SYUKURAN MILAD KE-13 YAYASAN ISLAM ABU THALIB


img_20190122_191119

Alhamdulillah, syukur pada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, sejak di tandatangani dan diresmikan pada tanggal 22 Januari 2006, Yayasan Islam Abu Thalib berusaha terus berkiprah dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Tidak terasa kini sudah 13 tahun Yayasan Islam Abu Thalib berkiprah menjadi salah satu pusat kajian kebangsaan dan keagamaan serta juga aktivitas sosial pengembangan umat.

Untuk itu pada ulang tahunnya yang ke-13 pada tanggal 22 Januari 2019 diadakanlah “SYUKURAN MILAD ke-13 TAHUN BERDIRINYA YAYAYASAN ISLAM ABU THALIB” dengan mengadakan acara tatrikal monolog dan juga dialog publik bertempat di sekretariat Yayasan Islam Abu Thalib, Jl. Gurilla No. 82 Medan Perjuangan.

Dalam acara syukuran tersebut ditampilkan Monolog Edminus Aderskor : “Harus Jadi Peresiden” yang dibawakan oleh Agus Susilo, seorang seniman dan Budayawan Sumut yang sudah tidak asing lagi dalam belantara kesenian dan kebudayaan di Sumatera Utara. Dengan gaya khasnya, monolog yang dibawakan oleh Agus Susilo memukau semua jamaah dan undangan yang hadir saat itu.

fb_img_1548293233051

Selain monolog juga diadakan dialog publik dengan mengambil tema “Islam dan Etika Politik di Indonesia” dengan menampilkan tiga orang narasumber yaitu Candiki Repantu (Ketua YIAT); Dr. Phil. Ichwan Azhari MS (Sejarawan UNIMED); dan Faisal Riza MA (Pengamat Politik UIN SU).

Ketiga narasumber mengulas tentang perpolitikan Indonesia di masa kini dan masa lalu dari sudut pandang keagamaan dan etika. Faisal Riza menyoroti persoalan “majority previlige” yang mana sebagai umat yang mayoritas di Indonesia, kaum muslimin ingin mendapatkan hak-hak istimewa, bahkan cenderung menjadikan agama sebagai kenderaan untuk berkuasa. Beliau juga menyikapi gerakan demontrasi yang berjilid-jilid dari kelompok 212 yang cukup menghebohkan di Indonesia. Begitu pula soal “ujian baca Alquran” bagi calon presiden.

Di sisi lain Katua Yayasan Islam Abu Thalib, Ustadz Candiki Repantu mengisahkan bagaimana politik di Indonesia saat ini meninggalkan dan menanggalkan etika Islam. Islam yang menghormati perbedaan, memuliakan toleransi, kejujuran, sikap ramah, dan etika lainya, tapi semua itu nyaris terberangus dengan merebaknya narasi kebencian, hoaks, dan fitnah yang dilakukan bukan hanya oleh kaum awam tapi bahkan kalangan akademisi dan pemuka agama. Ini sungguh suatu yang menyedihkan sekaligus membahayakan.

Dengan mengisahkan H. Soleh dalam novel “Rubuhnya Surau Kami”, Dr. Phil. Ichwan Azhari, menjelaskan bahwa pemuka agama seperti H. Soleh yang di hari akhirat menuntut keadilan Tuhan karena dirinya yang rajin beribadah dan menyembah Tuhan seumur hidupnya tetapi dimasukkan Tuhan ke dalam neraka. Apa sebabnya? Karena dia hanya melakukan ibadah ritual untuk pribadinya dan melupakan kiprahnya untuk memakmurkan dan memperjuangkan negerinya. Haji Soleh hanya sibuk beribadah di Surau, tapi lupa dengan orang-orang miskin di sekitarnya, membiarkan alamnya yang indah dieksploitasi oleh kaum penjajah, dan tidak peduli dengan merebaknya kejahatan di negerinya. Haji Soleh berpikir bahwa beragama cukup hanya dengan ritual, melupakan ibadah-ibadah sosial.

Akhirnya, acara syukuran Milad ke-13 berdirinya Yayasan Islam Abu Thalib Medan, ditutup dengan pemotongan tumpeng, dan makan bersama. Semoga ke depannya Yayasan Islam Abu Thalib (YIAT) bisa lebih berkiprah dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara. (ATN)

%d blogger menyukai ini: