KAJIAN RAMADHAN (8) : MENAFSIRKAN ALQURAN DENGAN AKAL


Oleh : Ustadz M. Iqbal Al-Fadani

Screenshot_2018-05-25-13-59-11-049_com.opera.mini.native

Pada kajian sebelumnya kita mengenal metode Tafsir Alquran bi Alquran yaitu suatu metode menafsirkan satu ayat Alquran dengan menggunakan ayat  Alquran lainnya. Maka pada kali ini kita mengenalkan jenis tafsir lainnya yaitu Metode Tafsir Aqli.

ada Me tafsir aqli merupakan salah satu metode yang digunakan dalam memahami dan mengkaji kandungan ayat-ayat suci Alquran dengan menggunakan akal dan pikiran. Metode penafsiran yang seperti ini sudah ada semenjak awal kajian tafsir Alquran, sekalipun belum dikenal sebagai sebuah istilah dalam ilmu tafsir.

Metode tafsir aqli bisa dikelompokkan kepada dua kategori :

1. Metode pertama adalah dengan menggunakan akal sebagi alat untuk menyimpulkan dan menganalisa semua dalil-dalil yang ada untuk kemudian dilakukan pengambilan sebuah kesimpulan akhir.

Pada kasus ini akal berfungsi sebagai pengambil kesimpulan dalam memahami berbagai indikasi-indikasi yang diperoleh dari berbagai sumber yang ada, seperti ayat, riwayat, asbab al-nuzul, dan lainnya. Akal pada bagian pertama ini disebut “aqal fithri” atau “aqal mishbahi” yaitu sebagai penerang atau lampu (aqal mishbahi) dan metodenya biasa disebut dengan nama Tafsir Aqli Ijtihadi.

Muhammad Ali Ridhai mengatakan bahwa metode pertama ini adalah metode yang menggunakan kemampuan berfikir dalam menyimpulkan makna ayat (tentu tetap dengan memperhatikan riwayat, bahasa Arab dan lainnya) dan melakukan proses pengambilan hukum (istinbath) darinya, dalam rangka menyingkap makna dan maksud ayat-ayat Alquran, disebut tafsir ijtihadi.” (Ali Ridhai, Rawesyha wa Gerayesyha e Tafsiri, hal. 191, cet. Markaz e Jahani Ulum e islami, Qom, 2424 H).

2. Metode kedua adalah menjadikan capaian-capaian akal sebagai sumber rujukan serta referensi dalam menafsirkan ayat Alquran. Artinya jika pada bentuk pertama akal hanya berfungsi sebagai pengambil kesimpulan dari berbagai dalil dan referensi yang ada, pada bagian kedua ini akal justru sebagai sumber atau referensi penafsiran itu sendiri. Pada metode ini akal yang dimaksud adalah hasil capaian akal (aql burhani atau aql iktisabi), sedangkan metodenya disebut metode Tafsir Aqli.

Muhammad Ali Ridhai menjelaskan bahwa metode tafsir bentuk kedua ini menjadikan hasil capaian akal (burhan) dan dalil-dalil akal sebagai media dan referensi dalam memahami dan menjelaskan makna dan maksud ayat. Dimana dalam bentuk ini akal berperan sebagai sumber dan referensi dalam menafsirkan Al-Quran. Hukum akal serta proporsi-proposisi pasti (burhan) dijadikan sebagai dalil untuk tafsir Alquran.” (Ali Radhai, Rawesyha wa Gerayesyha e Tafsiri, hal. 191, cet. Markaz Jahani Ulum e islami, Qom,1424H).

Sebenarnya bentuk kedua inilah yang disebut dengan metode tafsir aqli, bukan bentuk pertama. Sebab yang dimaksud dengan metode di sini adalah penggunaan sesuatu sebagai referensi. Sebagaimana jika dikatakan metode Tafsir Alquran bi Alquran maka maksudnya adalah menjadikan Alquran sebagai referensi dalam menafsirkan Alquran.

Dan sebagai mana disebutkan bahwa pada bagian pertama akal hanya berfungsi sebagai pengambil kesimpulan bukan sebagai sumber dalam penafsiran. Wallahu a’lam. (CR14)

%d blogger menyukai ini: