KAJIAN RAMADHAN (7) : PUNCAK KESYUKURAN


Oleh : Ustadz M. Iqbal Al-Fadani

IMG_20180525_023959

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Alqur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (Q.S. al-Baqarah : 185)

Salah satu pesan ibadah puasa adalah agar kita menjadi orang yang bersyukur. Sebab dengan puasa kita memahami betapa banyaknya nikmat yang telah kita terima dari Allah swt, yang semua itu tidak dapat kita hitung. Dan dengan bersyukur kita berharap mendapatkan balasan yang baik dari Allah SWT dan menjadi hamba yang sadar diri di hadapan-Nya. Sebaliknya tidak mensyukuri nikmat Allah menunjukkan kesombongan diri kita di hadapan-Nya sehingga layak untuk mendapat azab. Sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam Alquran :

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (Q.S. Ibrahim : 7)

Nikmat yang mesti disyukuri tidak hanya yang bersifat materi, tapi mencakup juga hal-hal yang non materi seperti keimanan, ketakwaan dan lain sebagainya, sebab hal ini juga masuk dalam kategori nikmat ilahi.

Bersyukur sebagai mana disebutkan oleh Ayatullah Makarim Shirazy memiliki tiga tingkatan. Pertama, Berpikir tentang siapa yang memberikan nikmat; ini adalah pondasi awal bersyukur. Kedua, adalah bersyukur secara lisan. Ketiga, adalah bersyukur melalui tindakan nyata.

Bersyukur melalui tindakan adalah memikirkan tujuan pemberian setiap nikmat, kemudian menggunakannya sesuai dengan tujuan tadi, sebab jika hal ini tidak dilakukan maka yang terjadi justru kufur nikmat. Hal ini sesuai dengan defenisi yang disampaikan para pembesar ulama bahwa bersyukur adalah hamba menggunakan semua pemberian Allah SWT sesuai dengan tujuan penciptaannya.” (Tafsir Nemune, Jilid 10, hal. 278, cet. Tehran, Dar al-kutub Al-Islamiyah, 1360 HS)

Tapi perlu juga disadari bahwa sebenarnya kita tidak akan pernah mampu mensyukuri semua nikmat Allah SWT sebeb, yang pertama kita tidak bisa mengetahui semua nikmat yang diberikan Allah SWT, lantas bagaimana mungkin kita bisa mensyukuri semuanya.

Dan yang kedua adalah setiap kali kita bersyukur sebenarnya kita kembali dituntut untuk bersyukur dan begitulah seterusnya sampai tidak ada batasnya. Sebab kebersyukuran yang kita lakukan merupakan nikmat Allah SWT juga yang tentu saja kembali wajib kita syukuri.

Oleh karena itulah disebutkan bahwa puncak dari kesyukuran adalah pengakuan atas ketidak mampuan kita untuk bersyukur secara utuh atas pemberian yang dianugerahkan Allah SWT.

Hal ini sesuai dengan apa yang disebut dalam sebuah hadis: _”Allah SWT menyampikan Wahyu kepada Musa as, bersyukurlah kepada Ku dengan sebenar-benarnya! Musa menjawab: bagaimana Akau bersyukur kepada Mu dengan seutuhnya sementara setiap kali aku bersyukur pada Mu sebenarnya engkau sedang memberikan nikmat pada ku. Allah SWT berfirman: sekarang barulah engkau bersyukur sebab engkau telah menyadari bahwa rasa syukur mu ini juga bersumber dari Ku.” (Ushul kafi, Jilid 3, hal. 253-254, cet: Dar al-Hadits, Qom, 1429 H/ 1387 HS).

Semoga kita termasuk orang yang mampu mensyukuri nikmat Allah SWT dengan selalu memanfaatkannya sesuai dengan tujuan penciptaannya. Dan pada akhirnya kita menyadari bahwa kita tidak akan pernah mampu mensyukuri nikmat Allah SWT secara utuh. (CR14)

%d blogger menyukai ini: