volume XIII

MENGENAL POTENSI DIRI JALAN MENUJU ALLAH SWT

Oleh : Sayyid Ahmad Khaneman

Pendahuluan

Salah satu pengetahuan penting adalah bagaimana seorang manusia mampu mengenali kesejatian insani atau memahami jiwanya. Para sufi menyatakan bahwa pengenalan tentang diri merupakan kunci pengenalan tentang Tuhan, sesuai dengan hadits: “Man `arafa nafsahu faqad arafa rabbahu,” siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya, dan sebagaimana yang tertulis di dalam al-quran “Akan Kami tunjukkan ayat-ayat Kami di dunia dan di dalam diri mereka, agar kebenaran tampak bagi mereka .”

Berdasarkan hal itu, tidak ada yang lebih dekat kepada diri manusia dari dirinya sendiri. Karenanya jika kita tidak mengetahui diri kita sendiri, bagaimana kita bisa mengetahui segala sesuatu yang lain. Pengenalan tentang diri bukan berarti pengenalan bentuk luar jasmaniah saja, seperti bentuk muka, badan atau struktur dan fungsi-fungsi angota-angota tubuh yang indah menawan. Tetapi pengenalan yang lebih dalam terhadap unsur ruhaniah dalam diri manusia yang menrefleksikan akhlak mulia nan rupawan.

Jalan  Pengenalan Diri (jiwa)

Langkah pertama menuju pengetahuan tentang diri adalah menyadari bahwa anda terdiri dari bentuk luar yang disebut jasad dan bentuk dalam  yang disebut  ruh, sesuatu yang tidak kasat mata (nonmateri).

Ini menunjukkan manusia merupakan wujud yang terdiri “dua komponen” yaitu jiwa dan raga. Jiwa bersifat ilahiah dan non materi

(independen) yang selain mempunyai realitas-realitas karakter dan pengaruh-pengaruh juga memiliki ciri-ciri mental seperti kesadaran, kehendak, persepsi, berfikir, cinta, benci, dan prinsip-prinsip spiritual. Sedangkan materi adalah wujud yang kasat mata atau dapat dilihat, terbatas oleh ruang dan waktu, tidak memiliki kesadaran, mati, bodoh dan lemah.

Sebagai seorang muslim yang dianugerahi akal, hendaknya tidak hanya memperhatikan perkembangan dan kebagusan fisiknya saja, tetapi juga perkembangan dan keelokan pribadinya. Jika kita mau dan mampu berkorban apa saja demi memperindah tubuh dan menghilangkan noda hitam dari wajah kita, mengapa kita pelit dan lupa untuk menghilangkan noda hotam dari hati dan jiwa kita. Karenanya, kita harus mampu menembus tabir-tabir alam material/jasad kita untuk kemudian memasuki hakikat metafisik, yakni melalui bimbingan al-Qur`an dan hadis ar-Rasul Saww.

Sekarang, mari kita kembali ke al-Qur`an al-Karim untuk melihat bagaimana gambaran jiwa manusia yang sebenarnya. Firman Allah Swt: “Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan sari pati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim) kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk (berbentuk) lain. Maka maha suci Allah, pencipta yang paling baik. (Qs, al-Mu’minun: 12-14).”

Ayat ini memberikan ilustrasi yang cukup gamblang dengan menyebutkan proses penciptaan manusia mulai dari tanah liat “atau dari debu” atau dari sari pati tanah, kemudian menjadi mani, darah, daging, dan tulang belulang yang terbungkus daging dengan sempurna. Ini menunjukkan bahwa jasad manusia tersusun dari beragam subtansi organik dan non organik. Pada tahapan organik pertumbuhan  manusia  mirip dengan pertumbuhan hewan, namun untuk membuatnya lebih sempurna Tuhan Yang Maha Pencipta meniupkan ruh ke dalam dirinya yang dilukiskan dengan kalimat “tsumma ansya’na-hu khalqan akhar”, kemudian Kami jadikan ia makhluk berbentuk lain. Dengan dihembuskannya ruh ke dalam diri manusia, ia pun berubah menjadi makhluk semi-samawi dan semi-ardhi, yakni makhluk yang berasal dari dimensi langit sebagai simbol ruhaniah dan dimensi bumi sebagai lambang jasmaniah.

Ruh memiliki asal-usul yang ilahi, Ia, merupakan amr (perkara) langsung dari Allah swt tanpa sebab-sebab alamiah. Ia di bedakan dengan fisik yang memiliki ketergantungan terhadap proses sebab-sebab alamiah (terikat Ruang dan waktu).

Ruh (jiwa) dihadirkan kepada manusia setelah proses penciptaan fisik dan biologisnya sempurna. Ini mengisyaratkan bahwa ruh dan raga merupakan dimensi yang berlainan sekalipun keduanya tak terpisahkan selama manusia masih hidup. Dimensi ruh ini bersifat mental, berkesadaran, tidak laki-laki ataupun perempuan, dan tidak mengisi suatu ruang. Ruh inilah yang membuat organ-organ materi menjadi hidup dan memberi manusia karakter-karakter tertentu, dan ia tidak pernah mati maupun rusak. Sebaliknya tubuh (materi) bersifat mengembang dalam ruang, bergerak secara mekanis, sangat ditentukan oleh keterkaitan dengan benda lain, tak memiliki kapasitas berpikir maupun berkesadaran tidak memiliki kemauan bebas atau sifat moral apapun.

Ruh yang merupakan hembusan ilahi, senantiasa terkait dengan tubuh dan tidak memiliki pengertian sesuatu yang berada di luar tubuh. Ketika ruh dikaitkan dengan tubuh yang diciptakan dari cahaya, maka kombinasi keduanya disebut malaikat, ketika jiwa dikaitkan dengan api ia disebut jin, dan ketika tubuh jiwa dibuat dari tanah liat, maka itulah jiwa manusia atau jiwa binatang.

Namun, manusia sebagai makhluk terbaik yang diciptakan Allah swt, di dalam dirinya terdapat sifat binatang, sifat setan dan juga sifat malaikat. Jadi manusia memiliki sifat yang baik sekaligus sifat-sifat keburukan. Inilah yang disebut oleh Ayatullah Murtadha Muthahhari sebagai makhluk paradoksal, pada dirinya terdapat sifat-sifat baik dan jahat sekaligus. Tetapi sifat-sifat itu hanyalah hal-hal potensial. Berdasarkan potensi-potensi yang dimilikinya, manusia harus membentuk dirinya. Kemampuan membentuk diri adalah khas manusia, tidak ada makhluk lain yang memiliki kemampuan seperti itu.

Dengan dinamika potensi baik dan potensi buruk, manusia menjadi makhluk yang bersifat dinamis, ia bergerak dari satu diri ke diri lain, ia kreatif  cepat berubah-ubah pada situasi ke situasi yang baru. Karena manusia terdiri dari jasad dan ruh, maka ia mencakup kecenderungan material dan spiritual. Unsur-unsur materi dalam diri (an-nafs) cenderung pada alam materialisme dan keinginan duniawi, sedangkan unsur-unsur non materinya cenderung pada hal-hal yang bersifat spiritual dan ilahi.

Menurut alquran jiwa manusia dalam proses perkembangannya melewati tiga fase. Pertama, fase nafsu  ammarah (dimensi hewaniah) yaitu jiwa yang mendorong kepada kejahatan dan perbuatan buruk, cenderung lupa dan lalai, tergesa-gesa, tidak sabaran, banyak kebutuhan, arogan dan keinginan berkuasa serta tidak mau mengakui kehambaannya. Jika nafsu ini menguasai manusia maka akan melumpuhkan proses-proses kognitif dan hatinya, sehingga  kemampuannya memperoleh hidayah Tuhan tertutup jika tidak di kontrol oleh akal dan iman akan mengakibatkan kebinasaannya. Fase al-ammara bi al-su’ (nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan) ini adalah fase dimana jiwa hanya mengabdi pada hawa nafsunya saja, nafsu telah menjadi tuhannya.  Al-Quran menggunakan kata ini untuk menunjukkan tingkat diri manusia yang terendah  tingkat dimana orang kafir dan orang lalai berasal,….. Karena sesungguhnya nafsu itu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh tuhanku. (Q.S. Yusuf: 53)

Kedua, fase, nafsu lawwamah yang mencela dan menyesali (diri sendiri). Ia berfungsi semacam radar pada diri manusia (suara hati) yaitu suatu daya tahan yang melekat pada diri manusia agar tidak melampaui batas (zalim).  fase dimana jiwa (diri) menyadari bahaya kejahatan (nafs ammarah) dan kemudian menjadi sadar dan mohon ampun akan sifat jahatnya sendiri. Pada kondisi ini, jiwa dapat membedakan mana yang baik  dan  mana yang buruk, yang benar dan yang salah, jujur dan kepalsuan. Fase inilah awal kemunculan kehambaan kepada Allah dan kondisinya harus dipertahankan. Tetapi keadaan ini belum sepenuhnya aman, karena masih bisa tergelincir untuk membenarkan tindakan buruk yang dilakukannya, Allah berfirman,….Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri) (Q.S. al-Qiyamah: 2)

Ketiga, fase nafsu muthmainnah ini merupakan tahapan yang tertinggi dimana jiwanya mencapai kemenangan, ketenangan, kepuasan dan kerelaan, ia merasakan hakikat penghambaan sebagai kepuasan kepada pencipta dan Tuhannya. Bila tahap ini sudah dicapai maka jiwa manusia akan terbebas dari sifat-sifat negatif seperti: kehinaan, dosa,  kesalahan, dan bersih dari sifat tamak, rakus, cemburu, prasangka buruk, rasa takut, cemas, rasa tak aman, dan ratusan sifat negatif lainnya. Pada tingkat ini pergolakan nafsu sudah ditenangkan dan agitasi pemikiran di tentramkan. Jadi orang yang telah mencapai tahapan ini adalah orang benar terhadap dirinya sendiri dan juga terhadap lingkungannya sebab dia mampu menyelesaikan konflik batiniahnya antara hasrat materi dan hasrat akan Tuhan. Inilah idealitas diri yang hendaknya diperjuangkan setiap Muslim.

Sejalan dengan ini Sayyid Mujtaba Musawi Lari menegaskan bahwa di dalam hati manusia telah becampur dua bentuk subtansi (hakikat). Pertama, tersembunyi dalam ruang lingkup materi seperti, merasakan lapar dan membutuhkan makanan. Kedua, adalah hakikat yang tidak mengandung karakteristik materi, ia masuk dalam ruang lingkup non materi seperti pemikiran, persepsi, cinta, dan dengki. Bentuk yang kedua ini tidak tunduk pada ukuran materi maka dalam hitungan materi sesungguhnya seseorang yang merasakan lapar akan mencari makanan agar ia dapat menjaga jiwa dan raganya. Adapun seseorang yang memberi makan kepada orang lain berangkat dari dorongan politik atau agama maka hal ini sesuatu yang tidak termasuk dalam ukuran materi. Dari keterangan ini dapat dipahami bahwa kekuasaan yang mendominasi materi (raga) manusia adalah suatu substansi (hakikat) yang lain (nonmateri) kekuasaan ini dapat menggambarkan akan sesuatu kebaikan atau keburukan .

Jadi jelasnya, manusia memiliki dua potensi di dalam  dirinya; potensi mana yang akan di wujudkan, tergantung dari keputusannya, bukan dari kondisi. Manusia  yang sempurna adalah manusia yang mampu mengaktualisasikan seluruh potensi baiknya dan mengekang seluruh potensi jahatnya. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang dikaruniai Tuhan kemampuan istimewa yakni kehendak bebas untuk meraih derajat rohani setinggi-tingginya atau dapat pula terjerumus kederajat yang serendah-rendahnya.

Penutup

Berdasarkan uraian di atas, saya ingin mengatakan bahwa setelah ruh ditiupkan barulah berkembang apa yang disebut fungsi-fungsi dan karakter-karakter kejiwaan seperti: dorongan-dorongan mencari kebenaran dan pengetahuan, seni dan estetika, kebaikan dan keutamaan, kreasi dan penciptaan, cinta dan ibadah. Nah inilah karakter-karakter yang membedakan  manusia dari makhluk lainnya seperti tumbuhan dan binatang. Karena itu perlu dipahami bahwa tubuh, daging, kulit, dan otot merupakan alat dan sarana bagi aktifitas ruh. Tulisan singkat ini tentu belum dapat mengenalkan hakikat jiwa secara sempurna. Namun yang pasti, langkah-langkah ini diharapkan dapat menghantarkan kita menuju pintu mengenalinya. Wallahu A’lamu bi ash-Shawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: