KAJIAN RAMADHAN (9) : VARIASI TAFSIR AQLI


Oleh : Ustadz M. Iqbal Al-Fadani

IMG-20180525-WA0012

Pada tulisan singkat sebelumnya telah disebutkan bahwa metode tafsir aqli adalah menjadikan capaian-capaian aqal sebagai referensi dalam menafsirkan Alquran. Oleh karena itu pada tulisan ini kita akan membicarakan varian dari tafsir aqli dalam penerapannya.

Pada penerapannya tafsir aqli dapat diklasifikasikan kepada dua variasi.

1. Capaian akal dijadikan sebagai tolok ukur dalam menafsirkan ayat yang secara zahirnya bertentangan dengan dalil-dalil akal yang pasti (burhan).

Pada kasus ini mengingat bahwa dalil pasti aqal bertentangan dengan zahir Alquran maka capaian akallah yang dikedepankan sehingga ayat Alquran akan ditkwilkan kepada makna yang sesuai. Ayat-ayat mutasyabihat (ambigu atau multi tafsir) adalah contoh paling tepat untuk varian pertama ini.

Ayat-ayat yang secara lahiriah menyatakan bahwa Allah memiliki tangan, mata, muka atau ayat yang memuat tentang kedatangan Tuhan dan lainnya, karena bertentangan dengan dalil akal yang pasti maka harus ditakwilkan. Misalnya tangan Allah ditakwilkan dengan kekuasaan Allah SWT. Sebab tidak mungkin tangan Allah dimaknai sebagaimana tangan yang kita pahami.

2. Varian kedua yaitu capaian akal berperan sebagai media untuk memahami Alquran dengan lebih baik. Pada bentuk kedua ini peran akal adalah untuk membantu pengkaji Alquran dalam mendapatkan pemahaman dan penjelasan yang lebih baik.

Hal ini terdapat pada ayat-ayat yang memuat tentang bukti keesaan Tuhan, seperti ayat berikut ini :

لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

_“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa.”_ (Q.S. al-Anbiya : 22)

Pada contoh ini capaian akal seperti kajian Ilmu Kalam dan Filsafat akan sangat membantu dalam menjelaskan kaitan antara keberadaan banyak tuhan dengan kehancuran langit dan bumi sehingga keesaan Tuhan akan lebih baik dipahami. Artinya salah satu bukti bagi keesaan Allah adalah penciptaan alam yang penuh  keseimbangan. Jika Tuhan lebih dari satu, maka tentu alam ini akan rusak binasa, dengan demikian adanya keseimbangan di alam menunjukkan bahwa Tuhan itu esa.

Muhammad Ali Ridhai mengatakan, _“Terkadang dalam metode tafsir aqli dalil pasti akal (Burhan) dijadikan dalil dalam menafsirkan ayat. Setiap ditemukan zahir Alquran bertentangan dengan capaian akal yang pasti, maka capaian akal dijadikan landasan untuk meninggalkan zahir ayat dan berusaha untuk menakwilkannya…. Terkadang capaian akal yang pasti digunakan untuk memahami ayat yang berkaitan dengan dalil-dalil ketuhanan dengan lebih baik. “_ (Ali Ridhai, _Rawesyha wa Gerayesyha e Tafsiri,_  Markaz Jahani Ulum e Islami, Qom, 1424 H, hal. 205-206). (CR14).

%d blogger menyukai ini: