MENJEMPUT KHADIJAH-KHADIJAH “ZAMAN NOW”

Oleh : Dr. Salamuddin Elsalamy, MA.

FB_IMG_1508725990372

Siapa yang tidak kenal dengan ummul mukminin Khadijah. Ia merupakan istri dari seorang Nabi, ibu rumah tangga dan pengusaha muslimah sukses di zamannya. Khadijah dinikahi Muhammad Saw dengan usia terpaut 15 tahun. Karakternya luar biasa, inner beauty-nya memancar, auranya hidup, mandiri, tangguh dan memesona setiap lelaki di seantero jazirah Arabia.

Namun sepertinya, sebagai seorang wanita cerdas dan matang secara emosional, ia memiliki kriteria tersendiri dalam menentukan pasangan hidup. Baginya, hal itu bukan hanya soal biologis, tetapi terkait ideologis. Fisik hanya salah satunya, yang terpenting dari itu adalah psikis. Itu ada pada Muhammad saw. Karyawannya itu, selain sempurna secara fisik, juga berkarakter paripurna, berpandangan futuris, ulet, tangguh, jujur dan cerdas, dan kelak jadi Nabi dan Rasul.

Tidak mudah dan bukan kualitas orang biasa yang bisa mencuri perhatian makhluk Tuhan paling sempurna di alam semesta. Nabi dan Rasul terakhir dan dinobatkan sebagai pemegang panji ‘rahmat bagi sekalian alam’. Disini berlaku teori kepantasan (kufu) dalam tradisi Islam. Dituntut upgrade personal tingkat tinggi sehingga frekuensinya bersambung dengan subjek, dimensinya bisa ditembus, sinyalnya connect, dan akhirnya menyatu dalam sebuah hubungan paling sakral, pernikahan. Khadijah mampu melakukan itu, dan menjadikan dirinya pantas untuk dicintai, disayangi dan dipersunting oleh Muhammad saw, tokoh yang paling berpengaruh di dunia menurut Michael Hart.

Pernikahan sejatinya dalam Islam adalah menyatunya perasaan (sama rasa), pikiran (visi dan misi), gerak dan langkah, dan lain-lain sehingga menghasilkan keluarga yang sakinah (rukun), mawaddah (bertabur cinta) dan rahmah (menyemai kasih sayang).

Pada keluarga yang seperti ini lah visi dan misi besar bisa diwujudkan. Agenda-agenda agung dapat disusun. Rencana-rencana strategis bisa dijalankan. Terbukti bahwa Khadijah dapat memainkan perannya dengan baik. Ia menjadi istri, teman, sahabat, bahkan “ibu” bagi Nabi Muhammad Saw.

Khadijah sebagai istri ideal tercermin pada pujian Rasulullah Saw kepadanya dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, ‘Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkariku, dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, dia mengorbankan hartanya untukku ketika orang-orang memboikotku, dia melahirkan anak-anak untukku, ketika aku diharamkan mendapatkan anak dari yang lain’.

Loyalitas adalah kata kunci dari keagungan khadijah sebagai wanita muslimah. Mendukung penuh apa pun yang diinginkan dan dilakukan Nabi Saw. Memahami visi dan misinya dengan baik dan menerapkan serta memperjuangkannya. Mengorbankan segalanya tanpa berhitung dan takut miskin, dan memberikan kado terbaik demi kebahagiaan suaminya, yaitu anak-anak yang saleh dan saleha.

Sejarah menjelaskan, bahwa sebelum menikah dengan Nabi, Khadijah adalah salah seorang yang terkaya di jazirah Arabia. Bisnisnya di semua bidang, ia importir dan eksportir handal, dan propertinya ada di mana-mana. Wajar, saat menikah dengan Nabi, maharnya saja 100 ekor unta, dan belum termasuk pesta dan lain-lainnya.

Akan tetapi, semua kekayaan yang dimikinya ludes dan habis membantu perjuangan Nabi, hingga akhirnya tidak memiliki apa-apa dan hidup dengan sangat sederhana. Suatu waktu Nabi bersandar di pangkuannya dan tertidur. Sambil menatap dan membelai jenggot yang mulai beruban, air mata Khadijah menetes tepat ke mata Nabi.

Sontak, Nabi terbangun dan bertanya, “Wahai kekasihku, kenapa bersedih? Apakah karena tak tahan dengan perjuangan ini? Apakah karena kita sudah tidak memiliki apa-apa lagi? Atau apakah saya telah membebani jalan hidupmu?”

Lalu, Khadijah menjawab, “Tidak ya Rasulullah, tangisku tidak lebih karena sayang dan cintaku kepadamu, percayalah, dalam perjuangan ini semuanya akan saya korbankan. Hingga seandainya dirimu akan menyeberangi sebuah sungai dan tidak ada jembatannya, maka aku siap dan rela menjadi jembatannya, demi perjuangan ini sayang.”

Potret loyalitas yang beradab tercermin pada apa yang ditampilkan Khadijah. Sesuai fitrah penciptaan manusia, pria dan wanita adalah pasangan, bukan saingan. Pasangan perlu bekerjasama dengan loyal sehingga tujuan yang diinginkan tercapai. Sisi rasional dan emosional berpadu dan melahirkan loyalitas dalam ikatan cinta yang dibangun Khadijah dan Muhammad sehingga melahirkan kekuatan dahsyat yang pada saatnya menaklukkan dunia.

Sisi lainnya adalah, bahwa bersama pria hebat selalu ada wanita hebat. Bersama Adam as ada Hawa, bersama Sulaiman as ada Balqis, dan bersama Muhammad Saw ada Khadijah. Mungkin itulah maksud ungkapan yang menyatakan, bahwa wanita adalah tiang negara, baik dan tidaknya wanita menentukan nasib negara.

Keluarga yang terdiri dari pria dan wanita adalah satuan terkecil dari himpunan sebuah negara. Potretnya mempengaruhi dan menentukan nasib suatu bangsa. Dengan demikian, jika ingin melihat kemajuan atau kemunduran sebuah negara maka cukup dengan melihat bagaimana potret dari keluarga-keluarga yang ada di negara tersebut.

Wajar jika Allah dan malaikat Jibril berkirim salam kepada Khadijah. Wanita terbaik sepanjang masa ini telah memainkan peran dan kiprahnya dengan sempurna. Bahkan Aisyah sebagai istri termuda sangat cemburu ketika Nabi sering memuji-mujinya walau telah tiada. “Wanita terbaik sepanjang sejarah adalah Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, dan Asyiah istri Fir’aun,” begitu sabda Nabi Saw.

Dengan demikian, wanita-wanita masa kini perlu banyak belajar kepada Khadijah. Sehingga perjuangan Islam menemukan kekuatannya, dan generasi-generasi bangsa ini tumbuh dengan cerdas dan berakhlak karena dibelai dan dididik oleh tangan-tangan terampil seperti Khadijah. Fa’tabiru!

SEUNTAI DOA UNTUK IBU

Oleh : Candiki Repantu

IMG_20171222_124041

Adapun hak ibumu, ketahuilah bahwa dialah yang mengandungmu ketika tidak ada yang mampu mengandungmu selain dia. Dan memberi segalanya kepadamu, disaat tidak ada yang dapat memberimu sedemikian rupa selainnya. Dia mempersiapkan diri dengan pendengaran, penglihatan, tangan, kaki, rambut, kulit dan seluruh anggota tubuhnya untuk memberikan yang terbaik kepadamu. Dia melakukan semua itu dengan perasaan gembira dan senang.”

“Dia memikul segala kesulitan, rasa sakit, rasa berat dan kegelisahan sampai diberi kekuatan oleh Allah untuk melahirkanmu ke dunia ini. Dia rela untuk lapar asalkan kamu kenyang. Dia rela tidak memiliki pakaian, asal kamu memilikinya. Dia rela tercekik dahaga, asalkan kamu tidak haus lagi. Dia rela tersengat sinar matahari, asal kamu terlindungi. Dia siap menderita yang penting dirimu mendapat kenikmatan. Dia siap untuk begadang malam, asal kamu dapat tidur nyenyak. Jika kau ingin mensyukuri nikmat ibu, ingatlah semua kenikmatan ini. Dan kamu tidak akan bisa mensyukurinya kecuali dengan taufik dan bimbingan Allah swt.

Demikianlah Imam Ali Zainal Abidin  as menjelaskan peran Ibu dalam kitabnya Risalah al Huquq, semua yang disampaikan oleh Imam Sajjad ini benar-benar terlihat di dunia nyata. Seorang ibu rela terhina bekerja sana sini untuk memberi makan anaknya.

Ummul Mukminin Siti Aisyah ra berkisah, “suatu hari seorang perempuan datang membawa dua anak perempuan menemuinya, ia bermaksud meminta makanan, saat itu Aisyah hanya memiliki dua butir kurma, yang kemudian dia serahkan kepada wanita tersebut, wanita itu menerima kedua butir kurma itu, dan memberikan setiap satu butirnya kepada masing-masing anaknya, dan wanita itupun tidak memakan apa-apa, ia sudah senang melihat anaknya bisa memakannya.”

Begitulah kasih seorang ibu, tidak ada yang lebih membahagiakan dirinya, selain kebahagiaan anak-anaknya sendiri. Ibu siap menderita demi kebahagiaan anak-anaknya, sebab para Ibu adalah para pengasih sejati terhadap anak-anaknya, dan siap berkorban demi yang dikasihi tanpa mengharap balasan. Dia rela mendapat seluruh rasa sakit asalkan putranya terbebas dari semua itu. Saat Ibu sakit-sakitan, terkadang sakit keras menimpanya, anaknya datang menjenguk dan menangis, sang Ibu masih bisa tersenyum sambil berkata, “kok kamu tidak kerja? jangan menangis, Ibu tidak apa apa.”

Begitulah, tidak peduli seberapa tinggi sekolah kita, seberapa banyak harta kita, setinggi apa jabatan kita, seberapa dewasanya kita, seorang Ibu akan selalu menganggap kita sebagai “anak kecilnya”, selalu mengkhawatirkan diri kita, tapi tidak pernah membiarkan kita mengkhawatirkan dirinya. Untuk Ibu, Iwan Fals menyanyikan lagunya

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah
Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas . . .
Ibu . . . ibu . . .

Ingin kudekap dan menangis dipangkuanmu
Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas . . .
Ibu . . . ibu . . .

Ada ungkapan populer di tengah-tengah kita, “al-baiti jannati”, rumahku adalah surgaku, dan nabi Saw bersabda, “Surga di bawah telapak kaki ibu”. Karenanya, rumah akan bisa menjadi surga, tergantung pada ibu dalam mengelolanya. Begitu pula, anak-anak akan menjadi pemuda-pemudi surga, sangat ditentukan oleh peran seorang ibu. Ahhh, jadi teringat dulu setiap pagi ibu membuat teh manis dan sarapan untukku sebelum pergi menuntut ilmu. Pelukan hangat dan bisikan nasehatmu Ibu senantiasa terukir kuat, bak aroma surga yang menembus relung-relung hatiku. Tak mungkin semua itu bisa di balas, hanya seuntai doa yang mampu kupanjatkan :

Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ala Muhammad wa aali Muhammad

Ya Allah!
Berilah keistimewaan pada ibuku dengan kemuliaan di sisi-Mu dan kesejahteraan dalam rahmat-Mu.

Ya Allah!
Jadikanlah ketaatan dan baktiku kepadanya lebih indah di mataku, daripada tidur di kala mengantuk, dan lebih sejuk di dadaku, daripada meneguk air dikala dahagaku.

Ya Allah!
Jadikanlah, keinginannya lebih kudahulukan dari keinginanku, keridhaannya lebih kuutamakan dari keridhaanku, penuhilah hatiku dengan rasa kasih, dan berilah aku waktu selama mungkin untuk tetap menemaninya dalam pelukan cinta dan kerinduan sepenuh kalbu. 

“Semoga ibu bahagia selalu, di dunia maupun di alam kuburmu! Selamat Hari Ibu dari putra kecilmu Candiki Repantu”.!! 

ANAK SEBAGAI SUBJEK PENDIDIKAN

Oleh : Munif Chatif

IMG_20171129_183312

Salah satu terobosan paradigma baru pendidikan adalah mengubah peserta didik atau siswa menjadi SUBYEK PENDIDIKAN bukan lagi menjadi OBYEK PENDIDIKAN. Mungkin pendidikan di Indonesia rata-rata masih menjadikan siswanya obyek. Ciri-ciri siswa masih menjadi obyek adalah sebagai berikut :

▶Konten kurikulum pendidikan masih dari atas ke bawah, artinya dari kebijakan pusat atau sekolah diturunkan kepada siswa. Siswa tidak pernah ditanya, sebenarnya mereka membutuhkan materi apa dalam menjalani kehidupannya.

▶Peraturan sekolah masih instruktif, siswa masih belum dilibatkan untuk mendisain peraturan sekolah, definisi pelanggaran dan konsekuensinya. Saya sering menyebutnya dengan konsekuensi edukatif.

▶Program-program kerja di sekolah belum melibatkan siswa untuk diajak bersama berpikir, menyusun dan melaksanakan.

Saran saya, libatkan siswa dalam mendisain kurikulum. Bertanyalah kepada siswa, masalah apa yang dihadapinya saat ini. Pasti para guru akan terkejut kala siswanya diberi kesempatan mendata masalah-masalah yang dihadapi. Pasti banyak sekali dan sebenarnya solusi dari maslaah itulah kurikulum yang tepat untuk siswanya. Masalah adiktif gadget, pemahaman dan perilaku masa puber, dan lain-lain.

Demikian juga ketika siswa dilibatkan menyusun program-program kerja sekolah. Contohnya memperingati hari kemerdekaan pasti akan berbeda agenda lomba-lombanya jika siswa diberi kepercayaan untuk mendisainnya. Anak-anak SD terkadang menentukan jenis lomba yang tidak pernah terpikirkan oleh para guru. Contohnya lomba tiarap mundur, lomba lari dengan kostum super hero, dan lain-lain.

Mengapa tidak mencoba disain seragam juga ditawarkan kepada siswa. Pasti para siswa merasa dihargai eksistensi dan kreativitasnya oleh sekolah. Siswa akan mempunyai ‘sense of belonging’ kepada sekolahnya.

*Sumber : http://bit.ly/AnakObyekPendidikan