KAJIAN RAMADHAN (11) : KARAKTER KISAH DALAM ALQURAN


Oleh : Ustadz M. Iqbal Al-Fadani

IMG-20171106-WA0018

Alquran bukanlah kitab atau buku sejarah yang bertugas sebagai pencatat kejadian di masa lampau. Meskipun demikian, kitab suci ini memuat banyak kisah para nabi, orang saleh, musuh para nabi dan orang jahat. Singkatnya di dalam kitab yang agung ini kita bisa menjumpai sejarah ummat terdahulu yang tentu saja dapat dijadikan sebagai bahan renungan dalam meniti kehidupan saat ini.

Alquran bukan kitab sejarah, tapi sebuah kitab yang memiliki tugas pemberi hidayah, “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Al-Baqarah/2), lalu apa perbedaan sejarah atau cerita yang dimuat oleh Alquran dengan buku sejarah atau cerita lainnya, sehingga Alquran dengan segudang kisah yang dipaparkannya tapi bukan merupakan kitab sejarah?

Sebenarnya ada banyak ciri khas tersendiri dan karakter khusus yang dimiliki Alquran dalam hal menyampaikan cerita sehingga menjadikannya berbeda dengan yang lainnya. Pada tulisan singkat kali ini kita akan menjelaskan salah satunya saja, yaitu “karakter pemilahan dalam kisah dalam Alquran.”

Pemilahan dalam memuat kisah merupakan ciri khas atau karakter Alquran. Yaitu bahwa kisah yang dimuat oleh Alquran itu hanya sebagian saja, yang mana bagian tersebut memiliki pelajaran (ibrah) bagi pembaca atau pendengarnya, bukan semua hal yang berkaitan dengan sebuah cerita sekalipun tidak memiliki ibrah sama sekali.

Atas dasar ini, hal-hal yang tidak penting ataupun tidak memiliki nilai pembelajaran (ibrah) dengan sendirinya tidak di muat dan dilupakan oleh Alquran. Oleh karena itu di dalam Alquran kadang kita melihat kisah tapi tidak disebutkan nama pelakunya, seperti : “Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu“. (Yasiin/20).

Ada juga kisah tapi tidak dimuat tanggal kejadiannya, bahkan sebagian kisahnya hanya memuat sepenggal dari perjalanan hidup dari tokoh yang diceritakan. Ini tidak lain dikarenakan misi dari kisah Alquran ada pada ibrahnya dan bukan pada sejarah sebagai sebuah sejarah.

Didalam kitab Asynai ba Ma’arif e Quran disebutkan bahwa salah satu metode Alquran dalam menyampaikan pesan-pesannya adalah, fakta yang dimuat telah dipilih sesuai dengan urgensinya, sehingga kemurnian ibrah atau pelajaran yang ingin disampaikan tetap terjaga. Dengan kata lainnya, pemilihan bagian tertentu dalam kisah-kisah Alquran tanpa melihat pada sisi sastra dan seninya, lebih karna mengedepankan bagian serta episode yang lebih berpengaruh (terhadap pembaca). Dan tidak disebutkannya bagian-bagian yang tidak terlalu penting bertujuan untuk lebih menjaga pengaruh kisah tadi dalam mengokohkan aqidah dan memperbaiki tindak tanduk pembacanya. (Asynai ba Ma’arif e Quran tafsir e Maudu’i e jil. 1, Sazman e Hauzeha wa Madaris e Ilmi e Kharij az Kesywar, Qom, 1391 HS, hal. 100).

Bagian terakhir dari kutipan di atas ingin menyampaikan bahwa terkadang menyebutkan hal-hal yang tidak penting dalam sebuah kisah dapat mengalihkan perhatian pembaca dari tujuan awalnya, yaitu mengambil ibrah dari sebuah kisah. Itulah sebabnya Alquran hanya menyebutkan bagian pentingnya saja. Wallahu a’lam. (CR14)

%d blogger menyukai ini: