Ali Sang Haidar


Ali Sang Haidar

Oleh Candiki Repantu

aliTiga belas rajab, 30 tahun setelah peristiwa ashabul fil (tentara gajah), seorang wanita terlihat menyusuri jalanan Mekah menuju Baitullah, ka’bah. Dengan penuh keyakinan, wanita itu memasuki pelataran Masjidil Haram, ketika itu terlihat beberapa pemuka Mekah sedang berada di sekitar ka’bah, diantaranya ada Abbas bin Abdul Muthalib.

Tanpa memperdulikan tatapan orang-orang di sekitarnya, wanita itu menuju ka’bah, ia berniat melakukan thawaf sebagai salah satu ibadah yang diperintahkan oleh Tuhan, Sang Pemilik ka’bah. Sesekali terlihat wanita itu mengelus perutnya yang terlihat besar, oh ternyata ia sedang hamil dan telah memasuki usia melahirkan. Thawaf yang dilakukannya ini berniat sebagai permohonan kepada Tuhan untuk keselamatan dalam melahirkan bayinya.

Di sela-sela thawafnya, ia bersimpuh di dinding ka’bah, ia menengadahkan wajah ke langit, dengan hati khusyu dan penuh pengharapan, ia berdoa, “Tuhanku! Sesungguhnya aku beriman kepada-Mu, dan kepada semua rasul-Mu, serta apa yang dibawa oleh para rasul dari sisi-Mu dan apa yang tertera di dalam kitab-kitab-Mu. Sesungguhnya aku memberikan kesaksian bahwa datukku Ibrahim al-khalil, dialah yang membangun Baitullah. Maka, Ya Allah! Demi keagungan ka’bah yang mulia, dan demi hak Nabi yang membangun Baitullah ini dan melalui hak bayi yang ada dalam kandunganku, permudahlah untukku proses kelahiran bayiku, yang akan menjadi pelipur laraku, putra yang memiliki kemuliaan yang menjadi salah satu tanda keagungan dan kekuasaan-Mu”

Setelah berdoa, wanita itu merasa sesuatu bergerak dalam perutnya, tanda-tanda bahwa ia akan segera melahirkan bayinya. Ia berusaha bangkit untuk kembali ke rumahnya, tetapi tak mampu melakukannya. Tapi ia sadar tak mungkin melahirkan di pelataran ka’bah di depan banyak orang yang menyaksikannya, “Ya Allah jangan permalukan aku”, seolah begitulah bisik hati sang wanita. Seperti mendengar doanya, terjadilah peristiwa yang menakjubkan setiap orang yang hadir di sana, mendadak terbelahlah dinding ka’bah, membentuk pintu memberi jalan bagi si wanita untuk memasukinya. Setelah wanita itu masuk dalam ka’bah, dindingnyapun tertutup seperti semula.

Peristiwa itu begitu singkat dan mengagetkan, orang-orang pun berada dalam kebingungan. Abbas segera menuju rumahnya, mengabarkan apa yang terjadi, dan membawa sejumlah wanita untuk membantu persalinannya. Akan tetapi, mereka hanya mengelilingi ka’bah tak menemukan jalan masuk ke dalamnya. Mereka hanya bisa menanti dengan pengharapan.

Empat hari berlalu, terlihat dinding ka’bah kembali terbelah, dari dalamnya keluar wanita sambil menggendong bayi laki-laki mungil di dadanya, bayi yang indah dan menggembirakan bagi setiap orang yang melihatnya. Orang-orang datang menghampirinya, merasa takjub dan heran, betapa suatu kehormatan yang tiada tara mendapat tempat bersalin di dalam baitullah, Rumat Allah.

Siapa wanita terhormat yang menjadi tamu Allah dan melahirkan di dalam rumah-Nya? Dialah Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf, isteri Abu Thalib. Lalu siapa bayi mungil yang digendongnya? tidak lain adalah Ali, putra Abu Thalib. Karena fenomena kelahirannya di baitullah, Ali kemudian dikenal sebagai Ibnul ka’bah, Putra ka’bah.

Fatimah binti Asad berkisah kepada orang-orang yang menanti dirinya, “Wahai penduduk Mekah, dengan menganugerahkan putra yang baik ini, Allah Yang Maha Kuasa telah memberiku kedudukan yang mulia melebihi seluruh wanita, karena tidak ada wanita yang melahirkan di dalam rumah Allah, dan selama tiga hari menjadi tamu-Nya. Ketika aku ingin keluar, Allah kembali membelah dinding ka’bah dan memberiku jalan keluar. Nama putraku ini adalah Ali, nama itu kuberikan karena ketika di dalam ka’bah aku mendengar suara berkata, ‘berilah nama Ali padanya, yang diturunkan dari nama-Ku, Aliyul A’la’

Akhirnya dikenallah nama anak itu Ali hingga saat ini. Awalnya ibunya ingin menamainya Haidar yang berarti Singa. Ia ingin anaknya memiliki sifat pemberani dan jawara seperti singa, disegani kawan dan ditakuti lawan. Terlebih lagi Fatimah adalah putri dari Asad yang juga artinya singa. Jadi Fatimah di kelilingi oleh para “singa”, dialah putri Asad dan ibu dari Haidar, keduanya berarti “singa”, dan terbukti kelak anaknya ini menjadi asadullah (singa Allah) dan pelindung Rasulullah. Sebagai buktinya, tanyalah kepada setiap umat Islam di mana saja, siapa pemuda yang mereka kenal dengan pedangnya? Tanyalah nama pedang yang terkenal yang dimiliki sahabat di zaman Nabi? Dari empat khulafa al-rasyidin, pedang siapa yang dikenal kaum mukminin? Dari sepuluh sahabat nabi yang dijamin masuk surga, pedang siapa yang dikenal umat Islam sedunia? Tanyakan pada kaum mukminin, apa nama pedangnya Abu Bakar, pedangnya Umar, pedangnya Usman, pedangnya Thalhah, pedangnya Zubair, pedangnya Abdurrahman bin Auf, dan lainnya? Mereka akan menggelengkan kepala, sebab hanya satu pedang yang dienal mereka, itulah Dzulfikar. Dan hanya satu pemiliknya, itulah Ali bin Abi Thalib. Sebab hanya ada satu sabda, itulah ‘la fata illa Ali wa la saif illa dzulfikar”.

Para ahli sejarah meriwayatkan ketika terjadi perang Uhud, ketika semua orang lari dari medan perang meninggalkan Nabi saw, hanya segelintir sahabat yang tetap setia mendampingi Nabi, termasuk salah satunya Ali.

Perang Uhud dimulai ketika Ali maju ke medan laga menerima tantangan Thalhah bin Abi Thalhah “Siapakah dari kalian yang berani maju bertanding?” Ali, dengan langkah tegap dan pedang terhunus maju menyambutnya. Thalhah bin Abi Thalhah menyerang lebih dulu, tetapi tanpa diduganya, baru saja mengangkat pedangnya, tubuhnya keburu disambar oleh Ali dengan pedangnya. Thalhah terkulai jatuh ke tanah, tubuhnya terbelah bersimbah darah. Betapa bangganya Rasulullah, suara takbir pun bergema. Perang sudah diambang mata.

Tak lama, perangpun berkobar. Ali, Abu Dujanah dan Hamzah mengobrak-abrik pasukan musuh. Mereka menyergap dan menyerang bagaikan singa-singa menerkam mangsanya. Pasukan musuh berantakan dan lari ketakutan. Kemenangan pasukan muslim sudah di depan mata, tapi apa yang terjadi?

Pasukan pemanah yang diberi amanah tetap di lereng bukit melupakan tugasnya. Ketika melihat pasukan musuh lari, mereka pun meninggalkan posnya, ikut berebut harta rampasan yang melimpah. Mereka lupa pada pesan Rasulullah agar tidak meninggalkan tempatnya, hanya karena takut tidak kebagian harta.

Dalam keadaan pasukan muslim sibuk dengan harta rampasan, pasukan berkuda musuh dipimpin Khalid bin Walid melakukan serangan dari belakang, melalui lereng-lereng bukit yang ditinggalkan. Situasi perang berubah, pasukan muslim porak-poranda, lari tunggang langgang menyelamatan nyawa, dan meninggalkan harta yang tadi ingin dikumpulkannya. Serangan pasukan kafir semakin menggila, mereka menyerang maju menuju tempat Rasul yang mulia untuk membunuhnya. Di sisi Rasul hanya tinggal beberapa sahabat setia, seperti Saad, Abu Dujanah dan Ali bin Abi Thalib. Ali, dengan keberanian yang luar biasa, menyerang laksana singa, menangkis dan menerkam musuh yang berani mendekati tempat sang Nabi, menghalau musuh dari sisi kanan dan kiri, muka dan belakang, ia berputar seperti gasing untuk melindungi sang Rasul, ia tak perduli dengan nyawanya sendiri, lebih baik mati berkalang tanah, dari pada harus lari meninggalkan sang Rasulullah.

Tapi apa nak di kata, serangan dahsyat musuh memang sulit diterka, tiba-tiba sebongkah batu (atau anak panah) dilemparkan musuh mengenai wajah Rasul yang mulia, membersit dari dahinya darah, gigi gerahamnya patah, serpihan topi besi menembus pipinya, mengoyak wajah agungnya. Tubuh Rasul menggigil menahan sakit yang tiada tara, tapi lebih sakit lagi hatinya yang ditinggalkan para sahabatnya, seolah dirinya tiada lagi berharga. Untung masih terobati dengan hadirnya Ali di sisinya. Di tengah gundah gulana, terdengarlah suara langit menggema, menyampaikan pesan Tuhan semesta untuk menghibur nabi-Nya, “La fata illa Ali, wa la saif illa dzulfikar”, tiada pemuda selain Ali, dan tiada pedang selain dzulfikar.

Itulah Ali sang Haidar di sisi ibunya, suami terbaik di sisi Fatimah, imam pertama dalam mazhab Syi’ah. Itulah Ali, pemegang mandat dan wasiat, pelanjut kepemimpinan umat, yang di Sunni menjadi Khulafa al-Rasyidin yang keempat. Itulah Ali, yang bagi orang Barat, hubungannya dengan Muhammad dilukiskan seperti Yohanes Pembaptis kepada Yesus (Isa as), namun dalam Islam, baik syiah maupun sunni, mengakui hubunganya seperti Harun di sisi Musa. Itulah Ali, Kepadanya Tuhan memberi gelar “khairul bariyah”, sebaik-baik makhluk-Nya. Itulah Ali, Untuknya Nabi bersabda, “Tidak ada yang menyintaimu selain mukmin, dan tiada yang memusuhimu selain munafik.Ituah Ali, Sang Haidar, jawara Badar, Uhud, Khandak, dan Khaibar.

Dan hari ini, 13 rajab 1426 H, untukmu imam, kami hanya bisa berkata, “Selamat atas kelahiranmu wahai sayidul muslimin, amirul mukminin, imamul muttaqin, syafaatilah kami di sisi Allah Rabb al-‘alamin. Pada hari yang mulia ini, kami berdoa, semoga hidup kami seperti hidupmu, mati kami seperti matimu, dan kumpulkanlah kami kelak bersamamu. Salam atasmu wahai Ali bin Abi Thalib warahmatullah wabarakatuh”

Laa ilaha illa Allah, Allahu Rabbi

Muhammad Nabi

Aliyyun imami

Medan, 2 Mei 2015/13 Rajab 1436 H

%d blogger menyukai ini: