KISAH PERANG KARBALA DALAM SASTRA MEDAN


H. Abu Bakar Ja’qub : Ulama Besar Medan, Penulis Pertama di Indonesia tentang Kisah Syahidnya Imam Husain di Karbala dalam Bentuk Syair

Oleh : Candiki Repantu
IMG_20190830_172942

Terdjadilah pertempuran hebat-hebatan,
Husin menghadapi musuh ribuan,
Musuh jang hampir, pedangnja dihantjurkan,
Puluhan jatuh mati bergelimpangan,

Bukan pedangnja sadja, sendjatanja berperang,
Kudanja djuga turut berdjuang,
Menggigit musuh, mana jang datang,
Kakinja turut menjepak menerdjang,

Kuda tersebut, Maimun namanja,
Kepada tuannja, sangatlah setianja,
Berperang turut melawan musuhnya,
Menjebabkan musuh ketakutan semuanya,

Setelah Husin merasa lelah,
Melabrak musuh, banjak jang rebah,
Banjak jang mati, pun luka parah,
Achirnja Husin pulang kechaimah,

Di antara ulama besar Sumut yang banyak menulis dan meninggalkan karya adalah H. Abu Bakar Ja’qub. Salah satu karya peninggalan beliau yang masih utuh adalah buku berjudul “SJA’IR GUGURNJA HUSAIN DI KARBALA” yang sebagian bait-bait syair di buku tersebut saya kutipkan di atas.

Sejauh yang saya tahu, buku “SJA’IR GUGURNJA HUSAIN DI KARBALA” adalah buku pertama (atau bahkan satu-satunya) di Indonesia yang khusus menuliskan sejarah syahidnya Imam Husain as di Karbala dalam bentuk syair. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit & Percetakan SAIFUL, Medan pada tahun 1960 dan di cetak 6000 eksamplar. Luar biasa, anda bayangkan di tahun 1960 ada buku sejarah dalam bentuk syair dicetak sebanyak 6000 eksamplar. Kalau saat ini, jumlah sebanyak itu sudah menjadi best seller. Dari penulisan buku ini, H. Abu Bakar Ja’qub mendapat honor sebesar Rp. 1000,-. Hal itu dinyatakan langsung oleh beliau dalam catatannya di buku tersebut.

IMG_20190830_173021

Kisah sejarah dengan balutan sastra ini merupakan salah satu yang unik dan khas dari genre tulisan H. Abu Bakar Ja’qub. Sebab ulama dan sejarawan Sumut ini selalu menuliskan buku-buku sejarah dalam bentuk syair-syair. Bukan hanya buku tentang gugurnya Husain di Karbala, beliau juga menulis buku-buku sejarah dalam bentuk syair, ada syair kisah para Khulafa al-Rasyidin, Syair Kisah Ratu Balqis, Syair kisah Yusuf dan Zulaikha, Syair Kisah Masithah,  dan Syair Kisah Thalut dan Jalut. Saya rasa, informasi ini penting karena menunjukkan tingginya pertumbuhan dan perkembangan peminat sastra Islam di Sumut di samping peminat sejarah pada masa itu.

Menariknya, menulis dan memperingati kisah Karbala sering kali di asumsikan sebagai tradisi Syiah. Namun, melalui karya Ulama besar Sumut ini, terbukti bahwa kisah Karbala bukan hanya milik kaum Syiah. Dan dengan jumlah cetakan mencapai 6000 eksamplar itu di tahun 1960 menunjukkan penerimaan dan telah menyebarnya kisah tersebut di tengah masyarakat. Perhatikan, di awal bukunya beliau memulai bait pertama syairnya dengan menegaskan bahwa peristiwa Karbala telah masyhur dan selalu diperingati :

Marilah dimulai menkissahkan tjerita,
Kissah sedjarah peperangan di Karbala,
Dikalangan Islam, masjhur sedjarahnya,
Kedjadian hebat diperingati senantiasa,

Ini berarti kisah Perang Karbala memang telah populer dan dikenal oleh umat Islam secara umum.

Buku “SJA’IR GUGURNJA HUSAIN DI KARBALA menggambarkan kepada kita suatu kisah sejarah kelam umat Islam. Dengan apik buku tersebut melukiskan kepada pembacanya para pelaku sejarah Perang Karbala lengkap dengan sifat, kepribadian, dan karakter masing-masingnya, terutama dua tokoh utama di kisah Karbala yaitu, cucu Rasulullah Saw Imam Husain as dan cucu Abu Sufyan, Yazid bin Muawiyah.

Tentang Imam Husain as, kisah dalam syair ini melukiskannya sebagai berikut :

Sebelum sedjarah kita kissahkan,
Lebih dahulu marilah dikemukakan,
Siapa sebenarnya Husin dimaksudkan,
Kewafatanya di Karbala, sungguh menjedihkan,

Dikalangan Islam, kita berkejakinan,
Tentu mengenal nama jang disebutkan,
Tetapi walaupun halnya demikian,
Perlulah rasanja kita djelaskan,

Adapun Husin, adik dari Hasan,
Anak ‘Ali, menantu djundjungan,
Ibunja Fatimah, wanita bangsawan,
Keturunan Quraisj, bangsa Muliawan,

Semasa hajatnya, Djundjungan umat,
Hasan Husin, dikasihi sangat,
Keduanja ke Muhammad senantiasa dekat,
Kasih Muhammad sangatlah melekat,

Hasan dan Husin, keturunan bangsawan,
Tjutju Muhammad Rasul pilihan,
Sedjarahnja perlu kita kemukakan,
Agar mengetahui, sebenarnya Kedjadian,

Adapun tentang Yazid, gambaran sifat dan karakternya sungguh berbeda dengan Imam Husain as. Bagaikan langit yang indah dengan jurang yang hina. Yazid digambarkan sebagai pelaku dosa dan maksiat serta tidak peduli dengan hukum-hukum Allah. Intinya, menurut H. Abu Bakar Ja’cub, Yazid tidak layak menjadi khalifah, baik dari sisi pengangkatannya maupun dari sisi kepribadiannya.

Tentang pengangkatan dan kerpibadian Yazid beliau bersyair :

Setelah sudah Muawijah mangkat’
Ditabalkan Jazid tanpa musjawarat,
Tidak berdasarkan pilihan Rakjat,
Keangkatannja hanja menuruti usiat,

Menurut seharusnja tidaklah tepat,
Jazid memegang tampuk Chilafat,
Lakunya buruk, pekertinja bedjat,
Bergelimang senantiasa didalam ma’shiat,

Keadaan Jazid bertambah mewah,
Bersemajam duduk diistana indah,
Di kelilingi penari, pengobat gundah,
Tak mau tahu larangan Allah,

Yazid juga digambarkan beliau sebagai pemabuk berat, dan suka mengadakan pesta mabuk-mabukan di temani para wanita-wanita penari dengan musik yang hura-hura :

Sewaktu Radja2 kepadanja berdatangan,
Menjatakan setia dibawah pemerintahan,
Disambutnya hebat, penuh kegembiraan,
Diedarkan chamar, minuman memabukkan,

Penghormatan ketamu, diadakanlah pesta,
Pembesar berkeliling berhadapan sesamanja,
Dimadjelis tersebut, chamar dipenuhinja,
Diteguk diminumlah dengan riang gembira,

Disamping itu dikeluarkanlah permainan,
Tari menari dengan bunji-bunjian,
Meneguk terus minuman jang diharamkan,
Riang gembiralah mereka sekalian,

Begitu pula, pembantaian Imam Husain as di Karbala dilukiskan dalam buku ini dengan syair-syair yang mengguncang jiwa. Ketika membacanya seringkali nafas tertahan, kadang air mata berjatuhan, rasa sedih, marah, gundah, bercampur aduk dalam kalbu. Bahkan H. Abu Bakar Ja’qub sendiri tidak mampu menahan emosinya, dalam bagian akhir bukunya beliau bersyair :

Innaa lillahi wa Innaa ilaihi raadjiun
Ku utjapkan sedih, nafasku tertegun,
Husin dibunuh tentara mal’un
Diusia limapuluh delapan tahun,

Penjembelih ngeri, perlakuan kedjam,
Dilakukan mumkin jang bukan Islam’
Terjadinya tanggal sepuluh muharram, 
Beribu tahun dizaman jang silam,

Kesjahidan Husin di Padang Karbala,
Sungguh menyedihkan umat manusia,
Digorok, ditikam, ditjeraikan kepalanja,
Ditusuk ditontonkan, seraja diperbola,

Kewafatan Husin sungguh seram,
Ditusuk, di sembelih, dipanah, ditikam,
Perlakuan tentara sungguh kedjam
Menghitamkan memburukkan sedjarah Islam

Dari bait-bait syair yang di susun dalam buku ini, kita memperoleh dengan utuh bagaimana kehidupan sosial, politik, dan keagamaan umat Islam kala itu.

IMG-20190830-WA0030

H. Abu Bakar Ja’qub

IMG_20190902_090401

“Kata Mukaddimah” dalam Buku Sja’ir Gugurnya Husin di Karbala

Kini, buku “SJA’IR GUGURNJA HUSIN DI KARBALA” dan beberapa karya lain H. Abu Bakar Ja’qub menjadi bagian koleksi perpustakaan Yayasan Islam Abu Thalib Medan. Doa, alfatihah dan shalawat untuk beliau kita haturkan. (ATN)

 

%d blogger menyukai ini: