PAKAIAN KEBAYA PADA MASA KOLONIAL DAN ARUS DEKEBAYANISASI MASA KINI

Oleh : Dr.Phil. Ichwan Azhari, MS.

(Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial Unimed)

Screenshot_2018-04-22-16-23-30-579_com.opera.mini.native

Dalam rangka hari Kartini hari ini, banyak perempuan di berbagai instansi pemerintah, swasta, kampus dan sekolah, menggunakan kebaya sebagai bagian atau simbol dari Kartini itu sendiri. Tampaknya penyebaran pakaian kebaya kaum perempuan ke luar Jawa bersamaan dengan upaya pencitraan Kartini oleh Belanda pada awal abad 20. Ini memang masih harus dibuktikan lagi dengan fakta yang luas.

Peringatan hari Kartini dengan aksesoris kebayanya dilakukan pada masa Belanda, Indonesia melanjutkan tradisi itu. Dalam koran Keoetamaan Istri Medan ada dilaporkan “Memperingati R.A. Kartini” pada hari “Ahad, 21 April 1940 di Orion Bioscoop Medan” yang sangat memuji Kartini berdasar citra Belanda.

FB_IMG_1524388023274

Berdasar analisis foto koleksi patik di Roemah Sedjarah Ichwan Azhari, di Sumatera Barat tahun 1905, Roehana Koedoes tidak memakai kebaya. Ayah dari Hamka menolak perempuan Minang memakai kebaya karena tidak memakai kerudung. Perempuan Batak juga Nias di bawah asuhan misionaris Kristen Jerman tampil dengan rok panjang dan baju kurung Melayu sampai tahun 1930 an.

Screenshot_2018-04-22-16-10-04-225_com.facebook.katana

Screenshot_2018-04-22-16-09-43-149_com.facebook.katana

Screenshot_2018-04-22-16-09-17-953_com.facebook.katana

Pakaian kebaya tertua dalam koleksi patik adalah yang dipakai oleh redaktur Boroe Tapanoeli tahun 1940 yang memiliki semboyan “Mempertinggi Deradjat Kaoem Poeteri Dengan Berdasarkan Kebangsaan, Tetapi Tiada Mentjampoeri Politiek”.

Kepengurusan Boroe Tapanoeli terdiri dari lima orang redaktur yakni Doemasari Rangkoeti, Roesni Daoelay, Dorom Harahap, Marie Ontoeng Harahap dan Halim Loebis, serta empat orang tata usaha Siti Sjachban Siregar, Lelasari Rangkuti dan Intan Nasution.

Pada Foto tampak mereka mengenakan pakaian kebaya berbahan kain batik atau lurik dengan model batik Kutubaru yang dipadankan dengan kain wiron pada bagian roknya. Bahasa tubuh yang tampak dari cara duduk, melipat tangan dan kaki serta senyuman semakin menambah keanggunan mereka. Namun model dan bahasa tubuh yang mereka tunjukan sangat kental dengan nuansa Jawa. Hanya pada bagian rambut saja, mereka menggunakan sanggul khas Mandailing yang disebut Siporhot Bujing Majeges. Kombinasi model yang dikenakan para perempuan dan redaktur Boroe Tapanoeli ini cukup unik, meskipun nuansa Jawa lebih kental.

Screenshot_2018-04-22-16-08-40-684_com.facebook.katana

Setelah kemerdekaan, Indonesia menetapkan kebaya sebagai pakaian nasional dan mudah diterima kaum perempuan di seluruh Indonesia karena fondasinya sudah disebarkan Belanda dengan cukup baik. Kaum perempuan Kristen khususnya di gereja dengan cepat dan kukuh beralih memakai kebaya dengan rambut disanggul mirip citra Kartini. Dalam foto-foto jemaat gereja HKBP setelah kemerdekaan makin merata penggunaan kebaya saat ke gereja, menggantikan baju kurung Melayu yang diperkenalkan misionaris Jerman di awal abad 20.

Tetapi dalam dua puluh tahun belakangan ini terjadi perubahan dikalangan perempuan Islam terhadap kebaya, karena mirip kritik ayah dari Hamka seratus tahun yang lalu, kelemahan kebaya tidak menutup kepala. Lalu terjadilah modifikasi pertama, kebaya memakai tudung. Modifikasi berikutnya kebaya pakai jilbab dan unsur ketat yang menampakkan lekuk tubuh perempuan pada kebaya yang tidak dibenarkan Islam mulai dilonggarkan serta kain bawah mulai dipanjangkan dan inilah yang dominan hari ini.

Modifikasi berikutnya seperti hari ini, mulai tampak dikalangan Muslim, kebaya model Kartini sudah ditinggalkan banyak perempuan Muslim di Indonesia. Inilah yang dinamakan dekebayanisasi. Tetapi kebaya ini masih tetap bertahan pada komunitas perempuan Kristen. Saat patik berada di salah satu instansi pemerintah bergengsi di Medan, patik lihat dalam peringatan hari Kartini ini pemakaian tiga model pakaian. Kebaya asli digunakan oleh pegawai perempuan beragama Kristen, sementara pegawai perempuan Muslim terbagi dua, memakai kebaya dengan kerudung atau jilbab dan pakaian Muslim utuh tanpa ada unsur kebayanya.

Di kantor itulah patik siang tadi merenung, di sela-sela peringatan hari Kartini telah berlangsung dekonstruksi kebaya yang diusung sejak zaman kolonial. (ATN)

Iklan

MITOS KARTINI DAN LENYAPNYA SEJARAH JURNALIS PEREMPUAN

Oleh : Dr.Phil. Ichwan Azhari, MS

(Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial Unimed)

FB_IMG_1524201854993

Salah satu mitos Kartini adalah dia penulis yang hebat dan menerbitkan buku Habis Gelap Terbitlah Terang dan seakan menginspirasi gerakan kaum perempuan. Tahayul ini begitu kuat menyelusup lewat pelajaran di sekolah-sekolah. Padahal Kartini tidak pernah menulis buku dalam hidupnya, dia hanya menulis surat-surat pribadi yang hanya dibaca oleh orang yang ditujunya. Jauh setelah dia meninggal barulah surat surat itu diterbitkan di Belanda tahun 1911 dengan judul Door Duisternis tot Licht: Gedachten Over en Voor Het Javaansche Volk van Raden Ajeng Kartini. Buku itupun dterbitkan untuk kepentingan politik etis kolonial dan edisi Bahasa Melayunya diterbitkan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang tahun 1922.

Jadi Kartini hanya menulis surat-surat pribadi untuk orang yang terbatas dan bukan untuk publik. Sementara itu dibeberapa kota di Sumatera cukup bukti adanya perempuan yang menulis di surat kabar dan dibaca luas kaum perempuan, sezaman dengan beredarnya surat-surat Kartini yang dibukukan. Di Sumatera, kaum perempuan menulis dan menyebarkannya. Dalam pentas rutin peringatan Hari Kartini, para perempuan hebat yang menggugah zamannya itu seakan terkubur dalam timbunan abu sejarah.

Di Sumatera Utara sejak tahun 1919 telah terbit surat kabar dan majalah khusus perempuan yang memperlihatkan telah tampilnya kelompok perempuan moderen, terdidik (walau setingkat SMP dan SMA sekarang) dan mampu mengekspresikan diri dan kaumnya melalui media massa khusus.

Menurut identifikasi di Museum Sejarah Pers Medan ada 8 koran perempuan di Sumut : Perempuan Bergerak (Medan, 1919-1920 ), Parsaoelian Ni Soripada (Tarutung , 1927) Soeara Iboe (Sibolga, 1932) Beta (Tarutung, 1933), Keoetamaan Istri (Medan, 1937-1941), Menara Poetri (Medan, 1938), Boroe Tapanoeli (Padang Sidempuan, 1940) Dunia Wanita (Medan, 1949-1980-an).

Penggunaan nama Perempuan Bergerak dengan semboyan “untuk menyokong pergerakan perempoean” merupakan koran yang dianggap radikal pada zamannya (1919) dengan keberanian yang tidak ditemukan di pulau Jawa. Saat ini dalam sejarah pers Sumatera Utara, para perempuan dan wartawati yang “lebih terdidik” (kebanyakan sarjana) tidak memiliki media sendiri. Spirit perempuan berusia belasan tahun yang menerbitkan koran itu (1919-1949) sayangnya kini tidak muncul lagi di kalangan kaum perempuan terdidik lulusan perguruan tinggi yang luar biasa banyaknya. Dimana ada kini koran perempuan? Perempuan jurnalis kini punya problematika sendiri dalam tekanan zamannya (globalisasi dan kapitalisme) sehingga terkesan tidak selugas dan sehebat mereka ini dulu.

Betapa hebatpun ide-ide dan pemberontakan Kartini melawan kungkungan tradisi Jawa di Jepara dalam surat-suratnya, itu merupakan ekspresi renungan yang dituangkan dalam surat pribadi yang pada saat dia hidup surat-surat itu tidak dibaca oleh kaumnya.

Berpuluh tahun, lagi-lagi dunia pendidikan kita mengkostruksi Kartini secara keliru. Para guru sejarah di sekolah-sekolah perlu memberikan pengetahuan yang benar kepada anak didik, bahwa Kartini menulis surat-surat yang kemudian dibukukan. Dalam pembelajaran sejarah yang saintifik, para siswa bisa ditugaskan mencari sumber sumber lain (yang kini mulai mudah didapat lewat internet) agar siswa mampu memahami dan menganalisis, di samping surat surat Kartini ada ratusan karya tulis kaum perempuan lainnya. Ini akan memperkaya rasa kagum mereka pada bangsa, pada intelektualitas kaum perempuan pada awal abad 20. Dalam periode itu Indonesia tidak hanya memiliki Kartini, tetapi ada banyak perempuan-perempuan lain yang lebih hebat atau sejajar dengan Kartini mulai dari Sulawesi Utara, Jawa Barat, Sumatera Barat, Sumatera Utara, bahkan Aceh.

*Sumber : FB Ichwan Azhari. Dalam versi yang lain narasi teks ini pernah dimuat di Sudut Tempoe Doeloe Harian Waspada Medan Edisi 20 April 2015.

MUNAJAT PARA PENSYUKUR NIKMAT

Oleh : Imam Ali Zainal Abidin as

IMG_20180415_065315

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ

إِلَهِي أَذْهَلَنِي عَنْ إِقاَمَةِ شُكْرِكَ تَتَابُعُ طَوْلِكَ، وَأَعْجَزَنِي عَنْ إِحْصَاءِ ثَنَائِكَفَيْضُ فَضْلِكَ، وَشَغَلَنِي عَنْ ذِكْرِ مَحَامِدِكَ تَرَادُفُ عَوَائِدِكَ، وَأَعْيَانِي عَنْ نَشْرِ عَوَارِفِكَ، تَوَالِي أَياَدِيكَ

Bismillâhirrohmânirrohîm

Allâhummashol li ‘alâ muhammadin wa âli Muhammad

ilâhî adz-halanî ‘an iqômati syukrika tatâ bu’u thoulika, wa-a’jazanî ‘an-ih-shôi tsa nâ-ika faidhu fadhlika wasyagholanî ‘an dzikrika mahâmidika tarôdufu ‘awâ-idika, wa a’yânî ‘an-nasyri ‘awârifika tawâlî ayâdika

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang.
Ya Allah, limpahkanlah sholawat atas Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad.

Tuhanku, runtunan karunia-Mu telah melengahkan daku untuk benar-benar bersyukur pada-Mu.

Limpahan anugerah-Mu, telah melemahkan daku untuk menghitung pujian atas-Mu.

Iringan ganjaran-Mu, telah menyibukkan daku untuk menyebut kemulia an-Mu.

Rangkaian bantuan-Mu, telah melalai kan daku untuk memperbanyak pujaan pada-Mu.

وَهَذاَ مَقَامُ مَنِ اعْتَرَفَ بِسُبُوْغِ النَّعْمَاءِ وَقابَلَهَا بِالتَّقْصِيْرِ، وَشَهِدَ عَلَى نَفْسِهِ بِاْلإِهْمَالِ وَالتَّضْيِيْعِ وَأَنْتَ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ الْبَرُّ الْكَرِيْمُ اَلَّذِي لاَ يُخَيِّبُ قَاصِدِيْهِ، وَلاَيَطْرُدُ عَنْ فِنَائِهِ آمِلِيْهِ، بِسَاحَتِكَ تَحُطُّ رِحَالُ الرَّاجِيْنَ، وَبِعَرْصَتِكَ تَقِفُ آمَالُ الْمُسْتَرْفِدِيْنَ، فَلاَتُقَابِلُ آماَلَنَا بِالتَّخْيِيْبِ وَاْلإِيْئَاسِ،وَلاَتَلْبِسْنَا سِرْبَالَ القُنُوْطِ وَاْلإِبْلاَسِ،

wahâdzâ maqômu mani’tarofa bisubûghin na’mâ i waqôbalahâ bittaqshîri, wasyahida ‘alâ nafsihi bil ihmâli wattadhyî’ wa antar roûfur rohîmul barrul karîmul ladzî lâ yukhoyyibu qôshidîhi, walâ yathrudu ‘an finâ-ihî âmilîhi bisâhatika tahuth-thu rihâlur rôjîn, wabi’arshotika taqifu âmâlul mustarfidîna falâ tuqôbilu âmâlana bit takhyîbi wal îâsi walâ talbisnâ sirbâlal qunûthi wal iblâsi

Inilah tempat orang yang mengakui limpahan nikmat tetapi membalasnya tanpa terimakasih.

Yang menyaksikan kelalaian dan kealpaan dirinya, padahal Engkau Mahakasih dan Mahasayang. Mahabaik dan Mahapemurah.

Yang takkan mengecewakan pencari-Nya, yang takkan menolakkan dari sisi-Nya pedamba-Nya.

Di halaman-Mu singgah kafilah pengharap, di serambi-Mu berhenti dambaan para pencari karunia.

Janganlah membalas harapan kami dengan kekecewaan dan keputus asaan,

janganlah menutup kami dengan jubah keprihatinan dan keraguan.

إِلَهِي تَصَاغَرَ عِنْدَ تَعَاظُمِ آلاَئِكَ شُكْرِي وَتَضَائَلَ فِي جَنْبِ إِكْرَامِكَ إِيَّايَ ثَنَائِيْ وَنَشْرِيْ، جَلَّلَتْنِيْ نِعَمُكَ مِنْ أَنْوَارِ اْلإِيْمَانِ حُلَلاً، وَضَرَبَتْ عَلَيَّ لَطَائِفُ بِرِّكَ مِنَ الْعِزِّكِلَلاً، وَقلَّدَتْنِيْ مِنَنُكَ قَلاَئِدَ لاَتُحَلُّ، وَطَوَّقْتَنِيْ أَطْوَاقًا لاَتُفَلُّ فَآلاَؤُكَ جَمَّةٌ ضَعُفَ لِسَانِيْ عَنْ إِحْصَائِهَا،وَنَعْمَاؤُكَ كَثِيْرَةٌ قَصُرَ فَهْمِيْ عَنْ إِدْرَاكِهَا، فَضْلاً عَنِ اسْتِقْصَائِهَا فَكَيْفَ لِي بِتَحْصِيْلِ الشُّكْرِ، وَشُكْرِي إِيَّاكَ يَفْتَقِرُ إِلَى شُكْرٍ، فَكُلَّمَا قُلْتُ لَكَ الْحَمْدُ وَجَبَ عَلَيَّ لِذَلِكَ أَنْ أَقُولَ لَكَ الْحَمْدُ،

ilâhî tashôghoro ‘inda ta’âzhumi âlâ ika syukrî wata-dhôala fî jambî ikrômika iyyâya tsanâ i wanasyrî jallâlatnî ni’amuka min anwâril îmâni hulalâ, wadhorobat ‘alayya lathô-ifu birrika minal ‘izzi kilalâ waqolladatnî minanuka qolâ-ida lâ tuhallu, wathow-waqtanî athwâqon lâ tufallu fa âlâ-uka jammatun dho’ufa lisânî ‘an ihshô-ihâ wana’mâ-uka katsîrotun qoshuro fahmî ‘an idrôkihâ, fadhlan ‘anistiq-shô-ihâ fakaifa lî bitah-shîlisy syukri, wasyukrî iyyaka yaftaqiru ilâ syukrin, fakullamâ qultu lakal hamdu wajaba ‘alayya lidzâlika an aqûla lakal hamdu

Ilahi, besarnya nikmat-Mu mengecilkan, rasa syukurku memudar di samping limpahan anugrah-Mu puji dan sanjungku.

Karunia-Mu yang berupa cahaya iman menutupku dengan pakaian kebesaran.

Curahan anugrah-Mu, membungkusku dengan busana kemuliaan.

Pemberian-Mu merangkaikan padaku kalung nan tak terpecahkan, dan melingkari leherku dengan untaian yang tak teruraikan.

AnugrahMu tak terhingga sehingga kelu lidahku menyebutkannya.

Karunia-Mu tak berbilang sehingga lumpuh akalku memahaminya, apalah lagi menentukan luasnya

Bagaimana mungkin daku berhasil mensyukuri-Mu karena rasa syukurku pada-Mu memerlukan syukur lagi.

Setiap kali daku dapat mengucapkan bagi-Mu pujian, saat itu juga daku terdorong mengucapkan bagi-Mu pujian.

إِلَهِيْ فَكَمَا غَذَّيْتَنَا بِلُطْفِكَ وَرَبَّيْتَنَا بِصُنْعِكَ فَتَمِّمْ عَلَيْنَا سَوَابِغَ النِّعَمِ، وَادْفَعْ عَنَّا مَكَارِهَ النِّقَمِ، وَآتِنَا مِنْ حُظُوْظِ الدَّارَيْنِ أَرْفَعَهَا، وَأَجَلَّهَا عَاجِلاًّ وَآجِلاًّ، وَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى حُسْنِ بَلاَئِكَ، وَسُبُوْغِ نَعْمَائِكَ، حَمْدًا يُوَافِقُ رِضَاكَ،وَيَمْتَرِيْ الْعَظِيْمَ مِنْ بِرِّكَ وَنَدَاكَ، يَاعَظِيْمُ يَاكَرِيْمُ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

lilâhî fakamâ ghoddaytanâ biluthfika warob baytana bishun’ika fatammim ‘alainâ sawâ bighon ni’am wadfa’ ‘annâ makârihan-niqom, wa âtinâ min huzhûzhid dâroini arfa’ahâ, wa ajjalahâ ‘âjilan wa âjilâ walakal hamdu ‘alâ husni balâ-ika, wasubûghi na’mâika hamdan yuwâfiqu ridhôka wayamtaril ‘azhîma mim-bir rika wanadâka, yâ ‘azhîm, yâ karîm, birohmatika yâ arhamar rôhimîn.

Ilahi, sebagaimana Engkau makmurkan kami dengan karunia-Mu dan memelihara kami dengan pemberian-Mu, sempurnakan bagi kami limpahan nikmat-Mu.

Tolakkan dari kami kejelekan azab-Mu, berikan bagi kami di dunia dan akhirat, yang paling tinggi dan paling mulia lambat atau segera.

Bagi-Mu pujian atas keindahan ujian-Mu dan limpahan kenikmatan-Mu,
(Bagi-Mu) pujian yang selaras dengan ridho-Mu yang sepadan dengan kebesaran kebajikan-Mu.

Wahai Yang Maha Agung.
Wahai Yang Maha Pemurah.
Dengan rahmat-Mu,
Wahai Yang Paling Pengasih dari segala yang mengasihi,
Ya, Arhamar Rôhimîn.

*Sumber : Kitab Shahifah Sajjadiyah

KECUPAN TERAKHIR

Oleh : Candiki Repantu

Screenshot_2018-04-05-20-38-31-019_com.android.chrome

Angin gurun Karbala mendesir, menghasilkan simfoni duka nestapa di hati keluarga Nabi yang mulia. Al-Husain yang kini berada di puncak penderitaannya memanggil para wanita anggota keluarganya yang setia mengiringinya.

Kemari lah wahai Zainab, Ummu Kulsum, Sukainah, Atikah, Ruqayyah, Shafiyatu, dan isteri-isteriku tercinta. Salam dariku sebagai abang, ayah, paman, dan suami bagi kamu sekalian. Inilah pertemuan terakhir kita. Inilah detik-detik kebersamaan kita. Puncak tangisan dan derita akan segera tiba. Bersiaplah untuk memasukinya.

Al-Husain as berpamitan dengan mereka sembari menyeka air mata yang merembes di pipinya.

Ketika Al-Husain as ingin menaiki kudanya, seketika Sukainah menjerit dan meronta-ronta dalam tangis panjang duka nestapa. Al-Husain kembali menghampirinya, memeluknya dengan lembut, mengecup mata putrinya dengan penuh kasih sayangnya. Sukainah bertanya, “Mau kemana wahai ayah? Apakah engkau akan kembali kemari? Siapa yang akan menjaga kami jika engkau pergi?” Tangis keluarga Nabi semakin menjadi-jadi.

Al-Husain as hanya menjawab dengan syairnya :

Seruling duka akan ditiup
Semerbak wewangian surga akan kuhirup
Genderang perang segera ditabuh
Perahu cinta akan segera berlabuh
Pesta kepala putra Ahmad dimulai
Sebab dengan syahadah surga kan dicapai

Jalan terjal dan jauh di depanmu
Jangan sesali diri atau membisu
Jangan menangis sebelum aku mati
Andai aku mati, engkau selalu di hati

Sukainah menatap ayahnya dengan mata syahdunya, ia meminta ayahnya mengusap kepalanya. Al-Husain berkata, “Engkau bukan anak yatim yang harus diusap kepalanya!”. “Tapi ayah, aku yakin engkau tak akan kembali lagi untuk mengusap kepala ini, karena itu aku minta diusap kepalaku saat engkau ingin pergi sebagaimana engkau mengusap kepala putra pamanku Muslim ketika mendengar kesyahidannya”, jawab Sukainah dengan suara paraunya. Al-Husain tak mampu menahan tangisnya, ia usap kepala Puteri kecilnya dengan lembut sepenuh jiwa.

Kini Al-Husain bersiap siaga menuju Medan laga. Mendadak panggilan Zainab menghentikan langkahnya, “Wahai kakakku, ada pesan yang ingin kusampaikan padamu, ini pesan dari ibu kita Fatimah, yang dititipkan kepadaku sebelum wafatnya”.

Mendengar nama Fatimah as ibunya disebut, air mata Al-Husain as kian mengucur deras, terbayang setiap penderitaan demi penderitaan yang dilalui ibunya, terutama setelah ditinggal wafat kakeknya tercinta. Al-Husain as mendekati Zainab as, “Apa pesan ibu kita, wahai adikku Zainab? Katakan segera agar aku dapat menunaikannya”.

Zainab tak segera menjawab, ia pandangi wajah abangnya dengan tatapan nanar penuh makna, kemudian berkata, “Aku ingin engkau membuka leher dan dadamu”, kata Sayidah Zainab as. “Sebab, suatu hari ibu kita Fatimah, memanggilku lalu menceritakan penderitaan dan syahidmu di Karabala. Kemudian ibu kita Fatimah menitipkan kepadaku ciuman untuk di leher dan dadamu, yang akan dipotong pedang dan ditancap tombak. Ibu kita berkata, ‘Wahai Zainab putriku, nanti kelak ketika engkau bersama abangmu Husain di Padang Karbala, sebelum ia pergi menjemput kematiannya, aku ingin engkau menyampaikan ciuman dariku di leher dan dadanya”, lanjut Zainab.

Al-Husain as dan semua keluarga Nabi yang mulia tak mampu lagi membendung air mata mereka. Suara tangisan bergemuruh menggema di sahara Nainawa, di antara gelak tawa dan tatapan para durjana yang ingin menerkam mangsa.

Dengan perlahan Al-Husain as membuka baju di bagian leher dan dadanya, mempersilahkan Zainab menyampaikan kecupan sayang dari ibunya, dan Zainab pun mengecup leher dan dada Husain seperti ibunya mengecupnya dengan penuh cinta berbalut kesedihan jiwa. Inilah kecupan terakhir Bunda Zahra as yang disampaikan dengan sempurna oleh putri penanggung duka Asyura, Srikandi Nainawa, Dewi Padang Karbala, dialah Zainab al-Kubra.

Inilah Zainab, yang namanya disusun dari dua kata “Zain” yang berarti hiasan indah, dan “Ab” yang berarti ayah. Inilah zainab yang menjadi hiasan keindahan bagi ayahnya.

Inilah Zainab, yang lahirnya ditangisi karena Rasul saw teringat akan duka nestapa yang ditanggungnya.

Inilah Zainab yang menyaksikan dan menghantarkan semua jenazah ahlul kisa’ ke peraduan mereka dari Rasulullah Saw di Madinah hingga Husain as di Karbala.

Inilah Zainab yang dipanggil Aqilah Bani hasyim yang disebut Imam Sajjad sebagai ‘Alimah ghairu muallimah, pemilik akal Bani Hasyim, seorang yang berilmu tanpa diajari.

Inilah Zainab, yang lisannya membungkam si terlaknat Ibnu Ziyad, ketika menghina kesyahidan Al-Husain dengan mengatakan “Aku tidak melihat apapun kecuali keindahan.”

Namun, Inilah Zainab yang dengan sepenuh iman, ketika melihat tubuh Al-Husain tercabik-cabik di tempat pembantaian, dengan rendah hati ia berkata kepada Tuhan,
Allahumma taqabbal minna hadza al-qurban,” Ya Allah! Terimalah dari kami pengorbanan ini.

Inilah Zainab, pembawa kecupan terakhir Bunda Zahra, dan penyambung lidah Karbala hingga sampai kepada kita semua dengan darah dan air mata.

Salam atasmu wahai putri Rasulullah
Salam atasmu wahai putri Fatimah dan Khadijah
Salam atasmu wahai putri Amirul mukminin
Salam atasmu wahai saudari Hasan dan Husain
Salam atasmu wahai putri wali Allah
Salam atasmu wahai saudari wali Allah
Salam atasmu wahai bibi kekasih-kekasih Allah
Assalamu alaiki warahmatullahi wa barakatuh. (CR14)

15 Rajab, Mengenang wafatnya Sayidah Zainab as.

🙏🌷