ISYRAF

Isyraf artinya melampaui batas. Dalam studi akhlak isyraf adalah melakukan sesuatu yang berlebihan dan melampaui batas-batas yang seharusnya. Orang yang berbuat isyraf disebut musyrif, musrifun atau musrifin.

Suatu hari Rasulullah saaw melewati Sa’d yang sedang berwudhu. Kemudian belaiau mengatakan kepadanya, ‘Mengapa kau berlebih-lebihan (dalam menggunakan air) wahai Sa’d? Sa’d kemudian bertanya, ‘Apakah ada sikap berlebih-lebihan dalam berwudhu?’ Nabi saaw menjawab, ‘Ya, sekalipun kau berada di dekat sungai.’

Isyraf termasuk perilaku tercela, yang mendatangkan kerugian bagi diri pribadi dan kehidupan masyarakat. Isyraf juga dapat terjadi pada perbuiatan yg dihalalkan Allah swt, sebagaiman disebutkan al-Quran : “…makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Q.S. al-An’am : 141)

Seseorang bertanya kepada Imam Ja’far Shadiq tentang membelanjakan harta di jalan yang halal, apakah bisa dihinggapi sifat berlebih-lebihan? Imam Ja’far Shadiq menjawab, ‘Ya, hal itu bisa menimbulkan berlebih-lebihan. Orang yang memberi zakat dan menyedekahkan harta bendanya secara berlebihan, dan tidak menyisakan sesuatu pun untuk dirinya sendiri, berarti telah berlebih-lebihan dalam membelanjakan harta di jalan yang halal.’

Perbuatan yang berlebihan (isyraf) dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Misalnya, Isyraf dapat terjadi pada kebutuhan-kebutuhan sehari-hari yang primer seperti saat makan, minum, atau berpakaian : “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Q.S. Al-A’raf : 31)

Begitu pula, sikap berlebihan dapat terjadi dalam pelaksanaan hukum atau keputusan pengadilan, di mana keputusan mengandung kepalsuan dan kedustaan (lihat Q.S. Ghafir : 28) Kadangkala, berlebih-lebihan juga terjadi dalam konteks kepercayaan, yang membawa pada keraguan (lihat Q.S. Ghafir : 34). Dan adakalanya sikap berlebihan digunakan dalam pengertian mengunggulkan diri, arogansi, dan eksploitasi (lihat Q.S. ad-Dukhan : 31) Kemudian, isyraf juga digunakan untuk menyebut dosa dan kesalahan apapun bentuknya (Q.S. az-Zumar ayat 53).

Dengan memperhatikan ayat-ayat di atas, jelaslah bahwa sikap dan tindakan berlebih-lebihan adalah sejenis kerusakan, baik kerusakan diri maupun kerusakan (kerugian) harta.
Untuk itu, sebagai umat Islam yang mengikuti sunnah Rasulullah saaw, maka kita dilarang untuk bertindak secara berlebih-lebihan.

Islam adalah agama pertengahan, maka kita juga diperintahkan untuk bersikap pertengahan (moderat) atau hidup sederhana. Hidup sederhana, bukanlah hidup dengan kekurangan, tetapi hidup sesuai kebutuhan. Di antara cara hidup moderat (pertengahan) agar terhindar dari sifat isyraf adalah dengan cara mengurangi keinginan-keinginan kita terhadap benda-benda yang tidak menjadi kebutuhan penting. Kemudian, menyadari kerugian-kerugian isyraf bagi diri dan keluarga kita, serta kehidupan sosial kemasyarakatan.

Sadarilah, disaat kita makan dan berpakaian dengan berlebihan, maka di sisi lain ada orang-orang yang kurang makan, kurang gizi, dan mati kelaparan, serta tidak dapat berpakaian selayaknya. Karena itu, hiduplah dengan perencanaan untuk masa depan dan berhematlah. Artinya : “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (Q.S. Al-Furqan/25 : 67).
wallahu a’lam (CaRe, 10 Ramadhan 1430 H)

TABZIR

Tabzir berasal dari kata badzr yang artinya boros, yaitu mengeluarkan sesuatu (seperti harta) tanpa tujuan atau secara salah atau sia-sia belaka. Misalnya, menyediakan makanan yang cukup untuk sepuluh orang terhadap dua orang tamu, sehingga makanan itu sia-sia.

Allah berfirman : “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (Q.S. Al-Isra/17 : 26-27)

Imam Ja’far Shadiq ketika menafsirkan ayat di atas mengatakan bahwa orang yang mengeluarkan uang untuk maksiat kepada Allah, sesungguhnya ia telah melakukan tabzir.

Ayat ini juga menegaskan bahwa boros merupakan salah satu perilaku setan, karenanya, jika seseorang melakukan pemborosan, maka ia telah mengikuti jejak langkah setan, dan telah menjadi sahabat atau saudaranya setan. Ini berarti, orang yang boros bukan hanya di bawah pengaruh setan, tetapi juga telah bekerjasama dengan setan dan membantu pekerjaannya. Hal ini karena, pemborosan merupakan perbuatan merusak nikmat dan tanda tidak bersyukur akan pemberian Allah swt.

Pemborosan sering terjadi dalam masalah keuangan. Akan tetapi, boros juga dapat merujuk pada nikmat-nikmat lain seperti anggota tubuh, mata, tangan, kaki, pikiran, telinga, dan lainnya. Jika seseorang menggunakan anggota tubuhnya, untuk melakukan maksiat kepada Allah, maka ia telah melakukan pemborosan dan kufur nikmat. Begitu pula, boros dapat terjadi menyia-nyiakan umur, seperti ‘menyia-nyiakan masa muda hanya untuk hura-hura’, ‘menyia-nyiakan waktu belajar’, ‘menyia-nyiakan amanah dan tanggung jawab’, atau juga melakukan hal-hal lain yang tidak bermanfaat. Semua itu merupakan perbuatan tabzir.

Ibadah puasa pada dasarnya mengajarkan kita untuk menghindari sifat mubazir ini. Kita diajarkan untuk mengendalikan nafsu jasmaniyah dan juga nafsu ruhaniah. Kita dilatih utk menjaga makanan, minuman, kesenangan, pikiran, hati, pembicaraan, dan seluruh potensi diri untuk mencapai pencerahan dan kedekatan pada ilahi. Kita tidak mau saat puasa mengajarkan kita untuk menghindari boros, malah kita terjebak dalam hidup boros…kita menahan makan dan minum disiang hari, tetapi menumpuknya di malam hari…kita menahan lidah saat puasa, tetapi tetapi mengulurkannya saat berbuka..

Wallahu a’lam (CaRe, 11 Ramadhan 1430 H)

GHIBAH

Oleh : Candiki Repantu

Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ‘ala muhammad wa aali muhammad

“Anas bin Malik berkata, ‘Rasulullah saaw bersabda, pada malam aku di isra’-kan, aku melewati satu kaum yang sedang mencakar-cakar wajah mereka dengan kuku-kuku dan jemari mereka. Aku berkata, ‘wahai Jibril, siapakah mereka itu?’ Jibril menjawab, ‘Mereka itu orang-orang yang melakukan ghibah terhadap manusia dan merusak kehormatan mereka.”

Ghibah artinya bergunjing atau menggosip, yaitu membicarakan keburukan (aib) orang lain pada saat ia tidak berada bersama orang-orang yang bergunjing, termasuk berbicara tentang hal-hal yang berkaitan dengan akhlaknya, penampilan lahiriahnya, atau kepribadiannya. Ghibah tidak hanya terbatas pada kata-kata, tetapi mencakup semua cara komunikasi, baik dengan perkataan, perbuatan, ataupun sikap.

Rasulullah saaw mendefenisikan ghibah melalui sabdanya, “Tahukah kamu apa ghibah itu? Yaitu kamu mengatakan hal-hal yang tidak disukai saudara (seiman) kalian. Mengatakan hal-hal yang benar-benar ada pada pribadi saudaramu, itulah ghibah. Sedangkan mengatakan hal-hal yang tidak ada pada pribadi saudaramu, itu adalah fitnah.” (H.R. Muslim).

Ghibah merupakan perbuatan yang sangat tercela, yang mengandung banyak bahaya dan kerugian baik secara pribadi maupun bagi kehidupan sosial masyarakat. Di dalam al-Quran Allah swt mencela perilaku ghibah dengan menyamakannya seperti memakan daging busuk.

Tuhan berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Hujurat/49 : 12)

Tentang dosa dan bahaya ghibah, Rasulullah saaw bersabda, “Ghibah merupakan suatu dosa yang lebih berat daripada berzina.’ ‘Bagaimana bisa begitu ya Rasulullah?” tanya Abu Zar. ‘Itu karena seseorang yang berzina dan bertobat kepada Allah, maka Allah menerima tobatnya. Namun, ghibah tidak diampuni (oleh Allah) sampai diampuni oleh korbanya.”

Di dunia, orang yang melakukan ghibah akan mendapat kehinaan di sisi manusia dan sisi Allah swt. Ia akan dibenci oleh teman-temanya dan kelompok masyarakat. Begitu pula, ghibah akan merusak kehidupan sosial, karena akan terjadi pencemaran nama baik orang beriman, sehingga menyebarlah penghinaan, ejekan, yang bisa menimbulkan pertengkaran dan permusuhan. Sedangkan di akhirat, orang yang melakukan ghibah kelak dipermalukan dihadapan seluruh makhluk, ia akan memakan bangkai yang sangat busuk, atau ia akan memakan dagingnya sendiri, dan juga dirinya akan berubah menjadi anjing yang memakan daging busuk, atau ia akan menjadi santapan anjing-anjing neraka.

Imam Ja’far Shadiq berkata, “Orang yang menyebarluaskan suatu hal buruk tentang orang beriman dengan tujuan mempermalukan dan menghinakannya, Allah akan menjauhkannya dari penjagaan-Nya dan menyerahkannya kepada setan. Janganlah menggunjingkan orang lain agar orang lain tidak menggunjingkanmu. Janganlah menggali lubang untuk membuat saudaramu jatuh ke dalamnya, jangan sampai dirimu jatuh ke dalam lubang yang sama. Apabila engkau menyalahkan orang-orang lain, maka orang-orang lain tentu saja akan menyalahkanmu.”

Untuk itu, maka kepada kaum muslimin ditegaskan untuk menjauhkan diri dari perilaku ghibah (gosip, bergunjing, atau mengumpat) agar mendapatkan keselamatan di dunia dan di akhirat. Jika ada orang yang sedang ber-ghibah, baik itu teman atau keluarga kita, hendaknya kita mengingatkan mereka atau meninggalkan mereka untuk meghindar sampai pembicaraan mereka berubah pada kebaikan.Sebab, orang yang mendengarkan ghibah, sama dengan orang yang ber-ghibah.

Begitu pula, kita harus senantiasa menyadari dan mencamkan bahaya-bahaya ghibah di atas dan berusaha untuk berprasangka baik pada orang lain. Janganlah berteman dengan orang yang suka ber-ghibah, karena boleh jadi pada suatu hari nanti, diri kamu juga akan di-ghibah-kannya dihadapan orang lain. Karena itu, perhatikanlah keburukan, aib dan kekurangan-kekurangan diri sendiri, dan perhatikanlah kebaikan-kebaikan orang lain. Itulah di antara cara-cara untuk menghindarkan diri kita dari sifat ber-ghibah. “Barang siapa melakukan kebaikan bagi saudaranya dengan menolak ghibah ketika mendengarnya dalam suatu majelis, maka Allah akan menyelamatkannya dari seribu keburukan di dunia ini dan di akhirat”, begitu kita diingatkan oleh Rasulullah Muhammad saaw.
Wallahu a’lam (CaRe, 12 Ramadhan 1430 H)

SEDEKAH

Oleh : Candiki Repantu

Orang pinggiran, o ya i yo
Ada di trotoar, o ya i yo
Ada di bis kota, o ya i yo
Ada di jembatan, o ya i yo

Anda pasti ingat lirik lagu di atas yang dinyanyikan oleh musisi papan atas Indonesia, Iwan Fals. Sang musisi ingin mengingatkan kita bahwa kemiskinan telah merajalela di Negara Indonesia tercinta ini, dan telah sangat meresahkan. Bagaimana tidak? Saat kita berada diangkot, di bis kota, atau di mobil mewah pribadi, yang berhenti di tengah jalanan karena lampu merah lalu lintas, mendadak anak-anak kecil menghampiri kita dan dengan memukul-mukul botol atau potongan besi dan kaleng, mulai menyanyikan lagu-lagu yang tentu saja kurang enak di dengar telinga. Tidak berapa lama mereka pun menyodorkan tangan untuk meminta uang sebagai balas jasa atas lagu-lagu mereka. Bukan hanya anak-anak, para remaja dan pemuda, bahkan orang tua dan dewasa, juga melakukan hal itu dengan berbagai cara, baik ngamen, meminta-minta, atau bahkan memaksa.

Melihat semua itu, kita bertanya, di mana pemerintah yang menjanjikan kemakmuran rakyat? Dan Di mana orang-orang kaya yang seharusnya menyantuni rakyat? Dimana para intelektual dan ulama yg menjadi corong suara rakyat.??

Kita sadar, banyak ayat al-Quran dan hadit2 Nabi saaw yg megingatkan kita untuk senantiasa memperhatikan orang-orang miskin, para pengemis, dan anak-anak terlantar. Mereka bukanlah orang pinggiran yang harus disingkirkan, tetapi mereka adalah kekasih-kekasih Tuhan yang menjadi tempat-Nya mencurahkan rahmat. Mereka bukanlah orang-orang malas, tetapi adalah orang-orang yang diputuskan dari pekerjaannya. Mereka bukanlah orang-orang bodoh, tetapi hanyalah orang-orang yang tidak diberi kesempatan sekolah karena biaya yang mahal. Mereka bukanlah orang yang ingin tidur di kaki lima jalanan, melainkan terpaksa dikarenakan korban penggusuran. Intinya, mereka bukan memilih untuk hidup miskin, tetapi mereka ditindas dan dibiarkan miskin oleh orang-orang kaya dan penguasa. Singkatnya, kemiskinan terjadi dikarenakan ketidakadilan yang tercipta di tangah-tangah masyarakat.

Jika keadilan ditegakkan, maka orang kaya akan menyantuni fakir miskin, sehingga hidup mereka terbantu. Karena keimanan itu, bukan saja mengingat Allah dalam salat, tetapi juga mengingat penderitaan orang miskin sehingga bergerak membantunya. Keimanan bukan saja saat dengan membaca dan mencium al-Quran, tetapi juga mencium kepala para anak yatim dan anak terlantar lainnya. Keimanan bukan saja membesarkan Allah dengan teriakn Allahu akbar, tetapi juga membesarkan hati para pengemis miskin agar merasakan kebahagiaan.

Kita harus menyadari, bahwa orang-orang miskin bukanlah musuh-musuh yang harus dijauhi, tetapi mereka adalah saudara yang harus didekati dan disayangi. Sebab, jika orang-orang kaya dan penguasa menjauhi dan menyingkirkan orang-orang miskin sehingga kesenjangan sosial terasa begitu nyata, maka akan terjadi disintegrasi sosial yang menghasilkan perlawanan kaum miskin. Jadi, sumber keresahan di tengah masyarakat adalah ketidakadilan dan penindasan. Karena itu, sudah saatnya kita menggalakkan bantuan dan solidaritas sosial untuk mengatasi kemiskinan, melawan menindasan, dan berusaha menegakkan keadilan.

Kita mungkin sering mentraktir teman2 makan dipinggir jalan, atau makan siap saji ala KFC atau Mc D, bahkan mungkin direstoran mewah tempat org2 berdasi. Kita tanpa sadar dan dgn ikhlas mengelurkan uang berlebih utk menyenangkan teman2 kita yg pada dasarnya mampu membayar makananya masing2. Kita mentraktir mereka padahal mereka adalah org2 yg kenyang dan ber-uang…. Tapi, sebaliknya, berapa seringkah kita mentraktir org2 kelaparan utk makan..?? Berapa uang yg kita lemparkan utk pengemis di pinggir jalan..?? Kita mungkin malu menyebutkannya karena memang tidak sebanding dgn uang utk mentraktir teman2…

Begitulah..saya dan juga mungkin anda menyadari bahwa empati dan simpati kita masih sangat tipis pd saudara2 kita yg kurang beruntung…saya takut firman Allah ini dialamatkan kpd saya : “Tahukah kamu siapa pendusta2 dalam agama. Itulah org2 yg menghardik anak2 yatim. Dan tidak memberi makan org2 miskin” (Q.S. al-Maun : 1-3)

Saya juga takut org2 miskin tidak mau menerima lagi sedekah kita, seperti disabdakan Nabi saaw : “Serahkanlah sedekahmu sebelum datang suatu masa ketika engkau berkeliling menawarkan sedekahmu, orang-oang miskin akan menolaknya sambil berkata, ‘Hari ini kami tidak perlu bantuanmu, yang kami perlukan adalah darahmu.”
Wallahu a’lam (CaRe, 13 Ramadhan 1430 H)

JAUHKAN AL-QURAN DARI UMAT ISLAM?

Bismillahirrahmanirrahim
Allahuma shalli ala muhammad wa aali muhammad

“Sesungguhnya Al Quran Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus
dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh
bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (Q.S. al-Isra : 9)

Napoleon Bonaparte adalah penguasa Perancis yang menaklukkan Mesir. Dia bertanya, ‘Dimanakah markas kaum muslimin?” Orang-orang menjawad, “Di Mesir”.

Sebagai seorang penakluk, maka ia bersama pasukannya bergerak menuju Mesir, disertai seorang penerjemah Arab. Sesampainya di Mesir, dia bersama penerjemahnya itu langsung menuju perpustakaan. Dia berkata kepada sang penerjemah, “Bacakan salah satu buku ini untukku.”

Si penerjemah mengambil salah satu buku di antara sederet buku yang ada, dan ternyata ia mengambil al-Quran. Lembar pertama yang dibukanya membuatnya terpesona; ia membacakan ayat ini kepada Napoleon : “Sesungguhnya Al Quran Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (Q.S. al-Isra : 9)

Napoleon keluar dari perpustakaan. Dari malam hingga pagi, dia terus memikirkan ayat tersebut. Setelah terjaga dari tidurnya di pagi hari, untuk kedua kalinya, dia langsung ke perpustakaan. Dia meminta kepada penerjemahnya untuk membacakan al-Quran kembali. Si penerjemah membuka al-Quran, membacakan beberapa ayat dan mengartikannya. Setelah itu, Napoleon kembali ke rumahnya. Malam harinya, ia terus tenggelam dalam lamunan tentang al-Quran itu.

Hari ketiga, dia kembali lagi ke perpustakaan. Atas permintaan Napoleon, si penerjemah langsung membacakan beberapa ayat dan menerjemahkannya. Mereka berdua kemudian keluar dari perpustakaan. Napoleon bertanya, ‘Berkaitan dengan agama manakah buku ini?’ Si Penerjemah menjawab, “Ini adalah kitab orang-orang Islam, dan mereka berkeyakinan bahwa al-Quran ini telah diturunkan dari langit kepada Nabi besar mereka.”

Napoleon lantas berkomentar penting, yang mana ucapannya itu menguntungkan kaum muslimin, sekaligus membahayakan mereka. Napoleon berkata, “Aku telah belajar dari buku ini, dan aku merasa bahwa apabila kaum muslimin mengamalkan aturan-aturan buku ini, maka niscaya mereka tidak akan pernah terhinakan. Selama al-Quran ini berkuasa di tengah-tengah kaum muslimin, dan mereka hidup di bawah naungan ajaran-ajarannya yang sangat istimewa, maka kaum muslimin tidak akan tunduk kepada kita, kecuali kita pisahkan antara mereka dengan al-Quran.”

Itulah cita-cita Napoleon Bonaparte, yaitu , ‘menjauhkan umat Islam dari al-Quran’, dan dia berhasil melaksanakannya. Hasilnya, kaum muslimin mundur dan mengalami kekalahan di seluruh dunia, ilmu pengetahuannya mengalami kemunduran, dan tingkah lakunya jauh dari etika islami.

Cita-cita Napoleon dilanjutkan oleh Gladstone, salah seorang arsitek imperialisme Inggris. Gladstone membawa al-Quran ke dalam gedung parlemen Inggris, dan sambil mengangkat al-Quran dia berkata, “Selama orang-orang Mesir itu memegang buku ini di tangan mereka, kita tidak akan menikmati kedamaian di negeri ini”.

Tujuan musuh-musuh Islam adalah menjauhkan umat Islam dari al-Quran. Sebab, saat manusia dijajah, al-Quran mengajak manusia untuk merdeka; saat manusia hidup dalam kebodohan, al-Quran mengajak pada ilmu pengetahuan; saat manusia membunuh anak perempuan, al-Quran mengajak menghormati para perempuan; saat manusia berbuat kezaliman, al-Quran mengajak menegakkan keadilan; saat orang-orang kaya menindas orang-orang miskin, al-Quran mengajak orang miskin mengambil bagian mereka dari orang-orang kaya; saat orang menjual belikan budak, al-Quran memerintahkan membebaskan budak. Saat manusia sibuk mencari kenikmatan dunia, al-Quran menyatakan agar umat Islam berdoa ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, dan kehidupan baik di akhirat, dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka.”

Imam Ali bin Abi Thalib yang merupakan pintu ilmu kenabian menyebutkan keutamaan membaca al-Quran sebagai berikut :
“Ketahuilah bahwa al-Quran ini adalah pemberi nasehat yang tidak akan memperbayai, pemberi petunjuk yang tidak akan menyesatkan, dan pembicara yang tidak akan pernah berbohong. Siapa saja yang menekuni al-Quran, maka akan terjadi hal pada dirinya, yaitu penambahan dan pengurangan. Yakni, bertambahnya hidayah dan berkurangnya kebodohan pada dirinya. Dan ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun yang setelah mempelajari al-Quran akan mengalami kesulitan, dan tidak seorangpun sebelum mempelajari al-Quran akan merasa berkecukupan. Jadikanlah al-Quran sebagai penawar sakit bagimu, dan mintalah pertolongan kepadanya. Sesungguhnya dalam al-Quran terdapat penawar penyakit bagi sakit yang paling parah sekalipun, seperti kufur, nifak, dan kesesatan. Mohonlah kepada Allah swt dan menghadaplah kepada-Nya dengan penuh rasa cinta.”

Sekarang kita bebas memilih, mengikuti nasehat Napoleon, yaitu ‘menjauhkan diri dari al-Quran’ atau tetap bersama al-Quran dengan mengikuti nasehat Rasulullah saaw, ‘Siapa yang ingin mendapatkan ilmu pengetahuan tentang masa lalu dan masa depan, maka bacalah al-Quran”. wallahu a’lam (CaRe, 02 Ramadhan 1430 H)

BUKTI TUHAN DI JAGAD RAYA

Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhamamad

Suatu hari berkatalah orang-orang kafir, ‘Bagaimana Tuhan Yang Satu itu bisa mendengar sekian banyak manusia, maka sebagai jawabannya Allah menurunkan ayat :

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang…Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (Q.S. al-Baqarah : 163-164)

Ayat di atas memberikan bukti kepada kita akan keberadaan dan keesaan Allah swt, dengan memperhatikan enam fenomena di jagad raya :
1. Penciptaan langit dan bumi.
2. Silih bergantinya malam dan siang.
3. Bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia
4. Air yang diturunkan dari langit yang dapat menghidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan tersebarnya di bumi itu segala jenis hewan.
5. Pengisaran angin.
6. Awan yang dikendalikan antara langit dan bumi.

Keenam fenomena ini merupakan bukti nyata keberadaan dan keesaan Allah. Tetapi sebagaimana ditegaskan oleh ayat tersebut, semua itu hanya bermakna bagi orang-orang yang mau memikirkan. Benarlah Rasulullah saaw yang bersabda, “Agama adalah akal, tidak ada agama bagi yang tidak berakal”.

Hari ini…sebagian orang mungkin bertanya, bagaimana kita membuktikan keberadaan Allah padahal Ia tidak pernah kita lihat? Pertanyaan seperti ini terkadang membuat kita bingung dan gelisah, bahkan jika dibiarkan akan membuat kita menjadi ragu-ragu dalam beragama. Tapi, sering kali untuk menutupi kegelisahan itu kita hanya berkata..”Keberadaan Tuhan cukup kita yakini saja”.

Namun..statement tersebut ternyata tidak juga mengikis kegelisahan kita..sebab kita punya akal yg senantiasa bertanya utk mencari tahu. Karenanya, kita memerlukan argumen untuk membuktikan keberadaan Allah swt, meskipun tidak pernah kita dengar atau kita melihat diri-Nya secara langsung.

Suatu hari datanglah seorang kafir ke hadapan Imam Ali ar-Ridha as dan kemudian berkata : “Buktikanlah kepadaku keberadaan Tuhan itu”! Imam Ali ar-Ridha menjawab : “Saat aku memikirkan tentang tubuhku, aku sadar bahwa aku tidak bisa menambahkan sesuatu pada panjang dan lebarnya, atau mengurangi sesuatu daripadanya. Demikian pula, aku tak bisa memilih untuk bahagia atau tidak bahagia (sebagai contoh, bisa saja aku telah berusaha keras untuk sembuh dari sakit, tetapi tetap saja gagal). Dari bukti ini dan juga dari memperhatikan pengaturan matahari, bintang-bintang, planet-planet dan bumi serta keteraturan seluruh alam semesta, aku paham bahwa tubuhku dan alam ini ada pencipta dan pengaturnya Yang Maha Tahu dan Maha Kuasa.”

Cobalah kamu lempar sebuah batu ke atas, kemudian tunggulah beberapa saat batu pasti akan kembali jatuh ke bawah menuju tanah. Kenapa hal itu terjadi? Kita akan menjawab bahwa batu itu ditarik oleh kekuatan bumi yang kita sebut dengan gravitasi. Kenapa kita yakin bahwa gravitasi itu ada, padahal kita tidak pernah mendengarnya, tidak pernah melihat bentuknya, dan tidak pernah mencium baunya? Jawabnya, kita mengetahui melalui efek yang yang ditimbulkannya, dimana kita mengamati, bahwa setiap benda-benda yang terlepas akan jatuh ke tanah.

Jadi, jika ditelusuri apa yang ada di alam dunia ini pun, akan ditemukan hal-hal yang tidak mampu indera kita menangkapnya. Ini menjadi lebih jelas dengan mengamati tingkatan makhluk yang sering kita pelajari di sekolah, sebagai berikut :
1. Benda mati. Benda mati ini, sepenuhnya dapat diindera oleh manusia seperti batu, tanah, dan lain-lain.
2. Tumbuh-tumbuhan. Pada tingkat tumbuh-tumbuhan sudah terdapat hal-hal yang dapat kita indera seperti batang pohon, daunya, akarnya, buahnya, dan lain-lain. Namun, ada juga hal-hal yang tidak dapat kita indera seperti kehidupan yang ada pada tumbuhan, karena tumbuhan termasuk makhluk hidup.
3. Dunia hewan. Pada hewan juga terdapat hal-hal yang bisa diindera seperti bentuk tubuhnya atau bulunya. Tetapi ada juga yang tidak bisa kita indera seperti kehidupan, naluri, dan cinta kasih pada binatang.
4. Dunia manusia. Perhatikan dirimu, apa yang engkau lihat. Kamu akan melihat tubuhmu, tanganmu, kepalamu, kakimu, hidungmu, bibirmu, model rambutmu, dan lainnya. Tetapi apakah engkau pernah melihat bentuk atau kekuatan hidup pada dirimu, kesadaran, akal pikiran, takut, atau cinta kasih? Kamu tidak pernah melihatnya, tetapi kamu yakin semua itu ada pada dirimu.

Dengan demikian, ternyata di alam ini banyak sekali hal-hal yang tidak dapat kita indera, tidak pernah kita lihat, dengar atau rasakan, tetapi kita meyakini keberadaannya dari efek yang ditimbulkannya. Itulah mengapa Allah berfirman di dalam al-Quran, “Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat dan apa yang tidak kamu lihat” (Q.S. al-Haqqah : 38-39). Sedangkan menurut pandangan ilmuwan Muslim ada lima hierarki realitas wujud yang disebut dengan al-Hadharat al-Ilahiyah al-Khamis (Lima Kehadiran Ilahi), yaitu alam nasut (alam materi), alam malakut (alam kejiwaan), alam jabarut (alam ruh), alam lahut (sifat-sifat uluhiyah), dan alam hahut (wujud zat ilahi). Hanya alam yang pertama saja (alam materi) yang mampu dijangkau oleh manusia dengan inderanya, sedangkan empat lainnya termasuk alam gaib yang tidak dapat di indera.

Sekarang, coba kamu perhatikan komputer kita masing2. Ia memiliki bagian-bagian hardware dan sofware yang kemudian di susun sehingga jadilah satu unit komputer. Mungkinkah, komputer itu tersusun dan jadi dengan sendirinya tanpa ada yang meyusun atau merakitnya? Jika, satu unit komputer saja harus ada yang membuatnya yang memiliki kecerdasan tinggi, lalu mungkinkah alam yang luas dan rumit ini datang dengan sendirinya tanpa diciptakan oleh suatu kekuatan yang Tinggi? Tentu saja kita jawab : Tidak!, alam ini pasti ada yang menciptakannya.” Itulah yang kita sebut Allah swt. Inilah bukti keberadaan Allah swt.

‘Ya allah, karuniailah kami kecerahan hati dan ketajaman akal, untuk senantiasa memperhatikan segala jejak-jejak yang Engkau tinggalkan di alam ciptaan.”
wallahu a’lam (CR, Medan 3 Ramadhan 1430 H)

MENGENANG IMAM HASAN :MENOLAK KEJAHATAN DENGAN KEBAIKAN

Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ‘ala muhamamd wa aali muhammad

‘Tidak sama perbuatan yang baik dengan perbuatan yang jahat, tolaklah [kejahatan] dengan apa yang baik, maka orang yang ada permusuhan dengan engkau akan menjadi sahabat yang karib’ (Q.S. Fushilat : 34)
———————————

Seseorang berasal dari Syria datang ke Madinah untuk menziarahi makam Rasululah saaw. Saat berziarah, dia melihat seorang penunggang kuda yang begitu mulia dan hebat serta menarik perhatian. Penunggang kuda itu diikuti oleh pengikutnya dari segala arah, dengan sabar menunggu arahan dari beliau.

Orang Syria itu merasa heran karena terdapat orang selain dari Khalifah Muawiyah yang dikelilingi dan dimuliakan oleh masyarakat. Dia diberitahu bahwa penunggang tersebut adalah al-Hasan ibn Ali ibn Abu Talib. ‘Apakah dia anak Abu Turab, Khariji?! Dia bertanya kepada oarang-orang tersebut. “Benar!” jawab para sahabat Imam Hasan al-Mujtaba.

Mendengar hal itu, diapun kemudian melaknat dan menghina Imam Hasan as, dan ayahandanya al-Imam Ali bin Abi Thalib. Sahabat-sahbat Imam Hasan marah dan menghunus pedang mereka untuk membunuh orang Syria itu, tetapi mereka dilarang oleh Imam Hasan. Tidak hanya itu, Imam Hasan turun dari kudanya, menyambut dengan mesra orang Syria itu, dan dengan cara teramat sopan bertanya kepadanya, ‘Kelihatan anda adalah orang asing di daerah ini?’ ‘Ya’ orang Syria itu menjawab. ‘Saya dari Syria, dan saya adalah pengikut amirul mukminin Muawiyah ibn Abu Sufyan. Sekali lagi al-Hasan menyambutnya dan berkata kepadanya, ‘Kamu adalah tamu saya,’ tetapi orang Syria itu menolak, Namun Imam Hasan terus mendesak untuk menjadi tuan rumah sehingga dia setuju.

Imam Hasan melayani orang tersebut (kebiasaannya selama tiga hari) dengan pelayanan yang terbaik. Pada hari keempat, orang Syria itu mulai menunjukkan tanda-tanda penyesalan dan bertaubat atas kelakuannya yang telah menghina Imam Hasan bin Ali bin Abi Talib. Dia teringat bagaimana dia telah menyumpah dan menghina beliau, sedangkan beliau disini terlalu baik dan pemurah. Dia meminta Imam Hasan dan bermohon kepada beliau untuk memaafkan segala kelakuannya yang lalu.

Dihadapan para sahabatnya, kepada orang Syiria tersebut, Imam Hasan bertanya : “Adakah kamu membaca al-Quran”? “Saya telah menghafal keseluruh teks al-Quran”, jawabnya.

Imam Hasan beratnya kembali : “Tahukah anda siapa Ahlul Bait yang mana Allah telah menghapuskan segala kekotoran dan yang telah disucikan dengan kesucian yang sempurna?”. Org Syiria itu menjawab : “Mereka adalah Muawiyah dan keluarga Abu Sufyan”. Mereka yang hadir disitu amat terkejut mendengar jawaban tersebut.

Imam Hasan tersenyum dan berkata kepada orang itu, ‘Saya adalah Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Ayah saya adalah sepupu dan adik Rasulullah saaw; ibu saya adalah Fatima az-Zahra sayyidat al-nisa al-alamin (pemimpin seluruh wanita di semesta alama); Datuk saya adalah Muhammad Rasululah saaw sayyid al-anbiya (pemimpin seluruh nabi). Paman saya adalah Hamzah dan Jafar al-Tayyar as-Syahid. Kami adalah Ahlul Bait yang Allah swt telah sucikan dalam kitabnya ‘Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai ahlul bait dan mensucikan kamu sesuci-sucinya’ (Q.S. al-Ahzab : 33), dan Allah limpahkan kebaikan kepada kami. Pada kami lah Allah dan para malaikat-Nya berselawat, dan memerintahkan kaum Muslimin supaya berselawat kami, ‘Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya bersalawat kepada Nabi, hai orang-orang beriman sampaikanlah salawat dan salam kepadanya’. Aku dan adik saya Husain as adalah pemimpin para pemuda di surga”, ungkap Imam Hasan as.

Kemudian Imam Hasan menjelaskan satu persatu kemuliaan Ahlul Bait Nabi saaw, dan mengenalkannya kebenaran kepadanya. Mendengar semua penuturan Imam Hasan as, orang Syria itu pun dapat melihat cahaya kebenaran, maka dia menangis dan terus mencium tangan Imam Hasan dan meminta maaf atas kesalahannya. Dia berkata, ‘Demi Allah, Tuhan yang Maha Esa! Saya memasuki Madinah dan tiada siapa dimuka bumi ini yang saya benci malainkan kamu, tetapi sekarang saya mencari kedekatan kepada Allah swt dengan mencintai kamu, patuh kepada kamu, dan menjauhkan diri dari mereka yang memusuhi kamu’

Imam al-Hasan menghadap kepada para sahabatnya dan berkata, ‘Apakah kamu mahu membunuhnya walaupun dia tidak bersalah? Jika dia telah mengetahui yang sebenarnya, tentu dia tidak menjadi musuh kita. Kebanyakkan Muslim di Syria adalah orang seperti dia yang mendapat informasi keliru. Jika mereka mengetahui informasi yang sebenarnya, mereka akan mengikutinya.’ Kemudian beliau membacakan ayat yang berbunyi: ‘Tidak sama perbuatan yang baik dengan perbuatan yang jahat, tolaklah [kejahatan] dengan apa yang baik, maka orang yang ada permusuhan dengan engkau akan menjadi sahabat yang karib’ (Q.S. Fushilat : 34)

Hari ini, 15 Ramadhan (nisfu ramadhan) adalah hari lahir Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib as. Semoga kisah di atas menjadi inspirasi pada kita utk mengenang akhlak mulia beliau dan dapat menirunya dalam kehidupan kita sehari-hari, “Tolaklah kejahatan dengan kebaikan”. Semoga.
Wallahu a’lam (Medan 15 Ramadhan 1430 H)