YAUMUL MAHABBAH DALAM NASKAH KUNO NUSANTARA


Oleh : Candiki Repantu

“Kemudian daripada itu maka dinugerahkan Allah Fatimah bertahta dan mukjizat akan Fatimah maha baik parasnya dengan sempurnanya terlalu amat baik dan amat bercahaya mukanya dengan tiada pernah anugerah Allah ta’ala dalam dunia ini seorang jua pun tiada seperti rupa Fatimah az-zahra itu yang terlebih baik parasnya daripada anak-anakan bidabidari yang di dalam surga.

Bermula baginda Ali terlalu amat meminta dan kepada Allah subḥanahu wata’ala pada malam dan siang dan daripada tiap-tiap hari dan hari Jumat. Maka dianugerahkan Allah subḥanahu wata’ala, dijadikan Allah Subḥanahu wata’ala permintaanya. Maka firman Allah ta’ala kepada Jibrail alaihissalam, “Ya Jibrail himpunkan olehmu segala malaikat ketujuh langit dan segala malaikat menanggung Arsy Allah ta’ala.”

Maka segala malaikat berhimpunlah segala malaikat yang di bawah Arsy Allah ta’ala kepada Jibrail menyuruh membukakan pintu surga, maka segala bidadari dan hiasan mahligai bertahtakan ratna mutu manikam dan pulah dan kesturi biduri dan kemala. Maka firman Allah ta’ala kepada malaikat Zabaniyah, “Hai malaikat Zabaniyah tutupkanlah pintu neraka itu.” Maka firman Allah kepada Jibril, “Hai Jibrail, hancurkan olehmu kesturi itu dan yang harum dan segala baunya-baunya atas kepala malaikat sekalian.”

Setelah sudah itu datanglah angin bertiup-tiup dari bawah Arsy Allah ta ‘ala. Maka dicium oleh segala malaikat baunya yang demikian itu, maka berseru-seru sekalian dan segala daun kayu yang dalam surga pun karena ditiup angin daripada Arsy Allah. Maka berbagai-bagai bunyinya yang terlalu amat merdu, bunyinya didengar oleh segala malaikat…Maka sembah segala malaikat, “Ya Tuhanku yang menjadikan sekalian alam apakah sebabnya?”…

Maka firman Allah ta’ala, “Hai sekalian segala malaikat hari apa? inilah hari Kupersuamikan hamba-Ku.” Maka segala malaikat itu pun baru datang sembahnya, “Ya Tuhanku, siapakah yang hendak bersuamikan itu? Kami tiada berkehendak kepada sekalian makanan dan minuman dan pakaian dan tiada kami berkehendak kepada segala perempuan.”

Maka firman Allah ta’ala, “Hai segala malaikat adapun makanan kamu itu tasbih dan minuman kamu itu tahlil. Jikalau ini, Aku hendak bersuamikan hamba-Ku Fatimah dengan hamba-Ku Ali bina Abi Thalib.”

Maka firman Allah ta’ala, “Hai malaikat, lihatlah oleh kamu sekalian bahwa Ku persuamikan, Aku hendakkan hamba-Ku Ali persuamikan dengan hamba-Ku Fatimah anak Muhammad shallallahu alaihi wasallam…”

Maka dititahkan Allah ta’ala Jibrail turun ke dunia serta tujuh puluh ribu malaikat yang menanggung thabaq dari dalam surga dan perhiasan yang indah-indah. Dalam satu thabaq itu daripada perhiasan rupanya dan warnanya maha indah-indah dan beberapa pakaian sundusin dan isytabraq… dan ratna mutu manikam isi kahwin Fatimah.

Maka Jibrail pun turunlah serta malaikat tujuh puluh ribu membawa thabaq dari dalam surga datang kepada Nabi Allah pun serta segala sahabat. Bermula Ali pun lagi sembahyang pada suatu tempat meminta doa kepada Allah akan hendaknya Fatimah jua pada hatinya.

Maka Jibrail pun datanglah kepada Nabi Allah. Maka katanya, “Ya Muhammad, ada (tujuh pu)luh ribu yang menanggung thabaqnya.”… Maka sabda Rasulullāh, “Hai Jibrail, ceriteranya kiranya akan hamba, arta apa itu? Adapun yang ditanggung malaikat itu apa?”. Maka kata Jibrail, “Ya Nabi Allah, hamba menceriterakan kepada tuan hamba setelah dikahwinkan Ali dengan anakmu.”

(Nabi Saw bersabda) : “Hai Fatimah cahaya mataku dan buah hatiku dan cermin mataku, bahwa Jibrail turun dari langit membawa malaikat tujuh pulu ribu dan membawa firman Allah ta’ala kepada daku bahwa Allah subhanahu wata’ala menganugerahkan engkau dengan Ali dikahwinkan dari langit Tuhan segala alam akan olehmu dan Jibrail perwakilan dari pada Ali dan Mikail akan Khatibnya dan malaikat sekalian akan syahidnya. Bahwa Allah subḥanahu wata’ala mengerahkan tujuh puluh ribu malaikat membawa thabaq daripada perhiasan yang indah-indah dan pakaian yang berpakaikan emas…dari dalam surga akan isi kahwin daripada Ali.”

Maka Sayid Fatimah (berkata), “Bahwa hamba riḍalah dengan titah Allah subhanahu wata’ala dikahwinkan dengan Ali. Betapa akan isi kahwin hamba itu tiada hamba ridalah.”

Maka Jibrail pun kembali kepada Allah subḥanahu wata’ala dengan terkejut, tujuh puluh ribu malaikat berdiri kepada Allah ta’ala. Maka datang sembah Jibrail,Ya Rab, Ya Sayid, Ya Maula, Ya Tuhanku, adapun akan hambamu Fatimah riḍalah ia dikahwinkan dengan [Ali], tetapi isi kahwin itu tiada hamba ridha.”

Maka firman Allah ta’ala kepada Jibrail, “Turunlah engkau ke dunia dengan malaikat tujuh puluh ribu membawa thabaq itu katakan kepada Fatimah, apa kehendak hatinya?.”

Maka Jibrail pun turun la kepada Nabi Allah. Maka kata Jibrail, “Ya Nabi Allah, adapun firman Allah ta’ala apa kehendak hati Fatimah akan isi kahwinnya. Tanyakan oleh Nabi Allah karena firman Allah ta’ala demikian kepada hamba…”

Maka Nabi Allah pun pergilah bertanya kepada Fatimah, “Hai anakku telah datang pulah Jibrail membawa firman Allah ta’ala. Memintakan engkau dengan suka cita tujuh puluh ribu malaikat apa kehendak, katakan supaya jangan terdiri malaikat itu karena malaikat dengan suka cita tujuh puluh ribu malaikat menanggung thabaq akan isi kahwin anakku.”

Maka sembah Fatimah, “Ya Tuanku, jika waktu hamba mohonkan kehadirat Allah ta’ala segala dosa perempuan yang durhaka kepada suaminya dari pada segala umat Tuhan hamba.”

Maka sabda nabiyallah, “Ya Jibrail, adapun isi kahwin Fatimah memberi syafaat akan Ali.”

Tulisan di atas adalah penggalan kisah yang versi lengkapnya saya bacakan ketika Fatimiyah Yayasan Islam Abu Thalib memperingati Yaumul Mahabbah, hari pernikahan Imam Ali as dengan Sayidah Fatimah as. Penggalan kisah itu saya kutip dari manuskrip kuno nusantara beraksara Arab Melayu atau Arab Jawi yang berjudul Hikayat Alih Kawin.

Hikayat tersebut merupakan salah satu kekayaan khazanah Nusantara yang menunjukkan kepada kita bagaimana para penulis masa lalu memberikan penghormatan dan kemuliaan yang luar biasa kepada Ahlul bait Nabi saw. Dengan indah dan menarik, penulis mengisahkan prosesi pernikahan suci Fatimah as, putri Sang Nabi. Pintu neraka ditutup, surga di buka dan dihiasi dengan segala keindahanya, para bidadari dan malaikat dikumpulkan, bahkan ada tujuh puluh ribu malaikat membawa wadah yang berisikan berbagai aneka harta, pakaian, makanan dan sebagainya, sebagai hantaran dan mahar atau mas kawin untuk sayidah Fatimah as.

Tapi, tragedi yang lebih mengharukan bagi kita adalah, ketika hikayat di atas menceritakan bahwa Sayidah Fatimah as menolak semua hantaran yang dibawa tujuh puluh ribu malaikat itu dan menginginkan agar Allah menjadikan syafaatnya untuk para wanita pendosa sebagai mahar pernikahannya. Inilah anugerah dan berkah yang tak terhingga bagi para wanita pecinta Sayidah Fatimah as. Ikatan cinta suci pernikahan Sayidah Fatimah as dan Imam Ali as mengalirkan cinta kasih pada umat Nabi Saw melalui syafaat di Yaumil akhir nanti. Karena itulah hingga kini , hari pernikahan Sayidah Fatimah dan Imam Ali dikenal sebagai Yaumul Mahabbah (Hari Cinta Kasih), yang diperingati setiap tanggal 1 Dzulhijjah. Semoga pada Yaumul mahabbah ini, kita dan keluarga serta anak keturunan kita semua diberkati dengan syafaat cinta Imam Ali dan Sayidah Fatimah as.

Allahumma shalli ala Fatimah, wa abiha, wa ba’liha, wa baniha.”

🙏🌹
CR14

%d blogger menyukai ini: