KUBURAN DAN PEMUJAAN


Oleh : Candiki Repantu

FB_IMG_1507802790340

Sebagai kebudayaan, ekspresi keagamaan dalam perasaan, perkataan atau tindakan selalu mewarnai aspek kehidupan manusia dari kelahiran hingga kematian. Ekspresi keagamaan berwujud ibadat yang dalam antropologi disebut ritual, pemujaan, atau ritus (rites). Ritus ini selalu berhubungan dengan pemujaan terhadap yang supernatural, yang gaib, baik tempat, benda, waktu, atau orang yang keramat, suci, dan istimewa yang dalam antropologi disebut yang sakral.

Kebudayaan di seluruh dunia, masa lalu dan kini, menunjukkan pada dasarnya ritus ziarah kubur dan kultus (pemujaan) pada orang yang meninggal adalah tradisi yang dimiliki oleh seluruh kebudayaan manusia kapan pun dan di mana pun.

Dalam kebudayaan Mesir kuno kita melihat peninggalan mereka melalui pembalseman mayat dan kemegahan piramida sebagai kuburan penguasa Mesir (Fira’un) yang terkait erat dengan perjalanan hidup sesudah mati. Di Cina, kita melihat penghormatan pada makam leluhur dan penguasanya. Afrika, Asia dan daerah sekitarnya tidak ketinggalan membangun kuburan leluhurnya sebagai penghormatan dan legalisasi kekuasaan.

Taj Mahal dibangun untuk mengabadikan isteri tercinta. Patung-patung dan tugu dibangun, juga untuk memvisualisasikan keabadian. Ini merefleksikan masyarakat yang mengkultuskan manusia suci, manusia berkuasa, manusia tercinta, atau nenek moyang. Komunitas yang melakukan penghormatan melalui ritus suci inilah yang dalam antropologi disebut kelompok pemujaan atau kultus (cult) dan ritus pemakaman atau pemujaan kepada yang meninggal disebut ‘kultus orang mati’ (cult of the dead).

Ziarah kubur dengan seabrek ekspresinya menggambarkan secara sempurna “cult of the dead” tersebut. Dan Indonesia sangat kaya dengan budaya prosesi ziarah kubur ini. Henry Chambert Loir dan Anthony Reid (2006) pernah mengumpulkan beragam tulisan mengenai penghormatan tempat-tempat suci, termasuk kuburan di berbagai daerah di Indonesia, seperti suku Aoheng di Kalimantan, Dayak Ngju, Laboya Sumba Barat, Bali, Toraja, Batak, Sumatera Selatan, dan tentu saja di Jawa. Semua itu, memberikan gambaran utuh kepada kita tentang beragam ekspresi kepercayaan dan agama yang tumbuh di masyarakat termasuk penghormatan kepada nenek moyang dan orang-orang suci melalui kuburannya.

Henri Chambert Loir (2006: 249-250) menghubungkan antara kultus orang suci dengan kuburan dan ritusnya. Menurutnya, kultus orang-orang suci merupakan kultus kuburan suci. Orang suci, lanjut Loir, adalah seorang individu yang karena kelahiran, bakat, melalui latihan rohani, diberkati dengan kekuatan supranatural. Kekuatan-kekuatan ini dikonsentrasikan keberadaannya dan sekarang terletak di kuburannya. Itulah sebabnya, kultus orang suci dilaksanakan di kuburannya. Orang tidak berdoa bagi orang suci di rumah, atau di tempat lain di mana ia dapat dihadirkan dengan satu jenis simbol. Orang harus mengadakan perjalanan ke kuburan, demi sungguh hadirnya orang suci itu. Selamat berziarah. (CR14)

 

Iklan

2 Tanggapan

  1. 🙏🙏

  2. […] Filed under: Kegiatan | Leave a comment » […]

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: