MENYAMBUT KEMATIAN


Oleh : Candiki Repantu

IMG-20200513-WA0019

Murtadha Muthhahari berkata, “Salah satu tanda kesempurnaan manusia terlihat dari sikap dan sambutanya terhadap kematian…orang-orang besar (yang memiliki kesempurnaan) adalah mereka yang bukan hanya tidak takut pada kematian, bahkan menyambutnya dengan senang hati dan senyum penuh kerelaan. Jika maut menjemput pada saat ia melaksanakan tanggung jawabnya, baginya itu adalah suatu keberuntungan dan kebahagiaan”.

Di antara manusia sempurna yang dikenal Islam adalah Ali bin Abi Thalib as. Mari kita lihat bagaimana Sang Imam menyambut kematiannya. Simaklah dua peristiwa berikut ini.

Peristiwa pertama, adalah malam ketika Nabi saw berhijrah, beliau bersabda: “Wahai Ali!, Kaum musyrikin hendak membunuhku pada malam ini, apakah engkau bersedia tidur di pembaringanku sehingga aku akan pergi ke gua Tsur?” Imam Ali as berkata: “Jika aku lakukan hal itu, apakah Anda akan selamat wahai Rasululullah?” Nabi saw bersabda: “Iya.” Ali pun tersenyum dan sujud syukur, ketika bangun dari sujudnya, Ali as berkata: “Lakukanlah apa yang seharusnya engkau lakukan wahai Rasulullah! Sesungguhnya mata, telinga dan jiwaku kukorbankan untukmu. Apapun yang engkau perintahkan, akan aku lakukan, aku akan menolongmu, aku akan melakukan sebagaimana apa-apa yang engkau lakukan, keberhasilanku hanya karena pertolongan Allah swt.”  Kemudian Nabi Muhammad saw memeluk Ali as dan keduanya pun menangis kemudian berpisah.

Lalu Imam Ali as dengan berbajukan jubah Nabi dan berselimutkan selimut Nabi saw beliau berbaring di pembaringan Rasulullah saw dengan resiko dibunuh dan dibantai oleh kaum kafir Quraisy yang mengepung rumah Nabi saw di malam tersebut.

Peristiwa kedua, ketika Rasulullah Saw menyampaikan khutbah menyambut bulan  Ramadhan, Imam Ali as bertanya, “Wahai Rasulullah Saw, apa perbuatan terbaik di bulan ini ?”. Rasulullah saw menjawab. “Bertakwa kepada Allah dan bersikap wara”.

Kemudian Rasul Saw memandang wajah Imam Ali as dan mendadak beliau menangis hingga air mata tertumpah membasahi wajahnya yang mulia.  Ketika ditanya mengapa beliau menangis, Rasulullah saw bersabda, “Wahai Ali! aku menangis karena kezaliman yang akan menimpa dirimu pada bulan ramadhan. Seolah aku menyaksikan engkau sedang menunaikan shalat, seorang manusia terlaknat di dunia dan di akhirat, menebaskan pedangnya mengenai kepalamu hingga wajah dan janggutmu bersimbah darah serta mihrabmu memerah darah.”

Mendengar kabar itu, Imam Ali as bertanya, “Apakah itu dalam keselamatan agamaku?” Rasulullah Saw bersabda, “Ya, itu dalam keselamatan agamamu.” Maka Imam Ali as menyambut kabar dibunuhnya dirinya di bulan ramadhan dengan penuh kerinduan. Dalam salah satu potongan khutbahnya Imam Ali as berkata : “Demi Allah, putra Abu Thalib lebih akrab dengan kematian daripada seorang bayi dengan dada ibunya.” (Nahjul Balaghah, khutbah ke-5). Dan dalam ucapan lainnya beliau menegaskan, : “Tidak ada keraguan, sesungguhnya yang paling aku cintai adalah kematian” (Nahjul Balagah, khutbah : 179). Atau dalam ungkapan lain beliau berkata, “Demi Allah, Bagi Putra Abu Thalib, tidak ada bedanya, apakah dia menjemput kematian, atau kematian menjemput dirinya“. (Al-Amali Syaikh Shaduq, hadis no. 8, hal. 97).

Begitulah sikap menyambut kematian dari sang putra Ka’bah. Malam ke-19 ramadhan tahun 40 Hijrah, ketika berada di mihrab Mesjid Kufah, di waktu subuh yang indah, saat sujud mendekatkan dirinya kepada Allah, Abdurrahman bin Muljam alaihil laknah, menebaskan pedang beracun ke kepalanya yang penuh berkah, kepala itupun terbelah, tubuhnya jatuh rebah, wajahnya bersimbah darah, janggutnya memerah, tangisan menggema dari berbagai arah, ia justru berucap bahagia, “fuztu wa rabbil ka’bah“, Demi Tuhan Ka’bah, sunggguh aku telah memperoleh kemenangan. (CR14)

%d blogger menyukai ini: