KAJIAN RAMADHAN (13) : PENURUNAN ALQURAN DARI SISI TUHAN KE SISI MANUSIA


Oleh : Ustadz M. Iqbal Al-Fadani

Screenshot_2018-06-02-13-53-54-809_com.android.browser

Sebagaimana kita ketahui Alquran mengalami proses penurunan dari alam ladun (sisi Allah) sampai kemudian berada di tengah-tengah umat manusia dalam bentuk bahasa Arab. Proses ini lah kemudian yang disebut penurunan Alquran (Nuzul Alquran).

Kata _nuzul_ atau penurunan ini pada dasarnya memiliki dua makna atau dua jenis. Kedua jenis tersebut adalah : penurunan dalam makna “tajafi” (pengosongan) dan penurunan dalam makna “tajalli” (termanifestasi atau penjelmaan).

Penurunan “tajafi”, adalah proses penurunan yang terjadi di alam materi dimana suatu materi dari atas turun ke bawah. Sebagai misal yaitu disaat kita turun dari satu anak tangga menuju anak tangga yang di bawahnya. Pada proses penurunan yang seperti ini akan terjadi pengosongan (tajafi), artinya disaat kita turun dari anak tangga yang paling tinggi menuju anak tangga di bawahnya maka kita mengosongkan anak tangga yang paling atas tadi dan berpindah ke anak tangga di bawahnya. Penurunan tajafi ini bermakna perpindahan sesuatu dari atas ke bawah secara utuh sehingga di bagian atas menjadi kosong.

Sedangkan penurunan “tajalli” adalah proses penurunan yang tidak bersifat materi (penurunan immaterial) yaitu penurunan melalui penjelmaan, sehingga disaat terjadi proses penurunan maka tidak terjadi pengosongan apapun. Artinya disaat sesuatu mengalami penurunan dari atas ke bawah, maka di bagaian atas tersebut tetap masih bisa kita temukan sesuatu tadi, sebagai mana di bagian bawah juga dapat ditemukan. Ini berarti penurunan tajalli tidak bersifat berpindahan tetapi bersifat terbentang secara utuh dari atas hingga bawah.

Lalu dari kedua jenis dan makna penurunan di atas, termasuk jenis manakah penurunan Alquran?

Pada kasus Alquran, pada awalnya Alquran berada di sisi Allah SWT kemudian untuk bisa dijangkau oleh ummat manusia maka dilakukanlah proses penurunan, sehingga yang tadinya bukan berupa huruf, kata maupun kalimat menjelma menjadi huruf, kata dan kalimat.

Setelah terjadi penurunan dari Alquran yang tadinya merupakan satu kesatuan yang tidak memiliki bagian-bagian ke alam tulisan, tetap saja di alam ladun (di sisi Allah) Alquran memiliki keberadaan. Jadi penurunan Alquran ke alam bawah tidak menyebabkan pengosongan di alam atas. Ini berarti proses penurunan Al-Quran merupakan penurunan jenis kedua, yaitu penurunan tajalli.

Syaik Jawadi Amuli menjelaskan penurunan Alquran sebagai berikut :

Penurunan Al-Quran merupakan bentuk penjelmaan (tajalli). Maksudnya pada saat ajaran dan kandungan Alquran sampai kepada ummat manusia, tingkatan tertinggi dari Alquran (maqam ladun) tersebut tetap ada di sisi Allah SWT yang Maha Tinggi dan Bijaksana. Kemudian pada tingkatan yang lebih rendah sedikit, berada di tangan para malaikat “kiramin bararah”. Oleh karena itu Alquran merupakan satu hakikat yang bergradasi (bertingkat)”.

“Tingkatan ini juga memiliki hubungan penjelmaan antara satu dengan lainnya. Setiap tingkatan merupakan jelmaan tingkatan yang di atasnya dan sebagai turunannya. Dari sisi keberadaan juga memiliki keterikatan sepenuhnya dengan tingkatan di atasnya. Oleh karena itu membayangkan tingkatan-tingkatan Alquran yang saling terpisah dan tanpa hubungan, tidak dapat dibenarkan, sebab bertentangan dengan proses penurunan dalam bentuk penjelmaan dan tajalli.” (Syaikh Jawadi Amuli, _Quran dar Quran,_ Markaz e Israk, Qom, 1378 HS, hal. 46).

Dari penjelasan Syaikh Jawadi Amuli tersebut jelaslah bahwa penurunan Alquran itu bersifat penjelmaan (tajalli) bukan pengosongan (tajafi). Ini berarti Alquran yang ada di tengah-tengah kita yang disampaikan oleh Rasul Saw, yang kita baca dan pelajari adalah penjelmaan Alquran yang ada di sisi Allah SWT. Dengan demikian Alquran terbentang dari sisi Allah SWT di alam immaterial hingga ke sisi Nabi Muhammad Saw dan umatnya di alam material. Wallahu a’lam. (CR14)

%d blogger menyukai ini: