANG 7 RESOLUSI KONGRES KEBUDAYAAN INDONESIA

Oleh : Saruhum Rambe 

(AAI Sumut)

20190126_184757-collage

“Prof, mana foto kita dulu di depan rumah Snouck Hurgronje”, tanya Dr. Phil. Ichwan Azhari ke Prof. Usman Pelly sesaat memasuki ruangan pustaka tempat diskusi akan dilaksanakan. Prof Usman coba mengingat, pergi ke ruangan terpisah dan tak lama kemudian kembali dengan foto ukuran jumbo memberikannya ke Dr. Azhari. “Iya ini dia”, ucapnya sambil menunjukkan ke kami, peserta diskusi yang sudah berhadir. Prof. Usman bercerita tentang cewek bule asal Italia yang ada di foto itu bersama mereka dan kisah uniknya, menjadi semacam simfoni pengantar bagi kami yang mengagumi foto kebersamaan mereka di Leiden. “Itu dua antropolog muda yang kini sudah tua”, ucap Dr. Azhari memberi quote sambil tersenyum.

Mengagumi foto lama (1995) yang dalam tafsir saya sengaja ditunjukkan ke kami untuk mengeskpresikan sejarah kedekatan mereka, menjadi semacam aktifitas pengantar diskusi. Tidak berhubungan secara langsung dengan tema yang akan didiskusikan, namun menjadi terhubung jika secara sadar coba dikoneksikan. Sama halnya dengan pentingnya bagi AAI Sumut untuk menggagas program pasca Kongres Kebudayaan Indonesia (KKI) 2018.

Tidak terlibat dalam prosesnya, namun mencoba untuk melihat peluang dan ruang untuk berkontribusi dari rumusan yang dihasilkan. Tidak dalam pengertian pragmatis untuk turut berebut kucuran dana, tetapi dalam konteks yang lebih strategis dalam upaya pemajuan antropologi dalam kebudayaan. Membantu kemajuan antropologi dengan cara membantu upaya pemajuan kebudayaan. Sesuai dengan anjuran yang disampaikan oleh sahabat nabi, Ali bin Abu Thalib, “Bantulah Dirimu Dengan Cara Membantu Orang Lain”.

Di sore hari yang cerah setelah mendung berlalu, Rabu (23/1) kami berkumpul di ruang baca perpustakan milik Prof. Usman Pelly yang dibuka untuk umum, CASA MESRA, Griya Unimed, Jl. Pelajar Medan. Diskusi terbatas untuk menyatakan jumlahnya dibatasi karena kapasitas ruangan yang akan terasa sempit jika peserta melebihi 20 orang. Dan syukurnya, jumlah peserta diskusi forum rabuan yang telah beberapa kali dilaksanakan di tempat itu tidak pernah melebihi kapasitas ruangan yang ada. Sebab penguasa ruang itu adalah ribuan buku-buku ilmu sosial dan agama, yang sudah lebih sering merindukan daripada dirindukan.

Digagas oleh Prof. Usman Pelly dimoderatori Edy Suhartono, diskusi yang difasilitasi oleh AAI Sumut ini mengambil tema : “Menggagas Program AAI Sumut Pasca Kongres Kebudayaan Indonesia 2018” dengan narasumber Dr. Phil. Ichwan Azhari,  MS (Anggota Ttim Perumus Kongres Kebudayaan Indonesia 2018). Beliau satu-satunya dari Sumatra yang duduk di tim perumus dan secara aktif mewarnai hasil rumusan dari strategi kebudayaan yang menghasilkan 7 (tujuh) agenda strategis yang kemudian diterjemahkan ke dalam 7 (tujuh) Resolusi Kongres.

Di hadiri belasan peserta diskusi dari anggota AAI Sumut, Prodi Antropologi Unimed, Departemen Antropologi USU, pendamping dan anggota tim Penyusun Pokok-pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Sumatera Utara dan Kota Medan, Dr. Azhari berbagi pengalaman tentang proses kongres yang berlangsung selama 10 bulan puncaknya di 9 Desember 2018 yang ditandai dengan penyerahan rumusan strategi kebudayaan nasional ke Presiden Jokowi.

Presentasinya dimulai dengan menunjukkan SK Tim Perumus, dan orang-orang terpilih dengan latar belakang keahliannya masing-masing, pertarungan argumentasi di tim perumus, dan pandangannya terhadap minimnya keterlibatan Antropolog di kongres. Lalu beliau mengulas sedikit sejarah seabad Kongres Kebudayaan Indonesia, yang menurutnya baru kali ini didukung kebijakan dan anggaran untuk implementasinya. Selanjutnya mempresentasikan strategi kebudayaan nasional (Tujuh Agenda Strategis Pemajuan Kebudayaan dan Resolusi Kongres) dan memberikan pokok-pokok pikirannya tentang ruang yang bisa AAI Sumut bisa tampil atau mengambil peran strategis dari masing-masing point hasil Resolusi Kongres.

Paparan yang disampaikan narasumber menjadi diskusi yang menarik. Banyak masukan yang disampaikan oleh Prof. Usman dan Pak Choking Susilo Sakeh serta peserta lainnya, bersama dengan gagasan Dr. Azhari sebagai narasumber akan dikongkritkan kembali dalam bentuk rumusan. Selanjutnya di pertemuan berikutnya akan disepakati satu atau dua pokok pikiran yang akan dijadikan sebagai rencana aksi dan pengorganisasiannya.
***

Lahirnya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, memberikan landasan penyusunan strategi kebudadayaan sesuai dengan pasal 8 C yang menyebutkan bahwa pemajuan kebudayaan berpedoman pada Strategi Kebudayaan. Dalam rangka penyusunan strategi kebudayaan, telah dilaksanakan Kongres Kebudayaan Indonesia (KKI) 2018 dalam suatu rangkaian panjang dari April 2018 dan puncaknya pada Desember 2018. KKI 2018 memberikan harapan besar bagi bangsa Indonesia untuk berkepribadian secara kebudayaan dengan dihasilkannya rumusan Strategi Kebudayaan 20 tahun ke depan dan Resolusi Kongres yang akan diimplementasikan segera.

Adapun 7 (Tujuh) Agenda Strategis Pemajuan Kebudayaan yang dijawab dengan Resolusi Kongres seperti yang dipaparkan narasumber yakni :

Agenda Strategis 1 : Menyediakan ruang bagi keragaman ekspresi budaya dan mendorong interaksi budaya untuk memperkuat kebudayaan yang inklusif.

RESOLUSI : Melembagakan Pekan Kebudayaan Nasional sebagai platform aksi bersama yang memastikan peningkatan interaksi kreatif antar budaya.

Agenda Strategis 2 : Melindungi dan mengembangkan nilai, ekspresi dan praktik kebudayaan tradisional untuk memperkaya kebudayaan nasional.

RESOLUSI : Memastikan terjadinya alih pengetahuan dan regenerasi melalui pelindungan dan pengembangan karya kreatif untuk kesejahteraan para pelaku budaya, serta pelibatan maestro dalam proses pendidikan dan pembelajaran formal.

Agenda Strategis 3 : Mengembangkan dan memanfaatkan kekayaan budaya untuk memperkuat kedudukan Indonesia di dunia internasional.

RESOLUSI : Meningkatkan diplomasi kebudayaan dengan memperkuat perwakilan luar negeri sebagai pusat budaya Indonesia, meningkatkan jumlah dan mutu program pertukaran dan residensi untuk seniman, peneliti dan pelaku budaya, dan menjadikan diaspora Indonesia sebagai ujung tombak pemajuan kebudayaan Indonesia di luar negeri.

Agenda Strategis 4 : Memanfaatkan obyek pemajuan kebudayaan untuk meningkatkan kesejateraan masyarakat.

RESOLUSI : Membangun pusat inovasi yang mempertemukan kemajuan teknologi dengan warisan budaya di tiap daerah melalui sinergi antara pelaku budaya dan penggerak ekonomi kreatif guna memanfaatkan kekayaan budaya dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Agenda Strategis 5 : Memajukan kebudayaan yang melindungi keanekaragaman hayati dan memperkuat ekosistem.

RESOLUSI : Membangun mekanisme pelibatan seniman dan pelaku budaya dalam kebijakan kepariwisataan berkelanjutan dan ekonomi kreatif yang berbasis komunitas, kearifan lokal, ekosistem budaya, pelestarian alam, dan pemanfaatan teknologi.

Agenda Strategis 6 : Reformasi kelembagaan dan penganggaran kebudayaan untuk mendukung agenda pemajuan kebudayaan.

RESOLUSI : Membentuk Dana Perwalian Kebudayaan guna memperluas akses pada sumber pendanaan dan partisipasi masyarakat dalam pemajuan kebudayaan.

Agenda Strategis 7 : Meningkatkan peran pemerintah sebagai fasilitator pemajuan kebudayaan.

RESOLUSI : Memfungsikan aset publik (seperti gedung terbengkalai, balai desa, gedung kesenian) dan fasilitas yang telah ada (taman budaya dan museum) sebagai pusat kegiatan dan ruang-ruang ekspresi kebudayaan guna memperluas dan menjamin pemerataan akses masyarakat pada kebudayaan. `(ATN)

*Sumber : FB Saruhum Rambe.

PARA PENCARI DUNIA

Oleh : Candiki Repantu
🍃🍁🍃🍁🍃🍁🍃

Screenshot_2018-02-21-12-51-16-510_com.miui.gallery

Imam Ali as berkata, “Dunia adalah kendaraan orang mukmin yang digunakan untuk perjalanan menuju Tuhannya. Sebab itu, peliharalah kendaraanmu dengan baik agar dapat mengantarkanmu kepada Tuhanmu

Harta, tahta, dan wanita adalah tiga hal yang identik dengan perkara-perkara dunia. Sebagian orang sibuk mengejarnya dengan ketekunan yang luar biasa tak peduli siang dan malamnya, bahkan sampai lupa aturan-aturan Tuhannya. Dalam pikirannya yang ada hanyalah mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, menduduki jabatan setinggi-tingginya, dan mencari wanita-wanita seksi di setiap persinggahannya. Padahal kalau kita memiliki semuanya, pasti akan kita tinggalkan suatu saat untuk menghadap Tuhan, penguasa semesta.

Sebagian lagi sibuk pula berlari dari dunia karena khawatir akan kejahatannya. Mereka sibuk salat dan puasa, di mesjid berlama-lama untuk beribadah kepada Tuhannya tanpa sadar bahwa Tuhan juga memerintahkannya bekerja, menikah dan berkeluarga, serta memakmurkan jagad raya.

Ibadah dalam agama bukan sekedar salat dan puasa, tapi juga bersedekah, menolong orang-orang susah, mendidik istri dan anak-anak, serta juga menegakkan keadilan dengan kekuasaan yang ada di tangannya. Itu semua perkara duniawi yang berwajah ukhrawi. Bukankah Bang Haji Rhoma pernah mempopulerkan hadis, “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah isteri yg soleha“. Istri soleha adalah bidadari kita di dunia yang tetap setia sampai berjumpa kelak di surga.

Karena itu, seperti pesan Imam Ali as di atas, dunia adalah kenderaan, karena itu harta, tahta, wanita semuanya adalah kenderaaan kita menuju Allah ta’ala, karena itu cari dan pilihlah kenderaan terbaik untuk kita naiki agar perjalanan lancar tanpa hambatan yang berarti.

Kumpulkanlah harta yg dengannya kita membantu sesama, raihlah kekuasaan yang dengannya kita menegakkan keadilan, carilah isteri/suami yang dengannya kita mencetak generasi pewaris para pecinta keluarga nabi.

Untuk itu, jadilah para pencari dunia yg baik utk tujuan akhirat yg bahagia. Semoga teman-teman dapat meraihnya. (CR14)

PEJUANG PENDIDIKAN

IMG-20171125-WA0009

Oleh : Riani Azri Alfi

Fajar menyingsing pagi
Semilir angin sejukkan diri
Fikir itu pelita hati
Sambut hari ceriakan negeri
Secerah mentari menyinari

Ayunkan langkah lepas
Semangat menyelimuti penuh ikhlas
Lelah tak lagi terlintas
Buku dan ilmu mu mengulas
Didikan jasamu tak terbalas

Kicauan cercaan tak kau dihiraukan
Murid berlari mengejar pelajaran
Kau santuni segudang pelajaran
Kaulah sosok pejuang pendidikan
Bagai janji mentari mencerahkan

Kaulah cahaya mata ayah bunda
Tonggak negeri menuju jaya
Tanpamu dunia serasa buta
Lentik jarimu menuntun manusia
Suaramu ajarkan tiap kata

Tiada lafaz seindah ilmu
Menaburkan benih bermutu
Keberhasilan tujuan hidupmu
Mengukir jasa tiap waktu
Menyemai kasih ruang rindu

Lukisan sejarah tanpa tanda jasa
Dikenang sepanjang zaman
Menorehkan benih keilmuan
Mendidik perangai kemanusiaan
Lelah letih tak dihiraukan
Hanya ikhlaskan disebarkan

Membangun anak negeri
Berjuang menuntun harga diri
Seulas senyum menyelimuti
Karya jasamu tak pernah mati
Walau raga dikubur nanti

Lemah lembutlah mengajar
Tidak sembarang menghajar
Menelurkan karya besar
Melahirkan pribadi terpelajar
Semagat juang terus memancar

Guru memang bukan terhebat
Namun jasamu penuh berkat
Mewarisi orang cerdas hebat
Membangun manusia berbakat
Ilmu tersimpan bak terpahat

Soko guru yang mendidik
Bukan guru sibuk hardik
Contoh mulia terdidik
Jiwa menghiasi kharismatik
Wariskan cahaya budi baik

🎁Selamat hari guru🌈
Riani A.Alfi rindu ilmu

MENGHIDUPKAN SYAWAL

IMG_20170628_171943

MENGHIDUPKAN SYAWAL

Oleh : R. A. Alfi

Ramadhan bulan penuh berkah
Saat diri dijamu mengambil Iradah
Hidangan buat kita muhasabah
Kewajiban kita puasa bagian ibadah

Momen evaluasi menyucikan diri
Kini Ramadhan berlalu pergi
Berlalu bukan berarti tak kembali
Berpisah selalu harap ketemu lagi

Musimpun berganti Syawal
Meraih kemenangan jejak amal
Adakah diri suci beramal
Hilangkan penyakit hati yg mengganjal

Bersatu jabat genggam tangan erat
Bersihkan noda diri yang mengkarat
Tak perduli kaya miskin nan melarat
Mari merangkul tak kenal telat

Setiap hari adalah kemuliaan
Dengan saling memaafkan
Menepis semua perbedaan golongan
Karena kita semua ciptaan Tuhan

Semoga Allah menerima amalku dan dirimu
Semoga Allah Ampuni dosa kalian dan dosaku
Ya Illahi bebaskanlah mereka yang terbelenggu
Tuntunlah kami ke jalan yang lurus selalu
Sebagaimana Kau beri nikmat umat-Mu terdahulu