KAJIAN RAMADHAN (15) : MAKNA KAFIR


Oleh : Ustadz M. Iqbal Al-Fadani

Screenshot_2018-06-14-10-37-25-546_com.opera.mini.native

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.” (Q.S. Al-Baqarah : 6)

Di dalam ayat ini dijelaskan bahwa orang kafir adalah orang-orang yang tidak dapat menerima hidayah, bahkan jika nabi sekalipun yang memberikan peringatan kepada mereka.

Sepintas, ayat ini memberikan pemahaman bahwa orang di luar Islam sama sekali tidak akan menemukan hidayah. Oleh karena itu mengajak orang di luar Islam untuk mengikuti ajaran Islam merupakan kesia-siaan.

Namun uniknya adalah Nabi Muhammad Saww justru sangat aktif dalam mendakwahi mereka, dan lebih uniknya lagi tidak sedikit yang kemudian memilih islam. Lantas apakah ayat di atas salah atau pemahaman kita yang mesti diperbaiki? Dengan begitu ayat di atas benar dan pemahaman kita juga tepat. Dan pada gilirannya dakwah terhadap non muslim menemukan artinya. Untuk itu di sini kita perlu menjelaskan makna “kafir” menurut Al-Quran.

Apakah makna kafir di dalam ayat di atas adalah non muslim atau orang di luar Islam secara umum sehingga makna ayat tersebut seolah-olah bertentangan dengan realita yang ada? Atau kata “kafir” memiliki makna yang lebih sempit dari itu?

Kata “kafir” menurut istilah Alquran bukan bermakna orang di luar Islam atau non muslim secara umum, akan tetapi, yang dimaksud justru makna yang lebih sempit dari itu.

Maksudnya, orang kafir adalah orang yang tidak memilih Islam setelah melihat bahwa kebenaran secara nyata berada di pihak Islam. Oleh karena itu orang yang belum memahami kebenaran Islam atau belum menyadari kesalahan agamanya bukanlah disebut kafir.

Lebih jelasnya lagi, muslim dan kafir atau munafik adalah istilah yang muncul setelah adanya dakwah kenabian yang sudah sampai pada tahap jelasnya kebenaran dan kebatilan. Sebelumnya tidak ada muslim, kafir maupun munafik, yang ada hanyalah manusia tanpa identitas.

Namun setelah nabi datang membawa syari’at yang sempurna, kemudian kebenaran dan kebatilan dapat dibedakan dengan gamblang, maka manusia akan terbagi kepada beberapa kelompok.

Pertama, Muslim, yaitu orang-orang yang melihat kebenaran dan memilih kebenaran tersebut.

Kedua, mereka yang memahami kebenaran tapi tidak mau menerimanya, bahkan menolak dan memeranginya.

Ketiga, mereka yang memahami kebenaran tapi tidak menjadikannya sebagai pilihan, sebagai mana kelompok kedua, namun untuk menjaga kepentingannya, secara lahiriah mereka hidup seperti orang Islam.

Dalam hal ini alangkah baiknya kita mengutip tulisan Murthadha Muthhari yang mengatakan:

Dalam istilah Al-Quran kebanyakan kata “kafir” jika tidak kita katakan semuanya, bukan bermakna setiap orang yang bukan Islam. Akan tetapi makna “kafir” adalah orang yang menentang dan mengingkari dakwah nabi setelah kebenaran dan hakikat menjadi jelas. Maksudnya, sebelum disampaikanya dakwah kenabian masyarakat belum terbagi menjadi mukmin, kafir dan munafik. Mereka masih merupakan manusia tanpa identitas.” (Murthadha Muthhari, Asynai ba Quran, Intesyarat e Shandra, Qom, hal. 76-77).

Setelah memahami bahwa makna kafir adalah orang-orang yang mengenal kebenaran dengan baik, pun begitu tetap menolak dan memusuhinya, maka makna ayat di atas akan jelas.

Dengan penjelasan tadi, ayat di atas juga akan menemukan maknanya, yaitu manusia yang mampu melihat kebenaran sebagai suatu kebenaran dan kebatilan sebagai kebatilan, lalu dengan pilihannya sendiri dan dengan kerelaannya memilih kebatilan maka tidak akan bisa ditunjuki. Sebab dari awal dia sudah menentukan pilihannya.

Jadi makna ayat di atas adalah sesungguhnya orang-orang kafir (yang melihat kebenaran dan kebatilan dengan jelas lalu memilih kebatilan dan memerangi kebenaran) tidak akan beriman baik kamu beri peringatan maupun tidak kamu beri peringatan.”
Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam. (CR14)

%d blogger menyukai ini: