ALQURAN DAN PARA “PECINTA” AHOK

ALQURAN DAN PARA “PECINTA” AHOK

Oleh : Candiki Repantu

Berhati-hatilah!! Perayu ulung dan pecinta sejati itu sama-sama mengucapkan kata-kata indah penuh cinta sehingga orang terlena dibuatnya, yang membedakan adalah motivasi dan tujuannya, karena itu Imam Ali pernah mengingatkan “Kalimat yang mengandung kebenaran tetapi bisa ditujukan untuk maksud kebatilan” (CR14)

—————-

Dengan sangat terpaksa saya harus menulis ini, karena ada pesan masuk untuk saya mendukung Ahok dan ada pula yang mengajak untuk mendemo Ahok. Saya juga tak ingin berdebat dgn bung Denny Siregar, karena perbedaan pilihan di antara kami. Beliau lebih bergairah dengan pahitnya kopi sedangkan saya lebih terpesona dgn manisnya teh. Juga sudah saya katakan bahwa saya tak akan memilih Ahok seperti dirinya. Untuk mendemo Ahok saya juga tak tertarik sama sekali, apalagi sambil pakai sorban dan jubah. Kenapa? Ini sudut pandang sosial-keagamaan saya.

Ketika terjadi perang Shiffin antara Imam Ali yg menjabat sbg khalifah yang sah dengan Muawiyah yang ingin merebut kekhalifahan, mendadak Muawiyah menampilkan Alquran di tengah-tengah medan pertempuran dan menuntut diadakannya arbitrase (tahkim). Imam Ali menegaskan bahwa penggunaan Alquran hanyalah akal bulusnya Muawiyah yg sudah nyaris mengalami kekalahan, karena itu Imam Ali menghimbau utk melanjutkan perang.

Namun, sebagian kelompok yg berada di  barisan Imam Ali meminta agar perang dihentikan, dan biarlah Alquran menjadi hakim di antara kedua belah pihak. Imam Ali mengingatkan bahwa Alquran yang dibawa Muawiyah adalah kertas bisu, sedangkan dirinya Alquran yg berbicara. Dalam hal ini Imam Ali ingin menegaskan bahwa Alquran bisu itu bisa saja ditafsirkan sesuka hati, dan tidak bisa membela diri.

Singkat cerita karena desakan yang kuat dari kelompok khawarij, maka arbitrase pun dilakukan. Tapi hasilnya merugikan Imam Ali karena terjadi manipulasi. Maka kaum Khawarij pun merasa bahwa arbitrase itu tidak sesuai dgn Alquran dan mereka berbalik memusuhi Imam Ali, dengan meneriakkan yel-yel  “Laa hukma illa lillah” (tidak ada hukum selain hukum Allah)

Tidak hanya sampai disitu, mereka juga memandang bahwa orang orang yang terlibat dalam peristiwa tersebut telah menodai agama dan hukum Allah swt, shg kelompok khawarij ini pun mencap kafir semua orang yang terlibat dalam arbitrase tsb karena tidak berhukum dgn hukum Allah sebagaimana ditegaskan Alquran, “Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka dia adalah kafir”. Menyikapi hal ini Imam Ali pun berkomentar “Kalimat yang mereka katakan mengandung kebenaran tetapi ditujukan untuk maksud kebatilan“.

Imam Ali ingin mengatakan bahwa ayat itu benar tapi digunakan utk maksud yang batil. Untuk menipu umat, utk mengaburkan fakta, dan lain lain. Dalam hal ini, Imam Ali as mengajarkan kpd kita suatu prinsip penting yang belakangan banyak dibahas oleh pakar-pakar komunikasi, bahwa dalam komunikasi kita tidak hanya memperhatikan ucapan atau perbuatan seseorang, tetapi penting juga memahami maksud atau tujuan si pelaku. Jangan menilainya  dari teksnya saja, tetapi harus menilainya dari motivasi atau tujuan penyampainya.

Clifford Geertz, dalam Interpretative of Culture pernah menyampaikan bagaimana suatu perkataan atau perbuatan bisa ditafsirkan sedemikian rupa tergantung pemahaman budayanya. Jika ada seorang pria mengedipkan sebelah matanya kepada seorang wanita, apa yang anda pikirkan?  Anda berpikir orang itu sakit mata,  atau anda akan menafsirkan bahwa orang itu ingin menggoda wanita. Itulah maksud pelaku mengedipkan matanya.

Misalnya lagi, Ketika sepasang kekasih  berduaan di malam hari yang dingin, dan si wanita berbisik lembut, “Abang, dingin kali malam ini terasa”. Tentu anda akan tertawa, jika si pria itu mengeluarkan alat pengukur suhu kemudian mengatakan “Iya, adik benar! malam ini memang dingin karena suhunya di bawah 10 derajat celcius”. Sebab, anda membayangkan si pria semestinya menangkap maksud dibalik perkataan si wanita itu bahwa ia sebenarnya perlu dihangatkan, dengan memberikan jaket misalnya atau buatkan teh hangat, atau menghangatkan dgn cara lainnya. Silahkan anda imajinasikan sendiri..!

Mari kita lihat contoh yang melibatkan Alquran. Dalam Alquran ada ayat yang berbunyi “Laa taqrabu hadzihis sajarah”, “Jangan dekati pohon ini” dan Ustadz Quraish Shihab menyampaikannya dalam program Tafsir al-Misbah di Metro TV. Tentu tidak ada masalah. Tapi bayangkan jika seorang juru kampanye di atas mimbar sambil menunjuk pada lambang Partai Golkar yg kebetulan bergambar pohon, kemudian berkata Allah berfirman “Laa taqrabu hadzihis sajarah”, “Jangan dekati pohon ini”. Apakah sama maksud dan tujuan Ustadz Quraish Shihab dgn Ustadz jurkam tsb? Apakah Ustadz jurkam itu bermaksud membacakan kisah Nabi Adam as menurut Alquran? atau bermaksud agar orang tidak memilih partai Golkar dgn menggunakan ayat Alquran? Silahkan jawab sendiri, kura-kura dalam perahu, tulisan jelek jangan dicaci.

Sekarang, dalam suasana pilkada DKI ada orang membacakan ayat “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin…(Q.S. Al-Maidah: 51)”. Apa kira kira maksudnya? Apakah orang tersebut sedang mengajak anda belajar tafsir Alquran? atau sedang menyerukan jangan pilih Ahok dgn menggunakan ayat Alquran?

Sebab kalau memang orang orang yang mengaku penjaga agama itu ingin menegaskan ajaran Islam yang  melarang mengangkat non muslim sbg pemimpin, maka para pendemo yg menolak Ahok tentu juga harus membacakan ayat itu di Papua, Bali, Maluku, Nusa Tenggara, Nias, Tobasa, Simalungun, Tapanuli Utara dan lainnya di wilayah Indonesia yang pemimpinnya atau kandidatnya banyak non muslim. Demo lah di Papua dan katakan anda tak menerima Gubernur Kristen. Demo lah di Bali dan katakan kami tak menerima di pimpin Gubernur Hindu. Atau berdemolah di Nias, Tobasa, Simalungun, Tarutung, dan tempat lainnya dan katakan kami menolak dipimpin Bupati Kristen. Kami tak ingin mematuhinya. Apakah anda punya nyali?

Begitu pula, ketika saya membaca tulisan para pendemo yg menyebutnya sebagai “Aksi Bela Islam”, ini perkataan yang benar tapi apakah memang perkataan itu dimaksudkan demikian? Apakah maksudnya ingin membela Islam? Atau maksudnya ingin menggagalkan Ahok jadi Gubernur?? Entahlah, anda jawab aja sendiri ya! yg penting kura kura dalam perahu, tulisan jelek jangan di caci.

Faktanya mereka berdemo karena ada omongan Ahok yang tidak mereka sukai yg dipandang menghina Islam dan Alquran. Emangnya Ahok ngomong apa? Terpaksa deh saya mendengarkan ocehan Ahok di kepulauan seribu itu. Nih dia ocehan Ahok sbb :

Jadi gak usah pikirin nanti kalau gak kepilih pasti Ahok programnya bubar. Gak! Saya sampai oktober 2017. Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa aja di hati kecil bapak ibu gak bisa milih saya, dibohongi pake surat al-Maidah 51 dan macem macem gitu”. 

Bagaimana kita memaknai ocehan Ahok tsb? Apakah kita akan melihat teksnya saja bahwa dalam ocehannya Ahok mengatakan “dibohongi pake surat al-Maidah 51” atau kita lebih memperhatikan konteksnya, motivasinya dan tujuan Ahok mengatakan demikian?

Saya lebih memilih memahami tujuan atau motivasi Ahok dari pada teks kalimatnya. Saya yakin  Ahok mengatakan itu bukan dengan maksud menghina Alquran atau menghina Islam, tetapi Ahok bermaksud mengajak orang orang untuk tetap memilih dirinya sbg gubernur DKI dan jangan percaya dengan  orang yang membawa Al-Maidah 51 yang pada dasarnya bertujuan menjegal dirinya utk jadi Gubernur, bukan sedang mengajarkan agama atau tafsir Alquran.

Jadi maksud Ahok adalah bahwa “bapak ibu semestinya memilih saya dengan semua program yang sudah saya kerjakan dan bapak ibu rasakan, dan jangan termakan isu agama sekalipun mereka bawa-bawa Alquran”. Artinya ketika ada orang menggunakan penafsiran Alquran dgn maksud menjegal Ahok jadi Gubernur, maka Ahok pun berusaha menolak tafsir Alquran yang diarahkan untuk mengganjal dirinya.

Singkatnya, dengan memperhatikan suasana pilkada DKI, yang terjadi saat ini adalah politisasi agama. Demo yang dilakukan pada dasarnya bukanlah soal membela Islam atau membela Alquran, tapi soal mengusung dan menggusur kandidat yang ada, yaitu soal siapa yang diinginkan utk memimpin Jakarta: Ahok-Agus-atau Anis.

Sekali lagi ingat pesan Imam Ali as “Kalimat yang dikatakan mengandung kebenaran tetapi ditujukan untuk maksud kebatilan”….Prinsip yang di ajarkan Imam Ali ini penting agar kita tidak terjebak dalam permainan teks dan melupakan konteksnya.

Lantas siapa yang punya maksud kebatilan dalam hal ini?? Apakah Ahok atau para pendemo dan orang yang mengaku penjaga agama?? Entahlah, saya tak tahu, boleh jadi tulisan ini pula yg mengandung maksud kebatilan, yang penting saya ingatkan anda “Kura kura dalam perahu, tulisan jelek jangan di caci”

Salam damai Indonesia!

CR14

SABAR YA!

SABAR YA!

Seorang penjual daging datang kepada Imam Ali as. Dengan semangat dia menawarkan daging dengan kualitas super. Imam menjawabnya, “Aku tidak memiliki uang”. Si penjual berkata, “Aku akan bersabar menantinya.” Dia memberi kesempatan kepada imam untuk berhutang dan boleh membayar kapan saja. Namun Imam Ali berkata, “Aku pun akan bersabar untuk tidak memakan daging.”

Kisah singkat ini memberikan pelajaran betapa keluarga Rasulullah selalu mengalahkan keinginannya dengan kesabaran. Tidak pernah memaksa diri untuk memenuhi keinginan saat tidak mampu membelinya. Padahal beliau mampu untuk berhutang. Jadi Imam Ali as menasehati dirinya sendiri dengan menegaskan “Sabar ya wahai diri dari nikmatnya daging itu!”

Berapa banyak manusia yang dikejar-kejar karena tak mampu membayar hutang? Berapa banyak keluarga yang hancur karena pasangan yang selalu memaksa diri untuk mendapatkan sesuatu yang tak mampu dibeli? Apalagi dengan maraknya barang-barang yang serba kredit. Hanya dengan uang kecil mampu membeli barang yang mahal. Kemudian dia akan kebingungan di setiap bulannya.

Kita harus mendidik keluarga untuk belajar bersabar. Belajar untuk tidak memaksa diri memenuhi semua keinginan. Belajar untuk tidak iri kepada orang lain. Belajar untuk hidup sesuai dengan kemampuannya. Karena tanpa kesabaran, masalah akan semakin bertumpuk tanpa ada solusi. Karena itu kalau lagi jalan-jalan terutama di pusat perbelanjaan sering-seringlah mengucap dalam hati “Sabar ya, barang itu belum kita butuhkan!”.

Suatu hari ada seorang ibu yang menangis karena putranya meninggal. Imam membiarkan dia menangis karena wajar seorang ibu menangis saat ditinggal orang yang dia cintai. Namun tangisan itu semakin menjadi-jadi disertai umpatan yang buruk. Seakan dia tidak terima dengan ketentuan Allah ini.

Akhirnya imam menasehatinya dengan berkata, “Jika kamu bersabar maka anakmu tetap akan meninggal dan engkau mendapatkan pahala. Namun jika kamu gelisah dengan berbagai umpatanmu itu, anakmu tetaplah tidak bisa hidup dan kamu akan berdosa.” Jadi mana yang lebih baik sabar dan berpahala atau mengumpat dan berdosa yang hasilnya sama : anaknya tetap meninggal dunia.

Artinya, saat kita mendapat musibah lalu berteriak menyalahkan sana sini, bukan berarti musibah itu akan berubah. Teriakan dan umpatan itu tidak akan merubah apapun. Namun jika kita bersabar, itu sudah membuka pintu jalan keluar. Setelah hati mulai tenang, barulah kita mulai mencari jalan keluar karena Allah selalu bersama orang yang sabar. “Tetapi jika kamu bersabar, itu lebih baik bagimu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (An-Nisa’ 25). Karena itu jangan bosan menasehati orang-orang dengan kalimat singkat yang sakti itu: “Sabar ya!” karena Tuhan mencintai orang orang yang sabar. (CR14, liputanislam.com)