IKRAR SUCI KEPEMIMPINAN IMAM ALI


IKRAR SUCI KEPEMIMPINAN IMAM ALI

Oleh : Candiki Repantu

13438793_10205590560958293_4612853045963230972_n

Ketika mentari mencapai puncak tertingginya, disaat kafilah haji Sang Nabi menyusuri sahara yang panasnya tiada tara, mendadak perintah ilahi turun agar kafilah itu berhenti dan berkumpul dengan rapi. Ada suatu pesan yang harus disampaikan dan tak bisa ditangguhkan, “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Apabila tidak kau lakukan itu, berarti sama dengan engkau tidak menyampaikan seluruh risalah-Nya, dan Allah (akan) memeliharamu dari (gangguan) manusia.” (Q.S. Al-Maidah: 67).

Para sahabat saling bertatap, beragam duga muncul dalam dada. Sepertinya Nabi saw mendapat perintah maha dahsyat dari Tuhan alam semesta, sehinga tak bisa menunggu waktu untuk sampai di Madinah, kota Nabi tercinta.

Mimbarpun disiapkan, agar nabi saw terlihat oleh semua orang. Wajah-wajah lelah itu menunjukkan rasa ingin tahu, pesan apakah yang akan disampaikan Nabi ditengah terik matahari siang itu. Dengan suara lantang bergetar, Nabi saw memuji Tuhan yang Maha Akbar, sebelum menyampaikan berita besar, tentang kepemimpinan Ali bin Abi Thalib as, sang pemilik Zulfiqar. Mari kita resapi setiap kata yang terlontar dari lisan suci Nabi al-Mukhtar :

Wahai manusia! Aku tak pernah salah, lalai dan lupa dalam menyampaikan titah yang diturunkan Tuhan kepadaku…

(Hari ini), malaikat Jibril as datang tiga kali kepadaku menyampaikan salam dari Tuhanku, dan memerintahkan aku untuk berdiri ditempat ini agar menyampaikan kepada semua orang yang berkulit putih atau hitam bahwa Ali bin Abi Thalib as adalah saudaraku, pengemban wasiatku, khalifahku, dan Imam setelah ku, yang kedudukannya di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa as, hanya saja tidak ada nabi setelah ku.

Dia adalah wali (pemimpin) setelah Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana telah ditegaskan Allah dalam wahyunya kepadaku ‘Sesungguhnya wali kamu adalah Allah, Rasul Nya, dan orang yang beriman yang mendirikan salat, dan menunaikan zakat sementara mereka dalam keadaan ruku’ (Q.S.Al-Maidah: 55). Ali adalah orang yang mendirikan salat dan menunaikan zakat dalam keadaan ruku.

Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah menetapkan Ali sebagai pemimpin (wali) dan Imam bagi kalian.

Mematuhinya adalah wajib bagi kalangan muhajirin maupun anshar dan orang-orang yg datang setelah mereka, baik yg ada di desa atau kota, orang Arab atau bukan, orang yang merdeka atau hamba sahaya, anak kecil maupun orang dewasa, bangsa hitam maupun putih, dan setiap orang yang menyatakan tauhid kepada Allah swt.

Keputusan hukumnya sah, pembicaraannya wajib didengar, dan perintahnya wajib ditaati. Terkutuklah orang yg menetangnya, dirahmatilah orang yang mengikutinya, dan berimanlah orang yang membenarkannya. Sungguh Allah mengampuninya dan mengampuni orang-orang yang mendengar dan mematuhinya.”

Setelah Nabi saw menyampaikan titah ilahi tentang kepemimpinan Ali, maka ikrar pun diberi, untuk mengikat janji suci :

Wahai manusia! Jumlah kalian demikian banyaknya sehingga tidak mungkin kalian bisa mengulurkan tangan untuk berbai’at satu persatu. Namun demikian, Allah Azza wa Jalla telah memerintahkan aku untuk mengambil ikrar dari lisan kalian tentang pengangkatan Ali sebagai pemimpin kaum beriman, dan para imam dari keturunanku dan keturunannya yang datang setelahnya, seperti yang pernah kusampaikan pada kalian bahwa keturunanku berasal dari sulbi Ali. Untuk itu, hendaklah kamu ikrarkan secara bersama-sama :

Kami telah mendengar, kami akan patuh, rela, dan ikut secara penuh atas apa yang telah engkau sampaikan dari Tuhan kami dan Tuhanmu berkenaan tentang kepemimpinan Ali dan putra-putranya. Untuk itu kami berbai’at dengan sepenuh hati, jiwa, lisan, dan tangan kami. Dengan nya kami hidup, dengannya kami mati, dan dengannya kami dibangkitkan, tanpa kami mengubah, mengganti, ragu, mencabut janji atau membatalkan ikrar dan pernyataan kami. Kami berjanji mematuhi Allah dan rasul Nya, serta mematuhi Ali sebagai pemimpin kaum beriman. Demikian pula, kami mematuhi para imam dari putra dan keturunannya. Segala puji bagi Allah yang telah membimbing kami ke jalan ini. Sungguh, kami tidak akan memperoleh bimbingan tanpa bimbingan dari Allah”

Demikianlah ikrar janji yang dituntut oleh Rasulullah saw ketika mengumpulkan manusia di Ghadir Khum, sepulangnya dari haji wada’, pd tgl 18 Dzulhijjah, 14 abad yang lalu, agar mereka mematuhi kepemimpinan Imam Ali pasca Nabi saw. Ikrar itu menggaung ke seantero dunia dari masa ke masa karena Nabi berpesan agar yang hadir menyampaikan ikrar itu kepada yang tidak hadir.

Dan saat ini, 18 Dzulhijjah juga, Nabi saw menuntut ikrar ilahi ini dari lisan-lisan kita yang tak sempat bertemu dengan Nabi saw. Hari ini ratusan juta para pecinta Imam Ali as di seluruh dunia, bersama mengangkat tangan dan merapatkan lima jari, kembali mengikrarkan janji suci kepemimpinan Imam Ali as :

Bismilahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajjil farajahum.”

“Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul Nya.

Ya Rasulullah, Aku telah mendengar, dan aku akan patuh, rela, dan ikut secara penuh atas apa yang telah engkau sampaikan dari Tuhanku dan Tuhanmu berkenaan tentang kepemimpinan Ali dan putra-putranya.

Untuk itu aku berbai’at dengan sepenuh hati, jiwa, lisan, dan tanganku. Dengannya aku hidup, dengannya aku mati, dan dengannya aku dibangkitkan, tanpa aku mengubah, mengganti, ragu, mencabut janji atau membatalkan ikrar dan pernyataanku.

Aku berjanji mematuhi Allah dan rasul Nya, serta mematuhi Ali sebagai pemimpin kaum beriman. Demikian pula, Aku mematuhi para imam dari putra dan keturunannya. ‘Segala puji bagi Allah yang telah membimbing kami ke jalan ini. Sungguh, kami tidak akan memperoleh bimbingan tanpa bimbingan dari Allah’.”

Allahumma shalli ala Muhammad wa aali Muhammad wa ajjil farajahum.

Saudaraku, silahkan jika ada yang bersedia mengucapkan ikrar ini dengan ketulusan. Dan yang tidak bersedia tidak ada paksaan dan tidak perlu membuat keributan, karena ini hanya sekedar menyampaikan salam persaudaraan di Idul Ghadir yang pernuh keberkatan. Selamat Idul Ghadir, Berkah untuk semua.

Medan, 18 Dzulhijjah .

✋🌷

CR14

%d blogger menyukai ini: