KAJIAN RAMADHAN (10) : SIAPA YANG DISEBUT ORANG BERILMU?


Oleh : Ustadz M. Iqbal Al-Fadani

Screenshot_2018-05-27-13-52-08-172_com.opera.mini.native

Barang kali jika kita ditanya tentang standar orang yang dikatakan berilmu dan cerdas maka jawaban kita akan berbeda-beda. Sebab defenisi yang kita miliki tentang ilmu yang menyebabkan seseorang layak untuk dikatakan sebagai orang berilmu juga berbeda-beda.

Namun, jika kita merujuk kepada literatur agama, baik Alquran maupun riwayat maka kita akan menemukan bahwa orang yang benar-benar berilmu adalah orang yang memahami bahwa setiap amal yang dilakukan hari ini akan mendapat balasan nanti di akhirat.

Di dalam kitab Tafsir al-Amtsal ada satu riwayat yang menjelaskan bahwa tolok ukur seseorang untuk dapat dikatakan sebagai orang yang mendalam ilmunya (faqih) adalah menyadari bahwa manusia akan menyaksikan amalnya kelak. Berikut riwayatnya :

Dari Zaid bin Aslam yang menceritakan, ‘seorang laki-laki mendatangi Rasulullah Saw lalu berkata, ‘Ajarkanlah Kepadaku apa yang telah diajarkan oleh Allah SWT kepadamu. Kemudian Nabi Muhammad Saw menyerahkannya kepada seseorang yang mengajarinya Alquran. Kemudian lelaki tadi mengajarkan surat al-Zalzalah kepadanya. Ketika telah sampai pada ayat فمن يعمل….. Laki-laki tersebut berkata, ‘cukup’. Laki-laki pengajar tadi lalu menceritakan hal tersebut kepada Rasulullah Saw, maka Nabi Saw pun bersabda: ‘Biarkanlah dia, sungguh dia telah menjadi faqih (orang yang mendalam ilmunya)” (Makarim Syirazi, Tafsir al-Amtsal, Jil. 20, Muassasah Bi’tsah, Beirut, 1413 H, hal. 349).

Oleh karena itu orang yang mendalam ilmunya adalah orang yang menyadari kandungan ayat yang berbunyi:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ. وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Q.S. Al-Zalzalah : 7-8)

Seorang sahabat Nabi Saw, Abdullah bin Mas’ud mengatakan bahwa ayat ini merupakan ayat yang paling kokoh (dalam menjaga seseorang untuk tidak berlaku zalim dan selalu berlaku adil) (Tafsir Majma’ al-Bayan, Jil. 10, Muassasah al-A’lami li al-Mathbua’t, Beirut, 1415 H/1995 M, hal. 420).

Riwayat di atas mengajarkan kepada kita bahwa menurut kacamata agama keyakinan akan diperlihatkannya semua amal di akhirat, merupakan barometer dalam menentukan kadar keilmuan seseorang.

Hal ini mengingat bahwa orang yang merasa setiap tindakannya akan mendapatkan balasan yang setimpal, baik berupa kebaikan maupun keburukan, maka dia akan berusaha untuk selalu berada di jalur yang benar. Karena dia meyakini bahwa semua amalnya akan diperlihatkan kepadanya di akhirat kelak. Jadi ilmu yang benar adalah ilmu yang diamakan yang menjaga diri pemiliknya dari perilaku tercela. Bagaimana dengan kita?. Wallahu a’lam. (CR14)

%d blogger menyukai ini: