WASIAT DI PENGHUJUNG MALAM


Oleh : Candiki Repantu

IMG-20200513-WA0010

Malam ke-21 ramadhan, tahun 40 Hijrah. Di sebuah rumah sederhana, berkumpullah manusia menanti dengan hati merana, kesedihan menghujam jiwa, kedukaan tampak jelas di raut-raut wajah para yatim dan janda-janda tua, air mata mengalir diiringi tangisan yang menggema. Sungguh tak terbayangkan, sang jawara perang itu kini terbaring lemah, wajah dan kulitnya memucat kuning akibat racun yang menebar di seluruh jasadnya, di atas ubun-ubunnya ada luka panjang merah kehitaman menganga, membelah tengkorak kepalanya, ditutupi dengan perban seadanya. Telah berlalu dua hari ketika kepala suci Imam Ali di tebas pada 19 ramadhan dini hari.

Melihat keadaan ayahnya yang sedemikian rupa, Ummi Kultsum mengutuk Ibnu Muljam dan menyampaikan harapan untuk kesembuhan ayahnya. Ibnu Muljam menjawabnya, “Tidak ada harapan selamat bagi ayahmu, karena aku membeli pedang itu dengan harga 1000 dinar, dan membayar 1000 dinar lagi agar diolesi dengan racun yang mematikan. Racun yang ganas yang kalau saja seluruh penduduk Kufah ditebas dengan pedang itu, semua akan mati karenanya.”

Seorang thabib bernama Assad bin Amir as-Sukuni di datangkan untuk melihat kondisi Imam Ali as. Ia memeriksa keadaan Imam dengan seksama, dan dengan kesedihan menghujam jiwa ia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, aku tidak mampu berbuat apa-apa lagi untukmu, karena racun telah merasuk ke setiap bagian tubuhmu, hendaklah engkau menyampaikan wasiat terakhirmu”.

Maka Imam pun mulai berwasiat :

Wahai putra-putri Abdul Muthalib, setelah kematianku janganlah kalian pergi ke tengah-tengah masyarakat dan mengatakan peristiwa yang menimpa kepadaku seraya menuduh orang-orang membunuhku. Tidak, pembunuhku hanya satu orang. Dialah Ibnu Muljam.”

“Berilah dia makanan dan minuman, perlakukanlah dia dengan baik sebagai tawanan; jika aku hidup, akulah wali atas darahku, terserah padaku, apakah akan memaafkannya atau membalas perbuatanya. Namun, jika aku mati dan kamu membunuhnya sebagai hukuman, maka janganlah kamu memotog-motong tubuhnya.”

“Wahai Hasan putraku, orang ini menyerangku dengan satu tebasan pedang. Jika aku wafat, terserah padamu, apakah memaafkannya atau menghukumnya. Apabila engkau menghukumnya, maka pukullah ia dengan satu tebasan pedang pula, jangan lebih, baik tebasan itu mematikan dirinya ataupun tidak.”

Kemudian dia mengarahkan pandangan kepada para sahabatnya sembari Imam as berkata :

Demi Allah! Kematian dan kesyahidan di jalan Allah ini adalah suatu yang sudah lama aku dambakan sepanjang hidupku. Dan kini aku menjemputnya ketika dalam ibadah kepada Allah SWT. Ini sungguh kebaikan dan kebahagiaan. Aku laksana seorang pecinta yang telah menemukan kekasihnya, atau bagaikan orang yang mencari benda berharga yang hilang, kemudian bergembira karena menemukannya.”

Setelah itu Imam Ali mengalami pingsan beberapa kali hingga akhirnya beliau menembuskan nafas terakhirnya, di penghujung malam, 21 ramadhan. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Sho’shoah bin Sauhan ketika selesai penguburan jenazah sang Imam, dengan terluka jiwanya, tertekan batinnya, kesedihan meliputi hatinya, beliau berkata :

Wahai Amirul Mukminin. Alangkah bahagianya engkau hidup dan alangkah bahagianya engkau mati. Kelahiranmu di rumah Allah (Ka’bah) dan syahidmu pun di rumah Allah (Mesjid Kufah).”

“Wahai Ali belahan jiwaku! Betapa besar dan agungnya dirimu dan betapa kecil dan hinanya rakyatmu. Demi Allah, jika mereka benar-benar melaksanakan apa yang engkau perintahkan dan mematuhimu dengan sungguh-sungguh, niscaya mereka akan dilimpahi kenikmatan dari atas dan bawah kaki mereka. Namun sungguh sayang, mereka tidak mengenal siapa dirimu sebenarnya.”

“Mereka sama sekali tidak menghargai keberadaanmu. Jangankan mentaati dan mematuhimu, mereka justru menumpahkan darahmu. Dan akhirnya, kini mereka mengirim jasadmu ke liang kubur dalam keadaan kepala sucimu terbelah oleh pedang kejahilan dan kebencian.”

أَلسَّلامُ عَلَيْكَ ياأَمِيْنَ الله فِي أَرْضِهِ،
وَحُجَّتَهُ عَلى عِبادِهِ،
أَلسَّلامُ عَلَيْكَ ياأَمِيْرَ الْمُؤْمِنِيْنَ،
أَشْهَدُ أَنَّكَ جَاهَدْتَ فِي الله حَقَّ جِهَادِهِ،
وَعَمِلْتَ بِكِتَبِهِ،
وَاتَّبَعْتَ سُنَنَ نَبِيِّهِ،
حَتَّى دَعَاكَ اللهُ إِلَى جِوَارِهِ،
فَقَبَضَكَ إِلَيْهِ بِاخْتِيَارِهِ،
وَأَلْزَمَ أَعْدَائَكَ الْحُجَّةَ
مَعَ مَا لَكَ مِنَ الْحُجَجِ الْبَالِغَةِ،
عَلى جَمِيْعِ خَلْقِهِ

Penghujung malam,
21 ramadhan. (CR14)

%d blogger menyukai ini: