KAJIAN RAMADHAN (14) : MUDAH-MUDAHAN KAMU BERTAKWA


Oleh : Ustadz M. Iqbal Al-Fadani

IMG_20180603_050610

Salah satu tujuan dari melakukan ibadah puasa adalah mencapai maqam serta kedudukan takwa, sebagaimana disebutkan oleh Alquran :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. al-Baqarah : 183)

Dari sini dapat dipahami bahwa kedudukan takwa ini sangat mulia, sehingga pantas dijadikan sebagai ganjaran dari ibadah yang sangat agung tersebut. Untuk itu alangkah baiknya jika kita sedikit mengkaji kriteria orang bertakwa menurut Alquran. Yang pada kajian kali ini akan kita bahas sesuai dengan apa yang termaktub di awal-awal surah Al-Baqarah, sebagai berikut :

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ . الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ ۙ. وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَۗ

Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada (Alqur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat.” (Q.S. al-Baqarah : 2-4)

Ayat-ayat di atas secara umum menjelaskan kepada kita bahwa ada dua kriteria umum yang mesti dimiliki oleh seorang hamba sehingga layak menyandang predikat takwa dan dengan itu ia memperoleh keberuntungan.

Syarat pertama berkaitan dengan pembahasan teoritis tentang alam wujud; dimana menurut Alquran, alam keberadaan tidak hanya terbatas kepada alam materi. Akan tetapi selain dari alam yang dapat kita indera ini (alam syahadah) masih ada alam yang tentu saja lebih luas lagi, yang disebut dengan alam gaib. Nah, menurut ayat di atas iman terhadap keberadaan yang bersifat gaib merupakan kriteria orang bertakwa. Bahkan kriteria pertama ini merupakan dasar dan asas bagi kriteria kedua.

Murthadha Muthhari sewaktu menafsirkan ayat ini mengatakan bahwa menurut pandangan dunia Alquran keberadaan tidak hanya meliputi alam yang dapat di indera. Bahkan alam materi hanya secuil ibarat kulit tipis jika dibandingkan dengan alam secara keseluruhan; dimana bagian yang lebih luas lagi berada di balik alam materi ini. Yang dapat diindera bernama “syahadah” sedangkan yang luput darinya disebut gaib. (Murthadha Muthhari, Asynai ba Quran, Intisyarate Shandra, Qom, hal. 65)

Jadi ciri pertama orang bertakwa adalah percaya kepada yang gaib yang meliputi iman kepada Allah SWT, wahyu dan akhirat. Atau dalam kajian Kalam disebut dengan keyakinan terhadap “mabda”, “ma’ad” dan “nubuwwah”. Di mana kesemuanya berkaitan erat dengan kepercayaan terhadap alam gaib. Hal ini mengingat bahwa Allah SWT adalah gaib, proses penurunan wahyu dan kenabian adalah gaib serta akhirat juga berkaitan dengan alam gaib.

Adapun kriteria kedua orang bertakwa berkaitan dengan pembahasan amaliah, yakni apa yang seharusnya dan apa yang tidak seharusnya dilakukan, yang tentu saja berkaitan dengan tindakan dan aktivitas manusia.

Di dalam ayat di atas disebutkan dua contoh kongkrit dari hal tersebut. Pertama, berkaitan dengan hubungan personal seorang hamba dengan Tuhannya, yang dalam hal ini diwakili oleh shalat sebagi contoh paling urgen. Kedua, berkaitan dengan hubungan sosial seorang hamba dalam membangun suatu masyarakat yang Rabbani, yang dalam hal ini dicontohkan dengan infak.

Jadi secara ringkas orang yang bertakwa sesuai dengan apa yang dapat dipahami dari kedua ayat di atas adalah orang yang mampu menuntaskan pembahasan teoritis tentang alam keberadaan dengan meyakini alam gaib; yang secara umum meliputi “mabda” atau Allah, “ma’ad” atau akhirat dan “nubuwwah” yang berkaitan dengan wahyu dan syariat.

Dan pada tahap berikutnya orang bertakwa adalah orang yang secara praktis mampu menjalin hubungan yang baik dengan Allah SWT, sebagai hubungan personal dan dapat menciptakan relasi yang bagus dengan sesama. Mudah-mudahan takwa ini ada pada kita. Semoga saja!. Wallahu a’lam. (CR14)

%d blogger menyukai ini: